Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
183 research outputs found
Sort by
BIOCHEMICAL COMPOSITION AND MODES OF SUBSTRATE UPTAKE TO ALKANE-GROWN MARINE BACTERIUM Pseudomonas nautica STRAIN 617
Komposisi protein, karbohidrat dan lemak dari kultur (sel dan supernatan) bakteri laut Pseudomonas nautica strain 617dipengaruhi substrat pertumbuhan (acetate atau eicosane). Bentuk transport substrat ke permukaan sel: adherence, emulsifikasi dan solubilisasi dipengaruhi oleh komposisi biokimiawi yang diproduksi bakteri. Peningkatan konsentrasi senyawa ekstraseluler nampak selama pertumbuhan bakteri pada substrat eicosane. Aktifitas solubilisasi, emulsifikasi dan adherence berubah pada saat terjadi perubahan komposisibiokimiawi ekstraseluler. Diperoleh prosentase biodegradasi eicosane sebesar 59% setelah kultur berumur3.5 hari.Kata kunci: komposisi biokimiawi, transport substrat, biodegradasi, bakteri laut, n-alkana
KEBIASAAN MAKAN, TINGKAT KEMATANGAN GONAD DAN FEKUNDITAS IKAN HARUAN (Channa striata BLOCH) DI SUAKA PERIKANAN SUNGAI SAMBUJUR DAS BARITO KALIMANTAN SELATAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebiasaan makan, tingkat kematangan gonad dan fekunditasikan haruan (Channa striata Bloch) di suaka perikanan Sungai Sambujur, DAS Barito Kalimantan Selatan yang dilaksanakan dari bulan Juni sampai dengan Desember tahun 2004. Penelitian dilakukan denganmenggunakan metode survei lapangan dan pengambilan contoh dilakukan secara purposive di suaka perikanan Sungai Sambujur. Hasil penelitian menujukkan bahwa ikan haruan yg didapatkan di suaka Sungai Sambujur bersifat karnivora dengan makanan utamanya ikan (Indeks Preponderen = 91.52 dan 88.74), Berdasarkan TKG, ikan haruan dapat memijah sepanjang tahun baik saat musim kemarau maupun musim penghujan.Ikan haruan betina mulai matang gonad pada ukuran panjang 14 cm dan bobot 350 gram. Ikan haruan dengan kisaran bobot tubuh 90-460 gram, kisaran bobot gonad 2.26-16.31 gram mempunyai kisaran fekunditas 621-15 430 butir telur.Kata kunci: Kebiasaan makan, tingkat kematangan gonad, fekunditas, ikan haruan, suaka perikanan
KARAKTER DAN PERGERAKAN MASSA AIR DI SELAT LOMBOK BULAN JANUARI 2004 DAN JUNI 2005
Data CTD pada Januari 2004 dan Juni 2005 dan data ADCP pada Juni 2005 hasil ekspedisi oseanografi program INSTANT (International Nusantara Stratification and Transport) di Selat Lombok dianalisis untuk mempelajari karakter dan pergerakan massa air. Karakter massa air pada lapisan permukaan dan massa air Northern Subtropical Lower Water (NSLW) pada lapisan termoklin memperlihatkan perbedaan yang jelas antara kedua pengukuran yang diperkirakan berkaitan dengan perubahan karakter dan pergerakan massa air di Laut Jawa dan Laut Flores. Akan tetapi karakter massa air North Pacific Intermediate Water (NPIW) dan massa air lapisan dalam tidak jauh berbeda. Arus geostropik yang ditentukan dari perbedaan kedalaman dinamik dari dua stasiun yang berdekatan menghasilkan variasi kecepatan yang terlalu besar dan kecepatan yang terlalu tinggi bila dibandingkan dengan kecepatan arus yang diukur secara langsung dengan ADCP. Kelihatannya jarak antar stasiun yang terlalu dekat (kurang dari 9 km) menyebabkan kecepatan arus yang tidak akurat.Kata kunci: karakter massa air, arus geostropik
PATTERNS OF MORPHOMETRIC VARIABILITY IN THREE STOCKS OF FARMED TIGER SHRIMP, Penaeus monodon, IN INDONESIA AND ITS APPLICATION FOR SELECTIVE BREEDING
Program perbaikan genetik secara konvensional mengandalkan dan mengeksploitasi pola-pola dan besarnya keragaman genetik pada karakter fenotipik sehingga pemahaman tentang kedua aspek tersebut sangat penting. Penelitian ini ditujukan untuk mengeksplorasi pola dan besarnya keragaman pada beberapa karakter fenotipik udang windu dan mengetahui karakter fenotipik terbaik untuk seleksi peningkatan bobot tanpa kepala. Tiga stok udang windu hasil budidaya di tambak yang masing-masig merupakan keturunan induk udang windu dari perairan Aceh, Cilacap dan Sumbawa dikoleksi dan diukur keragaman pada 22 karakter morfometriknya. Pola-pola keragaman antar karakter fenotipik dianalisis secara deskriptif sedangkan pola keragaman antar stok