Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Not a member yet
    145 research outputs found

    ULAMA PEREMPUAN DAN DEDIKASINYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM (Telaah Pemikiran Rahmah El-Yunusiyah)

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Istilah ulama biasanya identik dengan laki-laki, namun disini Rahmah El-Yunusiyah bisa disebut dengan ulama karena banyak hal yang melekat pada dirinya bisa merepresentasikan sebagai seorang alim yang mempunyai kapasitas keilmuan yang mumpuni tentang agama, sikap progresifnya untuk memperjuangkan kaumnya hingga pengakuan dari masyarakat luas baik di Indonesia hingga dunia internasional terhadap kiprahnya dalam pembaharuan pendidikan bagi perempuan. Tulisan ini menelaah pemikiran Rahmah El-Yunusiyah tentang pendidikan perempuan dijamannya melalui penelusuran buku-buku teks sejarah dan berbagai literatur. Penulis berusaha menyajikan gambaran sejarah perjuangan pendidikan bagi perempuan yang telah dilakukan Rahmah El-Yunusiyah sebagai fakta sejarah tentang peran penting perempuan dalam bersosial masyarakat sehingga perlu untuk terus diperjuangkan hingga saat ini. Sebagaimana yang telah dilakukan Rahmah El-Yunusiyah sebagai pembaharu pendidikan bagi perempuan dengan mendirikan sekolah khusus perempuan dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kontribusinya dalam memperjuangkan pendidikan perempuan sangat besar, terlihat sekarang perempuan Indonesia telah dapat secara mudah untuk dapat mengakses pendidikan. Betapa perempuan sebagai tiang negara memiliki andil besar dalam menentukan masa depan bangsa. English:The term ulama is usually identical to men. However, Rahmah El-Yunusiyah is also called as an ulama because several factors attached to her such as representation as an alim with religious knowledge capacity, progressive attitudes for her community development, and the recognition of wider community both in Indonesia and in international regarding her work in woman education reform. This paper examines Rahmah El-Yunusiyah’s consideration about female education in the past through historical texts and related literatures. The author attempt to present a historical overview of El-Yunusiyah’s struggle for women's education as the historical facts about the important role of women in society. El-Yunusiyah was as a reformer of woman education who set up woman school of the primary level up to the university level. Her great contribution in education is now visible that Indonesian women have easy access to education. This effort shows that women as a pillar of the state has a big responsibility to determine the future of the nation

    ATTACHMENT PLACE: STUDI FENOMENOLOGI SPECIAL PLACE ANAK USIA DINI DI PAUD ISLAM DAN TK ISLAM DI KABUPATEN MALANG

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelekatan tempat (attachment place) pada anak usia dini. Berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini memfokuskan kajiannya pada tempat-tempat yang dianggap spesial (special place) oleh anak di lingkungan rumah mereka. Metodologi fenomenologi dipilih untuk mengeksplorasi tujuan penelitian dalam dua tahap. Tahap pertama dilkaukan di sekolah dengan mendiskusikan buku dengan 13 peserta didik. Tiga anak yang paling aktif dan mampu berkomunikasi dengan baik diminta untuk menjadi partisipan pada tahap kedua yaitu kunjungan rumah. Dua tahapan penggalian data menemukan bahwa anak-anak memiliki banyak tempat yang dianggap spesial. Keberadaan tempat-tempat tersebut biasa digunakan untuk bersembunyi, meredakan emosi, bermain dan mengembangkan rasa otonomi diri. English:

    URGENSI PEMBINAN IKLIM DAN BUDAYA SEKOLAH

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Pengembangan sekolah yang efektif, efisien, produktif dan akuntabel perlu ditunjang oleh perubahan berbagai aspek yang terkait dengan pendidikan, termasuk iklim sekolah. Perubahan iklim sekolah perlu dilakukan untuk merespons kondisi pendidikan yang semakin terpuruk. Hal ini lebih diperkuat lagi dengan perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai aspek kehidupan, yang menuntut penyesuaian pendidikan dan iklim sekolah yang kondusif yang menunjang terhadap pembelajaran yang bermakna. Iklim dan Budaya sekolah yang kondusif ditandai dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman dan tertib sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Iklim dan budaya sekolah yang kondusif sangat penting agar siswa merasa senang dan bersikap positif terhadap sekolahnya, agar guru merasa dihargai, orang tua dan masyarakat merasa diterima dan dilibatkan. Hal ini dapat terjadi melalui penciptaan norma dan kebiasaan yang positif, hubungan dan kerja sama yang harmonis yang didasari oleh sikap saling menghormati di antara satu dengan yang lain.  English:School development with the idea of effectiveness, efficiency, productivity, and accountability needs to go along with changing in educational settings, including the school climate. The climate transformation is urgently needed to respond degraded educational situation.  This is also required as the fundamental changing exists in every human life aspects, which requests for educational transformation and conducive school climate for meaningful learning at school. Conducive school climate is indicated by a safe, comfortable, and well-regulated school environment for effective learning. This circumstance is quite important so that students consider positively their schools, teachers feel appreciation for themselves, and parents are well-accepted and involved in school. This atmosphere can be developed through creating new positive habits and norms and teamwork under the umbrella of respects within the team member

