Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
Not a member yet
    145 research outputs found

    The Changing Roles of Ulama and the Evolution of Islamic Schools: Some Insights from Moroccan and Indonesian Cases

    Full text link
    The ulama, who are scholars in the Islamic tradition, play a vital role in preserving the prophet's teachings and passing them down to future generations. In addition to this, they also have other important social functions. The combination of religious and social roles within the ulama allows them to influence social change with religious legitimacy. This article explores how the social roles of the ulama have evolved over time and how this has impacted the existence of Islamic schools. To illustrate this, examples are drawn from the literature on Morocco and Indonesia during the 20th and 21st centuries. During the colonial period in Morocco, the ulama and Islamic schools served as a cultural defense against French colonial influence. Meanwhile, in Indonesia, Islamic schools led by Ulama became the foundation of the Muslim resistance movement against Dutch colonial rule. In both cases, Islamic scholars and schools demonstrated their ability to respond to actual social situations, highlighting their cultural power and importance in society

    Epistemologi Pendidikan Islam Perspektif Fethullah Gülen dan Implementasinya terhadap Pendidikan Islam Integratif

    No full text
    This research is motivated by education in most Muslim countries which are still lagging behind and there is still a dichotomy between Islamic education and secular education. As a result, the Muslim generation has obstacles in contributing to the development of world civilization, which should reflect the Islamic principles of rahmatan lil 'alamin. This is because Islamic education does not adjust to the progress and competition of the times. The epistemological thought of education by Fethullah Gülen tries to provide a solution to this problem by trying to abolish the dichotomy in education by creating an integrated Islamic education system. The purpose of this study is to find out in depth the epistemology of Islamic education from the perspective of Fethullah Gülen and its implementation of integrated Islamic education. The results of this study are: 1) The essence of the epistemology of Gülen's Islamic education is hikma, i.e. being able to combine useful knowledge accompanied by its practice in life; 2) The source of the epistemology of Islamic education comes from the senses, reason and true reports (news) that come from other people or Allah's messengers; 3) The purpose of Islamic education is to create insan kamil who are able to master religious, social and scientific knowledge and practice them in life in order to create a world full of peace and global progress; 4) The integrated Islamic education model according to Fethullah Gülen is similar to the neo-modernism integration model, that is integrating Islamic tradition with the modernity of civilization.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pendidikan di sebagian besar negara muslim yang masih tertinggal dan masih adanya dikotomi antara pendidikan Islam dan pendidikan sekuler. Akibatnya, generasi Muslim mengalami hambatan dalam berkontribusi dalam pembangunan peradaban dunia, yang harus mencerminkan prinsip-prinsip Islam rahmatan lil 'alamin. Hal ini dikarenakan pendidikan Islam tidak menyesuaikan dengan kemajuan dan persaingan zaman. Pemikiran epistemologi pendidikan Fethullah Gülen mencoba memberikan solusi atas permasalahan tersebut dengan mencoba meniadakan dikotomi pendidikan dengan menciptakan sistem pendidikan Islam yang terintegrasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam epistemologi pendidikan Islam dari perspektif Fethullah Gülen dan implementasinya dalam pendidikan Islam terpadu. Hasil penelitian ini adalah: 1) Esensi epistemologi pendidikan Islam Gülen adalah hikma, yaitu mampu memadukan ilmu yang bermanfaat disertai dengan pengamalannya dalam kehidupan; 2) Sumber epistemologi pendidikan Islam berasal dari panca indra, akal, dan kebenaran laporan (berita) yang datang dari orang lain atau rasul Allah; 3) Tujuan pendidikan Islam adalah mewujudkan insan kamil yang mampu menguasai ilmu agama, sosial, dan keilmuan serta mengamalkannya dalam kehidupan guna mewujudkan dunia yang damai dan kemajuan global; 4) Model pendidikan Islam terpadu menurut Fethullah Gülen mirip dengan model integrasi neo-modernisme, yaitu memadukan tradisi Islam dengan modernitas peradaban

    Elderly Tahsin Recitation of Al-Qur'an: Efforts to Eliminate Al-Qur'an Illiteracy

