Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Not a member yet
    145 research outputs found

    ULAMA’ DAN KONTESTASI PENGETAHUAN DALAM SUDUT PANDANG AL QUR’ĀN

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Ulama` merupakan predikat psikologis proses mental dan tujuan, penguasaan data konkret dan ketercapaian hakekat pengetahuan universal. Artikel merespon beberapa pertanyaan epistemologis tentang ulama, seperti asal muasal ilmu seorang ulama, peranan ilmu, cara memperoleh pengetahuan, dan tolok ukur keilmuan. Temuan dari tulisan ini adalah, pertama, ‘Ulamā` dalam Islam dipandang sebagai suatu representasi makna dari individu atau golongan yang bergelut dalam aktifitas mental-spiritual, guna mampu mengenal, membedakan, menilai dan menyimpulkan makna pokok dari realitas, bentuk, mode, kuantitas, substansi dan esensi sesuatu. Kedua, Untuk dapat, dikatakan ‘ulamā` seseorang harus memiliki kualifikasi yang sangat ketat. Ketiga, proses seorang ‘ulama` untuk mendapatkan kesimpulan melewati tahap persepsi oleh persepsi sensoris kemudian disalurkan kepada persepsi mental. Keempat, dengan segala kualifikasi, instrumen dan klasifikasi pengetahuannya seorang ulama’ dituntut mampu menjangkau dimensi-dimensi universal, permanen, personal, spiritual dari tujuan pendidikan dan organisasi ilmu pengetahuan serta mampu merealisasikannya dalam segala aspek partikular, sosial dan segala aspek lainnya hingga menjadi insān kāmil. English:Abstract:‘Ulamā` is a psychological predicate of mentality processes and purposes, mastering concrete information and achieving the essence of universal knowledge. This article responds several epistemological questions about ulama, such as their source of knowledge, functions of the knowledge, how to get the knowledge, and their standards of knowledge. Findings of this paper are, first of all, ‘Ulamā` in Islamic perspective is individual or group representation who deal with mental-spiritual activities in purpose of identifying, distinguishing, evaluating, and concluding the essence of reality, formats, modes, quantity, substance, and essence of a thing. Second, therefore, in order to get a predicate of ‘Ulamā`, one must have a very st frict qualification. Third, ‘Ulamā` gain their knowledge from thr step of sensory perception towards mental steps. Last, with qualification that one has, instruments and classification of knowledge belongs to ‘Ulamā` must reach universal, permanent, personal, and spiritual dimensions of aims of education and knowledge structure to realize it in all particular, social, and other aspects to achieve the state of insān kāmil

    REDESAIN PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM TOLERAN DAN PLURALIS DI PONDOK PESANTREN (Studi Konstruktivisme Sikap Kiai dan Sistem Nilai di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo)

    Get PDF
     Bahasa Indonesia:Sebagaimana telah jamak diketahui bahwa salah satu bagian dari pesantren adalah nilai-nilai atau sikap pendirian dari seorang kiai yang sangat dominan dalam membentuk identitas santrinya. Nilai-nilai tersebut tidaklah cukup disampaikan secara jalur penyampaian pengajaran lisan, tetapi juga harus diaktualisasikan, didesain ulang, dan diimplementasikan dalam ruang proses yang lebih luas. Artikel ini membahas tentang pencapaian dibalik penanaman nilai, pemodelan dan indoktrinasi dalam pesantren, utamanya dalam hal pendirian kiai dalam sikap toleransi dan keberagaman budaya. Pondok Pesantren Nurul Jadid menjadi subjek dalam penelitian ini. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi di lapangan, data yang didapatkan dianalisa dalam bingkai kerja teori konstruktivisme Peter L. Berger. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pondok Pesantren Nurul Jadid membangun nilai-nilai toleransi dan penghargaan keberagaman budaya melalui pandangan sufisme dan disampaikan melalui pemodelan pandangan kiai dalam aktifitas sehari-hari dan kejadian-kejadian yang tidak direncanakan.English:It is the fact that one of ubiquitous element of pesantren is kiai’s dominant values or stance in developing santri’s identity. Those values is not enough merely delivered in oral transmission, but those have to be actualized, redesigned, and reimplemented in wider social contexts. This article deals with the achievement beyond the cultivation of values, modelling, and indoctrination inside pesantren, specifically in terms of kiai’s stances towards tolerance and multiculturalism. Pondok Pesantren Nurul Jadid becomes the subject of this research. Approached by phenomenological field work, collected data is analized within Peter L. Berger constructivism framework. This study shows that Pondok Pesantren Nurul Jadid constructs values of tolerance and multiculturalism through sufism views which is delivered through modelling by kiai in daily routines and accidental cases

