Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Not a member yet
    145 research outputs found

    Starting from Kerbung and Ending in Pesantren: The Analysis of the Track Record of the Emergence of Pesantren in Lombok

    Full text link
    The people of Lombok have recognized the term of Kerbung prior than Pesantren (Islamic Boarding School). Kerbung was the Islamic boarding school (hereafter pesantren) of Lombok’s Society. However, both Kerbung and Pesantren are Islamic educational institutions rooted in the history and culture of Indonesia. The track record of the emergence of Pesantren in Lombok was associated with the revival of Islam in the late 19th century. It was marked by the growth of recitation centers, as can be found in Pagutan, Kediri, Batubangka Sakra, Praya, Sesela, Sekarbela and Tanjung (East Lombok). Besides, more than 2000 intellectual works of Lombok's Muslims were also found at that time. Some of these manuscripts were used as references by the tuan guru for their students. This research is field research with a qualitative paradigm. This study found that the track record of the emergence of pesantren in Lombok was an integration of the Islamic educational system in Lombok, Java and the Middle East. However, the emergence of pesantren in Lombok was inseparable from the founding fathers of the pesantren itself.Masyarakat Lombok lebih dahulu mengenal istilah kerbung dibandingkan pesantren.Kerbung merupakan pesantrennya masyarakat Lombok. Walaupun demikian baik kerbung maupun pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang berakar pada sejarah dan budaya nusantara. Namun pesantren di Lombok belum diketahui secara pasti tentang rekam jejak kelahirannya. Berangkat dari kegelisahan akademik tersebut, maka pertanyaan yang ingin dijawab oleh penulis adalah “bagaimana rekam jejak kelahiran pesantren di Lombok?” Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan menggunakan beberapa pendekatan seperti, pilologi dan sejarah, pendekatan kebudayaan serta pendekatan sosiologi. Penelitian ini menggambarkan bahwa kelahiran pesantren di Lombok ada hubungannya dengan kebangkitan Islam di akhir abad ke-19, ditandai dengan pertumbuhan pusat-pusat pengajian seperti, di Pagutan, di Kediri, di Sajra, di Praya, di Sesela, di Sekarbela dan di Tanjung Lombok Timur. Disamping itu, telah ditemukan lebih dari 2000-an karya intelektual muslim masyarakat Lombok kala itu. Naskah-naskah tersebut sebagian dijadikan sebagai referensi oleh para tuan guru untuk mengajar para santrinya. Dengan demikian rekam jejak kelahiran pesantren di Lombok merupakan perpaduan dari sistem pendidikan Islam Lombok, sistem pendidikan pesantren di Jawa dan sistem pendidikan Timur Tengah. Perpaduan sistem tersebut tidak bisa dipisahkan dari founding fathers pesantren di Lombok

    Integration of Sufism Values into the Curriculum of Islamic Religious Education Subject in Junior High School

    Full text link
    Sufism is a self awareness, a spiritual vibration, a trajectory in the heart, a whisper of conscience, a feeling of longing that is difficult to express in words. Sufism needs to be integrated in the curriculum of Islamic Religious Education (PAI) as it can affect the process of shaping students' attitudes, behaviors and characters. This article explains the importance of Sufism values combined with PAI materials. Through a literature review of the Junior High School (SMP) Islamic Religious Education books for grades VII-IX, using a content analysis approach, it was found that the PAI materials in general were still textual in nature, and lacked the insertion of Sufism values. Hence, it is urgent to integrate Sufism values into the Islamic Education curriculum, especially at the junior high school level because junior high school students are prone to experiencing moral crises and the process of searching for identity. Gradually, the steps of Sufism which need to be carried out in delivering the PAI materials in junior high school are takhalli (cleansing oneself from bad qualities), tahalli (filling the heart with good qualities), and tajalli (opening of divine light that permeate into oneself). The integration of Sufism values into the Islamic Education curriculum can shape students’ good attitudes and behaviors. Thus, learning PAI material becomes more effective in shaping noble morals for students.Tasawuf merupakan keadaan diri, getaran spiritual, lintasan hati, bisikan nurani, rasa kerinduan yang sulit diungkap dengan kata-kata. Tasawuf perlu diintegrasikan dalam kurikulm pendidikan agama Islam (PAI), karena dapat berpengaruh pada proses pembentukan sikap, perilaku dan karakter siswa. Artikel ini menjelaskan tentang pentingnya nilai-nilai tasawuf dipadukan dengan materi-materi PAI. Melalui kajian literatur terhadap buku-buku PAI Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas VII-IX, dengan pendekatan analisis isi, didapati bahwa materi-materi PAI secara umum masih bersifat tekstual, dan kurang sisipan nilai-nilai tasawuf-nya. Sehingga urgen untuk melakukan integrasi nilai-nilai tasawuf ke dalam kurikulum PAI, terutama di level SMP, karena siswa SMP berada pada fase usia yang mudah mengalami krisis moral dan proses pencarian jati diri. Secara gradual, tahapan tasawuf yang perlu dilakukan dalam pemberian materi-materi PAI di SMP adalah takhalli (membersihkan diri dari sifat-sifat buruk), tahalli (mengisi hati dengan sifat-sifat baik), dan tajalli (terbukanya nur ilahi yang meresap ke dalam diri). Integrasi nilai-nilai tasawuf ke dalam kurikulum PAI dapat membentuk sikap dan perilaku yang baik pada diri siswa. Dengan demikian, pembelajaran materi PAI menjadi lebih efektif dalam pembentukan akhlak yang mulia bagi siswa

