Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
    183 research outputs found

    HUBUNGAN PERUBAHAN JENIS KELAMIN DAN UKURAN TUBUH IKAN BELUT SAWAH (Monopterus albus)

    No full text
    Belut (Monopterus albus) bersifat hermaprodit protogini, yang mengalami perubahan jenis kelamin dari betina menjadi jantan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perubahan jenis kelamin dengan ukuran tubuh ikan belut. Penelitian berlangsung di Desa Kahuripan, Kecamatan Tawang, Tasikmalaya, Jawa Barat dari Juni sampai Juli 2002. Pengambilan contoh dilakukan secara acak sebanyak 11 kali, tiga hari sekali pada pukul 20.00 – 04.00 WIB, di tiga stasiun. Dari hasil penangkapan didapat 162 ekor belut, di stasiun I 67 ekor, stasiun II 65 ekor dan stasiun III 30 ekor. Hasil tangkapan paling banyak berukuran 22.8 - 26.7 cm. Hasil tangkapan stasiun I dan II relatif sama sedangkan pada stasiun III berbeda. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa panjang belut yang berukuran kurang dari atau sama dengan 29 cm berjenis kelamin betina namun yang lebih dari 29 cm berjenis kelamin jantan. Belut yang matang gonad pada stasiun I berukuran 24.9 - 28.8 cm, pada stasiun II, 19.0 - 23.1 cm dan 23.2 - 27.3 cm. Sedangkan di stasiun III tidak ditemukan yang matang gonad. Berdasarkan IKG belut yang diperoleh di ketiga stasiun, IKG terbanyak ada pada selang kelas IKG 0.0124 - 0.0873. Fekunditas 35 - 250 butir dengan ukuran telur 0.0265 - 1.2624 mm, dengan pola pemijahan sebagian (partial spawner).Kata kunci: belut, hermaprodit protogini, jenis kelamin, ukuran, IKG, fekunditas. The research was aimed to study body size and sexual changes relationship in a protoginy hermaphrodite species the eel, monopterus albus. This research were conducted in Kahuripan village, district of Tawang, Tasikmalaya, West Java during June to July 2002. Sampling were done at three stations for eleven time, with 3 days interval between 20.00 pm until 04.00 am. The number of eel collected were consisting of 162, ie 67; 65 and 30 from the first, second and third station respectively. The length of the eel were ranged between 22.8 - 26.7 cm. The results showed that the eel less than or equal to 29 cm in length were female, more than 29 cm were male. The mature eel were found in the first and second stations with body size of 24.9 - 28.8 cm, 19.0 - 23.1 cm, respectively. IKG values were varied between 0.0124 - 0.0873, fecundity between 35 - 250 egg, and egg diameter between 0.0265 - 1.2624 mm. Based on egg diameter, eel is considered as partial spawner.Key words: eel, protoginy hermaphrodite, sexuality, body size, IKG and fecundity

    MODEL SURSHING: MODEL HYBRID ANTARA MODEL PRODUKSI SURPLUS DAN MODEL CUSHING DALAM PENDUGAAN STOK IKAN (STUDI KASUS: PERIKANAN LEMURU DI SELAT BALI)

    No full text
    Kajian terhadap pendugaan stok ikan, khususnya perikanan lemuru di Selat Bali, telah banyak dilakukan oleh para peneliti melalui penggunaan model poduksi surplus. Dalam penelitian ini dilakukan penggabungan antara model produksi surplus dan model Cushing atau disebut model Surshing yang digunakan untuk menduga stok ikan lemuru di Selat Bali. Adapun hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa model Surshing lebih memuaskan dalam menduga stok ikan lemuru di Selat Bali, terlihat dari tampilan indikator statistiknya.Kata Kunci: model Cushing, model hybrid, model produksi surplus, pendugaan stok ikan