    PENDIDIKAN ISLAM DAN KESETARAAN GENDER (Konsepsi Sosial tentang Keadilan Berpendidikan dalam Keluarga)

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Dalam pendidikan gender, orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik dan mengarahkan anak. Apabila dalam satu keluarga atau masyarakat terjadi bias gender, maka akan berpengaruh pada pola pikir anak di masa yang akan datang. Penelitian ini bermaksud mendeskripsikan tentang pendidikan Islam dan gender, yang selama ini masih dianggap tabu oleh beberapa kalangan. Di sisi lain, kewajiban mendidik anak bagi orang tua adalah suatu hal yang wajib untuk dilaksanakan karena mereka menganggap bahwa anak adalah tanggung jawab yang diamanahkan oleh Allah untuk diberi pendidikan dan pengajaran. Dalam Islam, pendidikan yang utama adalah lingkungan keluarga. Orang tua berkewajiban memberikan arahan, bimbingan dan teladan bagi anak. Mereka adalah sosok yang akan selalu ditiru dan dijadikan rujukan bagi anak dalam menghadapi lingkungan sosial. Keadilan orang tua terhadap anak dalam memberikan pendidikan, menjadi fondasi dasar penerapan kesetaraan gender. Demikian pula dalam bidang pendidikan, setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang sama dalam sebuah keluarga dan lingkungan masyarakat. Maka keadilan dalam memberikan pendidikan kepada anak adalah suatu keharusan.English:In gender education, parents have significant roles in educating and directing their children. Gender bias in a family would influence children’s way of thinking in the future. This research paper is aimed to describe the relationship between Islam and gender, in which the gender study itself still doesn’t have enough place in public discussion. On the other hand, child’s education is religiously mandated by Allah. Islam puts family education as the primary education for children. Parents are obligated to direct, to guide, and to be a role model for their children. Hence, parents are going to be children’s reference in dealing with social issues. The parents’ fairness in educating children is the foundation of gender education. In addition, from educational perspective, each child deserves the same quality of education either in family or in society. Therefore, the fairness in giving education for children is a must

    IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP RELIGIUS SISWA MELALUI BIDANG STUDI BIOLOGI DI MADRASAH ALIYAH

    No full text
    Bahasa Indonesia:Akhir-akhir ini muncul beragam persoalan moral dan karakter pada remaja dan pelajar di Indonesia. Untuk mengatasi permasalahan ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meminta sekolah-sekolah menerapkan Kurikulum 2013. Salah satu ciri kurikulum ini adalah adanya kompetensi sikap religius yang harus dicapai melalui seluruh bidang studi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengevaluasi penerapan Kurikulum 2013 bidang studi Biologi dalam mengembangkan kompetensi sikap religius siswa MAN 3 Malang. Dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif model penelitian lapangan yang bersifat deskriptif diperoleh sejumlah temuan: pertama, pengembangan sikap religius dilakukan melalui penulisan rumusan tujuan pembelajaran dan penyampaian salam serta berdo’a di awal pembelajaran; kedua, pelaksanaan pengembangan sikap religius dilakukan dengan cara menyampaikan salam dan do’a di awal pembelajaran, menghubungkan materi pembelajaran dengan ajaran Islam, menyampaikan salam dan berdo’a kafaratul majlis di akhir pembelajaran, dan menegur siswa yang dianggap melanggar aturan Islam; ketiga, hambatan pengembangan sikap religius berupa tidak tersedianya contoh atau panduan penilaian kompetensi sikap religius. English:Recently many kinds of youth and students’ moral-character issues becomes a concern in Indonesia. To cope with these problems, Ministry of Education and Culture called for the implementation of Kurikulum 2013 (the national education curriculum). One of the curriculum characteristics is the religious competency to achieve in every school subjects including Biology. This research is aimed to evaluate implementation of Kurikulum 2013 in developing students’ religious attitude through Biology class in MAN 3 Malang. The field research with qualitative approach and descriptive design found that: first, the development of students’ religious competency is managed by teacher by formulating religious competency objective and accustoming salam and praying before the class begins; second, in the process of instruction, the teacher develop religious competency in four ways: salam and praying at introduction, finding relationship between Biology to Islamic teaching, salam and praying kafaratul majlis in closing the class, and admonishing students breaking the rules; last, this attitude development is constrained by the absence of evaluation guide.   

