Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Not a member yet
    145 research outputs found

    KONSEP PENDIDIKAN IMAM ZARNUJI DAN PAULO FREIRE

    No full text
    Tulisan ini bermaksud mengkaji konsep pendidikan Imam Zarnuji dan Paulo Freire. Mengkaji pemikiran pendidikan Imam Zarnuji dan Paulo Freire memang amat menarik, karena keduanya memiliki kekuatan masing-masing. Imam Zarnuji merupakan seorang filosof muslim dalam hal pendidikan yang ide-idenya kental dengan pesan-pesan moral. Menurutnya, selama ini peserta didik banyak menemukan kegagalan dalam hal kompetensi moral. Sehingga banyak alumni-alumni lembaga pendidikan yang cerdas tetapi kurang bermoral. Sementara itu Paulo Freire merupakan filosof pendidikan Barat yang ide-idenya kental dengan pesan-pesan pembebasan dalam pendidikan. Pendidikan harus memanusiakan manusia. Pendidikan harus membebaskan dan dapat menyelesaikan realitas problem sosial kemanusiaan. Membandingkan pemikiran pendidikan Zarnuji dengan Freire akan menemukan banyak perbedaan, karena memang mereka hidup dalam latar belakang sosial budaya yang berbeda, disamping juga paradigma keduanya yang berbeda. Hal yang menarik ketika memadukan pemikiran keduanya. Apabila melakukan pemaduan di antara kedua pemikiran tokoh tersebut, akan dapat menemukan konsep pendidikan yang humanis, membebaskan dan penuh dengan nuansa moral-transensdensi

    POLA PENDIDIKAN ISLAM DALAM SURAT LUQMAN AYAT 12-19

    No full text
    Tulisan ini mengulas pola pendidikan Islam dalam surat Luqman ayat 12-19. Pola pendidikan yang terkandung dalam surat Luqman ayat 12-19 merupakan pola pendidikan yang Islami, pola pendidikan yang berbasis keagamaan. Komponen-komponen pendidikan yang terkandung dalam surat Luqman ayat 12-19 antara lain: pendidik, peserta didik, materi pendidikan, metode pendidikan, dan tujuan pendidikan. Pendidiknya adalah Luqman; peserta didiknya anaknya Luqman; materi pendidikannya berisi aqidah, syari’ah, moral; metode pendidikannya bersifat nasihat; tujuan pendidikannya adalah keimanan, ketaqwaan, dan akhlak yang luhur

    TEKNOLOGI KLONING DALAM PERSPEKTIF PAI MATERI FIQH

    No full text
    Tulisan ini berusaha memotret teknologi kloning dalam perspektif PAI materi Fiqh. Ketika ditinjau dari sisi hifzh al-din (memelihara agama), kloning manusia tidak membawa dampak negatif terhadap keberadaan agama. Ditinjau dari sisi hifzh al-nafs (memelihara jiwa), kloning tidak menghilangkan jiwa bahkan justru melahirkan jiwa yang baru. Dilihat dari sisi hifzh al-‘aql (memelihara akal), kloning juga tidak mengancam eksistensi akal, bahkan keberhasilan Kloning yang sempurna dapat membuat manusia mempunyai akal cerdas. Jika dilihat dari sisi hifzh al-nasl (memelihara keturunan), kloning manusia dipertanyakan. Dalam pandangan Islam, masalah keturunan merupakan sesuatu yang sangat essensial, karena keturunan mempunyai hubungan erat dengan hukum yang lain seperti pernikahan, warisan, muhrim, dan sebagainya. Apabila ditinjau dari sisi hifzh al-mal (memelihara harta), akan terkait dengan mashlahat dan mafsadat yang diperoleh dari usaha pengkloningan. Andaikata Kloning terhadap manusia hanya akan menghambur-hamburkan harta, tanpa adanya keseimbangan dengan manfaat yang diperoleh, maka kloning menjadi terlarang. Dengan penerapan kloning, kemapanan dan keluhuran cita-cita sebuah perkawinan dalam Islam akan terusik. Boleh jadi, di masa yang akan datang manusia tidak membutuhkan perkawinan untuk mendapatkan keturunan. Seks hanya diperlukan untuk melampiaskan hawa nafsu birahi terhadap lawan jenis tanpa mempertimbangkan akibat dan tanggung jawab dari hubungan seksualitas tersebut. Dengan demikian, kemafsadatan yang ditimbulkan akibat kloning manusia lebih besar daripada kemanfataannya. Oleh karena itu, kloning manusia diharamkan dalam ajaran Islam

