Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
183 research outputs found
Sort by
KAJIAN KONDISI TERUMBU KARANG DAN KAITANNYA DENGAN PROSES EUTROFIKASI DI KEPULAUAN SERIBU
Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi kondisi terumbu karang dan keterkaitannya dengan proses eutrofikasi dimana P. Belanda dan P. Untung Jawa dipilih sebagai studi kasus pada bulan April sampai Juni 2009. Metode foto transek kuadrat digunakan untuk pengambilan data kondisi terumbu karang. Pengukuran parameter kualitas perairan seperti suhu, kecepatan arus, dan kecerahan dilakukan secara in-situ, sedangkan parameter lainnya seperti salinitas, pH, kekeruhan, ortofosfat (PO4), nitrit (NO2), nitrat (NO3), dan amonia (NH3) dianalisis di laboratorium (ex-situ). Principal Component Analysis (PCA) digunakan untuk melihat parameter-parameter yang paling berpengaruh pada setiap stasiun pengamatan. Analisis Regresi Linear digunakan untuk melihat hubungan antara tutupan makroalga dengan parameter kualitas air serta hubungan antara tutupan makroalga dengan tutupan karang hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tutupan karang hidup di P. Belanda berada dalam kategori ”sedang” dengan persentase tutupan sebesar 27,90%, sedangkan di P. Untung Jawa berada dalam kategori ”rusak” dengan persentase tutupan sebesar 0,21%. Ada perbedaan tingkat kesuburan perairan antara lokasi P. Belanda dan P. Untung Jawa, dimana P. Untung Jawa memiliki kondisi perairan dengan kategori sangat subur (eutrofikasi) berdasarkan pada tingginya kandungan fosfat dan persentase tutupan makroalga yang tinggi. Faktor nutrien mempunyai pengaruh cukup besar terhadap persentase tutupan makroalga yang cukup berpengaruh terhadap persentase tutupan karang hidup.Kata kunci: eutrofikasi, kualitas perairan, terumbu karang, strategi pengelolaa
KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOSISTEM TERUMBU KARANG SEBAGAI KAWASAN WISATA SELAM DAN SNORKELING DI TUAPEJAT KABUPATEN KEPULAUAN MENTAWAI
Daerah Tuapejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat memiliki berbagai sumberdaya pesisir dan laut yang potensial, seperti ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu karang yang ada mempunyai daya tarik yang dapat dikembangkan sebagai tujuan wisata bahari, berupa aktivitas menyelam dan snorkeling. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi dan potensi ekosistem terumbu karang, mengkaji kesesuaiannya bagi aktivitas menyelam dan snorkeling, dan menghitung daya dukung dalam pengembangan tersebut. Analisis matriks kesesuaian untuk kegiatan menyelam dan snorkeling digunakan dalam kajian ini. Daya dukung dianalisis untuk menentukan jumlah turis yang dapat memanfaatkan area pada luasan tertentu. Scenic Beauty Estimate (SBE) diterapkan untuk menentukan kualitas keindahan terumbu karang. Penentuan strategi pengembangan dilakukan dengan analisis SWOT. Hasil analisis kesesuaian memperlihatkan adanya 13 area potensial untuk pengembangan daerah penyelaman dan snorkeling. Hasil analisis SBE membuktikan tingginya minat wisatawan terhadap kondisi ekosistem terumbu karang.Kata kunci: analisis kesesuaian, daya dukung, Kepulauan Mentawai, selam, snorkeling, terumbu karang, Tuapejat, wisata bahar
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI DAN PENUTUPAN LAHAN ANTARA WAY PENET DAN WAY SEKAMPUNG, KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
Analisis terhadap perubahan garis pantai dan penutupan lahan di pesisir Lampung Timur, antara Way Penet dan Way Sekampung dilakukan berdasarkan citra satelit LANDSAT-TM antara tahun 1991, 1999,2001 dan 2003. Observasi dan pengukuran kondisi pantai dan gelombang di lapangan dilakukan untuk mempelajari dinamika pantai. Dari rangkaian data citra satelit tersebut ditemukan bahwa garis pantai mengalami proses erosi dan sedimentasi yang cukup nyata pada bagian-bagian pantai tertentu. Erosi yang terjadi di bagian selatan di Desa Purworedjo, misalnya, bervariasi antara 90 - 600 m dalam kurun waktu 12 tahun (1991 - 2003). Sementara itu, ke arah utara dari desa ini proses sedimentasi bervariasi antara 90 - 550 m. Ke arah utaranya lagi, garis pantai mengalami erosi, kemudian sedimentasi. Bentuk morfologi garis pantai, variasi arah angin dan karakteristik gelombang ditelaah sebagai faktor yang berperan dalam perubahan garis pantai tersebut. Intensitas perubahan dan uraian dinamika pantai yang terjadi dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan tindakan mitigasi ekologi yang efektif untuk melindungi daerah tersebut.Kata kunci: dinamika garis pantai, citra satelit, Lampung Timu
