Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Not a member yet
    145 research outputs found

    PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT KH. WAHID HASYIM

    Full text link
    Bahasa Indonesia:Studi library research ini berusaha menjawab dua pertanyaan. Pertama bagaimana pemikiran KH. Wahid Hasyim tentang pendidikan karakter? Kedua bagaimana relevansi konsep pendidikan karakter KH. Wahid Hasyim dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini? Melalui analisis induktif dihasilkan dua temuan. Pertama, terdapat delapan nilai-nilai karakter yang berusaha ditanamkan oleh KH. Wahid Hasyim. Delapan nilai tersebut adalah religius, toleransi, madiri, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat atau komunikatif, dan gemar membaca. Temuan kedua pada penelitian ini, bahwa pemikiran pendidikan karakter KH. Wahid Hasyim sejalan dengan tujuan pendidikan karakter. Dia berikhtiar membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural; membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan mampu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan umat manusia, mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan baik; membangun sikap warganegara yang mencintai kedamaian, kreatif, mandiri, dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam suatu harmoni. English: This library research examined two research questions. They are what thoughts of KH. Wahid Hasyim about the character education are and how the concept of character education by KH. Wahid Hasyim is relevant to the current condition of education in Indonesia. This study reveals two findings through an inductive analysis. The chief finding of this study is that there are eight characteristic values taught by KH.Wahid Hasyim including religious, tolerant, independent, democratic, patriotic, nasionalist, communicative, and keen on reading. Second, this study disclosed that the thought of character education by KH. Wahid Hasyim is in line with the goal of character education. He strove to build a multicultural national life, educate an intelligent civilization, build a noble character, encourage people to contribute to the development of human life, and develop the potential of having kind hearts, positive thoughts and good behavior as well as exemplary models. He also sought to generate enthusiasm of citizens to keep the peace, creativity, independence, and to be able to coexist with other nations in a harmony

    KONSEP INTERAKSI EDUKATIF DALAM PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

    Full text link
    Bahasa Indonesia:Suatu kisah dapat dikatakan berkaitan dengan pendidikan apabila dalam proses interaksi yang ada pada kisah tersebut terdapat: tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, materi dan metode. Oleh karena itu penulis mencoba mengkaji al-Qur’an dari kisah-kisah yang ada di dalamnya, dengan mengambil model interaksi pendidikan dalam perjalanan kisah orang tedahulu dalam al-Qur’an. Dari latar belakang diatas, maka muncul sebuah rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimanakah konsep interaksi edukatif dalam perspektif al-Qur’an dan implementasinya dalam pendidikan. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah al-Qur’an tentang kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa (Q.S. Al-Kahfi: 60-82), kemudian kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Q.S. Al-Shaffat: 102-107) dan yang terakhir adalah kisah Luqman (Q.S. Luqman: 12-19). Dilihat dari hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep interaksi edukatif dalam al-Qur’an melalui kisah-kisahnya terdiri dari: 1) tujuan pendidikan: humanisasi, insan kamil dan akhlak mulia; 2) Pendidik: bijaksana, penuh kasih sayang, demokratis, mengenal murid dan memahami kejiwaaannya, berpengetahuan luas, memahami materi, sabar dan ikhlas; 3) Anak didik: Patuh, tabah, sabar, cita-cita yang kuat serta tidak putus asa dan bersungguh-sungguh, sopan santun, rendah hati dan hormat pada guru; 4) Materi: akidah, syari’ah dan akhlak; dan 5) Metode: dialogis, uswatun hasanah, demokratis, dan mauiz}ah. English:A story is considered related to education if in the interaction process involves the following aspects: aims of education, educators, learners, material, and methods. In this research, the author examines stories inside the al-Qur’an, particularly which of educational interaction model within the people in the past. From the background above, this paper answers a research questions, what is the concept of educational interaction from the Qoranic perspective and its implementation in education world. The primary resources in this research is coming from the story of Ibrahim and Musa (Q.S. Al-Kahfi: 60-82), the story of Ibrahim dan Ismail (Q.S. Al-Shaffat: 102-107), and the story of Luqman (Q.S. Luqman: 12-19). The findings of this study show that the concept of educational interaction in in the al-Qur’an consists of 1) the aims of education: humanism, insan kamil, and highest endeavor; 2) the educators: wise, mercy, democratic, understanding students’ psychological condition, knowledgeable, comprehending the materials, patient, and sincere; 3) the learners: obedient, determined, patient, strong motivation, never giving up, well mannered, humble, and respecting teachers; and 5) methods: dialogic, modelling, democratic, and advicing

    PANDANGAN AL-GHAZALI MENGENAI PENDIDIKAN AKLIAH (Tinjauan Teoretis dan Filosofis)