    Projecting the Mobility of School Teachers of Islamic Subject From Indonesia to Malaysia, Brunei Darussalam, and Thailand in the Era of Asean Free Market

    Full text link
    This article deals with mapping of teacher’s competence for Islamic religious subject in facing ASEAN Economic Community. Since the free market has launched in 2015, ASEAN countries will transform to be a region in which goods, services, skilled workers and capital can move freely. It means that all skilled workers, including teachers of Islamic subjects, have the same access to get a good job suitable with their competence in ASEAN countries. To prepare such skilled workers, it is very important to understand and to map the competences standard of Islamic religious teacher set up by Islamic education institutions (schools) in ASEAN countries.We conclude that there are at least two basic competences and five additional competences required. Two basic competences are mastery of Islamic teachings (theology and law) and good command in Arabic, both written and spoken (muhadathah). While five additional competences are mastering local languages (Malay and Thai); English; writing and reading Malay-Arabic script (Arab-Jawi);performing Islamic rituals with a special reference to Shafi‘i’s school of thought; and computer literacy. To compete and to fulfill the demand of the above competences, it is needed to make sure that the implementation of the curriculum of Islamic Education Department in the Faculty of Islamic Education in Indonesian Islamic higher education has been going well, and to adopt as well as to change it as long as in line with the competences needed.Artikel ini membahas tentang pemetaan kompetensi guru agama Islam dalam menghadapi Komunitas Ekonomi ASEAN. Sejak pasar bebas diluncurkan pada tahun 2015, negara-negara ASEAN akan bertransformasi menjadi kawasan dimana barang, jasa, para pekerja terampil dan modal dapat bergerak secara bebas yang artinya seluruh pekerja terampil termasuk guru-guru mata pelajaran agama Islam memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh pekerjaan yang layak sesuai dengan kompetensi mereka di negara-negara ASEAN.  Untuk mempersiapkan hal tersebut, sangat penting untuk memahami dan memetakan standar kompetensi dari guru agama Islam yang diadakan oleh lembaga atau sekolah berbasis pendidikan Islam di negara-negara ASEAN. Kami menyimpulkan bahwa setidaknya ada dua dasar kompetensi dan lima kompetensi tambahan yang dibutuhkan. Adapun dua dasar kompetensi tersebut adalah pemahaman ajaran Islam (Teologi dan Hukum) dan penguasaan Bahasa Arab yang baik baik lisan maupun tulisan (muhadathah). Sedangkan lima kompetensi tambahan meliputi penguasaan bahasa lokal atau bahasa daerah (Bahasa Melayu dan Bahasa Thai); Bahasa Inggris; menulis dan membaca naskah dalam Bahasa Melayu dan Arab (Arab-Jawi); melakukan upacara keagamaan Islam dengan menggunakan referensi khusus dari Sekolah Pemikiran Shafi, dan kecakapan dalam penggunaan komputer. Untuk memenuhi tuntutankompetensi diatas, dibutuhkan untuk memastikan bahwa implementasi kurikulum dari Program Studi Pendidikan Agama Islam di pendidikan tinggi berjalan dengan baik dan untuk memakai dan mengubahnya selama sesuai dengan kompetensi yang diperlukan

    The Influence of Organizational Culture on the Performance of Madrasah Tsanawiyah Teachers in the City of Padang

