Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
Not a member yet
    183 research outputs found

    PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI DOSIS PROSTAGLANDIN F-2 a P ADA BERBAGAI TEMPAT PENYUNTIKAN TERHADAP OVULASI UDANG WINDU (Penaeus monodon Fab) AFKIR

    No full text
    Induk udang windu yang sudah sekali bertelur, sudah dinyatakan alkir. Udang alkir ini umumnya berovulasi secara parsial. Dengan pemberian prostaglandin dosis 750-1000 ,ug/kg bobot tubuh udang aik.ir ini mampu berovulasi secara sempurna dengan kematangan dan Diameter telur yang normal. Tempat penyuntikan prostaglandin yang paling efektif adalah pada kaki jalan ke tiga. Interaksi antara penyuntikan pada kaki jalan ke tiga dengan dosis 1000 ltg/kg bobot tubuh memberikan hasil terbaik dibanding yang lainnya.Kala-kala kunci : Udang windu afkir ,ovulasi, prostaglandin F-2

    PENGARUH KONSENTRASI RAGI YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN POPULASI Daphnia sp.

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ragi (Saccharomyces cerevisiae) dengan konsentrasi yang berbeda sebagai pakan terhadap pertumbuhan populasi Daphnia sp. Penelitian ini berupa budidaya Daphnia sp. yang diberi pakan kotoran ayam dan ragi. Kotoran ayam yang digunakan adalah kotoran ayam yang sudah dikeringkan dengan konsentrasi 2.4 g/l. Sedangkan ragi yang digunakan adalah ragi roti dengan tiga dosis yang berbeda yaitu 1 g ragi untuk 80 000, 40 000 dan 20 000 Daphnia sp per hari. Dapnia berumur 1-2 hari. Penebaran awal Daphnia sp pada masing-masing perlakuan adalah 100 ekor/liter. Populasi Daphnia sp di dalam media kotoran ayam meningkat sampai hari ke-7, kemudian menurun mulai hari ke-8. Sedangkan yang diberi pakan ragi mencapai puncaknya setelah dipelihara selama 10 hari. Jumlah individu Daphnia spwaktu puncak pada media kotoran ayam adalah 333 ind/liter. Puncak populasi Daphnia sp dengan media ragi lebih tinggi dibandingkan dengan media kotoran ayam (p<0.05). Namun antara berbagai konsentrasi ragi,puncak populasi tersebut tidak berbeda nyata. Puncak populasi pada media dengan konsentrasi 1 g ragi untuk 80 000, 40 000 dan 20 000 ekor Daphnia sp, berturut-turut yaitu 1 603, 1 295 dan 1 082 ind/liter. Konversi pakan ragi meningkat sejalan dengan meningkatnya konsentrasi ragi yaitu 0.5, 1.02, dan 1.6. Bobot tubuh pada saat puncak populasi hampir sama, ini berarti ukuran Daphnia sp pada setiap perlakuan tidak berbeda. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan ragi dengan konsentrasi 1 g untuk 80 000 ekor Daphnia sp dalam budidaya Daphnia sp menghasilkan nilai konversi pakan terbaik yaitu 0.5. Nilai ini dicapai pada hari ke-10 masa budidaya.Kata kunci: Daphnia, ragi, kotoran ayam

    PENGARUH PEMBERIAN PAKAN TAMBAHAN IKAN RUCAH BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN BAUNG (Mystus nemurus C.V) DALAM SANGKAR

    Full text link
    Untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan tambahan ikan rucah terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan baung (Mystus nemurus) dalam sangkar telah dilakukan penelitian di sungai Lempuing Sumatera Selatan. Percobaan menggunakan 9 buah sangkar ukuran 1 m x 1 m x 1 m dengan metoda Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan yang diuji adalah pemberian pakan tambahan ikan rucah dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan yaitu: pemberian pakan 4% dalam seminggu (A); pemberian pakan 8% dalam seminggu (B); dan pemberian pakan 12% dalam seminggu (C). Hasil penelitian menunjukan bahwa ketiga perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (p < 0.05) terhadap pertumbuhan, namun tidak berbeda nyata (p > 0.05) terhadap kelangsungan hidup ikan baung. Laju pertumbuhan harian tiap perlakuan masing-masing adalah0.97% (A), 1.23% (B) dan 1.41% (C), sedangkan konversi pakan adalah 4.78 untuk perlakuan A, 4.27 untuk perlakuan B dan 4.26 untuk perlakuan C.Kata kunci: ikan rucah, ikan baung, sangkar

