Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
    183 research outputs found

    PERKEMBANGAN A W AL DAN PEMELIHARAAN LARVAKERAPU BEBEK, Cromileptes altivelis

    No full text
    Suatu penelitian tentang perkembangan awal dan perneliharaan larva ikan kerapu bebek telah dilaksanakan dilaboratorium. Larva ikan kerapu bebek yang baru menetas (0hari) sampai 65 hari telah digunakan sebagai hewan uji untuk mengamati perkembangan awal larva, perkembangan duri panjang pada sirip punggung dan sirip perut. Perkembangan awal larva, perkembangan duri panjang pada sirip punggung dan perut dibandingkan dengan jenis kerapu lainnya.Kata-kata kunci: larva, pemeliharaan, duri panjang sirip punggung dan perut, kerapu bebe

    KELIMPAHAN DAN BIOMASSA POPULASI SIMPING (Placuna placenta, Linn, 1768) DI TELUK KRONJO, KABUPATEN TANGERANG

    Get PDF
    Kegiatan penangkapan telah menyebabkan terjadinya penurunan stok dan biomasa simping. Penurunan itu dapat terjadi pada stadia spat, muda, dan dewasa. Perubahan ukuran tangkap yang semakin kecil juga merupakan pertanda bahwa telah terjadi upaya penangkapan yang berlebih. Berdasarkan analisis kepadatan, terdapat adanya perbedaan jumlah dan biomassa antara waktu pengamatan. Peningkatan biomassa yang terjadi, yatu 0,46 gram per 2 minggu dan laju penurunan kepadatan sebesar 0,657 ind/2 minggu. Pada bulan April kepadatan rendah, biomassa rendah, dan rasio biomassa terhadap kelimpahan juga rendah. Artinya tekanan penangkapan yang terjadi maupun pengaruh lingkungan besar saat bulan April.Kata kunci: biomassa, kelimpahan, simping, Kronj

    ANALISIS PENGELOLAAN TERUMBU KARANG UNTUK PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI DI PULAU PONCAN KOTA SIBOLGA, SUMATERA UTARA

    Get PDF
    Kota Sibolga merupakan daerah kunjungan wisata bagi masyarakat Sumatera Utara karena memiliki potensi pulau-pulau kecil dan kelautan. Potensi sumberdaya hayati kelautan memiliki nilai ekologi dan ekonomi antara lain sumberdaya terumbu karang dan perikanan serta wisata bahari. Pulau-pulau yang berpotensi untuk pengembangan ekowisata bahari adalah Pulau Poncan Besar dan Pulau Poncan Kecil karena memiliki potensi terumbu karang untuk wisata selam dan snorkeling. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi kondisi terumbu karang di Pulau Poncan, tingkat, dan penyebab kerusakan terumbu karang; (2) menentukan jenis dan daya dukung wisata bahari yang dapat dikembangkan di Pulau Poncan; (3) mengetahui estimasi nilai ekonomi dari terumbu karang di Pulau Poncan; (4) membuat strategi pengembangan ekowisata bahari di Pulau Poncan. Metode pengambilan data untuk terumbu karang mengggunakan metode Line Intercept Transect (LIT), ikan karang (Underwater Visual Census), sosial dan ekonomi (Purposive/Incidental Sampling). Analisis yang digunakan antara lain persentase life form, kelimpahan individu ikan, matriks kesesuaian area untuk wisata snorkeling dan selam, Indeks Kesesuaian Wisata, daya dukung kawasan, tingkat kerusakan terumbu karang, total nilai ekonomi, serta analisis pengelolaan menggunakan SWOT. Kondisi terumbu karang di kedua pulau masuk dalam kategori sedang dengan rata-rata persentase 30.98%, dengan variasi tutupan antara 27.27-34.69%. Total kelimpahan ikan di Pulau Poncan sebanyak 47 019 ind/ha.Kata kunci: daya dukung, ekowisata, selam, snorkeling, strategi manajemen, terumbu karang

