Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP)
Not a member yet
284 research outputs found
Sort by
TUTURAN RITUAL MALABUH PADA MASYARAKAT BANJAR KALIMANTAN SELATAN (RITUAL SPEECH MALABUH IN BANJAR COMMUNITY OF SOUTH KALIMANTAN)
Abstract Ritual Speech Malabuh In Banjar Community of South Kalimantan. This study aimed to determine the structure, function, and to analyze the ritual speech of malabuh meaning in Banjar community, South Kalimantan. In examining this problem, researchers used a qualitative research with descriptive method. Sources of data in this study were some data of ritual speech that obtained from 10 informants who have experience in performing malabuh ritual. Data collection techniques used interview through recording the spoken speech by informants. Data analysis used transcription, identification, classification, and inference of data to determine the structure, function, and meaning of ritual speech. The result of the research concludes that the structure of the malabuh ritual speech has a structure consisting of one (1) verse, which is a maximum of 7 lines and a minimum of 1 line. This ritual speechs have the complete sentence structure and have structural elements consisting of greeting, intention, and purpose. Ritual speech of malabuh was functioned as an introduction or a tool to invoke God's power, either directly or through an intermediary by the mystical crocodile which is believed have the power to provide protection or to eliminate the disturbance. The ritual speech that analyzed with hermeneutic approach performed significantly as a communication medium for serving malabuh ritual offerings. Key words: malabuh, ritual speech, mystical crocodile, banjar community Abstrak Tuturan Ritual Malabuh pada Masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur, fungsi, dan menganalisis makna tuturan ritual malabuh pada masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan. Dalam mengkaji masalah ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah data tuturan ritual yang didapat dari 10 informan yang memiliki pengalaman melakukan ritual malabuh. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara melalui perekaman dan pencatatan tuturan lisan yang diucapkan oleh informan. Analisis data yang digunakan dengan pentraskripsian data, pengidentifikasian data, pengklasifikasian data, dan penyimpulan data untuk mengetahui struktur, fungsi, dan makna tuturan ritual malabuh. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa struktur tuturan ritual malabuh memiliki struktur yang terdiri dari terdiri dari satu (1) bait, dimana berjumlah paling banyak 7 baris dan paling sedikit 1 baris. Tuturan ritual malabuh ini memiliki struktur kalimat yang lengkap dan memiliki unsur pembangun struktur yang terdiri dari salam pembuka, unsur niat, dan unsur tujuan. Fungsi tuturan ritual malabuh sebagai pengantar atau alat untuk memohon kekuasaan Tuhan, baik secara langsung maupun melalui perantara buaya gaib yang dipercaya memiliki kekuatan untuk memberikan perlindungan atau dihilangkan gangguan yang sedang dihadapi. Tuturan ritual yang dianalisis menggunakan pendekatan hermeneutik bermakna sebagai media komunikasi untuk menyajikan sajian ritual malabuh tersebut. Kata-kata kunci : malabuh, tuturan ritual, buaya gaib, masyarakat banja
KATA MAJEMUK BAHASA BAKUMPAI DI KABUPATEN BARITO KUALA (BAKUMPAI LANGUAGE COMPOUND WORDS IN BARITO KUALA REGENCY)
Abstract Bakumpai Language Compound Words in Barito Kuala Regency. This study aims to describe and explain the features, forms, and meanings of compound words in the Bakumpai language in Barito Kuala Regency, South Kalimantan Province. The study of the characteristics, form and meaning of the Bakumpai compound words is based on several theories and research that have been done before. This linguistic research uses descriptive qualitative methods with interview, recording, documentation, and introspection techniques. The qualitative data presented in the spoken form is a number of compound words in the form of Bakumpai compound words. Research on the Bakumpai compound words obtained empirical data related to the characteristics, form, and meaning of the Bakumpai compound words in Barito Kuala Regency. Compound words in the Bakumpai language have morphological and syntactic characteristics that can be seen from the number of word components, compound words with inseparable components, compound words with noninterchangeable word components, compound words with repetitive form word components, compound words with word components affixed forms, compound words with bound word components, and compound words with certain word