    Derajat Infestasi Ektoparasit Hirudinea Piscicola sp pada Ikan Kerapu Macan Epinephelus fuscoguttatus (Forsskal, 1775) dan Kerapu Sunu Plectropomus Maculatus (Bloch, 1790)

    No full text
    Penelititian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis parasit dan mengetahui derajat infestasi ektoparasit Hirudinea Piscicola sp. pada ikan kerapu macan Epenephelus fuscoguttatus dan ikan kerapu sunu Plectropomus maculatus yang dipelihara dalam tangki 10 m3 dan 3 m3 dalam kondisi laboratorium. Delapan ekor ikan kerapu macan dan 30 ekor ikan kerapu sunu dengan kisaran bobot tubuh masing-masing 5.0 - 7.7 kg (panjang total 66.0 - 78.1 cm) dan 0.1 - 0.6 kg (20.5 - 34.4 cm) diambil sebagai contoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi Piscicola sp. pada ikan kerapu macan dan kerapu sunu masing-masing adalah 100% dengan intensitas  pada masing-masing ikan adalah 228 dan 45 ekor parasit per ekor ikan.Kata kunci: Derajat infestasi, hirudinea, kerapu  macan (Epenephelus fuscoguttatus), kerapu sunu (Plectropomus maculatus)

    Bio-Ecologi Kerang Lamis (Meretrix meretrix) di Perairan Marunda

    No full text
    Kerang lamis (Meretrix-meretrix) termasuk sumberdaya moluska (kelompok bivalva) yang bernilai ekonomi tinggi. Namun demikian kegiatan penangkapan dari sedian stok alami di perkirakan telah menyebabkan terjadinya penurunan populasi kerang lamis. Kondisi ini diperparah dengan perubahan kualitas lingkungan yang semakin memprihatinkan. Untuk itu diperlukan suatu kajian tentang upaya pengelolaan yang dapat menjamin kelangsungan sumberdaya M. meretrix melalui pendekatan ekobiologi. Pendekatan yang digunakan adalah analisis ekologi kuantitatif (keseragaman, keragaman, dominansi), analisis biostratigrafi dan analisis populasi dengan program FISAT II. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebaran lamis mengikuti pola sebaran BOD, salinitas, karbon organik dan tingkat kekeruhan. Secara umum kerang terbagi menjadi lima kelompok ukuran, dengan kepadatan tertinggi pada ukuran 32.08-33.23 mm. Sedangkan panjang takhingga adalah 48.90 mm (L¥) dengan laju pertumbuhan 1 (K).Kata kunci: lamis (Meretrix-meretrix), panjang takhingga, keragaman, keseragaman, dominansi, biostratigrafi, pertumbuhan

    EVALUASI PENEBARAN UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) DI WADUK DARMA, JAWA BARAT

    No full text
    Evaluasi keberhasilan penebaran udang galah (Macrobrachium rosenbergii) di Waduk Darma yang memiliki luas genangan 400 ha telah dilaksanakan berdasarkan penebaran dari April 2002 sampai Maret 2003. Udang galah yang ditangkap dengan jaring lempar mencapai 57 - 624 ind/bulan atau sama dengan 1.3 - 35.0 kg/bulan. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan penarikan contoh acak berlapis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan di Waduk Darma baik fisika maupun kimia mendukung pertumbuhan udang galah. Pada kondisi tersebut laju pertumbuhan udang galah cukup tinggi dengan koefisien pertumbuhan K antara 0.88 - 1.59 dan L∞ sama dengan 36.2 cm untuk jantan, K antara 0.87 - 1.55 dan L∞ sama dengan 25.9 cm untuk betina. Kondisi makanan yang tersedia cukup untuk pertumbuhan. Interaksi dengan komunitas ikan lainnya relatif rendah. Keberhasilan penebaran mencapai 10.5% dengan laju eksploitasi antara 0.06 sampai 0.80.Kata kunci: Macrobrachium rosenbergii, penebaran, pertumbuhan, penangkapan, waduk

