Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
    183 research outputs found

    PERKEMBANGAN ENZIM PENCERNAAN BENIH lKAN GURAME Osphronemus goramy, Lacepede

    No full text
    Suatu penelitian tentang perkembangan enzim pencernaan benih ikan gurame telah dilaksanakan di laboratorium. Benih ikan gurame yang berumur 10-46 hari dengan ukuran 0,7-2,4 cm dan ikan gurame ukuran 6,59-13,97 cm telah digunakan sebagai bahan untuk analisa aktivitas enzim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas protease, lipase dan amilase meningkat sejalan dengan meningkatnya ukuran benih.Kata-kata kunci : enzim pencernaan, benih, ikan guram

    An Evaluation Of Marine Shrimp Resource Policy In Indonesia:The Case Of The Trawler Ban

    No full text
    As the largest archipelagic nation in the world, Indonesia has a huge marine resources that is contained in 3.1 million kilometer square (km) territorial waters and 2.5 milliom km2 of 200-mile Exclusive Economic Zone (EEZ).Indonesia also has the world's longest coastline (81,000 km) lying in 13,667 islands straddling the equator. Those resources are veryimportant for the development of marine capture and mariculture fisheries(see Appendix 1).In more recent years, marine resource has become increasi ngly significant as a source of national wealth.The exploitation of petroleum resources in Indonesia waters, combined with land-based operati ons, has made a significant contribution to the Indonesian and has permitted large investments in national and rural development.The fisheries sector also have contributed to Indonesia's export earning, totalling US475.5millionin1987,shrimpaccountedforUS 475.5 million in 1987, shrimp accounted for US 352.4 (74.1 %), tuna (including skipjack) US30.9million(6.5 30.9 million (6.5%) and others US 92.2 million (19.4%) (DGF, 1990).Within the fisheries, the marine c.1pture sector continues to dominate, accounting for 76% of tonnage (2.029 million ton), and inland water fisheries 24 % of tonnage (.641 million ton) in 1987 .Aquaculture is expanding rapidly especially after "Trawler Ban" in 1980 ) which decreased 21.6 % shrimp exported in 1981. Brackish water aquaculture contributed 28.5 % of shrimp production in 1987 which increased almost I 7.4% per yearsince 1983 but marine shrimp production still constitute the majority of shrimp supplies both domestic consumption and export (64%)

    NITRIFIKASI DALAM BIODEGRADASI LIMBAH TAMBAK

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju nitrifikasi dan bakteri yang paling efektif membentuk nitrat dalam biodegradasi limbah tambak udang. Percobaan dilakukan dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan dengan media percobaan limbah tambak biasa dan limbah tambak steril. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa semakin tinggi kadar OSS dalam media percobaan, laju nitrifikasi semakin rendah, tetapi populasi mikroba nitrifikasi semakin tinggi. Laju nitrifikasi berkisar antara 0.0059 – 0.0089 ppm/hari, dengan laju tertinggi diperoleh pada perlakuan T2 (kadar TSS 200 ppm, OSS 147.30 ppm, amonia 0.22 ppm) dan terendah pada perlakuan T0 (kadar TSS 100 ppm, OSS 58.20 ppm, amonia 0.19 ppm). Bakteri nitrifikasi yang paling efektif membentuk nitrat dalam media percobaan adalah Nitrococcus sp. untuk perlakuan T0 dan T1, Nitrospira sp.untuk perlakuan T2 dan T3, dan Nitrobacter sp. untuk perlakuan T4 dan T5. Dalam media limbah tambak steril, laju nitrifikasi setiap jenis bakteri berkisar antara 0.0039 – 0.0069 ppm/hari dengan tingkat efektivitas rata-rata 72.02%. Bakteri yang paling efektif membentuk nitrat dalam biodegradasi limbah tambak udang adalahNitrospira marina.Kata Kunci: biodegradasi, limbah tambak udang, nitrifikasi

