Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP)
Not a member yet
    284 research outputs found

    STRUKTUR DAN NILAI DIDAKTIS PADA PUISI BERTEMA “BELAJAR DARING” KARYA SISWA KELAS X DI SMKS UNGGULAN HUSADA BANJARMASIN (STRUCTURE AND DIDACTIC VALUE IN THE THEMED POETRY OF “ONLINE LEARNING” BY CLASS X STUDENTS AT SMKS UNGGULAN HUSADA BANJARMASIN)

    Get PDF
    Structure and Didactic Value in the Themed Poetry of “Online Learning” by Class X Students at SMKS Unggulan Husada Banjarmasin. The purpose of this study was to describe the structure of poetry by class X-B students at SMKS Unggulan Husada Banjarmasin and to examine the didactic value of poetry by class X-B students at SMKS Unggulan Husada Banjarmasin. Data collection was carried out from May 30 to June 30, 2021 through an online form of poetry writing performance test. The data analyzed were 18 pieces of poetry. The data collection procedures in this study were reading, identifying, codifying, and classifying according to the research focus. Data analysis uses deep meaning understanding techniques. Checking the validity of the data is done through triangulation techniques. The results of the study found that the structure that builds a poem consists of a physical structure and an inner structure. The physical structure consists of typography, rhyme, images, figure of speech, concrete words, and diction. The inner structure consists of theme, tone, and atmosphere. After analyzing the poems by class X-B students of FKK Vocational High School Husada Banjarmasin, it was found that the poems contained the entire physical and mental structure. The didactic values contained in the poem are in the form of moral and religious didactic values. Keywords: structure, didactic values, poetry, online learning, student work Abstrak Struktur dan Nilai Didaktis pada Puisi Bertema “Belajar Daring” Karya Siswa Kelas X di SMKS Unggulan Husada Banjarmasin. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan struktur puisi karya siswa kelas X-B SMKS Unggulan Husada Banjarmasin dan mengkaji nilai didaktis dari puisi karya siswa kelas X-B SMKS Unggulan Husada Banjarmasin. Pengumpulan data dilaksanakan 30 Mei-30 Juni 2021 melalui daring berupa tes unjuk kerja menulis puisi. Data yang dianalisis berjumlah 18 buah puisi. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah membaca, mengidentifikasi, mengodifikasi, dan mengklasifikasikan sesuai dengan fokus penelitian. Analisis data menggunakan teknik pemahaman arti secara mendalam. Pengecekan keabsahan data dilakukan melalui teknik triangulasi. Hasil penelitian ditemukan struktur yang membangun sebuah puisi terdiri atas struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik terdiri atas tipografi, rima, imaji, majas, kata konkret, dandiksi. Struktur batin terdiri atas tema, nada, dan suasana. Setelah dilakukan analisis pada puisi karya siswa kelas X-B FKK SMKS Unggulan Husada Banjarmasin diperoleh bahwa puisi-puisi tersebut memuat keseluruhan struktur fisik dan batin. Nilai didaktis yang terdapat dalam puisi tersebut berupa nilai didaktis moral dan agama. Kata-kata kunci: struktur, nilai didaktis, puisi, belajar daring, karya sisw

    REPRESENTASI KEKERASAN DALAM NOVEL LAUT BERCERITA KARYA LEILA S. CHUDORI (REPRESENTATION OF VIOLENCE IN LAUT BERCERITA NOVEL BY LEILA S. CHUDORI)

