Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Not a member yet
    145 research outputs found

    Pesantren dan Upaya Menangkal Tumbuhnya Radikalisme: Analisis Gagasan KH. Marzuki Mustamar

    Full text link
    This study aims to examine the ideas of one prominent Nahdlatul Ulama (NU) figure, the leader of Pesantren Sabilurrosyad Malang named KH Marzuki Mustamar, about efforts to counteract the growth of radicalism in pesantren. Through the analysis of the interview, this study found that the most important thing in preventing the growth of radicalism in pesantren is the ability of the teacher or Kyai to contextualize the values ​​of Islamic teachings with the real context of life in the learning process. Through this ability, the students will know and understand that Islamic teachings are truly relevant to life and are able to bring benefits to all mankind. In this case, the teacher or Kyai can do in several ways: First, selecting materials or books that have moderate views based on ahlussunnah school, and reinterpreting the materials or books that are not in accordance with the Indonesian context. Second, instilling the values ​​of monotheism and human values ​​in the students in a balanced manner. Third, providing examples oftolerant behavior in society. Fourth, accustoming the students to be tolerant through direct practice to live in the community.Studi ini bertujuan untuk meneliti gagasan-gagasan seorang tokoh terkemuka Nahdlatul Ulama (NU), pimpinan Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang yaitu KH Marzuki Mustamar tentang upaya menangkal tumbuhnya paham radikalisme pada pondok pesantren. Melalui analisa hasil wawancara, penelitian ini menemukan bahwa yang terpenting dalam upaya menangkal tumbuhnya paham radikalisme di pesantren adalah kemampuan para kyai atau pengasuh pesantren dalam mengontekstualisasikan nilai-nilai ajaran Islam dengan konteks kehidupan yang ada dalam proses pembelajarannya. Melalui kemampuan ini, para santri akan menjadi tahu dan memahami bahwa ajaran Islam benar-benar relevan dengan kehidupan dan mampu membawa kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Dalam hal ini, para kyai atau para pengasuh pesantren bisa melakukannya melalui beberapa cara: pertama, memilih materi-materi atau kitab-kitab yang berpandangan moderat yaitu yang berpaham ahlussunnah, dan menafsirkan ulang terhadap materi-materi atau kitab-kitab yang tidak sesuai dengan konteks keindonesiaan. Kedua menanamkan kepada para santri nilai-nilai ketauhidan dan nilai-nilai kemanusiaan secara seimbang, ketiga, memberikan keteladanan dalam berperilaku toleran di masyarakat. Keempat membiasakan para santri berperilaku toleran melalui praktek langsung berbaur dengan masyarakat

    Keberlangsungan Pendidikan Agama Anak Petani Garam: Analisis Tingkat Ketahanan Keluarga pada Petani Garam di Kabupaten Pamekasan Madura

    Full text link
    Education is one of the instruments in realizing family resilience in supporting national development. For the Madurese community in general, religious education has very strong roots. This research was conducted in order to identify the level of family resilience through religious education, which functions as a measurable and structured aspect of family welfare for salt farmers. This qualitative research uses interviews, observation and documentation as data collection instruments. The results showed that the level of family resilience from the economic, social and cultural side shows the Resistance index for the whole family, on the other hand, for single families it shows the index of less resistance, this also has an impact on the sustainability of Islamic religious education for children in salt farmer families; namely family expectations, availability of sources and internalization of religious values in the life of whole families and single families. For nuclear families, the fulfillment of the variable of family resilience development has a role in supporting the continuity of religious education for children, such as the facilities and attention that leads to the emergence of children's habits within the scope of salt farming families.Pendidikan menjadi salah satu instrumen dalam mewujudkan ketahanan keluarga dalam mendukung pembangunan nasional. Bagi masyarakat Madura secara umum, pendidikan agama memiliki akar yang sangat kuat. Penelitian ini dilakukan dalam rangka identifikasi tingkat ketahanan keluarga melalui pendidikan agama yang berfungsi sebagai salah satu aspek pendukung kesejahteraan keluarga bagi petani garam yang terukur dan terstruktur. Penelitian kualitatif ini menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi sebagai instrument pengumpul datanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketahanan keluarga dari sisi ekonomi, sosial dan budaya menunjukkan indeks Tahan bagi keluarga utuh, sebaliknya untuk keluarga tunggal menunjukkan indeks kurang Tahan, hal ini juga berdampak pada keberlangsungan pada pendidikan agama Islam bagi anak pada keluarga petani garam, pada tiga aspek; yakni harapan keluarga, ketersediaan sumber dan internalisasi nilai agama dalam kehidupan keluarga utuh dan keluarga tunggal. Bagi keluarga utuh, terpenuhinya variabel pembangunan ketahanan keluarga memiliki peran dalam mendukung keberlangsungan pendidikan agama bagi anak, seperti pada fasilitas dan perhatian yang mengarah pada munculnya kebiasaan anak dalam lingkup keluarga petani garam

