Jurnal Filsafat
Not a member yet
668 research outputs found
Sort by
Pengembangan Sistem Filsafat Pancasila
Pancasila is a system of philosophy, the relation of eachprinciple is hierarchy-pyramidal. Logical consequence of Pancasilaas a philosophical system, therefore, is give basis for the implementation inIndonesian government practice—economic, culture, law, defend, socialethic, technology, and education system. Pancasila ought to give meaningnot only as “The five principles of ethic”, but naturally, Pancasila is “Thefive principles of Indonesian Nationality”. It is very important tonote that in the nation-state life, Pancasila as national identity mustbe developed in order to make Indonesian people standing parallelwith other peoples in welfare and justice condition. The differenceinterpretation of Pancasila does not make it poor but instead ofmake it powerful as a system of philosophy.
PENGANTAR
Jurnal Filsafat terbit lagi setelah pada tahun 2005 untuk tiga volume tidak terbit. Tidak terbitnya Jurnal Filsafat terkait dengan dilakukannya restrukturisasi pengelola dan pengelolaan. Mulai volume 39, nomor 1, April 2006 dan seterusnya, tampilan Jurnal Filsafat mengalami perubahan. Perubahan tersebut secara substansial tidak merubah identitas Jurnal Filsafat. Perubahan tersebut berupa penambahan ilustrasi pada sampul dengan dicantumkannya kata “Wisdom” dan gambar beserta katakata bijak seorang filsuf sebagai ikon; dengan penambahan tersebut dimaksudkan agar Jurnal Filsafat senantiasa menampilkan artikel ilmiah filsafati yang membawa hikmah. Jurnal Filsafat, untuk volume 39 ini, terbit dalam rangkaian suasana mengenang satu abad kelahiran Prof. Notonagoro, pendiri Fakultas Filsafat UGM, seorang pemikir yang secara ilmiahfilsafati mengeksplorasi Pancasila. Artikel-artikel yang dimuat bertema seputar Pancasila. Artikel-artikel tersebut merupakan makalah-makalah pendukung dalam seminar Nasional mengenang satu abad kelahiran Prof. Notonagoro dengan tema “Kontekstualisasi dan Implementasi Pancasila dalam Berbagai Aspek Kehidupan BerbangsaBernegara” yang digelar pada 1 Februari 2006. Diharapkan, dengan terbitnya Jurnal Filsafat ini, muncul kembali semangat untuk mengeksplorasi, memikirkan, dan bahkan merevitalisasi hikmah tersembunyi di balik falsafah bangsa, Pancasila; semog
Epistimologi Masa Depan
Setelah Perang Dunia II, perkembangan ilmu dan teknologi semakin pesat berkembang. Hal ini dimungkinkan karena situasi ekonomi semakin baik. Keadaan inilah yang mendorong percepatan penggalian seluruh potensi yang dimiliki itulah ilmu dan teknologi tradisional digunakan untuk melakukan perubahan dalam rangka pembangunan
In Memoriam Dr. Antonius Bakker, SJ
Romo Anton Bakker lahir di Amsterdam, 20 Desember 1931 di tengah sebuah keluarga besar. Pendidikannya dimulai dengan masuk Kolese St. Ignatius di Amsterdam, dan pada usia, 19 tahun (1950) menjalani tahun novisiat pertama sampai dengan tahun 1951. Romo Bakker datang ke Indonesia tanggal 13 September 1951 untuk menjalani tahun novisiat kedua di Giri Sonta Semarang. Selama menjalani dua tahun Yuniorat Romo dengan tekun belajar Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Kebudayaan Jawa
Epistemologi Popper (Memperkenalkan Falsifikasionisme)
Gagasan Popper yang paling utama adalah menyangkut usahanya untuk mensistemasikan cara pertumbuhan pengetahuan lewat koreksi atas kesalahan, yang diangkat menjadi teori metodologis
ARGUMEN FILOSOFIS INTEGRASI ILMU DAN AGAMA Perspektif Pemikiran Mullâ Sadrâ
