Berkala Ilmiah Pertanian
Not a member yet
154 research outputs found
Sort by
PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK BAWANG MERAH DAN AIR KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK PUCUK JAMBU AIR MADU DELI HIJAU (Syzygium samarangense)
ABSTRACT
Green Deli Rose Apples (Syzygium samarangense) has several beneficial properties in terms of usability, cultivation, health, and economy. The intensive development of green deli rose apples plants is needed given increasing demand, needs, and has bright prospects. One of the efforts to develop green deli rose apples plants is through handling plant propagation. Propagation of green deli rose apples can be done in two ways, namely generative and vegetative. Generative propagation requires a relatively long time, while vegetative propagation have difficult to growth in rooted. Shoot-cuttings is one of the vegetative propagation that has been chosen because it is easier to root than the old parts of the plant. The use of plant growth regulators (PGR) is needed to stimulate green deli rose apples shoot-cuttings rooting. Alternative PGR is giving shallot extract and coconut water as a substitute for synthetic auxin which has a relatively expensive price. The purpose of this study was to determine the combination of the effect of the concentration shallot extract and coconut water, as well as to find out the concentration of shallot extracts and coconut water which was most influential on the growth of shoot-cutting of green deli rose apples. The extract shallot concentration used is control, 0,5%, 1,0%, and 1,5%. The coconut water concentration used is control, 20%, 30% and 40%. Data obtained next analyzed and tested using DMRT α 5%. The result showed te best treatment combination for concentration shallot extract of 0,5% and coconut water of 20%.
Keywords: greend deli rose apples, shoot-cutting, shallot extract, coconut water
ABSTRAK
Jambu air madu deli hijau (MDH) (Syzygium samarangense) memiliki beberapa sifat yang menguntungkan baik dari segi kegunaan, budidaya, kesehatan, maupun ekonomi. Pengembangan tanaman secara intensif diperlukan mengingat permintaan dan kebutuhan yang semakin meningkat, serta memiliki prospek yang cerah. Salah satu usaha pengembangan tanaman yaitu melalui penanganan perbanyakan tanaman. Perbanyakan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu generatif dan vegetatif. Perbanyakan secara generatif membutuhkan waktu yang relatif lama, sedangkan perbanyakan vegetatif memiliki kendala sulit membentuk perakaran. Stek pucuk merupakan salah satu perbanyakan vegetatif yang banyak dipilih karena lebih mudah berakar dibandingkan bagian tanaman tua. Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) diperlukan untuk merangsang perakaran stek pucuk jambu air MDH. Alternatif ZPT yaitu pemberian ekstrak bawang merah dan air kelapa sebagai pengganti auksin sintetis yang memiliki harga relatif mahal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi pengaruh konsentrasi ekstrak bawang merah dan air kelapa terhadap pertumbuhan stek pucuk jambu air MDH, serta mengetahui konsentrasi ekstrak bawang merah dan air kelapa yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan stek pucuk jambu air MDH. Konsentrasi ekstrak bawang merah yang digunakan antara lain kontrol, 0,5%, 1% dan 1,5%. Konsentrasi air kelapa yang digunakan antara lain kontrol, 20%, 30%, dan 40%. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan diuji menggunakan DMRT α 5%. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi perlakuan terbaik untuk konsentrasi ekstrak bawang merah dan air kelapa adalah konsentrasi 0,5% dan air kelapa 20%.
