Jurnal Filsafat
Not a member yet
668 research outputs found
Sort by
INDEKS SUBJEK JURNAL FILSAFAT Volume 24, Tahun 2014
INDEKS SUBJEKJURNAL FILSAFAT Volume 24, Tahun 201
METODOLOGI KEILMUAN PANCASILA: OPERASIONALISASI DAN INTEGRASI KEILMUAN PANCASILA DALAM UPAYA PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA
Pancasila seharusnya diperkenalkan sebagai sebuah produk budaya dengan pendekatan filosofis, bukan sebagai produk politik. Bagaimana hal tersebut dilakukan? Untuk menjawabnya, perlu bagi kita untuk memperhatikan secara serius metodologi apa yang dihadirkan. Metodologi adalah sebuah upaya seseorang (saintis, calon saintis/mahasiswa) untuk mencari “jalan” atau cara yang tepat melalui aktivitas-aktivitas ilmiah dan riset. Analoginya adalah kita bisa memiliki sebuah cara atau pendekatan, yaitu ketika memiliki pertimbangan tepat dan benar dalam memahami Pancasila, khususnya yang berkaitan dengan nilai yang bersumber dari Pancasila (baik nilai dasar dan nilai praktis). Operasionalisasi dan integrasi ilmu pengetahuan memerlukan upaya pengamatan yang luas terhadap gejala-gejala pengalaman manusia, khususnya dalam performa aksi-aksi yang beragam baik dalam kapasitas sebagai individu maupun warga bangsa. Melalui penciptaan integrasi ilmu pengetahuan dengan nilai Pancasila, upaya-upaya pembangunan karakter bangsa dengan sendirinya akan terealisasi
What is This Thing Called Adat Logic?
The notion of adat (or custom) law does not encourage people in philosophy to reveal its logic. This article aims to investigate the possibility of adat logic, its variety, and a possible common ground or thesis among its own kinds. In general, the adat logic means the true contradiction between the rigidity and the reflexibility of custom. In other words, it resembles the idea of dialetheia in modern logic, but it does not mean that the adat logic is a subdivision of the former. To seek a thesis of adat logic is to discuss the Javanese and Minangkabaunese adat logics, and I transform both logics into some notations for the sake of avoiding unnecessary linguistic challenges and hurdles. Thus, I insert each notation of a particular adat logic into the general notation of adat logic. By doing so, I wish to discover a common ground between some different adat logics
[JF] Pengantar Redaksi Vol. 32 No. 1 Februari 2022
Pembaca yang Budiman,Dewan Redaksi Jurnal Filsafat sedang melakukan langkah perubahan strategis setelah memperoleh kembali Akreditasi Nasional Peringkat Sinta 2, yakni melakukan peningkatan mutu naskah jurnal. Salah satu indikatornya adalah menyelaraskan manuskrip dalam bentuk Bahasa Inggris untuk menjalin komunikasi dan memberikan kontribusi ilmiah dalam skala internasional. Melalui perubahan strategis ini, Jurnal Filsafat berkomitmen secara sungguh-sungguh meningkatkan kapasitasnya untuk meraih Akreditasi Peringkat Sinta 1.Pada Edisi 32 Nomor 1 Februari 2022, Jurnal Filsafat menampilkan enam artikel dengan jumlah penulis sepuluh orang. Tiga artikel dalam Bahasa Indonesia dan tiga artikel dalam Bahasa Inggris. Melalui strategi baru ini, harapan kami, Jurnal Filsafat mulai secara konsisten melakukan peralihan dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris, sehingga ruang diskusi ilmiah-filosofis dengan berbagai filsuf, pemikir, dan penulis di seluruh dunia, dapat terbuka lebih luas. Penulis pertama, Martin Suryajaya, menyajikan artikel berjudul “Asal-Usul Pemikiran tentang Sekularisme di Abad Pertengahan”. Suryajaya berusaha melacak asal-usul wacana sekularisme