Jurnal Filsafat
Not a member yet
668 research outputs found
Sort by
PENGANTAR
Kemajuan peradaban manusia dapat terjadi paling tidak karena adanya dua modal, yakni potensi-potensi khas manusia dan keboleh-olahan alam. Kemampuan mengelola dua modal tersebut, yakni aktualisasi potensi-potensi manusia secara simultan dan akumulatif akan memunculkan etos kerja, yakni suatu kualitas yang mengindikasikan kemampuan manusia dalam mengelola alam. Hubungan manusia (dengan segala potensi yang khas) dan alam (dengan keboleh-olahannya) akankah mengantarkan kepada kesejahteraan hidup manusia ataukah sebaliknya sangat ditentukan oleh etos kerja manusia. Terkait dengan hal tersebut, Jurnal Filsafat Volume 20, nomor 2 Agustus 2010 ini menampilkan artikel-artikel tentang kearifan Nusantara terkait dengan konsep etika, etika lingkungan, pendidikan sebagai wahana penanaman nilai etik dan etos kerja. Semoga dapat menjadi bahan perenungan dan pemikiran dalam berkehidupan
PENGANTAR
Filsafat itu pandangan hidup dan pemikiran holistik yang meliputi semesta keberadaan, mengenai realitas, alam semesta, manusia, bahkan Tuhan. Demikian halnya dengan kearifan Nusantara yang terekspresikan dalam berbagai bentuk proses dan produk budaya. Eksplorasi atau kajian filsafati terhadap kearifan Nusantara penting dilakukan untuk menjaga eksistensinya, bahkan untuk semakin memperkaya dan menjaga dinamikanya di tengah perubahan zaman. Terkait dengan hal tersebut, Jurnal Filsafat Volume 20, nomor 1 April 2010 ini menampilkan artikel-artikel tentang kearifan Nusantara yang sarat dengan simbolisasi nilai spiritualitas, baik yang terekam dalam seni sastra, cerita rakyat, arsitektur, maupun dalam sikap dan perilaku hidup bermasyarakat. Selain itu ditampilkan juga kajian tentang iklan komersiil dan pengaruhnya terhadap kesadaran manusia, sebagai kondisi aktual yang dihadapi masyarakat. Semoga dapat menjadi bahan pemikiran kritis dalam berkehidupan di era melubernya informasi
PENGANTAR
Betapa singkatnya orang menonton tim favoritnya bermain sepak bola, dengan durasi waktu yang sama terkadang terasa betapa lamanya mendengarkan khotbah atau ceramah. Hal ini menunjukkan adanya subjektivitas pernilaian orang terhadap waktu. Ini juga berlaku terhadap beberapa hal lain. Dalam jurnal edisi kali ini, persoalan nilai menjadi salah satu topik yang dimuat, di samping beberapa kajian dalam bidang keilmuan hingga masalah kebangsaan yang satu dengan yang lain saling terkait. Tim penyunting menyampaikan terima kasih atas bantuan dan dukungan berbagai pihak serta kesabaran pembaca untuk terbitnya jurnal kali ini. Semoga jurnal ini memberikan wawasan segar bagi kita sebagaimana para filsuf yang selalu berupaya melahirkan ide-ide baru yang segar yang menjadi penopang semangat analitis dan kritis
LANDASAN AKSIOLOGIS PEMIKIRAN BUNG HATTA TENTANG DEMOKRASI
Hatta has a specific concept of democracy in which there are some differences from liberal democracy. One of them is based on its axiological ground. Therefore, the purposes of this research are to analyze Hatta’s thought on democracy and its axiological ground. The primary data is taken from Hatta’s works,they are : Demokrasi Kita (1978), Pengertian Pancasila (1981), and Kumpulan Pidato , 3 volumes (1985).The results of this research are : Hatta’s concept of democracy for Indonesia is not similar at all with the Western concept of liberal democracy. Hatta developed the Indonesian democracy as a specific concept which its principles base on the original values within Indonesian society. His concept embraces political, economical and social aspects. From the axiological perspective, Hatta’s concept of democracy is based on the fundamental values, such as truth, justice, goodness, honesty, beauty, and holiness. Therefore, it can be said that the fundamental values in Hatta’s concept of democracy embrace ethic, aesthetic, and religious values.Keywords: democracy, axiological ground, fundamental values
PENDEKATAN FENOMENOLOGIS DALAM STUDI PERBANDINGAN ETOS KERJA MANUSIA BUGIS-MAKASSAR DAN BANGSA JEPANG
AbstractThe result of phenomenological studies on comparative work ethos between Bugis-Makassar people and Japanese shows that both of them are able to positionize themselves appropriately in the dynamic world change which influences all aspects of social life.Cultural values of work ethos of Bugis-Makassar people and Japanese have similar sources which are values of traditional beliefs/ religions in Asia such as respect and worship to their ancestors. Nowadays the traditional religions still have a big impact in building their work ethos.Keywords: work ethos/ ethic, Bugis-Makassar, Japan
Eksistensi Manusia dalam Filsafat Soren Kierkegaard
indirectly with cultural issues. The problems also have touched values of human rights, such as: restlessness, isolation, etc. Modern-man increasingly is trapped by a hole which is dug by him(her)self. Technological advances in modern civilization have made man arrogant that eventually plunged the man into a visible-life problem. Those basic or fundamental problems are very urgent and demanding an answer. To give the answer, it is needed an approach which orientates to human existence. It can be found in thoughts of Sören Kierkegaard. Kierkegaard distinguishes the human existence into three distinctive levels, namely: (1) the aesthetic existence, (2) the ethics existence, (3) the religious existence. These levels will affect the human existence and it is its way. He differs from other existentialist philosophers who in general are atheists. Keywords: human existence, Sören Kierkegaard, cultural issues, the aesthetic existence, the ethics existence, the religious existenc