Kata Kunci: jambu air madu deli hijau, stek pucuk, ekstrak bawang merah, air kelap
HUBUNGAN JUMLAH BARIS KACANG-KACANGAN TERHADAP HAMA TANAMAN JAGUNG DAN TANAMAN KACANG-KACANGAN
[ENGLISH]One cause of the pest was found to be associated with the presence of cropping systems is monoculture. So, It required an effective alternative to control in suppressing the development of pest. The research was conducted in the village of Lempeni, District of Lumajang, with the aim to determine the benefits of intercrops and effect on pests in maize and legumes in intercropping cropping systems. This study uses a design Plots Divided, with intercrops as main plot treatments consisted of three levels (mung beans, peanuts, and soybeans), and the number of lines of treatment legumes as subplot (1 line, 2 line, 3 line legumes between two rows of maize and Control). Each treatment was repeated three times. The results showed that the highest populations of Heliothis armigera at age 60 hst is ktb4 treatment with the average value and the lowest 4.00 bugs khb1 treatment with an average value of 2.67 bugs. Intensity of the treatment the number of rows planted 3 rows provide significant effect on the level of damage to the maize, namely the attack Atherigona exigua with an average of 16.84%, Oxya chinensis with an average of 12:06%, leaf rollers attack with an average of 7.63% and Ostrinia furnacalis with an average of 53.33%. However, the results do not lead to the level of the damage corn plants die.Keywords: Atherigona exigua; Oxya chinensis; Heliothis armigera; Ostrinia furnacalis; Integrated Pest Management.[INDONESIAN]Salah satu penyebab munculnya hama ternyata dapat dikaitkan dengan adanya sistem pertanaman yang bersifat monokultur. Untuk itu diperlukan suatu alternatif pengendalian yang efektif dalam menekan perkembangan hama. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Lempeni, Kabupaten Lumajang, dengan tujuan untuk mengetahui manfaat tanaman sela dan pengaruhnya terhadap hama dipertanaman jagung dan tanaman kacang-kacangan dengan sistem tanam tumpangsari. Penelitian ini menggunakan Rancangan Petak Terbagi, dengan tanaman sela sebagai perlakuan petak utama terdiri dari tiga taraf (Kacang hijau, Kacang tanah, Kedelai), dan perlakuan jumlah baris kacang-kacangan sebagai anak petak (1 Baris, 2 Baris, 3 baris kacang-kacangan diantara dua baris tanaman jagung dan Kontrol). Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada populasi Heliothis armigera tertinggi pada umur 60 hst yaitu perlakuan ktb4 dengan nilai rata-rata 4.00 ekor dan terendah perlakuan khb1 dengan nilai rata-rata 2.67 ekor. Intensitas serangan pada perlakuan jumlah baris tanam 3 baris memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat kerusakan pada tanaman jagung, yaitu pada serangan Atherigona exigua dengan rata-rata 16.84 %, Oxya chinensis dengan rata-rata 12.06 %, serangan penggulung daun dengan rata-rata 7.63 % dan Ostrinia furnacalis dengan rata-rata 53.33 %. Namun dengan hasil tingkat kerusakan tersebut tidak menyebabkan tanaman jagung mati.Kata Kunci: Atherigona exigua; Oxya chinensis; Heliothis armigera; Ostrinia furnacalis; Pengendalian Hama Terpadu.How to citate: Megawati DOP, Soekarto, D Sulistyanto. 2014. Hubungan jumlah baris kacang-kacangan terhadap hama tanaman jagung dan tanaman kacang-kacangan. Berkala Ilmiah Pertanian 1(4): 66-69
PENGHAMBATAN ACTINOMYCETES TERHADAP Erwinia carotovora Subsp. carotovora SECARA IN VITRO