    Get PDF
    AbstractRepresentation of Violence in Laut Bercerita Novel by Leila S. Chudori. This study aims to describe the forms of violence and resistance in the novel Laut Bercerita by Leila S. Chudori. The description is done by discourse analysis. Critical discourse analysis examines various social forms and their imbalances displayed through text, then relates them to social and political contexts. This research uses descriptive qualitative method with Norman Fairclough's critical discourse analysis approach Based on the analysis, there are three types of violence, namely physical, verbal, and bureaucratic violence. The form of physical violence are beatings and torture. The form of verbal violence are to accuse and ridicule. Bureaucratic violence is shown in the form of a prohibition on joining a formal institution for people with a certain background and the prohibition of staging theater or poetry which are considered to carry certain ideologies. Meanwhile, there are two types of resistance representations, namely open resistance and closed resistance. Open resistance is shown in the form of demonstrations. Closed resistance is shown in the form of resistance to categories imposed on society. Key words: discourse practice, violence, representation  AbstrakRepresentasi Kekerasan dalam Novel Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud kekerasan dan perlawanan dalam novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Deskripsi tersebut dilakukan dengan analisis wacana. Analisis wacana kritis mengkaji beragam bentuk sosial dan ketimpangannya yang ditampilkan melalui teks, kemudian menghubungkannya dengan konteks sosial dan politik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis Norman Fairclough. Berdasarkan hasil analisis, terdapat tiga jenis kekerasan, yaitu kekerasan fisik, verbal, dan birokratik. Kekerasan fisik dengan wujud pemukulan dan penganiayaan. Kekerasan verbal dengan wujud menuduh dan mengejek. Kekerasan birokratik ditunjukkan dalam wujud larangan bergabung dengan suatu institusi formal bagi orang dengan latar belakang tertentu dan larangan pementasan seni teater atau puisi yang dianggap membawa ideologi tertentu. Sedangkan, representasi perlawanan terdapat dua jenis, yaitu perlawanan terbuka dan perlawanan tertutup. Perlawanan terbuka ditunjukkan dalam wujud demonstrasi. Perlawanan tertutup yang ditunjukkan dalam bentuk penolakan terhadap kategori-kategori yang dipaksakan terhadap masyarakat. Kata-kata kunci: wacana kritis, kekerasan, representas

    PERILAKU ALTRUISTIK TOKOH UTAMA DALAM NOVEL BEKISAR MERAH KARYA AHMAD TOHARI (ALTRUISTIC BEHAVIOR OF MAIN CHARACTERS IN NOVEL BEKISAR RED KARYA AHMAD TOHARI)

    Get PDF
    Abstract Altruistic Behavior of the Main Figure in the Novel Bekisar Merah by Ahmad Tohari. The purpose of this study is to obtain a description of the altruistic behavior of the main character in Ahmad Tohari's Bekisar Merah novel. Specifically, the purpose of this study is to describe the altruistic behavior of the main character in the context of social and kinship norms. The analysis used as the basis for this research is literary psychology. This theory focuses on the textual approach, namely the literary psychology approach that addresses the psychological aspects of characters in literary works. This theory is used to analyze and describe the altruistic behavior of the main character in the novel Bekisar Merah. The results of this study indicate that altruistic behavior in the novel Bekisar Merah is represented in the figure of Lasi as the axis of storytelling. This altruistic behavior is evidenced by the actions of the Lasi character in helping other characters in a pure, sincere manner, without expecting anything in return (benefit) for himself. This behavior is manifested in the form of altruistic behavior in the context of social norms and in the context of kinship norms. Altruistic behavior of the main character in the context of social norms found only four aspects of motivation to help, namely: (1) the presence of a model, (2) the presence of other people, (3) helping people they like, and (4) the presence of a mood. The altruistic behavior of the main character in the context of kinship norms is found in three motivations to help, namely (1) aspects of relative protection (kin altruism), (2) biological altruism, and (3) aspects of sexual orientation. Key Words: behavior, altruistic, character, bekisar merahAbstrak Perilaku Altruistik Tokoh Utama dalam Novel Bekisar Merah Karya Ahmad Tohari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks norma sosial dan kekerabatan. Analisis yang digunakan sebagai dasar dalam penelitian ini adalah psikologi sastra. Teori ini menitikberatkan pada pendekatan tekstual, yaitu pendekatan psikologi sastra yang membahas aspek psikologi tokoh dalam karya sastra. Teori ini digunakan untuk menganalisis dan mendeskripsikan perilaku altruistik tokoh utama novel Bekisar Merah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku altruistik dalam novel Bekisar Merah terwakilkan dalam sosok Lasi sebagai poros penceritaan. Perilaku altruistik ini dibuktikan melalui tindakan tokoh Lasi dalam menolong tokoh lain secara murni, tulus, tanpa mengharapkan balasan (manfaat) apa pun untuk dirinya. Perilaku tersebut terwujud dalam bentuk perilaku altruistik dalam konteks Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya Vol 11, No 2, Oktober 2021 ISSN 2089-0117 (Print) Page 213 - 223 ISSN 2580-5932 (Online) 214 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya norma sosial dan dalam konteks norma kekerabatan. Perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks norma sosial hanya ditemukan empat aspek motivasi untuk menolong, yaitu: (1) adanya model, (2) adanya kehadiran orang lain, (3) menolong orang yang disukai, dan (4) adanya suasana hati. Perilaku altruistik tokoh utama dalam konteks norma kekerabatan ditemukan dalam tiga motivasi untuk menolong, yaitu (1) aspek perlindungan kerabat (kin altruism), (2) aspek biologik (biological altruism), dan (3) aspek orientasi seksual. Kata-kata kunci: perilaku, altruistik, tokoh, bekisar mera

