Jurnal Filsafat
Not a member yet
668 research outputs found
Sort by
PENDIDIKAN SENI: PERGULATAN SUATU MAKNA
The very fact that painting was for Leonardo such an axtraordinary synthesis of different elements brings him closer o nature, in that he claims for the painter the role of universal being and the ability to use the creative impulse to mirror nature, which then approaches divine necessity. Naturally, when we look at one of Leonardo’s paintings, we should think of a kind of – it’s not a contradiction – of contrivance, of a painting that’s a synthesis between very different things. For him painting is a philosophy, a science, it’s a mental process and in every picture, just as in every page of his manuscripts, we can find an infinite number of hints about relationship and references. These relationship and references are also demonstrated by a number of philosophers through their thoughts about art and esthetics
ONTOLOGI BATIK: MELACAK DIMENSI METAFISIS BATIK KLASIK JAWA
Batik merupakan pakaian tradisional khas Indonesia. Selain itu, Batik juga merupakan identitas budaya yang telah melekat di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kalau melihat dari aspek persebarannya, batik tidak hanya tersebar sebatas di Pulau Jawa tetapi hampir di seluruh pulau di Indonesia. Hal ini karena batik telah menjadi identitas budaya lokal seperti di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Bali, dan Madura. Di daerah-daerah tersebut batik memiliki motif dan karakter yangberagam. Batik adalah karya asli (genuine) dari bangsa Indonesia. UNESCO telah menetapkan batik pada 2 Oktober 2009 sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Cultural Heritage of Humanity. Sejak pengakuan dari UNESCO tersebut, batik menjadi trend setter nasional dan bahkan dunia. Batik yang dulunya dianggap sebagai hasil karya rakyat biasa, saat ini menjadi bernilai budaya tinggi dan bahkan bernilai jual tinggi. Berbagai events berupa pameran, seminar, fashion show, dan bazaar batik marak dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri. Dalam konteks budaya sekarang ini batik tidak sekedar karya seni dan identitas budaya tetapi sebagai trend fashion masa kini. Oleh karena itu, penting untuk melacak dimensi metafisis batik Jawa sebagai teks dan sebagai trend fashion masa kini
KEKUASAAN MENURUT TAQIYUDDIN AN-NABHANI DALAM TINJAUAN ETIKA POLITIK
This study aims to explain legitimacy of power which is the basic of Taqiyuddin An-Nabhani conception of power from the perspective of political ethics theory, and to understand its relevance to the political movement of Hizbut-Tahrir in Indonesia. The results of this study are: first, the power in the basic concept of political ethics orients to benevolence and social welfare; second, the An-Nabhani concept of power is closely related to dakwah (propagation) of Islam; third, the ethical dimension of his concept of power has an objective to continue Islamic life and spread Islam throughout the world by dakwah; fourth, Hizbut-Tahrir, as a manifestation of Islamic political movement which proclaim re-establishment of Daulah Khilafah Islamiyah and implementation of syariah, in practice, will face the diversity and plurality of Indonesia
DARI MORAL KE EKONOMI: MEMAHAMI AKAR DARI BENTUK PENUNDUKAN DAN PENINDASAN
Artikel ini membahas gagasan radikalisasi demokrasi yang penting untuk kita pahami agar dapat ditangkap dimensi “ontologi” dan ciri utamanya. Proses radikalisasi demokrasi menghasilkan karakteristik utama, yaitu demokrasi radikal dan plural. Radikalisasi demokrasi mendapatkan justifikasinya untuk merevitalisasi perjuangan sosialis melawan kapitalisme dan mempromosikan perjuangan “gerakan sosial baru” yang demokratik: gerakan perkotaan, ekologi, anti-otoritarianisme, anti-kelembagaan, feminis, anti-rasis, dan (kelompok) minoritas seksual dan regional. Konsep demokrasi memiliki dua nilai fundamental yang instrinsik, yakni: kebebasan dan persamaan.Dalam hasil kajian, didiskusikan bagaimana kedua nilai, kebebasan dan persamaan, ketika berhubungan dengan sistem dan struktur politik, dengan merujuk untuk sebagian dari premis-premis dan praxis demokrasi yang sedang berjalan. Caranya, terutama dengan memusatkan perhatian pada dimensi moral dan ekonomi tempat akar-akar dari beragam bentuk penundukan (subordination) dan penindasan (oppression) tertanam dalam masyarakat kita. Jelas bahwa penundukan dan penindasan adalah antitesa dari semua gagasan tentang kebebasan dan persamaan. Namun demikian, radikalisasi demokrasi tetap mempertahankan prinsip-prinsip etika politik berupa kebebasan dan persamaan dan menuntut prinsip ini dapat diterapkan atau dipraktekkan dengan tepa