[ENGLISH]The efforts to increase tobacco production is influence by the limiting factor in the field, such as plant disease. One of them is due to interference by Hollow Stalk disease caused by Erwinia carotovora subsp. carotovora. Some studies suggest that Actinomycetes can be used as a biological control for controlling Hollow Stalk on tobacco as it potentially produce antibiotics. This study was aimed to obtain isolates of Actinomycetes in the rhizospheric and soil in the area of tobacco plantation and to learn the inhibition of Actinomycetes against E. carotovora in vitro. The research was carried out with various stages, such as exploration and isolation of Actinomycetes, culturing E. carotovora, and testing of the inhibition in vitro through double-layer assay method. Exploration isolates of Actinomycetes resulted 12 isolates from four locations: Mumbulsari, Sukorambi, Sukowono and Gebang. Microbial colonies that grew white, not shiny with small diameter 3-20 mm was chosen for antibiotics test. Based on testing antibiosis against E. carotovora, all isolates Actinomycetes antagonistic properties showed formation of inhibition zone diameter of inhibition despite variations in individual isolates. Inhibition zone was vary with range of 18.30 mm to 49.95 mmof diameter that was shoing by isolate of Sukorambi 3 and Mumbulsari 2, respectively. The variation of the difference of differences of power allegedly inhibitory antagonism of each isolate Actinomycetes while also differences in produce antibiotics as inhibitors of the growth of pathogens.Keywords: Erwinia carotovora; Actinomycetes; Antibiotics[INDONESIAN]Usaha peningkatan produksi tembakau dipengaruhi adanya faktor pembatas di lapangan, seperti penyakit tumbuhan. Salah satu diantaranya adalah akibat gangguan penyakit busuk batang berlubang yang disebabkan oleh Erwinia carotovora subsp. carotovora. Beberapa penelitian menyatakan bahwa Actinomycetes dapat dimanfaatkan sebagai pengendali hayati untuk mengendalikan bakteri busuk batang berlubang pada tembakau karena berpotensi menghasilkan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat Actinomycetes pada daerah rizosfer dan tanah di pertanaman tembakau dan mengetahui daya hambat Actinomycetes terhadap E. carotovora secara in vitro. Penelitian ini dilakukan dengan berbagai tahapan, seperti eksplorasi danisolasi Actinomycetes, kultur E. carotovora, dan pengujian daya hambat secara in vitro dilakukan melalui pendekatan antibiosis dengan metode doublelayer assay. Isolat Actinomycetes hasil ekplorasi yang berhasil diisolasi sebanyak 12 isolat dari empat lokasi yaitu Mumbulsari, Sukorambi, Sukowono dan Gebang. Koloni mikrob yang tumbuh berwarna putih, tidak mengkilap dengan diameter kecil 3-20 mm. Berdasarkan pengujian antibiosis terhadap E. carotovora, semua isolat Actinomycetes memiliki sifat antagonis ditunjukkan dengan terbentuknya zona penghambatan meskipun terdapat variasi diameter penghambatan pada masing-masing isolat. Diameter zona hambatan yang terbentuk berkisar 18,30 mm yang ditunjukkan oleh isolat Actinomycetes asal Sukorambi 3 hingga 49,95 mm yang ditunjukkan oleh isolat Actinomycetes asal Mumbulsari dua. Adanya variasi perbedaan penghambatan diduga adanya perbedaan daya antagonisme dari masing-masing isolat Actinomycetes selain itu juga perbedaan dalam menghasilkan antibiotik sebagai penghambat pertumbuhan patogen.Kata Kunci: Erwinia carotovora; Actinomycetes; AntibiotikHow to citate: Sallytha AAM, HS Addy, PA Mihardjo. 2014. Penghambatan actinomycetes terhadap Erwinia carotovora subsp. carotovora secara in vitro. Berkala Ilmiah Pertanian 1(4): 70-72
PERUBAHAN KANDUNGAN ANTIOKSIDAN, POLIFENOL DAN PROFIL PROTEIN SELAMA PRA-PERKECAMBAHA PADA BIJI KAKAO