    Full text link
    This study aims to determine and describe the influence of organizational culture on the performance of Madrasah teachers in Padang City. An open organizational climate is a healthy climate and is highly coveted by teachers. The condition of the school organizational climate is still not good if there are still frequent conflicts between teachers and miscommunication between teachers and principals, employees with teachers, and employees with principals, so that the organizational climate of this school needs to be researched in the hope of improving the existing climate in the school. schools and can improve teacher performance better. Teacher performance is the most important input in the implementation of education. A person's performance is influenced by several direct and indirect factors. Direct factors that affect a person's performance such as individual, organizational, and psychological factors. Teacher performance as a set of teacher abilities to carry out their duties and functions as well as their responsibilities to improve student learning achievement. Based on the results of research and data analysis, it can be concluded that organizational culture significantly influences the performance of madrasa teachers. The low achievement and learning outcomes of madrasah students are caused by the low performance of madrasah teachers and is still below the minimum standard. This is because the average teacher performance in planning, implementing, and evaluating learning is still below the minimum performance standard.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja guru Madrasah di Kota Padang. Iklim organisasi yang terbuka merupakan iklim yang sehat dan sangat didambakan oleh para guru. Kondisi iklim organisasi sekolah masih kurang baik jika masih sering terjadi konflik antara guru dan miskomunikasi antara guru dengan kepala sekolah, pegawai dengan guru, dan pegawai dengan kepala sekolah, sehingga iklim organisasi sekolah ini perlu diteliti dengan harapan memperbaiki iklim yang ada di sekolah. Sekolah dan dapat meningkatkan kinerja guru dengan lebih baik. Kinerja guru merupakan input terpenting dalam penyelenggaraan pendidikan. Kinerja seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor langsung dan tidak langsung. Faktor langsung yang mempengaruhi kinerja seseorang seperti faktor individu, organisasi, dan psikologis. Kinerja guru sebagai seperangkat kemampuan guru untuk melaksanakan tugas dan fungsinya serta tanggung jawabnya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru madrasah. Rendahnya prestasi dan hasil belajar siswa madrasah disebabkan oleh rendahnya kinerja guru madrasah dan masih di bawah standar minimal. Hal ini dikarenakan rata-rata kinerja guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran masih di bawah standar kinerja minimal

    Pesantren and the Economic Development in the Perspective of Maqashid Al-Shari’ah

    Full text link
    Modernization to deliver the process in diversifying the socio-economic role of pesantren is undeniable things. Consequently, pesantren must take immediate action if they want to maintain their role and function. In this context, this article wants to describe the widespread mandate of a pesantren in Jember, namely Pesantren Nurul Qornain (PNQ), those takes part –not only empowerment in the field of education- but also play role in the development of economic enterprises. This is then reviewed in the perspective of maqashid al-shari’ah (the purpose of shari’a). Throughout qualitative study, this article explains that pesantren alumni and local society involved in the management of PNQ economic enterprises. Some of developed business unit in the area of agriculture, trading, animal farm, plantation, and mining. Furthermore, the main factor behind PNQ in managing economic enterprises is pesantren sovereignty. It is initiated by kiai (the leader of pesantren). According to him, pesantren can develop rapidly if they sovereign in all aspects. This sovereignty is interpreted as economic sovereignty. However, economic development is as determining factor in supporting the existence of pesantren. Additionally, the development of economic enterprises carries out by PNQ in line with the value of hifdhul maal (the maintenance of property). Hence, it is prospective benefits if it can be replicated by Islamic educational institution nowadays.Modernisasi yang menghasilkan proses diversifikasi peran sosial-ekonomi pesantren adalah sesuatu yang tidak dapat disangkal. Oleh sebab itu, pesantren harus segera mengambil tindakan jika ingin mempertahankan peran dan fungsinya. Dalam konteks ini, artikel ini berupaya mendeskripsikan perluasan mandat (widening mandate) sebuah pesantren di Jember, yaitu Pesantren Nurul Qornain (PNQ), yang berkiprah – selain dalam hal pemberdayaan di bidang pendidikan – juga berperan dalam pengembangan usaha ekonomi. Hal ini kemudian ditinjau dalam perspektif maqashid al-shari’ah (tujuan shari’at). Melalui kajian kualitatif, artikel ini menjelaskan bahwa pengelolaan usaha ekonomi PNQ dilakukan dengan melibatkan alumni pesantren dan masyarakat lokal. Beberapa unit usaha yang dikembangkan bergerak di bidang pertanian, perdagangan, peternakan, perkebunan, pertambangan. Faktor utama yang melatari PNQ dalam mengelola usaha ekonomi adalah kemandirian pesantren. Gagasan kemandirian pesantren diinisiasi oleh kiai (pengasuh pesantren). Menurutnya, pesantren dapat berkembang pesat apabila mandiri dan berdaulat dalam segala hal. Kemandirian ini oleh pengasuh pesantren ditafsirkan dengan kemandirian ekonomi. Bagaimanapun, pengembangan ekonomi menjadi faktor determinan dalam menopang eksistensi pesantren itu sendiri. Kontribusi PNQ bagi pemberdayaan ekonomi dirasakan oleh pesantren, santri, alumni santri, dan masyarakat. Dalam perspektif maqashid al-shari’ah, pengembangan usaha ekonomi yang dilakukan PNQ sejalan dengan nilai hifdhul maal (pemeliharaan harta), dan ini bersifat prospektif jika dapat direplikasi oleh lembaga pendidikan Islam dewasa ini