    Pendidikan Spiritual Berbasis Tarekat bagi Pecandu Narkoba (Studi Kasus di Pondok Pesantren As-Stressiyah Darul Ubudiyah Sejati Sejomulyo Juwana Pati)

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Tulisan ini bermaksud untuk memberikan gambaran tentang pelaksanaan pendidikan spiritual berbasis tarekat bagi pecandu narkoba di Pondok Pesantren As-Stressiyah Darul Ubudiyah Sejati Sejomulyo Juwana Pati. Rumusan masalah dalam tulisan ini difokuskan pada dua masalah, yaitu bagaimana pelaksanaan pendidikan spiritual berbasis tarekat bagi pecandu narkoba di Pondok As-Setressiyah Darul Ubudiyah Sejati dan apa faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendidikan spiritual berbasis tarekat bagi pecandu narkoba di Pondok As-Setressiyah Darul Ubudiyah Sejati. Tulisan ini merupakan hasil penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Pengumpulan data menggunakan teknik partisipant observation, wawancara, dan dokumentasi. Sampel sumber data ditentukan secara purposive dan menggunakan teknik snowball. Adapun teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Analisis dimulai semenjak di lapangan dan dilakukan secara interaktif dan terus menerus hingga tuntas. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa beberapa  amalan tarekat ternyata relevan untuk diterapkan dalam pelaksanaan pendidikan spiritual bagi pecandu narkoba. Amalan-amalan tarekat tersebut antara lain: Taubat, Mana>qiban, Doa, Dhikir, Tas}awwur al-Shaikh, dan Riya>d}ah. English:This paper intends to provide an overview of the implementation of tarekat-based spiritual education for drug addicts at Pesantren As-Stressiyah Darul Ubudiyah Sejati Sejomulyo Juwana Pati. The formulation of the problem focuses on two issues, how the implementation of tarekat-based spiritual education for drug addicts in Pondok As-Setressiyah Darul Ubudiyah Sejati and what are the supporting factors and inhibiting the implementation of tarekat-based spiritual education for drug addicts in Pondok As-Setressiyah Darul Ubudiyah Sejati. This paper is a result of a qualitative research using case study method. In collecting the data, this research used participatory techniques, interviews, and documentation. The sample data source was determined purposively and used the snowball technique. The analysis technique used is descriptive qualitative analysis with phenomenology approach. The analysis begins in the field and is done interactively and continuously until being completed. The result of this research shows that some tarekat practices are relevant to be applied in the implementation of spiritual education for drug addicts. The orders of the tarekat are: Taubat, Mana>qiban, Prayer, Dhikir, Tas}awwur al-Shaykh, and Riya>d}ah

    Kompetensi Keagamaan Mahasiswa Prodi PAI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel Surabaya (Analisis Perbandingan Penerimaan Jalur SPAN, UM PTKIN dan Jalur Mandiri Tahun 2016)