    Evaluasi Kurikulum Pembelajaran Berbasis Kebutuhan Masyarakat: Studi pada Program Sarjana Hukum Ekonomi Syariah

    Full text link
    There are only few numbers of Islamic Economic Law program graduates that have been absorbed as industry practitioners. One of main focus for educational providers is the inadequate curriculum to support its graduates to get involved at any legal profession. Various studies related to the involvement of industry practitioners in curriculum development that are able to increase the absorption of alumni as practitioners are important starting points. This study seeks to solve problems related to what courses are required in a curriculum in order to be able to equip alumni with sufficient competencies. By using the ANP method which requires an industry expert as a respondent, we try to solve this problem. The number of respondents whose opinions were extracted was 10 consisting of practitioners of the legal profession, Islamic financial institutions and professional associations. The results of this study indicate that Legal Competence is the main highlight of the experts. Then Basic Arabic, Financial Statement Analysis, Fatwa Studies, Arbitration and Professional Ethics in the Law became the most important focus for additional courses outside the competencies agreed upon by the entire campus. As for the graduate profile, the most relevant based on the courses offered is Judges. Finally, the development that needs to be done to produce these graduates is Class Lectures.Jumlah alumni program studi Hukum Ekonomi Syariah belum terlalu banyak yang dapat terserap sebagai praktisi industri. Salah satu faktor yang kemudian menjadi sorotan utama bagi lembaga penyedia pendidikan adalah kurikulum yang belum mampu menunjang alumninya untuk bisa terjun di profesi hukum. Berbagai penelitian terkait keterlibatan praktisi industri dalam pengembangan kurikulum yang mampu menambah daya serap alumni sebagai praktisi menjadi titik tolak penting. Penelitian ini berusaha untuk menyelesaikan masalah terkait apa saja mata kuliah yang dibutuhkan dalam sebuah kurikulum agar mampu membekali alumni dengan kompetensi yang cukup. Dengan menggunakan metode ANP yang mensyaratkan pakar sebagai responden, kami berusaha menyelesaikan persoalan tersebut. Jumlah responden yang digali opininya adalah 10 yang terdiri dari praktisi profesi hukum, lembaga keuangan syariah serta asosiasi profesi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kompetensi Hukum adalah sorotan utama dari para pakar. Kemudian Bahasa Arab Dasar, Analisa Laporan Keuangan, Kajian Fatwa, Arbitrase serta Etika Profesi Hukum menjadi fokus terpenting untuk mata kuliah tambahan di luar kompetensi yang disepakati seluruh kampus. Kemudian untuk profil lulusan yang paling relevan dari 5 rumpun mata kuliah yang ada adalah Hakim. Terakhir, pengembangan yang perlu dilakukan untuk menghasilkan para lulusan tersebut adalah Perkuliahan

    Religious Education Practices in Pesantren: Charismatic Kyai Leadership in Academic and Social Activities