ISLAMISASI ILMU DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU
Artikel ini membahas tiga masalah pokok, yaitu: pertama, mengapa kita perlu melakukan Islamisasi ilmu?; kedua, mengapa filsafat ilmu dapat digunakan sebagai perspektif dalam gagasan Islamisasi ilmu tersebut?; ketiga, bagaimana filsafat ilmu dapat digunakan dalam Islamisasi ilmu?. Objek material dari kajian adalah pemikiran yang berkembang di dunia Islam dalam upaya pengembangan bangunan keilmuan Islam. Sedangkan filsafat ilmu digunakan sebagai objek formal penelitian.Dari hasil kajian terungkap, bahwa: pertama, gagasan Islamisasi ilmu muncul sebagai akibat keterbelakangan umat Islam dari bangsa Barat yang disebabkan oleh: penggunaan metodologi ilmiah pada berbagai disiplin ilmu yang “asal tiru”, kurangnya wawasan keislaman pada umat Islam, dan adanya dikotomi-dualisme sistem pendidikan modern sekuler dengan sistem pendidikan Islam. Kedua, pengembangan keilmuan dalam gagasan Islamisasi ilmu sangat membutuhkan filsafat ilmu sebagai perspektifnya. Ini karena filsafat ilmu adalah salah satu cabang ilmu filsafat yang tumbuh paling belakangan sebagai kesadaran untuk menyatukan kembali ikatan-ikatan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat (sebagai sumber dari ilmu). Ketiga, filsafat ilmu diterapkan dalam Islamisasi ilmu dengan cara dijadikan sebuah sudut pandang, tolok ukur, atau “posisi berdiri” kita untuk menganalis dan menyusun framework pengembangan keilmuan Islam, dengan menggunakan pendekatan dan metodologi yang tersedia dalam filsafat
PENGANTAR
Jurnal Filsafat “Wisdom” diterbitkan sejak tahun 1990, seba-gai wadah komunikasi ilmiah perkembangan pemikiran dan penelitian bidang filsafat. Terbit tiga kali setahun, April, Agustus, dan Desem-ber. ISSN: 0853-1870
PENGANTAR
Dunia manusia adalah dunia yang selalu penuh dengan dinamika. Akal pikiran yang dikaruniakan kepada manusia tidak hanya membuatnya menjadi makhluk yang berbeda dari makhluk yang lain, tetapi sekaligus juga menjadi “motor” kreativitas yang melahirkan berbagai macam perkembangan. Bersama-sama dengan kehendak dan hati nurani, akal selalu menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia; berefleksi tanpa henti sehingga membantu mendewasakan manusia, baik dalam hal religiusitasnya, moralitasnya, sosialitasnya, dan berbagai aspek kehidupan lainnya. Berbagai dinamika yang melekat dalam dunia manusia tersebut membuatnya menarik untuk dikaji dari sudut pandang filsafat. Hal ini pula yang menjadi salah satu alasan penerbitan Jurnal Filsafat “Wisdom” Vol. 22, Nomor 2, Agustus 2012 ini. Jurnal Filsafat “Wisdom” di edisi ini kembali menyajikan hasil penelitian yang menjadikan manusia sebagai objek kajiannya. Ada berbagai perspektif kajian manusia yang disajikan dalam edisi ini, antara lain: religiusitasnya, humanitasnya,sosialitasnya, moralitasnya, dan cara pandangnya terhadap alam, khususnya dalam kasus bencana alam. Semua itu disajikan untuk memperkaya khasanah pemikiran filsafat, baik pemikiran kefilsafatan secara umum, maupun pemikiran kefilsafatan yang berkaitan dengan kajian Nusantara. Selamat berfilsafat
HAKIKAT PENYULUHAN PEMBANGUNAN DALAM MASYARAKAT
The essence of development education can be obtained by explaining its meaning; explaining and analyzing its functions and principles in the community; and describing its essential elements. Based on the study that have been conducted, the essence of development education can be described as follows. First, development education is a process of information dissemination; process of explanation; process of behavioral change; the educational process; and social-engineering process. Second, its functions is to change people's behavior better to improve the quality of life. Third, its principles include: the interests and needs; grassroots organizations; culture changes; cooperation and participatory democracy in the application of science; learning by doing; the use of appropriate methods; leadership; trained specialists; education must consider the family as a social unit; education should be able to realize satisfaction. Fourth, the elements in development education are extension, objectives, methods, media, place and time