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Realita menunjukkan bahwa ada sebagian mahasiswa Prodi PAI FTK UIN Sunan Ampel Surabaya penguasaan kompetensi keagamaannya kurang memadai, terutama dalam baca tulis al-Qur’a>n dan al-H}adi>th, baik yang diterima melalui jalur SPAN, UM PTKIN maupun jalur Mandiri. Dengan demikian, timbul kekhawatiran atas kesenjangan antara masukan dan harapan keluaran Prodi PAI yang mencetak calon guru PAI yang profesional. Penelitian deskriptif kuantitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologi evaluatif. Hasil analisis menggunakan One Way Anova menunjukkan Fhitung = 44,88 dan uji T dengan thitung =  9,433. Apabila Fhitung = 44,88 dikonfirmasi dengan nilai Ftabel, baik menggunakan taraf signifikansi 5% dan 1%, maka Fhitung> Ftabel (3,44 < 44,88 > 4,88). Apabila thitung =  9,433 dikonfirmasi dengan nilai ttabel, baik menggunakan taraf signifikansi 5% dan 1%, maka thitung> ttabel (1,665 < 9,433 > 2,376), menunjukkan ada persamaan dan perbedaan yang signifikan kompetensi keagamaan mahasiswa Prodi PAI FTK UINSA, baik jalur SPAN, UM PTKIN maupun Mandiri. Persamaannya, pertama nilai rata-rata kompetensi keagamaan pada masing-masing jalur penerimaan terletak pada nilai A- s/d A (9,18 s/d 10,49); kedua, Studi H}adi>th sebagai mata kuliah keagamaan dengan nilai terendah. Perbedaannya, nilai tertinggi jalur SPAN dan UM PTKIN ditempati oleh Aqidah Ilmu Kalam, sedangkan nilai tertinggi pada jalur mandiri ditempati oleh Fiqih Ibadah. English:It is the fact that mastery of Islamic Religious Subjects by some new students at Islamic Education Department of UIN Sunan Ampel Surabaya is not yet satisfying, especially in reading al-Qur'a>n and al-H}adi>th, by those admitted through SPAN, UM PTKIN or Jalur Mandiri (institutional test). Thus, there is an apprehension about quality disparity between the input and expected output of Islamic education teacher training program to result in professional teachers. This descriptive quantitative research uses an evaluative phenomenology approach. Based on the results of the analysis using One Way Anova, obtained F-count = 44,88 and T-test, which yield t-count = 9,433. If F-count= 44.88 is confirmed against F-table score, using both the 5% and 1% significance levels, then F-count > F-table (3.44 <44,88> 4.88). If t-count = 9,433 is confirmed with t-table value, using 5% and 1% significance level, then t-count > t-table (1,665 <9,433> 2,376), shows there are similarities and significant differences of religious competence of students of Islamic education teacher training of UINSA admitted through SPAN, UM PTKIN and Jalur Mandiri. The similarities is, first, the average score of religious competence in every entry test model lies in the A- and A (9.18 to 10.49); second, in average students experienced H}adi>th studies in the training process with as the lowest grade. The difference is that the students admitted through the SPAN and UM PTKIN modes achieved high score in Aqidah Ilmu Kalam during the training, while those coming from Jalur Mandiri are strong in Fiqh Ibadah (Fiqih 1)

    Telaah Komparatif Pengarusutamaan Gender dalam Pendidikan Islam di Saudi Arabia, Mesir, Malaysia, dan Indonesia

