Forum penelitian Agro Ekonomi
Not a member yet
    347 research outputs found

    Usaha di luar kegiatan penangkapan ikan di desa pantai: Peluang dan tantangan pengembangannya

    Get PDF
    IndonesianTidak meratanya distribusi nelayan di beberapa desa pantai, menyebabkan tingkat pengusahaan perairan juga berbeda. Perairan di sekitar Selat Malaka dan Pantai Utara Jawa disinyalir telah mengalami kelebihan tangkap. Pada kondisi ini kehidupan nelayan sering semakin sulit, karena semakin terbatasnya hasil tangkapan. Akibatnya kemampuan nelayan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari semakin rendah, apalagi kegiatan penangkapan ikan ini terkait dengan musim serta fluktuasinya harga ikan. Dengan kondisi seperti ini sulit diharapkan terjadinya akumulasi modal yang memungkinkan nelayan mengembangkan berbagai jenis usaha lainnya. Sehingga upaya nelayan untuk keluar dari kegiatan penangkapan, sering terbentur pada masalah modal dan minimnya keterampilan yang dipunyai nelayan diluar kegiatan penangkapan ikan, karena terbatasnya waktu mereka untuk "melihat" aktivitas diluar kegiatan penangkapan ikan. Selain itu beberapa karakteristik dari kehidupan nelayan menghambat upayanya untuk mengembangkan usaha diluar kegiatan penangkapan. Hasil studi pustaka ini menunjukkan bahwa secara potensial usaha diluar kegiatan penangkapan seperti budidaya pantai dan usaha lainnya, sangat memungkinkan untuk dilakukan nelayan, terutama aktivitas yang tidak menuntut skill dan modal yang besar, serta dapat dilaksanakan oleh isteri nelayan dan anak-anaknya. Untuk itu berbagai instrumen yang dapat menetralisir hambatan-hambatan yang ada dalam diri nelayan sendiri dan yang ada diluar dirinya

    Tinjauan Penerapan Kebijakan Industri Ayam Ras : Antara Tujuan dan Hasil

    Get PDF
    EnglishThe government policy related to development of layer and broiler industry began in 1970 through foreign investment. In the same year the government approved development of broiler and layer hatchery industry from Japan and United States. This policy was followed-up by broiler and layer farms policy in 1980 that limited economic scales of the farms. The objective of the policy is to create employment as many as possible for smallholders backed up by Livestock Bill No. 67. After 20 years of the Bill enactment, however, the policy was ineffective and encouraged the big scale farms to arrive at uncontrollable growth. In 1996, namely right before economic crisis took place, layer and broiler industry were dominated by the big scale farms and the independent smallholders did not exist anymore. This paper aims to describe the policies related to layer and broiler industry development since 1979 to 2003. This experience is important as the knowledge in order to develop the other commodities such as dairy cows, native chicken, food crops, and estate crops which, so far, are still chained up in the smallholders protecting policies.IndonesianKebijaksanaan pemerintah menyangkut pengembangan industri ayam ras dimulai tahun 1970 melalui kebijakan penanaman modal asing (PMA). Pada tahun tersebut disetujui pengembangan pembibitan ayam ras dari negara Jepang dan Amerika Serikat. Kebijakan ini disusul dengan kebijakan budidaya tahun 1980 yang mengatur pembatasan skala usaha ayam ras. Tujuan kebijakan tersebut adalah untuk menyediakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya bagi rakyat  dengan dukungan UU Peternakan No 67.  Namun setelah 20 tahun berlangsung, ternyata kebijakan ini tidak berhasil efektif  bahkan mendorong percepatan pertumbuhan skala besar yang semrawut.  Pada tahun 1996 sesaat sebelum krisis ekonomi, industri ayam ras dikuasai oleh peternak skala besar. Usaha rakyat dalam bentuk mandiri dapat dikatakan tidak ada lagi. Tujuan tulisan ini  adalah untuk memaparkan perjalanan kebijakan pengembangan industri ayam ras dari tahun 1979 sampai tahun 2003. Pengalaman ini penting sebagai pengetahuan dalam rangka mengembangkan komoditas lain seperti sapi perah, ayam buras dan  tanaman pangan, maupun perkebunan yang sampai saat ini terbelenggu dalam kebijakan perlindungan usaha rakyat

    Kajian Aspek Produksi dan Pemasaran Jeruk pada Lahan Pasang Surut dan Lahan Kering di Sulawesi Selatan: Studi Kasus di Kabupaten Luwu dan Selayar