    Full text link
    The tahsin recitation of the Qur'an is an endeavour at Ma'had Abu Ubaidah bin al-Jarrah Medan to eradicate Qur'an illiteracy among the elderly. The activity is in reaction to Indonesia's high degree of Al-Qur'an illiteracy. This study gathered information from key informants and program administrators through a participatory observation approach. Data from the field suggest that senior participants are divided into groups based on their age before participating in a series of Al-Qur'an reading practices with examples of lip motions. Ma'had also offers e-learning services in order to improve learning outcomes. The eradication of Al-Qur'an illiteracy is a response to past socioeconomic conditions that prohibited people from learning to read the Al-Qur'an. These factors may include low economic levels, an unsupportive social context, and a lack of educational understanding.Kegiatan tahsin tilawah al-Qur’an adalah sebuah upaya memberantas buta aksara al-Qur’an bagi lansia di Ma’had Abu Ubaidah bin al-Jarrah Medan. Kegiatanupakan respon atas tingginya tingkat buta aksara al-Qur’an di Indonesia. Dengan pendekatan observasi partisipatoris, penelitian ini mengumpulkan informasi dari informan kunci penyelenggara program dan dokumentasi. Data di lapangan menunjukkan adanya pengelompokan peserta lansia berdasarkan usia sebelum mengikuti rangkaian praktik membaca al-Qur’an dengan contoh gerakan bibir. Untuk mencapai penguatan hasil belajar, Ma’had juga menyediakan fasilitas e-learning. Pemberantasan terhadap buta huruf al-Qur’an ini merupakan respon atas kondisi sosial masyarakat di masa lalu yang menghambat seseorang untuk belajar membaca al-Qur’an. Kondisi-kondisi tersebut dapat meliputi rendahnya taraf ekonomi, lingkungan sosial yang tidak mendukung, dan tingkat kesadaran terhadap Pendidikan yang masih rendah

    Religious Education Based on Local Wisdom “Satu Tungku Tiga Batu” in Fakfak Community West Papua

    Full text link
    This article examines one of the strategic efforts to prevent the spread of ideology of radicalism and terrorism, even conflict through  religious education based on local cultural values as an effort to instill tolerant citizenship attitudes and uphold religious, national and state identities so that they remain inherent among the younger generation. Based on the result of the phenomenological qualitative research as well as interview data and observation  on the indigenous peoples of Fakfak regency of west Papua, the local wisdom of “Satu Tungku Tiga Batu” in the multi etnic and multi religious Fakfak indigenous communities is able to internalize its cultural values into cohesive and reflecting values in the character of its strong citizens. Local wisdom “Satu Tungku Tiga Batu” in  addition to functioning to maintain harmony and brotherhood, the concept of a three stone furnace also functions as a fakfak community identity that has a tolerant attitude, prioritizes the public  interest rather than personal interest, honestly, does not like to interfere in the affairs of others and love one another. Local wisdom based religious education is presented not only in school educational, but also in family and community settings. This is evident from the existence of the people of Fakfak of west Papua who are very tolerant of one another, so that harmony in religious and social life is maintained, even interethnic and interfaith conflicts can be said to never occur.Artikel ini mengkaji salah satu strategis upaya pencegahan penyebaran ideologi radikalisme dan terorisme, bahkan konflik melalui pendidikan agama berbasis nilai-nilai budaya lokal sebagai upaya untuk menanamkan sikap kewarganegaraan yang toleran dan menjunjung tinggi identitas agama, bangsa dan Negara agar tetap melekat di kalangan generasi muda. Berdasarkan hasil penelitian kualitatif fenomenologis serta data wawancara dan hasil observasi pada masyarakat adat kabupaten Fak-Fak Papua Barat, kearifan lokal Satu Tungku Tiga Batu pada masyarakat  adat Fak-Fak yang multietnis dan multi agama mampu menginternalisasi nilai-nilai budayanya menjadi nilai yang kohesif dan merefleksi dalam karakter warga masyarakatnya yang kuat. Kearifan lokal “Satu Tungku Tiga Batu” selain berfungsi menjaga kerukunan dan persaudaraan, konsep tungku tiga batu juga berfungsi sebagai ídentitas masyarakat Fakfak yang memiliki Sikap toleran, mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, jujur, tidak suka mencampuri urusan orang lain dan saling mengasihi. Pendidikan agama berbasis kearifan lokal yang diwajantahkan tidak hanya dalam lembaga pendidikan sekolah, tetapi juga dalam lingkungan keluarga, dan masyarakat. Hal ini terbukti dari keberadaan masyarakat Fak-Fak Papua Barat yang sangat toleran satu terhadap yang lain, sehingga kerukunan hidup beragama dan bermasyarakat tetap terjaga, bahkan konflik antaretnis dan antaragama dapat dikatakan tidak pernah terjadi