[ENGLISH] Cocoa proven as food source that rich in bioactive compounds, especially polyphenols that have a role as an antioxidant because it can stop the free radical reactions. As the change in lifestyle of the people and the development of technology, various ways have been made to improve the nutrition quality of the cocoa beans with pre-germination methods. This research aimed to study the effect of pre-germination methods that change the content of antioxidants, polyphenols and protein profiles of cocoa beans. The research was conducted in the Laboratory of Genetics and Plant Breeding, Faculty of Agriculture, University of Jember, held from January 28 until April 30, 2013. Metodology research used Sulawesi cocoa beans type 1 beans without skin and with the seed coat, which is done with a completely randomized design (CRD) in the old pre-germination 0, 1, 2, 3, 4, 5 days and repeated 4 times. The results showed that pre-germination methods provide a very real effect on the polyphenol content and antioxidant cocoa beans without without and the seed coat. The highest antioxidant content of cocoa beans without the skin of 0.47 µg/mg at the old pre-germination for 3 days and cocoa beans with the seed coat by 0.41 µg/mg in the old pre-germination 5 days. Polyphenol content of cocoa beans without skin and with the best seed coat that is in the control treatment had the highest content of 2.67 µg/mg for cocoa beans without skin and 2.46 µg/mg for cocoa beans with the seed coat. Keywords: Cocoa; Polyphenols; Antioxidants; Free Radicals; Pre-Germination [INDONESIAN] Kakao terbukti sebagai sumber makanan kaya senyawa bioaktif terutama polifenol yang mempunyai kasiat sebagai antioksidan karena mampu menghentikan reaksi radikal bebas. Seiring perubahan pola hidup masyarakat dan berkembangnya teknologi, berbagai cara telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas nutrisi pada biji kakao dengan metode pra-perkecambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pra-perkecambahan terhadap perubahan kandungan antioksidan, polifenol dan profil protein biji kakao. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Jember, dilaksanakan mulai tanggal 28 Januari sampai 30 April 2013. Metode penelitian menggunakan biji kakao jenis Sulawesi 1 tanpa kulit dan dengan kulit biji, yang dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pada lama pra-perkecambahan 0, 1, 2, 3, 4, 5 hari dan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa metode pra-perkecambahan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap kandungan polifenol dan antioksidan biji kakao tanpa kulit dan dengan kulit biji. Kandungan antioksidan tertinggi untuk biji kakao tanpa kulit biji sebesar 0,47 µg/mg pada lama pra-perkecambahan 3 hari dan untuk biji kakao dengan kulit biji sebesar 0,41 µg/mg pada lama pra-perkecambahan 5 hari. Kandungan polifenol biji kakao tanpa kulit dan dengan kulit biji terbaik yaitu pada perlakuan kontrol memiliki kandungan tertinggi sebesar 2,67 µg/mg untuk biji kakao tanpa kulit dan 2,46 µg/mg untuk biji kakao dengan kulit biji. Kata kunci: Kakao; Polifenol; Antioksidan; Radikal Bebas; Pra-Perkecambahan How to citate: Ulfaniah K, T Handoyo, Z Sakdiyah. 2014. Perubahan kandungan antioksidan, polifenol dan profil protein selama pra-perkecambaha pada biji kakao. Berkala Ilmiah Pertanian 1(3): 43-46
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK Ascophyllum nodosum SERBUK DAN CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA BERDAUN MERAH (Lactuca sativa var. crispa)
[ENGLISH] This Study was aimed to determine the effect of Ascophyllum nodosum extract with powder and liquid form on the growth of red lettuce in the field. The experiment is conducted on field trials area of Kyungpook National University, Sangju, Gyeongsangbuk-do, South Korea from . The treatments that used are extract powder and liquid form with concentration 0g / l and 4g / l for each treatment . There are four combinations of treatments and each treatment combination was repeated 45 times. The results showed that the extract of seaweed with the concentratio 4g/l proved to provide significant