Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
    183 research outputs found

    Resistensi Terhadap Stres dan Respons Imunitas Ikan Gurami (Osphronemus Gouramy, Lac.) Yang Diberi Pakan Mengandung Kromium-Ragi

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar kromium optimum yang dapat meningkatkan resistensi terhadap stres dan mengkaji peran kromium dalam meningkatkan respons imunitas ikan gurami (Osphronemus gouramy, Lac.). Empat macam ransum isoprotein dan isokalori dengan kandungan kromium Cr+3-ragi sebesar 0.0 ppm (pakan A), 1.5 ppm (pakan B), 3.0 ppm (pakan C) dan 4.5 ppm (pakan D) diberikan pada ikan contoh dengan bobot 25±2.18 g selama 40 hari. Pada akhir pemeliharaan, ikan diberi perlakuan stres suhu dingin ? -9ºC selama 5 menit untuk mengetahui resistensinya terhadap stres. Contoh darah diambil pada jam ke 0, 0.6, 2, 3, 4, 5, 7, 9, dan 18 pasca stres. Kadar glukosa darah meningkat dan mencapai nilai puncak 100.00, 58.31, 58.86 and 88.43 mg/dl masing-masing untuk perlakuan A, B, C dan D. Kadar kortisol plasma darah pada perlakuan A, B, C dan D masing- masing adalah 53.22, 20.65, 31.67, 40.57 μg/dl. Ikan sisa sebanyak 20 ekor, diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophyla 0.1 ml dengan kepadatan 106 cfu/ml, dipelihara selama 14 hari  untuk mengetahui respons imunitasnya. Perubahan total  leukocyte dan total immunoglobuline pada perlakuan B masing- masing mencapai 272% dan 10.11 μg/dl, sedangkan nilai  hematocrite pada sebelum dan sesudah infeksi adalah 51.87 dan 44.77% dengan jumlah erytrosite mencapai 399 500 dan 239 500 sel/ mm3. Perlakuan B disarankan dapat digunakan untuk menghasilkan ikan yang paling resisten terhadap stres dan yang dapat meningkatkan respons imunitasnya.Kata kunci: Kromium, glukosa darah, stres, imunitas, ikan gurami

    PENEMPELAN MUSIMAN PARASIT BOPYRID PADA UDANG LUMPUR, Nihonotrypaea japonica (Ortmann, 1891) DAN EFEKNYA TERHADAP KERAGAAN REPRODUKTIF BETINA

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji penempelan musiman sejenis bopyrid parasit pada udang lumpur, Nihonotrypaea japonica, dan untuk mengkaji efek penempelannya terhadap keragaan reproduktif udang lumpur betina. Pengambilan contoh dilakukan selama 21 kali pada saat pasang purnama antara tanggal 20 April 1999 hingga 18 April 2000 di 3 (tiga) stasiun tetap pada suatu daerah intertidal pantai berpasir muara Sungai Shirakawa, perairan estuari Ariake, Kyushu Barat, Jepang. Penempelan parasit, baik pada jantan maupun betina, dicatat dengan indikasi pembengkakan ruang insang. Efek penempelan parasit terhadap keragaan reproduktif udang betina diukur dengan membandingkan indek perkembangan ovari betina berparasit, betina tidak berparasit, dan total betina keseluruhan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penempelan parasit pada jantan lebih tinggi dibandingkan pada betina, meskipun nisbah kelamin memperlihatkan lebih banyak betina dibandingkan jantan. Indeks perkembangan ovari menunjukkan bahwa efek penempelan parasit terhadap keragaan reproduktif lebih bersifat individual.Kata kunci: parasit bopyrid, udang lumpur, callianassidae, pantai berpasir, perairan estuari Ariake, Kyushu

    Studi Dinamika Ekosistem Perairan Di Teluk Lampung: Pemodelan Gabungan Hidrodinamika-Ekosistem