DISTRIBUSI SUMBERDAYA IKAN DEMERSAL DI PERAIRAN LAUT CINA SELATAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan antara distribusi sumberdaya ikan demersal dengan kedalaman perairan dan faktor-faktor lingkungan perairan Laut Cina Selatan. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 10 September - 5 Oktober 2001 dengan kedalaman 13-72 meter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa distribusi sumberdaya ikan demersal tergantung dari salinitas, kedalaman dan suhu perairan. Pengaruh faktor salinitas lebih besar dari faktor kedalaman dan suhu perairan. Distribusi Alepes kalla, Selaroides leptolepis, Scutor ruconeus, Leiognathus leusiscus, Pomadasys maculatus, Pomadasys argyreus, Pampus argenteus, Upeneus tragula dan Nemipterus mesoprion pada perairan dangkal dengan salinitas yang rendah serta suhu yang tinggi. Sebaliknya Nemipterus marginatus, Nemipterus peronii, Nemipterus tambuloides, Priacanthus macracanthus dan Upeneus bensasi pada perairan yang lebih dalam, salinitas yang tinggi dan pada suhu yang rendah. Distribusi Atropus atropus, Gazza minuta, Leiognatus equulus dan Scomberomorus commerson pada perairan dengan kecerahan yang tinggi. Scolopsis taeniopterus, Saurida undosquamis dan Priacanthus tayenus memiliki toleransi yang luas terhadap faktor lingkungan.Kata kunci: distribusi, ikan demersal, perairan Laut Cina Selatan
(Nisbah Kelamin pada Populasi Nihonotrypaea japonica (Ortmann, 1891) (Decapoda: Thalassinidea: Callianassidae), yang Berasal dari Mulut Sungai Shirakawa, Bagian Tengah Perairan Estuari Ariake, Kyushu Barat, Jepang)
Penelitian ini dilakukan di sebuah pantai intertidal berpasir yang terbentuk di muara Sungai Shirakawa, pada wilayah tengah perairan estuary Ariake Sound, Kyushu Barat, Jepang. Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas nisbah kelamin populasi Nihonotrypaea japonica dari sudut pandang ilmu biologi. Pengambilan contoh dilakukan selama 21 kali saat pasang purnama selama periode antara tanggal 20 April 1999 sampai 18 April 2000. Dengan mengacu pada jarak waktu sampling, penelitian ini terbagi atas 2 bagian: (1) antara 20 April – 22 November 1999, pengambilan contoh dilakukan setiap 2 minggu sekali, dan (2) antara 22 Desember 1999 – 18 April 2000, pengambilan contoh dilakukan satu bulan sekali. Pengumpulan spesimen dilakukan dengan bantuan alat ‘yabby pumps’ pada saat air surut. Contoh yang terkumpul selama penelitian terdiri atas 5 628 betina, 4 385 jantan, dan 346 individu tak teridentifikasi jenis kelaminnya, sehingga nisbah kelamin secara keseluruhan bias ke betina. Namun demikian, dengan membagi populasi ke dalam beberapa kelas ukuran, ada pola nisbah kelamin yang terlihat, dan pola ini nampaknya berkaitan dengan aspek biologi reproduksi udang tersebut.Kata kunci: nisbah kelamin, udang lumpur, thalassinidea, callianassidae, Nihonotrypaea japonica, AriakeSound
Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Gelondongan Ikan Kancra (Labeobarbus douronensis) pada Padat Tebar yang Berbeda
Penelitian pertumbuhan dan kelangsungan hidup gelondongan ikan kancra bodas (Labeobarbus douronensis) pada padat tebar yang berbeda bertujuan untuk mengetahui tingkat kepadatan yang optimal. Penelitian dilakukan dengan menggunakan wadah transparan volume 150 l. Hewan uji berasal dari benih alam dengan ukuran rata rata 5.2 cm (TL) dan 1.57 g/ind (BW). Sebagai perlakuan, empat tingkat kepadatan dengan 3 kali ulangan masing masing 10 (A), 20 (B), 30 (C) dan 40 (D) ind/tangki. Masing-masing perlakuan diberikan pakan alami (Moina sp, Daphnia sp, larva nyamuk, cyclop dan cacing) dan pakan buatan (pelet) setiap hari secara adlibitum. Untuk mengetahui pola pertumbuhan (panjang dan berat) dan kelangsungan hidup, dilakukan pengamatan setiap 2 minggu sekali. Pada akhir penelitian didapatkan pola pertumbuhan sebesar 11.47 ± 0.68 cm (TL) dan 15.17 g/ind (BW) (A), 10.33 ± 0.58 cm (TL) dan 11.68 g/ind (BW) (B), 9.54 ± 0.87 cm (TL) dan 7.86 g/ind (BW) (C), 8.67 ± 1.05 cm (TL) dan 6.17 g/ind (BW) (D). Sedangkan kelangsungan hidup masing-masing sebesar 80% (A), 70% (B), 33.3 % (C) dan 65.5 % (D). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tingkat kepadatan yang berbeda berpengaruh terhadap pola pertumbuhan dan kelangsungan hidup (
Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Pertumbuhan, Kelangsungan Hidup dan Kualitas Larva Udang Windu (Penaeus monodon Fab)
Udang windu merupakan hewan air yang bersifat nokturnal, sehingga pertumbuhannya di ruangan yang gelap akan lebih baik dibangidngkan di ruangan yang terang benderang. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan, derajat kelangsungan hidupnya serta pengaruhnya terhadap kualitas larva
Mineral, Fatty Acid and Dietary Fiber Compositions in Several Indonesian Seaweeds
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi dan profil kandungan nutrient dan non-nutrien (mineral, asam lemak dan serat) pada sembilan jenis rumput laut dan beberapa kelas (alga hijau, coklat dan merah). Kandungan mineral didominasi oleh kalsium, potassium, dan sodium. Asam palmitic adalah asam lemak utama yang ditemukan pada semua contoh rumput laut, diikuti oleh asam stearic, asamoleic, dan asam linolenic. Konsentrasi asam eicosapentaenoic tertinggi ditemukan pada jenis alga merah Kappaphycus alvarezii (8,09%), sedangkan alga merah Sargassum polycystum mengandung asam arachidonic tertinggi (14,43%). Kisaran kandungan serat total, serat terlarut dan serat tidak terlarut pada contoh alga yang dianalisa berturut-turut adalah 14.7 - 69.3, 14.3 - 64.1 dan 0.4 - 10.7 (g/100 g berat kering). Alga merah jenis K. alvarezii memiliki kandungan serat total dan serat terlarut tertinggi, sedangkan alga yang mengandung serat tidak terlarut tertinggi adalah jenis alga hijau Ulva reticulate.Kata kunci: serat, asam lemak, Indonesia, mineral, rumput laut
Analisis Beberapa Karakteristik Lingkungan Perairan yang Mempengaruhi Akumulasi Logam Berat Timbal dalam Tubuh Kerang Darah di Perairan Pesisir Timur Sumatera Utara
Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis beberapa karakteristik lingkungan perairan yang mempengaruhi akumulasi logam berat timbal dalam tubuh kerang darah (Anadara granosa) di perairan pesisir timur Sumatera Utara, melalui sidik regresi berganda (multiple regression analysis), 2) mereduksi data melalui sidik komponen utama (principal component analysis) untuk mengurangi biaya monitoring pencemaran logam berat timbal di masa mendatang, dan 3) menganalisis lokasi perairan yang memiliki karakteristik yang sama dalam akumulasi logam berat timbal melalui sidik gerombol (cluster analysis). Berdasarkan sidik regresi, kadar logam berat timbal dalam air, kadar logam berat timbal dalam sedimen dasar perairan dan kadar sulfur dalam sedimen berpengaruh sangat nyata (
KONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilis
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi telur menurut tingkat perkembangannya, rataan jumlah telur per polip dan proporsi polip yang reproduktif pada berbagai bagian cabang karang A. nobilis. Sebanyak 10 koloni A. nobilis yang berdiameter > 15 cm diambil contohnya secara acak di bagian barat laut perairan terumbu karang Pulau Barrang Lompo, Kepulauan Spermonde, Makassar pada tanggal 27 Januari 2002 (satu hari sebelum bulan purnama). Polip dari tiga bagian cabang (apikal, tengah dan basal) diperiksa jumlah telur yang dikandungnya secara histologis. Terdapat interaksi antara pertumbuhan dan reproduksi terhadap alokasi sumber daya pada berbagai bagian koloni karang. Alokasi sumber daya terhadap fungsi biologi tertentu akan mengorbankan fungsi biologi lainnya. Pertumbuhan karang yang terlokalisasi pada bagian tertentu suatu koloni karang berhubungan dengan rendahnya aktivitas reproduksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p < 0.001) distribusi telur menurut tingkat perkembangannya pada berbagai bagian cabang karang. Bagian tengah cabang memiliki proporsi polip karang yang berkaitan dengan lokasi energi untuk pertumbuhan yang lebih reproduktif (100%) dengan kandungan rataan jumlah telur yang lebih tinggi (5.22 butir/potongan polip) dibanding bagian apikal dan basal cabang.Kata kunci: Distribusi, telur, cabang karang, Acropora nobili