    PERGESERAN ORIENTASI KELEMBAGAAN PESANTREN DI MADURA DALAM PERSPEKTIF KIAI BANGKALAN

    No full text
    Bahasa Indonesia:Pada mulanya Kiai di Bangkalan Madura tidak terlalu menerima pendidikan formal. Namun kini realitas itu mengalami pergeseran pemikiran dan prilaku yang sangat berefek pada pembaruan pendidikan Islam di Bangkalan Madura. Tulisan ini memuat tentang keterbukaan para Kiai di Bangkalan pada pendidikan umum dengan semakin banyaknya pesantren yang mempunyai kategori salafiyah mempunyai pendidikan formal mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendekripsikan pergeseran orientasi kelembagaan dalam perspektif Kiai di pesantren Syaichona Kholil dan pesantren Al-Hidayah Bangkalan Madura. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sementara, sumber data primer diperoleh dari Kiai Pengasuh Pondok Pesantren Syaichona Kholil Bangkalan, pengasuh pesantren Al-Hidayah, Ketua Pondok dan sumber sekunder yang relevan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa terjadi pergeseran orientasi kelembagaan di pesantren dengan banyaknya lembaga pendidikan formal seperti MTs, MA, bahkan Perguruan Tinggi di beberapa pesantren yang ada di Bangkalan. Pergeseran ini tidak lepas dari berubahnya pola pikir Kiai yang disebabkan oleh globalisasi, teknologi yang semakin canggih, dan sulitnya para alumni santri mendapatkan peluang pekerjaan di instansi-instansi umum. English:In the beginning, Kiai in Madura didn’t accept formal schooling. However, the reality today shows thought and attitude shifts which takes effect on the renewal of Islamic Education in Bangkalan, Madura. This paper examines the openness of Kiai in Bangkalan towards formal education as it is indicated by the emerging more Salafi Pesantren with formal education ranging from elementary schooling up to higher education. This research is aimed to describe institutional orientation in Syaichona Kholil Pesantren and Al-Hidayah Pesantren in Bangkalan, Madura. Within the framework of descriptive and qualitative research, the field work involves primary data from Kiais in the two institutions as well as secondary data from relevan resources. The finding shows that there are more and more Pesantren to adopt formal shooling in the Madrasah format and Islamic higher education due to the shift of thought in the Kiai leadership as a negotiation results of globalization, technological advancement, and the high competition for Pesantren alumni in workforce within non-religious institutions

    PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN PENANGGULANGAN KENAKALAN SISWA (Studi Kasus MTs Hasanah Surabaya)

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Dalam tulisan ini penulis meneliti tentang jenis kenakalan siswa, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan bagaimana usaha sekolah dalam menanggulanginya melalui internalisasi Pendidikan Agama Islam. Dari data yang diperoleh, penulis memberikan kesimpulan bahwasannya keadaan nyata kenakalan siswa MTs Hasanah masih tergolong biasa dan tidak berbahaya seperti membolos, terlambat datang ke sekolah, tidak mengerjakan PR, membuat gaduh dan sebagainya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan siswa sering kali disebabkan karena kurangnya perhatian orang tua (broken home), pengaruh teman sepermainan dan dari diri mereka sendiri karena malas dan takut dengan guru. Sebagai upaya usaha pihak sekolah dalam menanggulangi kenakalan siswa dengan tiga cara yaitu secara preventif, represif dan kuratif. Preventif yang dianggap cukup berhasil adalah mengadakan pendekatan dengan orang tua atau wali siswa. Sedangkan cara represif yang cukup berhasil adalah dengan pemberian hukuman yang mendidik. Cara kuratif yang dianggap cukup berhasil adalah tradisi silaturrahim ke rumah siswa dengan diiringi kegiatan kegamaan dan penanaman nilai-nilai keteladanan. English:This paper deals with juvenile delinquency in many types, the antecedent factors, and how the school deals with the problem through Islamic Education as a school subject. The findings show that the delinquency level in the madrasah is still in the common level, and not dangerous, such as skipping classes, coming late to school, skipping homeworks, convulsing behaviors, etch. Several factors causing the behaviors are deserving parents’ attention (due to broken home), influence of peer friends, laziness, and being uncomfortable with teacher presence. The school deals with the problems mainly in three ways: preventive, repressive, and curative. The prevention is considered more fruitful due to the school approaches to the parents or those responsible to the students at home. Educative punishment is considered successful enough. Last, the curative also takes effect enough through the silaturrahim tradition along with religious activities and inserting values through personal modelling

