EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia
Not a member yet
    141 research outputs found

    PENGARUH INTENSITAS PENGGUNAAN KOSMETIK TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI PADA WANITA PEKERJA FRONTLINER DI KOTA SURABAYA

    Full text link
    Wanita pekerja frontliner penting untuk memiliki kepercayaan diri terutama untuk berinteraksi dengan customer.  Namun seringkali, sebagian besar dari frontliner tidak percaya diri karena penampilan fisik terutama pada wajahnya. Hal ini membuat individu memperbaiki penampilan fisiknya agar terlihat lebih cantik dan menawan dengan menggunakan bantuan kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh intensitas penggunaan kosmetik terhadap kepercayaan diri pada wanita pekerja frontliner di kota Surabaya. Teknik sampling yang dilakukan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dan snowball sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan skala intensitas penggunaan kosmetik berdasarkan empat aspek, yakni perhatian atau daya konsentrasi, durasi, frekuensi, dan penghayatan atau pemahaman. Pada skala kepercayaan diri berdasarkan lima aspek, yakni keyakinan akan kemampuan diri, optimis, obyektif, bertanggungjawab, dan rasional. Responden yang didapatkan dalam penelitian ini sebanyak 164 dan kemudian dilakukan analisis menggunakan teknik statistika uji analisis regresi sederhana dengan bantuan SPSS for windows 16.0. Hasil dari analisis tersebut menunjukkan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, yang artinya ada pengaruh yang signifikan dan memiliki nilai positif antara intensitas penggunaan kosmetik dengan kepercayaan diri pada wanita pekerja frontliner di Kota Surabaya. Hal ini berarti dengan menggunakan kosmetik mampu meningkatkan kepercayaan diri oleh para frontliner. Penggunaan kosmetik menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari responden dalam pekerjaannya. Pengaruh yang signifikan berarti nilai positif, berarti semakin tinggi intensitas penggunaan kosmetik, maka semakin tinggi pula kepercayaan diri yang dimilikinya. Selain itu, terdapat sumbangan efektif pengaruh intensitas penggunaan kosmetik terhadap kepercayaan diri sebesar 11,5%

    WANITA DEWASA AWAL CHILDFREE: TINJAUAN PSIKOKULTURAL

    Full text link
    Pilihan seseorang untuk tidak memiliki anak dikenal dengan istilah childfree. Individu yang mengakui dirinya sebagai childfree memilih secara sadar bahwa tidak ingin memiliki anak. Berbeda dengan asumsi kebanyakan orang, ketidak beradaan anak dalam kehidupan wanita childfree tidak diakibatkan oleh keterbatasan biologis. Dalam berbagai budaya di Indonesia, wanita diharapkan memenuhi ekspektasi tertentu seperti memiliki anak. Wanita akan semakin tertekan untuk memiliki anak apabila ia telah menikah dikarenakan anggapan umum bahwa tujuan dari penikahan sebagai memiliki anak dengan pasangannya. Selain itu, peran wanita dewasa awal yang berkaitan dengan tugas perkembangan adalah menjadi seorang istri dan orang tua. Adanya kontradiksi antara padangan budaya dengan pilihan childfree wanita menjadi pembahasan dalam penelitian. Metode penelitian kualitatif, pendekatan fenomenologis dan teknik induktif yang digunakan peneliti dilaksanakan dengan wawancara pada empat wanita dewasa awal childfree. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampling terhadap wanita dewasa awal berusia 19 hingga 40 tahun childfree yang sudah menikah. Ditemukan tema dominan dalam penelitian berupa pengalaman hidup, kondisi lingkungan dan budaya, sikap terhadap budaya, proses keputusan childfree, hubungan pernikahan, kondisi psikologis, kondisi spiritual serta  resolusi kontradiksi antara budaya dengan childfree. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya berperan penting dalam tendensi wanita untuk menjadi childfree, namun bukan menjadi penggerak utama. Di sisi lain, pengalaman hidup menjadi faktor pengaruh utama dalam membentuk persepsi negatif wanita terhadap budaya. Wanita dewasa awal childfree membuat prinsip hidup baru untuk mempertahankan pilihannya yang berkontradiksi dengan budaya