    Full text link
    This study investigates religious education practices through Kyai leadership characteristics as the caregiver as well as a decision-maker in pesantren. qualitative data are gathered through documentation, observation, and interview at Pesantren Bina Insani, Yogyakarta. The education at Pesantren Bina Insani has been well known as community-based education, derived from the aspirations of the community, and to meet their interests. As a community-based educational institution, the Pesantren is very dependent upon the initiative and charisma of the Kyai as the leader. The results demonstrate that Kyai Teguh’s charismatic leadership characteristics have turned into unwritten standards for people under his influence in managing the Pesantren and developing their social skills. From leadership theory perspective, Kyai Teguh’s characteristics are the rational grounds for his followers in terms of decision making, wok-ethics, and social interactions.Penelitian ini mengungkap praktik pendidikan agama melalui karakteristik  kepemimpinan Kyai sebagai pengambil keputusan sekaligus pengasuh di pesantren. Data penelitian kualitatif ini diperoleh melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara di Pesantren Bina Insani Yogyakarta. Pendidikan di pesantren Bina Insani selama ini dikenal sebagai pendidikan berbasis masyarakat yang bersumber dari aspirasi masyarakat, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sebagai lembaga pendidikan berbasis masyarakat, pesantren sangat bergantung pada inisiatif dan karisma kyai yang menjadi pemimpinnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik kepemimpinan karismatik Kyai Teguh menjadi tolok ukur tidak tertulis bagi pihak-pihak di bawah naungannya dalam mengelola pesantren dan dalam mengembangkan kecakapan sosial. Dalam perspektif teori kepemimpinan, sosok Kyai Teguh telah menjadi landasan rasional bagi pengikutnya dalam pengambilan keputusan, etos kerja, dan pola interaksi sosial

    Quo Vadis Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada Soal UM-PTKIN Materi Pendidikan Agama Islam

    Full text link
    Human resource input in higher education is required to have high order thinking skills (HOTS) which includes the ability to analyze, evaluate and create material. Thus, the existence of the college entrance test is one of the important instruments in selecting human resources. This article aims to explore the HOTS map on the Entrance Examination for State Islamic Religious Higher Education (UM-PTKIN) in the material of Islamic Religious Education (PAI) in 2018 and the comparison of HOTS levels in the PAI material group examination. This article is also supported by the results of a literature review. The results of the study show that the UM-PTKIN item on PAI material spreads in the HOTS category and low-level thinking skills (LOTS). Akidah Akhlak Subject is the largest contributor and Al-Quran-Hadith as the lowest contributor to the HOTS category questions. The Islamic Religious Education Study Program (PAI) is a study program that is in great demand and its graduates are highly awaited to be able to sow Islamic understanding to answer various social, political and religious challenges in Indonesia. This article provides recommendations for UM-PTKIN policy makers to be able to increase the number of HOTS question compositions in subsequent selections in order to improve the quality of PAI student input in the following periods.Input sumber daya manusia di perguruan tinggi dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills, HOTS) yang meliputi kemampuan menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi materi. Dengan demikian, keberadaan tes masuk perguruan tinggi menjadi salah satu intrumen penting dalam melakukan seleksi sumber daya manusia. Artikel ini bertujuan  mengeksplorasi peta HOTS pada soal Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) materi Pendidikan Agama Islam (PAI) tahun 2018 dan perbandingan tingkat HOTS pada soal kelompok materi ujian PAI. Artikel ini juga didukung oleh hasil kajian kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa item soal UM-PTKIN materi PAI berada pada kategori HOTS dan kemampuan berpikir tingkat rendah (Low Order Thinking Skill, LOTS). Materi Akidah Akhlak menjadi penyumbang terbanyak dan Al-Quran Hadith sebagai penyumbang paling sedikit pada soal kategori HOTS. Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah prodi yang sangat diminati sekaligus lulusannya sangat dinanti untuk dapat menyemai pemahaman keislaman untuk menjawab berbagai tantangan sosial, politik, dan keagamaan di Indonesia. Artikel ini memberikan rekomendasi bagi pemangku kebijakan UM-PTKIN untuk dapat meningkatkan jumlah komposisi soal HOTS dalam seleksi-seleksi selanjutnya agar dapat meningkatkan kualitas input mahasiswa PAI di periode-periode berikutnya

    Taktik Bertahan Pemuda Minoritas: Perlawanan Diam dan Mimikri Pemuda Aboge di Lembaga Pendidikan

