Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
183 research outputs found
Sort by
MODEL NUMERIK DIFUSI POPULASI RAJUNGAN DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR
Salah satu model pengelolaan perikanan tangkap untuk perairan yang luas adalah model difusi populasi, dimana ikan bebas melakukan pergerakan (difusi). Model ini dapat dikembangkan dari model pertumbuhan populasi dan model penangkapan (harvesting). Dalam makalah ini, diuraikan hasil model numerik difusi rajungan di Selat Makassar (pantai barat Sulawesi Selatan). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dan observasi, dimana densitas populasi rajungan ditentukan dengan metode swept area. Model difusi populasi yang dihasilkan menunjukkan bahwa rajungan di perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan melakukan pergerakan (difusi) dari perairan pantai ke perairan lepas pantai dengan koefisien difusi sebesar 60 ekor/km2. Rajungan yang layak tangkap berada pada jarak minimal 3.7 mil laut dari pantai ke arah laut. Dengan mempertimbangkan sifat difusi dari rajungan, model difusi yang dihasilkan direkomendasikan bagi pemanfaatan yang optimal pada pengelolaan perikanan rajungan.Kata Kunci: model, numerik, difusi, rajungan
KUALITAS AIR SUNGAI CILIWUNG DITINJAU DARI PARAMETER MINYAK DAN LEMAK
ABSTRAKSungai Ciliwung dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti sumber baku air minum, industri, perikanan dan pertanian. Pengambilan contoh dilakukan pada 10 stasiun, yaitu Cisarua Bogor, Gadog Bogor, Kedung Halang dan Kelapa Dua (Srengseng Sawah), Kalibata, Kampung Melayu, Manggarai, Guntur, Jl.Kyai Haji Mas Masyur dan Jl. Teluk Gong. Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan baku mutu menurut SK Gub Jabar No. 38 Tahun 1991 dan SK Gub DKI Jakarta No. 582 Tahun 1995, diuji secara statistik dengan melihat keeratan hubungan antara parameter organik (COD) dan minyak-lemak pada seluruh stasiun dengan menggunakan regresi linier. Kandungan minyak dan lemak di Sungai Ciliwung berkisar antara 0 – 9.04 mg/l, di stasiun 3-10 dan telah melampaui baku mutu. Nilai R2 = 0.66 menunjukkan keeratan minyak dan lemak dengan COD serta rasio BOD/ COD 0.45 menandakan limbah tersebut bersifat persisten.Kata Kunci: minyak dan lemak, persisten. ABSTRACTThe Ciliwung River is utilized for many activities such as drinking water resources, industry, fishery and agriculture. The samples was collected at 10 stations, i.e., Cisarua Bogor, Gadog Bogor, Kedung Halang and Kelapa Dua (Srengseng Sawah), Kalibata, Kampung Melayu, Manggarai, Guntur, Jl. Kyai Haji Mas Masyur and Jl. Teluk Gong. The water quality of Ciliwung River was compared to standard water quality, referring to Governoor of West Java Decree No. 38 of 1991 and Governoor of Jakarta Decree No. 582 of 1995. The statistic test using linier regression is to describe the relationships between organic parameter (COD) and oil-grease parameters at all stations. The concentration of oil and grease in Ciliwung River range from 0 – 9.04 mg/l, at stations 3 to 10. Those values seemed to be higher than standard water quality. The R2 value = 0.66 showed the relationships between oil-grease and COD. The average ratio of BOD/COD 0.45, meaning that characteristic of waste water is persistent.Key words : oil and grease, persistent.
