Berkala Ilmiah Pertanian
Not a member yet
154 research outputs found
Sort by
The Growth and Yield of The Radishes (Raphanus Sativus L.) to doses of nitrogen fertilizer and Potassium fertilizer: RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN LOBAK (RAPHANUS SATIVUS L.) TERHADAP DOSIS PUPUK NITROGEN DAN PUPUK KALIUM
The Radish (rhaphanus sativus l.) is a horticultural plant that enters into the bulbous bulbous variety. Radishproductivity has always decreased by 2.16%, although in 2016 its productivity increased by 0.11% but it was still lower inproduction (Agricultural Statistics Center, 2017). The low production of turnips is caused by highlanders and few problemsof fertilizing them. One attempt to improve the production of focused turnips on growing them at higher altitudes byexpanding areas where turnips are grown in lowland. A lowland area utilization effort to cultivate turnips by addingnitrogenous macro nutrients and potassium. Nitrogen plays a role as a chlorophyil compiler that is highly responsible for thephotosynthesis of plants and photosynthesizers secreted (Pahlevi, et. 2016). Potassium fertilizers themselves play a vital rolein sustaining turnips, durability of drought and disease pests. Aside from cultivating the use of varieties is something to takenote of in raising turnips. Superior varieties can provide the maximum yield by the growth of good plants. The experimentaims to identify the interaction of nitrogen and potassium fertilizer against the growth and horseradish yields (raphanussativus l.) The giving of the dose of nitrogen fertilizer used is N0 = 0 gr, N2 = 0.8 gr, N3 = 1 gr and potassium fertilizer doseis K0 = 0 gr, K1 = 0.2 gr, K2 = 0.4 gr, K3 = 0.6 gr. Data obtained subsequently was analyzed and tested using DuncanDMRT surplus 5%. Studies indicate that the best combination of treatment was that of a dose of n3 fertilizer treatment = 1 gr,and potassium k3 = 0,6 g
TOKSISITAS DAUN BIDURI (Calotropis gigantea) DAN DAUN TEMBELEKAN (Lantana camara L) TERHADAP KUTU KEBUL (Bemisia tabaci)
Hama merupakan organisme yang mampu membuat tanaman mengalami kerusakan. Salah satu hama yang menyerang tanaman adalah kutu kebul (Bemisia tabaci). Kutu kebul tergolong hama polifaq karena mampu menyerang banyak jenis tanaman dari berbagai famili.Tanaman yang terserang kutu kebul akan terdapat tanda bintik-bintik, menguning, lalu rontok. Upaya pengendalian yang bisa dilakukan dengan menggunkan pestisida nabati. Tembelekan mengandung bahan aktif senyawa alkoloid (Lantanine), flovonoid dan triterpenoid. Biduri mengandung bahan aktif saponin, flovonoid, polifenol, glukosida kalotropin, sedikit damar, alban dan fluavil. Cara kerja ekstrak daun biduri dan tembelekan adalah racun kontak. Data mortalitas hama kutu kebul dihitung dengan menggunakan analisis varian (ANOVA), untuk membedakan rerata antar perlakuan diuji dengan DMRT (Duncan Multiple Range Test) dengan taraf 5 %. Efektifitas ekstrak daun biduri dan daun tembelekan dihitung nilai LC50 dengan menggunakan analisis probit. Nilai mortalitas terbaik nya yaitu pada perlakuan P5 konsentrasi 15 % dengan lama pengamatan 48 jam menunjukkan mortalitas sebesar 80 % berbeda nyata dengan perlakuan lain. Mortalitas terbaik pada perlakuan P10 konsentrasi 15 % pada pengamatan 48 sebesar 90 % berbeda nyata dengan perlakuan lain. Nilai LC50 pada biduri dan tembelekan mortalitas terbaiknya pada konsentrasi 11,61 ml dan 6,51 ml membutuhkan waktu 12 jam untuk membunuh 50 % serangga uji
KARAKTERISASI ENZIM α- AMILASE PENGGEREK BATANG KUNING (Scirpophaga Incertulas) PADA TANAMAN PADI DI JEMBER: Indonesia
Karakterisasi Enzim α-Amilase Penggerek Batang Padi Kuning (Scirpophaga Incertulas) Pada Tanaman Padi Di Jember
Moh. Nizar Sahadati A.
