Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
    183 research outputs found

    ANALISIS KEBERLANJUTAN PEMBANGUNAN PULAU-PULAU KECIL: PENDEKATAN MODEL EKOLOGI-EKONOMI

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menilai keberlanjutan pembangunan pulau-pulau kecil dengan menggunakan sebuah model ekologi-ekonomis, dimana Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, dipilih sebagai sebuah studi kasus pada tahun 2002. Sebuah model dinamika sistem dengan dua peubah status akumulasi, yaitu stok ikan laut sebagai peubah ekologis dan jumlah nelayan sebagai peubah ekonomis digunakan untuk analisis. Hasil penelitian memperlihatkan tidak adanya keseimbangan antara jumlah nelayan dan besarnya stok ikan yang tersedia. Terlalu banyak nelayan mengeksploitasi stok ikan yang terbatas. Hal ini mengindikasikan bahwa pembangunan pulau-pulau kecil di kabupaten ini masih belum berkelanjutan.Kata kunci: model ekologi-ekonomis, pembangunan berkelanjutan, pulau-pulau kecil

    PENGARUH BEBAN KERJA OSMOTIK TERHADAP PERKEMBANGAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA UDANG GALAH Macrobrachium rosenbergii DE MAN

    Full text link
    Rendahnya derajat kelangsungan hidup adalah salah satu kendala pada pembenihan udang galah.Kendala tersebut dapat diatasi dengan pengaturan salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan salinitas optimum untuk perkembangan larva udang galah dengan tingkat kematian yang rendah yang ditetaskan pada salinitas 6 ppt. Hari pertama hingga hari ketujuh setelah menetas, salinitas ditingkatkan secara bertahaphingga mencapai 10.2 ppt, 11.6 ppt, 13.0 ppt, dan 14.4 ppt dan selanjutnya salinitas dipertahankan tetap hingga seluruh larva tumbuh menjadi post larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas 13 ppt menghasilkan beban osmotic yang terendah, mempercepat waktu perkembangan larva dan derajat kelangsungan hidupyang tertinggi.Kata kunci: larva udang galah, pengaturan osmotik, pertumbuhan, kelangsungan hidup, tingkat kematian

    VARIASI GEOGRAFIK DALAM STRUKTUR GENETIK POPULASI IKAN KAKAP MERAH, Lutjanus malabaricus (LUTJANIDAE) DAN INTERAKSI LINGKUNGAN DI LAUT JAWA

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur genetik populasi ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus;LUTJANIDAE). Struktur genetik dianalisis berdasarkan polimorfisme mtDNA. Karakter polimorfisme diperoleh dari analisis RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism). Populasi contoh berasal dari lima populasi ikan di Laut Jawa, yaitu Blanakan, Batang, Banyutowo, Tuban dan Kotabaru. Berdasarkan tipe-tipe restriksi yang ditemukan, setiap tipe restriksi berbeda dalam jumlah situs dan fragmen restriksi. Telah teridentifikasi 5-6 haplotipe diversitas haplotipe (h) tingkat populasi bervariasi antara 0.60-0.76, dimana untuk populasi ikan di wilayah timur cenderung lebih tinggi. Didasarkan pada analisis jarak genetik terdapat tiga unit stok ikan Kakap merah di Laut Jawa: Unit stok 1, populasi Blanakan, Batang dan Banyutowo Unit stok 2populasi Kotabaru; dan Unit stok 3, populasi tuban.penstrukturan genetik demikian juga ditegaskan melalui analisis varian molekuler (AMOVA) yang menyatakan perbedaan sangat nyata antara   varian genetik populasi Tuban dengan keempat populasi lainnya. Dari fakta adanya pengelompokkan struktur genetik populasi ini, strategi manajemen perikanan sebaiknya dilaksanakan secara lokal menurut unit stokKata kunci: kakap merah, populasi eenetik, Laut Jawa

    PENGARUH INHIBITOR AROMATASE (IA) TERHADAP PERKEMBANGN OOSIT PADA IKAN MAS KOKI (Carassius auratus)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis optimal Inhibitor Aromatase (IA) pada perkembangan oosit ikan mas koki. Dosis yang digunakan adalah k = kontrol (disuntik NaCl fisiologis), Pl = 2.5 mg/kg berat tubuh (b.t), P2 = 7.5 mg/kg b.t., dan P3 = 12.5 mg/kg b.t. Untuk mengetahui pengaruh IA terhadap perkembangan gonad diukur kandungan hormon estradiol-l7β dalam plasma darah dan level protein gonad mulai dari awal perlakukan kemudian setiap tujuh hari sekali, yaitu hari ke-7, ke-14, dan ke-21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada hari ke-7 hasil semua perlakuan P1, P2, P3 menunjukkan penurunan hormon estradiol- 17β diikuti penurunan level protein gonad, hasil analisis pengamatan histologi menunjukkan terjadi atresi pada sel gonad. Pada hari ke-14 kadar hormon estradiol-17β perlakuan menunjukkan terjadi peningkatan diikuti peningkatan level protein gonad. Pada hari ke-21 kadar hormon estradiol-17β perlakuan sudah sama dengan kadar hormon kontrol namun level protein gonad masih dibawah level protein gonad kontrol.Kata kunci: estradiol 17ß, perkembangan oosit, level protein gonad