    INOVASI PEMBELAJARAN PAI BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Teori Multiple Intelligences (MI) muncul sebagai bentuk krtitik terhadap teori Intellectual Quotient (IQ) yang membatasi kecerdasan hanya pada kecerdasan Logis-Matematis dan Linguistik saja. Sementara dalam teori MI terdapat Sembilan kecerdasan manusia yakni: (1) Kecerdasan Liguistic, (2) Kecerdasan Logis-Matematic, (3) Kecerdasan Visual-Spasial, (4) Kecerdasan Kinestetik, (5) Kecerdasan Musik, (6) Kecerdasan Interpersonal, (7) Kecerdasan Intrapersonal, (8) Kecerdasan Naturalis, (9) Kecerdasan Eksistensialis. Teori ini menyadari betul bahwa setiap anak yang lahir ke dunia memiliki keunikan tersendiri yang berhak mendapatkan pengakuan dan diapresiasi dalam kehidupan utamannya dalam pendidikan. Sebab pendidikan merupakan wadah bagi siswa untuk membentuk dan mengembangkan potensi untuk dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah di bumi dan membawa rahmat bagi seluruh alam ini. Pembelajaran berbasis MI merupakan suatu bentuk inovasi pembelajaran yang dapat menjadi pilihan bagi guru Pendidikan Agama Islam di Indonesia. Mengimplementasikan pembelajaran berbasis MI berarti menggunakan pendekatan interdisipliner dalam mengembangkan materi pembelajaran, menggunakan multimodel pembelajaran, dan penilaian autentik dalam evaluasi pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk mewadahi keberagaman kecerdasan yang dimiliki oleh siswa.English:Multiple Intelligences (MI) emerged as a critical response to Intelligence Quotients (IQ) which limits the definition of intelligence in logical-mathematical and linguistic areas. The MI theory defines nine intelligence of human being such as (1) the linguistic, (2) the logical-mathematical, (3) the visual-spatial, (4) the kinesthetic, (5) the musical, (6) the interpersonal, (7) the intra-personal, (8) the natural, and (9) the existential. This theory recognizes the fact that every child has his/her own uniqueness and deserves appreciation in his/her education. This is important for the reason that education is a mode of developing students’ potentials in purpose of implementing their caliphate roles and bringing God’s mercy in the world. MI-based learning is an alternative in teaching Islamic education as a school subject in Indonesia. Implementing MI-based learning means implementing interdisciplinary approach in developing learning materials, making use multi-model of learning activities, and authentically assessed the learning itself. This purposes to accommodate the diversity of students’ intelligences

    DESAIN MATERI PENDIDIKAN KOSMOLOGI (KAWNIYYAH) PERSPEKTIF AL-QURAN

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Eksploitasi dan pemanfaatan sumber kekayaan alam yang berlebihan dan tidak terkendali di Indonesia telah mengakibatkan banyak  bencana alam yang menelan  korban jiwa dan harta. Bencana alam ini tidak akan terjadi apabila manusia mempunyai hubungan dan pengetahuan yang baik tentang alam semesta. Hal yang harus dilakukan adalah menyiapkan generasi masa depan dengan bekal ilmu yang cukup tentang kosmos/alam semesta/kawniyyah melalui lembaga-lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan sebagai desainer harus menyiapkan materi pendidikan kosmologi bagi peserta didik yang baik dan aplikatif. Materi pendidikan kosmologi banyak ditemukan dalam ayat-ayat kawniyyah  dalam al-Quran, tetapi ayat-ayat tersebut masih belum didesain sebagi sebuah teori yang aplikatif bagi lembaga pendidikan. Dengan pendekatan tematik (mawdhu’i)  ayat-ayat al-Quran yang masih sangat luas bisa dibuat menjadi desain materi pendidikan kosmologi bagi lembaga pendidikan. Materi pendidikan kosmologi dalam al-Quran dibagi menjadi tiga jenis; 1) Kosmologi daratan yang meliputi bumi, tanah, tumbuh-tumbuhan dan hewan. 2) Kosmologi lautan yang meliputi air dan perikanan. 3) Kosmologi angkasa yang meliputi matahari, bulan, bintang, awan, hujan dan angin. Pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang kosmologi akan menghindarkan manusia dari musibah dan bencana alam.  English:Uncontrolled exploitation and utilization of natural resources in Indonesia has caused several natural disasters with victims and financial-material loss. The disasters would not happen if human beings has better understanding about the universe. Therefore, the next generations must be prepared with cosmology/kawniyyah in educational institutions. A more applicative cosmology in school is urgently needed. In a framework of thematic approach, Quranic verses is widely opened for the instructional material in educational institutions. Cosmological mystery in the Quran is defined into the following three categories: (1) land cosmology involving the earth, soil, plants, and animals; (2) sea cosmology including water and fishes; and (3) space cosmology mentioning the sun, the moon, clouds, rains, and winds. Better understanding of cosmology prevents human beings from natural disaster