    Get PDF
    IndonesianTulisan ini bertujuan untuk membahas: pertama. mengidentifikasi potensi lahan pengembangan jeruk, kedua mengkaji keragaan dan kelayakan usahatani jeruk pada lahan pasang surut dan lahan kering, ketiga mengkaji sistem pemasaran jeruk, dan keempat mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi baik pada produksi maupun pemasarannya, sehingga bisa dirumuskan strategi pengembangannya. Berdasarkan kelayakan finansial menunjukkan bahwa usahatani jeruk layak diusahakan baik di daerah sentra produksi lama (lahan kering) maupun di daerah sentra produksi baru (lahan pasang surut), yaitu dengan nilai B/C 3.09 untuk sentra lama dan 2,25 untuk sentra baru, NPV sebesar yaitu Rp 2.674.000 untuk sentra lama dan Rp 5.305.000 untuk sentra baru, IRR = 50,88 persen sentra lama dan 53,97 persen untuk sentra baru. Pada aspek pemasaran menunjukkan bahwa besarnya margin pemasaran jeruk keprok selayar sebesar Rp 1.125/kg atau 69,23 persen dari harga jual pedagang pengecer Ujung Pandang, yang terdiri dari margin biaya Rp 337/kg (30 persen) dan margin keuntungan sebesar Rp 788/kg (70 persen). Sedangkan margin pemasaran jeruk Siam asal kabupaten Luwu sebesar Rp 1.200/kg atau 70,59 persen dari harga jual pengecer Ujung Pandang, yang terdiri margin biaya Rp 311/kg (26 persen) dan margin keuntungan Rp 889/kg (74 persen)

    Prospek "Rice Garden" di Indonesia

    Get PDF
    IndonesianTehnik bercocok tanam "rice garden" telah dipraktekkan pertama kali oleh seorang petani di Philipina bernama Lorenzo. P. Jose. Petani tersebut melakukan cara ini pada sebidang tanah sawah seluas kurang lebih satu hektar lalu dibagi menjadi tigabelas petak kecil. Petak-petak sawah tersebut ditanami berturut-turut dalam selang satu minggu sehingga dapat dipanen setiap minggu. Oleh IRRI teknik ini telah disempurnakan lagi sehingga memperoleh hasil maupun pendapatan yang lebih tinggi. Tehnik "rice garden" yang telah disempurnakan IRRI, dicoba kembali di Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi dengan mempergunakan lahan yang hampir sama dibagi dalam tigabelas petak (750 m2/petak). Hasil gabah rata-rata yang diperoleh dari tehnik ini adalah 267,3/petak/minggu, dengan pendapatan Rp 25.393,50 (harga gabah Rp 95,00/kg) sedang biaya produksi yang dikeluarkan perpetak/minggu adalah Rp 19.471,50. Keuntungan bersih diperoleh sebesar Rp 5.922/petak/minggu. Keuntungan tersebut masih belum memuaskan bila dibandingkan dengan hasil yang dicapai di IRRI

    Tataniaga Kentang Sumatera Barat Keluar Daerah: Studi Kasus di Kecamatan Banuhampu Sungai Puar Kabupaten Agam ke Pakan Baru

    Get PDF
    IndonesianKentang termasuk komoditi pangan yang cukup penting karena merupakan sumber protein dan karbohidrat yang tinggi. Konsumsi kentang Indonesia relatif rendah (1 gk/kapita/tahun) dibanding negara lain. Perkembangan penduduk dan perbaikan pendapatan merupakan faktor penunjang dalam meningkatkan produksi, tetapi sebaliknya produksi kentang di Sumatera Barat dalam 5 tahun terakhir tidak menunjukkan peningkatan yang berarti. Rendahnya harga dan meningkatnya biaya masukan dianggap sebagai penyebab tidak meningkatnya produksi. Pembuktian lebih lanjut dari anggapan ini dilihat dengan melakukan analisa biaya produksi serta analisa penyebaran harga dari produsen hingga konsumen. Dari biaya korbanan langsung sebesar Rp 844.650 diperoleh keuntungan Rp 594.190 (B/C=1,7) pada tingkat produksi rata-rata 8,39 ton/ha. Saluran utama dalam tataniaga kentang terdiri atas 4 mata rantai. Analisa penyebaran hanya menunjukkan bahwa besarnya margin petani adalah 64,15 persen pada level harga Rp 170/kg margin biaya 19,73 persen dan margin keuntungan 16,12 persen. Biaya tataniaga sebagian besar diserap untuk transport cost disamping ini selama pemasaran terjadi penyusunan sebesar 8,5 persen

