Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
183 research outputs found
Sort by
AFFINITAS PENEMPELAN LARVA KARANG (SCLERACTINIA) PADA SUBSTRAT KERAS
Penelitian ini dilaksanakan di ekosistem terumbu karang Kepulauan Seribu DKI Jakarta dengan tujuan untuk mengkaji kemampuan (affinitas) rekrutmen karang (Ordo Scleractinia) pada tiga jenis substrat keras berbeda, yaitu semen, genteng dan batu kapur. Substrat penempelan berukuran 20 x 20 x 3 cm3 diletakkan secara vertikal pada rak yang ditanam di dasar perairan dengan kedalaman 5 m. Substrat ditempatkan di dalamperairan selama tiga bulan, kemudian diambil dan dibawa kelaboratorium untuk diidentifikasi serta dihitung jumlah rekruit karang yang menempel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan affinitas rekrutmen karang pada tiga substrat yang dicobakan. Affinitas terbaik adalah substrat batu kapur yang ditandai kelimpahan rekruit paling tinggi dibandingkan substrat lain. Selama penelitian ditemukan enam spesies rekruit karang pada ketiga jenis substrat, yaitu: Pocillopora damicornis, Seriatopora hystrix dan Stylophora pistillata dari Famili Pocilloporidae; Acropora millepora dan A. tenuis dari Famili Acroporidae, dan; Porites sp. dari Famili Poritidae. Kelimphan spesies P. damicornis dominan pada ketiga jenis substrat. Kondisi terumbu karang di lokasi penelitian (Pulau Payung) tergolong baik dengan tutupan karang keras 67%, sedangkan dilokasi sekitarnya yaitu Pulau Pari tergolong sedang (36%) dan Pulau Lancang tergolong buruk (15%).Kata kunci: rekrutmen, karang, substrat penempelan
WATER QUALITY FOR AQUATIC LIFE IN CIMANUK RIVER, WEST JAVA
Sebuah survei kualitas air dilakukan di Sungai Cimanuk pada tahun 1999-2000 mulai dari hulu sungai hingga ke daerah estuari. Dua belas stasiun pengambilan contoh ditetapkan di sepanjang aliran sungai. Pada setiap stasiun, pengambilan contoh dilakukan tiga kali waktu pengambilan, yaitu pada bulan Agustus, Oktober, dan Januari untuk dapat mewakili tiga musim yang berbeda pada periode tahun tersebut. Beberapa parameterdiukur in situ, sementara beberapa yang lainnya dianalisis di laboratorium di Institut Pertanian Bogor. Hasil studi ini menunjukkan bahwa secara umum kualitas air di Sungai Cimanuk masih sesuai bagi peruntukan kehidupan organisme perairan. Kondisi tersebut tercermin pada indek kualitas airnya yang berada pada selang 50 hingga 80 atau dari kategori sedang ke baik. Sungai Cimanuk adalah satah satu contoh khas sungai tropis, dimana volume aliran sungai berfluktuasi menurut besarnya curah hujan. Air hujan menggelontor permukaan tanah pada awal musim hujan yang berakibat menurunkan secara tajam kualitas air sungai. Oleh karena itu walaupun kualitas air sungai masih baik bagi kehidupan organisme perairan, terdapat potensi pencemaran dari daerah aliran sungai tersebut, terutama pada awal musim hujan.Kata kunci: kualitas air, Sungai Cimanuk, musiman
DAMPAK KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH TERHADAP KONDISI EKOLOGI TERUMBU KARANG (STUDI KASUS DESA SABANG MAWANG DAN TELUK BUTON KABUPATEN NATUNA PROVINSI KEPULAUAN RIAU)