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jember Jl. Kalimantan 37, Kampus Tegal Boto, Jember 68121 [email protected]
ABSTRAK
Padi sebagai tanaman pangan nasional sangat memerlukan perhatian sebagai negara agraris sangatlah penting untuk selalu memikirkan dan melakukan inovasi demi tercapainya swasembada pangan nasional. Sebagai tanaman pangan utama di Indonesia, padi memiliki banyak hama dari jenis serangga salah satunya adalah Penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas). Enzim adalah sekelompok protein yang berperan sebagai pengkatalis dalam reaksi-reaksi biologis. Enzim dapat juga didefenisikan sebagai biokatalisator yang dihasilkan oleh jaringan yang berfungsi meningkatkan laju reaksi dalam jaringan itu sendiri. Enzim α-Amilase menghidrolisis ikatan α-1,4 glikosidik amilosa, amilopektin dan glikogen. Enzim ini bersifat sebagai endoamilase, yaitu enzim yang memecah pati secara acak dari tengah atau bagian dalam molekul. Berat molekul α-amilase rata-rata ± 50 KD. Enzim ini mempunyai rantai peptida tunggal pada gugusan proteinnya dan setiap molekul mengandung satu gram atom Ca. Kalsium yang berikatan dengan molekul protein enzim, membuat enzim α-amilase bersifat relatif tahan terhadap suhu, pH, dan senyawa seperti urea. Aktivitas α-amilase dapat diukur berdasarkan penurunan kadar pati yang larut, kadar dekstrin yang terbentuk, dan pengukuran viskositas atau jumlah gula pereduksi yang terbentuk. Adapaun metode penelitian yang akan dilaksanakan terdiri dari beberapa pengujian yaitu : isolasi dan pemurnian α-amilase dari penggerek batang kuning, perhitungan protein terlarut, aktifitas enzim α-amilase, pengaruh suhu terhadap enzim α-amilase, pengaruh konsentrasi substrat terhadap enzim α-amilase. Hasil analisa data akan dianalisis menggunakan analisa statistik deskriptif.
Kata Kunci : Padi, Penggerek Batang Padi Kuning, Enzim α-amilas
Pengaruh Pemberian Jamur Mikoriza Arbuskular dan Batuan Fosfat terhadap Infeksi Akar, Kadar P, Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench)
Pemberian jamur mikoriza arbuskular dan pengaplikasian batuan fosfat dapat meningkatkan kadar P tanaman, pertumbuhan dan produksi sorgum (sorghum bicolor L. Moench). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh interaksi antara jamur mikoriza arbuskular dan batuan fosfat terhadap kadar P tanaman, pertumbuhan dan produksi sorgum. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama yaitu pemberian jamur mukoriza arbuskular (M1) dan tanpa pemberian jamur mikoriza arbuskular (M0), faktor kedua yaitu pengaplikasian batuan fosfat 0 gr (P0), 1 gr (P1), 2 gr (P2), 3 gr (P3) dan 4 gr (P4) per polybag. Variabel yang diamati yaitu presentase infeksi akar dengan menggunakan metode pewarnaan, kadar P menggunakan metode pengabuan basah, tinggi tanaman, lebar daun, berat total biji dan berat 1000 biji. Data dari hasil pengamatan diuji menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan diuji lanjut menggunakan duncan multiple range test (DMRT) pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jamur mikoriza arbuskular (M1) dapat meningkatkan presentase infeksi akar sebesar 83%, meningkatkan kandungan kadar P jaringan sebesar 28,5% dan meningkatkan berat 1000 biji sebanyak 6,37%. Pemberian batuan fosfat juga dapat meningkatkan kadar P jaringan sebesar 28% dan berat 1000 biji sebanyak 8,3%. Kombinasi perlakuan pemberian jamur mikoriza arbuskular dan batuan fosfat sebanyak 4 gr/polybag (M1P4) dapat meningkatkan berat total biji sebesar 10,8%. Pemberian jamur mikoriza arbuskular dan batuan fosfat tidak berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan yaitu pada variabel pengamatan tinggi tanaman dan lebar daun pada tanaman sorgum
Pengaruh Pemberian Kalium dan Pembalikan Tanaman terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Ubi Jalar (Ipomoea batatas L.)