dianalisis menggunakan uji F. Eksplorasi untuk mendapatkan karakter fenotipik terbaik penduga bobot dilakukan dengan uji koefisien korelasi dan regresi berganda. Keragaman antar karakter fenotipik sangat ditentukan jenis karakter fenotipik yang diukur. Keragaman pada karakter yang diukur dengan satuan berat dua kali lebih besar dari pada keragaman karakter yang diukur dengan satuan panjang. Dengan beberapa perkecualian, urutan tingkat keragaman karakter fenotipik antar stok dari rendah ke tinggi adalah Aceh, Cilacap dan Sumbawa. Pada pembandingan berpasangan, banyaknya karakter fenotipik yang berbeda nyata terbanyak pada pembandingan antara Aceh dengan Cilacap dan Aceh dengan Sumbawa sedangkan yang paling sedikit terdapat pada pembandingan antara Cilacap dengan Sumbawa. Karakter morfometrik yang paling baik dalam menjelaskan keragaman bobot tanpa kepala adalah panjang parsial, lingkar abdomen anterior, lingkar abdomen posterior, dan endopod. Implikasi dari hasil-hasil penelitian ini dalam kaitan dengan program perbaikan genetik didiskusikan.Kata kunci: karakter morfometrik, program perbaikan genetik, udang windu, Penaeus monodon
Pemanfaatan Citra Satelit Landsat -MSS Untuk Melihat Perubahann Luasan Daratan dan Magrove Akibat Sedimentasi di Laguna Segara Anakan Cilacap
Penelitian ini bertujuan untuk melihat perubahan luasan daratan dan mangrove di perairan laguna Segara Anakan Cilacap dengan menggunakan citra sate lit Landsat-MSS. Proses sedimentasi yang intensif di perairan ini menimbulkan adanya perubahan daratan. Sumbangan sedimen yang terbesar berasal dari sungai Citanduy. Pada tang gal 13-16 Februari 1985, sedimen yang masuk ke Segara Anakan sebesar 82,52 ton atau 1,68 tonfJam dengan laju pengendapan sebesar 0,731 ton/m2 atau 9,8kg/m2fJam. Sedangkan pada bulan Juni 1989, sedimen yang masuk ke Segara Anakan sebesar 2134,66 ton atau 2,98 tonfJam, sedimen yang diendapkan sebesar 9,41 ton/m2 atau 13,69 kg/m2/jam. Hasil analisis korelasi linier antara perubahan daratan dan mangrove terhadap waktu menunjukkan bahwa perubahan luasan daratan terhadap waktu berkorelasi 0,998, sedangkan perubahan luasan mangrove terhadap waktu berkorelasi -0,960. Kondisi ini disebabkan oleh adanya kegiatan penebangan pohon mangrove secara liar, perubahan peruntukan lahan hutan mangrove menjadi persawahan, pertambakan dan pemukiman.Kata-kata kunci: citra satelit LANDSAT-MSS, sedimentasi, mangrove, laguna Segara Anaka
ASPEK BIOLOGI IKAN BUTINI (Glossogobius matanensis) DI DANAU TOWUTI, SULAWESI SELATAN
Penelitian aspek biologi ikan butini (Glossogobius matanensis) di Danau Towuti, Sulawesi Selatan dilakukan sejak Maret 2002 sampai April 2004 dengan menggunakan contoh yang diambil dengan eksperimental jaring insang (ukuran mata jaring ¾, 1, 1¼, dan 1½ inci). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuibeberapa aspek biologi yang meliputi tingkat kematangan gonad, indeks somatik gonad, fekunditas, diameter telur dan kebiasaan makanan. Kematangan gonad diduga secara morfologi, dan fekunditas dihitung secara gravimetrik. Isi lambung diamati dengan menggunakan mikroskop pembesaran 50 kali. Analisis dilakukan untuk mengetahui nisbah kelamin (J/B), indeks somatik gonad (GSI), Indeks isi lambung (ISC), indeks kesukaan (IP) dan indeks similaritas. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan butini yang tertangkap terdiri atas 193 jantan dan 219 betina. Nilai nisbah kelamin bervariasi, namun secara umum tidak berbeda nyata dengan 1:1 (α = 0.05).Musim pemijahan diduga sekitar Maret-April dan Oktober-desember, dengan puncak sekitar Maret dan November. Fekunditas berkisar antara 20 667–178 133. Diameter telur berkisar antara 0.04 sampai 0.65 mm. Berdasarkan pola distribusi diduga pola pemijahan ikan ini adalah pemijah sebagian-sebagian. Nilai ISC ikan butini berdasarkan bulan pengambilan contoh berkisar antara 0.02-2.93% (jantan) dan 0.02- 3.20 (betina), dan keduanya diperkirakan lebih aktif mencari makan pada bulan April dan Oktober. Berdasarkan nilai IP, makanan utama ikan butini adalah udang baik pada ikan jantan (77.54%) maupun betina (68.74%). Berdasarkan Indeks similaritas, jenis makanan ikan butini jantan dan betina adalah serupa (0.91).Kata kunci: kematangan gonad, kebiasaan makan, ikan butini, danau Towuti, Sulawesi Selatan