results for most parameters. A. nodosum seaweed extract powder gives the best results on the growth of red lettuce plants compared to extract liquid. Keywords: Ascophyllum nodosum; Extract; Foliar Feeding; Red Lettuce; Seaweed [INDONESIAN] Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian ekstrak Ascophyllum nodosum dengan bentuk serbuk dan cair terhadap pertumbuhan selada merah di lapangan. Penelitian dilakukan pada lahan uji coba Kyungpook National University, Sangju, Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan. Perlakuan yang digunakan yaitu ekstrak berbentuk serbuk dan berbentuk cair dengan konsentrasi 0g/l dan 4g/l untuk masing-masing perlakuan. Terdapat 4 kombinasi perlakuan dan masing-masing kombinasi perlakuan diulang sebanyak 45 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak rumput laut dengan konsentrasi 4g/l terbukti memberikan hasil yang signifikan pada sebagian besar parameter. Ekstrak rumput laut A. nodosum berbentuk serbuk memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan tanaman selada merah dibandingkan ekstrak berbentuk cair. Kata Kunci: Ascophyllum nodosum; Pupuk Daun; Rumput Laut; Selada Merah How to citate: Falasifa A, Slameto, K Hariyono. 2014. Pengaruh pemberian ekstrak Ascophyllum nodosum serbuk dan cair terhadap pertumbuhan tanaman selada berdaun merah (Lactuca sativa var. crispa). Berkala Ilmiah Pertanian 1(3): 62-6
STUDI BIOLOGI DAN PREFERENSI Carpophilus dimidiatus F. (Coleoptera: Nitidulidae) PADA BEBERAPA JENIS KACANG-KACANGAN
[ENGLISH] Carpophilus dimidiatus is an important pest that attack post harvest grains and dried fruit. The losses caused by C. dimidiatus attacks is quite high. C. dimidiatus has reported attacks on nut product. This study aims to know the biology of C. dimidiatus and the level of attacks on several nut. This research was conducted in Pest laboratory, Pest and Plant Disease Department of the Agricultural Faculty, Jember University from September 2012 until December 2012. The method used in this research was conduct biology test and preference test consisting of choosen test and non choosen test. The results showed C. dimidiatus life cycle needs 35-47 days or average 39,33 days wich consists of eggs 2-5 days, first instar 3-4 days, second instar 2-6 days, third instar 2-6 days, fourth instar 2-5 days, fifth instar 3-6 days, 7-18 days at sixth instar, pupa are 3-8 days. The egg colour are translucent white with a shape like a grain of rice, the larval body color are yellowish-white with golden brown head and tip of abdomen, the pupa are white with brown eyes. Fecundity C. dimidiatus are 162 eggs for 37 days, and about 5.4 eggs a day. Fertility of C. dimidiatus are 53.7%. Sex ratio of C. dimidiatus are 1:2. Three pairs of C. dimidiatus that made damages on 50 grams peanut local varieties can reach 54.90% during the eigth weeks of storage period. Keywords: Carpophilus dimidiatus; nuts; preferences [INDONESIAN] Carpophilus dimidiatus adalah hama penting yang menyerang biji-bijian dan buah kering pasca panen. Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh serangan C. dimidiatus cukup tinggi. Serangan C. dimidiatus juga ditemukan pada produk kacangkacangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biologi dari C. dimidiatus dan tingkat serangan pada beberapa jenis kacang. Penelitian ini dilakukan di Lab. Hama Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember mulai bulan September 2012 hingga Desember 2012. Metode yang dilakukan adalah melakukan Uji Biologi dan Uji Preferensi yang terdiri dari uji pilihan dan uji non pilihan. Hasil penelitian menunjukkan siklus hidup C. dimidiatus membutuhkan waktu 35-47 hari yaitu rata-rata 39,33, terdiri dari telur 2-5 hari, larva instar ke-I 3-4 hari, larva instar ke-II 2-6 