EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia
Not a member yet
141 research outputs found
Sort by
EFEKTIVITAS PELATIHAN SELF-AWARENESS UNTUK MENINGKATKAN HARGA DIRI REMAJA PANTI ASUHAN
Remaja panti asuhan adalah remaja yang rentan dengan permasalahan psikologis, salah satunya harga diri yang rendah. Rendahnya harga diri berkaitan dengan kurangnya pemahaman terhadap diri sendiri sehingga pelatihan self awareness diduga efektif dapat meningkatkan harga diri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan harga diri pada remaja panti asuhan yang diberikan pelatihan self-awareness dengan yang tidak diberi pelatihan. Desain penelitian ini adalah quasi experiment dengan pre test-post test control group design non randomized. Jumlah subjek 28 remaja panti asuhan dengan rentang usia 12-18 tahun yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan matching method. Penelitian ini mengukur tiga aspek, yaitu aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku. Pengukuran pengetahuan menggunakan soal pilihan ganda berdasarkan materi self-awareness. Pengetahuan sikap menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale yang diadaptasi dalam Bahasa Indonesia. Alat ukur aspek perilaku menggunakan indikator harga diri positif dan negatif dari Santrock (2007). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap pada kelompok eksperimen, sedangkan tidak ada peningkatan pada kelompok kontrol. Pengukuran perilaku masing-masing kelompok mengalami peningkatan perilaku indikator positif dan mengalami penurunan indikator negatif. Analisis data menggunakan uji non parametrik Mann Whitney U-test dengan membandingkan nilai gain score pre-test dan post-test dengan signifikansi 0.000 < 0.05 artinya ada perbedaan harga diri antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penelitian ini memiliki eta square sebesar ɳ2= 0,62. Artinya, pelatihan self-awareness memiliki efek yang besar terhadap harga diri remaja panti asuhan. Penelitian ini memberikan implikasi pentingnya pelatihan mengenal diri sendiri demi meningkatkan self-esteem
GAMBARAN KONSEP DIRI PADA EMERGING ADULTHOOD YANG PERNAH MENGALAMI CHILD MALTREATMENT
Child maltreatment merupakan berbagai bentuk kekerasan oleh orang tua terhadap anak mereka terlebih yang berada pada usia di bawah 18 tahun, tindakan tersebut terdiri dari kekerasan secara fisik maupun emosional, kekerasan seksual, serta penelantaran secara fisik maupun penelantaran secara emosional. Tindakan maltreatment yang diberikan oleh orang tua ketika masa kecil menyebabkan terbentuknya gambaran konsep diri pada individu. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsep diri pada emerging adulthood yang pernah mengalami child maltreatment. Konsep diri terbagi menjadi dua yaitu konsep diri positif dan negatif yang dapat dilihat melalui sudut pandang fisik, psikis, sosial, dan moral. Ketika individu memiliki konsep diri yang positif, ia akan selalu memiliki pandangan optimis terhadap kehidupan. Sebaliknya apabila individu memiliki konsep diri negatif dirinya akan cenderung memiliki pandangan yang pesimis. Metode kualitatif dipilih untuk menjelaskan fenomena secara lebih mendalam, yaitu wawancara kepada tiga perempuan emerging adulthood yang pernah mengalami child maltreatment. Peneliti mendapatkan informan dengan menyebar pertanyaan terbuka di sosial media. Teknik analisis data yang digunakan adalah secara deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan child maltreatment yang dilakukan oleh orang tua dapat menghasilkan konsep diri yang berbeda-beda, yaitu positif dan negatif. Terdapat tindakan child maltreatment yang membentuk konsep diri positif pada salah satu informan penelitian, meskipun kedua informan lainnya mendapatkan tindakan yang serupa. Saran penelitian ini ditujukan bagi informan penelitian, orang tua, lembaga ranah anak, dan juga bagi penelitian selanjutnya