Melalui Proyek Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang Tahap II atau Coral Reef Rehabilitation and Management (COREMAP II), sebagian kawasan perairan Kepulauan Natuna diperuntukkan sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). KKLD di Kabupaten Natuna ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati Natuna No. 299 Tahun 2007, tanggal 5 September 2007. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sabang Mawang dan Desa Teluk Buton, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Tujuan penelitian ini adalah untuk (a) mengkaji dampak KKLD terhadap kondisi ekologi terumbu karang berupa persentase tutupan karang hidup, kelimpahan ikan karang, keanekaragaman, dan kemerataan ikan karang, dan kelimpahan megabenthos, dan (b) menyusun skenario pengelolaan KKLD. Pengambilan data karang menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), ikan karang menggunakan metode Underwater fish Visual Census (UVC), dan bentos menggunakan metode Reef Check Benhtos (RCB). Selanjutnya pengumpulan data sosial menggunakan metode observasi, wawancara terstruktur dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian ini menunjukkan terjadinya peningkatan persentase tutupan karang hidup, keanekaragaman karang batu, dan ikan karang serta kelimpahan megabenthos di stasiun penelitian yang berstatus sebagai Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat (DPLBM) Desa Sabang Mawang. Sedangkan di Desa Teluk Buton yang tidak berstatus sebagai DPLBM hanya variabel persentase tutupan karang hidup yang meningkat. Kondisi sosial sangat mempengaruhi pencapaian tujuan ekologis pembentukan KKLD. Intensitas pendampingan serta intervensi proyek sebagai alat untuk melakukan perubahan sosial telah berhasil merubah persepsi, partisipasi, dan pola pemanfaatan sumberdaya terumbu karang di Desa Sabang Mawang. Sebaliknya di Desa Teluk Buton belum terlihat adanya perubahan yang cukup nyata. Skenario jalur yang dikembangkan berhasil menetapkan beberapa hal penting yang harus dilakukan untuk pengembangan KKLD terutama terkait dengan lembaga pengelola KKLD, zonasi, dan penegakan hukum.Kata kunci : daerah perlindungan laut berbasis masyarakat, kawasan konservasi laut daerah, kondisi ekologi terumbu karang, partisipasi masyarakat, skenario
PERBENIHAN IKAN KANCRA BODAS (Labeobarbus douronensis) DI KOLAM PETANI KABUPATEN KUNINGAN JAWA BARAT
Ikan kancra (Labeobarbus douronensis) adalah ikan air tawar yang merupakan ikan spesifik lokasi dan merupakan ikan yang sudah langka terutama di perairan umum Jawa Barat. Keberadaan ikan tersebut dari tahun ke tahun semakin berkurang, oleh karena itu saat ini masyarakat tidak diperbolehkan menangkap dan mengkonsumsinya. Di perairan Waduk Dharma yang ada di Kab. Kuningan sudah tidak ditemukan lagi jenis ikan tersebut. Untuk itu dilakukan upaya pengembangbiakan yang meliputi pematangan gonad, pemijahan, pemeliharaan larva dan pembesaran di tangki atau kolam tanah. Pematangan gonad dilakukan dengan upaya perbaikan pakan, pemijahan melalui upaya manipulasi lingkungan, pemeliharaan larva dengan upaya pemberian pakan alami dan pembesaran dengan upaya pemberian larva nyamuk dan pelet berprotein 35%. Teknologi tersebut dirakit dan selanjutnya di sebarluaskan ke daerah-daerah yang memiliki ikan langka.Kata kunci: ikan kancra bodas, langka, perbenihan, penyebarluasan teknologi
SEBARAN LOGAM BERAT DALAM SEDIMEN ESTUARI WAKAK-PLUMBON, SEMARANG, JAWA TENGAH
