Jurnal Filsafat
Not a member yet
    668 research outputs found

    Prinsip-Prinsip Kemunculan Disiplin Ilmiah dalam Pemikiran Wilhelm Wundt (1832-1920) tentang Psikologi

    Get PDF
    Perkembangan ilmu merupakan sebuah keniscayaan yang ditandai melalui proses kelahiran disiplin ilmiah. Salah satu model kelahiran disiplin ilmiah adalah kemunculan psikologi yang ditandai oleh pendirian laboratorium oleh Wilhelm Wundt di Universitas Leipzig. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap prinsip-prinsip dalam kemunculan psikologi sebagai disiplin ilmiah. Penelitian ini dilakukan melalui studi kepustakaan dengan menggunakan metode analisis kefilsafatan terhadap sejarah psikologi dan pemikiran Wilhelm Wundt tentang psikologi, serta teori-teori perkembangan ilmu dalam filsafat ilmu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemunculan psikologi sebagai disiplin ilmiah ditandai oleh beberapa prinsip yaitu: kebaruan, spesialisasi, kekhasan, heuristik, dan revolusioner

    FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DAN SUMBANGANNYA BAGI PENDIDIKAN INDONESIA

    Get PDF
    Globalisasi yang dipengaruhi oleh kepentingan pasar telah mengakibatkan pendidikan tidak sepenuhnya dipandang sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan proses pemerdekaan manusia, tetapi mulai bergeser menuju pendidikan sebagai komoditas. Untuk menangkal model pendidikan sebagai komoditas maka konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ditawarkan sebagai solusi terhadap distorsi-distorsi pelaksanaan pendidikan di Indonesia dewasa ini.Menurut Ki Hadjar Dewantara, hakikat pendidikan adalah sebagai usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai budaya ke dalam diri anak, sehingga anak menjadi manusia yang utuh baik jiwa dan rohaninya. Filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara disebut dengan filsafat pendidikan among yang di dalamnya merupakan konvergensi dari filsafat progresivisme tentang kemampuan kodrati anak untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi dengan memberikan kebebasan berpikir seluas-luasnya, dipadukan dengan pemikiran esensialisme yang memegang teguh kebudayaan yang sudah teruji selama ini. Dalam hal ini Ki Hadjar Dewantara menggunakan kebudayaan asli Indonesia sedangkan nilai-nilai dari Barat diambil secara selektif adaptatif sesuai dengan teori trikon (kontinyuitas, konvergen dan konsentris).Tiga kontribusi filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara terhadap pendidikan Indonesia adalah penerapan trilogi kepemimpinan dalam pendidikan, tri pusat pendidikan dan sistem paguron.Kata kunci : progresivisme, esensialisme, among

    Konsep Worldview: Usaha Melengkapi Konsep Struktur dalam Teori Strukturasi Giddens

    Get PDF
    The aim of this paper is to complete the concept of structure, in structuration theory, with the concept of worldview. Giddens' structuration theory emphasizes structure as a result as well as a medium for the regularization of social practice. It emphasizes structure in cognition but ignores the structure of society. As a result, the theory does not explain how social practices that produce virtual structures can exist and be practiced continuously in society, before virtual structures are formed in agents’ cognition? Therefore, the concept of structure needs to be complemented with the concept of worldview, which emphasizes the existence of a social structure that reveals itself through cultural components. Systematic reviews, on MacIntyre's thoughts and various thoughts related to the worldview, show that cultural components produce the regularization of social practice. The result is the formation of the worlview as the medium for social practice. It means that the worldview concept emphasizes the correspondence of the society's objective structure and the cognitive structures. This concept can show the existence of the structure of society and the influence of cultural components in it on the regularization of social practice and the formation of the worldview. Worldview concept answers the research problem