GAMBARAN STRATEGI COPING PADA PEREMPUAN EMERGING ADULTHOOD YANG MENGALAMI TOXIC RELATIONSHIP NAMUN MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN
Coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk mengelola kesenjangan antara tuntutan (baik dari individu itu sendiri maupun lingkungannya) dengan kemampuan mereka dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan. Strategi coping banyak dilakukan oleh perempuan emerging adulthood yang mengalami toxic relationship dalam usaha mempertahankan hubungannya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan strategi coping pada perempuan emerging adulthood yang mengalami toxic relationship dan berusaha mempertahankan hubungannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi kasus dan menggunakan analisis tematik deduktif. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Informan dalam penelitian ini terdiri dari tiga informan dengan kriteria pernah mengalami toxic relationship dan berusaha mempertahankan hubungannya. Hasil dari penelitian ini menunjukan terdapat empat tema pokok yaitu bentuk kekerasan selama berpacaran, dampak negative mengalami kekerasan selama berpacaran, alasan mempertahankan hubungan, dan strategi coping. Ketiga informan menggunakan baik problem-focused coping maupun emotion-focused coping dan kekerasan balik pada pasangan
ACADEMIC BURNOUT DAN SELF-REGULATED LEARNING PADA MAHASISWA YANG BEKERJA DI MASA PANDEMI COVID-19
Abstrak- Mahasiswa yang bekerja akan rentan mengalami kelelahan berlebih baik dari segi fisik dan juga emosional. Kelelahan berlebih dari segi fisik dan emosional pada perkuliahan berhubungan dengan konsep academic burnout. Academic burnout ditandai dengan rasa lelah yang muncul karena beban pembelajaran, pandangan sinis pada tugas-tugas kewajiban perkuliahan dan juga adanya rasa kurang kompeten yang dirasakan oleh mahasiswa. Salah satu cara agar mahasiswa dapat mengurangi tingkat academic burnout yang dimilikinya akibat bekerja adalah melakukan pengaturan diri untuk belajar yang disebut sebagai self-regulated learning. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan self-regulated learning dan academic burnout pada mahasiswa yang bekerja di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa di Surabaya dengan metode incidental sampling dan terdapat sebanyak 149 responden mahasiswa yang bekerja di Surabaya. Responden dalam penelitian ini meliputi 64 mahasiswa dan 85 mahasiswi. Variabel academic burnout diukur memakai skala yang disusun oleh peneliti sendiri dengan didasari oleh aspek-aspek skala dari Salmela-Aro et al. (2009). Self-regulated learning diukur menggunakan aspek dari alat ukur Kadioǧlu et al. (2011). Uji hipotesa korelasi menunjukkan nilai r = -0.468 (p = 0.00; p < 0.05) sehingga dapat disimpulkan bahwa self-regulated learning memiliki hubungan yang signifikan dengan academic burnout pada mahasiwa yang bekerja di masa pandemi Covid-19. Arah hubungan yang bersifat negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi self-regulated learning yang dimiliki mahasiswa yang bekerja maka semakin rendah academic burnout yang dirasakannya. Tingkat academic burnout mahasiswa dengan jumlah terbanyak adalah kategori sedang (59.6%) sedangkan jumlah responden terbanyak pada self-regulated learning adalah self-regulated learning dengan kategori tinggi (66.2%). Kata kunci: academic burnout, self-regulated learning, mahasiswa yang bekerja Abstract- Students who work are prone to excessive fatigue both physically and emotionally. Physical and emotional overexertion in lectures is related to academic burnout. Academic burnout characteristics are fatigue caused by the burden of learning, a cynical attitude toward lecture assignments, and a feeling of incompetence as a student. One way that students can reduce their academic burnout due to work is