Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Not a member yet
145 research outputs found
Sort by
PENDIDIKAN ASWAJA NU DALAM KONTEKS PLURALISME
BAHASA INDONESIA:Tulisan ini berupaya memahami pendidikan aswaja NU dalam konteks pluralisme. Hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan aswaja NU bersifat plural, multikultural, toleran, tasamuh, tawazun, dan sejenisnya. Lanaa a’maalana walakum a’malukum (bagi kami perbuatan kami, bagui kamu perbuatan kamu); lakum diinukum waliya diin (bagimu agamamu, bagiku agamaku). Jadi pendidikan NU itu berwawasan pluralistik. Pendidikan aswaja NU mengatur hubungan antar manusia dalam tiga macam ikatan di atas, yang menuju kepada persaudaraan/ kerukunan berdasar saling mengerti dan menghornati. Persaudaraan/kerukunan yang diajarkan oleh Islam ini disebut dengan persaudaraan (ukhuwah) yang diajarkan oleh Islam. Dengan mengemukakan tri ukhuwah di atas, Nahdlatul Ulama menegaskan bahwa Islam mengajarkan persaudaraan dengan segala macam kelompok manusia; antara lain kelompok seagama, sebangsa, dan sesama manusia di dunia. ENGLISH:This article tries to understand The education of ASWAJA NU in pluralism context. The result shows that The education of ASWAJA NU are plural, multicultural, tolerance, harmony, fair, and such like. Laana a’maluna walakum a’malukum (what I done is for me, and what you done is for you); lakum dinukum wa liyaa diin ( for you is your religion and for me is my religion). So NU’s view is pluralistic. The education of ASWAJA NU manages the relationship among mankind in those three relations that aims to brotherhood (Ukhuwah)/ harmony based on the understanding and respecting to each other. With those concepts, Nahdlatul Ulama emphasis that Islam teaches the brotherhood with all groups of mankind, including a group of religion, a group of nation, and all mankind in the world
KONSERVASI PENDIDIKAN KARAKTER ISLAMI DALAM HIDDEN CURRICULUM SEKOLAH
Pendidikan di negeri ini hingga sekarang masih menyisakan banyak persoalan, baik dari segi kurikulum, manajemen, maupun para pelaku dan pengguna pendidikan. SDM Indonesia masih belum mencerminkan cita-cita pendidikan yang diharapkan. Masih banyak ditemukan kasus seperti siswa melakukan kecurangan ketika sedang menghadapi ujian, bersikap malas dan senang bermain, hura-hura, senang tawuran antar sesama siswa, melakukan pergaulan bebas, hingga terlibat narkoba dan tindak kriminal lainnya. Kenyataan membuktikan bahwa Indonesia banyak bermasalah dalam hal karakter. Hal ini berarti bangsa Indonesia yang didominasi oleh umat Islam belum mengamalkan ajaran agama dengan baik. Untuk itu, perlu menjadikan pendidikan karakter Islami sebagai pondasi utama dalam membangun karakter manusia. Dengan agamalah karakter yang seutuhnya bisa dibangun. Namun demikian, untuk zaman sekarang masih diperlukan metode dan strategi yang dikembangkan oleh para ahli moral melalui hidden curriculum di sekolah
PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF FAZLUR RAHMAN
Fazlur Rahman terkenal sebagai tokoh neo-modernisme karena berusaha melakukan modernisasi pendidikan Islam dengan tidak melupakan warisan klasik umat Islam. Dia mengusulkan bahwa orientasi pendidikan Islam harus mengarah kepada kebutuhan di dunia dan akhirat. Dia juga tidak setuju dengan adanya dikotomi ilmu agama dan umum. Harus ada upaya integrasi antara ilmu agama dan umum, karena pada dasarnya ilmu itu utuh dan bersumber dari Allah SWT. Dia juga menyarankan agar ada upaya peningkatan kualitas pendidik Muslim, perhatian khusus terhadap peserta didik yang berbakat, dan pemenuhan sarana prasarana pendidikan yang memadai. Ide-ide Rahman mengenai pendidikan Islam termasuk dalam kategori kontekstual. Ini menunjukkan bahwa dalam mengemukakan ide-idenya, Rahman mendasarkannya pada pengalaman empirik dan pengamatan yang realistis. Oleh karena itu, tidaklah basi jika menerapkan ide-ide Rahman dalam konteks pendidikan Islam dewasa ini. Pisau analisis yang dipakai Rahman dalam mengkaji pendidikan Islam pada masanya, kiranya dapat dipakai sebagai pisau analisis dalam mengkaji pendidikan Islam kontemporer. Meski begitu, karena masa hidup Rahman berbeda dengan masa hidup umat Islam sekarang -dalam konteks sosial, maka perlu diberikan nilai kritis-transformatif bagi ide-ide Rahman sebelum diterapkan dalam konteks kekinian