The problem of relationship between science and religion emerged in the first time at the Middle Ages, when the controversy about the center of universe occurred between scientists and theologians, that were geocentric view and heliocentric view. It was the starting point of the discourse of relationship between science and religion academically. Than, the discourse of the relationship develop in four types i.e. conflict, independence, dialogue and integration. The concept of integration between science and religion in philosophy of Mullâ Shadrâ perspective is an holistic integration which is built upon the unity of ontology, epistemology and axiology. Ontologically, the relationship is interdependent- integration, it means that science and religion dependent each other. There is no science without religion and there is no religion without science. Epistemologically, the relationship is complementary-integration; it means that all methods which are applied in science and religion (sense experience, reason, intuition and revelation) synergically used to find out the truth. Axiologically, the relationship is qualificative-integration, it means that all values (truth, goodness, beauty and Divineness) qualify each other. Science is not value free; science is not only related to the truth, but also to goodness, beauty and Divineness values
KEKELUARGAAN SEBAGAI KUNCI PEMAHAMAN PANCASILA
The authentic of Pancasila’s formulation has been agreed as was grafted in the preamble of 1945 constitution. However, the problem of interpretation to Pancasila’s content (sila-sila), whether it is an authentic or not is still emerging many questions. In the regime of New Order there was an effort of Pancasila’s meaning standardization through political decision even though there were many reactions to refuse it. The familial relationship is static aspect and mutual-cooperation is dynamic aspect are always serve as a core or keyword for understanding of Indonesian state system. Pancasila as the foundation of Indonesian state is a part of the system of state. Therefore, the content of Pancasila (sila-sila) should be understood from the angel of familial relationship as its core and keyword. The founding fathers intended to form the state that is based on the Indonesian culture. The life of society based on the Indonesian culture is a familial relationship life. The state that is based on the familial relationship is an integral-state which is powerful than the personal-minded or group’s interest in the way of the integral-state acknowledges the extraordinary of such group
PENGANTAR
Ketika jendela-jendela dunia sudah dibuka setiap manusia leluasa melongok ke rumah-rumah tetangganya di bagian lain dunia. Saling memberi dan menerima informasi dari berbagai belahan dunia sudah menjadi aktivitas harian yang bersifat massal, suatu perubahan besar dalam kehidupan masyarakat dunia –tidak terkecuali di Indonesia. Perubahan besar tersebut, dalam konteks Indonesia, telah merambah berbagai aspek kehidupan; selain manfaat yang dirasakan, berbagai problemapun segera muncul. Sementara masyarakat seakan gagap dan bingung dengan arus informasi yang menjadi kendaraan nilai budaya luar. Mereka hanyut dalam arus nilai budaya luar, terombang-ambing, dan mengalami ”gegar budaya”. Yakni, suatu kondisi ketidaksadaran akan kondisi kedirian, nilai-nilai kearifan / budaya lokal. Indikasi ”gegar budaya” di antaranya adalah pertama, perasaan inferior (rendah diri). Kedua, meremehkan dan menolak lokalitas(local widom). Ketiga, mengagungkan budaya atau apapun yang berasal dari luar (baca Barat yang dianggap maju) sebagai lebih baik (superior) dari budaya dan nilai lokal. Keempat, meniru dan mempraktekkan nilai budaya luar (baca Barat) menjadi syarat untuk menjadi maju atau paling tidak untuk dibilang maju dan tidak ketinggalan jaman. Menurut futurolog Jawa, Joyoboyo, inilah yang dinamakan jaman edan, yen ra ngedan ra keduman. Kembali kepada kearifan lokal (local wisdom) menjadi keniscayaan agar bangsa ini (Indonesia) tidak mengekor dan diombang-ambingkan oleh bangsa lain. Jurnal Filsafat, volume 17, nomor 2, Agustus 2007 ini memuat artikel-artikel yang mengupas tema-tema terkait dengan kearifan lokal (local wisdom). Kajian semacam ini diharapkan akan memberikan ruang untuk berpikir kritis yang mencerahkan
Relevansi Metode Penelitian yang Khas Bagi Pembangunan Filsafat sebagai Ilmu
Pada waktu Allah hendak menciptakan manusia, para malaikat meragukan keputusan tersebut. Tetapi akhirnya para malaikat justru tunduk kepada manusia karena manusia memiliki pengetahuan atas nama-nama benda (Al Quran 2: 30-34