    PENGARUH PERBEDAAN UMPAN TERHADAP POLA TINGKAH LAKU MAKAN IKAN KERAPU MACAN (Ephinephelus fuscoguttatus)

    Get PDF
    Study on fish behavior is necessary to establish knowledge on the use of bait effectiveness. The objective of the research was to analyze response and feeding behavior of grouper (Ephinephelus fuscoguttatus) on different chemical composition of bait. The research was conducted by laboratory experimental method. The fish used was 200 mm in total length. The baits used were shrimp (Metapenaeus elegans) and trash fish (Sardinella gibbosa). Data collection consist of response time and feeding behavior pattern of Ephinephelus fuscoguttatus on bait with soaking time of 1, 7, and 12 hours. Chemical composition of each bait consisting of proximate, amino acid, fatty acid, and ammonia were analyzed based on soaking time. Data was analyzed using t-student test. The results showed that response time of Ephinephelus fuscoguttatus to shrimp bait and fish was insignificantly difference (p > 0.05). The feeding response of Ephinephelus fuscoguttatus with soaking time difference of shrimp bait and trash fish during 1 and 7 hours was significantly difference (p < 0.01). The bait soaking time until 12 hours was insignificantly difference (p > 0.05). Longer bait soaking time (until 12 hours) would decrease bait chemical composition that influenced on decrease feeding response of Ephinephelus fuscoguttatus.Key words: baits, feeding habit, Ephinephelus fuscoguttatus

    RANCANGAN PENGAMBILAN CONTOH UPAYA TANGKAP DAN HASIL TANGKAP UNTUK PENGKAJIAN STOK IKAN

    Get PDF
    Informasi yang diperoleh dari data upaya tangkap dan hasil tangkap dalam pengelolaan sumberdaya perikanan tropis merupakan informasi yang sangat penting mengingat data upaya dan hasil tangkap merupakan data yang sangat kaya informasi yang dapat digunakan dalam menentukan perubahan beberapa parameter populasi. Kecenderungan menurunnya informasi hasil tangkap per upaya tangkap dapat menjadi indikator terjadinya kegiatan penangkapan yang berlebihan yang dapat mengancam kelestarian populasi ikan, disamping data tersebut juga dapat digunakan untuk memperkirakan seberapa banyak ikan yang sebaiknya ditangkap. Kajian ini membahas prosedur pengambilan contoh upaya tangkap dan hasil tangkap sebagai alat ampuh dalam pengkajian stok ikan. Kata kunci: upaya tangkap, hasil tangkap, hasil tangkap per upaya tangkap, pengkajian stok ikan

    KUALITAS PENETASAN KISTA ARTEMIA YANG DIBUDIDAYA PADA BERBAGAI TINGKAT PERUBAHAN SALINITAS

    Get PDF
    Kualitas kista artemia tergantung tingginya nilai derajat dan efisiensi penetasan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kapan (waktu) perubahan salinitas dan berapa besarnya perubahan salinitas tersebut yang dicirikan nilai derajat dan efisiensi penetasan sebagai indikator kualitas artemia. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama terdiri dari dua, yaitu A (menaikkan salinitas pada hari ke 9) dan B (menaikkan salinitas pada hari ke 15). Faktor kedua terdiri dari empat, yaitu peningkatan salinitas I (100; 100; 100;140 g/kg), II (100; 100; 140; 140 g/kg), III (100; 140; 140; 140 g/kg) dan IV (100; 110; 125; 140 g/kg), dan dengan 3 kelompok warna yaitu biru, merah dan hijau. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam dan bila memberikan pengaruh yang berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B II menghasilkan derajat penetasan paling tinggi, sedangkan efisiensi penetasan paling tinggi terdapat pada perlakuan AIII. Kata kunci: artemia, kista, salinitas