    STUDI KONDISI DAN POTENSI EKOSISTEM PADANG LAMUN SEBAGAI DAERAH ASUHAN BIOTA LAUT

    Full text link
    Padang lamun merupakan suatu ekosistem pesisir yang memiliki produktivitas hayati tinggi. Secara ekologis berperan sebagai daerah asuhan, daerah mencari makan dan tempat berlindung berbagai jenis biota laut. Banyak diantara biota laut tersebut memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai komoditas ekspor seperti udangd an ikan kerapu Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan mulai Oktober hingga November 2001 bertujuan untuk mengetahui distribusi, kondisi dan potensi padang lamun sebagai daerah asuhan berbagai jenis biota laut (ikan dan avertebrata) juga sebagai habitat makro alga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima jenis lamun di perairan Pulau Tanakeke, yaitu: Thalassia hemprichii, Halodule uninervis, Halophila minor, dan Syringodium isoetifolium. Vegetasi lamun jenis-jenis tersebut terdapat dalam  suatu komunitas campuran antara dua atau empat jenis yang membentuk suatu hamparan padang lamun yang sangat luas.Suatu sisi yang terlindung karena membentuk teluk dari Pulau Tanakeke memiliki kelimpahan dan persen penutupan lamun yang tinggi namun jumlah spesies yang rendah, sementara pada sisi-sisi yang menghadap ke laut lepas (relatif terbuka) yaitu stasiun III dan IV memiliki kelimpahan dan persen penutupan yang rendah namun komposisi jenis penyusunnya beragam. Potensi padang lamun sebagai daerah asuhan berbagai jenisbiota laut dalam penelitian ini dikategorikan tingi yg ditunjukkan oleh banyaknya juvenil biota laut yang ditemukan hidup di daerah padang lamun Pulau Tanakeke. Diantaranya terdapat 14 jenis juvenil ikan, lima jenis juvenil udang, 10 jenis juvenil kepiting, 17 jenis makroalga dan tiga kelas molluska.Kata kunci: avertebrata, daerah asuhan dan padang lamun

    TOWARDS SUSTAINABLE COASTAL FISHERIES DEVELOPMENT: A CASE IN TRAMMEL NET FISHERY IN THE NORTHERN COAST OF JAVA

    Full text link
    Konsep pengembangan perikanan tangkap berkelanjutan telah disosialisasikan sejak dasawarsa terakhir oleh pemerintah Indonesia. Akan tetapi konsep ini belum diimplementasikan dalam aktivitas perikanan khususnya untuk perikanan pantai yang telah mendapatkan tekanan tinggi dari aktivitas penangkapan intensif, polusi industri, sampah rumah tangga, dan lain-lain. Trammel net merupakan salah satu jenis alat tangkap yang digunakan secara meluas di perairan pantai oleh nelayan tradisional di seluruh Indonesia untuk menangkapudang sebagai spesies target dan spesies non-target lainnya. Alat tangkap ini telah berkembang pesat di pantai utara Jawa, Selat Malaka, dan Selat Makassar setelah dihapuskannya trawl pada tahun 1980. Karena tidak adanya aturan khusus pada perikanan ini ditambah lagi dengan rendahnya pengawasan dan perhatian pemerintah,mengakibatkan trammel net dari tahun ke tahun menunjukkan pertambahan jumlah yang pesat, meskipun sumber daya ikan di pantai utara Jawa telah menagalami lebih tangkap. Makalah ini mendiskusikan perkembangan perikanan trammel net dan menelaah penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dengan pengembangan perikanan ini secara berkelanjutan di pantai utara Jawa dalam rangka mengusulkan pengelolaanyang lebih baik.Kata kunci: perikanan berkelanjutan, trammel net, pantai utara Jawa, pengelolaan perikanan

    VARIABILITAS ANOMALI TINGGI PARAS LAUT (TPL) DAN ARUS GEOSTROPIK PERMUKAAN ANTARA L. SULAWESI, S. MAKASSAR DAN S. LOMBOK DARI DATA ALTIMETER TOPEX/ERS