    Improving Students’ Social Responsibility via Islamic Religious Education and Social Problem-Based Learning

    Full text link
    The concept of social responsibility has been identified as a crucial element for developing a healthy and harmonious society. However, there is a growing concern about the decline of this character trait among university students in Indonesia. In response to this issue, this research aimed to investigate the effectiveness of an Islamic Religious Education learning model that focuses on addressing social issues in enhancing the social responsibility character of university students. This study employed a survey approach and collected data from students who took the Islamic Religious Education course at three different universities. The results indicated that the implementation of the learning model had a significant positive impact on students' social responsibility character, particularly in the aspects of providing help and showing empathy towards friends who are facing problems. Other aspects, such as facilitating social activities, conducting social actions, raising funds for social causes, providing facilities for social events, comforting friends in distress, and not underestimating other people's problems, were also positively impacted but still require further improvement. This research highlights the importance of social responsibility character in building good social relationships, and the need to integrate this concept into the Islamic Religious Education curriculum to nurture ethical and spiritual values and contribute to solving social problems in society.Penguatan karakter kepedulian sosial mahasiswa dapat dilakukan melalui pembelajaran pendidikan agama Islam berbasis problem sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis pandangan mahasiswa tentang  penguatan aspek-aspek karakter kepedulian  daalm pembelajaran pendidikan agama Islsam berbasis problem sosial  di Universitas negeri malang, politeknik negeri madiun dan universitas jember.  Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan survey. Informan dalam penelitian ini sebanyak 300 mahasiswa. Mereka mengisi angket yang berisi pertanyaan yang terkait dengan aspek-aspek karakter kepedulian sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek-aspek karakter kepedulain sosial mahasiswa bearda pada kategori baik dan sangat baik. Mereka mengetahui dan memahami pentingnya karakter kepedulian sosial.  Mahasiswa juga mampu menunjukkan perilaku berkarakter kepedulian sosial, diantaranya  memfasilitasi kegiatan bersifat sosial, Melakukan aksi sosial, Mengadakan pengumpulan dana sosial, Mengadakan fasilitas untuk mnyumbang, Menghibur teman yang sedih, Membantu teman yang sedang mengalami masalah, Tidak meremehkan masalah orang lain, dan Bersikap empati. Namun, tingkat capaian aspek-aspek karakter kepedulsin sosial  mahasiswa relatif bervariasi, dalam kategori baik dan sangat baik.  Rekomendasi dalam penelitian ini  adalah  penguatan karakter kepedulian sossial mahasiswa  tidak akan maksimal dalam pembelajaran PAI  jika hanya menekankan   literasi  keagamaan  namun  perlu  dengan stimulasi realitas sosial yang menantang untuk dipecahkan mahasiswa. Disamping itu  dapat diintegrasikan dengan kegiatan kokurikuler.. Sehingga  mereka membutuhkan pembinaan  secara intensif dengan  kegiatan kurikuler dan kokurikuler yang bermakna

    The Islamization of Science and Its Consequences: An Examination of Ismail Raji Al-Faruqi's Ideas