    FENOMENA TA‘ZI>R DI PESANTREN (Analisis Psikologis dan Kelembagaan terhadap Penerapan Ta‘zi>r)

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Adanya  ta‘zi>r di pesantren merupakan  sanksi  yang  diterapkan  sebagai  ganjaran untuk santri yang melanggar aturan,  dalam  upanya  pencegahan  agar tidak terjadi pelanggaran yang sama. Penerapan ta‘zi>r tentunya merupakan akibat dari perilaku santri yang tidak patuh terhadap apa yang ditetapkan di pesantren. Tulisan ini ditujukan untuk mengetahui adanya sejauh mana tindakan kekerasan anak dalam pendidikan di lembaga pesantren, dalam hal ini melalui ta‘zi>r. Di samping itu, hal ini dapat menjadi pintu masuk terhadap penelitian-penelitian yang lain yang akan membidik cara solutif dalam mengurangi dan dapat dimungkinkan secara jangka panjang dapat menghilangkan bentuk-bentuk kekerasan dalam pondok pesantren. Hal demikian dapat dilakukan apabila sejumlah kalangan baik pengelola pesantren, orang tua, pemerintah dan tokoh pesantren memiliki pemahaman yang memadai tentang hak anak (santri) untuk mendapatkan hak pendidikannya dengan cara yang humanis. Hal itu tidak terlepas dari filosofi pendidikan yang menempatkan anak didik (dalam hal ini santri) sebagai subjek pendidikan. English:Ta‘zi>r is a sanction imposed as a punishment for students who violate the rules which are stipulated in the pesantren. It aims to discourage students from doing the violation. This paper investigates the violence committed or so-called ta‘zi>r in the process of education at Islamic boarding institutions. Furthermore, it can be a fruitful area of conducting further researches on revealing the appropriate ways to reduce violence in education and to eliminate any forms of violence in the boarding school. However, to ameliorate the practice of violence in the boarding school can be achieved by supports from a number of people, including the boarding school managers, parents, the government, and Islamic scholars who have sufficient understanding of the students’ rights to gain the right education which adheres to humanistic principles. This definitely goes hand in hand with the education philosophy which regards students i.e. Islamic students as the education target