    KEBIASAAAN MAKANAN IKAN LIDAH (Cynoglossus lingua) DI PERAIRAN UJUNG PANGKAH, GRESIK, JAWA TIMUR

    Get PDF
    Salah satu sumberdaya perikanan yang terdapat di Ujung Pangkah adalah ikan lidah (Cynoglossus lingua). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makanan ikan lidah yang tertangkap di daerah tersebut. Penelitian dilaksanakan di daerah perairan Ujung Pangkah, Gresik, Jawa Timur dengan pengambilan sampel ikan (94 ekor jantan dan 108 ekor betina) sejak Agustus 2005 sampai Januari 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan lidah memiliki makanan utama berupa udang dan makanan pelengkap berupa kepiting dan kerang baik pada ikan jantan maupun ikan betina. Berdasarkan nilai indeks kepenuhan lambung, ikan ini memiliki nilai yang cukup tinggi sekitar bulan September untuk jantan dan Agustus untuk ikan betina. Jenis dan persentase makanan yang dimakan ikan lidah bervariasi tergantung pada ukuran panjang baik pada ikan jantan maupun betina. Berdasarkan indeks similaritas, terdapat kesamaan jenis makanan baik ikan jantan maupun betina.Kata kunci: Gresik, ikan lidah (Cynoglossus lingua), kebiasaan makanan, Ujung Pangkah

    STRATEGI PEMANFAATAN NILAI EKONOMI TERUMBU KARANG KELURAHAN PULAU ABANG, KECAMATAN GALANG, KOTA BATAM

    Get PDF
    Penelitian tentang strategi pemanfaatan nilai ekonomi terumbu karang di Kelurahan Pulau Abang, Kecamatan Galang, Kota Batam dilaksanakan dari bulan April hingga bulan Juni 2009. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengetahui status penutupan terumbu karang di Kelurahan Pulau Abang Kota Batam; 2) meng-evaluasi jenis–jenis alat tangkap yang dioperasikan di kawasan terumbu karang Kelurahan Pulau Abang Kota Batam; 3) mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan alat tangkap di terumbu karang; 4) me-nyusun arahan teknik penggunaan alat penangkap ikan yang ramah lingkungan untuk dikembangkan khususnya di kawasan terumbu karang Pulau Abang Kota Batam. Penelitian ini menggunakan metode LIT (line intercept transect), UVC (underwater visual census). Data aktivitas perikanan melalui wawancara mendalam, pengisian kuisioner, dan observasi langsung di lapangan. Pembuatan rencana strategi dan rencana program beserta prioritasnya dalam penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan di terumbu karang dilakukan dengan metode A-WOT merupakan gabungan AHP dan SWOT. Analisis menyimpulkan kondisi terumbu karang di lokasi penelitian di perairan Kelurahan Pulau Abang dalam keadaan bagus. Jenis yang banyak ditemukan adalah non-Acropora. Pengoperasian alat tangkap kelong pantai di terumbu karang mempunyai dampak paling besar berupa kerusakan terumbu karang maupun ikan.Kata kunci: alat tangkap ikan, dampak, Pulau Abang, rencana strategi, rencana program, terumbu karan