    Full text link
    Bahasa Indonesia:Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan Al-Ghazali mengenai pendidikan akliah dalam Islam. Dalam pandangannya, Islam memberikan penghargaan yang tinggi terhadap akal. Banyak dari ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang menganjurkan dan mendorong manusia untuk mempergunakan akalnya dan banyak berpikir guna mengembangkan intelektualnya. Merujuk kepada ayat-ayat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat berbagai kata seperti dabbara, naz{ara, faqiha, tafakkara, ‘aqala, Al-Ghazali mengkaitkan kegunaan akal dengan kekuatan daya pikirnya. Pendekatan yang digunakan berbasis teoritis dan filosofis, dengan merujuk kepada ayat Qur’an yang berkaitan dengan keunggulan akal dalam skala makro berpikir manusia, serta pendapat para tokoh. Hasil dari pembahasan didapatkan, bahwa akallah yang menemukan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan yang dalam tahap selanjutnya dapat memperkokoh keimanan, keyakinan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Akal adalah sumber ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan yang dipergunakan untuk menciptakan alat-alat yang berguna dan menghadapi problem-problem manusia. Al-Ghazali menghendaki perkembangan akal, disamping ingin menjauhkan manusia dari manusia yang individualis, materialis dan pragmatis. Beliau menghendaki adanya keseimbangan antara kemajuan akal dan penghayatan spiritual, keseimbangan antara kegunaan dan kebenaran, sehingga pendidikan yang dicapai tidak hanya memiliki, tetapi juga memuat azas tanggung jawab kepada Tuhan, pencipta akal.English:This article aims to describe the view of Al-Ghazali on the nonsensical education in Islam. Al-Ghazali argues that Islam gives high appreciation of reason. Many of the verse of the Qur'an and the Hadith of the Prophet who was advocate and encourage people to use their minds and a lot of thinking to develop intellectually. Referring to the verses of the Qur'an in which there are various words such as dabbara, naz{ara, faqiha, tafakkara, ‘aqala, Al-Ghazali linking usability sense with the power of thought. The approach based on the theoretical and philosophic, with reference to the Qur'anic verses related to the sense of excellence in the macro-scale human thought, and scholars opinion. The conclution of this article, intellect which find cues science in the later stage can strengthen faith, belief and devotion to God Almighty. Intellect is the source of science, technology and culture which are used to create tools that are useful and faced with the problems of man. Al-Ghazali requires the development of reason, in addition to want to keep people from the man individualist, materialist and pragmatic. He calls for a balance between progress and appreciation of spiritual sense, a balance between usability and truth, then education is achieved not only have, but also includes the principle of responsibility to God, the creator of sense.

    MENAKAR EFEKTIFITAS PROGRAM AFLATOUN DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

    Full text link
    Bahasa Indonesia:Program Aflatoun adalah program pendidikan sosial dan finansial untuk anak. Lembaga ini berfokus pada pembelajaran tentang tanggung jawab sosial dan pendidikan finansial yang diselenggarakan dalam lingkup pendidikan formal dan non-formal.  Tujuan utama pembelajarannya adalah membangun hak dan tanggung jawab yang memungkinkan individu untuk mengembangkan komunitas mereka dengan  teliti. Program ini menginspirasi anak memberdayakan diri  secara sosial dan finansial untuk menjadi agen perubahan dalam kehidupan mereka sendiri dan dunia yang lebih adil. Dengan demikian, Aflatoun berusaha mewujudkan anak  untuk menjadi inspirasi bagi lingkungannya. Aflatoun merupakan sebuah organisasi non-pemerintah lintas negara yang memberikan perhatian besar kepada pendidikan anak melalui organisasi-organisasi non-profit di dunia. Di Indonesia, program ini dilaksanakan oleh Lekdis Nusantara yang aktif menyelenggarakan sosialisasi dan pelatihan/workshop aflatoun di berbagai daerah. Penelitian ini akan melihat manfaat dan tawaran apa saja yang diberikan untuk menumbuh kembangkan pendidikan ke arah yang lebih baik. Sehingga, program ini dapat diterima sebagai salah satu alternatif dalam memberikan solusi berbagai isu pendidikan yang kian kompleks. English:Aflatoun is a social and financial education program for children. The program focuses on social responsibility and financial education which is organized in both formal and non-formal education. The main purpose of learning is to establish rights and responsibilities to enable individuals in developing their communities. This program inspires children to socially and financially develop themselves in order to be agents of change in their own lives and better world. In other words, Aflatoun promotes children as the inspiration for their environment. Aflatoun is a transnational non-governmental organization which pays a great attention to children education via non-profit organization in the world. In Indonesia, the program is implemented by Lekdis Nusantara and actively organizes socialization, training, and workshops in various under represented areas. This study examines benefits and opportunities given to cultivate education to a better direction. Thus, this program can be accepted as an alternative way in providing solutions for increasingly complex issues in education

    MANUSIA DALAM KONTEKS PEDAGOGIS

    Full text link
    Secara pedagogis, manusia dipahami sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT untuk dididik dan mendidik. Oleh karena itu manusia itu sebagai subjek (pelaku) dan objek (sasaran) daripada pendidikan itu sendiri. Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan dan kepekaan luar biasa. Melalui pendidikan manusia dapat mengasah perasaan dan mencapai ilmu pengetahuan, melalui ilmu pengetahuan manusia dapat menciptakan sebuah kebudayaan. Oleh karena ilmunya, manusia menjadi orang yang mengetahui. Oleh karena banyaknya pengetahuan yang dimiliki manusia, maka iapun menjadi banyak dibutuhkan oleh manusia-manusia lain. Ketika manusia banyak dibutuhkan oleh manusia-manusia lain, maka posisinya pun menjadi terhormat. Kehormatannya akan mencapai derajat yang tinggi –baik di sisi Allah SWT maupun di sisi makhluk-Nya- apabila disertai dengan keimanan dan amal shaleh

    106

    full texts

    145

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