Jurnal Filsafat
Not a member yet
668 research outputs found
Sort by
Human Beings and Social Structure in Frantz Fanon’s Philosophical Thought
In response to the Colonial discriminative and exclusive concept of humanism, Frantz Fanon, an Algerian postcolonial thinker, proposes that the idea of humanism needs to be inclusive. To avoid the trap of the essentialist concept of humanism, Fanon argues that our understanding of human beings needs always to be connected with the existing social structure. By utilizing a postcolonial theory as a lens of analysis, this study will explore Frantz Fanon’s existential concept of human existence and investigate his philosophical-political thoughts. This exploration is driven by these critical questions: how is Fanon’s new understanding of the existential concept of human existence, which he proposes as a more inclusive concept? How does Fanon draw the correlation between human existence and social structure? What is the significance of his thoughts to critically investigate the socio-political structure in the postcolonial Indonesia? Our critical research will focus mainly on several of Fanon’s works: The Wretched of the Earth, Toward the African Revolution, and Black Skin White Masks. His other works will certainly be considered. We will utilize a litterer critical analysis method in approaching these works of Fanon. This new concept of Fanonian humanism, we argue, gives a theoretical frame and direction to develop existentially our understanding of an inclusive Indonesian humanism
Narrative Connectedness: A Chain for Understanding Others in The Philosophy of Eleonore Stump
This essay aims to explore Eleonore Stump’s insights on narrative as a means of knowing others and to defend narrative cognitivism. Central to this defense is an examination of the narrative analysis in mediating second-person experience as a tool to gain both self-understanding and understanding others. This study is a combination of the expository, the analytical, and the critical methods. It is expository because it aims to understand how Stump explores the variant variable in seeking the meaning and explanation of human interaction. It is analytical because it examines how second-person experience can be communicated in narrative. And it is critical because it introduces a methodological concept in dealing with her thoughts and demonstrates in which sense her approach is tenable or not. In developing this approach, I introduce the second-person perspective and the nature of knowledge that is acquired through narrative. I conclude with a discussion of the contribution of narrative connectedness to the understanding of the other as a person. This article will show that narrative connectedness is a significant form of reasoning, a medium for understanding, and an instrument for self-expression
MITOS: EKPLORASI DEFINISI DAN FUNGSINYA DALAM KEBUDAYAAN
Artikel ini mengkaji tentang mitos dengan mengungkap definisi-definisinya, teori-teori yang menjelaskannya, dan mengidentifikasi peran dan fungsi mitos tersebut dalam kebudayaan. Kajian ini merupakan kajian kepustakaan, dengan mempelajari data yang diperoleh dari buku teks, hasil-hasil penelitian, jurnaljurnal, dan sumber pustaka lainnya. Kemudian data-data tersebut dianalisa dengan cara: penafsiran, koherensi dan holistik, deskripsi, dan analisis-sintesis. Hasil kajian menunjukkan bahwa: pertama, mitos secara umum bermakna cerita-cerita yang berkembang di masyarakat, dan dipercaya mempunyai keterkaitan dengan kekuatan spiritual dari masa lampau, serta memiliki fungsi langsung bagi kehidupan manusia. Kedua, disebabkan fungsinya, mitos memiliki peran dalam terbentuknya sebuah kebudayaan. Mitos dapat membatasi sikap dan kebiasaan manusia karena di dalamnya terkandung kepercayaankepercayaan yang membuat sekelompok orang akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam mengekspresikan kebudayaannya. Kebanyakan dari mitos tersebut dipercaya memiliki kaitan dengan persoalan hubungan manusia dengan alam (lingkungan sekitar
Realisme Perspektival Edmund Husserl: Rekonstruksi Metafisik terhadap Teori Intensionalitas
Posisi metafisik Edmund Husserl seringkali diperdebatkan di antara para komentatornya: apakah Husserl itu realis, idealis, atau netral secara metafisik. Alih-alih berambisi untuk membuat klaim yang terlalu umum tentang pemikiran Husserl, penelitian ini hanya fokus pada teori intensionalitas untuk mengetahui bagaimana komitmen metafisik Husserl di dalam teori tersebut. Penelitian ini, oleh karena itu, bertujuan untuk melakukan rekonstruksi metafisik terhadap teori intensionalitas Edmund Husserl dan kemudian membuktikan bahwa intensionalitas Husserlian lebih bercorak realis daripada idealis ataupun netral secara metafisik. Dengan menggunakan metode analisis tekstual terhadap karya-karya Husserl, penelitian ini setidaknya menghasilkan empat temuan. Pertama, intensionalitas kesadaran terhadap objeknya, dalam kerangka Husserlian, selalu dimediasi oleh makna. Kedua, objek intensi di dalam intensionalitas Husserlian itu bersifat transenden dan independen dari kesadaran. Ketiga, objek yang sama dapat diintensikan dengan mediasi makna yang berbeda-beda sesuai dengan perspektif yang menyituasikan intensi. Oleh karena itu, keempat, teori intensionalitas Husserl dapat dikategorikan sebagai salah satu versi dari realisme perspektival
