Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Not a member yet
    145 research outputs found

    PENGEMBANGAN IPTEK DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM

    No full text
    Islam sangat mendukung umatnya untuk menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Dalam hal pengembangan Iptek, umat Islam dapat mempelajarinya dari orang-orang no-Islam, disamping juga dapat mengembangkan Iptek dari spirit ajaran Islam sendiri. Oleh karena produk keilmuan yang datang dari orang-orang non-Islam –secara umum- bersifat sekuleristik, maka setelah dipelajari, sebelum diadopsi dan diterpkan di dunia Islam, penting untuk terlebih dahulu diberikan nilai-nilai keislaman, agar tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran hukum Islam. Ajaran hukum Islam secara normatif dan empirik sangat memulyakan orang-orang yang beriman dan berilmu dengan beberapa derajat. Dalam ajaran hukum Islam, ditegaskan bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Orang yang berilmu jelas lebih baik dan lebih utama daripada orang yang tidak berilmu. Dengan demikian, pengembagan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan ragam modelnya (misal dengan bahasa Islamisasi Iptek) sangat dianjurkan oleh ajaran hukum Islam

    URGENSI PEMBELAJARAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL

    No full text
    Tulisan ini mengurai pentingnya pembelajaran berbasis kearifan lokal di dalam dunia pendidikan. Pembelajaran di lembaga pendidikan terdiri atas berbagai materi ajar (subject matter), dimana setiap materi tersebut sudah ditentukan target-target pembelajarannya. Tanpa mengganggu sama sekali setiap materi ajar tersebut, bahkan memperkuatnya, muatan kearifan lokal perlu dimasukkan. Apapun yang diterima peserta didik merupakan sebuah materi ajar, baik berupa teori, praktik, contoh-contoh soal maupun sikap pendidik itu sendiri. Menggambarkan secara jelas kekhasan materi ajar, ruang kelas, lingkungan pendidikan maupun buku-buku/ media pendidikan menjadi sebuah kebutuhan lembaga pendidikan agar dapat diterima efektif oleh peserta didik. Pengintegrasian akan efektif jika muatan kearifan lokal dapat masuk menjadi materi ajar pokok yang tidak sekedar asal dapat ditempelkan. Dalam Pendidikan Agama, misalnya, perlu dapat menjelaskan hukumnya berwirausaha, berbisnis, belajar, bercocok tanam, memanfaatkan lahan kosong di bawah tegakan tanaman, mengolah makanan secara alami tanpa pewarna maupun pengawet buatan, mensyukuri kekayaan hayati, dan lain-lain. Di dalam PKn perlu untuk menjelaskan posisi negara yang penuh hutang, perlunya membangun kemandirian ekonomi, perlunya mencintai hasil produksi dalam negeri maupun praduk lokal dan lain-lain. Materi ajar Bahasa Indonesia dapat mengarahkan kesadaran anak tentang kearifan lokal melalui pelajaran mengarang, membuat puisi ataupun membuat peribahasa dengan tema-tema lokal. Demikian pula pada IPA, IPS, Seni Budaya dan Ketrampilan, Pendidikan kesehatan, berbagai materi ajar dasar maupun pengembangan diri

    POTRET PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH UMUM

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Praktik pendidikan agama Islam di sekolah (umum) amatlah minim atau kurang maksimal. Secara umum, jumlah jam pelajaran agama di sekolah rata-rata 2 jam per minggu. Dengan alokasi waktu seperti itu, jelas tidak mungkin untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan agama yang memadai. Oleh karena itu, harus dilakukan strategi alternatif dalam memenuhi kebutuhan peserta didik akan pendidikan agama di sekolah umum, antara lain: melalui kegiatan ekstra kurikuler berbasis keruhanian, tambahan-tambahan materi kegamaan di luar jam pelajaran, menyisipkan muatan keagamaan kedalam semua bidang studi umum, dan lain sebagainya. Sumber daya guru agama Islam juga perlu terus ditingkatkan kualitasnya, baik dari segi content maupun metodologi. Di samping itu, proses pelaksanaan pendidikan agama Islam harus selalu dilaksanakan dengan baik dan maksimal. Evaluasinya tidak cukup hanya menilai aspek kognitif siswa, tetapi harus juga melihat dan menilai aspek afektif dan psikomotoriknya. Ketiga domain (kognitif, afektif, psikomotorik) pendidikan agama Islam harus dilihat dalam pelaksanaan penilaian, sehingga bersifat komprehensif. English:Islamic education subject in secular school is quite minimal in its duration. Generally, it takes only two credit hours per week in such kind of school. Due to the time allocation, it is clearly impossible to hand down student standard religious knowledge, attitude, and skills. Therefore, the school needs to find an alternative way to respond the needs of standard religious education in secular schools. Some of the implemented strategies are the religious extra-curricular program, extra hours for the subject, and integrated the religious messages in non-religious subjects. Religious teaching staff must also be upgraded in terms of the quality, either the subject matter enrichment or the instructional process. In addition, the instructional process needs optimal implementation. The evaluation should cover the cognitive, affective, and psychomotor areas. The three previously mentioned domain in Islamic education subject must be carefully and comprehensively assessed