    Full text link
    This research is motivated by the advancement of science, which has varied effects on human life and the environment. Science, on the one hand, can help and reduce human burdens, but it also contributes to the destruction of human values, and even self-existence. Western science, which is secular in nature, is founded on the concepts of materialism, naturalism, and existentialism, producing information that is divorced from spiritual and moral values. As a result, Islamic scholars believe that the Islamization of science must be formalized. The goal of this research was to learn about Ismail Raji Al-Faruqi's concept of Islamization of Science. The literature study approach was employed in this study, which involved examining journals, books, research reports, periodicals, and other publications. According to the findings of this study, al-Faruqi is a figure with excellent ideas for resolving people's issues. The concept of education is inextricably linked to the concept of monotheism, which became known as the Islamization of knowledge. Islamization is accomplished by a process of rationalization and sacralization of knowledge, as well as through the integration of Western and Islamic science. Al-Faruqi's ideas contribute to the intellectual development of Muslim civilization by integrating Islamic moral standards with modern education, giving rise to intellectuals all over the world, including in Indonesia.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan ilmu pengetahuan yang melahirkan berbagai macam dampak bagi kehidupan manusia dan lingkungan. Ilmu pengetahuan di satu sisi dapat membantu dan meringankan beban manusia, namun di sisi lain juga berperan dalam menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan, bahkan eksistensi diri. Ilmu Barat yang berwatak sekuler dibangun di atas filosofi materialisme, naturalisme dan eksistensialisme, sehingga melahirkan ilmu yang jauh dari nilai-nilai spiritual dan moral. Oleh karena itu, Islamisasi ilmu pengetahuan dalam pandangan para pemikir Islam merupakan sesuatu yang harus dirumuskan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsep Ismail Raji Al-Faruqi tetang Islamisasi Ilmu (Islamization of Science).  Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah studi literatur, dengan cara menelaah jurnal, buku, laporan penelitan, majalah dan literatur lainnya. Adapun Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa al-Faruqi adalah salah seorang tokoh yang memiliki gagasan brilian dalam memecahkan persoalan yang dihadapi umat. Gagasan dalam pendidikan tidak terlepas dari konsep tauhid yang kemudian di dikenal dengan istilah Islamisasi ilmu. Konsep Islamisasi dilakukan dengan menggunakan proses pembenaran dan pendekatan sakralisasi pengetahuan serta melalui proses mengintegrasikan sains Barat dengan sains Islam. Pemikiran al-Faruqi berkontribusi dalam pengembangan intelektualitas masyarakat Muslim yang mengintegrasikan nilai-nilai moral keislaman dengan pendidikan modern yang melahirkan cendikiawan di dunia dan Indonesia

    Student Perceptions of Digital Literacy in Fiqh Education at Sunan Ampel State Islamic University of Surabaya

    Full text link
    In the era of industry 4.0, it is so easy for students to take digital information instantly without any activity to ensure the validity of previous information. This study aims to analyze students' perceptions of digital literacy skills in fiqh learning at State Islamic University (UIN) Sunan Ampel Surabaya. This research is qualitative with phenomenological glasses. The informants in this study were 160 students. Brande filled out an online questionnaire through a google form containing statements related to the basic digital literacy skills that have been developed. Then we conducted a semi-structured interview on the informant's answer results directly. The results of the study revealed that students have a good perception of literacy skills. They are ready to use tools to search, dig, select and process information. However, students have not mastered the basic tools for learning fiqh, namely Arabic. Students experience problems when looking for fiqh information in Arabic. The recommendation in this study is that students will not be optimal in fiqh learning if they only have digital literacy skill but the fiqh learning base is not yet qualified. They need a fiqh website that is in Indonesian with credible and valid references.Era industry 4.0 seperti saat ini, mahasiswa begitu mudahnya mengambil informasi digital secara instan tanpa ada aktivitas untuk memastikan kevalidan informasi sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mahasiswa tentang kemampuan literasi digital dalam pembelajaran fiqh di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan kacamata fenomenologi. Informan dalam penelitian ini sebanyak 160 mahasiswa. Mereke mengisi kuesioner online melalui google form yang berisi pernyataan terkait kemampuan dasar literasi digital yang telah dikembangkan. Kemudian kami melakukan wawancara semi terstruktur terhadap hasil jawaban informan secara langsung. Hasil penelitian mengungkap bahawa mahasiswa memiliki persepsi yang baik mengenai kemampuan literasi. Mereka sudah siap untuk menggunakan tools untuk mencari, menggali, memilih dan memproses informasi. Namun, mahasiswa belum menguasai perangkat dasar untuk belajar fiqh yaitu Bahasa Arab. Mahasiswa mengalami kendala ketika mencari informasi fiqh yang berbahasa arab. Rekomendasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa tidak akan maksimal dalam pembelajaran fiqh jika hanya memiliki modal skill literasi digital namun basis pembelajaran fiqhnya belum mumpuni. Sehingga mereka membutuhkan situs website fiqh yang berbahasa Indonesia dengan rujukan yang kredibel dan valid