    PERSPEKTIF MAHASISWA BERLATAR JURUSAN KEISLAMAN TERHADAP PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perspektif mahasiswa dengan latar jurusan keislaman terhadap pembelajaran Bahasa Inggris. Dua pertanyaan yang dikemukakan, yakni: 1) Apa perspektif mahasiswa dengan latar jurusan keislaman di UIN Sunan Ampel Surabaya tentang pentingnya belajar Bahasa Inggris?, 2) Apakah pembelajaran Bahasa Inggris yang dilakukan di UIN Sunan Ampel Surabaya dapat membantu mahasiswa dengan latar jurusan keislaman untuk memahami disiplin keilmuan terkait? Mixed method dipilih sebagai metode untuk melakukan pengumpulan dan analisis data. Dalam pertanyaan pertama, bentuk  survey dipilih sebagai metode penelitian, dengan instrumen berupa angket. Angket yang digunakan berisi sepuluh pertanyaan yang disebarkan kepada 100 orang mahasiswa. Untuk pertanyaan kedua, pendekatan kualitatif dirasa cocok dan dipilih sebagai metode untuk memperoleh jawaban. Wawancara digunakan sebagai tehnik pengumpulan data dan melibatkan 25 mahasiswa sebagai informan. Pada akhirnya, ditemukan bahwa mahasiswa berlatar jurusan keislaman memiliki persepsi positif terkait dengan pentingnya mempelajari Bahasa Inggris. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwasannya proses pembelajaran Bahasa Inggris di UIN Sunan Ampel oleh sebagian besar informan dianggap belum berjalan efektif dan tidak memberikan banyak kontribusi dalam upaya meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dan menghubungkannya dengan disiplin keilmuan terkait. Dengan demikian, persepsi positif mahasiswa tentang pentingnya mempelajari Bahasa Inggris belum difasilitasi dengan cukup baik oleh pembelajaran yang berlangsung.English:This research’s goal is to know the perspective of Islamic studies students towards English learning process. For reaching this goal, there are two research questions: 1) what is the perspective of Islamic studies students towards English learning process in State Islamic University of Sunan Ampel Surabaya? 2) how does English learning process help Islamic studies students in State Islamic University of Sunan Ampel Surabaya to enrich their field study knowledge?. Mixed method was chosen as the method to collect and analysis the data. To answers the first research question, survey was used as research method, and questioner was used as instrument. There were 10 statements in the questioners that were given to 100 participants. Meanwhile, to answer the second research question, qualitative approach was chosen as method to gain answer. Interview was used as data collecting technique that involved 25 participants as informant. Finally, it was found that Islamic studies students had positive perception dealing with the importance of learning English. The result also showed that English learning process on most of students’ perspective had not been effective and it did not give much contribution in increasing students’ English ability which deals with their disciplines. In conclusion, positive perception of students about the importance of learning English was not facilitated enough by learning process

    PESANTREN DAN POLITIK (Sinergi Pendidikan Pesantren dan Kepemimpinan dalam Pandangan KH. M. Hasyim Asy’ari)

    Get PDF
    Bahasa Indonesia:Pesantren dan Politik adalah dua istilah yang penulis kaji dalam tulisan ini. Dua elemen yang berbeda, namun memiliki sinergi dalam realitas sosial dan sejarah Nusantara. Sebagai pijakan, penulis menguraikan pemikiran Hadratus Shaikh Hasyim Asy’ari tentang pendidikan Islam, pesantren dan perannya dalam kehidupan berbangsa. Dalam konteks sejarah, eksistensi pesantren dimaksudkan untuk mempertahankan nilai-nilai keislaman dengan titik berat pada pendidikan. Pesantren juga berusaha untuk mendidik para santri dengan harapan dapat menjadi orang-orang yang berwawasan luas dan mempunyai karakter. Kemudian, mereka dapat merefleksikannya dalam masyarakat. Hal ini telah diuraikan oleh Kiai Hasyim,  dalam beberapa karyanya, yang dengan jelas menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam tidak hanya berhenti pada tingkat kognitif saja. Lebih dari itu, tujuan pendidikan Islam – terutama di pesantren - adalah pada pengamalan terhadap ilmu yang telah diperoleh, yang disebut dengan ilmu bermanfaat (‘ilm na>fi’). Ini menjadi keunggulan pendidikan pesantren, yang menggabungkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, yang muaranya dapat membentuk karakter seseorang. Karakter adalah faktor penting dalam kepemimpinan, sebuah  kemampuan untuk melangkah keluar dari budaya yang ada dan memulai proses perubahan evolusioner yang lebih adaptif. Sebagai laboratorium pendidikan karakter, pesantren menjadi lumbung pembentukan karakter, baik dalam hal intelektual, sosial, dan terutama dalam hal kepemimpinan. English:Pesantren and politics are two different terms which may have a synergy in a social reality and a history of archipelago. This study refers to the thought of Hasyim Asy’ari about Islamic education, pesantren, and its role in a national life. Historically, the existence of pesantren aims to preserve Islamic values especially on education and to educate students to be well-knowledged people who are capable of using their knowledge in society and have a noble character. Some studies by Hasyim Asy’ari explain that the goal of Islamic education does not merely bring out education outcome on the cognitive level, but also on the practice level where students can make use of knowledge they have learned or so-called useful knowledge (‘ilm na>fi’). These aforesaid goal becomes the pesantren’s priority which combines intellectual, emotional, and spiritual skills to build a students’ character. Character is a prominent factor in leadership, an ability to step out of the existing culture and make an evolutionary change which is far adaptive. Hence, since Pesantren is valued as a hub of character education, it plays a role to build students’ character either intellectual and social abilities or leadership skills

    106

    full texts

    145

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