    IDENTIFIKASI TAHAPAN SELF-SILENCING DALAM HUBUNGAN BERPACARAN EMERGING ADULTHOOD

    Full text link
    Self-silencing adalah ketidakhadiran komunikasi efektif dalam hubungan sehingga individu tidak mengekspresikan pemikiran, perasaan serta keinginan yang sebenarnya kepada pasangan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan desain studi kasus.  Tujuan penelitian adalah memperkaya eksplorasi mengenai tahapan yang mencangkup penyebab, bentuk, dan dampak self-silencing dalam hubungan berpacaran emerging adulthood. Peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terhadap dua pasangan yang memiliki indikasi self-silencing berdasarkan open-ended questionnaire yang disusun. Data dari kedua pasangan melalui tahap triangulasi dan dianalisis dengan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam penyebab, tahapan, dan dampak self-silencing bagi laki-laki dan perempuan. Temuan ini merupakan kebaruan dalam penelitian tentang self-silencing. Terdapat beberapa persamaan di faktor internal penyebab self-silencing, tetapi seluruh faktor eksternal dalam laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan. Self-silencing perempuan cenderung berdampak terhadap relasi sedangkan laki-laki berdampak pada dirinya sendiri. Untuk tahapan, perempuan bisa keluar dari self-silencing akibat dorongan internal. Sementara pada laki-laki, walaupun memiliki motivasi internal, mereka cenderung butuh dorongan eksternal dari pasangan. Bentuk self-silencing antara laki-laki dan perempuan memiliki kemiripan, mereka sama-sama menunjukkan self-silencing dengan diam untuk menghindari konflik dan menunda komunikasi. Penelitian ini bermanfaat bagi emerging adult untuk meningkatkan kesadaran pentingnya berkomunikasi efektif dalam hubungan berpacaran. Keterbatasan penelitian ini adalah latar belakang budaya partisipan yang serupa sehingga informasi yang disampaikan menjadi terbatas pada konteks tertentu. Penelitian selanjutnya dapat mencari partisipan dengan latar belakang budaya yang lebih beragam untuk memperkaya informasi

    GRIT DAN RELIGIOSITAS TERHADAP WORK ENGAGEMENT PADA PENGURUS ORMAWA YANG BERAGAMA KRISTIANI DI SURABAYA

    Full text link
    Pengurus Ormawa membutuhkan work engagement untuk mendukung proses kerjanya. Work Engagement merupakan kondisi pikiran yang positif dan adanya pemenuhan diri pada pekerjaan dengan timbulnya rasa puas sehingga melibatkan afeksi dan perasaan termotivasi untuk mencapai kesejahteraan individu melawan timbulnya burnout saat bekerja. Dalam JD-R model, individu dengan job demands dan job resources memerlukan personal resources untuk dapat menunjukkan work engagement dan salah satu bentuknya adalah konsistensi minat dan daya tahan individu dalam melaksanakan tugas dalam organisasi yang disebut juga dengan grit. Faktor personal resources juga berkaitan dengan konstruk religiositas pada individu yang merupakan tata cara individu dalam menjalankan ajaran keagamaannya. Tujuan penelitian ini adalah peneliti ingin menguji pengaruh antara grit dan religiositas terhadap work engagement pada pengurus Ormawa beragama Kristiani di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner Google form dengan menyebarkan skala Utrecht Work Engagement Scale–9 (UWES-9), 12-Item Grit Scale, dan skala Religiositas dengan menurunkan berdasarkan aspek-aspek. Partisipan penelitian ini merupakan pengurus Ormawa beragama Kristiani (Kristen Protestan & Katolik) di periode 2022/2023. Penelitian ini memperoleh hasil adanya pengaruh yang signifikan antara Grit & Religiositas terhadap Work Engagement pada pengurus Ormawa beragama Kristiani di kota Surabaya. Sumbangan efektif yang diberikan pada penelitian ini sebesar 11,5% dan nilai sig. 0,002 (p<0,05) dengan persamaan garis linier y= 18,267 + 0,298x1 +0,083x2. Arti dari persamaan garis linier tersebut adalah setiap penambahan 1 poin Grit dan Religiositas akan menambah pula poin Work Engagement sebesar 0,38