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika ekosistem perairan di Teluk Lampung dengan menggunakan gabungan model hidrodinamika-ekosistem dengan pendekatan numerik. Secara umum, hasil simulasi pola arus residu M2 cenderung masuk dari mulut teluk sebelah barat, sebagian terus memasuki sampai kepala teluk dan sebagian keluar kembali dari mulut teluk bagian timur. Selain itu, terlihat pula adanya suatu eddy yang mengalir berlawanan arah jarum jam di sekitar kepala teluk. Pola penyebaran masing-masing kompartimen ekosistem hasil model memiliki kesamaan dengan hasil pengamatan di lapangan, serta konsisten dengan pola arus residu M2. Pengaruh suplai dari sungai, interaksi antara proses biologis seperti produktifitas primer, sekunder (pemangsaan), kematian alami plankton, serta proses dekomposisi oleh bakteri belum begitu berperan dalam neraca dan standing stock ekosistem di Teluk Lampung. Peranan suplai dari laut lebih dominan dibanding dengan proses-proses biokimiawi yang berinteraksi di dalam teluk. Hasil perhitungan tingkat efisiensi aliran energi dari proses dekomposisi dan produksi urine zooplankton ke produktifitas primer mengalami kehilangan sebesar 30.48 %, sementara dari produktifitas primer ke produktifitas sekunder (pemangsaan) mengalami penambahan 17.24 %.Kata kunci: dinamika ekosistem, Teluk Lampung, gabungan model hidrodinamika-ekosistem, arus residu M2

    Pendayagunaan Rotifera yang Diberi Pakan Alami Berbagai Jenis Mikroalgae

    No full text
    Penelitian skala laboratorium dilakukan untuk mengetahui kelimpahan dan pertumbuhan optimum Brachionus sp. yang diberi pakan alami mikroalgae monospesies Nannochloropsis sp., Dunaliella sp., Isochsysis sp., dan Pavlova sp., dan multispesies (campuran dari keempat jenis mikroalgae). Penggunaan berbagai jenis mikroalgae yang mengandung nutrisi yang berbeda dimaksudkan agar rotifera yang dikultur memiliki laju pertumbuhan yang cepat dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Mikroalgae memiliki kepadatan maksimum yang berbeda selama kultur. Nannochloropsis memiliki kepadatan populasi yang lebih tinggi diantara mikroalgae lainnya dalam waktu yang hampir sama. Pertumbuhan rotifera (404 ind/ml) tertinggi dicapai oleh pemberian Nannochloropsis sp., diikuti berturut-turut mikroalgae multijenis (212 ind/ml), Isochrysis sp. (160 ind/ml), Pavlova sp. (138 ind/ml), Dunaliella (127 ind/ml). Kultur Brachionus sp. menggunakan Nannochloropsis sp., memberikan hasil yang terbaik yaitu memiliki laju pertumbuhan yang paling tinggi dalam waktu yang relatif cepat. Kualitas air selama kultur turut mendukung pertumbuhan yang optimum bagi rotifera.Kata kunci: rotifera, mikroalgae, monospesies, multispesies

    Specific Growth Rate of Chlorella sp. And Dunaliella sp. According to Different Concentration of Nutrient and Photoperiod

    Get PDF
    Light and nutrient are factors that support the microalgae growth rate besides COB2B, temperature, and salinity. Microalgae growth of Chorella sp. and Dunaliella sp. were observed to determine the influences of different nutrient concentration and photo period. Microalgae cultivation was located at laboratory using 100 mL Erlenmeyer. The specific growth rate of microalgae was observed for different nutrient concentration and photo period of light treatments. Using Guillard/f2 nutrient, the highest specific growth rate for Chorella sp. was 0.227/d and 0.289/d for Dunaliella sp. The highest microalgae specific growth rate influenced different photo period was 0.39/d and 0.329/d, respectively. Finally, the highest specific growth rate for both cultivated species of microalgae was observed at 2V nutrient concentration and 24 hour period of light treatment.Keywords : Spesific growth rate, photoperiod, nutrient, Chlorella sp., Dunaliella sp