    KAJIAN KONDISI TERUMBU KARANG DAN IKAN MENGGARU (Lutjanus decussatus) DI ZONA PEMUKIMAN DAN ZONA INTI KAWASAN TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU

    Full text link
    Ikan Menggaru (Lutjanus decussatus) adalah kelompok kakap yang hidup berasosiasi dengan terumbu karang, yang merupakan ikan konsumsi dan bernilai ekonomis penting. Populasi ikan ini di Kawasan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu terus menurun yang disebabkan oleh berbagai hal seperti penangkapan berlebih, kerusakan habitat, dan kurangnya strategi pengelolaan kawasan yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kondisi terumbu karang dan ikan menggaru dan keterkaitannya sehingga strategi pengelolaan yang baik dapat ditetapkan. Empat pulau yang berlokasi di zona yang berbeda dipilih sebagai lokasi penelitian, yang di setiap masing-masing pulau dilakukan pengamatan di dua (2) titik yang berbeda (kedalaman 3-5 m). Di kawasan pemukiman, Pulau Pramuka, dan Panggang dipilih sementara pada Zona Inti, dipilih lokasi perairan sekitar Pulau Kayu Angin Bira dan Belanda Pengamatan terumbu karang dilakukan dengan menggunakan teknik Line Intercept Transect (LIT), sementara observasi ikan menggaru dengan menggunakan teknik Underwater Visual Census (UVC). Sebanyak total 41 ekor ikan menggaru ditangkap sebagai sampel. Secara umum, kondisi perairan masih dalam kondisi baik untuk mendukung kehidupan terumbu karang. Kualitas penutupan terumbu karang relatif sedang dengan persen penutupan berkisar antara 34.86% dan 39.31%. Kelimpahan ikan menggaru di zona inti relatif lebih tinggi (180 ind/ha) jika dibandingkan dengan zona pemukiman (140 ind/ha). Beberapa aspek biologi yang dihasilkan dalam studi ini yaitu bentuk pertumbuhan ikan adalah alometrik, perbandingan seksual menunjukkan jantan lebih banyak dibandingkan betina, komposisi utama makanan adalah ikan dan krustasea, dan selama bulan Juni ketika studi ini dilakukan, ikan tidak dalam kondisi musim memijah. Lebih tingginya kelimpahan ikan di zona inti diasumsikan disebabkan oleh adanya dominasi tutupan karang branching di kawasan ini. Berdasarkan studi ini direkomendasikan untuk a) memelihara kondisi kualitas air di lokasi studi; b) mempercepat penutupan karang di zona pemukiman; c) melakukan pengawasan lebih intensif dan penegakan hukum di zona inti dari penangkapan ikan; dan d) membatasi ukuran ikan yang boleh ditangkap.Kata Kunci: ikan menggaru, karang keras, kelimpahan, strategi pengelolaan, terumbu karan