to self-regulate their learning, or what is known as self-regulated learning. This study examines the relationship between self-regulated learning and academic burnout in students who work during the Covid-19 pandemic. This research was conducted on 149 students who work in Surabaya using the incidental sampling method. Respondents in this study included 64 male students and 85 female students. The academic burnout variable was measured by an academic burnout scale made by the researcher based on some aspects of the academic burnout scale by Salmela-Aro et al. (2009). Self-regulated learning was measured using aspects from the measuring instrument of Kadioǧlu et al. (2011). The results showed r = -0.468 (p = 0.00; p < 0.05), indicating a significant relationship between self-regulated learning and academic burnout in students working during the Covid-19 pandemic. The direction of the negative relationship shows that the higher the level of self-regulated learning of working students, the lower their academic burnout. The level of academic burnout students feel is mostly in the moderate category (59.6%), and the highest level of self-regulated learning is in the high category (66.2%). Keywords: academic burnout, self-regulated learning, working students
DINAMIKA SELF-ESTEEM PADA EMERGING ADULTHOOD YANG FATHERLESS
Fatherless adalah kondisi anak tumbuh dengan tanpa keterlibatan ayah kandung (fisik, emosional dan spiritual) dikarenakan meninggal, perceraian, ataupun permasalahan pernikahan. Kurangnya secure attachment dari ayah berdampak pada perkembangan self-esteem ke arah negatif, khususnya anak laki-laki. Self-esteem adalah evaluasi diri secara positif maupun negatif. Rendahnya self-esteem dari masa kanak-kanak akan mempengaruhi hingga fase perkembangan berikutnya (Emerging adulthood). Tujuan penelitian ini untuk melihat dinamika self-esteem (positif dan negatif) emerging adulthood fatherless (perceraian). Metode kualitatif fenomenologi dan analisis tematik induktif. Informan penelitian ini adalah 2 laki-laki emerging adulthood fatherless sejak usia 3-11 tahun. Peneliti menggolongkan dinamika self-esteem dalam 3 fase, yaitu 1) fase anak-anak (3-11 tahun), 2) fase remaja (12-18 tahun), 3) fase emerging adulthood (18-25 tahun), juga faktor pembentuk self-esteem. Hasil penelitian menyatakan ada penilaian diri negatif yaitu kurang percaya diri, tetapi juga ada penilaian diri positif yaitu pribadi yang adaptif dan resilient. Penerimaan dari individu sebaya, relasi keluarga, pemaknaan pribadi pada kondisi fatherless-nya, menjadi faktor yang membentuk self-esteem. Jadi tidak selalu, individu fatherless akan menilai diri negatif lalu terpuruk. Penilaian diri positif membuat individu semakin kuat menjalani tantangan hidup
HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DENGAN SCHOOL WELL-BEING PADA SISWA SMP NEGERI 1 SILAEN
Peralihan dari pembelajaran daring ke luring membutuhkan adaptasi. Adaptasi ialah kemampuan untuk membangun keharmonisan antara individu dan lingkungan. Kualitas sekolah berdampak pada perkembangan penyesuaian pribadi. Penelitian berikut ini mencoba untuk melihat apakah ada korelasi antara self-efficacy dengan kesejahteraan sekolah pada peserta didik SMP Negeri 1 Ceylon. Responden survei ini mencapai 259 peserta didik berusia 11–16 tahun. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini memakai metode sampling yakni random sampling. Penelitian berikut ini memakai metode penelitian kuantitatif dengan memakai skala mutu sekolah dan swakelola. Penelitian selanjutnya memakai metode analisis data Kendall Tau-B dan koefisien korelasi sebesar 0,000 (p < 0,05) dengan nilai signifikan r = 0,255. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara penyesuaian diri dengan kualitas sekolah, artinya penyesuaian diri mempunyai karunia bagi peserta didik untuk mencapai keharmonisan antara dirinya dan sekolahnya sehingga faktor-faktor yang mempengaruhi sekolah Untuk meningkatkan sikap peserta didik. Kamu baik. Tingkat penyesuaian diri peserta didik yang tinggi, tingkat kesejahteraan sekolah peserta didik SMP Negeri 1 Sailen yang tinggi. Sebaliknya, menurunkan tingkat pengembangan diri peserta didik, menurunkan kualitas sekolah peserta didik SMP Negeri 1 Silen