    KAJIAN ASPEK PERTUMBUHAN POPULASI POKEA (Batissa violacea celebensis Martens, 1897) DI SUNGAI POHARA SULAWESI TENGGARA

    Get PDF
    Pokea merupakan bivalvia endemik Sulawesi dan bernilai  ekonomis penting bagi masyarakat Kota Kendari. Penambangan pasir dan penangkapan pokea di duga sebagai salah satu faktor penyebab menurunnya kualitas dan kuantitas pokea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan populasi pokea di lokasi penambangan pasir, lokasi penangkapan pokea dan habitat alamiahnya. Penarikan contoh pokea dilakukan di lapangan dan analisis pokea (panjang) dilaksanakan di laboratorium. Penarikan contoh dilakukan selama 3 bulan dengan ulangan setiap minggu (12 kali). Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan dengan menggunakan program FiSAT 2002. Panjang cangkang pokea yang ditemukan berkisar antara 0.9-6.3 cm dengan rata-rata 3.31 ± 0.99 cm yang tersebar dalam 1-3 kelompok ukuran. Pertumbuhan populasi pokea tercepat ditemukan di habitat alamiah (stasiun I) dengan nilai koefisien 0.87 dan terendah ditemukan pada lokasi penambangan pasir (stasiun II) dengan nilai koefisien 0.44. Panjang takhingga (L∞) tertinggi ditemukan pada daerah dekat muara (stasiun IV) dengan nilai 6.59 cm dan terendah ditemukan di daerah penangkapan pokea. (stasiun III) dengan nilai 4.79 cm. Hasil ini menunjukan bahwa eksploitasi dan aktivitas penangkapan mempengaruhi kualitas pertumbuhan populasi pokea.Kata kunci: pokea, populasi, pertumbuhan

    PENDAYAGUNAAN KALSIUM MEDIA PERAIRAN DALAM PROSES GANTI KULIT DAN KONSEKUENSINYA BAGI PERTUMBUHAN UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii de Man)

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengkaji pendayagunaan kapur sebagai sumber kalsium dalam proses peningkatan kadar kalsium kulit dan lama waktu postmolting, serta konsekuensinya bagi pertumbuhan udang. Perlakuan dosis penambahan Ca(OH)2 sebanyak 0 mg/L, 15 mg/L, 30 mg/L, 45 mg/L, dan 60 mg/L, dengan 3 ulangan. Parameter yang diukur meliputi kadar kalsium kulit, lama waktu postmolting, tingkat konsumsi pakan, laju pertumbuhan, dan efisiensi pemanfaatan pakan. Penambahan Ca(OH)2 sebanyak 15-60 mg/L meningkatkan kadar kalsium media (25.51-35.22 mg/L) dibanding dengan kontrol (18.53 mg/L). Pengggunaan Ca(OH)2 sebanyak 0, 15, 30, 45, dan 60 mg/L mampu meningkatkan kadar kalsium kulit pada tahap postmolting 20 hari. Penggunaan Ca(OH)2 sebanyak 30 dan 45 mg/L mampu mempercepat lama waktu postmolting, selanjutnya lebih dari 45 mg/L menghambat lama waktu postmolting. Penggunaan Ca(OH)2 selama 3 siklus kulit berimplikasi lanjut pada konsumsi pakan harian, mulai meningkat pada penambahan Ca(OH)2 15 mg/L, mencapai maksimum pada penambahan Ca(OH)2 45 mg/L, dan selanjutnya menurun pada penambahan Ca(OH)2 60 mg/L. Laju pertumbuhan individu pada penambahan Ca(OH)2 0, 15, 30, 45, dan 60 mg/L adalah 0.006, 0.010, 0.010, 0.012, dan 0.009. Efisiensi pemanfaatan pakan, mencapai maksimal pada penambahan Ca(OH)2 sebanyak 15 mg/L selanjutnya menurun pada 30, 45 dan 60 mg/L. Dengan demikian penggunan Ca(OH)2 sebanyak 30 mg/L mampu mempercepat lama waktu postmolting yang berimplikasi pada peningkatan rataan konsumsi pakan harian sehingga meningkatkan laju pertumbuhan individu udang.Kata kunci: molting, kalsium, konsumsi pakan, pertumbuhan. ABSTRACTThe objectives of these present research was to study the addition of calcium in the media in order to increase the calcium content in the skin and its consequence on the growth of the giant fresh water prawn. Five treatments of different Ca(OH)2 (0, 15, 30, 45, and 60 mg/L), concentration were prepared of which each treatment consisted of three replications. The parameters measured were the concentration calcium of exoskeleton, post molting period, daily feed consumption, total feed consumption, growth rate, and feed efficiency. The addition of 15-60 mg/L has increased the concentration of the media (25.51-35.22 mg/L) compared to the control (18.53 mg/L). Duration of postmolting of the giant freshwater prawns supplemented with 0.15, 30, 45, and 60 mg/L were 17, 15, 12, 13 and 15 days, respectively. The average of daily feed consumptions was found to be higher in the group with the input of Ca(OH)2 of 15 and maximum at 45 mg/L. The growth rate in the prawn suplemented with Ca(OH)2 of 0, 15, 30, 45, and 60 mg/L were 0.006, 0.010, 0.010, 0.12, and 0.009 The feed efficiency in the prawn supplemented with 0, 15, 30, 45, and 60 mg/L were 27.00, 40.45, 30.30, 28.20, and 26.90%. The results of this experiment recomonded that supplementation of 30 mg/L Ca(OH)2 in the aquatic media improved growth rate and feed efficiency of freshwater giant prawn.Keyword: molting, calcium, food consumption, growth

