EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia
Not a member yet
141 research outputs found
Sort by
STRES AKADEMIK DAN DUKUNGAN TEMAN PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA SELAMA PEMBELAJARAN DARING
Abstrak Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia menyebabkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan peraturan untuk melaksanakan pembelajaran secara daring bagi mahasiswa di Perguruan Tinggi. Mahasiswa tahun pertama sebagai mahasiswa yang baru saja mengalami masa transisi dari SMA menuju Perguruan Tinggi merupakan pihak yang rentan mengalami stres akademik saat pembelajaran daring. Stres akademik adalah respon yang dirasakan oleh tubuh terkait tuntutan yang tinggi dari dunia akademik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres akademik dapat menurun ketika individu memperoleh dukungan dari lingkungan sekitarnya. Pada penelitian ini dukungan dari lingkungan sekitar adalah dukungan yang diberikan oleh teman. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara dukungan teman dan stres akademik pada mahasiswa tahun pertama selama pembelajaran daring. Responden dalam penelitian ini berjumlah 194 mahasiswa tahun pertama yaitu 66 mahasiswa dan 128 mahasiswi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara dukungan teman dengan stres akademik pada mahasiswa tahun pertama selama pembelajaran daring (r = -0,356; p<0,05). Mahasiswa tahun pertama yang memperoleh dukungan dari teman akan menurun stres akademik yang dirasakannya. Dosen disarankan dapat menyediakan metode pembelajaran yang memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk bekerjasama secara interaktif sehingga mahasiswa memperoleh dukungan dari teman mahasiswa selama proses pembelajaran daring. Kata Kunci: dukungan teman, stres akademik, mahasiswa tahun pertama Abstract Ministry of Education and Culture issue a regulation for University to conduct online learning due to the Covid-19 pandemic in Indonesia. First-year university students as students who have just experienced a transition from high school to university are vulnerable to academic stress during online learning. Academic stress is the body responses related to high demand of academic tasks. Several studies show that academic stress can be lower when a person get support from surrounding environment. This study aims to explore the relationship between peers support and academic stress of first-year students during online learning in the Covid-19 pandemic. Participants in this study are 194 first-year students with 66 male students and 128 female students. The result shows that there is a significant relationship between peer support and academic stress of first-year students (r = -0.356; p < 0.05). Students who have support from their peers will have lower academic stress. It is recommended that the lectures should provide teaching methods that allow students to do learn interactively in order to get support from their peers during online learning.Keywords: peer support, academic stress, first-year student
PERBEDAAN KEPUASAN HIDUP PADA LANSIA WANITA DITINJAU DARI TEMPAT TINGGAL
ABSTRAKPopulasi lansia wanita yang terus meningkat di Indonesia menunjukkan harapan hidupnya pun meningkat, sehingga lebih banyak menghadapi kesulitan terkait penuaannya seorang diri. Hal tersebut berkaitan dengan konsep “successful aging”, salah satu hal yang mempengaruhi yaitu kepuasan hidup.Kepuasan hidup yang rendah pada lansia wanita dapat menyebabkan tingginya resiko mengalami depresi dan memiliki status fungsional dan kesehatan fisik maupun psikologis yang rendah. Kepuasan hidup adalah evaluasi subjektif terhadap keseluruhan kehidupan masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang dengan situasi yang dianggap standar atau ideal sesuai dengan kriteria yang dipilih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kepuasan hidup pada lansia wanita ditinjau dari tempat tinggal. Tempat tinggal tersebut terdiri dari tempat tinggal bersama anak/keluarga, sendiri dan di panti lansia. Subjek Penelitian ini adalah lansia wanita yang sudah tidak memiliki pasangan, dan berusia 60 tahun ke atas (N=82). Teknik Pengambilan data dalam penelitian ini adalah Purposive sampling dan snowball sampling. Kepuasan hidup lansia wanita diukur menggunakan kuesioner kepuasan hidup LSITA-SF. Teknik analisa data yang digunakan adalah uji beda Anova One-Way. Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,019 (p<0,05), yang berarti ada perbedaan kepuasan hidup lansia wanita ditinjau dari tempat tinggal. Berdasarkan nilai mean, kepuasan hidup tertinggi berada pada kelompok tempat tinggal di panti lansia sebesar 39,90 diikuti kelompok tempat tinggal bersama anak/keluarga sebesar 35,84 dan terendah yaitu tempat tinggal sendiri sebesar 34,86. Kata Kunci : kepuasan hidup, lansia wanita, tempat tinggal.ABSTRACTAs the population of older women always increases in Indonesia, it shows that their life expectancy also increases. Therefore, a lot of them experience difficulty in their aging process. This is associated with the concept of “successful aging” on the elderly, one of them being life satisfaction. Low life satisfaction on older women can cause high risk in depression and lower function of physical and psychological health. Life satisfaction is a subjective evaluation of past life, current life, and the future, with a standardized situation that is perceived as ideal and compatible by chosen criteria. This study’s purpose is to know the differences in life satisfaction on older women reviewed by their residences. The residence itself consists of the house with children/family, alone, and in the elderly home. The informants in this study were older women who do not have partners, and the age range is above 60 years old (N=82). The data gathering in this study is using purposive sampling and snowball sampling. Life satisfaction on older women was measured using the life satisfaction LSITA-SF questionnaire. The analysis technique is using a one-way ANOVA test. The analysis result shows a p score = 0,019 (p<0,05), which means that there are differences in life satisfaction on older women reviewed by their residences. According to the mean score, the highest life satisfaction is in the group of older women who live in an elderly home, with the amount of 39,90. It is followed by older women who live with children or families, with the amount of 35,84. The lowest life satisfaction is in the group of older women who live alone, with the amount of 34,86. Keywords : life satisfaction, older women, residenc
HUBUNGAN ANTARA STRENGTH-BASED PARENTING DENGAN STUDENT SUBJECTIVE WELLBEING PADA REMAJA AWAL DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA X SURABAYA
ABSTRAKSubjective wellbeing penting bagi remaja awal sebagai pelajar di sekolah, karena menggerakkan remaja untuk menyadari lingkungannya dan membuat mereka lebih efektif dalam membangun dan meningkatkan kemampuan kreativitas, pemecahan masalah dan beberapa kemampuan lainnya yang penting untuk menjadi seseorang pelajar yang sukses. Jika tidak terpenuhi, akan timbul masalah-masalah bagi remaja seperti malas ke sekolah dan terjerumus dalam kenakalan remaja. Salah satu sumber ketidakbahagiaan remaja sebagai pelajar di sekolah adalah masalah dengan orang tua, yakni orang tua kurang mengenali kekuatan anak seperti yang terjadi pada remaja di Sekolah X Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara Strength-Based Parenting dengan Student Subjective Wellbeing pada remaja awal di Surabaya. Penelitian ini melibatkan 80 orang pelajar sekolah X di Surabaya dengan rentang usia 13-15 tahun. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode accidental sampling. Pengambilan data dilakukan menggunakan skala Student Subjective Wellbeing Questionnaire untuk mengukur wellbeing remaja sebagai pelajar dan Strength-Based Parenting untuk mengukur persepsi Strength-Based Parenting dari siswa terhadap orang tua. Hasil uji hipotesis menunjukkan adanya hubungan yang positif antara Strength Knowledge dengan Student Subjective Wellbeing dengan nilai p=0,027 (p < 0,05) dan r = 0,192, dan antara Strength Use dengan Student Subjective Wellbeing dengan nilai p=0,000 (p < 0,05) dan r = 0,354. Dengan demikian, semakin tinggi Strength-Based Parenting (Strength Knowledge & Strength Use) yang dilaporkan oleh remaja awal, maka semakin tinggi pula Student Subjective Wellbeing remaja awal di sekolah tersebut dan semakin rendah Strength-Based Parenting (Strength Knowledge & Strength Use) maka semakin rendah pula Student Subjective Wellbeing remaja awal di sekolah tersebut.Kata Kunci: Subjective Wellbeing, Strength Knowledge, Strength Use, Strength-Based Parenting, Student Subjective Wellbeing
WORK ENGAGEMENT DENGAN PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT PADA KARYAWAN YANG MELAKUKAN WORK FROM HOME