PENGGUNAAN MEAN DAMAGE INDEX (MDI) DALAM MENGKAJI KERUSAKAN MORFOLOGI BENTHOS YANG TERTANGKAP DENGAN ALAT TANGKAP GAROK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penggunaan Mean Damage Index (MDI) yang diperkenalkan Jensen et al. (2001) dalam menilai kerusakan morfologis yang ditimbulkan alat tangkap garok terhadap makrozoobenthos. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah pesisir perairan Kronjo, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten pada bulan Maret sampai Mei 2007. Ada variasi kerusakan morfologis yang ditimbulkan oleh garok terhadap jenis benthos yang berbeda, yakni kerang, keong laut, kepiting, udang, dan bintang laut. Nilai MDI tertinggi dari kelima stasiun berasal dari kelompok bivalvia dengan kisaran 1.5781-3.5217, sedangkan MDI terendah terdapat pada kelompok udang yang berkisar antara 0.0633 sampai 0.2424.Kata kunci: MDI (Mean Damage Index), kerusakan morfologis, benthos, estuari
PRODUKTIVITAS PRIMER FITOPLANKTON DAN KETERKAITANNYA DENGAN UNSUR HARA DAN CAHAYA DI PERAIRAN TELUK BANTEN
Pada ekosistem perairan, keberadaan cahaya dan unsur hara di kolom air merupakan faktor utama yang mengontrol laju produktivitas primer fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara produktivitas primer fitoplankton dengan keberadaan intensitas cahaya dan unsur hara di kolom perairan Teluk Banten. Pengukuran produktivitas primer dilakukan dengan menggunakan metode oksigen botol terang dan gelap. Pengambilan contoh air laut untuk pengukuran produktivitas primer dan unsur hara dilakukan pada dua stasiun dengan empat titik kedalaman. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa produktivitas primer fitoplankton pada setiap kedalaman inkubasi berkisar dari 13.56-29.59 mg C/m3/jam di kedua stasiun pengamatan. Terdapat kecenderungan kolom perairan di lokasi penelitian termasuk massa airnya tercampur. Hal ini terlihat dari distribusi vertikal unsur hara yang homogen. Disamping itu, cahaya cenderung berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Terdapat hubungan yang sangat erat antara cahaya yang ada di kolom air dengan produktivitas primer (82% dan 64%) dan sebaliknya, unsur hara dengan produktivitas primer berkorelasi lemah (berkisar antara 0.9%-16.5%). Cahaya lebih bersifat sebagai pembatas dibanding unsur hara bagi produktivitas primer.Kata kunci: produktivitas primer fitoplankton, cahaya, DIN (nitrogen anorganik terlarut), DIP (fosfat anorganikterlarut)
MODEL BIOEKONOMI PERAIRAN PANTAI (IN-SHORE) DAN LEPAS PANTAI (OFF-SHORE) UNTUK PENGELOLAAN PERIKANAN RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN SELAT MAKASSAR
Di perairan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Selat Makassar, produksi rajungan di perairan inshore pada tahun 2002 dan 2004 telah melewati biomassa optimal, yaitu sebesar 609.7 ton dan 607.5 ton. Masalah ini perlu segera ditangani, misalnya dengan mencari tingkat pemanfaatan yang optimal. Dalam makalah ini, diuraikan hasil pengembangan model bioekonomi perairan pantai (in-shore, 0 – 6 mil laut dari pantai) dan lepas pantai (off-shore, diatas 6 mil laut dari pantai) untuk menentukan jumlah biomassa yang dapat dimanfaatkan secara optimal dengan mempertimbangkan biaya operasi penangkapan dan nilai rajungan yang tertangkapdalam pengelolaan perikanan rajungan di perairan Selat Makassar (pantai barat Sulawesi Selatan). Data yang dikumpulkan adalah data produksi rajungan, upaya penangkapan, dan jumlah unit alat tangkap dari periode tahun 1995 sampai 2004, yang diperoleh dari instansi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Adapun harga rajungan diperoleh dari 3 kelompok nelayan dan 3 perusahaan pengolahan rajungan yang ada di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rajungan di daerah ini, masih memungkinkan untuk diekploitasi dengan tetap memperhatikan konsep pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan. Model memberikan indikasi bahwa alokasi biomassa optimal pada perairan pantai adalah 180 ton/tahun, dan pada perairan lepas pantai adalah 771 ton/tahun. Hal ini disebabkan oleh pergerakan rajungan yang mempengaruhi jumlah populasi rajungan pada perairan pantai dan perairan lepas pantai.Kata kunci: model, bioekonomi, in-shore, off-shore, pertumbuhan
Fish Stock Condition in Southern Coastal Water of West Java
Fish stock in marine waters is always dynamic due to fluctuation in the annual total catch. Consequently, the estimate number of fish stock changes yearly, without exception in the southern coastal water of West Java. Fish stock condition in this region has not been reevaluated since 1999, the time before the separation of the province into West Java and Banten. This current study was intended to reassess the condition of fish stock utilization and estimate fish stock growth parameters in the southern coastal water of West Java in 2006. Data of fish production, effort, fish price, and effort cost for 14 years (1993-2006) are taken from the Office of Fisheries Agency of West Java Province. Effort data are standardized using relative fishing power method. Analysis of fish stock condition is carried out using Gordon-Schaefer bioeconomic model. Fish stock growth parameters are estimated using CYP, Uhler, and Hilborn and Walters methods. The results showed that utilization of marine fish resource in the southern coastal water of West Java is still in the condition of underfished and under effort. Estimates of fish stock growth parameters in this area are r = 3.8882, K = 22 080.355 ton, and q = 14.1775 × 10-7.Key Words: Fish stock assessment, southern coastal water, West Java, Gordon-Schaefer model