    Full text link
    Fluktuasi anomali tinggi paras laut (TPL) dari data altimeter TOPEX/ERS2 selama 4 tahun (April1998 - Maret 2002) sepanjang lintasan barat aliran Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) antara L. Sulawesi, S. Makassar dan S. Lombok ditelaah dengan menggunakan analisis deret waktu. Fluktuasi anomali TPL dengan periode 2 - 6 bulanan terdapat di sepanjang lintasan Arlindo, sementara periode tahunan hanya terdapat di L.Flores dan kedua ujung S. Lombok. Spektral energi fluktuasi tertinggi terdapat di selatan S. Lombok, kemudian diikuti L. Flores dan L. Sulawesi serta yang terlemah di S. Makassar. Anomali TPL tahunan yang tinggi di selatan S. Lombok pada Desember Maret diperkirakan merupakan sinyal tibanya Arus Pantai Jawa (APJ).Anomali semi-tahunan yang tinggi di lokasi yang sama pada bulan Mei dan November diduga sinyal gelombang Kelvin. Anomali TPL tahunan yang rendah pada Juni - September di sisi selatan S. Lombok diperkirakan akibat menggesernya poros Arus Ekuator Selatan ke utara pada saat bertiupnya Angin Muson Tenggara. Kelihatannya pengaruh sistem Angin Muson lebih terasa di bagian selatan (kedua ujung S. Lombok) dari bagian utara (L. Sulawesi dan S. Makassar) dari lintasan barat aliran Arlindo. Perbedaan anomali TPL tegak lurus lintasan Arlindo dihitung pada posisi 4oS sejauh 166.1 km di S. Makassar untuk memperkirakan anomali arus geostropik permukaan dan apakah hasilnya dapat digunakan sebagai indikator proxy aliran Arlindo. Anomali arus geostropik permukan yang telah ditapis 30 hari bervariasi antara -9 cm/det (ke selatan) sampai +5.5 cm/det (ke utara) dengan periode fluktuasi antara 2 - 4bulanan. Aliran ke utara dan ke selatan hampir sebanding dengan aliran bersih selama 4 tahun ke selatan (-0.43 cm/det). Kelihatannya, anomali arus geostropik permukaan terlalu berfluktuasi dan tidak mengambarkan aliran Arlindo yang menurut pengamatan umumnya ke selatan dan terfokus di lapisan termoklin. Akan tetapi, seperti halnya karakter Arlindo, arus permukaan ini menguat ke selatan pada bulan Juni - Agustus dan aliran cenderung ke utara pada bulan Desember –Maret.Kata kunci: anomali Tinggi Permukaan Laut (TPL), Arus Lintas Indonesia (Arlindo), fluktuasi, anomali arusgeostropik permukaan

    PENDUGAAN PERTUMBUHAN, KEMATIAN DAN HASIL PER REKRUT IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI WADUK BILIBILI

    Full text link
    Parameter pertumbuhan dan mortalitas ikan nila (Oreochromis niloticus) diduga dari data frekuensi panjang yang dikumpulkan dari aktifitas perikanan di waduk Bilibili dengan menggunakan teknik pemisahan sebaran normal melalui bantuan program ELEFAN. Nilai dugaan parameter pertumbuhan von Bertalanffy, yaitu L∞ adalah 43.00 cm dengan K sebesar 0.30 per tahun. Laju mortalitas total, Z sebesar 1.1530 per tahun diduga dengan menggunakan analisis panjang rata-rata. Laju mortalitas alami, M sebesar 0.7350 per tahun diduga dengan rumus empiris Pauly sehingga laju mortalitas penangkapan, F diduga 0.4180 per tahun dengan laju eksploitasi mencapai 0.3630. Model hasil per rekrut Beverton dan Holt menunjukkan bahwa status perikanan saat ini adalah 86.63% dari hasil potensial. Kata kunci: ikan nila, pertumbuhan, kematian, hasil per rekrut, Waduk Bilibili

    KEMATANGAN GONAD DAN KEBIASAAN MAKANAN IKAN JANJAN BERSISIK (Parapocryptes sp) DI PERAIRAN UJUNG PANGKAH, JAWA TIMUR

    Full text link
    Ikan janjan bersisik (Parapocryptes sp) cukup banyak ditemukan di wilayah estuari atau daerah pertambakan.Penelitian mengenai kematangan gonad dan kebiasaan makanan ikan janjan bersisik dilakukan sejak Februari sampai Juni 2002. Pengambilan contoh dilakukan tiap bulan dengan menggunakan beberapa peralatan yaitu jaring insang (ukuran mata jaring 2.5 cm dan 4.5 cm), trammel net, sero dan bubu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan gonad dan kebiasaan makanan ikan janjan bersisik. Pengamatan dilakukan terhadap tingkat kematangan gonad (TKG), diameter telur dan jenis makanan. Sedangkan analisis dilakukan untuk mengetahui indeks kematangan gonad (IKG), indeks kepenuhan lambung (IKL), indeks bagian terbesar (IP) dan kesamaan jenis makanan (IS) antara ikan jantan dan betina. Tingkat kematangan gonad ikan contoh (n = 72 ikan jantan, n = 57 ikan betina) bervariasi tergantung bulan pengamatan. Indeks kematangan gonad berkisar antara 0.05-0.25% untuk ikan jantan dan 0.40-1.64% untuk ikan betina, dengan nilai yang cukup tinggi pada bulan Juni. Diameter telur berkisar antara 0.020-0.479 mm, dengan lebih dari satu puncak sebaran yang menunjukkan adanya pola pemijahan parsial. Tingkat kepenuhan lambung ikan bervariasi, dan memiliki nilai yang cukup tinggi pada bulan Maret dan Juni. Jenis makanan ikan baik jantan ataupun betina relatif sama (IS = 77%), yang umumnya terdiri atas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae dan Detritus.Kata kunci: ikan janjan bersisik (Parapocryptes sp.), kematangan gonad, kebiasaan makan