    SISTEM KEKERABATAN DALAM KEBUDAYAAN MINANGKABAU: PERSPEKTIF ALIRAN FILSAFAT STRUKTURALISME JEAN CLAUDE LEVI-STRAUSS

    Get PDF
    Kebudayaan Minangkabau adalah satu kebudayaan yang masih menganut sistem kekerabatan yang berdasarkan pada asas matrilineal hingga saat ini. Artikel ini bertujuan untuk memahami hubungan kekerabatan dalam kebudayaan Minangkabau berdasarkan teori Strukturalisme antropologis Levi-Strauss. Sistem kekerabatan dalam kebudayaan Minangkabau, menurut perspektif Strukturalisme Levi-Strauss, menempatkan laki-laki sebagai sarana komunikasi antarklen atau suku. Kebudayaan Minangkabau yang menganut sistem matrilineal menempatkan perempuan sebagai pihak yang menetap, sedangkan laki-laki sebagai pihak yang mendatangi rumah perempuan. Sistem kekerabatan matrilineal ini menempatkan perempuan sebagai pewaris harta kekayaan, dan laki-laki sebagai pihak yang berpindah ke rumah perempuan

    [JF] Pengantar Redaksi Vol. 31 No. 2 Agustus 2021

    No full text
    Pembaca Yang Budiman,Di tengah situasi yang belum normal seperti sediakala sebelum pandemi Covid-19, redaksi Jurnal Filsafat tetap berupaya untuk tetap menjaga kontinuitas penerbitan jurnal yang telah memperoleh kembali akreditasi nasional peringkat Sinta 2 ini untuk terbit dua kali dalam 1 tahun, Pada edisi volume 31 nomor 2 Agustus 2021, Jurnal Filsafat menyajikan enam artikel, dengan jumlah penulis 12 orang.Penulis pertama, Abdul Rokhmat Sairah, menyajikan artikel berjudul “Prinsip-Prinsip Kemunculan Disiplin Ilmiah Dalam Pemikiran Wilhelm Wundt (1832-1920) Tentang Psikologi”. Menurut Sairah, perkembangan ilmu merupakan sebuah keniscayaan. Perkembangan itu ditandai melalui proses kelahiran disiplin ilmiah. Banyak klaim menyertai proses kelahiran tersebut. Para ilmuwan atau komunitas ilmiah saling mengajukan klaim sebagai pihak otoritas bagi sebuah disiplin ilmiah. Berbagai klaim dalam kemunculan disiplin ilmiah membutuhkan prinsip sebagai kriteria keilmiahan. Prinsip-prinsip tersebut menjadi acuan dalam penentuan keabsahan sebuah disiplin ilmiah dan panduan pengembangan disiplin keilmuan. Salah satu model kelahiran disiplin ilmiah adalah kemunculan psikologi yang ditandai oleh pendirian laboratorium oleh Wilhelm Wundt di Universitas Leipzig. Hasil penelitian Sairah menunjukkan bahwa kemunculan psikologi sebagai disiplin ilmiah ditandai oleh beberapa prinsip yaitu: kebaruan, spesialisasi, kekhasan, heuristik, dan revolusioner.Artikel kedua, berjudul “Kontrak Sosial Menurut Immanuel Kant: Kontekstualisasinya dengan Penegakan HAM di Indonesia Kasus pelanggaran HAM masih sering terjadi di Indonesia” ditulis oleh Althien J Pesurnay. Dalam artikel ini Pesurnay menganalisis konsep kontrak sosial dari perspektif filsafat politik Immanuel Kant. Kebebasan dan kesetaraan yang merupakan prinsip dasar HAM dalam pemikiran Immanuel Kant merupakan hak alamiah yang perlu dilindungi dengan perangkat prosedur filsafat moral. Konsep kontrak sosial Kant linier dengan filsafat moralnya yang bersifat murni rasional. Kontrak bagi Kant merupakan penyatuan kehendak. Negara melalui pemerintah bertugas menjalankan kehendak publik untuk mengatur dan memberi kepastian hukum untuk menjamin kebebasan dan kesetaraan bagi setiap individu dalam kerangka HAM.Penulis selanjutnya, Johanis Putratama Kamuri, memaparkan artikel bertajuk “Konsep Worldview: Usaha Melengkapi Konsep Struktur Dalam Teori Strukturasi Giddens”. Kamuri menyatakan bahwa terbentuknya worlview sebagai medium bagi tindakan sosial, mengandung makna berarti bahwa konsep worldview menekankan korespondensi struktur objektif masyarakat dan stuktur kognitif. Dengan demikian konsep