components. Bakumpai compound words have recognizable forms based on the form of word components in the form of free and bound forms, components based on certain categories or types of words, exocentric and endocentric compound word construction, and the function of word components in syntactic valence as S, P O, and Description. The meaning of compound words in the Bakumpai language can be divided into compound words which have grammatical, idiomatic meaning, the meaning of synonymous words, and the meaning seen from certain word components. Key words: compound words, Bakumpai language, morphological Abstrak Kata Majemuk Bahasa Bakumpai di Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan tentang ciri, bentuk, dan makna kata majemuk bahasa Bakumpai di Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan. Kajian mengenai ciri, bentuk, dan makna kata majemuk bahasa Bakumpai didasarkan pada beberapa teori dan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian kebahasaan ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara, perekaman, dokumentasi, dan instropeksi. Data kualitatif yang disajikan dalam bentuk lisan adalah sejumlah gabungan kata yang berupa kata majemuk bahasa Bakumpai. Penelitian mengenai kata majemuk bahasa Bakumpai memperoleh data empiris yang berkaitan dengan ciri, bentuk, dan makna kata majemuk bahasa Bakumpai di Kabupaten Barito Kuala. Kata majemuk bahasa Bakumpai memiliki ciri morfologis dan ciri sintaksis yang dapat dilihat dari jumlah komponen kata, kata majemuk dengan komponen yang tidak dapat dipisahkan, kata majemuk dengan komponen kata yang tidak dapat dipertukarkan, kata majemuk dengan komponen kata bentuk perulangan, kata majemuk dengan komponen kata bentuk berimbuhan, kata majemuk dengan komponen kata bentuk terikat, dan kata majemuk dengan komponen kata tertentu. Kata majemuk bahasa Bakumpai memiliki bentuk yang dapat dikenali berdasarkan bentuk komponen kata yang berupa bentuk bebas dan terikat, komponennya yang didasarkan pada kategori atau jenis kata tertentu, konstruksi kata majemuk yang eksosentris dan endosentris, dan fungsi komponen kata dalam valensi sintaksis sebagai S,P,O, dan Keterangan. Makna kata majemuk bahasa Bakumpai dapat dibedakan menjadi kata majemuk bermakna gramatikal, idiomatikal, makna kata bersinonim, dan makna dilihat dari komponen kata tertentu. Kata-kata kunci: kata majemuk, bahasa Bakumpai, morfologi
RESEPSI MASYARAKAT TERHADAP CERITA DATU SANGGUL (THE LEGEND OF DATU SANGGUL AS RECEIVED BY THE COMMUNITY)
Abstract The legend of Datu Sanggul as received by the community. This research aims to describe the forms of reception and the factors causing the community (audience) to receive the Legend of Datu Sanggul. This is qualitative literary research through the receptive approach to literature. The data was collected through interviews, and field observations in the areas of the Datu Sanggul's Grave, and the documents of the manakib or books relating to the Datu Sanggul. The results of this research are (1) can be known the community's receptions on the Legend of Datu Sanggul are the forms of execution of annual commemoration of Datu Sanggul, the number of pilgrims to the Datu Sanggul's Grave, the habit of reciting manakib (biography), the presence of people who are eloquent in telling Datuk Sanggul's manakib, and the existence of the publication of manakib. (2) can be known the factors influencing the community to receive the Legend of Datu Sanggul are the factors of (a) the vows, wishful thinking/desires (positions, marriage partners, projects to build houses, etc), (b) the healing from illness, (c) the inner pressure and weak self-awareness based on which they hope they cured because of karomah of Datu Sanggul, (d) the socioculture, the family problem, the love towards a guardian. All factors and forms of community reception are influenced by community acceptance horizon factors such as background understanding of religion, religious emotions, social culture, and education. All the factors and forms of community's reception are influenced by the factors of the community's acceptance horizon such as the background of understanding of religion, religious emotions, social culture, and education. Key words: reception, legend, Datu SanggulAbstrak Resepsi Masyarakat Terhadap Cerita Datu Sanggul. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk resepsi dan faktor penyebab timbulnya tindakan resepsi masyarakat terhadap cerita Datu Sanggul. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif deskriptif melalui pendekatan resepsi sastra. Sumber data penelitian diambil dari tuturan informan baik melalui kegiatan wawancara, observasi lapangan di makam Datu Sanggul, dan dokumen manakib atau buku yang berkaitan dengan Datu Sanggul. Hasil dari penelitian ini adalah (1) dapat diketahui bentukbentuk resepsi masyarakat terhadap cerita Datu Sanggul berupa pelaksanaan haul Datu Sanggul tiap tahun, banyaknya peziarah ke makam Datu Sanggul, adanya kebiasaan membaca manakib, adanya orang yang fasih menceritakan riwayat Datu Sanggul, dan adanya buku manakib yang diterbitkan. (2) dapat diketahui faktorfaktor yang mempengaruhi tindakan resepsi masyarakat terhadap cerita Datu Sanggul adalah faktor adanya nazar, aktor adanya angan-angan/ keinginan (jabatan, jodoh, proyek membangun rumah, dsb.), faktor keinginan kesembuhan dari sakit, faktor tekanan batin dan kesadaran diri lemah sehingga berharap atau bertawassul melalui Datu Sanggul yang diyakini sebagai wali dan berkaromah, faktor sosial budaya, faktor masalah rumah tangga, dan faktor kecintaan terhadap wali. Semua faktor dan bentuk resepsi masyarakat tersebut dipengaruhi faktor horizon penerimaan masyarakat seperti latar belakang pemahaman keagamaan, emosi keagamaan, sosial budaya, dan pendidikan. Kata-kata kunci: resepsi masyarakat, cerita legenda, Datu Sanggu
STRUKTUR DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM LEGENDA ASAL MULA NAMA PULANG PISAU (STRUCTURE AND EDUCATIONAL VALUES CONTAINED IN THE LEGEND OF ASAL MULA NAMA PULANG PISAU)
Abstract Structure and Educational Values Contained in the legend of Asal Mula Nama Pulang Pisau. The research is aimed to describe (1) The structure of The Legend of Asal Usul Nama Pulang Pisau (The Origin of The Name Pulang Pisau) and (2) The educational values contained in The Legend of Asal Usul Nama Pulang Pisau. This research applied a qualitative approach and descriptive method. The data of The Legend of Asal Usul Nama Pulang Pisau were obtained through interviews with informants. Based on the analysis of the structure of the legend and the educational values, the description of the intrinsic elements is obtained, such as themes, plot, characters, settings, mandates, values of moral education, religion, heroism, history, and customs / traditions which contained in The Legend of Asal Usul Nama Pulang Pisau. The conclusions of this research are: The Legend of Asal Usul Nama Pulang Pisau conveys the theme of the origin of place names, uses chronological plot, does not mentions too many characters and names of characters, the place sets along the rivers and in the forest, the time setting is in the Asang era, and delivers the message of cooperation and mutual respect. The Legend of Asal Usul Nama Pulang Pisau contains several values such as moral education of being careful in making decisions, traditional education of nomadic traditions and mutual cooperation, religious education which takes form in the rituals, the historical education which can be seen in the distribution of the indigenous Dayak Ngaju community, and the value of heroism and perseverance which is reflected in the character’s attitude. Key words: legendary, structure, education values, ngaju Abstrak Struktur dan Nilai Pendidikan dalam Legenda Asal Mula Nama Pulang Pisau. Penelitian bertujuan mendeskripsikan (1) Struktur Legenda Asal Mula Nama Pulang Pisau, dan (2) nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Legenda Asal Mula Nama Pulang Pisau. Metode penelitian pada penelitian ini, yaitu penelitian kualitatif dan menggunakan metode deskriptif dari sumber data Legenda Asal Mula Nama Pulang Pisau yang diperoleh melalui hasil wawancara dengan informan/narasumber. Berdasarkan analisis struktur cerita dan nilai pendidikan, maka diperoleh deskripsi unsur intrinsik, seperti tema, alur, tokoh, latar, amanat, nilai-nilai pendidikan moral, agama, kepahlawanan, sejarah, dan adat/tradisi yang terkandung dalam Legenda Asal Mula Nama Pulang Pisau. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu: Legenda Asal Mula Nama Pulang Pisau mengusung tema asal usul nama tempat, menggunakan alur maju, tidak terlalu banyak menyebutkan tokoh dan nama tokoh, berlatar tempat di sekitar aliran sungai dan hutan, berlatar waktu di zaman Asang, menyematkan amanat gotong Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya Vol 11, No 2, Oktober 2021 ISSN 2089-0117 (Print) Page 262 - 274 ISSN 2580-5932 (Online) Rambe, / Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya 11 (2) 2021, 262-274 Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 263 royong dan hormat-menghormati. Mengandung nilai pendidikan moral tidak gegabah dalam mengambil keputusan, nilai pendidikan adat/tradisi nomaden dan gotong royong, nilai pendidikan agama berupa ritual, nilai pendidikan sejarah persebaran masyarakat adat Dayak Ngaju, dan nilai pendidikan kepahlawanan pantang menyerah yang tercermin dari sikap para tokoh. Kata-kata kunci: legenda, struktur, nilai pendidikan, ngaj