The COVID-19 pandemic has caused the work system that was originally in the office to now work from home or what we usually know as work from home (WFH). Work from home causes employee not to get full support from the company, such as the absence of work support facilities and having to provide work needs while work at home. These things make employee more lazy at work, feel their work is heavy, etc. decreased enthusiasm for wok is one aspect of work engagement. According to Schaufeli & Bakker (2004) work engagement is a condition of thinking about work where a person has positive thoughts and feels happy about work that is formed through vigor, dedication, and absorption. The factor that affect work engagement are perceived organizational support. Researchers use quantitative research method, researchers use google form as a medium for data collection. The number of subjects obtained by the researchers were 84 respondents (WFH employees). The results of this study show sig. of 0.000 (p <0.05) means that there is a relationship between work engagement and perceived organizational support for employees who do WFH. This study is supported by a correlation value of 0.391 and an effective contribution of 31.9% so that it can be said that the two variables studied have a positive relationship, which means that when individuals have high perceived organizational support, the individual will also have high work engagement. On the other hand, when an individual has low perceived organizational support, the individual will have low work engagement
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN WELLBEING PADA REMAJA AKHIR DI SURABAYA
ABSTRAKKetika memasuki usia remaja, individu memerlukan kondisi wellbeing yang baik agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta berkarya secara produktif dan efektif. Wellbeing memiliki 2 pendekatan, yaitu pendekatan hedonic atau subjective wellbeing dan pendekatan eudaemonic atau psychological wellbeing. Dalam mencapai hal tersebut, maka dibutuhkannya konsep diri untuk membantu individu memahami dirinya melalui kondisi fisik, sosial, serta aspek-aspek personal seperti kepribadian, sikap, dan perilaku. Dengan mencapai identitas yang utuh, individu dapat memiliki fungsi psikologis dan sosial yang baik, serta mengurangi masalah pada perilakunya. Dengan kata lain, pencapaian identitas melalui konsep diri yang positif mengarah pada kondisi wellbeing yang baik. Penelitian ini melibatkan 72 orang remaja yang berusia 18-21 tahun di Surabaya. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling. Peneliti menggunakan skala Pemberton Happiness Index untuk mengukur wellbeing dan skala Personal Self-concept Questionnaire untuk mengukur konsep diri. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik korelasi non-parametrik Kendall’s tau-b. Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara variabel konsep diri dengan wellbeing, r = 0,456 dan p = 0,000 (p < 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik konsep diri remaja, maka semakin baik pula wellbeing remaja. Demikian pula sebaliknya, konsep diri yang kurang diikuti oleh menurunnya wellbeing.
RESIPROSITAS PENJUAL PEMBELI PADA APLIKASI TIKTOK
COVID-19 pandemic has led to changes in the way people shop online and has an impact on the emergence of a new phenomenon where the TikTok application becomes a medium for buying and selling online. With TikTok becoming online commerce medium, can cause practical-knowledge gap, by which negative behavior such as scams can happen during buying and selling activities occurs. With this phenomenon, the purpose of this research is to describe the pattern of buyer-seller reciprocity on TikTok social media. This research is included in qualitative research. Primary data used were obtained through informants and secondary data obtained through comments on the TikTok application. Participant characteristics were taken using purposive sampling technique and using a screening with an open questionnaire to find participants who would be interviewed. From the research results, it was found that the buyer-seller reciprocity pattern in TikTok contained three stages in the big theme. The first big theme is the predecessor condition, then it is continued at the process stage (interaction), and ends with output
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIOSITAS DAN KECEMASAN AKADEMIK PADA MAHASISWA YANG BERAGAMA KATOLIK