    KONDISI MANGROVE DAN PRODUKSI IKAN DI DESA GRINTING, KECAMATAN BULAKAMBA, KABUPATEN BREBES

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji kondisi mangrove dan hubungannya dengan produktivitas perikanan dalam skala desa. Teknik yang digunakan adalah metode survei dan pencacahan; sedangkan analisis yang digunakan ada dua, yaitu secara kuantitatif dengan uji F dan deskriptif dengan metode analisis komponen utama (PCA). Tiga area pertambakan yang diairi oleh tiga kanal sekunder yag berbeda dipilih untuk dibandingkan kondisi mangrove, kualitas air, produksi perikanan tangkap, dan produksi akuakulturnya. Hasil analisis statistik memperlihatkan bahwa ketiga kanal tersebut memiliki kondisi yang berbeda nyata, dimana areal pertambakan (kanal) I, II, dan III berturut-turut memiliki daerah hijau mangrove seluas 3,99 ha, 4,57 ha, dan 3,33 ha, dengan produksi perikanan tangkap 2,70; 3,99; dan 1,94 kg/upaya/hari; sedangkan produktivitas tambaknya masing masing sebesar 202,22; 183,33; dan 232,67 kg/ha/6 bln. Hasil uji PCA menunjukkan adanya hubungan antara mangrove, kualitas air, dan produksi perikananan tangkap serta akuakultur, dimana perikanan tangkap berbanding lurus terhadap keberadaan mangrove, DO, dan klorofil a; sebaliknya kegiatan budidaya telah mengakibatkan tekanan terhadap keberadaan mangrove dan kualitas air yang dalam hal ini terwakili oleh pH.Kata kunci: akuakultur, kualitas air, mangrove, perikanan tangkap, produksi ika

    PENGARUH PERCAMPURAN BERBAGAI KOLOM AIR TERHADAP KADAR DO (Dissolved Oxygen) DI KERAMBA JARING APUNG (KJA) DI WADUK SAGULING, KABUPATEN BANDUNG

    Full text link
    Waduk Saguling dimanfaatkan untuk KJA dengan pola intensif yang menyebabkan terjadinya penumpukan limbah bahan organik sisa metabolisme dan sisa pakan. Proses dekomposisi limbah tersebut berpotensi meningkatkan laju pemanfaatan oksigen hingga melebihi laju produksinya. Dengan demikian, keseimbangan kandungan oksigen terlarut (DO) perairan tidak stabil serta dapat menimbulkan gas-gas beracun, seperti H2S, CO2, dan CH4. Apabila suatu saat terjadi pembalikan massa air ke permukaan maka akan membahayakan kehidupan organisme perairan bahkan dapat mengakibatkan kematian massal ikan yang dibudidayakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh percampuran air pada berbagai kedalaman kolom air terhadap beberapa parameter kimia (DO, NH3, H2S, dan pH) dan fisika (suhu) pada lokasi KJA Waduk Saguling. Pada penelitian ini terdapat tiga perlakuan, yaitu perlakuan 1 percampuran antara kedalaman 1 m dan 3 m, pada perlakuan 2 percampuran antara 1 m, 3 m, dan 7 m, sedangkan pada perlakuan 3 percampuran air antara kedalaman 1 m, 3 m, 7 m, dan 11 m. Berdasarkan nilai distribusi vertikal oksigen terlarut, Waduk Saguling, khususnya di titik pengamatan, menggambarkan tipe perairan heterograde positif. Dari ketiga parameter DO, amonia bebas, dan H2S, dapat disimpulkan bahwa perlakuan 3 (holomictic) dapat berakibat buruk pada ikan yang dibudidayakan karena memiliki konsentrasi oksigen yang rendah, amonia bebas yang mendekati ambang batas serta H2S yang melebihi ambang batas. Dari distribusi suhu secara vertikal dapat diketahui bahwa tidak terdapat lapisan termoklin sehingga daerah keramba jaring apung Bongas mempunyai potensi yang tinggi untuk terjadi umbalan.Kata kunci: oksigen terlarut (DO), pencampuran air (mixing), Waduk Sagulin

    123

    full texts

    183

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