ini, bagi penulis artikel ini, dapat menunjukkan eksistensi struktur masyarakat dan pengaruh komponen-komponen kultural di dalamnya terhadap regularisasi praktik sosial dan pembentukan worlview. Ini adalah jawaban bagi pertanyaan yang tidak dapat diatasi oleh teori strukturasi Giddens.John Abraham Ziswan Suryosumunar dan Arqom Kuswanjono menulis artikel keempat berjudul “Kesempurnaan Sebagai Orientasi Keilmuan Dalam Teosofi Suhrawardi Al-Maqtul”. Kedua penulis artikel menyimpulkan bahwa konsep ilmu dalam pemikiran Suhrawardi al-Maqtul adalah hasil sinkretisme dari beragam pemikiran Timur sebelumnya. Suhrawardi memahami adanya pluralitas metode yang dapat digunakan, yaitu: metode burhani dengan rasio dan pembuktian, serta metode irfani yang bersumber dari intuisi. Metode harus selaras dengan objek kajiannya, yang dalam pemikiran Suhrawardi, tidak hanya melingkupi aspek dunia fisik tetapi juga yang non fisik supra-duniawi. Orientasi dari hal tersebut bukan hanya untuk mencapai validitas pengetahuan, tetapi untuk mencapai kesempurnaan ilmu atau perpindahan dari gelap menuju cahaya ilmu.Artikel kelima berjudul “Post-Secularism As A Basis Of Dialogue Between Philosophy And Religion” ditulis oleh Otto Gusti Ndegong Madung. Melalui tulisan ini, Madung menawarkan paradigma post-sekularisme dari Juergen Habermas solusi untuk membuka ruang bagi partisipasi publik agama. Lebih jauh, tulisan ini berargumentasi bahwa dalam masyarakat post-sekular di mana agama kembali muncul di ruang publik, perlu dibangun dialog yang rasional dan demokratis antara agama dan akal budi. Jembatan yang menghubungkan keduanya adalah nalar publik. Kondisi post-sekularisme ini membuka peluang bagi teologi untuk memajukan toleransi dalam masyarakat plural dan memperkuat keterlibatan agama atau Gereja di ruang publik, sehingga agama tidak direduksi kepada kesalehan privat minus pertanggungjawaban publik, melainkan terlibat secara sosial-politis dalam proses pembebasan kelompok marginal.Artikel keenam dari edisi ini, berjudul “Pandangan Buruh Gendong Di Yogyakarta Terhadap Peran Ganda Perempuan”, ditulis oleh Sri Yulita Pramulia Panani, Aris Novita Rahayu, Wahyu Alga Ramadhan, Fitri Alfariz, dan Sartini. Dalam artikel ini terungkap bahwa buruh gendong memandang perempuan Jawa sebagai individu yang tidak hanya bersifat halus dan penurut tetapi juga tangguh, kuat, dan berani dalam mengambil sebuah tindakan. Buruh gendong memandang peran ganda yang dijalani sebagai bagian hidup perempuan yang harus dijalani dengan kerelaan dan ikhlas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Konflik peran ganda dapat diatasi dengan sikap pandai mengatur waktu dan berbagi peran dalam pekerjaan rumah tangga. Dekonstruksi gender diperlihatkan buruh gendong pada pandangan bahwa perempuan juga dapat mencari uang dengan apa yang mereka miliki dan mampu kerjakan. Baik perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan untuk bekerja sama dengan siapa pun. Melalui hasil penelitian ini didapatkan pengetahuan baru bahwa peran ganda tidak selalu menjadi sesuatu yang memberatkan tetapi bagian dari kerelaan perempuan dalam membantu kebutuhan keluarga terutama pada kasus buruh gendong.Mengakhiri kata pengantar ini, atas nama redaksi Jurnal Filsafat, saya mengaturkan terima kasih kepada para penulis, reviewer, editor dan staf redaksi yang telah berkontribusi dalam edisi ini. Kepada para pembaca, saya menyampaikan selamat membaca dan menikmati setiap artikel pada edisi ini!.Yogyakarta, 21 Agustus 2021Salam Hormat,Editor in Chief,                                                                                                Syarif Hidayatulla