    ANALISIS “MAXIMUM SUSTAINABLE YIELD” DAN “MAXIMUM ECONOMIC YIELD” MENGGUNAKAN BIO-EKONOMIK MODEL STATIS GORDON-SCHAEFER DARI PENANGKAPAN SPINY LOBSTER DI WONOGIRI

    Get PDF
    Di Perairan Wonogiri terdapat sumberdaya spiny lobster yang potensial, namun belum pernah ada upaya untuk menilai besarnya potensi tersebut. Informasi tersebut penting agar eksploitasi spiny lobster di Perairan Wonogiri dapat berjalan optimal, baik secara biologi maupun ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat eksploitasi spiny lobster yang optimal di Perairan Kabupaten Wonogiri. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Paranggupito Kabupaten Wonogiri pada tanggal 5 – 26 Agustus 2004 dan 3 – 8 Februari 2005. Data dianalisis untuk menentukan produksi lestari perikanan tangkap, tingkat pemanfaatan sumberdaya spiny lobster dan bio-ekonomi model statis Gordon-Schaefer. Hasil penelitian menunjukkan spiny lobster di Perairan Wonogiri dihasilkan oleh 2 747 unit krendet dan 878 unit jaring hampar, dioperasikan oleh 304 orang. Maximum sustainable yield (MSY) spiny lobster di perairan tersebut adalah 1 251 kg dengan effort optimum 1 769 trip per tahun. Berdasarkan MSY tersebut, tingkat pemanfaatan sumberdaya spiny lobster pada tahun 2004 mencapai 64.89 % dengan effort 2 432 trip. Nilai maximum economic yield (MEY) 1 243 kg dengan effort 1 624 trip per tahun dan rente ekonomi yang diperoleh Rp 94 361 363.00. Perhitungan tersebut memberikan indikasi perlunya pengurangan effort sebanyak 808 trip pada tahun 2005 untuk pemanfaatan sumberdaya spiny lobster yang optimal, secara biologi dan ekonomi.Kata kunci: model bio-ekonomi statis, MSY, MEY, spiny lobster, Perairan Wonogiri