The Application of Carrying Capacity Concept for Sustainable Development in Small Island (Case Study Kaledupa Islands, Distict Wakatobi)
The Challenge for small islands planners and managers in Indonesia right now is to develop resources and environment service of small islands for the maximum benefit and, at the same time, to maintain the sustainable capacity of ecosystems (meaning does not exceed the carrying capacity of the ecosystems). This paper applied carrying capacity concept for sustainable development of small islands. To determine carrying capacity of utility space of small islands through two aspects: (1) freshwater, and (2) spaces. Analysis result of carrying capacity for directing utility land area (settlements and agricultures), the freshwater aspects would be fullness, if annual absorption to rainy stayed at 50%. The space area of aquatic which could be utilized for marine culture, shore and marine ecotourism there were around 70%. It was 30% recommended for marine protected zone.Keywords: sustainable development, small islands, carrying capacity
EVALUASI PERTUMBUHAN, SINTASAN DAN NISBAH KELAMIN HUNA BIRU (Cherax albertisii) DAN RED CLAW (Cherax quadricarinatus) DENGAN PEMBERIAN PAKAN ALAMI DAN PAKAN BUATAN
Penelitian untuk mengevaluasi pertumbuhan huna biru Papua (Cherax albertisii) dan huna capit merah Australia (Cherax quadricarinatus/red claw) dengan pemberian pakan alami (Chironomus sp) dan buatan (pelet udang komersial) telah dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Penelitian berdurasi tiga bulan (98 hari) bertujuan untuk menemukan daya saing huna lokal Indonesia terhadap huna Australia dan mendapatkan informasi awal mengenai pakan yang sesuai untuk pertumbuhan Cherax sp. Penelitian dilakukan di indoor hatchery, menggunakan rancangan acak lengkap dua faktor dengan kedua species sebagai faktor pertama, dan perbedaan pakan sebagai faktor kedua. Benih kedua species berumur 2 bulan dipelihara pada akuarium berukuran 60 cm x 50 cm x 40 cm, dengan kepadatan 10 individu per akuarium (30 ind/ m2). Parameter yang diamati adalah pertumbuhan (pertambahan bobot dan panjang baku, laju pertumbuhan harian), ratio jantan dan betina serta sintasan di antara setiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata (p < 0.05) bagi parameter pertumbuhan di antara faktor species (Cherax albertisii dan Cherax quadricarinatus) dan interaksi di antara faktor spesies dan faktor pakan, sedangkan parameter pertumbuhan di antara faktor pakan (pakan alami dan buatan) berbeda sangat nyata (p < 0.01). Tidak ada fenomena sexual dimorfisme untuk individu Cherax sp pada kedua species.Kata kunci: pertumbuhan, sintasan, sexual dimorphisme, Cherax albertisii, Cherax quadricarinatus/redclaw), huna, lobster air tawar
Morphoanatomy Structure Variation of Digestive Organs in Relation with Feeding Strategy and Food Habits of Deep-Sea Snappers (Family Lutjanidae)
The digestive organs of four species deep-sea snappers (subfamily Etelinae, Family Lutjanidae) were investigated and compared including mouth shape as well its mouth gape, teeth structures, stomach morphology, pyloric caeca and intestine in order to investigate the existence of variability in food habits of these carnivorous fishes. The results showed that the mouth gape is an adaptation form of feeding habits, feeding strategy, as well as food size. In addition, the presence of jaw protrusion = may favour to fish feeding success. Based on regression analysis, the mouth gape is fairly correlated with the length of intestine (A. rutilans and P. multidens) and to a lesser extent with the other two species (A. virescens and P. filamentosus), indicating a weaker relationship between mouth gape versus total length than that of intestine versus total length. A generalisation of smaller proportion of the length of intestine to body length in carnivorous fishes is being questioned in this study, as an opposite result was found in P. filamentosus with a support evidence from herbivorous freshwater spotted barb (Puntius binotatus). It is suggested that the larger number in pyloric caeca of P. filamentosus is a compensatory mechanism in food digestion.Key words: variability in food habit, variability in digestive organs, feeding strategy and adaptation,deepsea snapper
PENGARUH KONTAMINASI LOGAM BERAT DI SEDIMEN TERHADAP KOMUNITAS BENTIK MAKROAVERTEBRATA: STUDI KASUS DI WADUK SAGULING-JAWA BARAT
Waduk Saguling sekarang ini mengalami beberapa permasalahan yang serius antara lain penurunan kualitas air oleh kontaminasi bahan organik, logam berat, pestisida dan bahan mikropolutan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk melihat besarnya kontaminasi logam berat di sedimen dan dampaknya pada komunitas bentik makroavertebrata. Penarikan contoh telah dilakukan pada bulan Juni hingga September 2004. Hasil penelitian menunjukkan kontaminasi logam Pb dan Cu di sedimen yang paling berpotensi menimbulkan gangguan pada ekosistem perairan, sedangkan logam Cd masih di bawah beberapa guideline kualitas sedimen. Penelitian ini juga mengindikasikan beberapa atribut biologi seperti: indek diversitas, kekayaan taxa, dan Indeks BMWP relatif sensitif untuk mendeteksi gangguan ekologi yang disebabkan oleh peningkatan kontaminasi logam berat di sedimen.Kata kunci: logam berat, sedimen, bentik makroavertebrata, Waduk Saguling.ABSTRAC