    RETRACTED: The Role of Subject in Kuntowijoyo's Transformative Thought and It's Relevance to The Islamic Social Transformation

    Get PDF
    Following a rigorous, carefully concerns and considered review of the article published in Jurnal Filsafat to article entitled “The Role of Subject in Kuntowijoyo's Transformative Thought and It's Relevance to The Islamic Social Transformation” Vol 30, No 2, pp. 261-286, 2020, DOI: https://doi.org/10.22146/jf.54911 This paper has been found to be in violation of the Jurnal Filsafat Publication principles and will be retracted.The article contained redundant material, the editor investigated and found that the paper published in “The Role of Subjects in Kuntowijoyo's Transformative Thought and It's Relevance to the Prophetical Social Transformation” Vol 4, No 2, pp. 126-144, August 2020, DOI: 10.22146/sasdayajournal.59662The document and its content will be removed from Jurnal Filsafat in the upcoming volume, and reasonable effort should be made to remove all references to this article

    Kurban Hewan dalam Upacara Yadnya: Membunuh atau Memuliakan?

    Get PDF
    One of the worships performed by the Balinese Hindu community can be seen from the Yadnya ceremony. Yadnya itself means a sacrifice made sincerely to be offered to God, namely Ida Sang Hyang Widhi Wasa. In the process, Balinese Hindus used to use animals as sacrifices for the Yadnya ceremony. For animal welfare activists, the use of these animals is considered as something inappropriate because it means that animals are only meant to fulfill human needs. In fact, animals have the right to live, just like humans. Even so, there are actually many dimensions that can be seen from the use of animals in this Yadnya ceremony. This article will critically examine the culture of sacrificing animals in Yadnya and how animal welfare sees that culture. This objective will be elaborated through the answers to the questions: What is the rationale of Balinese Hindu community in using animals for Yadnya ceremony?; How are animals used in the Yadnya ceremony? and; How is animal sacrifice in various ceremonies seen by the perspective of animal welfare? The result of this bibliographical research shows that the use of animals as sacrifices in the Yadnya ceremony in Hinduism turned out to have a complex background. This treatment cannot simply be called killing animals because they contain values that are also believed to be able to respect the animal itself

    Mitos Penciptaan pada Serat Purwakandha Brantakusuman dan Potensi Kajian Filsafatnya

    Get PDF
    This article examines the creation myth in Serat Purwakandha Brantakusuman (SPB), how its characteristics are compared to myths in Indonesia and existing mythical theories, and explains philosophical themes that can be examined from these myths in order to give its theoretical contributions in existing mythical theories. It is a literature study by reviewing books texts, research reports, journals, and other sources. The analysis is done by interpretation, coherence-holistic, description, and analysis-synthesis. The theoretical framework used is the myth theory C A. Van Peursen and Clifford Geertz. The results of the study indicate that the myth of the creation of plants in SPB is based on the story of the death of Dewi Tisnawati who was banished to earth. The study of myths about the origin of plants is new because research examining myths related to agriculture and Dewi Sri, the influence of myths in life and human activities, forms of rituals and socio-cultural activities, and the relationship between myths and art, are more related to origin place. The myths in SPB and myths in Indonesia contribute to supporting myth concepts that have been described by great thinkers. The creation myth and other myths in the SPB can be subject to study from the perspective of the branches of philosophy and its conceptual substances can also be criticized philosophicall

