EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia
Not a member yet
141 research outputs found
Sort by
Peningkatan Kemampuan Operasional Penjumlahan Mata Pelajaran Matematika dengan Mengunakan Media Gambar pada Siswa Kelas III Tunagrahita Ringan SDLB Negeri Semarang
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan operasional penjumlahan mata pelajaran matematika dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas III SLB Negeri Semarang. Hipotesis yang diajukan adalah ada peningkatan kemampuan operasional penjumlahan mata pelajaran matematika dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas III SDLB Negeri Semarang. Subjek penelitian ini berjumlah 9 orang siswa kelas III tuna grahita ringan SDLB Semarang. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain one group pretest posttest desain. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa t = -6,275 (
Self-Regulation dan Perilaku Makan Sehat Mahasiswa yang Mengalami Dyspepsia
Dyspepsia adalah rasa nyeri yang dirasakan di ulu hati dan rasa tidak nyaman pada perut bagian atas. Salah satu hal yang dapat menimbulkan gejala ini terjadi adalah perilaku makan sehat seseorang. Salah satu faktor dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi perilaku makan sehat adalah self-regulation. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada/tidaknya hubungan antara self-regulation dan perilaku makan sehat pada mahasiswa yang mengalami dyspepsia. Subjek penelitian adalah mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya yang mengalami dyspepsia (N=31). Pengambilan sampel dilakukan dengan cara incidental sampling. Pengumpulan data untuk variabel perilaku makan sehat dilakukan dengan menggunakan My Meals Diary, yaitu subjek melakukan pencatatan perilaku makannya selama 7 hari. Variabel self-regulation diukur dengan menggunakan Skala Self- Regulation. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik korelasi non parametric Kendall’s Tau_b. Hasil analisis mendapatkan nilai r = -0.005, p = 0,972 (p > 0,05) yang berarti tidak ada hubungan antara self-regulation dengan perilaku makan sehat pada mahasiswa yang mengalami dyspepsia di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Selain kelemahan pada metodologi penelitian, penelitian selanjutnya dapat memperhitungkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku makan seperti stress dan pengetahuan mengenai dyspepsia.
Kata Kunci: Self-regulation, perilaku makan sehat, dyspepsi
Regulasi Belajar pada Mahasiswa Psikologi
Penelitian ini adalah penelitian tentang regulasi belajar yang didasarkan pada hasil penelitian oleh Kadioglu, Uzuntiryaki & Aydin (2011) yang merumuskan ada tujuh aspek regulasi belajar yaitu : motivation regulation, planning, effort regulation, attention focusing, task strategies, using additional resources dan self instruction. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan regulasi belajar yang dimiliki oleh mahasiswa Fakultas Psikologi. Subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya yang aktif pada tahun ajaran Genap 2015/2016. Subjek penelitian sejumlah 170 orang. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah self regulatory strategic scale (SRSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek memiliki regulasi belajar yang tergolong tinggi dan sangat tinggi. Prosentase tertinggi pada aspek regulasi belajar adalah pada aspek effort regulation dan attention focusing. Aspek regulasi belajar dengan kategori rendah dan sangat rendah dengan nilai prosentase tertinggi adalah pada aspek task strategies dan planning. Fakultas disarankan untuk dapat mengembangkan program-program yang dapat mengembangkan regulasi belajar pada mahasiswa. Penelitian selanjutnya disarankan dapat mengembangkan alat ukur yang lebih variatif untuk mengungkap perilaku regulasi belajar.