MODEL PENDIDIKAN TOLERANSI DI PESANTREN MODERN DAN SALAF
Bahasa Indonesia:Penelitian ini bertujuan mengetahui model pendidikan toleransi di pesantren modern dan di pesantren salaf. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan setting dua pesantren, yakni pesantren modern Gontor Ponorogo dan pesantren salaf Tebuireng Jombang. Teknik pengumpulan datanya dengan wawancara dan dokumentasi. Untuk analisis data digunakan teknik analisis induktif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Pesantren Darussalam Gontor merupakan pesantren modern, dengan ciri khas berupaya memadukan tradisionalitas dan modernitas pendidikan. Sistem pengajaran wetonan dan sorogan diganti dengan sistem klasikal (pengajaran di dalam kelas) yang berjenjang dan kurikulum terpadu diadopsi dengan penyesuaian tertentu. Sistem pendidikan yang digunakan di pondok modern dinamakan sistem Mu’allimin, atau terkenal dengan nama Kulliyatul-Mu'allimin al-Islamiyah (KMI). Sedangkan sistem pendidikaan di pondok pesantren Tebuireng, dilihat dari segi sistem pendidikan dan pengajarannya sepenuhnya tidak dapat disebut sebagai pesantren salaf murni. Karena di pesantren Tebuireng masih mempertahankan sistem pendidikan salaf, juga menerapkan sistem pendidikan modern. Oleh karena itu, untuk sekarang ini lebih tepat apabila menyebut Pondok Pesantren Tebuireng dengan sebutan Pondok Pesantren Campuran atau Pondok Pesantren Terpadu (antara khalaf dan salaf). (2) Baik di pondok pesantren modern dan salaf, Islam yang dipahami dan diaktualkan adalah Islam yang inklusif, ramah, tidak kaku, moderat, yakni Islam yang bernuansa perbedaan dan sarat dengan nilai-nilai multikultural. Mendakwahkan Islam yang seperti inilah yang menjadikan Islam bisa bersentuhan dengan multikultur. Untuk membentuk santri yang toleran kedua pesantren ini mengajarkannya melalui kurikulum pendidikan dan keteladanan hidup sehari-hari. English:This research purposes to examine tolerant education model in both modern and salafis pesantren. This qualitatively descriptive study involves two pesantren settings, the modern pesantren Gontor Ponorogo and the salafis pesantren Tebuireng Jombang. Data is collected through interviews and documentations. From an inductive analysis, this research shows the following results. First, the Gontor modern pesantren acculturate preserved traditional value of pesantren in the modernity of educational systems. Particular teaching methods such as wetonan and sorogan are transformed into more standardized grades in classical way. Classic curriculum is still preserved in the class with some adaptations. This system is later called Mu’allimin or more popular as Kulliyatul-Mu'allimin al-Islamiyah (KMI). On the other hand, educational system in the pesantren of Tebuireng cannot be considered as the pure salafis category as the pesantren is still conducted the salafis education and the modern one separately. Therefore, the Tebuireng is now more exactly called “mixed pesantren” or integrated pesantren –between the khalafis and salafis. The next result of this result shows the fact that both salafis and integrated pesantrens actualize inclusive, peaceful, flexible, ad moderate Islam in which diversity and multiculturalism is in it. Islamic missionary in this way sustain Islam to live together with multi-culture. Curriculum of education and good-model leadership create santris with high tolerance