hari, larva instar ke-III 2-6 hari, larva instar ke-IV 2-5 hari, larva instar ke-V 3-6 hari, larva instar ke-VI 7-18 hari, pupa 3-8 hari. Warna telur putih bening dengan bentuk seperti bulir beras, warna tubuh larva putih kekuningan dengan ujung kepala dan ujung abdomen berwarna coklat keemasan, warna pupa putih dan bagian mata berwarna coklat. Fekunditas C. dimidiatus untuk satu pasang imago dapat menghasilkan 162 telur selama 37 hari, dan perharinya sekitar 5,4 butir telur. Fertilitas sebesar 53.7%. Seks rasio imago jantan:betina adalah 1:2. Infestasi tiga pasang C. dimidiatus pada 50 gram kacang tanah varietas lokal mengakibat kerusakan 54.90 % selama masa simpan delapan minggu. Kata Kunci: Carpophilus dimidiatus; Kacang – kacangan; preferensi How to citate: Jihan, Suharto, S Prastowo. 2014. Studi biologi dan preferensi Carpophilus dimidiatus F. (Coleoptera: Nitidulidae) pada beberapa jenis kacang-kacangan. Berkala Ilmiah Pertanian 1(4): 73-76
PENGENDALIAN PENYAKIT PATIK (Cercospora nicotianae) PADA TEMBAKAU NA OOGST SECARA IN-VIVO DENGAN EKSTRAK DAUN GULMA KIPAHIT (Tithonia diversifolia)
[ENGLISH] Frog eyes diseases or leaf spot caused by Cercospora nicotinae that can reduce the quality of tobacco leaves, especially when used as a cigar deckblad. Affected leaves was easyly torn and the syhmptoms developed rapidly when processed in the storage. Therefore the alternative control of plant is by mexico sun flower leaf extracts. Mexico sunflower belonging to the broadleaf weeds. It suggested contains flavonoids, tannins, terpenoids, and saponins. The results showed mexico sunflower leaf extract concentration 50 g / L was effective to control this diseases, when compared mexico sunflower leaf extract concentration 25 g / L. However, there was no different between plant sprayed with mexico sun flower extract at concentration of 50 g/L and 75 g/L. Keywords: Mexico Sunflower leaf extract; Cercospora nicotianae; Tobacco. [INDONESIAN] Penyakit patik atau bercak daun Cercospora yang disebabkan oleh jamur Cercospora nicotinae dapat mengurangi mutu daun tembakau, terutama apabila digunakan sebagai daun pembalut cerutu. Biasanya penyakit ini dikendalikan dengan pestisida kimia tetapi karena ada batasan residu kimia maksimum sebesar 2,0 ppm, maka dicari alternatif pengendaliannya. Kipahit merupakan gulma berdaun lebar yang mempunyai potensi sebagai anti jamur patogen tanaman, karena mengandung senyawa flavonoid, tannin, terpenoid, dan saponin. Dengan penyemprotan empat kali dalam interval 15 hari, diketahui ekatrak daun kipahit dengan konsentrasi 50 g/l dan 75 g/L dapat menurunkan tingkat keparahan penyakit 1% sejak 60 hst sampai 70 hst. Akan tetapi, nilai insiden penyakit diketahui 100% pada semua perlakuan ekstrak daun kipahit. Ekstrak daun kipahit dengan konsentrasi 50 g/L sudah efektif mengendalikan penyakit patik jika dibandingkan dengan ekstrak daun kipahit dengan konsentrasi 25 g/L. Namun ekstrak daun kipahit dengan konsentrasi 75 g/L tidak berbeda efektifitasnya dengan ekstrak daun kipahit dengan konsentrasi 50 g/L. Kata Kunci: Ekstrak daun kipahit; Cercospora nicotianae; Tembakau How to citate: Apriyadi AR, WS Wahyuni, V Supartini. 2013. Pengendalian penyakit patik (Cercospora nicotianae) pada tembakau na oogst secara in-vivo dengan ekstrak daun gulma kipahit (Tithonia diversifolia). Berkala Ilmiah Pertanian 1(2): 30-32
KARAKTERISASI BAKTERI PENYEBAB PENYAKIT HAWAR DAUN EDAMAME DI JEMBER