    Syeikh Al-'Uṡaimin’s Views on the Institution and System of Education

    Full text link
    This study aims to examine the educational thinking of Sheikh al-'U'ṡaimin related to educational institutions and systems and their relevance to contemporary Islamic education. The research method used is the character study research method. This research is library research with qualitative type. The research data was obtained from the works of Sheikh al-'U'aimin and the works of others related to Sheikh al-'U'aimin. In analyzing the existing data, an interpretation method is adopted, namely an effort to achieve a correct understanding of the facts, data and symptoms. The final result of this research shows that the Sheikh proposed a new educational pattern formulation. The purpose of education according to the Shaykh is to eliminate the ignorance of students and society in general and obtain happiness in the world and the hereafter and maintain the religion of Allah. The educator is a noble profession that demands good competence and a sense of responsibility for the development of the potential of students. Meanwhile, successful students are those who adorn themselves with noble manners and morals and are consistent in treading the path of the claimant of knowledge. As for the method of education, an educator is expected to have creativity in teaching so that students feel comfortable.Penelitian ini bertujuan untuk menelaah pemikiran pendidikan Syekh al-‘Uṡaimin terkait lembaga dan sistem pendidikan serta relevansinya terhadap pendidikan Islam kontemporer Penelitian ini juga penting karena akademisi Islam seperti kekurangan tokoh yang dapat dijadikan panutan. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah  metode penelitian studi tokoh. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan jenis kualitatif. Data penelitian diperoleh dari karya-karya Syekh al-‘Uṡaimin dan karya-karya orang lain yang terkait Syekh al-‘Uṡaimin. Dalam menganalisis data yang ada, ditempuh metode interpretasi yaitu upaya untuk mencapai pemahaman yang benar terhadap fakta,  data dan gejala. Hasil akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa Syekh mengajukan rumusan pola pendidikan yang baru. Tujuan pendidikan menurut Syekh yaitu  untuk menghilangkan kebodohan peserta didik dan masyarakat secara umum serta memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat dan menjaga agama Allah. Adapun pendidik adalah sebuah profesi mulia yang menuntut kompetensi yang baik serta rasa tanggung jawab demi pengembangan potensi para peserta didik. Sementara peserta didik yang sukses adalah yang menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia serta konsisten dalam menapaki jalan penuntut ilmu. Adapun metode pendidikan, maka seorang pendidik diharapkan memiliki kreatifitas dalam pengajaran sehingga peserta didik merasa nyaman

    Innovation on Literacy Habit Program for Madrasah Ibtidaiyah in Surabaya

    Full text link
    The improvement of reading competence in Indonesia has not yet reached its maximum point. Indonesia’s achievements in a number of surveys also show poor results. Nevertheless, several cities in East Java have started to initiate the development of the literacy through various programs as an act of reflection on the findings of the previous surveys. In Surabaya, some programs have been initiated by goverment to cultivate literacy such as reading corner book review, book discussion, reading community, and others. These programs are aimed to increase reading interest (reading habit) of children in Surabaya. By using the Community Based Research (CBR) method, this research observed innovation as new programs about reading habit in the 27 Madrasah Ibtidaiyah in Surabaya. The author found that there are five stages of innovation (knowledge, persuasion, decision, implementation, and confirmation) were conducted by Madrasah Ibtidaiyah in Surabaya. The result indicates that all the stages have been done well by the library manager in Madrasah Ibtidaiyah in Surabaya. This can be seen from several aspects such as of the knowledge of the importance of literacy for their students, awareness to change for better future, and a decision to implement some new programs in the development of reading habitDi Indonesia, perkembangan level kemampuan membaca belum memuaskan. Prestasi Indonesia dalam sejumlah survey menunjukkan angka yang tidak menarik. Meskipun demikian, beberapa kota di Jawa Timur telah mulai menginisiasi pengembangan literasi melalui berbagai program sebagai tindakan refleksi atas temuan-temuan survei di atas. Di Surabaya, beberapa program telah diinisiasi oleh pemerintah untuk menumbuhkan literasi seperti sudut baca, ulasan buku, diskusi buku, pergerakan komunitas taman baca, dan lainnya. Program-program ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca (budaya baca) anak-anak di Surabaya. Dengan menggunakan metode Community Based Research (CBR), penelitian ini mengamati inovasi sebagai program baru tentang budaya membaca di 27 Madrasah Ibtidaiyah di Surabaya. Penulis menemukan bahwa 5 tahap inovasi (pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi) yang dilakukan oleh Madrasah Ibtidaiyah di Surabaya. Hasilnya menunjukkan bahwa semua tahapan telah dilakukan dengan baik oleh manajer perpustakaan di Madrasah Ibtidaiyah di Surabaya. Ini terlihat dari beberapa aspek, diantaranya pengetahuan tentang pentingnya literasi bagi siswa mereka, kesadaran akan perubahan menuju yang lebih baik, dan akhirnya membawa keputusan untuk mengimplementasikan beberapa program baru dalam pengembangan budaya baca