    ANALISIS KAPASITAS PERIKANAN PELAGIS DI PERAIRAN PESISIR PROPINSI SUMATERA BARAT

    Full text link
    Pemanfaatan sumberdaya ikan telah memberikan manfaat secara ekonomi kepada pelaku usaha, akan tetapi pemanfaatan sumberdaya ikan ini juga memberikan dampak eksternal. Sumberdaya ikan bersifat dapat pulih (renewable resources) tetapi bukan berarti tak terbatas sehingga apabila tidak dikelola secara hati-hati, akan memberikan dampak negatif terhadap ketersediaan sumberdaya ikan dan lingkungan. Salah satu permasalahan dalam perikanan tangkap adalah terjadinya kelebihan kapasitas tangkap (overcapacity) yg mendorong terjadinya kelebihan tangkap (overfishing) Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan dibandingkan dengan produksi yang lestari, 2) Menganalisis implikasi kebijakan dari kapasitas perikanan antar waktu dan antar alat tangkap. Pendekatan analisis yg digunakan dalam penelitian ini antara lain analisis bioekonomi dan data envelopment analysis (DEA) Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil telah mengarah ke overfishing, sedangkan untuk sumberdaya ikan pelagis besar masih dapat ditingkatkan tetapi perlu kehati-hatian dalam pengelolaannya, 2)Tingkat efisiensi perikanan tangkap untuk ikan pelagis besar rata-rata 85% per tahun sedangkan untuk ikan pelagis kecil rata-rata 89% per tahun, 3) Bila dibandingkan tingkat efisiensi dari empat alat tangkap maka yang paling efisien adalah pukat cincin diikuti oleh tonda, payang dan bagan, 4) Secara rata-rata selama thn pengamatan kondisi perikanan tangkap di perairan pesisir Sumatera Barat sudah mengarah kepada kelebihan kapasitas (overcapacity) sehingga diperlukan adanya pengurangan kapasitas perikanan.Kata kunci: kapasitas perikanan, efisiensi, kelebihan tangkap

    KETERKAITAN SUMBERDAYA IKAN EKOR KUNING (Caesio cuning) DENGAN KARAKTERISTIK HABITAT PADA EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI KEPULAUAN SERIBU

    Full text link
    Ikan ekor kuning (Caesio cuning) merupakan jenis ikan konsumsi yang memiliki nilai ekonomis penting dan merupakan salah satu jenis ikan karang yang menjadi target penangkapan di perairan Kepulauan Seribu. Habitat ikan ekor kuning adalah di perairan pantai karang, perairan karang dengan suhu perairan lebih dari 20oC. Hidupnya berasosiasi dengan terumbu karang dan dapat ditemukan di perairan Kepulauan Seribu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sumberdaya ikan ekor kuning dan ekosistem terumbu karang serta mengkaji keterkaitan sumber daya ikan ekor kuning dengan karakteristik habitat. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Kepulauan Seribu dari bulan April-Juni 2009. Lokasi pengamatan adalah di Pulau Pramuka (Timur Pramuka dan Utara Pramuka), Pulau Panggang (Barat Panggang dan Selatan Panggang), Pulau Belanda (Utara Belanda dan Selatan Belanda), dan Pulau Kayu Angin Bira (Timur Kayu Angin Bira dan Barat Kayu Angin Bira). Dasar penentuan titik stasiun pengamatan di setiap pulau berdasarkan pada lokasi tangkapan nelayan pada daerah terumbu karang. Pengambilan data untuk persentase tutupan substrat bentik menggunakan metode transek kuadrat dan dianalisis menggunakan program Coral Point Count with Excell extension (CPCe). Untuk data kelimpahan sumberdaya ikan ekor kuning menggunakan Underwater Visual Cencus, sedangkan untuk data kondisi biologi ikan ekor kuning menggunakan sampel dari hasil tangkapan nelayan di lokasi penelitian pada bulan Mei 2009. Analisis yang digunakan untuk mengetahui keterkaitan sumberdaya ikan ekor kuning dengan karakteristik habitat menggunakan cluster analysis berdasarkan pengelompokan substrat bentik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ekosistem terumbu karang mempunyai penutupan life form 32.27%, sehingga berada pada kategori sedang. Kondisi sumberdaya ikan ekor kuning diduga telah terjadi growth overfishing. Pola pertumbuhan bersifat alometrik dan didominasi oleh ikan yang belum matang (immature) atau belum dewasa (dalam kondisi pertumbuhan). Keterkaitan sumberdaya ikan ekor kuning dengan karakteristik habitat dicirikan dengan keberadaan coral encrusting (CE), acropora digitate (ACD), coral submassive (CS), dead coral with algae (DCA), karang lunak (SC), dan pasir (S). Bentuk pengelolaan ekosistem terumbu karang dan ikan ekor kuning di perairan Kepulauan Seribu secara terpadu dan berkelanjutan yang diusulkan dalam penelitian ini adalah pengelolaan berbasis ekosistem dengan titik penekanan pada habitat dan sumberdaya ikan ekor kuning antara lain: (1) rehabilitasi habiat dengan program transplantasi coral encrusting, acropora digitate, dan coral submassive yang menjadi ciri keberadaan ikan ekor kuning pada daerah yang rusak dan (2) pengaturan upaya penangkapan dan ukuran mata jaring.Kata kunci : ekosistem terumbu karang, ikan ekor kuning, Pulau Seribu