Abstrak - Menjalani pendidikan di perguruan tinggi menjadi suatu hal yang didambakan. Meskipun demikian, pada mahasiswa, dapat terjadi gangguan pola pemikiran dan perilaku, sebagai bentuk dari kecemasan akademik. Religiositas mungkin berperan sebagai coping mechanism terhadap kecemasan akademik ini sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara religiositas dengan kecemasan akademik. Dengan metode kuantitatif, peneliti membuat alat ukur untuk kedua variabel yakni skala religiositas dan skala kecemasan akademik. Jumlah total responden adalah sebanyak 205 orang dengan kriteria subjek yakni mahasiswa yang beragama Katolik di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan nilai r = -0,156 dan p = 0,001 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan di antara kedua variabel dengan arah hubungan negatif, yang dapat diintepretasikan jika semakin tinggi tingkat religiositas, maka semakin rendah tingkat kecemasan akademik. Demikian pula sebaliknya, jika semakin rendah tingkat religiositas, maka semakin tinggi tingkat kedemasan akademi
HUBUNGAN ANTARA RELIGIOSITAS DENGAN HARDINESS PADA MAHASISWA KATOLIK TINGKAT AKHIR DI SURABAYA
Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Tidak sedikit mahasiswa yang berada dalam kondisi tertekan, sehingga dibutuhkan hardiness untuk dapat bertahan dalam situasi penuh tekanan. Hardiness adalah suatu karakteristik yang terdiri dari komitmen, kontrol, dan tantangan yang mempunyai fungsi dan strategi untuk dapat beradaptasi dan bertahan dalam menghadapi keadaan stres. Salah satu faktor yang mempengaruhi hardiness adalah strategi koping dengan implementasinya yaitu religiositas. Adanya hubungan spiritual dengan orang lain dan mengakui campur tangan Tuhan, akan membantu dalam mengendalikan dan mengarahkan diri dalam mengatasi permasalahan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara religiositas dengan hardiness pada mahasiswa Katolik tingkat akhir di Surabaya. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 91 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu accidental sampling. Skala yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala Hardiness dan skala Religiositas. Hasil analisis data menggunakan korelasi Pearson Product Moment menghasilkan r=0,555 (p<0,05) yang berarti bahwa terdapat hubungan positif antara religiositas dan hardiness pada mahasiswa Katolik tingkat akhir di Surabaya. Semakin tinggi religiositas pada diri seseorang maka semakin tinggi pula hardiness seseorang dan begitu pula sebaliknya
HUBUNGAN KONFORMITAS DENGAN FANATISME SUPORTER KLUB SEPAK BOLA ARSENAL DI KOTA MADIUN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konformitas dengan fanatisme suporter klub sepak bola Arsenal di Kota Madiun. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 45 orang yang tergabung dalam grup media sosial WhatsApp Arsenal Indonesia Suporter Madiun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan menggunakan skala konformitas dan skala fanatisme sebagai alat pengumpul data. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan korelasi product moment dari Karl Pearson. Hasil pengujian koefisien korelasi yang diperoleh adalah 0,826 dengan nilai signifikansi p=0,000 (p<0,05). Dengan demikian hasil penelitian ini menunjukan hipotesis diterima dan ada hubungan yang signifikan antara konformitas dengan fanatisme suporter klub sepak bola Arsenal di Kota Madiun
GAMBARAN GRIT PADA MAHASISWA YANG MEMILIKI ONLINE SHOP
ABSTRACT Technological advances make everything fast so, there are many changes in various sectors including the industrial sector. The process of buying and selling transactions can now be done digitally and online. This progress is used by college students to get income to meet their needs. The problem that arises when students have an online shop is how the lecture process and the business online shop run optimally? Grit is a combination of consistency with passion, namely consistency with goals that have been set for a long period of time, and perseverance which means the ability to overcome the desire to give up (Duckworth, 2016). Grit is one of the differences so that online shops and lectures can run together and optimally. Researchers conducted research to determine the description of grit in college students who have an online shop. This research used a qualitative approach with a phenomenological type. The data obtained were analyzed using themethod led theory, especially deductive analysis. The research informants were undergraduate students with a minimum GPA of 2.75 and theage was online shop over 1 year. The results of the study found that the grit of the two informants was the same as the existing theory. There are 4 aspects, namely 1) interest, 2) practice, 3) purpose, and 4) hope that there are also factors that influence the growth of grit, namely 1) parenting, 2) culture and 3) experience. However, researchers found another factor, which is the situation where informants were forced to be independent because students had to migrate away from their parents. Keywords : Grit, Online Shop, Perseverenc