    Conceptualizing Integration of Islamic Education and Education in General at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    Full text link
    UIN Jakarta, with its distinct characteristics, focuses on integrating Islamic and general education as a unity. This research focuses on the oldest faculty: The Faculty of Educational Sciences (FITK, hereafter). This study aims to a) explore the concept of integration of Islamic and general education at FITK, and b) find out the extent to which lecturers at FITK understand the concept of integration. The approach used in this research was phenomenology. It employed the qualitative method to describe the concept of integration of Islamic and general education and reveal the extent of lecturers' understanding of scientific integration. The results showed that at the conceptual level, the paradigm of reintegration of Islamic and general education is an integration of Islamic knowledge and values, which is two-way: from secular sciences to Islamic values and from conventional Islamic religious materials to secular sciences. The study also found that scientific integration has long been present in the FITK academic environment. However, the concept of scientific integration itself does not appear to be a uniformity which causes many different interpretations from each study program, even from lecturers in the FITK environment. In addition, the concept of scientific integration has not been fully understood by each leader in the academic community of UIN Jakarta, mainly due to the lack of socialization and no appointment for specific institutions responsible for managing this integration process.Menjadi universitas yang menjadikan Islam sebagai corak penciri dan pembeda dari univesitas lainnya, UIN Jakarta memiliki fokus pada integrasi keilmuan yang mengedepankan Islam dan ilmu umum yang dapat berjalan beriringan dan bersamaan sebagai satu kesatuan. Penelitian ini berfokus pada fakultas tertua di UIN Jakarta, yakni Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Penelitian ini bertujuan untuk a) menemukan konsep pengembangan integrasi pendidikan Islam dan umum di FITK, dan b) mengetahui sejauh mana pemahaman dosen di FITK terhadap konsep integrasi ilmu pengetahuan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi dan menggunakan metode kualitatif yang berguna untuk memberikan konsep integrasi pendidikan Islam dan umum serta mengungkap sejauh mana pemahaman dosen terhadap integrasi keilmuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tataran konseptual, paradigma reintegrasi ilmu umum dan agama pada dasarnya adalah integrasi ilmu dan nilai-nilai Islam, yang bersifat dua arah, dari ilmu-ilmu sekuler ke nilai-nilai Islam, dan dari materi keagamaan Islam konvensional ke ilmu-ilmu sekuler. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa integrasi keilmuan sudah lama hadir di lingkungan FITK namun konsep integrasi keilmuan itu sendiri Nampak belum menjadi satu keseragaman yang menyebabkan adanya banyak penafsiran baik dari masing-masing program studi, bahkan dari dosen-dosen di lingkungan FITK. Selain itu, konsep integrasi keilmuan belum sepenuhnya dipahami oleh masing-masing pimpinan di lingkungan civitas akademika UIN Jakarta, terutama karena kurangnya sosialisasi dan tidak ada penunjukan bagi lembaga tertentu yang bertanggungjawab proses integrasi ini berjalan dengan baik di seluruh fakultas dan jurusan di UIN Jakarta

    106

    full texts

    145

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