    Full text link
    This article reveals that in responding to the religious discrimination against them while studying at educational institutions, Aboge youths fight back. Instead of being silent and accepting of being the target of heresy labeling in schools, madrasas, campuses, and pesantren, Aboge youths develop various survival tactics and respond to the issues by engaging in mimicry and silent resistance. First, they perform mimicry in multiple identities, between NU and Aboge. Second, they pretend that they are menstruating to camouflage at pesantren but then secretly praying and starting the Aboge-style Ramadan fast on the next day. Third, they preten to do Sunnah worship to impress the next day they start the “obligatory fast” of Ramadan together with the majority. This paper is based upon a qualitative study employing in-depth interview and places the mimicry of Homi K. Bhabha and James C. Scott's silent resistance as theory, and the post-colonial as an approach. The results of this study founds that young Aboge who studied in the midst of the Muhammadiyah campus, they apparently are not becoming subordinate. They carried out mimicry by taking Muhammadiyah as the ordinate identity and utilizing the in-between space to survive. Apparently, the ordinate created a new space by constructing artificial identity towards the Aboge by defining them as NU community. This working paper produces an important finding in post-colonial studies, namely a third space that is different from the in-between space offered by Homi K. Bhabha. This third space is a new identity space that does not adopt identities of the colonizer nor the colonized, because the Aboge borrowed NU identity to perform mimicry when facing the ordinate.Artikel ini mengungkap bahwa dalam merespons diskriminasi beragama yang menimpanya selama belajar di lembaga pendidikan, pemuda Aboge tak menerimanya dengan pasrah. Alih-alih diam dan menerima menjadi sasaran labeling heresy di lembaga pendidikan, pemuda Aboge mengembangkan beragam survival tactics dan meresponsnya dengan melakukan mimikri dan perlawanan diam. Bentuknya, pertama, melakukan mimikri dalam multiple identity, antara NU dan Aboge. Kedua, berpura-pura sedang menstruasi sebagai bentuk kamuflase di pesantren namun diam-diam salat dan baru memulai puasa Ramadan ala Aboge keesokan harinya. Ketiga, berpura-pura melakukan ibadah sunah untuk mengesankan keesokan harinya dirinya telah mulai “puasa wajib” Ramadan bersama mayoritas. Artikel ini adalah hasil penelitian kualitatif dengan teknik wawancara mendalam yang menempatkan mimikri Homi K. Bhabha dan perlawanan diam James C. Scott sebagai teori, dan pos kolonial sebagai pendekatan. Hasil studi ini mengungkap bahwa meski salah seorang pemuda Aboge belajar di tengah lanskap komunitas ordinat kampus Muhammadiyah, ia tak menjadi obyek subordinat. Mereka melakukan kamuflase dengan mimikri menggunakan identitas ordinat Muhammadiyah serta memanfaatkan in-between space untuk dapat survive. Nampaknya, pemuda Aboge justru menciptakan ruang baru dengan mengkonstruksi identitas lain secara artifisial, yakni mimikri dengan identitas NU sebagai taktik bertahan. Kertas kerja ini menghasilkan sebuah implikasi penting dalam studi poskolonial, yakni ruang ketiga yang berbeda dengan in-between space yang ditawarkan Homi K. Bhabha. Ruang ketiga yang diciptakan pemuda Aboge adalah ruang identitas baru yang tak mengadopsi identitas kultural penjajah dan terjajah, karena pemuda Aboge meminjam identitas NU untuk melakukan mimikri saat menghadapi sang ordinat

    Dinamika Kaum LGBT, Pendidikan Keislaman, dan Sikap Kemanusiaan: Studi Fenomenologi di Perguruan Tinggi di Malang