    KONDISI KESEHATAN TERUMBU KARANG BERDASARKAN KELIMPAHAN IKAN HERBIVORA DI KECAMATAN PULAU TIGA KABUPATEN NATUNA

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan di perairan Kecamatan Pulau Tiga, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepu-lauan Riau dari bulan April hingga Agustus tahun 2009. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesehatan terumbu karang dengan kondisi kelimpahan dan komposisi kelompok ikan-ikan herbivora yang secara tidak langsung dapat dijadikan sebagai bioindikator kesehatan ekosistem terumbu karang bila dilihat dari tingkat pemulihannya di Kecamatan Pulau Tiga. Metode yang digunakan adalah transek kuadrat yang dimodifikasi dengan transek garis menyinggung (LIT) untuk menentukan kondisi terumbu karang, pertumbuhan karang muda dan tutupan alga (DCA), sedangkan untuk penentuan struktur komunitas ikan herbivora menggunakan modifikasi transek garis menyinggung (LIT), transek kuadrat dan sensus visual ikan bawah air (UVC). Analisis yang digunakan adalah analisis ekologi standar, uji korelasi, regresi linear, dan analisis multivariate untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan ikan herbivora, alga (DCA), dan terumbu karang. Hasilnya menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang di daerah tersebut masih berada dalam kondisi baik dengan rata-rata tutupan karang hidup sebesar 63,17%. Hasil analisis multivariate menunjukkan bahwa semakin tinggi kelimpahan ikan herbivora, maka tutupan karang hidup dan pertumbuhan karang muda meningkat dan menurunnya tutupan alga di ekosistem terumbu karang. Hasil uji korelasi, analisis multivariate, dan regresi linear (uji t-student) menunjukkan bahwa dari 24 spesies ikan herbivora yang terdata, terdapat tiga jenis ikan herbivora yang berperan dalam aktivitas herbivori dalam menjaga keseimbangan ekosistem terumbu karang di Kecamatan Pulau Tiga, antara lain Chlorurus microrhinos, Scarus rivulatus, dan Siganus doliatus.Kata kunci: DCA (karang mati yang ditutupi alga), ikan herbivora, herbivori, kesehatan terumbu karang, pertumbuhan karang muda, Pulau Tig

    KAJIAN KETERKAITAN EKOLOGI Acanthaster planci DAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KABUPATEN BINTAN

    Get PDF
    Kabupaten Bintan memiliki hamparan ekosistem terumbu karang, berbagai aktivitas antropogenik masyarakat di wilayah ini seperti eksploitasi sumberdaya perikanan, pariwisata, penambangan pasir diduga sebagai penyebab kerusakan ekosistem terumbu karang. Kerusakan ini dijelaskan dari hasil penelitian CRITC-LIPI Coremap II 2006, bahwa tutupan karang hidup rata-rata 25,27 %, tidak hanya itu populasi megabenthos sebagai indikator lingkungan yang tercatat menunjukkan kekawatiran. Perlu penelitian yang berkaitan dengan faktor bioekologi terhadap Kualitas Tutupan Karang Hidup. Beberapa metode telah digunakan untuk mendeskripsikan kondisi terumbu karang tersebut. Hasil penelitian diperoleh di kawasan I dengan 11 stasiun pengamatan: luasan tutupan karang hidup berkisar 34-99 %, tidak ditemukan adanya Acanthaster planci. Kawasan II dengan 4 stasiun pengamatan, tutupan karang hidupnya berkisar 65-87%, ditemukan A. planci di 3 stasiun. A. planci lebih banyak ditemukan di substrat Acropora branching (ACB) dengan jumlah 14 individu, 6 individu pada substrat coral massive dan coral foliose, 4 individu pada substrat coral submassive, dan 3 individu pada dead coral (DC). Kelimpahan A. planci lebih terkait pada jenis substrat dan bentuk karang bila dibandingkan dengan luas penutupan karang hidup. Kerusakan terumbu karang di kawasan I lebih disebabkan oleh kondisi perairan seperti sedimentasi dan berbagai aktivitas langsung dari masyarakat. Sedangkan di kawasan II kerusakan dipengaruh oleh destructive fishing,disamping kelimpahan A. planci diduga telah mempengaruhi tutupan karang hidup dengan kelimpahan 25 ekor/0,5 ha setara (50 ind/ha). Ini melebihi daya dukung terumbu karang sebanyak 30 ind/ha. Monitoring dan DPL diperlukan untuk mengontrol kelimpahan A. planci.Kata kunci: Acanthaster planci, komunitas terumbu, Pulau Bintan, terumbu karan

    123

    full texts

    183

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