dalam filsafat politik Abad Pertengahan, khususnya dalam pemikiran Dante Alighieri, Marsilius Padua dan William Ockham. Suryajaya memeriksa respons terhadap kekuasaan mutlak gereja namun secara bersamaan melihat terdapat benih-benih sekularisme dalam pemikiran William Ockham. Dante dan Marsilius Padua justru mengklaim bahwa otoritas religius dikandung dalam otoritas sekuler. Hasil pembacaan Suryajaya ialah membedakan model sekularisme modern dengan abad pertengahan.Artikel kedua, bertajuk “To Believe in Historical Progress: On Axel Honneth’s Normative Grounding of Critique” ditulis oleh Min Seong Kim. Kim mengupas secara kritis teori kritis Axel Honneth yang digunakan untuk melampaui rasionalitas komunikatif Habermas dengan cara melibatkan kritik imanen yang kuat untuk menjamin adanya dasar normatif kritik tanpa mengandalkan prinsip-prinsip transenden atau transhistoris. Uniknya, Min memberikan contoh praktikal tentang kritik atas konsepsi Pancasila secara historis bahwa ada kemungkinan Pancasila dapat ditinjau dan dikritisi ulang pada dimensi normatif dan transformatifnya. Min memberikan catatan kritis bahwa tentang keberhasilan strateginya untuk membumikan normativitas teori kritis antar generasi.Penulis selanjutnya, Qusthan Abqary Hisan Firdaus, dengan penuh semangat memaparkan artikel berjudul “What Is This Thing Called Adat Logic?”. Firdaus menawarkan menginvestigasi kemungkinan logika adat, keragamannya, dan sebuah dasar pijakan melalui dua contoh adat logika Jawa dan logika Minangkabau. Hal yang menarik dari artikel ini adalah membawa kata ‘logika adat’ dengan mendekati ide tentang dialetheia di dalam logika modern, tetapi berusaha membuktikan bukan sebagai sub-divisi dari dialetheia itu sendiri. Artikel ini masih membuka diskusi lebih lanjut tentang, apa yang dinamakan dengan logika adat? Meskipun demikian, Firdaus telah memberikan notasi dari sebuah logika adat yang khusus ke dalam notasi umum seputar logika adat.Robertus Wijanarko dan Valentinus Saeng menulis artikel berjudul “Human Beings and Social Structure in Frantz Fanon’s Philosophical Thought”. Artikel ini mengkritisi ulang gagasan Frantz Fanon tentang gagasan humanisme kolonial yang diskriminatif dan eksklusif. Membersamai teori poskolonial, Wijanarko dan Saeng, menelusuri bahwa konsep humanisme baru Fanon ini menyuguhkan sebuah wacana teoretis dalam mengembangkan pemikiran humanisme Indonesia yang inklusif secara eksistensial terlebih lagi wacana Poskolonial di Indonesia sedang mendapatkan perhatian publik akhir-akhir ini.Artikel kelima berjudul, “Realisme Perspektival Edmund Husserl: Rekonstruksi Metafisik terhadap Teori Intensionalitas” karya Taufiqurrahman. Karya ini membawa alternatif pendekatan di antara perdebatan besar posisi metafisik Edmund Husserl. Justru, Taufiqurrahman berfokus pada rekonstruksi metafisik terhadap teori intensionalitas Edmund. Dalam penelitian ini Taufiqurrahman menyimpulkan empat poin, tentang intensionalitas kesadaran terhadap objek yang termediasi oleh makna; objek intensi yang sifatnya transenden dan independen dari kesadaran; perspektif yang menyituasikan intensi; serta mengategorikan intensionalitas Husserl sebagai versi realisme perspektival.Artikel terakhir sebagai sebuah renungan filosofis Untara Simon, Datu Hendrawan, dan Antonius Yuniarto yang berjudul “Subjek Pasca Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Filsafat Politik Michel Foucault”. Artikel ini menggunakan pendekatan filsafat politik Michel Foucault. Salah satu temuannya adalah selama