DEIKSIS DALAM BAHASA INDONESIA PADA TUTURAN ANAK USIA 5 TAHUN (DEIXIS IN INDONESIAN LANGUAGE USED BY 5- YEARS-OLD CHILDREN)
Abstract Deixis in Indonesian Language Used by 5-Years-Old Children. Deixis is a type of language that has a different reference . This research examined the problem of Deixis in Indonesian language used by 5-years-old children. This research was means to (1) describe the form of personal deixis on 5-year-old children, (2) describe and analyze the form of spatial deixis on 5-years-old children, (3) describe and analyze the form of temporal deixis on 5-year-old children, and (4) describe the function of deixic on 5-yearold children. This research was conducted using a qualitative approach with the observation method. The sources of data in this research were 5-year-old children. Data were collected using the techniques by which (a) the researcher tapped by participating while listening, participating in the conversation, and listening to the conservation, (b) she only acted as an observer on the use of language by her informants, and she noted and recorded. Data were analyzed on the basis of qualitative descriptive techniques. The research results showed that (1) personal deixis were found in several deixis forms, namely first person, second person, and third person (2) spatial deixis were found in several forms, namely proximal, semi-proximal, and distal. Meanwhile, (3) temporal deixis were found in several words, such as besok (tomorrow), kemarin (yesterday), dulu (ago), and tadi (a while ago). Based on (4) the function of deixis, the researcher found several functions, such as emotive, conative, and referential functions. Key words: deixis, form of deixis , function of deixis, children’s utterance Abstrak Deiksis dalam Bahasa Indonesia pada Tuturan Anak Usia 5 Tahun. Deiksis merupakan jenis bahasa yang memiliki acuan atau referen yang berbeda. Penelitian ini meneliti tentang masalah Deiksis dalam Bahasa Indonesia pada Tuturan Anak Usia 5 Tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan wujud deiksis persona pada anak usia 5 tahun, (2) mendeskripsikan dan menganalisis wujud deiksis ruang pada anak usia 5 tahun, (3) mendeskripsikan dan menganalisis wujud deiksis waktu pada anak usia 5 tahun, dan (4) mendeskripsikan fungsi deiksis pada anak usia 5 tahun. Penelitian ini Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya Vol 11, No 2, Oktober 2021 ISSN 2089-0117 (Print) Page 176 - 193 ISSN 2580-5932 (Online) 176 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah anak usia 5 tahun. Penggalian data ditempuh dengan menggunakan teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, catat, dan rekaman. Untuk menganalisis data digunakan teknik deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian tentang deiksis dalam bahasa Indonesia pada tuturan anak usia 5, diperoleh kesimpulan (1) deiksis persona ditemukan beberapa wujud deiksis, yakni persona pertama, persona kedua, dan persona ketiga (2) deiksis tempat, pada anak usia 5 tahun ditemukan beberapa wujud, yakni proksimal, semi-proksimal, dan distal. Sementara itu, (3) deiksis waktu, pada anak usia 5 tahun ditemukan beberapa kata, seperti besok, kemarin, dulu, dan tadi. Berkenaan dengan (4) fungsi deiksis, pada tuturan anak usia 5 tahun ditemukan fungsi-fungsi, seperti fungsi emotif, fungsi konatif, dan fungsi referensial. Kata-kata kunci: deiksis, jenis deiksis, fungsi deiksis, tuturan ana
RESEPSI PESERTA DIDIK SMAN 4 BANJARMASIN KELAS 11 TAHUN 2020 TERHADAP NOVEL “DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN” KARYA TERE LIYE (RECEPTION OF STUDENTS OF SMAN 4 BANJARMASIN IN GRADE 11 OF 2020 YEAR AGAINST NOVEL OF “DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN” BY TERE LIYE)
Abstract Reception of students of SMAN 4 Banjarmasin in Grade 11 of 2020 Year Against Novel of “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” by Tere Liye. This study aims to describe the reception of students of SMAN 4 Banjarmasin in grade 11 of 2020 year against novel of “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” by Tere Liye. The method used in this dtudy is a qualitative description method with Miles and Huberman, theory analysis techniques. Its estabilish analysis criteria, collect data according to analysis criteria, reduce data that does not fit the analysis criteria to the point of saturation. Present data in tabular form, interpret the relationship between reception data, and summarize the result of