    STUDI MENGENAI TOKSISITAS SURFAKTAN DETERJEN, ALKYL SULFATE (AS), TERHADAP POST LARVA UDANG WINDU Penaeus monodon Fabr

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui toksisitas surfaktan deterjen alkyl sulfate (AS) terhadap post larva udang windu Penaeus monodon Fabr. Pada uji akut, udang windu PL10 dipaparkan pada media yang mengandung AS selama 96 jam dan dihitung nilai Median Lethal Concentration (LC50) pada jam ke 24, 48, 72, dan 96. Pada uji sub kronis udang windu PL15 dipaparkan selama 24 hari dan diamati nilai laju pertumbuhannya. Selama uji toksisitas akut dan sub-kronis juga dilakukan pengamatan perubahan histopatologi pada insang dan hepatopankreas udang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai LC50 AS pada jam ke- 24, 48, 72, dan 96 yaitu masing-masing sebesar 33.6, 29.4, 24.3, dan 22.8 mg/l. Saat uji sub kronis, perlakuan pemberian AS terhadap media pemeliharaan menurunkan laju pertumbuhan udang windu seiring dengan meningkatnya konsentrasi AS dan secara nyata terlihat mulai konsentrasi 17.11 mg/l. Selama uji akut dan sub kronis terjadi perubahan tingkah laku dan kerusakan pada insang dan hepatopankreas pada udang yang dipaparkan dengan AS mulai terlihat pada konsentrasi 25.58 mg/l jam ke-96 dan 34.99 mg/l jam ke- 72 pada uji akut dan pada uji sub kronis mulai terjadi pada konsentrasi 9.78 mg/l pada pengamatan hari ke- 24. Toksisitas AS terhadap juvenil udang windu semakin meningkat dengan semakin meningkatnya konsentrasi dan waktu pemaparan.Kata kunci: toksisitas, udang windu, alkyl sulfate, LC50, pertumbuhan, histopathologi. This study was done to find out the toxicity of surfactant detergent alkyl suphate (AS) on post larvae of black tiger shrimp. For acute toxicity test, the PL10 shrimps were exposed in seawater containing AS for 96 hours and Median Lethal Concentration (LC50) for 24, 48, 72, and 96 hours were estimated. For sub chronic test, juvenile shrimps at PL15 were exposed in sea water media containing AS for 24 days, and the growth rate of the shrimps were evaluated in order to determine the toxicity effect of AS to juvenile shrimp. During acute and sub-chronic test the histopathological changed of the gills and hepatopanchreas of the shrimp were also examined. This study resulted that LC50 of AS for 24, 48, 72, and 96 hours was estimated to be 33.6, 29.4, 24.3, and 22.8 mg/l of AS. At sub-chronic level, the growth rate of the shrimps was decreased by increasing concentration of AS and significantly affected at 17.11 mg/l of AS. During acute and sub-chronic test the behavior changing and gill epithelium and hepathopancreatic cell damage was common occurred in the shrimps when exposed in AS at 25.58 mg/l of AS for 96 hours and 34.99 mg/l of AS for 72 hours exposed time during acute test and also occurred starting from 9.78 mg/l of exposed concentration of AS for 24 days exposed time. The toxicity of AS to juvenile tiger black shrimp elevated by the increased of exposure time. Key words: toxicity, Alkyl Sulphate, black tiger shrimp, LC50, growth, histopathology

    DUGAAN BANYAKNYA PENYU LAUT TERTANGKAP SECARA TIDAK SENGAJA OLEH PERIKANAN TUNA LONGLINE DI SAMUDERA HINDIA

    Full text link
    Perhatian masyarakat dunia semakin meningkat terhadap kelestarian penyu laut yang semakin menurun populasinya. Terjadinya penurunan populasi penyu laut dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya adalah kegiatan perikanan. Berdasarkan kondisi ini, dilakukan sebuah kajian dengan tujuan untuk menduga jumlah penyu laut yang tertangkap secara tidak sengaja pada perikanan tuna longline. Data dan informasi diperoleh melalui metode kuesioner dengan sasaran para awak kapal tuna longline di pangkalan utama armada perikanan tuna longline yang beroperasi di Samudera Hindia, yaitu: Pelabuhanratu (Jawa Barat), Muara Baru (Jakarta), Cilacap (Jawa Tengah), dan Benoa (Bali). Hasil pengolahan data dan informasi mengemukakan tiga hal utama: (i) dugaan jumlah penyu yang tertangkap dengan tidak sengaja berkisar 843 - 853 ekor per trip untuk 1000 armada tuna longline; (ii) para nelayan tuna longline umumnya segera melepaskan kembali penyu-penyu yang tertangkap ke laut; dan (iii) sebagian besar nelayan tuna longline menggunakan jenis pancing berbentuk “J” dan melakukan penangkapan ikan pada lapisan permukaan (< 100 m). Penyu laut pada umumnya juga berada pada lapisan kedalaman ini, yang berpeluang besar memakan umpan dan tertangkap secara tidak sengaja oleh armada perikanan tuna longline. Dari kajian ini disarankan perlunya dilakukan riset yang lebih komperehensif tentang interaksi antara penyu laut dan perikanan, dan mitigasi penyu laut di perairan Indonesia.Kata Kunci: penyu laut, perikanan tuna, penangkapan tidak sengaja, Samudera Hindia. The awareness of the people in the world increases toward the conservation of sea turtles of which the population has depleted. The decrease of sea turtles populations may be due to many factors. One of the factors is affected by fisheries activity. Based on this condition, the current investigation was conducted in objective to estimate the number of sea turtles caught incidentally by tuna longline fisheries. Data and information were gathered by using questioner method with the target of tuna longline crews at principal landing bases of tuna longline fleet operated in Indian Ocean, such as: Pelabuhanratu (West Java), Muara Baru (Jakarta), Cilacap (Central Java), and Benoa (Bali). The result pointed out three principal matters: (i) the estimation of incidental caught sea turtles number varied from 843 - 853 individuals per trip for 1000 tuna longline fleet;(ii) in general tuna longline fishermen released immediately sea turtles to the sea; and (iii) almost tuna longliners use “J” hook for their longline and operate their fishing gears in the surface depth (< 100 m). Sea turtles in general inhabit in this water depth, which have high probability to eat baits and be caught by tuna longline fisheries fleets. This study might suggest to development more comprehensive research on the interaction between sea turtles and fisheries, and sea turtle mitigation in Indonesian waters Key Words: sea turtles, tuna longline fisheries, incidental catch, Indian Ocean