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengamati penyebaran spasial dan temporal logam dalam sedimen estuari Wakak- Plumbon, Semarang, Jawa Tengah, serta kaitannya dengan berbagai faktor yang mempengaruhi distribusinya dlam sedimen (konsentrasi karbon organik total, redoks potensial sedimen dan ukuran butiran sedimen). Untuk mengamati distribusi spasial logam dalam sedimen, sedimen dikumpulkan dari 9 titik pengamatan, 3 titik masing -masing diambil dari Sungai Plumbon, Wakak dan laut. Pengamatan distribusi temporal dilakukan pada 3 stasiun pengamatan di laut (A, B dan C) terhadap 5 logam dominan. Sedimen dikumpulkan dengan Petersen grab, kemudian dianalisis kandungan logamnya dgan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa logam Pb, Cd dan Ni konsentrasinya lebihtinggi ke arah hulu sungai dan memiliki hubungan negatif dengan salinitas, sehingga sumber masukannya diduga berasal dari hulu. Logam Cu, Cr dan Hg lebih tinggi di laut dan memiliki hubungan positif dengan Salinitas, sehingga sumber masukan diduga berasal dari laut. Logam seng konsentrsainya tinggi di laut dan diduga terjadi secara alami. Selain salinitas, faktor lain yang dominan pengaruhnya terhadap penyebaran logam dalam sedimen estuari Wakak-Plumbon adalah karbon organik total. Konsentrasi logam cenderung lebih tinggi dengan meningkatnya konsentrasi karbon organik total.Kata kunci: penyebaran spasial dan temporal, logam, sedimen dan estuaria Wakak-Plumbon
MODAL SOSIAL DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN
Konsep modal sosial diartikan sebagai sebagai norma dan hubungan sosial yang menyatu dalam struktur masyarakat dan membuat orang dapat bekerjasama dalam bertindak untuk mencapai tujuan. Aksi bersama atau kerjasama dapat berlangsung ketika terdapat modal sosial dalam masyarakat. Tulisan ini menunjukkan bahwa modal sosial input dan modal sosial output atau aksi bersama terbukti dapat mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan melalui aksi bersama pelarangan kegiatan penangkapan ikan yang merusak, antara lain penggunaan bom, bius, atau penambangan karang.Kata kunci: pengelolaan perikanan, modal sosial
ESTIMASI DAYA DUKUNG LINGKUNGAN PESISIR UNTUK PENGEMBANGAN AREAL TAMBAK BERDASARKAN LAJU BIODEGRADASI LIMBAH TAMBAK DI PERAIRAN PESISIR KABUPATEN SERANG
Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi daya dukung lingkungan pesisir Kabupaten Serang untuk pengembangan budidaya tambak berdasarkan laju biodegradasi limbah organik tambak di perairan pesisir. Laju biodegradasi OSS adalah 10.78 ppm/hari untuk perlakuan T0 (kontrol), 14.24 ppm/hari untuk perlakuan T1 (TSS 100 ppm, OSS 58.08 ppm), 12.75 ppm/hari untuk perlakuan T2 (TSS 200 ppm, OSS 145.72 ppm),11.34 ppm/hari untuk perlakuan T3 (TSS 300 ppm, OSS 234.22 ppm), 9.38 ppm/hari untuk perlakuan T4(TSS 400 ppm, OSS 321.86 ppm), dan 8.40 ppm/hari untuk perlakuan T5 (TSS 500 ppm, OSS 410.35 ppm). Dengan musim tanam udang 2 kali dan laju biodegradasi OSS 14.76 ppm/hari, daya dukung maksimum lingkungan pesisir Kabupaten Serang untuk budidaya tambak udang adalah 1 090.55 ha untuk tambak intensif,2 220.82 ha untuk tambak semi intensif, dan 12 595.07 ha untuk tambak tradisional plus. Kombinasi optimum luas tambak yang sesuai dengan potensi lahan tambak adalah 149.16 ha (13.6%)tambak intensif, 975.61 ha (42.6%) tambak semi intensif, dan 5 875.23 ha (43.8%) tambak tradisional plus.Kata kunci: daya dukung, budidaya udang, biodegradasi, zona pesisir
ANALISIS REHABILITASI TAMBAK DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM (NAD)