Studi Habitat Peneluran Penyu Sisik (Eretmochelys Imbricata L) di Pulau Peteloran Timur dan Barat Taman Nasional Kepulauan Seribu , Jakarta
Penyu sisik (Eretmoche/ys imbricata L.) merupakan salah satu dari enam penyu laut yang ditemukan di Indonesia. Jenis penyu ini termasuk dalam daftar Red Data Book JUeN sebagai jenis yang hampir punah. Oleh karena itu, pengelolaan yang berkelanjutan terhadap penyu ini sangat diperlukan. Untuk maksud tersebut, salah satu langkah yang dilakukan adalah mengadakan studi mengenai habitat dan dinamika populasinya yang di Indonesia masih jarang dilakukan. Studi ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik biotik dan abiotik dari habitatpenelurannya di pulau Peteloran Timur dan Barat, Taman Nasionallaut Kepulauan Seribu, Jakarta. Hasil studi menunjukkan bahwa tipe vegetasi pantai, kemiringan pantai, komposisi dan struktur pasir, keragaman dan kelimpahan predator serta keberadaan terumbu karang merupakan faktor-faktor yang berperan dalam habitat peneluran penyu sisik.Kata-kata kunci: penyu sisik, habitat peneluran, faktor biotik, faktor abioti
Keanekaragaman Makrozoobentos dan Hubungannya dengan Kualitas Lingkungan Pesisir Teluk Lampung
Makrozoobentos merupakan organisme dasar yang hidupnya di daerah pasir atau pasir berlumpur. Komunitas makrozoobentos dapat dipakai sebagai indikator pencemaran, karena organisme ini relatif tidak banyak bergerak atau berpindah-pindah Pengamatan komunitas makrozoobentos dan kualitas air di Teluk Lampung dilakukan dari bulan April sampai dengan Oktober 1989, yaitu temperatur, salinitas, kecerahan, nitrogen dan fosfat umumnya masih dalam keadaan normal untuk kehidupan organisme. Dari hasil pengamatan tersebut terdapat: 16 jenis kerang-kerangan/moluska, 11 jenis anellid, 1 jenis ekhinodennata dan 11 jenis ostrocoda. Prionospio malmgreni dan anellid merupakan jenis yang dominan di sekitar Sungai Blau, sedangkan keragaman dan keseragaman makrozoobentos variasinya masih nOllnal dengan variasi suksesi antara stadium 1 sampai dengan stadium 3.Kata-kata kunci : makrozoobentos, struktur komunitas, produktifitas, grafik frontier
Bila Sulit DiLawan , Jadikanlah Kawan
Keong mas sejak kedatangannya di Indonesia sekitar tahun 1984 (Departemen Pertanian, 1989), keberadaanya kini telah meluas ke berbagai perairan tawar di Indonesia. Selain di Jawa dan Sumatera, penulis mendengar mengenai keberadaan keong mas ini di Kalimantan Tengah. Bahkan di Prafi, Manokwar~ Irian Jaya, dalam kunjungan ke daerah transmigran, penulis menjumpai keong mas ini di perairan kolam-kolam budidaya ikan penduduk setempat. Alasan utama dari penyebaran keong mas ke berbagai daerah adalah untuk dimanfaatkan dagingnya sebagai bah an pangan atau pakan. Hal ini dikarenakan pertumbuhan dan pengembangbiakan keong mas yang cepat serta sangat mudah dibudidayakan
Struktur Ikan Karang dan Interaksinya dengan Komponen Lifeform Karang Penyusun Terumbu Karang Pulau Hoga dan Karang Karedupa di Kepulauan Tukang Besi , Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan karang dan interaksinya dengan lifeform karang pada terumbu karang Pulau Hoga dan Karang Kaledupa di Kepulauan Tukang Besi, Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara.Metode transek garis sejajar dengan kontur kedalaman digunakan untuk mengamati persentase penutupan lifeform karang dan ikan-ikan karang asosiatif pada kedalaman 10m. Pencacahan ikan-ikan karang dilakukan secara visual pada batas pandang 3 meter ke kiri dan kanan transek. Untuk mengetahui interaksi antara ikan karang dengan lifeformkarang digunakan analisis faktorial koresponden. Dari hasil pengamatan ditemukan 142 spesies ikan karang yang tergolong ke dalam 30 famili. Selanjutnya komponen lifeform karang yang paling berperan terhadap distribusi spasial ikan-ikan karang secara berturul-turut adalah komponen karang balu, komponen karang lunak dan komponen abiotikKata-kata kunci: ikan karang, lifeform karang, struktur komunitas ikan karang, distribusi spasial, anal isis faktorial koresponde