PENGARUH GRATITUDE TERHADAP KECENDERUNGAN DEPRESI PADA MAHASISWA DI SURABAYA
Kecenderungan depresi didefinisikan sebagai suatu pengalaman yang menyakitkan dengan perasaan kebahagiaan yang hilang dan dapat ditunjukan dengan gejala tertentu. Salah satu penyebab kecenderungan depresi adalah menurunnya gratitude atau rasa syukur yang dimiliki oleh seorang individu yang terdiri dari intencity, frequency, span dan dencity. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetauhi pengaruh dari gratitude terhadap kecenderungan depresi pada mahasiswa Surabaya. Peneliti menggunakan metode kuantitif dengan menyebarkan skala gratitude questionnaire 6 (GQ-6) dan depression anxiety stress scale 21 (DASS-21) yang peneliti susun dengan bantuan Google Form. Subjek yang menjadi penelitian ini adalah mahasiswa strata satu berumur 18-25 tahun di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan teknik analisa regresi sederhana dengan memakai bantuan aplikasi SPSS for Windows versi 25. Penelitian ini mendapatkan hasil adanya pengaruh signifikan antar variabel. Uji pengaruh pada penelitian ini digambarkan dengan sumbangan efektif sebesar 12.6% dan nilai sig, sebesar 0.000 (p < 0.05) dan nilai persamaan Y=41,274 – 0,449X. Berdasarkan persamaan regresi tersebut memperoleh arti bahwa setiap kenaikan 0,449 poin pada poin gratitude maka akan menurunkan 1 poin kecenderungan depresinya. Sebaliknya, setiap terdapat penurunan poin gratitude sebesar 0,449 poin maka akan menambahkan kenaikan 1 poin pada kecenderungan depresinya
EFEKTIVITAS PELATIHAN MOTIVASI BERPRESTASI UNTUK MENURUNKAN PERILAKU PROKRASTINASI PADA REMAJA DI DAERAH PESISIR SURABAYA
Remaja bersekolah, terutama yang berada di daerah pesisir kota, menghadapi berbagai tekanan, persoalan dan tuntutan lingkungan, sehingga hal tersebut dapat menimbulkan prokrastinasi akademik. Tekanan yang terjadi adalah fase storm dan stres akibat perubahan sosial, fisik, dan emosional. Apabila tidak bisa menghadapi fase tersebut secara konstruktif, remaja akan mengalami masalah proses belajar, seperti kurang baik dalam manajemen waktu. Prokrastinasi yang berkelanjutan dapat menyebabkan penurunan performa akademik dan meningkatkan kecemasan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat prokrastinasi akademik sebelum dan sesudah diberi pelatihan motivasi berprestasi pada remaja di daerah pesisir Surabaya. Metode yang digunakan yaitu quasi-experiment (one-group pre-test-post-test design) dengan teknik purposive sampling. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini merupakan remaja berjumlah 9 orang yang berusia antara 12-17 tahun di bawah naungan komunitas X dan tinggal di pesisir Surabaya. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah General Procrastination Scale. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan terhadap tingkat prokrastinasi akademik sebelum dan sesudah diberi pelatihan motivasi berprestasi dengan hasil p = 0,542 (p > 0,05). Minimnya efek dari pelatihan terjadi karena beberapa peserta tidak mengikuti pertemuan penuh, kurangnya partisipasi aktif peserta selama pelatihan berlangsung, durasi dan jumlah pelatihan terlalu singkat, serta terdapat faktor lain turut menjadi penyebab prokrastinasi. Hal ini perlu diperhatikan peneliti selanjutnya untuk membuat pelatihan dengan lebih memperhatikan kehadiran dan partisipasi aktif peserta, menambah durasi dan jumlah pelatihan, serta meninjau faktor lain selain motivasi berprestasi