DIALEKTIKA PENDIDIKAN ETIKA DALAM ISLAM (Analisis Pemikiran Ibnu Maskawaih)
Bahasa Indonesia:Pendidikan akhlak adalah tema sentral bagi pelaksanaan pendidikan, karena pendidikan akhlak ini merupakan asas dasar bagi manusia untuk berinteraksi dengan Sang Pencipta (hablun minallah) maupun dengan sesama manusia (h}ablun min al-nas). Etika seseorang bertumbuh dan terbentuk dalam kelompok, anak sejak kecilnya membutuhkan sekelompok orang yang memperhatikannya. Semakin besar si anak, semakin bertambah kebutuhannya untuk bergabung dengan kelompok yang berada di luar keluarga dan semakin bertambah luas pergaulan itu memunculkan persoalan-persoalan akibat perbedaan pembinaan kelompok itu dan berlainan tingkat budaya, ekonomi dan sosial masing-masing. Tulisan ini mendeskripsikan pendidikan etika menurut Ibnu Miskawaih, sekaligus menganalisis dinamika pemikiran pendidikan Ibnu Miskawaih tentang pendidikan etika. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya konsep pendidikan etika dapat dilaksanakan dengan proses ta’dib, secara sederhana adalah sebagai suatu usaha peresapan (instilling) dan penanaman (inculcation) adab pada diri manusia dalam pendidikan. Dengan begitu adab dapat diartikan sebagai content atau kandungan yang harus ditanamkan dalam proses pendidikan Islam. Pendidikan etika menurut Ibnu Maskawaih memiliki peran besar terhadap peradaban manusia. Membangun suatu kebudayaan dan peradaban akan melestarikan atau mengharmonisasikan masyarakat itu sendiri. Namun, individu-individu penyusunnya tidak akan mampu mewujudkan semua kebudayaan itu, tanpa diimbangi dengan pendidikan. Kalau mengambil ikhtiar melalui pendidikan akhlak, maka akan membentuk dan mempertahankan etika yang dinamis. English: Moral education is the main point in the implementation of education because it is a fundamental principle of morality for humans to interact with the Creator (hablun minallah) as well as with human beings (h}ablun min al-nas). The ethics of someone grow and develop in a group, thus since the early development children need a group of people who look after them. As children grow up days by days, the need to join a group outside the family increases. While when they associate with others more extensively, some problems may raise due to the different way of educating, and culture, economic and social level. This paper describes ethical education according to Ibn Miskawayh, as well as analyzes the thought of Ibn Miskawayh on ethics education. This study also shows that the concept of ethics education can be implemented with ta’dib process as an attempt to instill and inculcate adab in human beings through education. Thus, adab can be interpreted a content that should be instilled in the process of Islamic education. According to Ibn Maskawaih ethics education has a major role on human civilization. Building a culture and civilization will preserve or harmonize society itself. However, individuals only will not be able to preserve that culture without education. Indeed, taking the initiative through moral education will establish and maintain a dynamic ethics
KODE ETIK GURU DALAM MENINGKATKAN PROFESIONALISME PENDIDIK; REAKTUALISASI DAN PENGEMBANGAN KODE ETIK GURU DI MADRASAH ALIYAH DARUL AMIN PAMEKASAN