    KONSEP PENDIDIKAN ISLAM BERWAWASAN MULTIKULTURALISME PERSPEKTIF H.A.R. TILAAR

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Multikulturalisme, sebagai sebuah diskursus, memang merupakan produk kajian ilmuan Barat akan realitas-eksistensial kebudayaan mereka yang heterogen. Namun, ke-khas-an kajian mereka tidak menyentuh aspek-aspek teologis, jika tidak mau disebut Agama. Multikulturalisme hadir ke Indonesia dengan wajah yang berbeda. Ada banyak perspektif, yang kemudian, meng-amalgamasikan kepentingan faham keagamaan, dengan sumber kebudayaan yang dikaji di Barat melalui cultural studies-nya. Kendati demikian, masyarakat Indonesia tidak bisa dilepaskan dari homogenitas, pluralitas, dan multi-kebudayaan. Oleh sebab itulah, para pendiri bangsa memiliki slogan Bhinneka Tuggal Ika, dari hal yang berbeda-beda, namun memiliki satu tujuan yang sama. Slogan ini, terkadang, tidak disadari oleh seluruh masyarakat Indonesia. Untuk itulah, HAR Tilaar menawarkan sebuah konsep pendidikan yang dibasiskan kepada pengenalan dan pemahaman akan perbedaan kebudayaan yang dimiliki Indonesia. Tulisan ini berusaha mengkaitkan gagasan Tilaar ini dengan fenomena konflik yang ada di Indonesia, khususnya, berbasis agama. Melalui pendidikan multikultural, diharapkan, seluruh pemeluk agama menyadari akan tantangan perbedaan yang diciptakan oleh Tuhan.English:Multiculturalism as an academic discourse comes from western scholarly tradition regarding their heterogeneus cultural existential-reality. However, the distinguish discourse does not deal with theological aspects, if it is to hesitate to call religion. Multiculturalism comes to Indonesia in a different face. There are so many perspectives to amalgamate religious interest and western culture within cultural studies framework. However, Indonesian cannot be separated from homogeneity, plurality, as well as multi-culturalism. For that reason, the nation’s founding father promoted the slogan “Bhinneka Tunggal Ika”, unity in diversity. The slogan is sometimes less understood by citizens. This made H.A.R. Tilaar to offer an educational concept based upon introducation and comprehension towards Indonesian cultural diversity. This paper examines the Tilaar’s thoughts and religion-based conflict in Indonesia. Multicultural education itself is proposed to shade light for religions’s follower regarding the challenge of diversity created by God

    PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENDUNG PENGARUH AJARAN ALUK TODOLO DI TANA TORAJA SULAWESI SELATAN

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Pendidikan Agama Islam sangat berperan dalam mengantisipasi ajaran Aluk Todolo karena agama merupakan salah satu faktor pengendalian tingkah laku masyarakat. Bentuk ajaran Aluk Todolo yang masih melekat pada masyarakat Tana Toraja Sulawesi Selatan merupakan tantangan berat yang dihadapi masyarakat muslim sebagai minoritas karena ajaran tersebut telah lama ada secara turun temurun. Ajaran Aluk Todolo yang masih dipelihara oleh masyarakat termasuk oleh mereka yang beragama Islam sendiri adalah rambu solo, rambutuka, pamalian, me’nene’, ma’pakan dedeata, ma’bating dan paramisi. Beberapa faktor penghambat dalam mengatasi Aluk Todolo tersebut adalah pemahaman agama, struktur sosial masyarakat, emosi keagamaan, dan faktor kultural. Adapaun solusi dalam mengatasi pengaruh ajaran Aluk Todolo di Tana Toraja Sulawesi Selatan adalah dengan menjalankan nilai-nilai Agama Islam yang terbukti sudah menjadi alat pemersatu bangsa, bersilaturrahim dengan banyak kalangan yang dengan faham agama kuat, banyak membaca berbagai referensi dari buku-buku Agama Islam,  selalu ingin memperbaiki  diri,  menetapkan tujuan hidup, sebagai generasi penerus bangsa dituntut untuk mampu menciptakan suasana yang nyaman, aman dan kondusif di tengah  perbedaan yang muncul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.English:Islamic education as a school subject has a very significant role in anticipating Aluk Todolo teachings since the religion is a factor of controlling people’s behavior. The Todolo teachings attached in the Tana Toraja South Sulawesi community is a hard challenge for the Muslim as the minority as the teaching has been rooted over generations. Several Todolo teachings which are still practiced the Muslim are rambu solo, rambutuka, pamalian, me’nene’, ma’pakan dedeata, ma’bating and paramisi. The challenge for anticipating the Todolo teachings are the understanding towards religion, social structure of the community, and the culture. The solution to anticipate the Todolo teaching in Tana Toraja are conducting Islamic teachings as a way of uniting people, visiting nad communicating with religious people, reading Islamic references, developing self quality, making life purposes, and creating safe and conducive environment in the middle of national diversity

    KURIKULUM PESANTREN DALAM PERSPEKTIF GUS DUR; SUATU KAJIAN EPISTEMOLOGIS

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan tentang sepak terjang pemikiran KH. Abdurrahan Wahid (Gus Dur) tentang pesantren terkhusus kajian epistimologis tentang kurikulum pesantren. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan dan jenis penelitian kajian literatur, melalui literatur-literatur yang menjelaskan sejarah dan pemikiran Gus Dur. Hasil dari penelitian ini adalah, secara geneaolgi, struktur keilmuan pesantren yang sekarang ini merupakan hasil dialektika antara dua kelompok besar dalam arus intelektualitas Islam di masa awal,  yaitu hasil kombinasi sikap humanisme dan hasil serapan dari nalar berfikir filosofi Yunani yang sudah mengakar di Timur Tengah sejak agresi Sultan Iskandaria. Menurut Gus Dur, pesantren adalah lembaga yang berani mengambil lompatan pemikiran ala filosofi Yunani, namun di sisi yang lain mereka tetap mengedepankan al-Qur’an dan Hadith. Berdasarkan kajian epistemologisnya, kitab kuning difungsikan oleh kalangan pesantren sebagai referensi nilai universal dalam menyikapi segala tantangan kehidupan. Kitab kuning dipahami sebagai mata rantai keilmuan Islam yang dapat bersambung hingga pemahaman keilmuan Islam masa tabi’in dan sahabat hingga sampai pada Nabi Muhammad. Dalam pandangan Gus Dur, pesantren harus menjadikan ilmu agama sebagai dasar, tanpa meninggalkan pengetahuan yang lain agar santri lebih dapat mengembangkan potensi dirinya English:This research is proposed to describe the thought of KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) regarding Pesantren, especially the epistemological discourse on its curriculum. In this research, the author uses library research dealing with literature on history and thought of Gus Dur. The result of the study shows that contemporary Pesantren’s structure of knowledge is a dialectical result of two mainstreams in the early Islamic periods, involving humanism and adoption of helenestical tradition in the Middle East after the aggression of Alexandrian Sultanate. According to Gus Dur, pesantren is an institution taking a giant leap in thought a la Helenistic periods without putting aside the Qur’an and Hadits. Epistemologically, the yellow scripture takes a role as universal values in human life for pesantren disciples. The scripture is understood as a chain of Islamic knowledge from the Prophet and the companions. Gus Dur strongly agree with putting religion as the foundation of Pesantren, but secular knowledge must be taken as well in order to develop the pesantren disciples’ self potential

    REDEFINISI PERAN GURU MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERMUTU

    No full text
    Dikotomi secular science dan religious science merubah pola pikir masyarakat muslim dalam beragama. Dari periode klasik yang memandang Islam sebagai ajaran komprehensif, berubah menjadi sebuah pemahaman yang memandang Islam sebagai agama yang hanya berorientasi kepada ritual. Dipahami bahwa pendidikan adalah proses yang memiliki continuity dan secara sadar dilakukan untuk mempersiapkan generasi yang memiliki pengetahuan dan nilai secara seimbang. Di sisi lain, dampak negatif dari kehidupan modern tidak dapat dihindari lagi oleh manusia modern, terutama dari aspek pendidikan. Untuk itu, berbagai unsur pada pendidikan harus terus menjaga keterkaitan yang telah ada untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Partisipasi dan kepedulian masyarakat yang masih rendah terhadap kemajuan dunia pendidikan harus  diakhiri, seiring realisasi konsep school based management atau SBM. Aspek lain yang harus disiapkan adalah kualitas guru. Secara konsepsional, guru memiliki tiga fungsi, yaitu kognitif, moral dan inovatif. Agar menjadi sosok ideal di Indonesia, guru harus memenuhi delapan indikator, yaitu prinsip teologis, prinsip formal, prinsip fungsional, prinsip kultural, prinsip komprehensivitas, prinsip subtstansial, prinsip sosial dan prinsip identitas

    URGENSI MADRASAH DI ERA KONTEMPORER

    No full text
    BAHASA INDONESIA:Tulisan ini bermaksud megulas eksitensi madrasah di era kontemporer. Sebagai lembaga pendidikan yang sudah lama berkembang di Indonesia, madrasah selain telah berhasil membina dan mengembangkan kehidupan moral dan beragama di Indonesia, juga ikut serta berperan dalam menanamkan rasa kebangsaan ke dalam jiwa rakyat Indonesia, di samping itu Madrasah juga berperan  dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Meski demikian performa madrasah saat ini masih dirasakan berkualitas kurang dan sangat perlu untuk ditumbuh-kembangkan pada masa yang akan datang. Masyarakat di era sekarang (kontemporer) semakin menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang unik. Di saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, di saat filsafat hidup manusia modern mengalami krisis moral dan keagamaan, dan di saat perdagangan bebas dunia makin mendekati pintu gerbangnya, keberadaan madrasah tampak makin dibutuhkan orang. Hal ini menunjukkan urgensi dan signifikansi eksistensi madrasah di era kontemporer. ENGLISH:This article aims to explain the existence of Islamic school in contemporary era. As educational institution that has been developing for long in Indonesia. Islamic school not only success in building and developing the moral and religion in Indonesia but also participates in engaging the nationality to the soul of Indonesia society. Furthermore, Islamic School has role in educating the national life. In the other hand, the nowadays Islamic school performance is less satisfied and need to improve in the future. Today society (contemporary) made the Islamic school more unique. When the science and technology develop rapidly, the philosophy of modern life is seemingly lack of moral and religious crisis, and  world free trade comes closer, the existence of Islamic school is urgently needed. It shows that the urgency and significant of the Islamic school existence

    PERENCANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS KARAKTER

    No full text
    Tulisan ini berupaya mendeskripsikan konsep perencanaan pembelajaran berbasis karakter. Perencanaan pembelajaran berbasis karakter merupakan seperangkat materi dan alat yang dipersiapkan guru ketika akan mengajar dengan mengedepankan aspek afektif dan nilai-nilai karakter yang luhur dalam perencanaannya untuk diinternalisasikan ke dalam diri murid-muridnya. Perencanaan pembelajaran berbasis karakter adalah model perencanaan dalam pembelajaran yang mengedepankan aspek penanaman nilai-nilai moral atau karakter bagi peserta didik. Ada banyak dimensi yang harus diperhatikan dalam menyusun perencanaan pembelajaran berbasis karakter. Perencanaan pebelajaran berbasis karakter sangat bermanfaat bagi stakeholders pembelajaran Karakter

    TAKSONOMI TRANSENDEN (PARADIGMA BARU TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM)

    No full text
    The Taxonomy of the Objectives of Islamic Education in the Qur'anic    Perspective. This study is initiated from a thought that "the objective of Islamic education is to make students good". The word "good" becomes the key as well as the entrance to formulate the objective of Islamic education in this study, namely by examining the concept of "good" in the Qur’an. The concept studied by using a model of thematic tafsir (mawdhu’iy) approach. With this approach the word "good" was sought through three stems, i.e., the words ahsana-yuhsinu, saluha-yasluhu and khairun with their various shapes and changes in al-Qur’an. Then the classification arranged using the theory of taxonomy. The focus of this research conducted  is: How is the taxonomy of the objectives of Islamic education in the Qur’an perspective. The finding this research of the objectives of Islamic education taxonomy is called the Trancendent Taxonomy. Namely the classification of the objectives of Islamic education which is divided into three dimensions based on the Holy Qur’an, these are ilahiyyah (divinity), insaniyyah (humanity) and kauniyyah (naturality) dimensions

    106

    full texts

    145

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