PSYCHOSOCIAL ADJUSTMENT INDIVIDU DALAM HUBUNGAN PACARAN BEDA RAS
Abstrak—Pacaran beda ras memiliki banyak perbedaan yang menimbulkan konflik, sehingga dibutuhkan psychosocial adjustment, yaitukemampuan untuk menyesuaikan dengan diri (psychological adjustment) dan lingkungannya (social adjustment). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tantangan dalam relasi pacaran beda ras serta bentuk psychosocial adjustment individu terhadap tantangan yang muncul. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk memahami secara mendalam fenomena yang terjadi dalam pacaran beda ras. Teknik purposive sampling digunakan untuk memperoleh partisipan yang sedang atau pernah pacaran beda ras. Data penelitian diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan 5 partisipan dan dianalisis menggunakan metode analisis tematik. Upaya meningkatkan kredibilitas penelitian dilakukan dengan menerapkan metode triangulasi berupa member checking. Hasil penelitian menemukan bahwa tantangan yang paling menonjol adalah restu dari pihak keluarga, yang secara langsung dapat mempengaruhi keberlangsungan relasi. Bentuk dari psychological adjustment adalah mampu mengekspresikan perasaan, memiliki coping mechanism dalam menghadapi tekanan, dan mendapatkan dukungan dari orang lain. Bentuk dari social adjustment adalah mengikuti tradisi/budaya pasangan, membangun citra pasangan yang positif, serta meningkatkan kualitas diri sendiri. Penelitian ini juga menemukan psychosocial adjustment dinyatakan berhasil apabila dapat mengatasi konflik pacaran beda ras. Namun beberapa bentuk penyesuaian tersebut dapat menyebabkan hubungan berakhir atau berjalan. Keterbatasan dalam penelitian terdapat pada karakteristik partisipan yang hanya berasal dari salah satu pihak dalam suatu hubungan, kurangnya keberagaman ras, dan guideline wawancara yang kurang spesifik. Penelitian ini memberikan perspektif baru terkait tantangan berpacaran beda ras di Indonesia serta penggunaan teori psychosocial adjustment dalam konteks relasi pacaran beda ras.
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN SOCIAL LOAFING PADA MAHASISWA DALAM TUGAS KELOMPOK SELAMA PERKULIAHAN DARING
Selama pandemi Covid-19 proses pembelajaran mengalami perubahan dikarenakan kebijakan pemerintah yang awalnya dilakukan secara tatap muka menjadi daring. Perubahan pembelajaran tersebut mengakibatkan penurunan tingkat motivasi berprestasi mahasiswa dan berpotensi memunculkan perilaku social loafing. Social loafing adalah fenomena terjadinya penurunan dalam usaha yang dikeluarkan oleh individu saat mengerjakan tugas kelompok untuk mencapai tujuan kelompok dibandingkan saat mengerjakan tugas individu yang bertujuan untuk mencapai tujuan pribadi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara motivasi berprestasi dengan social loafing pada mahasiswa selama pembelajaran daring. Penelitian ini berbentuk kuantitatif studi hubungan. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 169 responden yang merupakan mahasiswa aktif Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya angkatan 2018-2021 dan mengikuti perkuliahan secara daring. Pengambilan sampel menggunakan teknik stratified random sampling. Alat ukur yang digunakan skala social loafing milik Kusuma (2015) dan motivasi berprestasi milik Pratiwi (2016). Data dianalisis menggunakan Uji Non-Parametrik Kendall’s Tau-B, dengan hasil nilai korelasi sebesar -0,306 dan nilai p= 0,000, yang memiliki makna adanya hubungan yang signifikan antara motivasi berprestasi dengan social loafing pada mahasiswa selama perkuliahan daring dengan arah hubungan negatif. Artinya, semakin tinggi tingkat motivasi berprestasi maka semakin rendah tingkat social loafing. Demikian pula sebaliknya. Hasil penelitian ini memberikan implikasi atas pentingnya meningkatkan motivasi berprestasi mahasiswa agar dapat menurunkan perilaku social loafing