Kata kunci : self-regulated learning, mahasiswa Psikologi, effort regulation, attention focusing, task strategies, plannin
Gambaran Subjective Well-Being pada Wanita Usia Dewasa Madya yang Hidup Melajang
Usia dewasa madya tidak lagi memasuki tahapan perkembangan memilih pasangan hidup dan membina keluarga, melainkan menghadapi peran sebagai individu produktif dan kreatif, baik sebagai orang tua, pekerja, suami/istri. Wanita usia dewasa madya yang masih melajang memiliki konsekuensi yang harus dihadapi, seperti kesepian, kekhawatiran, dan emosi negatif lainnya. Padahal penting bagi wanita usia dewasa madya untuk mencapai keberhasilan dan kebahagiaan dalam menjalani tugas perkembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran subjective well-being pada wanita usia dewasa madya yang hidup melajang. Subjective well-being adalah suatu evaluasi positif individu secara afektif dan kognitif terhadap pengalaman hidupnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui wawancara dan observasi dengan tiga informan. Kriteria informan penelitian ini adalah wanita usia dewasa madya dengan status hidup lajang (belum menikah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran subjective well-being dapat terlihat dari evaluasi positif kehidupan sebagai lajang, yaitu kebahagiaan, kepuasan hidup, cara menikmati perjalanan hidup, dan harapan keajaiban mendapatkan jodoh. Dukungan sosial, spiritualitas, dan hubungan interpersonal turut merupakan faktor protektif yang mempengaruhi informan untuk dapat memberikan evaluasi positif terhadap kehidupannya. Faktor resiko yang menurunkan evaluasi hidup secara positif adalah pemikiran dan perasaan negatif, kondisi tidak bekerja, dan keinginan yang belum tercapai.
Kata kunci: Subjective well-being, wanita dewasa madya, lajan
Self Efficacy Pengerjaan Skripsi Prokrastinasi Akademik pada Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Menyelesaikan pendidikan tinggi merupakan harapan setiap mahasiswa. Untuk meraih jenjang sarjana, mahasiswa harus menyelesaikan tugas-tugas dan menulis skripsi. Selama penulisan skripsi, mahasiswa dapat menjumpai halangan yang membuat mereka melakukan prokrastinasi akademik. Prokrastinasi akademik merupakan penghambat menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Completing higher education is an expectation of all students. In order to obtain bachelor’s degree, students need to do assignments and write thesis. During thesis writing, students can experience obstacles that lead them to perform academic procrastination. Academic procrastination is a delay for completing academic tasks. Academic procrastination could be caused by self-efficacy. This research aimed to examine correlation between academic procrastination and self efficacy; where self-efficacy is defined as a belief in one’s abilities to perform a task. Students in this study (N=30) were the students at the Faculty of Pharmacy, Widya Mandala Catholic University Surabaya who were doing their thesis. The sampling method was incidental sampling . Data were collected from 42 item scale. It was based on Likert’s scale consisting of academic procrastination scale and self efficacy scale. Data were analyzed using Kendal’s Tau B. The results showed a negative correlation between academic procrastination and self-efficacy with the r value of -0.378 and p = 0.005 (
Prokrastinasi Akademik dan Dukungan Sosial Teman Sebaya pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Prokrastinasi akademik merupakan perilaku penundaan yang dilakukan secara sengaja ketika memulai atau mengakhiri suatu tugas dengan tujuan menghindari kesulitan pada bidang akademik, seperti skripsi, yang berdampak keterlambatan pengumpulan tugas dan kelulusan bagi pelaku prokrastinasi. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi prokrastinasi akademik adalah dukungan sosial. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada-tidaknya hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dan prokrastinasi akademik pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Subjek penelitian ialah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (N=30) yang menempuh proposal skripsi atau skripsi lebih dari 1 semester. Teknik sampling yang digunakan ialah incidental sampling. Skala dalam penelitian ini terdiri dari dua skala yaitu skala prokrastinasi akademik dan skala dukungan sosial teman sebaya. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis statistik non parametrik Kendall’s Tau b. Hasil pengolahan statistik memperoleh koefisien korelasi sebesar 0,290 dengan nilai p sebesar 0,028 ( p≤0,05). Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif antara prokrastinasi akademik dan dukungan sosial teman sebaya pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