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Artikel ini menganalisis pengarusutamaan gender ditinjau dari perspektif perbandingan pendidikan bagi perempuan di beberapa negara Asia dan Afrika, di mana kondisinya memiliki persamaan dalam konstruksi sosiokultur, dan pengaruh interpretasi keagamaan yang dijadikan instrumen legitimasi superioritas laki-laki sangat tampak. Hal ini mempengaruhi ruang gerak perempuan pada wilayah publik, termasuk hak untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Penelitian ini adalah analisis komparatif tentang konstruksi sosial tentang perbedaan gender yang melahirkan ketidakadilan (gender inequalities) di Indonesia, Malaysia, Mesir dan Saudi Arabia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mulanya di beberapa negara di Asia (termasuk Indonesia) masih terjadi domestifikasi dan subordinasi pada perempuan, yang mana hal tersebut dibatasi dengan interpretasi agama yang selektif dan tradisional, sehingga mereka tidak mudah mengenyam pendidikan. Namun, dalam perkembangannya, terjadi peningkatan dalam keterlibatan perempuan di bidang pendidikan melalui pengarusutamaan gender oleh pemerintah dalam mengembangkan sumber daya manusia di beberapa negara tersebut. Regulasi-regulasi yang telah ditetapkan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam masalah ketidaksetaraan gender yang terjadi. Pengarusutamaan gender merupakan bagian dari strategi pembangunan manusia yang terkorelasi dengan pendidikan Islam. Di Indonesia, hal yang menjadi perhatian Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia adalah dengan menetapkan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Madrasah. English:This article examines gender-mainstreaming effort from a perspective of comparative women education in several Asian and African countries, in which the countries have common socioculture condition and religious interpretation positioning male superiority over female. This situation affects female’s roles in public sphere, including female’s rights in pursuing higher degree of education. This study comparatively analyzes social contruction giving birth to gender inequalities in Indonesia, Malaysia, Egypt, and Saudi Arabia. The result of this study indicates several Asian countries (including Indonesia), at the beginning, experienced domestification and subordination of women due to traditional and selective religious interpretation, resulting difficulties to access to education for women. However, in its development, women has been increasingly involved in education through gender mainstreaming efforts by governments in order to develop human capacity in the countries. Several regulations indicates government’s serious efforts in solving the gender inequalities issues. This gender mainstreaming effort has become a part of human development strategy intergrated in Islamic education. In Indonesia, this issue got attention from Minister of Women Empowerment and Children Protection by issuing Ministry regulation No 11 of year 2010 regarding the Principality of Gender Mainstreaming in Madrasah

    Rekontekstualisasi Sejarah: Kontribusi Lembaga Pendidikan Islam terhadap Dakwah Rasulullah SAW

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Tulisan ini mencoba menyelami kesuksesan Nabi Muhammad SAW dalam merangkai ajaran-ajaran Islam menjadi satu kesatuan yang utuh lewat pendidikan. Selama kurun 23 tahun Islam sudah menjadi ajaran yang mapan penuh dengan rahasia keilmuan, sehingga Islam dijuluki sebagai agama yang rahmatallil’alamin. Dengan pendekatan studi pustaka, penelitian ini memaparkan keberhasilan Nabi SAW dalam menyampaikan risalah kenabian yang sangat didukung oleh tempat-tempat yang representatif dalam mengajarkan pada waktu itu. Tempat-tempat yang dimaksud telah mengalami akulturasi budaya sebelum datangnya isalm dan terus berkembang bersamaan kedatangan Islam itu sendiri. Mengenai tempat yang berakultrasi dengan Islam adalah kuttab dan rumah, sementara yang tumbuh bersama dengan Islam itu sendiri adalah masjid dan suffah. Keempat lembaga pendidikan Islam yang disebutkan menjadi saluran utama yang digunakan Nabi SAW dalam mendidik para sahabatnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang peduli dengan pendidikan dan sangat fleksibel terhadap kondisi dan situasi bagaimana agar proses pendidikan itu dapat berjalan. Kontribusi lembaga pendidikan Islam selain mampu menciptakan perubahan mendasar dalam konteks keagamaan dan kehidupan sosial juga menjadikan Islam sebagai agama yang terbuka (inkulsif) terhadap perubahan sosial selama tidak bertetangan dengan aqidah. English: This paper attempts to examine the success of Prophet Muhmmad PBUH in arranging Islamic teachings into a set through education. Within 23 years, Islam emerged into an established teaching and full of hidden knowledge, making Islam gets predicate of blessing for the universe. Through literary study, this research explains the success of the prophet in delivering prophetic messages with support of representative teaching places at the period. The places acculturated with the coming of Islam and keep growing along with the development of Islam. Kuttab and house has acculturated with Islam and Mosques and Suffah have grown together with Islam. The four kind of places became main channels for the prophet PBUH in educating his companions. Therefore, it can be concluded that Islam is a religion with high education concerns and quite flexible towards condition and situation where the educational process takes place. Islamic educational institution is not only creating fundamental change in religious and social life, but also making Islam as an inclusive religion to social changes as long as the changes are not contradictory to Islamic faith.