Bahasa Indonesia:Dalam profesi keguruan terdapat kode etik untuk menjunjung tinggi martabat profesi, untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan anggotanya, untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi, untuk meningkatkan mutu profesi dan untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. Dengan kode etik, guru diharapkan mampu berfungsi secara optimal dan profesional, terutama dalam mengembangkan karakter dan budi pekerti anak didik dan menjunjung wibawa lembaga serta profesi pendidik. Penelitian ini bertujuan untuk mendekripsikan penerapan kode etik sekolah di MA Darul Amin Pamekasan dan bagaimana kode etik sekolah bisa meningkatkan profesionalitas dalam pembelajaran. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan dan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dengan sumber data dari kepala sekolah MA Darul Amin pamekasan, guru dan sumber sekunder yang relevan. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa kode etik sekolah di MA Darul Amin Pamekasan merupakan cara dalam peningkatan profesionalitas guru agar taat kepada peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati oleh pihak pengelola MA Darul Amin Pamekasan. Kode etik guru yang dikembangkan menjadi kode etik sekolah diangggap metode yang efektif dalam proses peningkatan profesionalitas guru di sekolah ini. English:There is a set of ethical codes in the teaching profession in purpose of upholding professional values, maintaining the prosperity for the members, increasing service quality as well as professional and organizational quality. With the ethics, this is a big hope that teachers can work optimally and professionally in developing students’ character as well as institutional legitimation and teaching profession. This research is aimed to describe the implementation of ethical codes in Islamic High School Darul Amin Pamekasan and how the ethics improves professionalism in learning process. In this descriptive-qualitative research, the primary information comes from the school principal, teachers, and other relevan resources. The finding shows that the ethical code is a way of monitoring and controlling teacher to improve their professionalism based upon agreement in the school. The teacher ethical code is then translated and developed as the school ethical code which is effectively improve the teacher professionalism
PENGARUH METODE HYPNOTEACHING TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI PAI DI SMP BINA BANGSA SURABAYA
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah penerapan metode hypnoteaching pada bidang studi pendidikan agama Islam di SMP Bina Bangsa Surabaya? (2) Bagaimanakah prestasi belajar siswa pada bidang pendidikan agama Islam di SMP Bina Bangsa Surabaya? (3) Adakah pengaruh metode hypnoteaching pada bidang studi pendidikan agama Islam terhadap prestasi belajar siswa di SMP Bina Bangsa? Sampel penelitian adalah 10 % dari 526 siswa yaitu 53 siswa, teknik pengambilan sampel adalah dengan teknik stratified proportional random sampling yaitu mengacak sampel pada setiap strata dengan pembagian yang sama. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah: (1) Rumus prosentase sederhana, yaitu untuk menganalisis data tentang penerapan metode hypnoteaching di SMP Bina Bangsa dan prestasi belajarnya pada bidang PAI; (2) Rumus Korelasi Product Moment, yaitu untuk menganalisis data tentang ada atau tidaknya pengaruh metode hypnoteaching terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan agama Islam di SMP Bina Bangsa Surabaya.Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah: (1) Penerapan strategi hypnoteaching di SMP Bina Bangsa Surabaya tergolong cukup. Hal ini terbukti dari hasil prosentase tertinggi ( 66 % ) adalah berada pada interval 56 % - 75 % yang berarti cukup; (2) Prestasi belajar siswa di SMP tergolong baik. Hal ini terbukti dari hasil rata-rata nilai ulangan siswa (7,3) berada pada interval nilai 7-8 yang berarti baik; (3) Terdapat pengaruh metode hypnoteaching terhadap prestasi belajar siswa di SMP Bina Bangsa Surabaya. Hal ini dibuktikan dari hasil perhitungan rumus rxy (0,522) yang lebih besar dari hasil perhitungan tabel (rt) baik pada taraf signifikansi 5 % (0,274) atau taraf signifikansi 1 % (0,354) yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak dan berarti terdapat pengaruh variabel X terhadap variabel Y