masa pandemi Covid-19, terdapat strategi kuasa terhadap individu yang dilakukan untuk mencapai tujuan politik komunitas/masyarakat yang dianggap lebih penting daripada tujuan pribadi individual. Simon, Hendrawan, dan Yuniarto mengkritisi bahwa perlu adanya sikap yang terbuka ketika subjektivitas sedang terobang-ambing dalam berbagai arus, salah satunya kontrol politik yang ketat.Mengakhiri kata pengantar ini, atas nama Dewan Redaksi Jurnal Filsafat, kami menghaturkan terimakasih kepada para penulis, reviewer, editor dan staf redaksi yang telah berkontribusi dalam edisi ini. Kepada para pembaca selamat membaca dan menikmati setiap artikel pada edisi ini ! Yogyakarta, 20 Februari 2022Salam Hormat,Dewan Redaks
Diskursus Multikulturalisme dan Wajah Indonesianya
Apa wajah multikulturalisme Indonesia? Pertanyaan ini mengganggu kemapanan nalar, terutama yang senantiasa mengasumsikan konsep multikulturalisme di balik kehidupan sosial dan politik masyarakat Indonesia. Tugas ini menjadi tidak gampang ketika berhadapan dengan kabut konseptual di sekitar multikulturalisme. Karena itu, artikel ini menerima amanat untuk menyasar dua tujuan. Tujuan pertama mengungkap usaha menyibak kekalutan konseptual sekitar multikulturalisme. Demi tugas ini, bagian pertama akan meliputi penjelasan tentang cakupan, justifikasi, teori dasar, dan kritik multikulturalisme sebagai sebuah konsep filosofis. Tujuan kedua mengarahkan penulis untuk mengidentifikasi wajah multikulturalisme Indonesia. Tujuan ganda penulisan ini mengalir dari maksud untuk memberikan klarifikasi konseptual tentang multikulturalisme dan identifikasi wajah keindonesiaannya. Demi mencapai tujuan ganda tersebut, penulisan artikel ini menggunakan aparatus metodis deskriptif analitis, sehingga tergolong penelitian kualitatif. Dengan instrumen metodis tersebut, penulis mendeskripsikan diskursus multikulturalisme yang meliputi cakupan, justifikasi, teori dasar, dan kritik terhadap multikulturalisme. Analisis terhadap diskursus multikulturalisme ini menghasilkan identifikasi pola dasar yang membentuk wajah multikulturalisme Indonesia
Subjek Pasca Pandemi Covid-19 dalam Perspektif Filsafat Politik Michel Foucault
Tujuan artikel ini adalah untuk menunjukkan bahwa pada masa pandemi covid 19, berbagai upaya yang dilakukan setiap organisasi sosial untuk menjaga keselamatan warganya menghasilkan berbagai strategi kuasa yang mengatur tindakan individu. Bagi setiap individu, proses politik ini menempatkan kebebasan dalam risiko. Dengan alasan demi keselamatan bersama, tiap orang dikondisikan untuk tidak menjadi subjek yang bereksistensi dan mengejar tujuannya sendiri. Oleh karena itu, artikel ini ingin menjawab pertanyaan dasar soal bagaimana strategi kuasa dijalankan dan mengarahkan tindakan individu pada masa pandemi dan bagaimana individu bisa menjadi subjek yang menentukan diri dan subjektivitasnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah meta-analisis dan hermeneutika dengan menggunakan kerangka teori filsafat politik Michel Foucault. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa dalam masa pandemi covid-19 ini, strategi kuasa terhadap individu dilakukan untuk mencapai tujuan politik komunitas/masyarakat yang dianggap lebih penting daripada tujuan pribadi individual. Situasi ini menantang eksistensi subjektivitas. Meski demikian, belajar dari Foucault, peneliti menemukan bahwa eksistensi subjek tetap bisa dibentuk sekalipun individu berada dalam situasi kontrol politis. Pembentukan subjek ini terjadi jika seseorang mampu menentukan tujuan hidup yang ingin dicapai, memahami hal-hal mendasar dalam hidupnya yang harus diubah untuk mencapai tujuan hidup, menentukan bagaimana ia berelasi dengan hal-hal mendasar serta mampu mempraktekkan teknik atau strategi konkret