Ubi jalar merupakan salah satu tanaman pangan non biji yang dimanfaatkan umbinya sebagai sumber karbohidrat. Kebutuhan konsumsi ubi jalar setiap tahun mengalami peningkatan namun produksinya menurun. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas tanaman ubi jalar denan cara pemupukan dan teknik budidaya yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis kombinasi dosis pupuk kalium dan frekuensi pembalikan tanaman yang sesuai untuk pertumbuhan dan produksi ubi jalar. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor yang terdiri dari dosis pupuk kalium K1= 150 kg/ha, K2= 200 kg/ha, K3=250 kg/ha dan K4=300 kg/ha sedangkan faktor kedua yaitu pembalikan tanaman P0= tanpa pembalikan, P1= pembalikan setiap 15 hari dan P2= pembalikan setiap 30 hari. Setiap perlakuan akan diulang sebanyak 3 kali sehingga jumlah keseluruhan terdapat 36 unit percobaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil yang diperoleh selanjutnya diuji menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf α 5% untuk membandingkan pengaruh antar perlakuan terhadap variabel pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian dosis pupuk kalium dan pembalikan tanaman memberikan interaksi pada variabel diameter umbi, berat umbi per tanaman, berat umbi layak jual, berat rata-rata umbi dan produktivitas tanaman. Kombinasi perlakuan K3P1 memberikan hasil terbaik pada produktivitas tanaman dan lebih efisien didalam penggunaan pupuk, sedangkan perlakuan K4P2 menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata namun lebih efisien didalam tenaga kerja. Faktor tunggal dosis pupuk kalium 300 kg/ha menghasilkan panjang tanaman dan panjang umbi tertinggi. Faktor tunggal pembalikan tanaman setiap 15 hari (P1) mampu menghambat panjang tanaman, jumlah cabang dan ruas yang muncul akar adventif
Pengaruh Paparan Medan Elektromagnetik pada Biji terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa. L)
Tanaman selada (Lactuca sativa L.) adalah salah satu komoditas hortikultura yang saat ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tanaman selada memiliki nilai ekonomis yang tinggi, memiliki bentuk dan warna menarik serta mengandung gizi yang cukup banyak sehingga berpotensi untuk dibubidayakan. Tanaman dengan kualitas yang tinggi dapat diperoleh dengan menggunakan bibit yang berkualitas tinggi pula / bibit unggul. Pertumbuhan bibit tanaman dapat ditingkatkan salah satunya yaitu dengan memanfaatkan paparan medan elektromagnetik extremely low frequency (ELF). Medan elekromagnetik ELF adalah gelombang elektromagnetik yang memiliki frekuensi sangat rendah yaitu 0 – 300 Hz. Medan elektromagnetik ELF termasuk dalam radiasi non ionisasi karena energi yang dihasilkan sangat sedikit bahkan tidak ada. Penggunaan paparan medan elektromagnetik terhadap biji dan benih selada diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi selada. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap dengan 1 faktor yang terdiri dari 5 perlakuan dan 4 kali ulangan. Intensitas medan elektromagnetik yang digunakan yaitu 300 µT. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA taraf uji 5%, kemudian uji lanjut dengan metode duncan. Perlakuan dengan menggunakan paparan medan elektromagnetik pada biji dapat berpengaruh nyata pada beberapa variabel pengamatan yaitu daya kecambah, tinggi tanaman, panjang daun dan klorofil daun. Hasil tertinggi pada semua variabel diperoleh dengan menggunakan lama paparan 45 menit (P2) dan untuk tinggi tanaman hasil tertinggi diperoleh dengan lama waktu paparan selama 30 menit (P2) dan 45 menit (P3). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi teknologi alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil selada dengan memanfaatkan medan elektromagnetik Extremely Low Frequency (ELF)
Respon Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kale (Brassica oleracea Var. Achepala) terhadap Konsentrasi Pupuk Cair
Kale merupakan tanaman sayuran yang mengandung berbagai gizi yang baik dikonsumsi oleh tubuh. Kebutuhan kale yang terus meningkat setiap tahunya namun tidak diimbangi dengan peningkatan produksi akan berakibat tidak terpenuhinya kebutuhan masyarakat serta kuliner. Upaya untuk meningkatkan hasil produksi kale dapat dilakukan dengan mengembangkan budidaya kale di dataran rendah dan penambahan input berupa pemberian pupuk. Salah satunya adalah Pupuk Cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pemberian pupuk cair Kie-Mas Horti dengan pupuk majemuk konvensional (Phonska) terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kale. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 6 kali ulangan sehingga terdapat 24 satuan percobaan, yaitu: Pemberian pupuk Phonska = Kontrol (11,16 gram/tanaman); B = 4 ml Pupuk Cair Kie-Mas Horti/ liter air per tanaman; C = 8 ml Pupuk Cair Kie-Mas Horti /liter air per tanaman; D = 12 ml Pupuk Cair Kie-Mas Horti/liter air per tanaman. Setiap perlakuan masing-masing diulang sebanyak 6 kali sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Penelitian ini diharapkan untuk dapat mengetahui dosis yang sesuai untuk pertumbuhan, hasil dan kualitas kale yang optimal.