    Full text link
    This research aims to comprehend and discover the construction of actiontowards LGBT students at a university in Malang. Next, this research focuses upon the accommodative-persuasive attitude, which is influenced by humanism, of the academic community towards LGBT students. For that reason, this study employs phenomenological approach to acquire substantive meaning within the dynamics of LGBT students. This study suggests that LGBT is formed not only form naturally (essentialism), but also through social environment (social constructionism). Apart from the two major views upon how LGBT is developed, the academic communities do not legitimize any treatments against LGBT students under rationale that LGBT community is less than God’s creation. The academic communities have been attempting to “realign” the LGBT students to their nature. They believe that LGBT students have the fundamental rights as God’s creation (as in line with other human being) and those rights must get attention from all elements of academic communities.Riset ini memiliki tujuan untuk memahami dan menemukan konstruksi tindakan humanis terhadap mahasiswa LGBT di sebuah perguruan tinggi di Malang. Selanjutnya, penelitian ini berfokus pada sikap akomodatif-persuasif sivitas akademika terhadap mahasiswa LGBT yang dibentuk oleh nilai-nilai pendidikan humanis. Karenanya, riset ini menggunakan pendekatan fenomenologi agar memperoleh makna substantif dalam dinamika mahasiswa LGBT. Riset ini menemukan bahwa perilaku mahasiswa LGBT terbentuk tidak hanya oleh fakta adi kodrati (aliran esensialisme), tetapi ia juga dibentuk lingkungan masyarakat (aliran konstruksionisme sosial). Aspek-aspek apapun yang membentuk mereka tidak menjadikan sivitas akademika melegitimasi untuk tidak memperlakukan mahasiswa LGBT sebagai makhluk Tuhan. Bahkan mereka mengupayakan untuk meluruskan kembali fitrah kemanusiaan mahasiswa LGBT. Mereka menganggap para mahasiswa tersebut memiliki hak-hak dasar sebagai makhluk Tuhan (sebagaimana manusia lainnya) dan hak-hak tersebut perlu dipenuhi oleh segenap lapisan masyarakat akademik

    Islam dan Multikulturalisme: Urgensi, Transformasi, dan Implementasi dalam Pendidikan Formal

    Full text link
    The current development of society demonstrates openness in evaluating various aspects of life, including understanding towards religious matter. In another side, this fact turns into a challenge because some people, especially some Muslims, are still exclusive. Responding to the challenge, Islam as a set of universal principle should operate in providing solutions through its views upon the essence of multiculturalism. This paper examines theoretically the factual reality of multiculturalism in Indonesia, how Islam positions multiculturalism, and views for educational institutions in developing multiculturalism perspectives to grow inclusive attitudes in society. The results of the study show that the multiculturalism facts in Indonesia cannot be neglegted and must be maintained  and developed by promoting tolerance and justice. In Islamic perspectives, multiculturalism is a fact that is often found in the al-Qur’an and Hadith as well as in the historical records of the Prophet’s life. Through educational channels, the perspective of multiculturalism can be disseminated to develop a society that respects the value and practice of the multiculturalism itself.Perkembangan masyarakat saat ini menunjukkan keterbukaan dalam menilai berbagai aspek kehidupan termasuk dalam pemahaman keagamaan. Hal ini menjadi tantangan karena selama ini sebagian masyarakat, khususnya sebagian umat Islam, masih memiliki sikap eksklusif. Menjawab tantangan tersebut, Islam sebagai ajaran universal berperan penting memberikan solusi melalui ajaran-ajarannya tentang esensi dasar multikulturalisme. Tulisan ini mengkaji secara teoritik kenyataan faktual multikulturalisme di Indonesia, bagaimana Islam memposisikan multikulturalisme, dan pandangan bagi lembaga pendidikan dalam mengembangkan perspektif multikulturalisme untuk tumbuhnya dan sikap inklusif di tengah masyarakat. Hasil kajian menunjukkan bahwa fakta multikulturalisme bangsa Indonesia merupakan suatu keniscayaan untuk dipelihara dan dikembangkan keberlangsungannya dengan mengedepankan sikap toleransi dan keadilan. Dalam perspektif Islam, multikulturalisme adalah fakta yang banyak ditemui pada al-Quran dan Hadits dan pada fakta historis kehidupan Nabi sendiri. Melalui saluran pendidikan, perspektif multikulturalisme dapat disemai untuk mengembangkan mengembangkan masyarakat yang menghargai nilai dan praktis kemajemukan itu sendiri

    Dimensi Post-Tradisionalisme Islam dalam Madrasah: Konvergensi Turāth Islam dan Modernitas Barat