To Believe in Historical Progress: On Axel Honneth’s Normative Grounding of Critique
One of the most ambitious contributions Axel Honneth has made to critical theory consists in his attempt to ground the normativity of critique beyond communicative reason—the normative ground of critique that had been proposed by Honneth’s predecessor at the Institut für Sozialforschung, Jürgen Habermas. Defending an affirmative stance toward historical progress is critical to Honneth’s project, which attempts to pursue the aspiration of the Frankfurt School to practice a robust form of immanent critique: for preserving the idea of progress allows Honneth to derive the validity of the underlying normative presuppositions of the existing social order, thereby securing the normative grounds of critique without relying on transcendent or transhistorical principles. Through a consideration of an aspect of the relation between universality and particularity that remains undertheorized in Honneth’s account, this essay attempts to question the success of his strategy for grounding the normativity of critique
Makna Simbolik Negara Ngalengka dalam Seni Wayang: Kajian Filsafat Manusia
Sejarah telah mencatat bahwa wayang telah memiliki usia yang cukup tua. Walau pun demikian seiring dengan berjalannya waktu wayang masih dapat mempertahankan eksistensinya. Wayang masih dapat diterima di tengah-tengah masyarakat. Hal ini disebabkan wayang memiliki sifat yang terbuka terhadap perkembangan zaman. Wayang memiliki sifat yang elastis dengan selalu tetap berpegang teguh kepada pakem seni wayang. Pada zaman sekarang ini pun wayang masih banyak penggemarnya. Salah satu penyebabnya karena kandungan makna simbolik yang banyak di dalamnya. Negara Ngalengka sebagai bagian dari seni wayang juga mengandung makna simbolik. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Metode analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode hermeneutik filosofis dengan unsur-unsurnya yakni: deskripsi, kesinambungan historis, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Negara Ngalengka mengandung makna simbolik yang berkaitan dengan kehidupan manusia dalam mencapai hidup utama. Dalam mencapai hidup utama manusia selalu mendapatkan rintangan sifat-sifat jiwa manusia yang buruk yang di lambangkan dengan tokoh-tokoh Negara Ngalengka. Sifat-sifat yang buruk itu harus selalu ditindas terus-menerus guna mencapai keutamaan hidup.
Experiential Learning sebagai Upaya Penguatan Pendidikan Demokrasi dan Pancasila
Penelitian ini fokus pada transformasi metode pembelajaran Pancasila. Ada dua pertanyaan yang hendak dijawab, yaitu: 1) metode apa yang selama ini digunakan guru dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila? Apa kelebihan dan kekurangan metode tersebut?; 2) apa inovasi yang dapat ditawarkan kepada guru Pendidikan Pancasila untuk membuat mata pelajaran Pancasila menjadi menarik? Berdasarkan hasil focus group discussion yang penulis lakukan di 72 sekolah yang tersebar di tiga kota, yakni Maluku, Kupang, dan Batam, sebagian besar guru masih menggunakan metode teacher centered learning karena keterbatasan sarana dan prasarana sekolah, serta kendala kemampuan guru. Implikasinya, output pembelajaran yang menekankan demokrasi dan kebhinekaan dalam kehidupan tidak tercapai maksimal dan kesenjangan kualitas pendidikan antar wilayah pedesaan dan perkotaan akan semakin besar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menawarkan konsep experiential learning yang digagas oleh John Dewey sebagai basis metode penguatan pendidikan demokrasi dan Pancasila sebagai sarana dan tujuan untuk menggali pengalaman murid. Peneliti menyimpulkan experiential learning dapat mengatasi kesenjangan kualitas pendidikan dengan mendorong siswa untuk menjadi subjek aktif, bertanggung jawab, dan mandiri dalam proses belajarnya. Sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing aktivitas siswa. Apabila tahapan experiential learning dijalankan secara tepat, transformasi ini akan mendorong pembelajaran Pancasila yang lebih demokratis dan demokratisasi sejak dini
PERUBAHAN IKLIM DALAM SOROTAN FILSAFAT PROSES
Salah satu dampak dari global warming (pemanasan global) adalah terjadinya “perubahan iklim” (climate change) yang memberi pengaruh yang begitu buruk bagi kehidupan. Indonesia, karena posisi geografis yang terletak di ekuator, akan menerima dampak perubahan iklim. Dalam artikel ini masalah perubahan iklim ini akan ditilik dari perspektif kefilsafatan khususnya dari perspektif Filsafat Proses. Alam dunia, termasuk lingkungan, merupakan sebuah jaringan atau keterjalinan satuan-satuan aktual yang saling mempengaruhi dan meresapi. Ada hubungan internal dan bukan hanya hubungan eksternal antara satuan aktual yang satu dengan satuan-satuan yang lain. Realitas adalah suatu jaringan atau keterjalinan macam-macam hubungan, suatu medan gerak aktivitas yang saling mempengaruhi. Perubahan iklim, dalam konsepsi filsafat proses, dapat dipandang dalam dua arah, yakni sebagai suatu chaos (kacau-balau) dan sebagai catastrophe (bencana besar). Secara intrinsik keduanya dapat mengacaukan diri sendiri, baik sebagai satu satuan aktual atau kumpulan yang serup