    PENGEMBANGAN KAPASITAS INSTITUSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA DI MADRASAH: PENDEKATAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Pengembangan kapasitas institusi dan sumber daya manusia di madrasah merupakan misi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan Islam dewasa ini. Namun, manajerial kelembagaan madrasah masih belum memenuhi ekspektasi yang diharapkan jika dilihat dari kreativitas dan inovasinya. Melihat fenomena tersebut, kiranya upaya untuk menciptakan kondisi yang kondusif dalam mencapai tujuan pendidikan adalah mutlak membutuhkan budaya manajemen yang kualitas melalui Total Quality Management (TQM) adalah salah satu alternatif. Dengan manajemen tersebut, diharapkan efektifitas pola kerja di madrasah akan dapat terwujud secara menyeluruh. Artikel ini mengkaji tentang peran kepala madrasah dalam mengembangkan kapasitas institusi dan sumberdaya manusia melalui pendekatan TQM. Artikel ini mendeskripsikan penerapan TQM  dengan library research melalui analisis deskriptif non-statistik sebagai penyajian datanya.  Sebagai kesimpulan, kepemimpinan dan manajerial kepala madrasah berperan penting dalam menentukan  kebutuhan lembaga dan menyusun visi, misi dan tujuan lembaga. Di sisi lain, efektifitas TQM ditentukan oleh kemampuan kepala madrasah dalam hal manajerial, gagasan pembaharuan, efektifitas proses pembelajaran, pengelolaan tenaga kependidikan yang baik, partisipasi warga madrasah dan masyarakat, akuntabilitas dan motivasi untuk mewujudkan tim kerja yang solid.English:Institutional and human capacity development in madrasah is central in developing islamic education quality nowadays. However, the institutional management in madrasah has not yet meet the expectation from its creativity and innovation. Based upon the phenomenon, this paper offers   Total Quality Management (TQM) as an alternative to create conducive atmosphere in madrasah for achieving educational purposes. The management expects holistic-effective workflow in madrasah. This article focuses on the role of madrasah principal in developing institutional and human capacity through the TQM. With library research, this article describes the TQM implementation and provides descriptive non-statistical analysis in providing the data. As a conclusion, the madrasah principal’s leadership and managerial role are the very important factors to decide intitutional needs and constructing institutional visions-missions-aims. In addition, the TQM effectiveness depends on the principal’s ability in managing, offering innovation, creating effective learning activities, managing staffs, involving stakeholders, promoting accountability, and motivating people for a solid teamwork