Tambak memegang peranan penting sebagai sumber ekonomi masyarakat pesisir di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Akan tetapi, tsunami 26 Desember 2004 telah merusak sebagian besar tambak di provinsi ini dengan prediksi kerugian lebih dari 1 trilyun dan 14 859 rumah tangga hilang sumber mata pencaharian. Kebutuhan biaya rehabilitasi satu hektar tambak yang rusak berat adalah Rp 32.76 juta, rusak sedang yang direhabilitasi dengan mesin (capital intensive) adalah Rp 20.92 juta dan dengan manual (laborintensive) adalah Rp 12.37 juta, dan rusak ringan yang direhabilitasi dengan mesin Rp 12.37 juta dan manual Rp 5.89 juta. Pendapatan dari budidaya tambak tradisional plus adalah Rp 14.7 juta/ha/tahun dan menyerap tenaga kerja 488 hok. Analisis finansial, dengan discount rate 15%, menunjukkan bahwa pengelolaan tambak di Aceh layak (feasible) dilakukan. Belajar dari kegagalan masa lalu, maka ke depan, pengelolaan tambak di Aceh harus diarahkan pada pola Manajemen Kesehatan Budidaya Udang (Shrimp Culture Health Management - SCHM). Kata kunci: Tambak, tsunami, rehabilitasi, biaya, tenaga kerja, dan pendapatan
Physical Effects On The Behavior Of Littorina Littorea (L)
Gastropoda, Uttorina littorea (l.) dipelihara pada salinitas antara 9-33"'- . Hewan tidak dapat berlahan hidup pada salinitas kurang dari 8%.. Pada salinitas antara 15.6-19.4"'- hewan tampak lebih aktif dalam kondisi dengan atau tanpa cahaya. Penurunan tingkat aktifitas umumnya terjadi dengan menurunnya salinitas media.Kata-kat. kunci: Littorina littorea, tingkah laku, salinitas, cahay
Pembangunan Perikanan Pada Pembangunan Jangka Panjang II (PJPT II)
Sub-sektor perikanan merupakan bidang yang paling komplek diantara subsektor-subsektor pertanian yang lain. Hal ini antara lain disebabkan karena dimensi sumberdaya yang dinamis dengan batasan-batasannya yang sangat relatif. Oleh karena itu pembangunan sub-sektor perikanan memerlukan pemikiran yang spesifik. Berbagai pemikiran telah banyak dicurahkan untuk penyusunan strategi pembangunan perikanan, antara lain pemikiran yang paling baru adalah hasil Workshop on Fisheries Policy and Planning oleh Dirjen Perikanan dan Fisheries Forum I dan II oleh Litbang Perikanan, serta Fisheries Forum III oleh Ditjen Perikanan dan Badan Litbang Pertanian. USAID mensponsori pertemuan-pertemuan tersebut. Dari hasil pemikiran-pemikiran terse but hampir semua aspek kpennasalahan bidang perikanan dan strategi telah tertuang.Demikian luas cakupan aspek dan permasalahannya, sehingga dalam penyusunan strategi pembangunan perikanan sulit untuk dipadukan dalam salu fokuspembangunan yang sentral. Di dalam tulisan ini akan dicoba memilah-milah dankalau mungkin dengan introduksi pola pemikiran yang baru untuk menghasilkan pola pembangunan perikanan yang efisien. .untuk tllk mencari pola yang efisien salah satu langkah yang harus ditempuh adalah melalui usaha pengelompokan permasalah yang ada kemlldian diikuti dengan penyusunan prioritas-prioritas yang nantinya merupakan bahan bagi penyusunan strategi pembangunan. Strategi pembangunan yang akan dipakai hendaknya harus dapat dijabarkan ke dalam suatu program pembanguan yang sistematis dan mantap yang mengarah pada pemenuhan tujuan yang telah digariskan dalam tujuan nasional pembangunan perikanan antara lain adalah menghasilkan bahan pangan protein hewani bagi masyarakat, menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhanagro-industri di dalam negeri melalui penyediaan bahan baku, menghasilkan devisa melalui kegiatan ekspor hasil perikanan, serta meningkatkan pendapatan petani/nelayan dalam rangka memberantas kemiskinan yang melilit mereka