TINJAUAN FILOSOFIS TERHADAP TRADISI NU: SEBUAH UPAYA EKSPLORASI FILSAFAT NUSANTARA
Artikel ini merupakan penelitian Filsafat Nusantara, berupa kajian-kajian filosofis tentang kearifan lokal yang digali dari tradisi masyarakat NU atau yang populer dengan sebutan nahdliyin, yaitu pengikut Nahdlatul Ulama (NU), organisasi masyarakat dan keagamaan yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari pada 1926, baik secara organisasional (jam'iyah) maupun komunal (jamaah). Rumusan masalah dalam kajian adalah: pertama, bagaimana bentuk-bentuk kearifan lokal yang terkandung dalam tradisi NU?, dan, kedua, bagaimana analisis filosofis terhadap tradisi NU tersebut? Dari kajian yang dilakukan terungkap ada beberapa tradisi yang dilakukan warga NU, antara lain: mengikuti paham Ahlus-sunnah wal-Jamaah (Aswaja), berpedoman pada mazhab muktabarah, bertarekat, ziarah kubur, tahlilan, dan tawassul. Tradisi-tradisi tersebut dilakukan warga NU sebagai bentuk kearifan lokal yang mereka miliki dalam membangun relasi harmonis dengan tradisi lokal yang telah berkembang sebelumnya di Indonesia
Seni, Sastra, dan Imajinasi untuk Pengembangan Emosi dalam Pandangan Martha Nussbaum
Kehidupan publik erat kaitannya dengan emosi yang dialami setiap orang dalam hidup bermasyarakat. Martha Nussbaum hadir dengan pandangannya tentang emosi yang berperan penting dalam kehidupan politik ekonomi. Melalui kajian pustaka yang membedah beberapa buku dan jurnal karya Nussbaum, tulisan ini hendak memaparkan tentang peran emosi dalam hidup politik untuk membentuk masyarakat demokratis. Bagi Nussbaum, imajinasi dibutuhkan untuk mengolah emosi yang melahirkan empati dan bela rasa. Imajinasi dalam pandangannya adalah kemampuan untuk membayangkan bagaimana rasanya berada dalam posisi orang lain. Kemampuan ini membantu setiap orang untuk dapat menghargai dan menghormati martabat kemanusiaan setiap orang. Saat setiap orang memiliki kemampuan ini, diharapkan tidak ada lagi orang yang akan mau serakah dan egois pada sesama maupun lingkungannya. Kehidupan politik yang stabil bisa terwujud bila kehidupan ekonomi yang adil sungguh-sungguh tercipta dalam masyarakat. Imajinasi membantu setiap orang untuk lebih peka dan peduli kepada sesama, saat mereka dapat membayangkan bila berada dalam posisi orang lain, terutama yang tidak seberuntung mereka. Emosi yang diolah dengan bantuan imajinasi mengembangkan dalam diri seseorang kemampuan untuk berempati dan berbela rasa kepada sesamanya, baik dalam lingkungan yang dekat maupun yang jauh. Masyarakat demokratis yang setara membantu untuk mewujudkan kehidupan politik yang stabil dan ekonomi yang adil
Implikasi Etika Solidaritas Knud Ejler Løgstrup terhadap Korban Virus Covid-19 di Indonesia
The purpose of this article is to understand and analyze critically and sharply about the solidarity’s ethics of Knud Ejler Løgstrup and its implications for the victims of covid-19 in Indonesia. The research method is library research using the hermeneutic method. The results of research showed Løgstrup's thought of solidarity became the basis for solidarity on victims of desease covid-19, solidarity on victims of covid-19 was not just a feeling, it was not normative, always asymmetrical, a moral phenomenon and the hallmark of love.