    Ismuba Curriculum: the Effort to Prevent Intolerance within Muhammadiyah High School Students

    Full text link
    ISMUBA is an acronym of al-Islam, Muhammadiyan, and Arabic teaching, is a combination of compulsory subjects that are the peculiarities and advantages of Muhammadiyah schools-madrasahs compared to other schools-madrasahs. The ISMUBA curriculum follows the level of education from elementary to high school. Related to the rise of social phenomena that linked to deviations in the application of Islamic religious teachings in Indonesian society, one of which became a polemic, namely intolerance, the existence of ISMUBA became significant to review. This is because Muhammadiyah has more than a thousand high school-level schools-madrasah spread throughout Indonesia, so it is worth exploring how the ISMBA curriculum affects learning about tolerance for adolescents. The research method used in this research is a qualitative method with a literature review approach. Literature review in this study using integrative reviews Baumeister & Leary. The results of this study show that the ISMUBA curriculum has contained material related to tolerance and invitations to appreciate the differences that Allah Swt. has created, but the arguments that support this issue still need to be added. For example, the main proposition used in the learning of tolerance, refers to verses 10 and 12 of Surat al-Hujurat, but does not include verse 11. This makes the explanation of the aspects that students should avoid in order to be tolerant less comprehensive.ISMUBA merupakan akronim dari al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab, merupakan gabungan mata pelajaran wajib yang menjadi kekhasan sekaligus keunggulan sekolah-madrasah Muhammadiyah dibandingkan sekolah-madrasah lainnya. Kurikulum ISMUBA mengikuti jenjang pendidikan dari sekolah dasar hingga menengah atas. Terkait maraknya fenomena sosial yang berkaitan penyimpangan dalam penerapan ajaran agama Islam di tengah masyarakat Indonesia, satu di antaranya yang menjadi polemik yaitu intoleransi, keberadaan ISMUBA menjadi signifikan untuk ditinjau. Hal ini dikarenakan Muhammadiyah memiliki lebih dari seribu sekolah-madrasah setingkat SMA yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, sehingga patut ditelusuri bagaimana kurikulum ISMBA berpengaruh pada pembelajaran tentang toleransi bagi usia remaja. Metode riset yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan literature review. Literature review di dalam penelitian ini menggunakan integrative reviews Baumeister & Leary. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum ISMUBA telah memuat materi terkait toleransi dan ajakan untuk menghargai perbedaan yang telah diciptakan Allah Swt., tetapi dalil-dalil yang mendukung isu ini masih perlu ditambahkan. Contohnya pada dalil utama yang digunakan pada pembelajaran toleransi, merujuk pada ayat 10 dan 12 Surat al-Hujurat, tetapi tidak mengikutsertakan ayat 11. Hal ini membuat penjelasan tentang aspek-aspek yang harus dihindari siswa untuk menjadi toleran kurang komprehensif

    Al-Qur'an as a Source of Knowledge in Islamic Education and Its Relevance to the Curriculum Development