    A Short Review on the Recent Problem of Red Tide in Jakarta Bay: Effect of Red Tide on Fish and Human

    No full text
    Red tide atau sering disebut blooming fitoplankton merupakan fenomena alam yang sering terjadi. Nampaknya frekuensi, intensitas dan distribusi blooming fitoplankton meningkat dalam 10 tahun belakangan ini. Red tide dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana tanaman sel satu berukuran kecil yang hidup di laut dan tumbuh dengan sangat cepat dan terakumulasi dalam suatu kumpulan yang mudah terlihat  di permukaan air laut. Kejadian red tide sangat terkait dengan eutrofikasi dan kondisi lingkungan yang mendukung, seperti kecukupan cahaya, kondisi suhu yang sesuai, dan masukan bahan organik dari daratan setelah hujan besar. Efek langsung red tide terhadap ikan sangat merusak insang, baik secara mekanis ataupun melalui pembentukan bahan kimia beracun, neurotoksin, hemolitik atau bahan penggumpal darah, yang dapat menyebabkan kerusakan fisiologi insang, organ utama (seperti hati), usus, sistem sirkuler atau pernapasan, ataupun mengganggu proses osmoregulasi. Sebaliknya, efek tidak langsung red tide adalah akibat penggunaan oksigen yang berlebihan untuk respirasi dan pembusukan kumpulan fitoplankton. Beberapa organisme penyebab red tide dapat membahayakan manusia apabila manusia makan hewan filter feeder (seperti ikan atau kerang) yang mengandung racun organisme red tide yang telah dimakan ikan atau kerang tersebut.Kata kunci: red tide, eutrofikasi, Teluk Jakarta

    PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK ACOUSTIC DESCRIPTOR ANALYZER (ADA-VERSI 2004) UNTUK IDENTIFIKASI KAWANAN IKAN PELAGIS

    No full text
    Pada survei hidroakustik kesalahan identifikasi kelompok spesies akan mempengaruhi akurasi perkiraan distribusi dan biomassa ikan. Tujuan pengembangan perangkat lunak ini adalah untuk mengidentifikasi atau mendeteksi kawanan ikan pelagis di suatu perairan dengan menggunakan deskriptor akustik. Pendekatan program ADA-2004 (Acoustic Descriptor Analyzer) adalah untuk membantu menganalisis berbagai tampilan kawanan ikan pelagis dengan menggunakan teknik pengolahan citra dan mengembangkan algoritma yang dapatmembedakan antar kelompok spesies. Sistem ini menggunakan Window XP atau versi lainnya sebagai dasar untuk mengaplikasi bahasa program Matlab version 6.3. Perangkat lunak ini telah diuji coba untuk pendeteksian kawanan ikan lemuru (Sardinella lemuru Bleeker, 1853) di perairan Selat Bali dan menunjukkan hasil yang memuaskan.Kata kunci: Perangkat lunak, identifikasi, kawanan ikan pelagis, deskriptor akustik

    QUALITATIVE AND QUANTITATIVE CHARACTERS OF THREE COMMON CARP (Cyprinus carpio L.) STRAINS IN INDONESIA

    No full text
    The second generation of gynogenetic diploid common carp of majalaya, sinyonya and mirror strains have been produced in 1992. Some of them were sex-reversed by oral administration of 17 α-methyltestoteronne. The females and sex-reversed males were matured on early 1994 and mated to produce progenies ofpure strains. This research aimed to measure certain quantitative characters since the early stage of developmentto the market size. Three different conditions of rearing (i.e. rice field, ponds and concrete tanks) were applied during the nursery phase, while the earthen pond and running water system with intensive feeding were used for the grow-out stage. The results showed that average fecundity of sinyonya carp was higherthan mirror and majalaya strains, but its performances of the early development (i.e. fertilization rate, hatching  rate and survival rate at 14 days old) was lowest. At the nursery phase, the survival and growth rates of majalaya carp was relatively better than the other two strains, but the mirror carp had highest feed efficiency and lowest protein retention. During culture period, the growth rates of these three common carp strains were relatively similar (1%), but sinyonya carp, among strains had the highest percentage of fillet (38.5%) with the  lowest total number of muscular bones (69), the highest level of protein content (77.5%) and the lowest level  of lipid content (16.6%) among the three strains. Keywords: Cyprinus carpio L, gynogenesis, growth rate, product quality