[ENGLISH] One among important diseases in Edamame soybean is bacterial bligh. The disease is relatively new and causes significant loss of soybean yield. This research was aim to know the characterize the pathogen of bacterial blight in Jember. Survey was one in several soybean field in Jember and the plant sample was culture on King's B medium to grow the pathogen. Identification was done through pysiological and biochemistry assay. The result showed that the pathogen of bacterial blight disease on Edamame soybean di Jember (Panti, Sukorambi, Wirolegi, Ajung, and Sumbersari) was Pseudomonas syringae pv. glycinea with properties as Gram negative, produce fluorescent pigment on King's B medium, grew on 20-40O C, pH range of 4.5-8.5, tolerant on 0.5-2% NaCl and also pathogenic and virulent on Edamame while reinoculated to Edamame. Keywords: Edamame, bacterial blight, soybean  [INDONESIAN] Salah satu penyakit penting pada kedelai khususnya edamame ialah hawar daun bakteri, penyakit ini merupakan penyakit yang relatif baru dan menyebabkan kerugian yang cukup signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bakteri penyebab penyakit hawar daun edamame di daerah Jember. Penelitian diawali dengan pengamatan gejala di lapangan di beberapa lokasi di daerah Jember. Bagian tanaman yang sakit dibawa ke laboratorium, selanjutnya dilakukan isolasi pada medium King B. Identifikasi dilakukan dengan serangkaian pengujian fisiologi dan biokimia. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan disimpulkan bahwa bakteri penyebab penyakit hawar daun edamame di Jember (Panti, Sukorambi, Wirolegi, Ajung, dan Sumbersari) ialah Pseudomonas syringae pv. glycinea yang bersifat gram negatif, mampu membentuk pigmen fluoresen pada medium king B, mampu tumbuh baik pada kisaran suhu 20-400 C, mempunyai kisaran pH 4,5-8,5, toleran pada kandungan NaCl 0,5-2%, serta bersifat patogenik dan virulen pada tanaman edamame. Keywords: Edamame; Hawar Daun; Kedelai How to citate: Masnilah R, AL Abadi, TH Astono, LQ Aini. 2013. Karakterisasi bakteri penyebab penyakit hawar daun edamame di Jember. Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 10-14
KARAKTERISTIK PERUBAHAN PROTEIN BIJI MELINJO (GNETUM GNEMON) PADA AWAL PERKECAMBAHAN
[ENGLISH] Protein was one of macromolecule in seed which played an important role in the process of germination. Storage protein in seed was hydrolyzed to amino acid which are then used in the translation process for a genetic message interpretating and protein building in pre-germination process. Pre-Germination was the first step of germination that have many biochemical changes. The objectives of this research was to know biochemical characteristic of soluble protein and protein pattern of melinjo seed during pre-germination. Two varieties of melinjo seed Gentong and Kerikil was used in this research with three stages of treatment (initial seed, 3 weeks warm stratification seed and 1 month seed seedling). Seed samples are extracted to determine total soluble protein and protein pattern with 15 % SDS-PAGE. The results showed that total soluble protein have a change different at each stage of the treatment. Protein patterns analysis indicates band protein with molecular weight 66 kDa and 14 kDa change during pre-germination. Keywords: Melinjo Seed; Pre-Germination; Protein; SDS-PAGE [INDONESIAN] Protein merupakan salah satu makromolekul dalam biji yang berperan penting pada proses perkecambahan. Protein yang tersimpan pada biji dihidrolisis menjadi asam amino yang kemudian digunakan dalam proses translasi untuk menginterpretasi suatu pesan genetik dan membentuk protein dalam proses awal perkecambahan. Awal perkecambahan adalah tahapan pertama dari proses perkecambahan dimana perubahan biokimia telah banyak terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik perubahan kandungan protein terlarut dan pola protein biji tanaman melinjo pada awal perkecambahan. Penelitian ini menggunakan 2 varietas biji melinjo yaitu varietas Gentong dan Kerikil dengan tiga tahap perlakuan yaitu biji awal, biji setelah perlakuan stratifikasi hangat