    Full text link
    Al-Qur’an is the source of everything, because it is used as a guide in the life of Muslims, including in the Islamic education system by making the Al-Qur'an a source of knowledge (inspiration). In line with this, the form of developing an Islamic education curriculum should also make the Al-Qur'an the main basis for producing superior human beings. This study aims to examine the Al-Qur'an as a source of knowledge in education, as well as explore its relevance in the development of Islamic education curriculum. This study uses a qualitative research model by conducting a literature study. The data was collected from the verses of the Al-Qur'an with the maudhu'i interpretation method. The results of this study found the relevance between the objectives of the educational curriculum and the development of the Islamic education curriculum through the verses; 1) QS. al-'Alaq: 1-5 which implies that students can acquire knowledge continuously through reading (literacy), both written and unwritten; 2) QS. al-Baqarah: 31 suggests that through teaching, students can gain a variety of knowledge so that they are worthy of being a leader; 3) QS. al-Nah}l: 78 suggests, by honing abilities and skills through hearing, seeing, and the heart (the three capitals possessed by humans), students can hone their abilities and skills; 4) QS. Luqma>n: 13-19 hints at the importance of practicing morals in life for students by ordering prayer, enforcing amar ma'ruf nahi munkar, not being arrogant, and polite when communicating.Al-Qur’an merupakan sumber dari segala sesuatu, karena dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan umat Islam, termasuk dalam sistem pendidikan Islam dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu (inspirasi). Sejalan dengan ini, maka bentuk pengembangan kurikulum pendidikan Islam semestinya juga menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan utama guna melahirkan manusia yang unggul. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dalam pendidikan, sekaligus menelusuri relevansinya dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan model penelitian kualitatif dengan melakukan studi kepustakaan. Data-data dikumpulkan dari ayat-ayat Al-Qur’an dengan metode tafsir maudhu’i. Hasil dari penelitian ini didapatkan relevansi antara tujuan kurikulum pendidikan dengan pengembangan kurikulum pendidikan Islam melalui ayat-ayat; 1) QS. Al-‘Alaq: 1-5 yang menyiratkan peserta didik dapat memperoleh ilmu secara terus menerus melalui membaca (literasi), baik yang tertulis maupun tidak; 2) QS. al-Baqarah: 31 mengisyarahkan melalui pengajaran, peserta didik dapat memperoleh berbagai pengetahuan sehingga ia layak menjadi seorang pemimpin; 3) QS. al-Nah}l: 78 mengisyarahkan, dengan mengasah kemampuan dan ketrampilan melalui mendengar, melihat, dan hati (tiga modal yang dimiliki manusia), peserta didik dapat mengasah kemampuan dan ketrampilannya; 4) QS. Luqma>n: 13-19 mengisyarahkan pentingnya pengamalan akhlak dalam kehidupan bagi peserta didik dengan memerintahkan shalat, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, tidak bersikap sombong, dan sopan saat berkomunikasi

    Eksplorasi Nilai-nilai Kesetaraan dalam Pendidikan Pesantren Mu’ādalah

    Full text link
    One of the values ​​of Islamic moderation is equality. Equality in education is very important to ensure a just education process (equity) and equality. The Mu'ādalah pesantren is an exclusive educational unit, with an education system that is autonomous, independent and different from schools, madrasahs or other types of pesantren. This study aims to explore the values ​​and practices of equality in Mu'ādalah pesantren inclusively. With an ethnographic research, Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep was chosen as the research locus. This research found that, Al-Amien pesantren is not only an institutionally equal Mu'ādalah Islamic Boarding School, but also has substance and practical equality itself. Spiritual values, integration of Islam and Indonesianness, and the implementation of local pesantren culture in institutional practices justify the essence of the equality of mu'ādalah pesantren vis-a-vis other educational institutions.Salah satu nilai moderasi Islam adalah kesetaraan. Kesetaraan dalam pendidikan menjadi sangat penting untuk memastikan proses pendidikan yang berkeadilan (equity) dan berkesetaraan (equality). Pesantren Mu’ādalah adalah satuan pendidikan yang ekslusif, dengan sistem pendidikan yang otonom, mandiri dan berbeda baik dengan sekolah, madrasah atau pesantren lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi nilai dan praktik kesetaraan dalam pendidikan Pesantren Mu’ādalah secara inklusif.  Dengan pendekatan penelitian etnografi, Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep dipilih sebagai lokus penelitian. Penelitian ini menemukan bahwa, Pesantren Al-Amien tidak hanya menjadi Pesantren Mu’ādalah yang setara secara institusional, tetapi juga memiliki substansi dan praktis kesetaraan itu sendiri. Nilai-nilai spiritual, integrasi keislaman dan keindonesiaan, dan implementasi budaya lokal pesantren dalam praktik kelembagaan memberikan justifikasi esensi kesetaraan pesantren mu’ādalah dengan lembaga pendidikan lainnya