    Industri Perunggasan: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan

    Get PDF
    EnglishRegarding sustainable economic development, the government have to consider three main roles, i.e. : to accelerate growth through efficiency improvement, to generate equity and justice, and to maintain stability as well as macro-economic growth. The economic system being exclusively bias to one of the said economic dimensions will not sustainable in the long-run. The assessment which accommodate complementary growth and equity on poultry industry is important, due to structural problems on the respective industry, in addition to marginalization of smallholder poultry farmers. Government policies being bias toward economic growth in the condition of economic crisis have substantial negative impact on national poultry industry. IndonesianDalam konteks pembangunan ekonomi berkelanjutan pemerintah mempunyai tiga fungsi sentral yaitu meningkatkan efisiensi guna mempercepat pertumbuhan, menciptakan pemerataan dan keadilan, memacu pertumbumhan ekonomi secara makro dan menjaga stabilitasnya. Suatu sistem perekonomian yang bias ke salah satu tujuan akan menghasilkan kinerja pembangunan ekonomi yang rapuh. Dalam kontek ini, kajian yang memadukan antara pertumbuhan dan pemerataan pada industri perunggasan di pandang sangat relevan, karena pada bidang usaha ini telah terjadi ketimpangan struktur pasar input, pasar hasil (output), integrasi vertikal dan horisontal, dan tersisihnya peternakan rakyat. Kebijakan pemerintah yang bias ke pemacuan pertumbuhan ekonomi adanya dampak krisis ekonomi berkepanjangan telah berdampak buruk pada kinerja industri perunggasa

    Aspek Ekonomi Pengembangan Transmigrasi Dengan Pola Usaha Peternakan

    Get PDF
    IndonesianKajian ini menggunakan data sekunder dan tinjauan tentang pengembangan transmigrasi berpolakan peternakan. Disamping itu juga diperkaya dengan hasil pengamatan langsung di daerah transmigrasi Sarolangun-Bangko Jambi. Di daerah transmigrasi dengan pola tanaman pangan dan perkebunan, usaha peternakan perlu diarahkan menjadi komponen penting dalam usahatani dengan sasaran optimalisasi kegiatan dan kelestarian usahatani tanaman. Pergeseran ini hendaknya dilakukan secara selektif, dengan mengembangkan pola tanam tumpangsari pada budidaya tanaman pangan yang menjamin ketersediaan pakan dan pengembangan padang-penggembalaan pada lahan di bawah tanam perkebunan. Pemilihan jenis ternak pada transmigrasi yang sejak semula dirintis berpolakan peternakan hendaknya telah mempertimbangkan potensi wilayah, aspek kemudahan pelayanan, transportasi, pemasaran dan kecukupan penyediaan pangan dan pakan penguat. Pengembangan pola ini membutuhkan lahan per kepala keluarga yang cukup luas, sehingga perlu usaha reformasi paket program transmigrasi yang berjalan selama ini. Realisasinya sebaiknya dikaitkan dengan program Ternak Inti Rakyat dan petani transmigrasi hendaknya dipilih petani maju yang berorientasi wiraswasta

    Pola Kesempatan kerja dan sumber pendapatan rumah tangga di pedesaan Jawa barat

    No full text
    There is no abstract available from the publish and or printed articl

    Beberapa perubahan agro-ekonomi dalam pengembangan model farm di DAS Citanduy

    Get PDF
    IndonesianTeknologi Model Farm yang sejak tahun 1981 telah dikembangkan di wilayah hulu DAS Citanduy telah berhasil meningkatkan produkstivitas usahatani, penggunaan tenaga kerja, pendapatan, dan mengurangi erosi. Sebagai suatu cara penyuluhan, teknologi Model Farm telah banyak dicontoh oleh para petani penggarap lahan miring di DAS Citanduy. Keberhasilan yang dicapai dalam pengembangan teknologi Model Farm ini tidak terlepas dari dukungan layanan penunjang lainnya yang dikembangkan oleh Proyek Citanduy (seperti: penyuluhan, penelitian terapan, kredit usahatani, bantuan peluasan paket teknologi pertanian, pembuatan jalan masuk), dan dukungan pemerintah daerah serta instansi-instansi terkait lainnya. Dalam masa mendatang ini sudah selayaknya teknologi Model Farm serta semua layanan penunjungnya dilembagakan. Dalam pelembagaan tersebut, masih perlu dibenahi beberapa hal yang menyangkut: fleksibilitas teknologi terhadap kondisi agro-ekologis yang beragam, keterbatasan petani dalam penguasaan lahan dan modal, keterbatasan petani untuk menjangkau jaringan pemasaran, pemantauan dan perbaikan teknologi, dan peran serta petani dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan dalam pengembangan sistem usahatani yang berwawasan lingkungan

    Pengaruh luas kebun dan pendapatan usahatani kelapa dalam pengolahan pasca panen kelapa di tingkat petani

    Get PDF
    IndonesianPengolahan pasca panen kelapa merupakan suatu pilihan yang terbuka bagi petani. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh luas kebun, pendapatan, dan faktor lain yang mempengaruhi keputusan tersebut. Penelitian dilakukan di Lampung dan Sulawesi Utara sepanjang bulan Agustus sampai Oktober 1989 dengan melakukan wawancara kepada petani-petani kelapa. Terlihat bahwa luas kebun dan pendapatan usahatani kelapa, serta pengeluaran untuk konsumsi keluarga berpengaruh nyata terhadap keputusan pengolahan kelapa

    320

    full texts

    347

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Forum penelitian Agro Ekonomi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