    HUBUNGAN FAMILY FUNCTIONING DAN KESEPIAN PADA MAHASISWA PERANTAU

    No full text
    Abstrak - Remaja akhir adalah remaja dengan rentang usia 18 – 21 tahun. Ketika merantau untuk keperluan melanjutkan pendidikan tinggi, banyak remaja yang mengalami kesulitan penyesuaian diri karena adanya perbedaan seperti misalnya perbedaan budaya di tempat asal SMA dengan budaya di kota tempat kuliah, sifat pendidikan dari SMA ke perkuliahan, dan perbedaan pola komunikasi serta norma sosial yang ada. Apabila remaja tidak dapat beradaptasi dengan semua perubahan tersebut maka remaja yang merantau akan cenderung mengalami perasaan terasing dan kesepian. Kesepian adalah perasaan ketika hubungan sosial yang diinginkan tidak tercapai, termasuk muncul perasaan kurang nyaman, gelisah, tertekan, dan kesusahan. Saat mengalami kesepian inilah, remaja yang merantau jauh dari keluarga sangat membutuhkan dukungan keluarga. Jika remaja memiliki fungsi keluarga yang baik maka remaja tidak akan merasa sendiri dan tidak terlalu merasa kesepian. Penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling dalam pengambilan data dan didapatkan 146 partisipan. Kesepian diukur menggunakan skala dari Russell yaitu UCLA loneliness version 3 dan skala family functioning yang dibuat oleh peneliti sendiri. Data dianalisis menggunakan statistik non-parametrik yaitu Kendall’s Tau B karena ada uji asumsi yang tidak terpenuhi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara kesepian dan family functioning pada remaja akhir yang merantau dengan nilai korelasi sebesar -0,355 dengan p = 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi family functioning, maka semakin rendah kesepian yang dirasakan individu dan begitu pula sebaliknya. Didapatkan juga bahwa variabel family functioning memberikan sumbangan efektif sebesar 12,6% terhadap variabel kesepian. Walaupun jauh dari keluarga namun anak ternyata masih membutuhkan dukungan, perhatian, dan kasih sayang dari keluarga.

    STRATEGI REGULASI EMOSI SECARA KOGNITIF PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PSIKOLOGI YANG SEDANG MENYELESAIKAN SKRIPSI

    No full text
    Skripsi merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar S1. Dalam proses penyelesaian skripsi, mahasiswa seringkali mengalami emosi negatif. Salah satu cara untuk mengatasi emosi negatif ialah dengan menggunakan strategi regulasi emosi secara kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi regulasi emosi secara kognitif pada mahasiswa Prodi Psikologi dalam menyelesaikan skripsi, melalui metode kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan Cognitive Emotion Regulation Questionnaire (CERQ) versi bahasa Indonesia yang ditranslasi oleh penulis melalui tahapan forward translation dan back translation. Kuesioner disebarkan secara luring dan daring melalui media sosial. Partisipan penelitian (N=97) adalah mahasiswa Prodi Psikologi di Surabaya yang sedang menyelesaikan skripsi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi regulasi emosi secara kognitif pada partisipan sebagian besar bersifat adaptif. Strategi regulasi emosi secara kognitif yang paling sering digunakan partisipan adalah positive reappraisal dan refocusing on planning. Strategi regulasi emosi secara kognitif yang paling jarang digunakan yaitu blaming others. Selain itu, partisipan perempuan lebih sering melakukan positive refocusing dan catastrophizing daripada partisipan laki-laki. Hasil penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut pada partisipan dari bidang ilmu dan tingkat pendidikan yang berbeda, serta dieksplorasi untuk penyusunan model teoritik regulasi emosi secara kognitif pada konteks Indonesia

    HUBUNGAN ANTARA GRATITUDE DENGAN CITRA TUBUH PADA REMAJA PUTRI DI KABUPATEN ALOR

    Full text link
    Citra tubuh merupakan salah satu aspek yang menonjol pada masa remaja. Pada remaja perempuan, perhatian terhadap tubuh menjadi kekhawatiran terpenting dalam kehidupan. Gratitude merupakan emosi positif yang memiliki manfaat untuk mengurangi, dan menghilangkan emosi-emosi negatif seperti penyesalan, ketidakpuasan, kekecewaan, dan frustasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara gratitude dengan citra tubuh pada remaja putri di Kabupaten Alor. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 106 remaja putri di Kabupaten Alor, teknik pengambil sampel yang digunakan yaitu accidental sampling dan snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara gratitude dengan citra tubuh pada remaja putri di Kabupaten Alor dengan koefisien korelasi sebesar 0,306 dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Semakin tinggi tingkat gratitude maka semakin tinggi pula citra tubuh, dan sebaliknya semakin rendah tingkat gratitude maka semakin rendah citra tubuh. Penelitian ini juga menghasilkan temuan lain dimana meningkatnya gratitude tidak selalu diikuti dengan meningkatnya citra tubuh pada individu