Kata Kunci: Kale, Pupuk Cair Kie-Mas Horti
Pemanfaatan Bacillus Sp. Dan Pupuk Organik Untuk Mengendalikan Penyakit Busuk Pelepah (Rhizoctonia Solani) Pada Tanaman Jagung
Jagung termasuk salah satu tanaman pangan utama setelah padi dan gandum yang tumbuh di daerah tropis salah satunya di Indonesia. Menurut data BPS, 2018 di Kabupaten Jember diketahui bahwa produksi jagung mengalami penurunan meskipun tidak signifikan. Pada tahun 2014 produksi jagung dapat mencapai 390,759 ton sedangkan, pada tahun 2018 dengan luas lahan yang lebih besar dibandingkan dengan tahun 2014, produksi jagung lebih rendah dan hanya menghasilkan 350,705 ton. Hasil produksi yang tidak dapat mencukupi nilai kebutuhan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal salah satunya penurunan produksi Jagung yang dikarenakan adanya penurunan produktifitas lahan pertanian, kondisi cuaca yang tidak menentu, dan adanya serangan organisme pengganggu tanaman seperti penyakit busuk pelepah tanaman jagung Penyakit busuk pelepah merupakan salah satu penyakit penting yang menyerang tanaman jagung yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani.Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan Bacillus sp. dan penambahan pupuk organik. Bacillus sp.dan berbagai pupuk organik efektif untuk mengendalikan dan atau menghambat perkembangan Rhizoctonia solani. untuk itu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai efektifitas Bacillus sp dengan penambahan pupuk organik untuk mengendalikan dan menekan cendawan Rhizoctonia solani. Penelitian dilaksanakan pada juli 2021 bertempat di laboratorium penyakit tanaman dan greenhouse Program Studi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jember. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama yaitu isolat Bacillus sp. yang terdiri dari 4 perlakuan dan faktor kedua ialah pupuk organik (B) yang terdiri dari 4 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali dan dapat diperoleh 48 unit percobaan, dalam setiap unit percobaan akan ditanami sebanyak 3 benih. Perlakuan yang digunakan antara lain faktor pertama yaitu P0=kontrol, P1=Bacillus sp. asal buah naga, P2=Bacillus sp. asal bambu, P3=Bacillus sp. asal rumput gajah dan faktor kedua yaitu B0= kontrol, B1= Pupuk guano, B2= pupuk kandang, dan B3= pupuk kompos. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam ANOVA (Analysis of Varians), dan dilanjut dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) 5%.
Kata Kunci: Bacillus sp., pupuk organik, busuk pelepah jagung Rhizoctonia solan
PENGARUH PUPUK BOKASHI JERAMI DAN NITROGEN TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF TANAMAN SELEDRI (Apium graviolens L.)