research. Data obtained from the adoption of student receptions on the elements of development and the value of character education in the novel. From the discussion of this thesis it can be concluded that: (1) Reception of students of SMAN 4 Banjarmasin in grade 11 of 2020 year against novel of “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” by Tere Liye that reflected from the theme, plot, character and caharacterization, setting, language, and message produce a different reception depending on the reader’s open judgment which can be broadly said to be the reception of the reader approaching the development al elements expressed and desired by the author. (2) Reception of students of SMAN 4 Banjarmasinon the value of education in the novel of “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” by Tere Liye that most students stated that there were religious values, honesty values, tolerance values, disciplinary values, hard work values, creative values, independent values, curiosity values, reward achievement values, friendship values, of peace, reading values, values care of the environmental, the value of social care, and the value of responsibility; and there is no womb of religious values, democracy values, national spirit values, and love the motherland values. Key words: students’ reception, elements of development, value of character education, novel Abstrak Resepsi Peserta didik SMAN 4 Banjarmasin Kelas 11 Tahun 2020 Terhadap Novel “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” Karya Tere Liye. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan resepsi peserta didik SMAN 4 Banjarmasin terhadap unsur pembangun dan nilai pendidikan karakter dalam novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karya Tere Liye.Metode yang digunakan dalam penelitian ialah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis teori Miles dan Huberman, yaitu menetapkan kriteria analisis, mengumpulkan data yang sesuai kriteria analisis, mereduksi data yang tidak sesuai dengan kriteria analisissampai titik jenuh, menyajikan data yang terkumpul dalam bentuk tabel, menafsirkan hubungan antara data resepsi dan menyimpulkan hasil penelitian.Data didapat dari angket resepsi peserta didikterhadap unsur pembangun dan nilai pendidikan karakter dalam novel. Dari pembahasan tesis ini dapat disimpulkan bahwa: (1) Resepsi peserta didik SMAN 4 Banjarmasin terhadap unsur pembangunan dalam novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karangan Tere Liye tercermin dari tema, alur, tokoh dan penokohan, latar, bahasa, dan pesan menghasilkan resepsi yang berbeda-beda tergantung penilaian terbuka pembaca yang secara garis besar dapat dikatakan resepsi atau tanggapan pembaca yang mendekati unsur pembangunan yang dikemukakan dan dikehendaki pengarang. (2) Resepsi peserta didik SMAN 4 Banjarmasin terhadap nilai pendidikan karakter dalam novel “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karya Tere Liye bahwa sebagian besar peserta didik menyatakan ada kandungan nilai religius, nilai kejujuran, nilai toleransi, nilai disiplin, nilai kerja keras, nilai kreatif, nilai mandiri, nilai rasa ingin tahu, nilai menghargai prestasi, nilai persahabatan, nilai cinta damai, nilai gemar membaca, nilai peduli lingkungan, nilai peduli sosial, dan nilai tanggung jawab; dan tidak terdapat kandungan nilai religius, nilai demokratis, nilai semangat kebangsaan, dan nilai cinta tanah air. Kata-kata kunci: resepsi peserta didik, unsur pembangun, nilai pendidikan karakter, nove
PANDANGAN DUNIA DEWI ANGGRAENI DALAM NOVEL MY PAIN MY COUNTRY: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK LUCIEN GOLDMANN (DEWI ANGGRAENI’S WORLD VIEW IN MY PAIN MY COUNTRY: LUCIEN GOLDMANN GENETIC STRUCTURALISM STUDY)
Abstract Dewi Anggraeni’s World View in My Pain My Country: Lucien Goldmann Genetic Structuralism Study. This research aims to uncover human facts, collective subject, the structure of the novel My Pain My Country, which illustrates the character's problems, both concerning other characters and the environment, and the worldview expressed by the author as part of a social class group supported by Dewi Anggraeni's authorship helped to reconstruct the author's worldview. The analysis uses genetic structuralism with a dialectical method based on the concept of understanding and explanation in finding coherence of meaning. The data source is Dewi Anggraeni’s novel ”My Pain My Country”. The results showed that the author described “My Pain My Country” as human facts through geographical, sociological, psychological, historical, and ideological facts. Dewi Anggraeni describes the collective subject in two