    INTEGRATED TWIN TOWERS DAN ISLAMISASI ILMU

    No full text
    oai:ojs.jurnalpai.uinsby.ac.id:article/1BAHASA INDONESIA:Tulisan ini menunjukkan beberapa pemikiran sebagai berikut: Pertama, desain integrated twin towers dilakukan dalam rangka menyongsong perubahan IAIN menjadi UIN Sunan Ampel. Dalam desain integrated twin towers posisi keilmuan agama dan umum tidak dicampur menjadi satu, tetapi dibiarkan berjalan sendiri-sendiri, dan pada saat tertentu dipertemukan untuk saling berdialog. Dalam desain integrated twin towers keilmuan agama tidak bermaksud mengintervensi keilmuan umum, karena keilmuan umum dianggap sudah mapan, jadi biarkan berjalan secara wajar pada posisinya; yang penting di antara kedua keilmuan itu bisa saling berkomunikasi. Kedua, desain Islamisasi ilmu dilakukan dalam rangka mengkritisi keilmuan umum yang notabene banyak bersumber dari Barat dan bersifat sekuleristik, materialistik, dan individualistik. Dalam proses Islamisasi ilmu, keilmuan Islam berupaya mengintervensi keilmuan umum dalam rangka memfilterisasinya sehingga keilmuan tersebut menjadi Islami. Jadi Islamisasi ilmu berarti memberikan wawasan (world view) keislaman kedalam keilmuan umum. Ketiga, meskipun ada perbedaan di antara desain integrasi keimuan berbasis Islamisasi ilmu dengan integrated twin towers, namun juga ada persamaannya. Perbedaannya terletak pada proses (epistemologi)-nya. Dalam prosesnya, desain Islamisasi ilmu berusaha mengintervensi kajian keilmuan umum dengan pendekatan kajian keagamaan; sedangkan dalam desain integrated twin towers keilmuan agama tidak bermaksud mengintervensi kajian keilmuan umum. Persamaannya terletak pada kurikulum (ontologi) dan tujuan (aksiologi). Dalam hal kurikulum, keilmuan yang dikaji adalah bidang kajian keilmuan agama dan umum. Sementara dalam hal tujuan, Islamisasi ilmu dan integrated twin towers sama-sama bertujuan untuk mengintegrasikan keilmuan agama dan umum, mendialogkan, mengkomunikasikan, dan mensinergiskannya; sehingga menjadi keilmuan yang utuh-integral-integratif. ENGLISH:This paper shows some idea as follows: First, integrated design of the Twin Towers as the changing action from IAIN to UIN Sunan Ampel. The religion and general knowledge’s position of Twin Towers’ integrated design is not mixed into one, but it works individually, and at the certain time are united in mutual dialogue. Second, Islamize design is done in order to criticize the general knowledge which has western sources and are secular, materialistic, and individualistic. In the process to Islamize the knowledge, Islamic knowledge tries to intervene the general knowledge in order to filter it so the knowledge will be Islamized. Consequently, to Islamize knowledge is to give an Islamic concept into general knowledge. Third, there are the similarities and differences between integrated design knowledge based on Islamic knowledge and integrated Twin Towers. The difference is in its epistemology process. The similarity is in the curriculum (ontology) and objective (axiology). In the curriculum, the examined knowledge is religion and general knowledge. While the objective, Islamize knowledge and integrated Twin Towers aims to integrate religion and general knowledge, to dialogue, to communicate, and to synergy, so it can be a knowledge which is intact-integral-integrative.

    PENDIDIKAN MORAL PERSPEKTIF NASIH ULWAN

    No full text
    BAHASA INDONESIA:Tulisan ini berusaha memotret pemikiran pendidikan moral menurut Nasih Ulwan dan relevansinya dalam menjawab problematika manusia modern. Dalam perspektif Nasih Ulwan, pendidikan moral merupakan serangkaian prinsip dasar moral dan keutamaan sikap serta watak (tabiat) yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa pemula hingga ia menjadi seorang mukallaf, yakni siap mengarungi lautan kehidupan. Di era modern, persoalan yang muncul adalah persoalan fisik dan psikis. Persoalan fisik mengarah pada pengkondisian manusia sebagai objek dari segala produk iptek. Sementara itu persoalan psikis mengarah pada pendangkalan nilai-nilai moral-spiritual akibat dari dominasi produk iptek modern yang skuler. Salah satu problem mendasar di negeri ini adalah krisis moral dan kepercayaan. Krisis tersebut berawal dari ketidakjujuran aparatur Negara dalam menjalankan amanahnya sebagai pemegang kebijakan. Perilaku korupsi dan sejenisnya adalah cermin dari sikap suka bohong, suka mencuri, kenakalan dan penyimpangan. Oleh karena itu ajaran moral Nasih Ulwan amat relevan jika diterapkan di negeri ini demi menjawab problem krisis moral dan kepercayaan yang terjadi. ENGLISH:This paper concerned in moral education thought based on Nasih Ulwan and its relevance in answering the problems of human modern. From Ulwan’s perspective, moral education is a set of moral basic principle and the primacy of attitude and character (nature) which has to be owned and used as habit by children since they are young until become mukallaf, is ready to face the world. In modern era, the issue which emerges is a physical and psychic problem. Physical issue leads to conditioning a human as an object of all the products of science and technology. Meanwhile, psychic problem leads to the silting up of moral-spiritual value caused by the dominance of modern science and technology products. One of the fundamental problems in this country is a moral crisis and faithful. The crisis started from the dishonesty of country’s apparatures in carrying out their mandate as the policy controller. The corruption, and its relation, is the reflective of dishonesty, thieving, delinquency, and irregularities. Therefore, moral learning by Ulwan is very relevant if applied in this country in order to answer the moral crisis problem and trust which is occurred

    PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA PERSPEKTIF ISLAM

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Pendidikan anak yang pertama dan paling utama dalam Islam adalah pendidikan dalam keluarga yang berperspektif Islam. Pendidikan dalam keluarga yang berperspektif Islam adalah pendidikan yang didasarkan pada tuntunan agama Islam yang diterapkan dalam keluarga yang dimaksudkan untuk membentuk anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia yang mencakup etika, moral, budi pekerti, spiritual atau pemahaman dan pengalaman nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini merupakan salah satu wujud amar makruf nahi munkar dalam kehidupan keluarga, yaitu dengan  memberikan pendidikan kepada putra putrinya berdasarkan ajaran Islam. Anak dalam menuju kedewasaannya memerlukan bermacam-macam proses yang diperankan oleh bapak dan ibu dalam lingkungan keluarga. Pola atau metode pendidikan agama dalam  Islam pada dasarnya mencontoh pada perilaku Nabi Muhammad SAW dalam membina keluarga dan sahabatnya. Karena segala apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW merupakan manifestasi dari kandungan al-Qur’an. Adapun dalam pelaksanaannya, Nabi memberikan kesempatan pada para pengikutnya untuk mengembangkan cara sendiri selama cara tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh Nabi SAW. English:The first and the prime education for children in Islam is the Islamic family education. This family education is based upon Islamic guidance in purpose of building children’s faith, piety, highest endeavor –including ethics, morality, and spirituality, and the practice of religious values in daily life. This effort is a kind of amar makruf nahi munkar in family scope. Children needs family model for their future mental and spiritual development. The model and methods of Islamic education in the family scopes are adopted pretty much from the way of our prophet Muhammad taught his family and his companions. Muslim believes that whatever done by the prophet is the manifestation of Quranic essence. In the implementation level, the prophet let his companions and his follower to develop the teaching as long as the development itself in line with educational principles by the prophet

    EKSISTENSI KURIKULUM PESANTREN DAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Sebagai lembaga pendidikan Islam asli Indonesia, pondok pesantren sudah menunjukkan keberhasilan dalam menjaga eksistensi diri. Sejak zaman sebelum merdeka sampai orde reformasi, pesantren semakin diakui keberadaannya dalam perundang-undangan Indonesia, terutama terkait pendidikan. Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren memiliki unsur kyai, santri, pondok, masjid, metode pembalajaran dan kitab kuning. Variasi pondok pesantren menjadi salafiyah dan khalafiyah. Namun keduanya tetap memakai ketiga metode pembelajaran, yaitu sorogan, bandongan dan wetonan. Kurikulum pesantren merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pendidikan yang mencerminkan pandangan hidup bangsa. Lingkungan kebijakan pendidikan adalah ruang lingkup yang berada pada lingkungan dari sistem pendidikan tersebut, baik terpusat maupun bersifat lokal. Masalah dan agenda kebijakan pendidikan terdiri dari isu-isu yang sedang dibahas serius dalam hubungan domain kebijakan di bidang pendidikan. Sistem dan prosedur perumusan kebijakan pendidikan meliputi fungsi alokasi, fungsi inquiri dan fungsi komunikasi. Kajian metodologi dalam kebijakan pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan mengenai subtansi pendidikan itu sendiri. Pondok pesantren –meskipun merupakan model pendidikan asli pribumi- namun dalam dinamikanya selalu tidak dapat lepas dari kebijakan pendidikan secara nasional. English:As a native Islamic educational institution in Indonesia, Pesantren has showed its success in preserving its existentialism. From the colonial period to the reformation period, Pesantren is getting more recognition in Indonesian legal system, particularly in the act of national education. As an Islamic educational institution, Pesantren has several element in its body, such as the kyai (the orthodox teacher), santri (the disciples), pondok, (the dorms), mosque, teaching methods, and kitab kuning (the yellow scriptures). The Pesantren has the salafiyah and khalafiyah as the variants. However, both of them implement the same teaching methods such as sorogan, bandongan, and wetonan. The Pesantren curriculum is a way of achieving educational goals and a direction of education with nation philosophies. The educational policy area in the Pesantren education exists both in national and local level. Issues and policy of education consist of actual problems in educational policy domain. The system and procedure of educational policy making involves several functions, such as allocation, inquiry, and communication. Methodological discourse in educational policy cannot be separated from the discourse of education itself. Pesantren –despite as a native educational system- cannot be separated from the dynamics of national education policy

    106

    full texts

    145

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