PANDANGAN GABRIEL MARCEL TENTANG MANUSIA DALAM KONTEKS PERISTIWA BENCANA ALAM
In this time, there are a lot of accidents, like flood, landslide, fire, dryness, storm, tsunami, earthquake, and mount eruption. A lot of victims in these disasters. The victim have never represented an object choice, even victim have never chosen. Social reality describing to live together that demand a good social relationship and interaction of intersubjectivity. The Gabriel Marcel’s concept is the most relevant concept. The problems are what is the nature of “I” according to Marcel? How about the concept of relation of intersubjectivity? What is the concept of Love and Hope? What relevancy the Gabriel Marcel’s concept with human and emphaty with the victim of disaster? The Result of research are: According to Marcel’s view of existence of human being cannot be objectivied. The existence is my real experience as a subject in the world. In other word, existence represents the complexity of all factors that signs my live. Because of Marcel’concept gave appreciation for relation, he sure that man is the dynamic creature, always be achieve the level of to be. This level require to be confessed because to become to be myself, somebody will depend on its relationship. Intersubjective relationship according to Marcel marked with attendance. The mystery of human being is on this relationship. Attendance represents the meeting I – Thou, not only be comprehended simply as a meeting someone in the space. Attendance realized with the love, and faithfulness. These unsure are the important elements in understand and feel disaster victim, not as an object felt pity. Expectation will penetrate the certainty, which can make the calm human being and not afraid to death, also for the disaster. Expectation will appear the belief. Despair becaused of losing the expectation, belief, and love. These elements will realize the awareness to the eternity love, inclusive of God. Love represents the philosophic key on Marcel’concept which find the balance solution. Love gives the meaning of intersubjective relationship. With Love, the object will never died. Love gives the eternity meaning, to remove the hate each other, like expectation when removing the fear, despair. The contrary, expectation gives someone the confidence, certainty to uncertainty. Love and expectation confirm the self- faithfulness to the others inclusive of God
Makna Agama sebagai Tradisi dalam Bingkai Filsafat Perennial
Memikirkan serta merumuskan kembali makna agama merupakan tanggung jawab seluruh umat beragama di dunia. Hal ini dimotivasi oleh situasi dan kondisi kehidupan umat beragama saat ini sangat buruk. Agama seringkali tampil dalam wajah yang suram, keras dan kejam. Berbagai kekerasan yang muncul, hampir tidak bisa dipisahkan dengan agama, bahkan agama dianggap sebagai sumber kekerasan dan agama juga pada akhirnya yang dituntut untuk bertanggung jawab menyelesaikan persoalan tersebut. Agama kini ditantang oleh zamannya, sehingga dibutuhkan kesiapan intelektual masing-masing umat beragama untuk mempertahankan nilai kehadiran dan kesucian agama sebagai alternatif mengatasi kompleksitas masalah agama yang muncul akhir-akhir ini.Mendudukan agama pada posisi yang sebenarnya mengharuskan kita mengkaji eksistensi agama sebagai sebuah tradisi. Agama sebagai tradisi dalam bingkai Filsafat perennial merupakan sesuatu yang ada dan akan senantiasa. Agama dalam bingkai tradisi tidak hanya sekedar aturan kehidupan yang dianut umat beragama, tetapi telah menjadi fitrah hakiki kemanusiaan yang secara bersahaja ditanamkan Allah swt dalam hati manusia atau hakikat primordialnya. Tradisi adalah jantung atau inti ajaran agama yang senantiasa terjaga dan terpelihara dalam kitab suci yang lebih dikenal dengan scientia sacra perspektif Filsafat Perennial. Tulisan ini mencoba mengupas Agama sebagai tradisi dalam bingkai Filsafat Perennial, sebuah upaya mengembalikan agama pada posisi yang sebenarnya, bukan sekedar kontruksi pemikiran, tetapi menuai tradisi sebagai inti sari agama sebagai dasar fundamental tumbuh dan berkembangnya tradisi-tradisi lainnya. Di atas tradisi sakral dan primordial inilah bangunan peradaban manusia maju dan kokoh.Kata kunci: Agama, Tradisi dan Filsafat Perennia