    HUBUNGAN PANJANG BOBOT DAN FAKTOR KONDISI IKAN TETET, Johnius belangerii Cuvier (PISCES: SCIAENIDAE) DI PERAIRAN PANTAI MAYANGAN, JAWA BARAT

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan hubungan panjang-bobot dan mengevaluasi faktor kondisi ikan tetet, Johnius belangerii Cuvier di perairan pantai Mayangan, Jawa Barat. Pengambilan contoh dilakukan sekali sebulan dari bulan Mei 2002 sampai April 2003. Sebanyak 2 403 ekor ikan tertangkap dengan menggunakan jaring insang bermata jaring 1.5 - 3 inci. Panjang total dan bobot ikan contoh berkisar masingmasing 71 – 225 mm dan 3 – 161 gram. Hubungan panjang-bobot adalah W = 2.453 x 10-6 L3.3023. Hasil ini menunjukkan bahwa hubungan panjang-bobot mempunyai korelasi yang tinggi (R2 > 0.939). Faktor kondisi relatif beragam dari 0.966 to 1.070. Ikan betina mempunyai kondisi lebih baik daripada ikan jantan.Kata kunci: hubungan panjang bobot, faktor kondisi, ikan tetet, perairan pantai. This study is aimed to determine length-weight relationship and to evaluate relative condition factor of belanger’s croaker, Johnius belangerii Cuvier in Mayangan. Fish collection was carried out monthly from May 2002 to April 2003. A total of 2 403 individual fishes were caught using gillnet with mesh sizes varying from 1.5 to 3 inches. The fish samples ranged from 71 – 225 mm in length and 3 – 161 g in weight. The length-weight relationship was W = 2.453 x 10-6 L3.3023. The results indicated that the length-weight relationship was highly correlated (R2 > 0.939). The relative condition factors of fish varied from 0.966 to 1.070, of which females were generally in better condition than the males.Key words: length-weight relationship, condition factor, belanger’s croaker, coastal waters

    Studi Laboratorium:Respon Penempelan Larva Planula Ubur-Ubur Terhadap Cahaya dan Grafitasi

    Full text link
    Respon larva ubur-ubur Aurelia aurila terhadap cahaya dan grafitasi dilakukan dengan mengamati penempelan larva pada cawan Petri yang sebagian diberi warua dan direndam dalam air. Dengan cara ini larva dapat memilih daerah terang atau bayang, dan bagian atas atau bawah cawan sebagai  tempat penempelannya. Larva yang menempel bersifat fotonegatif, danjumlah penempelan di daerah gelap/bayang dan terang memberikan hasil yang berbeda (Wilcoxon Signed RankTest; P<O,05). Larva juga bersifat geotaktis negatif, yaitu larva cenderung menempel di bagian atas (tutup cawan Petri) dibandingkan di bag ian bawah cawan (Wilcoxon Signed Rank Test; P<O,05). Pengaruh grafitasi lebih kuat dibandingkan pengaruh cahaya terhadap penempelan larva sepanjang larva masih bisa mentolerir cahaya ..Kata-kata kunci : ubur-ubur, Aurelia aurila, cahaya dan grafitas

    Keadaan Net-Fitoplankton Perairan Estuari di Sebelah Selatan Beting Pasir Pantai Marunda,Teluk Jakarta Pada Saat Pasang dan Surut