ABSTRAKSeledri (Apium graveolens L.) merupakan tanaman sayuran daun yang sangat diminati oleh masyarakat Indonesia baik sebagai obat maupun sebagaibahan penyedap rasa makanan. Salah satu kemampuan tanaman untuk tumbuh secara optimal yaitu dengan kecukupan nutrisi yang diperoleh dari seginutrisi yang diberikan untuk tanaman seledri yaitu berupa pupuk. Pupuk bokashi merupakan salah satu contoh jenis pupuk organik. Bokashimerupakan kompos yang dapat dihasilkan melalui adanya fermentasi dengan pemberian Effective Mikroorganisme-4 (EM4) merupakan aktivatoruntuk mempecepat proses pembuatan kompos. Penambahan pupuk Nitrogen pada budidaya tanaman seledri pada lahan bisa menjadi solusi untukmengatasi permasalahan tersebut. Pupuk Nitrogen merupakan golongan pupuk anorganik. Percobaan dilaksanakan di daerah Pakusari KabupatenJember. Penelitian dimulai pada bulan Oktober sampai dengan November 2021. Percobaan pada penelitian ini menggunakan metode RancanganAcak Lengkap (RAL) Faktorial dengan dari 2 faktor perlakuan yaitu dari Faktor I adalah aplikasi pupuk N (Urea) yang terdiri dari 4 taraf. Faktor IIadalah aplikasi pupuk Bokashi Jerami yang terdiri dari 4 taraf dan diulang untuk sebanyak 3 ulangan. Faktor pertama adalah aplikasi pupuk Nitrogenyaitu P0 : Perlakuan dosis 0 g Urea/tanaman atau 0 kg/ha (sebagai kontrol) P1 : Perlakuan dosis 2,62 g Urea/tanaman atau 300 kg/ha (setara dengan1,566 N g/tanaman), P2 : Perlakuan dosis 5,23 g Urea/tanaman atau 600 kg/ha (setara dengan 3,132 N g/tanaman), P3 : Perlakuan dosis 7,84 gUrea/tanaman atau 900 kg/ha (setara dengan 4,698 N g/tanaman). Faktor kedua perbedaan dosis pupuk Bokshi Jerami yaitu: K0: Perlakuan PupukBokashi 0 g/tan, K1 : Perlakuan Pupuk Bokashi 250 g/tan atau 8,3 ton/ha, K2 : Perlakuan Pupuk Bokashi 500 g/tan atau 16,6 ton/ha, K3 : PerlakuanPupuk Bokashi 750 g/tan atau 24,9 ton/ha. Penelitian ini memiliki 16 kombinasi perlakuan dan masing masing diulang sebanyak 3 kali. Jumlah keseluruhanpercobaan terdiri dari 48 percobaan. Perlakuan dosis terhadap pupuk Urea 5,23 g/tanaman atau setara dengan 600 kg/ha berpengaruh tertinggipada tinggi tanaman, panjang akar, dan jumlah anakan tanaman seledri, sedangkan perlakuan dosis pupuk Urea 2,62 berpengaruh tertinggi padajumlah daun. Perlakuan dosis pupuk bokashi jerami 500 g/tanaman setara dengan 16,6 ton/ha berpengaruh tertinggi pada tinggi tanaman, panjangakar, jumlah anakan dan kadar klorofil
Uji Kompatibilitas Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dan Insektisida Nabati Ekstrak Daun Mimba Terhadap Larva Spodoptera exigua (Hubner)
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kompatibilitas antara cendawan entomopatogen Beauveria bassiana (BB) dan insektisida nabati ekstrak daun mimba (EDM) terhadap larva Spodoptera exigua yang ditinjau dari mortalitas dan nilai toksisitas. Penelitian ini terdiri dari pengujian tunggal BB dan EDM, serta pengujian kombinasi menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 6 perlakuan 4 kali ulangan. Mortalitas larva S.exigua diamati hingga mencapai mortalitas ±90%. Data mortalitas larva diolah dengan analisis probit Finney (1971). Hasil Pengujian tunggal menunjukkan mortalitas perlakuan BB 0,2% dan EDM 5% pada 7 HSP adalah 79,17% dan 91,67%, sedangkan pada 8 HSP sebesar 89,58% dan 95,83%. Mortalitas pengujian kombinasi BB dengan EDM (1:10 w/w) 0,66% pada 7 HSP adalah 91,67%, sedangkan pada 8 HSP 97,92%. Nilai LC50 pengujian tunggal BB pada 7 HSP dan 8 HSP adalah 0,08% (0,06%-0,1%) dan 0,06% (0,05%-0,07%). Nilai LC50 pengujian tunggal EDM pada 7 HSP dan 8 HSP adalah 0,70% (0,54%-0,91%) dan 0,58% (0,45%-0,75%). Nilai LC50 perlakuan kombinasi BB dengan EDM pada 7 HSP dan 8 HSP adalah 0,07% (0,06%-0,10%) dan 0,05% (0,03%-0,06%). Nilai LT50 BB, EDM, dan kombinasinya pada konsentrasi tertinggi sampai konsentrasi terendah berturut-turut 5,20-12,50 hari; 4,68-9,41 hari; dan 4,65-8,28 hari. Kombinasi BB dengan EDM memiliki indeks kombinasi <0,5 yang membuktikan bahwa pengombinasian memberikan efek sinergistik atau kompatibel.
Kata Kunci: Kompatibilitas, Beauveria bassiana, Ekstrak daun mimba, Spodoptera exigu