    CAREER DECISION MAKING SELF-EFFICACY (CDMSE) DENGAN CAREER INDECISION PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR

    Full text link
    Kehidupan mahasiswa akhir tidak hanya dikelilingi oleh banyaknya beban tugas dan pengerjaan skripsi atau tugas akhir saja, namun juga dihadapkan pada pilihan untuk memilih masa depan. Jika mahasiswa akhir tersebut, tidak dapat menentukan bidang karir yang akan ditekuni di masa depan maka akan timbul perasaan bimbang dan ragu pada pilihan karirnya. Hal ini disebut dengan career indecision. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kebimbangan karir pada mahasiswa akhir, salah satunya adalah efikasi diri pada bidang karir yang disebut juga Career Decision Making Self-Efficacy (CDMSE). Dengan metode penelitian kuantitatif, peneliti menyebarkan kuisioner melalui google form dan didapatkan total 79 responden mahasiswa akhir yang tersebar di beberapa fakultas UKWMS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidak hubungan antara Career Indecision dan juga Career Decision Making Self-Efficacy (CDMSE). Berdasarkan hasil penelitian, nilai sig sebesar 0,000 (p < 0,05) yang berarti ada hubungan yang negatif antara Career Decision Making Self-Efficacy dengan Career Indecision pada mahasiswa akhir Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Artinya, semakin tinggi tingkat kebimbangan mahasiswa mengenai karirnya, maka semakin rendah keyakinan pada kemampuannya di bidang karir yang akan ditekuni. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tingkat kebimbangan mahasiswa akan karirnya, maka mahasiswa semakin yakin dengan kemampuannya di bidang karir yang ditekuni. Hasil ini didukung dengan sumbangan efektif yang diberikan Career Decision Making Self-Efficacy (CDMSE) terhadap Career Indecision (CI)  sebesar 66,6%, yang artinya CDMSE memiliki peran yang kuat untuk menentukan bimbang tidaknya mahasiswa tingkat akhir di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

    HELP-SEEKING INTENTION DAN SELF- EFFICACY DALAM MENCARI BANTUAN LAYANAN KESEHATAN MENTAL PADA MAHASISWA

    Full text link
    Mental health problems are common among college students. The existence of psychological and social changes that make it difficult for students to adjust during the lecture period can cause individuals become vulnerable for developing mental health problems. Help-seeking early as a protective factor is important to improve students’ mental health and well-being, however most students do not seek professional help when they need to. Self-efficacy can play a role in the formation of help-seeking intention so that it affects individual decisions to seek professional psychological help for their mental health problems. This study aimed to determine the relationship between self-efficacy in seeking mental health care and help-seeking intention among undergraduate students. This research was conducted using purposive sampling on students in East Java aged 18-25 years and had experienced psychological distress. Data were collected using MHSIS (Mental Help-Seeking Intention Scale) and SE-SMHC (Self-Efficacy to Seek Mental Health Care) scale which translated through forward translation dan back translation. The data analysis was performed using Kendall’s Tau-b correlation test. The results showed that self-efficacy in seeking mental health care was positively correlated with help-seeking intention with a correlation coefficient of 0.459 and significance value of 0.000 (p < 0.05), which means the higher self-efficacy (confidence in knowledge and confidence in coping) in seeking mental health care, the higher the student's help-seeking intention. Therefore, students need to maintain healthy relationships with their social networks and expand information about psychological help-seeking

    HUBUNGAN ANTARA STRES KERJA DALAM KETERLIBATAN PENGASUHAN PADA AYAH YANG MEMILIKI ANAK REMAJA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara stres kerja dengan keterlibatan pengasuhan ayah pada anak remaja. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Alat ukur yang digunakan yaitu skala stres kerja dan skala keterlibatan ayah (IFI). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara stres kerja dengan keterlibatan ayah (ρ = -0.196; p = 0.133). Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak adanya hubungan antara stres kerja dengan keterlibatan ayah pada anak remaja. Hasil lain dimensi job itself pada stres kerja dengan keterlibatan pengasuhan ayah pada remaja memiliki hubungan negatif (ρ = -0.305; p = 0.018). Dimensi lainnya yang juga memiliki hubungan negatif adalah dimensi family work conflict pada stres kerja dengan keterlibatan pengasuhan ayah pada anak remaja (ρ = -0.310; p = 0.016)

    131

    full texts

    141

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