    Full text link
    The contemporary Islamic thought was preoccupied with the conflict between the tradition (al-turāth) and the modernity (al-hadāthah). In the midst of this polemic, there is a stream of Islamic Post-Traditionalism in post-reformation Indonesia that offers a cultural transformation without leaving behind the culture itself. This article aims to describe the format of Islamic Post-Traditionalism in the the school culture of Madrasah Aliyah Unggulan Darul ‘Ulum STEP-2 Kemenag RI-IDB Jombang and its implications for the madrasa curriculum formulation. The research method uses a qualitative-phenomenological approach by collecting data through semi-structured interviews, participatory observations, and documentations. The results of this study shows that there are elements of the authenticity (al-aṣālah) and the present (al-mu’āṣirah) in the madrasah culture indicating the continuity of tradition within transformation. This has implications for the formulation of the madrasa curriculum that based on the principle of the conservation and the hybridization, so students can follow the development in the modern world without leaving behind their own traditions.Pemikiran Islam kontemporer banyak disibukkan oleh konflik antara tradisi (al-turāth) dan modernitas (al-hadāthah). Di tengah polemik ini, terdapat arus pemikiran Post-Tradisionalisme Islam di Indonesia di era pasca-reformasi yang menawarkan transformasi tradisi tanpa meninggalkan nilai dasar tradisi itu sendiri. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan format Post-Tradisionalisme Islam dalam kultur pendidikan agama Islam di Madrasah Aliyah Unggulan Darul ‘Ulum STEP-2 Kemenag RI-IDB Jombang dan implikasinya terhadap formulasi kurikulum madrasahnya. Metode penelitiannya menggunakan pendekatan kualitatif-fenomenologis dengan pengumpulan data melalui wawancara semi-terstruktur, pengamatan berperan-serta, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kultur pendidikan agama Islam di madrasah ini terdapat unsur otentisitas (al-aṣālah) dan kekinian (al-mu’āṣirah) yang mana keduanya mengindikasikan adanya aspek kontinuitas dan transformasi tradisi. Hal ini berimplikasi pada perumusan kurikulum madrasah yang didasarkan pada prinsip konservasi dan hibridasi, sehingga para siswa dapat mengikuti perkembangan dunia modern tanpa tercerabut dari akar tradisi mereka sendiri

    Kajian Sosial Kepesantrenan dalam Bingkai Varian Teori Praktis: Sebuah Refleksi

    Full text link
    As an Islamic educational institution rooted in the history and culture of the archipelago, Pesantren have become the object of academic discourse within social sciences. Within various diverse social arrangements, pesantren have distinctive dimensions that distinguish one pesantren from another. Some of the objects of pesantren social studies include the social relationship between the pesantren and the community outside the pesantren, pedagogy in the educational process, and social changes as the impact of the presence of pesantren and their own elements. This article discusses the framing of social phenomena related to pesantren within the framework of Bourdieu and Giddens' theory of practices, which notably have different approach on structuration. Bourdieu applies structuration through power and Giddens through in the knowledgeability. The use of these two structuration paradigms can shed light on the preservation and changes in agent’s control. However, only conscious phenomena can be framed. Unconscious phenomena apparently cannot be framed in structuration and require assistance from other scientific disciplines, such as psychological anthropology, to explain the phenomena scientifically.Sebagai lembaga Pendidikan Islam yang berakar pada sejarah dan budaya nusantara, pesantren telah menjadi objek diskursus akademik dalam bingkai ilmu-ilmu sosial. Di berbagai seting sosial yang beragam, pesantren memiliki berbagai dimensi khasnya yang menjadikan ciri pembeda antara satu pesantren dan yang lainnya. Beberapa diantara objek kajian sosial kepesantrenan meliputi hubungan sosial antara pesantren dan lingkungan masyarakat di luar pesantren, pedagogi dalam proses pendidikannya, dan perubahan sosial akibat dari keberadaan pesantren dan elemen-elemennya itu sendiri. Artikel ini membahas pembingkaian fenomena sosial kepesantrenan dalam kerangka teori praktis Bourdieu dan Giddens yang notabene memiliki pendekatan strukturasi yang berbeda. Bourdieu menerapkan strukturasi dalam pendekatan kuasa (power) dan Giddens dalam pendekatan pengetahuan (knowledgeability). Penggunaan kedua paradigma strukturasi ini dapat memberikan penjelasan proses preservasi dan perubahan dalam institusi pesantren dalam kendali agen. Namun demikian, hanya fenomena sadar (conscious phenomena) yang dapat dibingkai. Fenomena tak sadar (unconscious phenomena) rupanya tidak dapat dibingkai dalam strukturasi dan memerlukan bantuan dari disiplin pengetahun yang lain, seperti antropologi psikologis, untuk dapat menjelaskan fenomena secara ilmiah

    106

    full texts

    145

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