    Kritik Southern Theory Terhadap Hegemoni ‘Sosiologi Modern’ Amerika di Indonesia

    Get PDF
    Artikel ini mengeksplorasi kritik terhadap ‘sosiologi modern’ Indonesia dengan menggunakan perspektif southern theory dari Raewyn Connell. Secara spesifik kritik termanifestasi melalui empat karakteristik tekstual antara lain the claim of universality, reading from the center, gesture of exclusion dan grand erasure. Selain itu kritik juga dilakukan terhadap karya-karya Soerjono Sukanto sebagai eksponen ‘sosiologi modern’ Indonesia. Artikel ini memiliki dua tujuan: sebagai titik masuk demokratisasi ilmu sosial Indonesia pasca Orde Baru dan membuka dialog teoretis tidak hanya antar negara-negara global selatan namun juga antara negara-negara global selatan dengan negara-negara global utara. Metode yang diterapkan adalah unthinking dari Gennaro Ascione melalui dua strategi, yaitu melacak dan menerapkan konteks historis serta melakukan disarticulating dengan non-logical aksioma dari teori sosiologi modern Indonesia. Terdapat dua temuan dari kritik southern theory terhadap sosiologi modern Indonesia. Pertama, hegemoni modernisasi Amerika menjadi faktor eksternal pembentukan sosiologi modern Indonesia sekaligus secara internal mengintervensi arah  produksi pengetahuan sosiologi pada masa Orde Baru. Kedua, hegemoni modernisasi Amerika melakukan pemaksaan basis ontologi, epistemologi, dan aksiologi pada Indonesia sebagai negara global selatan