    Pukat Udang, Alat Penangkapan Udang Dan Sumberdaya Ikan Demersal Lainnya Yang Paling Efisien

    No full text
    Dan 81 spesies udang penaeid yang pemah ditemukan di perairan laut Indonesia, paling tidak ada 9 spesies yang mempunyai nilai niaga tinggi. Pukat udang adalah alat tangkap yang paling efisien untuk menangkap udang dan biota demersal lainnya. Akan tetapi sejak dikeluarkannya KEPRES No. 39 tahun 1980, dan KEPPRES No. 85 tahun 1982, alat tangkap ini telah dilarang beroperasi di sebagian besar wilayah perairan 1aut Indonesia. Padahal di negara tetangga terdekat seperti Malaysia serta di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia. alat tangkap ini sudah digunakan sebelum alat tersebut diperkenalkan di Indonesia dan tetap dipakai sampai saat ini. Penggunaan pukat udang di negara-negara tersebut dilengkapi dengan peraturan yang memungkinkan terjaminnya kelestarian sumber daya ikan dan terhindamya kerusakan lingkungan perairan. Pengalaman penggunaan pUkat udang di negara-negara terse but serta di perairan Arafura tak memperlihatkan adanya gejala kerusakan lingkungan perairan maupun penurunan potensi sumber daya ikan. Karena iru perlu segera dilakukan peninjauan ulang KEPPRES No. 39 Tahun 1980 dan pada saat yang sarna perlu disiapkan peraturan-peraturan penggunaan pukat udang yang dapat menjamin kelestarian sumberdaya perikanan dan lingkungan perairannya serta tidak. lagi menimbulkan keresahan sosial diantara para nelayan.Kata kunci: Udang. pukat udang, Keppres, perairan 1aut Indonesi

    Struktur Komunitas dan Distribusi Ikan Karang di Perairan Pulau Sekepal dan Pantai Belebuh , Lampung Selatan , dan Hubungannya dengan Karakteristik Habitat

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan distribusi ikan karang serta hubungannya dengan karakteristik habitat. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai infonllasi yang berguna bagi pengelolaansumberdaya ikan karang. Pengamatan komunitas ikan karang dilakukan dengan menggunakan metoda pencacahan langsung. Struktur komunitas ikan karang dilihat berdasarkan indekskeragaman, keseragaman dan dominansi, sedangkan untuk melihat distribusi spasial ikim karang dan hubungannya dengan karakteristik habitat, digunakan metoda analisis faktorial koresponden.Struktur komunitas ikan karang di perairan Pulau Sekepal dan Pantai Belebuh umurnnya berada pada kondisi masih stabil, kecuali pada stasiun 14. Pada stasiun 14 sering terjadi kekeruhan yang disebabkan oleh adanya sirkulasi air yang tidak stabil. Hal ini merupakan faktor yang tidak menunjang bagi kehidupan komunitas karang dan ikannya. Dari studi ini juga dapat diketahui bahwa distribusi beberapa jenis ikan karang secara nyata dapat dicirikan oleh karakteristik habitattertentu, disamping adanya beberapa jenis ikan yang kosmopolit.Kata-kata kunci: struktur komunitas, ikan karang, karakteristik habitat, analisisfaktorial koresponde

    Dampak Kegiatan Industri Pengolahan Karet Rakyat Terhadap Mutu Air Sungai Enim , Sumatera Selatan

    No full text
    Keberadaan industri PT. Lingga Djaya yang mengolah bahan olah karet rakyat menjadi produk 'crumb rubber'(SIR 20) ternyata telah menimbulkan masalah pencemaran air. Sisteminstalasi pengolahan air Iimbah (IP AL) yang dimiliki perusahaan ini sangat sederhana sehingga tidak mampu memperbaiki mutu air limbahnya ke tingkat ambang batas yang diijinkan pemerintah. Air buangan perusahaan, ini bersifat anoksik dan kandungan bahan organik serta ammonianya tinggi. Namun demikian, posisi perusahaan yang berdekatan dengan sungai Enim yang debit airnya sangat besar (1.334.016 m3/hari) menyebabkan air buangan industri ini mengalami pengenceran yang sangat besar (541Ox) sehingga pengaruhnyaterhadap kualitas air sungai Enim menjadi sangat kecil.Kata-kata kunci: air Iimbah pengolahan karet, instalasi pengolahan air limbah

    123

    full texts

    183

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