different social classes, namely the Chinese ethnic group to be described as the capitalists and indigenous people as the proletarians. The structure of “My Pain My Country” was constructed by relating the characters and the environment. The author represented the relationship between the characters in human opposition. Meanwhile, the relationship between the characters and the environment were represented through natural, social and cultural oppositions. The structure of the novel reflected the Dewi Anggraeni’s worldview as a form of sympathy, not only towards the victims of the 1998 tragedy from Chinese but also towards the lower middle class of indigenous people; and world views on nationalism, justice, and Chinese integration. Key words: genetic structuralism, human fact, world view Abstrak Pandangan Dunia Dewi Anggraeni dalam Novel My Pain My Country: Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fakta kemanusiaan; subjek kolektif; struktur novel My Pain My Country yang menggambarkan permasalahan tokoh, baik dalam hubungannya dengan tokoh lain maupun dengan lingkungannya; dan pandangan dunia yang diekspresikan pengarang sebagai bagian dari kelas sosial yang didukung oleh jejak kepengarangan yang turut merekonstruksi pandangan dunia Dewi Anggraeni. Analisis menggunakan strukturalisme genetik dengan metode dialektik yang berdasarkan pada konsep pemahaman dan penjelasan dalam menemukan koherensi makna. Sumber data adalah novel My Pain My Country karya Dewi Anggraeni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel My Pain My Country sebagai fakta kemanusiaan digambarkan pengarang melalui fakta geografis, sosiologis, psikologis, historis, dan ideologis. Subjek kolektif dimunculkan Dewi Anggraeni dalam dua kelas sosial yang berbeda, yaitu kelompok etnis Tionghoa yang digambarkan sebagai kaum kapitalis dan pribumi sebagai proletar. Struktur novel My Pain My Country dibangun oleh hubungan antartokoh, serta tokoh dan lingkungan. Hubungan tokoh dan tokoh digambarkan dalam oposisi manusia. Sementara itu, hubungan tokoh dan lingkungan digambarkan melalui oposisi alamiah, sosial, dan kultural. Struktur novel itu merefleksikan pandangan dunia Dewi Anggraeni sebagai wujud keprihatinan, baik terhadap korban tragedi 1998 dari Tionghoa maupun kelompok menengah ke bawah, serta pandangan tentang nasionalisme, keadilan, dan integrasi Tionghoa. Kata-kata kunci: strukturalisme genetik, fakta kemanusiaan, pandangan duni
POTRET KEMISKINAN KAUM MARJINAL PADA NOVEL ORANGORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA (THE PORTRAIT OF MARGINAL PEOPLE’S POVERTY IN NOVEL ORANG-ORANG BIASA BY ANDREA HIRATA)
Abstract The portrait of marginal people’s poverty in novel Orang-orang Biasa by Andrea Hirata. This study aimed to identify the issues this study aims to uncover social facts that were objectively reviewed by the authors about conflicting communities or often referred to as social inequalities. This study uses qualitative approach using deductive development by Mayring. Analyzed through the theory of literary sociology of George Lucas, who considers literature is a reflection in society. Reading and note-taking techniques were used in this research as techniques in collected the data. The data is the novel Orang-Orang Biasa by Andrea Hirata. Data collection techniques in this study were carried out by coding the data findings, analyzing the data in the study, and interpreting the data. The results found in the research show that there are three poverty portraits of marginalized people, which is a term from a small group and is usually marginalized people. The problems of poverty experienced by the marginalized related to one another, including education poverty, moral poverty and wealth poverty. Key words: sociology of literature, poverty portrait, marginal Abstrak Potret kemiskinan kaum marjinal pada novel orang-orang biasa karya Andrea Hirata. Penelitian ini berujuan untuk mengungkap fakta-fakta sosial yang diulas secara objektif oleh penulisnya tentang masyarakat yang penuh pertentangan atau sering disebut dengan kesenjangan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif menggunakan pengembangan deduktif oleh Mayring. Analisis melalui teori sosiologi sastra George Lucas yang menganggap sastra sebagi refleksi cerminan dalam masyarakat. Teknik baca dan catat merupakan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitan ini. Data berupa teks pada novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara memberi pengkodean pada temuan data, menganalisis data dalam penelitian, dan menginterpretasikan data. Hasil penelitian yang ditemukan menunjukkan adanya data tentang tiga potret kemiskinan kaum marjinal yang merupakan istilah dari suatu kelompok yang kecil jumlahnya dan biasanya merupakan orang-orang yang terpinggirkan. Permasalahan kemiskinan yang dialami oleh kaum marjinal menimbulkan masalah yang saling berkaitan, diantaranya adalah kemiskinan pendidikan, kemiskinan moral dan kemiskinan harta.Kata-kata kunci: sosiologi sastra, potret kemiskinan, marjina