    KEBIASAAN MAKAN TIRAM MUTIARA Pintada maxima DI PERAIRAN TELUK SEKOTONG, LOMBOK

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan tiram mutiara Pintada maxima. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni 2003 sampai Februari 2004 di perairan Teluk Sekotong Propinsi Lombok. Pengambilan contoh fitoplankton di perairan dilakukan setiap 3 jam sekali selama 24 jam antara pukul 06.00 - 03.00 WIB. Pada setiap pemgamatan diambil sebanyak 8 ekor tiram mutiara untuk sekali pengamatan. Untukmemperoleh gambaran kebiasaan makan tiram mutiara dilakukan analisis indeks pilihan. Pintada maxima memakan semua fitoplankton yang ada di lingkungannya. Tiram mutiara tidak melakukan seleksi terhadap jenis makanannya yang terdapat di alam, tetapi menyeleksi makanannya berdasarkan ukuran makanannya. Tiram mutiara menyukai makanan yang memiliki ukuran lebih kecil. Persentase jenis-jenis fitoplanktonyang disukai tiram mutiara berturut-turut adalah kelas Bacillariophyceae, Dinophyceae, Ciliata, Chrisophyta, Cyanophyceae, Chlorophyceae dan moluska.Kata kunci: kebiasaan makan, Pintada maxima, Teluk Sekoton

    KARAKTERISTIK KIMIAWI DAN KESUBURAN PERAIRAN TELUK PELABUHAN RATU PADA MUSIM BARAT DAN TIMUR

    No full text
    Hasil penelitian pada periode musim barat (Desember, 1993) maupun timur (Juli, 1994) memperlihatkan kadar zat hara (NO3-N, NH4-N, PO4-P) yang relatif rendah bagi kebutuhan optimum proses fotosintesis fitoplankton. Unsur hara SiO2 terlarut pada musim barat, baik di perairan permukaan (37.56 - 151.68 mg SiO2/l) maupun pada kedalaman 25 m (3.97 - 39.19 mg SiO2/l) jauh berada di atas rata-rata normal 2.0 mg SiO2/l. Lain halnya pada musim timur, kadar SiO2 tercatat rendah yaitu 0.135 - 0.995 mg SiO2/l (perairan permukaan) dan 0.132 - 0.218 mg SiO2/l (kedalaman 25 m). Keberadaan unsur hara di perairan teluk selain dipengaruhi aktivitas fotosintesis juga dipengaruhi masukan dari sistem sungai yang bermuara di teluk (elemen alogenik) antara lain berupa pengaruh tingginya padatan tersuspensi (79 - 660 mg/l) yang terbawa sungai terutama pada musim barat. Penyebaran vertikal (hingga kedalaman 25 m) unsur hara pada kedua musim memperlihatkan kecenderungan menurun, terutama silikat, fosfat dan nitrat pada musim barat. Kadar unsurhara yang relatif lebih rendah pada kedalaman 25 m diikuti oleh kelimpahan organisme plankton yang lebih rendah dibandingkan dengan yang terdapat di perairan permukaan. Pada musim barat, produktivitas atau kesuburan perairan teluk, dinilai dari kelimpahan organisme plankton dan bentos, tergolong rendah sampai sedang. Berbeda dengan musim timur, produktivitas perairannya relatif tinggi yang dicirikan oleh kelimpahan plankton yang tinggi.Kata kunci: Musim barat, musim timur, unsur hara, debit sungai, elemen alogenik, padatan tersuspensi

    123

    full texts

    183

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