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MASA KINI
Tulisan ini membahas tentang keterkaitan antara pendidikan Islam dengan berbagai elemen kehidupan. Keterkaitan antara sisi teoritis pendidikan Islam dengan sisi praktis pendidikan Islam juga disampaikan di sini. Secara kajian, dimensi teoritis dengan aplikatif pendidikan Islam dapat dibahas sendiri-sendiri, tetapi secara praktis, kedua dimensi tersebut tidak bisa lepas satu sama lain. Pada prinsipnya, persoalan pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari beragam persoalan lainnya. Pendidikan Islam selalu terkait dengan berbagai elemen kehidupan, terutama manusia. Melalui pendidikan Islam manusia dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebaliknya, manusia (Muslim) juga menjadi aktor dari maju atau mundurnya pendidikan Islam. Antara umat Islam dan pendidikan Islam merupakan dua hal yang dapat diibaratkan seperti sekeping uang, yakni terdiri dari dua sisi yang berbeda tetapi tidak terpisah antara satu dengan lainnya
POLA PENDIDIKAN NABI YA’QUB A.S. DALAM MENDIDIK NABI YUSUF A.S. PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Metode pengajaran yang tergambar dalam kisah Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf berupa dialog interaktif yang memberikan panduan akan aksi pendidik dan reaksi anak didik. Sedangkan kompetensi pendidik dan etika anak didik dapat dijelaskan sebagai sikap-sikap yang mesti dimiliki oleh komunitas pendidikan; seperti kesabaran, menjaga rahasia, mengembangan bakat secara individual, melihat kondisi sosial terlebih dahulu jika akan menyampaikan sesuatu, mentakwilan mimpi, kasih sayang, mampu memanfaatkan situasi, mudah memaafkan, mendoakan pihak lain, serta bersikap pasrah dan tunduk. Sebagai pendidik dan anak didik, jika mampu menerapkan pola pendidikan seperti digambarkan di atas, maka insyaallah akan terlahirkan generasi yang baik, unggul dan kompetitif karena terlahir dari pola pendidikan Qur’ani
PENDIDIKAN ISLAM MASA MAJAPAHIT DAN DAKWAH SYEKH JUMADIL KUBRO
Bahasa Indonesia:Membahas sosok Syekh Jumadil Kubro, tidak lepas dari perdebatan panjang dalam menemukan sejarah utuh tentang asal usulnya. Dari manakah dia? Bagaimanakah kehidupannya? Di manakah dia bersemayam pada akhir hayatnya? Berpijak pada pertanyaan-pertanyaan tersebut, menjadi menarik ketika membahas sebuah sarasehan dalam peringatan haul ke 632 Syekh Jumadil Kubro yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Mojokerto. Dari sejumlah pakar, baik dari ahli arkeologi, sejarahwan maupun dari kalangan ulama yang diundang ada benang merah dalam menyepakati sosok Syekh Jumadil Kubro. Syekh Jumadil Kubro adalah tokoh nyata dan benar adanya dan bukan tokoh fiktif. Jika melihat konversi besar-besaran penduduk Jawa kepada Islam, maka sah untuk menyatakan kehebatan dan kelihaian Syekh Jumadil Kubro di dalam mengatur dakwah Islamnya. Bagaimana tidak, kekuatan Hindu-Majapahit yang begitu kokoh dengan didukung nama besar kerajaannya mampu “ditaklukan” dalam cengkraman aqidah Islam. English:The discussion of Syekh Jumadil Kubro figure cannot be denied from a long debate regarding its comprehensive history. Where he came from, how his life was, and where he buried in are still debatable. Beginning from the previously mentioned questions, it is interesting to discuss about a seminar within the event of 632nd annual commemoration of Syekh Jumadil Kubro which was conducted by Department of Tourism and Culture of Mojokerto District. The discussion by archeologist, historian, and ulamas ended up with a conclusion regarding the syekh figure. The figure was real. From mass conversion from Hinduism to Islam in Java, it was concluded that the syekh had a very effective missionary strategy so that the Hindus-Majapahit transformed into a Muslim society