    PENGANTAR REDAKSI

    No full text
    Jurnal Filsafat Volume 30 No. 2 Agustus 2020 ini menghadirkan enam artikel dengan cakupan tema yang cukup beragam. Dimulai dari tema tentang Pancasila sebagai teks dialog lintas agama hingga simbol dalam representasi lintas agama, serta analisis kritis atas pemikiran transformatif Kuntowijoyo dalam mewujudkan transformasi sosial profetik. Selanjutnya dari ranah filsafat nusantara dihadirkan artikel fi ra wali dan kosmologi masyarakat Sentani Papua. Adapun dua artikel yang lain memfokuskan pada kritik atas romantisme filsafat teknologi klasik dan kritik atas hegemoni sosiologi Amerika di Indonesia. Artikel pertama disajikan oleh Angel Christy Latuheru, Izak Y. M. Lattu, dan Tony Robert Tampake dengan judul  “Pancasila Sebagai Teks Dialog Lintas Agama dalam Perspektif Hans-Georg Gadamer dan Hans Kung”. Artikel ini dilatarbelakangi oleh kondisi pluralitas masyarakat Indonesia yang pada satu sisi telah melahirkan keunikan beragama dalam kehidupan bersama, namun pada sisi lain juga memunculkan konflik antar umat beragama. Konflik keagamaan terjadi karena sikap eksklusifisme, radikalisme, fundamentalisme agama, dan politik identitas. Pada artikel ini Pancasila diletakkan sebagai teks dialog lintas agama yang selalu dipahami secara dinamis, terbuka, dan relevan dalam setiap perkembangan kehidupan beragama di Indonesia. Pancasila sebagai identitas nasional menjadi sebuah konsepsi yang menuntun pada strategi dialog yang bersifat  inklusif, menghargai nilai-nilai kemanusiaan, serta menjadi landasan yang kokoh bagi kesatuan umat beragama. Artikel kedua yaitu, “Fi ra wali: Revitalisasi Folklore “Saguku Hidupku” sebagai Identitas Kultural dalam Kosmologi Masyarakat Sentani-Papua” oleh Cleopatriza Thonia Ruhulessin. Artikel ini diawali dari sebuah studi etnografi yang kemudian diperdalam dengan analisis filosofis dengan metode fenomenologi. Identitas yang terkonstruksi dari realitas kultural-kosmik yang ada dalam kosmologi, mampu mengintegrasikan masyarakat dalam sui generis (klan), guna menghadapi modernisasi yang telah menyebabkan perubahan sosial pada masyarakat Sentani. Oleh karena itu,  fi ra walisebagai identitas kultural sangat kontributif dalam menggumuli konteks yang multikultur melalui keseharian hidup, melahirkan pengalaman otentik yang sakral dalam relasi-relasi sosial, baik dalam ruang fisik maupun ruang spiritual orang Sentani. Selanjutnya Imam Wahyudi dan Rangga Kala Mahaswa yang menyajikan artikel dengan judul “Metafisika Mediasi Teknologis: Kritik atas Romantisme Filsafat Teknologi Klasik”. Dilatarbelakangi oleh pandangan metafisik terhadap teknologi yang selalu memberikan distingsi antara subjek dan objek, dimana teknologi, manusia, dan dunia dianggap sebagai suatu entitas yang saling terpisah. Selain itu, pandangan filsafat teknologi ‘klasik’ cenderung berada di antara pesimis terhadap dominasi teknologi atau justru mendambakan teknologi yang ideal yang mengarah pada romantisme.Oleh karena itu fokus kajian pada artikel ini adalah pada upaya kritik filosofis yang membangun kerangka pikir filsafat teknologi secara metafisik untuk menyelesaikan persoalan distingsi subjek-objek dan pesimisme-romantisme pada filsafat teknologi klasik. Pada pembahasannya penulis menyajikan solusi untuk mengatasi persoalan tersebut melalui pemahaman yang komprehensif terhadap mediasi teknologis.  Yang hal tersebut dipaparkan secara rinci melalui  empat corak mediasi teknologis, yaitu mediasi teknologis dalam sudut pandang posfenomenologi, teori jaringan aktor, Simodon dan Harman, serta teori kritis. Michael Alexander dengan artikel yang berjudul “Pemaknaan Simbol Representasional Lintas Agama: Sebuah Upaya Merumuskan Alur Rekursif Imposisi Makna Simbol”.  Artikel ini memfokuskan pada argumentasi bahwa simbol representasional identitas keagamaan merupakan sumber makna yang terbuka. Karena itu sengketa atas simbol lebih disebabkan karena pertentangan nilai, persepsi, dan wawasan pandang semesta. Pada konteks ini penulis menautkan dua gagasan klasik, yaitu semiotika sosial dan interaksionisme simbolik. Oleh karena itu pemaknaan simbol lintas agama merupakan konstruksi makna yang bersifat peyoratif, yang bertolak dari rekoleksi tradisi kultural subyek. Pemakna tidak bersifat niscaya, melainkan akan selalu dipengaruhi oleh relasi sosial antar kolektifitas, terlebih bagi perwujudan makna tersebut yang berupa tindak kekerasan kolektif.M. Rodinal Khair Khasri dengan artikel yang berjudul “The Role of Subjects in Kuntowijoyo’s Transformative Thought and It’s Relevance to The Islamic Social Transformation”. Artikel ini memfokuskan analisis filosofis melalui metode hermeneutika Gadamer pada peran subjek di dalam pemikiran transformatif Kuntowijoyo menuju transformasi sosial profetik (dialektika Al Qur’an dan Hadist). Penulis menyimpulkan bahwa peran subjek melalui dialektika wahyu dan akal akan dapat dicapai dalam transformasi sosial profetik. Hal ini disebabkan epistemologi profetik akan selalu terikat dengan kebudayaannya, menyejarah, dan melakukan peleburan horizon pada setiap babak sejarah dan horizon subjek yang lain.Terakhir, artikel Oki Rahadianto Sutopo dan Hartmantyo Pradigto Utomo dengan judul “Kritik Southern Theory Terhadap Hegemoni ‘Sosiologi Modern’ Amerika Di Indonesia”. Artikel ini fokus pada upaya kritik atas hegemoni teori sosiologi modern Amerika di Indonesia yang ditelusur dari karya-karya Soerjono Sukanto. Pilihan pendekatan yang digunakan adalah southern theory dari Raewyn Connell yang memiliki empat karakteristik utama, yaitu the claim of universality, reading from the center, gesture of exclusion dan grand erasure. Artikel ini mencoba menunjukkan titik masuk demokratisasi ilmu sosial di Indonesia pasca Orde Baru. Selain itu juga sekaligus menunjukkan upaya untuk keluar dari hegemoni modernisasi Amerika yang telah melakukan pemaksaan pada basis ontologi, epistemologi, maupun aksiologi negara-negara global selatan, tak terkecuali Indonesia.Mengakhiri kata pengantar ini, atas nama redaksi Jurnal Filsafat, kami menghaturkan terima kasih kepada para penulis dan mitra bebestari yang telah berkontribusi pada Volume 30 No. 2 Agustus 2020. Kepada para pembaca, kami haturkan selamat membaca dan menikmati setiap artikel pada Jurnal Filsafat edisi ini.[LM

    411

    full texts

    668

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Filsafat
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