KOMPARASI TEORI KEBENARAN MO TZU DAN PANCASILA: RELEVANSI BAGI PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI INDONESIA
Mo Tzu's theory of truth and the truth of the theory of Pancasila both using three understand the truth, namely: coherence, correspondence, and paragmatik. However, both theories are necessary dikomparasikan truth. Necessary to find similarities and differences. Then look for relevance to the development of science in Indonesia as a country based on Pancasila. This study is a literature. The method used in this research is a philosophical hermeneutic method, with the following elements: description, historical continuity, comparison and reflection. The results showed that there are some similarities and differences between the theory of truth Mo Tzu and Pancasila. Relevance to the development of science in Indonesia, that the truth must be coherent with the values of Pancasila, should correspond to the reality of God, man, one, people, and fair. In addition, the truth must be beneficial for humanity which believes God, keeps unitary, democratic, and justice
PENGANTAR
Salah satu tantangan kebangsaan di era global adalah peneguhan kebangsaan. Eksistensi satu bangsa sangat ditentukan oleh jati diri bangsa itu sendiri. Peneguhan jati diri bangsa, dengan demikian, menjadi keniscayaan bagi kokohnya eksistensi bangsa. Terbentuknya jati diri bangsa tidak bersifat instant, tetapi melalui proses panjang. Proses pembentukan jati diri bangsa --boleh jadi-- dimulai dari lingkup sosial yang paling kecil, yaitu keluarga. Sejatinya, satu bangsa, satu negara merupakan kumpulan banyak keluarga. Proses pembentukan karakter manusia melalui penanaman nilai-nilai dalam keluarga akan menentukan karakteristik dan bahkan jati diri suatu bangsa. Banyak kearifan lokal Indonesia yang mengajarkan pentingnya menata keluarga yang harmonis beserta pengajaran nilai-nilai spiritualitas sebagai pedoman berperilaku dalam berkeluarga dan bermasyarakat. Terkait dengan hal tersebut, Jurnal Filsafat Volume 19, nomor 3 Desember 2009 ini menampilkan artikel-artikel tentang kekayaan kearifan lokal Indonesia berkenaan dengan kehidupan keluarga dan berkeluarga sebagai pijakan dalam bermasyarakat dan bernegara. Semoga dapat menjadi bahan pemikiran dalam meneguhkan kebangsaan kita
PENGANTAR
Kebudayaan itu bersifat cair dan dapat berubah. Sejarah mencatat, telah terjadi imperialisme budaya (cultural imperialism). Hegemoni budaya Barat telah “menyerbu” ke segala lapisan dunia, termasuk Indonesia. Imperialisme budaya ini dalam kurun waktu tertentu telah membuat manusia Indonesia melupakan keunggulan budaya Indonesia yang beranekaragam dan sarat dengan nilai-nilai spiritualitas. Manusia Indonesia mengalami krisis percaya diri. Dinamika manusia Indonesia telah melupakan historisitas dan karakateristik kultural Indonesia. Akibatnya, bukan kemajuan yang diperoleh, tetapi justru “tergagap-gagap” dengan budaya Barat. Terkait dengan hal di atas, Jurnal Filsafat Volume 19, nomor 1, April 2009 ini menyajikan artikel-artikel tentang dua corak budaya yang diilhami oleh nilai berbeda. Pertama, corak budaya Barat baik dalam ranah keilmuan, teknologi, dan ekspresi budaya. Representasi corak pertama ini ditampilkan dalam artikel pemikiran ekonomi Adam Smith, pengaruh kemajuan teknologi komunikasi televisi, dan artikel tentang satu bentuk ekspresi budaya Barat yakni simbol-simbol satanisme yang digandrungi generasi muda. Kedua, corak budaya khas Indonesia, yakni kearifan lokal Indonesia. Corak budaya ini direpresentasikan dalam artikel Kawruh Bimosuci yang sarat dengan nilai-nilai spiritual, dan refleksi kritis atas gagasan Prof. Mubyarto tentang Filsafat Ilmu Ekonomi Pancasila. Tim penyunting berharap, dengan menampilkan artikelartikel tersebut di atas, Jurnal Filsafat ini dapat memperkaya khasanah pemikiran para pembaca dan menjadi inspirasi dalam berkehidupan, serta dapat menjadi bahan pemikiran dalam menata ulang kebudayaan Indonesia
TRANSFORMASI NILAI-NILAI DAN ALAM PEMIKIRAN WAYANG BAGI MASA DEPAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA
AbstractWayang becomes one of evidences of Indonesians history in a cultural transformation. Wayang stories become more various by the Hindu’s stories influences which are Ramayana and Mahabharata. Both of Hindu’s stories influence on creating newwayang stories, but the old stories are not discarded.A thought about grandeur values of human life with its excellence and weakness symbolizes three choices of valueshierarchy of the wayang story. First, matter values concerningabout worldly pleasure. Second, spiritual values, they are truth,goodness, and beauty values. Three, religious values, they areholiness and eternity values. A consideration based on the needs of values hierarchy and way of thinking is that a modernization process does not need to eliminate the roles of spiritual and religious values. Religious values are brought into being sources of reference to settle life problems. Spiritual values are kept being put in a hierarchy which is more glorious than worldly values. An urgent problem in the framework of developing nation identity is the ideal type of Indonesian in the future. The ideal type of Indonesian should has three dimensions: bio individual, social organizational, and theological dimension.Keyword: Wayang, values hierarchy, modernization