    ETIKA BELAJAR DALAM KITAB TA’LIM AL-MUTA’ALLIM

    No full text
    BAHASA INDONESIA:Tulisan ini bermaksud mengulas tentang teori belajar dalam kitab Ta’lim al-Mut’allim yang dikarang oleh Imam Zarnuji. Kitab Ta’lim al-Mut’allim sangat mengedepankan aspek moral dalam proses belajar mengajar. Moralitas harus dimiliki pendidik dan peserta didik. Dalm Ta’lim al-Muta’allim sangat diagagungkan ilmu agama yang berorientasi untuk kepentingan kehidupan di akhirat. Kitab ini juga menyatakan bahwa setiap peserta didik harus memiliki sikap yang terpuji, antara lain: 1. Memuliakan pendidik, 2. Mengagungkan ilmu, 3. Menghormati Teman dan Bersikap Asih, 4. Bersikap Wira’i, 5. Penuh dengan Sikap Tawakkal, 6. Menghadap Kiblat ketika Belajar. Corak pemikiran pembelajaran dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim bersifat mistik-sufistik. Artinya, sangat mengedepankan aspek spiritual atau moral kepada Allah SWT. ENGLISH:This research discusses about learning theory on Ta’lim Al-Muta’allim book written by Imam Zarnuji. Ta’lim Al-Muta’allim book prioritizes moral aspect in teaching and learning process. The morality should be implemented by both educators and learners. Ta’lim Al-Muta’allim book has the focus on theology that orientates to the importance of life in hereafter. This book also explains that the learners should implement admirable attitude, they are: 1. Honoring the educators, 2. Honoring the science, 3. Respecting and loving the mates, 4. Implementing Wira’i, 5. Implementing Tawakkal, 6. Facing the west (direction)  if the learners study. The complexity of learning thought on Ta’lim Al-Muta’allim book has mystical-sufistical characteristic that means prioritizing spiritual or moral aspect to Allah

    PROGRESIVISME JOHN DEWEY DAN PENDIDIKAN PARTISIPATIF PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

    No full text
    BAHASA INDONESIA:Artikel ini berisi tentang konsep pendidikan partisipatif yang dikaitkan dengan konsep progresivisme pendidikan John Dewey, dan kemudian dikaji dalam perspektif pendidikan Islam. Konsep pendidikan partisipatif dalam progresivisme pendidikan John Dewey merupakan konsep pendidikan yang mengacu pada teori-teori John Dewey yang berpijak pada asas-asas progresivitas. Asas progresivitas berprinsip pada sikap optimistis dalam memandang kemajuan peserta didik dalam proses pendidikannya. Konsep progresivisme pendidikan John Dewey yang megandung asas pendidikan partisipatif dalam pandangan pendidikan Islam bisa dipertegas: bahwa terdapat beberapa aspek kesesuaian (terutama dalam hal kemanfaatan yang bersifat duniawi), dan terdapat banyak aspek perbedaan yang sangat prinsip (terutama mengenai hal-hal yang bersifat metafisik-spiritual). Dengan demikian, ketika akan menerapkan asas partisipatif dalam konsep pendidikan Dewey di dalam kehidupan umat Islam, perlu difilter terlebih dahulu dengan kacamata nilai-nilai Islam. Apabila tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka perlu diterapkan; namun apabila bertentangan dengan nilai-nilai Islam, maka tidak perlu diterapkan (cukup dijadikan pengetahuan saja). ENGLISH:This article discusses about participative education related to education progressivism concept by John Dewey, and then it is examined on Islamic studies perception. Participative education concept on John Dewey’s education progressivism is education concept that refers to John Dewey’s theories that bring up progressive principles. The progressive principles base on optimistic attitude on viewing the progress of learners’ learning process. The education progressivism concept by John Dewey contains participative education principles; it can be strengthened on Islamic education view that there are some compatibility aspects (especially in worldly usefulness), and there are many differences based on principles (especially in metaphysic-spiritual thing). Therefore, when Muslims will implement participative principles on Dewey’s educational concept in their life, they need to filter it based on Islamic views. If it does not contradict to Islamic views, it should be implemented on their life. Nevertheless, if it opposes Islamic views, it should not be implemented on their life (it is enough for them to know it as knowledge)