selama 3 minggu dan biji setelah 1 bulan semai. Sampel biji melinjo diekstrak untuk menentukan kandungan protein terlarut dan pola protein menggunakan 15% SDS-PAGE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan protein terlarut mengalami perubahan yang berbeda pada setiap tahap perlakuan. Analisa pola protein menunjukkan adanya 2 jenis pita protein yang mengalami perubahan pada awal perkecambahan yaitu protein dengan berat molekul 66 kDa dan 14 kDa. Kata Kunci: Biji Melinjo; Awal Perkecambahan; Protein; SDS-PAGE How to citate: Siregar AS, TA Siswoyo, B Sukowardojo. 2013. Karakteristik perubahan protein biji melinjo (Gnetum gnemon) pada awal perkecambahan. Berkala Ilmiah Pertanian 1(2): 24-26
PERAN ASOSIASI Synechococcus sp. TERHADAP PROTEIN DAN PRODUKSI BIJI TANAMAN KEDELAI PADA BERBAGAI DOSIS BOKASHI
[ENGLSIH]Seed of soybean is known contained proteins that are good to consume. Soybean is able to live in mutualistic symbiosis with Rhizobium bacteria and non-symbiotic association with photosynthetic bacteria of Synechococcus sp. This bacteria can be a biofertilizer for plants even in unfavorable environmental conditions these bacteria can still contribute nutrients N from N2 fixation in the air. The conducted research aims to study substance of seed protein, and also the plant productions (Glycine max. L. Merill) which is associated with Synechococcus sp. strain Situbondo in various dosages of bokashi. To address this aim, a research was conducted at the Agrotechnopark field Jember University. The research was based on Split-split plot design with two factors, those are bacterium innoculation, and Bokashi rates. The Standard Error of Mean (SEM) was used as different mean test among treatments. The results of this research show that: (1) association of Synechococcus sp. in soybean plant tend to increase seed weight per plant by 34,61% and seed protein by 1,9% only in 0 kg/ha dosages of bokashi, however the effect of Synechococcus sp. was linier with the increasing dosages of bokashi. (2) Dosages of bokashi tend to increase seed protein content and seed weight per plant. Keywords: Glycine; Synechococcus sp.; Bokashi [INDONESIAN] Biji kedelai diketahui memiliki kandungan protein yang baik untuk dikonsumsi. Tanaman kedelai dapat bersimbiosis mutualisme dengan bakteri Rhizobium dan non simbiotik dengan bakteri fotosintetik Synechococcus sp. Bakteri ini dapat menjadi biofertilizer bagi tanaman bahkan dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan bakteri ini masih dapat menyumbang unsur hara N dari hasil fiksasi N2 di udara. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui kandungan protein biji serta produksi tanaman kedelai yang berasosiasi dengan bakteri fotosintetik Synechococcus sp. Strain situbondo pada berbagai dosis bokasi. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Agrotechnopark Universitas Jember. Penelitian ini menggunakan Split Plot dengan dua faktor yaitu faktor bakteri dan faktor bokashi. Nilai rerata masing-masing perlakuan setiap parameter dibandingkan dengan nilai SEM (Standard error of the mean). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Asosiasi Synechococcus sp. pada tanaman kedelai (Glicine max L. Merrill) cenderung meningkatkan berat biji per-tanaman sebesar 34,61% dan protein biji sebesar 1,9% hanya pada dosis 0 kg/ha bokashi, namun pengaruh Synechococcus sp. tidak nyata seiring dengan meningkatnya dosis bokashi. (2) Dosis bokashi cenderung meningkatkan kandungan protein biji serta berat biji per-tanaman. Kata Kunci: Kedelai; Synechococcus sp.; Bokashi  How to citate: Setia AD, R Soedradjad, A Syamsunihar. 2013. Peran asosiasi Synechococcus sp. terhadap protein dan produksi biji tanaman kedelai pada berbagai dosis bokashi . Berkala Ilmiah Pertanian 1(1): 4-6