    Pesantren dan Multikulturalisme di Madura: Adaptasi Nilai Multikultural dalam Menciptakan Kerukunan Masyarakat Multi Etnis dan Agama

    Full text link
    The harmony of multi-ethnic and religious communities in an area is always interesting to discuss because it can provide solutions to conflict-affected areas. This phenomenological study aims to analyze the adaptation process of multicultural values carried out by Pesantren Miftahul Qulub in building social harmony in multi-ethnic and religious village of Polagan, Pamekasan, Madura. This phenomenological research demonstrates that multicultural adaptation goes through local culture, moderate school of thoughts, outreach, and social capital. Some of these approaches are the actualization and dissemination of Islamic values and Nahdhatul Ulama (NU) spirit that makes pesantren so easily accepted and mingles within multicultural communities. Seen from a pedagogical perspective, Pesantren Miftahul Qulub emphasizes the community-based learning process. Therefore, this concept can be a reflection for other pesantren, that the curriculum and academic culture must be adapted to the needs of a diverse, dynamic and developing society.Kerukunan masyarakat multi etnis dan agama di satu daerah selalu menarik untuk dibahas, karena dapat memberikan solusi kepada daerah sejenis yang masih berkonflik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses adaptasi nilai-nilai multikultural yang dilakukan Pesantren Miftahul Qulub dalam menciptakan kerukunan masyarakat multi etnis dan agama di desa Polagan Pamekasan Madura. Penelitian fenomenologis ini menemukan bahwa proses adaptasi nilai multikultural dilakukan melalui pendekatan tradisi kemasyarakatan, mazhab moderat, dakwah, dan modal sosial. Beberapa pendekatan tersebut merupakan aktualisasi dari pembudayaan nilai keislaman dan jiwa Nahdhatul Ulama (NU), sehingga membuat pesantren begitu mudah diterima dan membaur dengan masyarakat multikultur. Dilihat dari kaca mata pedagogis, pesantren Miftahul Qulub menekankan proses pembelajaran berbasis masyarakat. Oleh sebab itu, konsep tersebut dapat menjadi refleksi bagi lembaga lain adalah kurikulum dan budaya akademik harus diadaptasi dengan kebutuhan masyarakat yang beragam, dinamis dan berkembang

    Pengarusutamaan Nilai-nilai Sufisme dalam Pendidikan Islam Indonesia Kontemporer

    Full text link
    This article reexamines and rediscusses the importance of the dimensions of Sufism virtues ​​as the foundational spirit of Indonesian Islamic education today amidst its social dynamics. This article is based on participatory research on psudo-Sufism, namely the Shalawat Adlimiyah located in districts of Bojonegoro and Pasuruan. Findings show that the Sufism dimension is effective in reducing moral decadence and strengthening character education. The teacher-student relationship as the core of Sufism teachings is the entry point as well as a capital for the processes of shaping personality and morality, both of which are the essential in character education. This practice has occurred for hundreds of years in the tradition of Sufism education and is still ongoing today. One of its representations is through Sufism education in the circles of Shalawat Adlimiyah. This paper suggests that mainstreaming Sufism values into the practice of Islamic education is urgently needed in addressing the problems of contemporary Indonesian Islamic education.Artikel ini menelaah dan mendiskusikan kembali arti penting dimensi nilai-nilai sufisme sebagai ruh dasar bagi pendidikan Islam Indonesia dewasa ini di tengah berbagai problematika sosialnya. Tulisan yang didasarkan atas riset partisipatoris pada psudo-sufi, yakni Majelis Shalawat Adlimiyah di Bojonegoro dan Pasuruan. Temuan menunjukkan efektifitas dimensi sufisme dalam mereduksi dekadensi moral di satu sisi dan menguatkan pendidikan karakter di sisi lain. Relasi guru-murid sebagai inti ajaran sufisme menjadi titik masuk sekaligus modal bagi proses-proses pembentukan kepribadian dan akhlaq yang keduanya merupakan essensi dari pendidikan karakter. Praktik demikian ini telah terjadi selama ratusan tahun dalam tradisi pendidikan sufisme dan masih berjalan hingga saat ini. Salah satu representasinya melalui pendidikan sufisme dalam Majelis Shalawat Adlimiyah. Tulisan ini menyarankan bahwa kebutuhan melakukan pengarusutamaan nilai-nilai sufisme ke dalam pendidikan Islam menjadi kebutuhan mendesak dalam menjawab problematika pendidikan Islam Indonesia kontemporer

    106

    full texts

    145

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