    UPAYA KEPALA SEKOLAH SEBAGAI INOVATOR DALAM MENINGKATKAN KINERJANYA DI SD TARBIYATUL ATHFAL

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa permasalahan yang berkaitan dengan upaya kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan kinerjanya, yaitu: (1) Bagaimana upaya kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan kinerjanya di SD Tarbiyatul Athfal Surabaya?, (2) Apa faktor pendukung  upaya  kepala sekolah sebagai inovator meningkatkan kinerjanya di SD Tarbiyatul Athfal Surabaya?, (3) Apa faktor penghambat upaya kepala sekolah sebagai inovator meningkatkan kinerjanya di SD Tarbiyatul Athfal Surabaya? Permasalahan diatas dijawab melalui kajian penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif dan metode pengumpulan data: obeservasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan: 1. Upaya kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan kinerjanya di Sekolah Dasar Tarbiyatul Athfal Surabaya, yaitu: a. Mengikutsertakan para pendidik dalam penataran-penataran, b. Memberikan kesempatan kepada pendidik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, c. Berusaha menggerakkan tim evaluasi hasil belajar, d. Menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah, e. Membimbing dan mengembangkan  pendidik, f. Membimbing tenaga kependidikan, g. Membimbing peserta didik, h. Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi dan seni, dan i. Memberi contoh model pembelajaran dan bimbingan konseling yang baik; 2. Faktor pendukung upaya kepala sekolah sebagai inovator  dalam meningkatkan kinerjanya  di Sekolah Dasar Tarbiyatul Athfal Surabaya, yaitu: a. Kepala sekolah yang profesional, b. Motivasi pendidik tinggi, c. Motivasi belajar peserta didik tinggi; 3. Faktor penghambat upaya kepala sekolah sebagai inovator dalam meningkatkan kinerjanya di Sekolah Dasar Tarbiyatul Athfal Surabaya, yaitu: a. Sarana prasarana kurang memadai, b. Metode mengajar yang kurang variatif, c. Lingkungan kelas untuk pembelajaran model PAKEM belum maksimal

    SUMBER BELAJAR DALAM TEORI PANCARAN (TELAAH FILOSOFIS TENTANG PENDIDIKAN)

    No full text
    Secara luas sumber belajar merupakan pengalaman hidup yang bersifat empirik, rasional dan spiritual. Pengalaman hidup empirik didapat dari insteraksi seseorang dengan lingkungan material dan sosial, dan yang rasional dari  melalui premis-premis yang dapat dipikirkan secara logis; sedangkan yang spiritual merupakan emanasi dari wujud wajib melalui akal aktif kepada Akal Mustafad. Akal yang beroperasi pada level supra mental ini memancarkan pengetahuan  yang berupa bentuk tertentu kepada seseorang, karena ada kecenderungan jiwa manusia yang suci berhubungan dengan akal ini. Siapapun yang dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan akal  ini, maka ia akan mengenal atau mengetahui hakikat dari sesuatu

    106

    full texts

    145

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