Kata kunci: Prokrastinasi akademik, dukungan sosial teman sebay
MENGKAJI SEJUMLAH KEMUNGKINAN PENYEBAB TINDAK TERORISME: KAJIAN SOSIO-KLINIS
“Terorisme” merupakan sebuah fenomena yang selama satu dekade terakhir ini berulangkali terjadi di Indonesia. Acapkali, tindak terorisme dikaitkan dengan unsur radikalisme dalam pemaknaan terhadap ajaran agama. Pemberantasan terorisme dipersulit karena adanya sejumlah faktor yang melatarbelakangi munculnya aksi terorisme, seperti persepsi ketidakadilan distributif, prosedural, interaksional; pemaknaan terhadap ayat-ayat kitab suci yang dipersepsikan mendukung radikalisme; polarisasi ingroup-outgroup yang semakin besar; adanya bias heuristik yang dialami para pelaku tindak terorisme; indoktrinasi dari lingkungan, dan kekecewaan terhadap praktik sistem demokrasi di Indonesia. Faktor-faktor ini saling jalin-menjalin sehingga menjadikan tindak terorisme seolah memiliki banyak ranting dan cabang yang menyulitkan pemberantasan tindak tersebut. Pemberantasan terorisme dengan cara inkapasitasi langsung terhadap para pelaku terorisme tidak akan efektif bila tidak dibarengi dengan tindakan diplomatis-humanistis, yakni menyasar akar sosiokultural yang melatarbelakangi terorisme. Psikologi, sebagai suatu ilmu, memiliki tanggungjawab untuk mengeksplorasi asal-muasal terorisme dan mencari solusi yang aplikatif dan relevan
MEWACANAKAN KEARIFAN SEBAGAI KAJIAN PSIKOLOGI
Kearifan yang diyakini sebagai kekuatan yang dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok masyarakat tertentu, yang terbentuk karena upaya-upaya yang sudah mereka jalankan bertahun-tahun berdasarkan kemampuannya untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku, masih sering dilupakan atau kadang-kadang dipahami secara keliru. Padahal, berdasarkan pada berbagai studi dan penelitian yang sudah dijalankan, kearifan tersebut memiliki peran membantu kehidupan seseorang dan juga masyarakat penghayatnya.
Dalam dunia keilmuan, khususnya psikologi yang berkembang di Indonesia, kajian tentang tema tersebut juga belum sebanyak tema-tema lainnya. Penulis berasumsi bahwa salah satu penyebabnya adalah kurangnya kajian ilmiah tentang tema tersebut. Dengan dasar itu, penulis mencoba membuat uraian sederhana yang dapat dipahami sebagai pijakan awal. Harapan yang dibangun adalah semakin beragamnya kajian ilmiah tentang kearifan yang khas Indonesia
PERKEMBANGAN INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS DI SEKOLAH INKLUSI: DITINJAU DARI PERSPEKTIF IBU
oai:ojs.jurnal.wima.ac.id:article/48Autisme masa kanak mencakup tiga hal, yaitu gangguan dalam interaksi sosial yang bersifat timbal balik, gangguan dalam komunikasi, dan adanya pola perilaku yang dipertahankan dan diulang. Oleh karena itu, anak-anak penyandang autisme membutuhkan layanan pendidikan yang dapat mengakomodasi kebutuhan khusus mereka. Salah satu bentuk layanan yang tersedia adalah sekolah inklusi. Di sekolah inklusi, anak autis dapat belajar mandiri serta mengembangkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi dan mengembangkan kemampuan interaksi sosial, yaitu berkomunikasi baik secara verbal dan non-verbal dengan teman seusia. Studi kasus ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan interaksi sosial anak autis yang menjadi siswa sekolah inklusi, ditinjau dari perspektif ibu. Simpulan penelitian adalah bahwa subjek mengalami perkembangan interaksi sosial yang signifikan setelah menjadi siswa di sekolah inklusi, yaitu pada perkembangan komunikasi, interaksi, dan perilaku sosial. Teridentifikasi pula faktor internal dan faktor eksternal yang mendukung dan yang menghambat perkembangan interaksi sosial subjek
PENGEMBANGAN MODEL PERSIAPAN PENSIUN BAGI KARYAWAN NON-KEPENDIDIKAN DI UNIVERSITAS “X”
The designs of Retirement Program that suit the employees’ needs should consider the employees’ job characteristics. Educational institution with two groups of workers: Educational employees such as teachers (lecturers) and non-educational employees, who handle administrative tasks, make each working group have different aspects of retirement preparation. This qualitative study aimed in finding designs of retirement preparation that suits the needs of non-educational employees in X University. The data obtained will then be used as a recommendation to plan retirement programs based on findings in the field.
The research result shows particular aspects that employees should prepare in facing retirement age such as developing the proper mindset about retirement, the preparationn of economic aspects related to financial management and entrepreneurship, the preparation of psychological aspects, the preparation of physical health aspects, the preparation of social aspects by developing social support, and the understanding of the institution policies related to retirement