    Full text link
    Penelitian tentang kondisi net-fitoplankton di perairan estuari di sebelah selatan beting pasir pantai Marunda dilakukan antara tanggal JO Februari - 10 Maret 1990. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan perbedaan kelimpahan net-fitoplankton pada saat pasang dan surut. Pengambilan contoh dilakukan di 10 titik pengambilan contoh seminggu sekali dengan pengulangan 5kali. Hasil penelitian memperlihatkan adanya 3 kelas net-fitoplankton di lokasi penelitian, yaitu Kelas Bacillariophyceae dengan 37 genera, Kelas Cyanophyceaedengan 9 genera dan Kelas Chlorophyceae dengan II genera. Pada beberapa stasiun pengamatan dijumpai kelimpahan yang cukup tinggi dari jenis Chaetoceros dan Skeletonerna. Hal ini berkaitan dengan parameter kimia dan fisika stasiun pengamatan terse but. Kelimpahan net-fitoplankton tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata antara saat pasang dengan saat surut.Kata-kata kunci : net-fitoplankton, estuari, komposisi, beting pasir, kelimpahan,pasang suru

    Laju Pertumbuhan dan Mutu Rumput Laut Eucheuma alvarezii(Doty) yang ditanam pada Sistem Monoline dan Multilines Lepas Dasar di Perairan Pantai Geger, Nusa Dua , Bali

    No full text
    Suatu penelitian terhadap laju pertumbuhan dan mutu rumput laut Eucheuma alvarezii (Doty) yang ditanam dengan sistem yang bertJeda telah dilakukan di perairan pantai Geger, Nusa Dua, Bali, untuk melihat kemungkinan diperolehnya hasil panen yang lebih tinggi dan efisiensi lahan. Metode yang digunakan adalah sistem mollOline dan multilines lepas dasar dengan kombinasi ketinggian penahanan dari dasar perairan sebesar 25 cm, 50 cm, dan 75 aD. Laju pertumbuhan dan mutu Eucheuma alvarezi; seJama 7 minggu pada sistem monoline dan multilines cukup baik dan kualitasnya memenuhi standar ekspor. Laju pertumbuhan rata-rata berkisar an tara 0,286 - 0,526% per minggu atau 4,08 - 7,59 % per hari , rendemen karaginan rumput laut kering antara 25,83 - 37,~9%, CAW sebesar 34,20 - 45,75%, kadar air 15 - 22,20% dan CAY sebesar 64,60 -85,96%. Laju pertumbuhan Eucheuma alvarezii pada sistem multilines tidak berbeda nyata dengan yang ditanam pada siste monoline, pada ketinggian penanaman yang sarna. Karena itu disarankan menggunakan sistem multilines lepas dasar agar hasil panen Eucheuma alvarezii lebih tinggi dengan laju pertumbuhan dan mutu yang baik .Kata-kata kunci : sistem monoline lepas dasar, sistem multilines lepas dasar  CAW (CleanAnhydrous Weed); CAY (Clean Anhydrous Yield); rendemen karaginan

    KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN LARVA IKAN DI ESTUARIA SEGARA ANAKAN CILACAP, JAWA TENGAH

    Full text link
    Komposisi dan kelimpahan larva ikan telah diamati selama bulan November 2001 sampai dengan April 2002 di Estuaria Segara Anakan Cilacap, Jawa Tengah. Pengambilan larva ikan dilakukan setiap bulan dengan menggunakan larva net pada sepuluh stasiun penelitian. Larva ikan yang diperoleh terbagi dalam 23 familia dan 38 genus. Familia Gobiidae merupakan penyumbang terbanyak dari seluruh total tangkapan (67.33%), diikuti dengan Engraulididae (19.39%), Apogonidae (8.27%) dan lainnya sebesar 4.96%. Kelimpahan larva ikan seluruh takson tertinggi terjadi pada bulan November 2001 dengan kelimpahan mencapai 2490 ind/100 m3 dan terendah pada bulan Januari dengan kelimpahan 295 ind/100 m3. Larva yang paling melimpah adalah Glossogobius diikuti Engraulis sp, Stolephorus sp, Apogon sp, Megalops cyprinoides, Acanthogobius sp dan Chirocentrus sp. Kelimpahan larva ikan cenderung rendah pada stasiun-stasiun yang memiliki salinitas dan kekeruhan yang tinggi. Faktor lingkungan yang berkorelasi dengan kelimpahan larva ikan total adalah kekeruhan. Beberapa larva ikan menunjukkan preferensi yang bervariasi terhadap kondisi lingkungan.Kata kunci: komposisi, kelimpahan, larva ikan, Segara Anakan

    123

    full texts

    183

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