IMPLIKATUR DALAM BUKU HUMOR POLITIK INDONESIA KARYA ZAENUDDIN H.M (IMPLICATURES IN INDONESIAN POLITICAL HUMOR BY ZAENUDDIN H.M)
Abstract Implicatures in Indonesian Political Humor by Zaenuddin HM. This research is intended to describe conventional and conversational implicatures which contained in Zanenuddin’s works. The researcher use descriptive method and the approach which is used by the researcher is qualitative research as a pragmatic study. The research data and data source are taken from Zaenuddin’s works entitled ‘Humor Politik Indonesia’. Data collection method used are listening and documentation method . Instrument which is used in this research is researcher herself and she uses water analysis method to analyze the data research. According to the results of data analysis, the researcher founds implicatures in Zanenuddin’s works. Conventional and conversational implicatures found in every utterances with functions like, a. wishing, b. ordering, and c. mocking or teasing function. Key words: implicature, humor, political, Zaenuddin Abstrak Implikatur dalam Buku Wacana Humor Politik Indonesia karya Zaenuddin HM: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud implikatur percakapan dan wujud implikatur konvensional yang terdapat dalam buku karya Zaenuddin tersebut. Pendekatan yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan kualitatif, yang merupakan jenis penelitian pragmatik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Data dan sumber data yang bersumber dari buku humor politik karya Zaenuddin. Teknik yang digunakan ialah metode dokumentasi dan simak. Instrumen dalam penelitian ini adalah diri sendiri. Teknis analisis menggunakan model air Miles dan Huberman (2014:18). Hasil analisis menemukan wujud implikatur dalam buku humor politik karya Zaenuddin adalah: menemukan wujud implikatur percakapan dan implikatur konvensional yang dalam setiap tuturan terdapat juga fungsi, fungsinya yaitu sebagai berikut a) fungsi mengharap, b) fungsi memerintah, c) fungsi menyindir, dan d) fungsi mengkritik. Kata-kata kunci: implikatur, humor, politik, Zaenuddi
CITRAAN DALAM PERIBAHASA BANJAR
Abstract Imagery in the Banjarese Proverb. This is a descriptive qualitative research. This research was aimed at looking at Banjarese Proverb objectively. Therefore, this research focused on the proverbs that were obtained and then reviewed using semiotic analysis. The data used as the object this research were those in the form of Banjarese proverbs, which were derived from several informants and from reading material.The results showed that of the 147 proverbs collected, and there were sixty-two proverbs were found showed visual images. Twenty-three proverbs that show hearing images. Eight proverbs that show palpable imagery. Six proverbs that show olfactory images. Forty-eight proverbs that show the image of taste.The results showed that the choice of words became unique in the Banjar proverbs. The overall image strengthens the local area drawn from the Banjar proverb. This is evident from the choice of words in the Banjar proverb. Key words: image, proverbs, Banjar Abstrak Citraan dalam Peribahasa Banjar. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Penelitian ini melihat peribahasa secara objektif. Oleh karena itu, penelitian ini fokus pada peribahasa yang diperoleh untuk kemudian ditelaah dengan menggunakan analisis semiotik. Adapun data dan sumber data yang dijadikan sebagai objek penelitian ini adalah data berupa peribahasa Banjar yang bersumber dari beberapa informan dan dari bahan bacaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 147 peribahasa yang dikumpulkan, ditemukan enam puluh dua peribahasa yang menunjukkan citraan penglihatan. Dua puluh tiga peribahasa yang menunjukkan citraan pendengaran. Delapan peribahasa yang menunjukkan citraan perabaan. Enam peribahasa yang menunjukkan citraan penciuman. Empat puluh delapan peribahasa yang menunjukkan citraan pencecapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilihan kata menjadi kekhasan dalam peribahasa Banjar. Citraan secara keseluruhan menguatkan lokal kedaerahan yang tergambar dari peribahasa Banjar. Hal itu terbukti dari pilihan kata yang ada di dalam peribahasa Banjar. Kata-kata kunci: citraan, peribahasa, Banja