    ZONASI, KARAKTERISTIK FISIKA-KIMIA AIR DAN JENIS-JENIS IKAN YANG TERTANGKAP DI SUNGAI MUSI, SUMATERA SELATAN

    Get PDF
    Penelitian untuk mengetahui batas-batas zona, karakteristik perairan dan jenis-jenis ikan di Sungai Musi telah dilaksanakan dari Juni-Nopember 2002. Metode penelitian adalah metode  survei dengan menetapkan 15 stasion pengamatan dari hulu hingga ke hilir serta mencakup musim kemarau dan hujan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa profil memanjang Sungai Musi berdasarkan karakteristik fisika-kimia air, ketinggian dan jarak dari muara dapat dibagi menjadi 3 zona yaitu: zona hulu dengan panjang sungai ±187 km pada ketinggian 600-40 m dpl. Zona tengah (±177 km dan ketinggian 40-15 m) dan zona hilir (±146 km dan ketinggian 15-0 m). Ketiga zona dilihat dari faktor hidrologi dan beberapa parameter fisika-kimia air mempunyai karakteristik yang berbeda. Jenis-jenis ikan yang ditemukan selama penelitian ada ±79 jenis dari 24 famili dan famili Cyprinidae mempunyai jenis terbanyak (±32 jenis). Udang ada 3 jenis dari 2 famili. Penyebaran jenis ikan terfokus pada zona tengah yaitu ±70 jenis, diikuti zona hilir dan hulu masing-masing 52 dan 19 jenis. Jenis ikan/udang yang terdapat pada 3 zona ada 8 jenis terdiri dari 7 jenis ikan dan 1 jenis udang.Kata kunci: zonasi, karakteristik air, jenis ikan teridentifikasi, Sungai Mus

    TINGKAT PEMANFAATAN PAKAN DAN KELAYAKAN KUALITAS AIR SERTA ESTIMASI PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei, Boone 1931) PADA SISTEM INTENSIF

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian tingkat pemanfaatan pakan dan kelayakan kualitas air serta estimasi pertumbuhan dan produksi udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada sistem intensif telah dilakukan di Pelabuan Ratu, Jawa Barat pada bulan Mei sampai Agustus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat pemanfaatan pakan dan kelayakan kualitas air pada sistem budidaya udang vaname intensif. Penelitian ini didasarkan pada observasi enam tambak selama satu masa pemeliharaan (100 hari) dengan desain kausal dan metode ex postfactountuk mendapatkan data kualitas air dan produksi udang. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa penurunan kualitas air mulai terjadi pada pemeliharaan hari ke-40 dan terus menurun sampai akhir pemeliharaan. Tingkat pemanfaatan pakan yang tinggi menghasilkan kelayakan kualitas air dan laju pertumbuhan yang tinggi sehingga menghasilkan produksi biomassa udang yang tinggi. Model hubungan jumlah pakan yang diberikan (x) dan biomassa yang dihasilkan (y) berupa regresi kuadratik y = 0.00006x2 + 1.3506x + 7.3864 (R2 = 0.9801) sehingga biomassa maksimum tercapai pada 7 593 kg dengan pemberian pakan sebanyak 11 255 kg atau FCR sebesar 1.48.Kata kunci: sistem intensif, udang, pakan, kualitas air, biomassa, tambak.ABSTRACTA study on feed utilization, and the suitability of water quality and the estimation of vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) growth and production of an intensive system was conducted in Pelabuan Ratu, West Java during Mei-Agustus. The research was aim at evaluating feeding practices, and suitability of its water quality obtained. This study was based on observations six ponds during one growout period (100 days) with causal design and ex post-facto method to obtain data on water quality and production. The result showed that degradation of water quality occurred not until the 40th day of cultivation, and progressively decreased up to the end of the growout period. The high level of feed utilization produced suitable water quality, and high shrimp growth rates, thus, yielding high shrimp biomass. Feed-shrimp biomass relationship could be expressed by the following quadratic regression: y = 0.00006x2 + 1.3506x + 7.3864 (R2 = 0.9801), from which the maximum shrimp biomass was reached at 7 593 kg on 11 255 kg feed, giving a feed conversion ratio of 1.48.Keywords: intensive system, shrimp, feed, water quality, biomass, tambak

    123

    full texts

    183

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