    PERSUASIF PADA TUTURAN NADIEM MAKARIM (MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN) DALAM MENYAMPAIKAN KEBIJAKAN (PERSUASIVE SPEECH OF NADIEM MAKARIM (MINISTER OF EDUCATION AND CULTURE) IN DELIVERING POLICY)

    Get PDF
    Abstract Persuasive Speech of Nadiem Makarim (Minister of Education and Culture) in Delivering Policy. This study aims to describe the persuasive speech forms and persuasive patterns in the speeches of the Minister of Education and Culture in delivering policies. This research use a qualitative approach and descriptive method. Data collected by documentation techniques. The data obtained from this study in the form of words or series of words referring to persuasive speech. Data sources are twenty videos of the Minister of Education and Culture. The results showed that the forms of persuasive speeches delivered by the Minister of Education and Culture when delivering policies, are: (a) persuasive speech when inviting; (b) persuasive speech when giving mandatory; (c) persuasive speech when persuading; (d) persuasive speech when convincing and (e) persuasive speech when suggesting to the audience. Based on these forms of speech, the forms of a persuasive speech for inviting and persuading are more frequently used by the Minister of Education and Culture. The patterns in persuasive speeches spoken by the Minister of Education and Culture include (a) patterns of problem-solving in relation to the policy of free learning; (b) the causal pattern in relation to the causes of Indonesia being unable to progress and to the plan of 100 days; (c) the pros and cons patterns in relation to the impact of technological development; and (e) the patterns of motived orders in relation to attracting and focusing the attention of youth, as well as satisfying the motivational needs of youth regarding success. Based on these persuasive speech patterns, patterns of problem-solving and those of the motived orders are widely used by the Minister of Education and Culture to convince the public when delivering their programs. Keywords: speech forms, patterns, persuasifonAbstrak Persuasif pada Tuturan Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) dalam Menyampaikan Kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk tuturan persuasif dan pola-pola persuasif pada tuturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyampaikan kebijakan.. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Data yang diperoleh dari penelitian ini berupa kata atau rangkaian kata yang menjadi tuturan persuasif. Sumber data diperoleh dari dua puluh video menteri pendidikan dan kebudayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk tuturan persuasif yang terdapat pada tuturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyampaikan kebijakan, yakni: (a) tuturan persuasif yang bersifat mengajak; (b) tuturan persuasif yang bersifat perintah; (c) tuturan persuasif yang bersifat bujukan; (d) tuturan persuasif yang bersifat meyakinkan serta (e) tuturan persuasif yang bersifat saran. Berdasarkan bentukbentuk tuturan tersebut, bentuk tuturan yang lebih banyak digunakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah bentuk tuturan persuasif yang bersifat mengajak dan membujuk. Pola-pola dalam pidato persuasif yang dituturkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meliputi: (a) pola pemecahan masalah, berupa kebijakan merdeka belajar; (b) pola sebab-akibat berupa penyebab Indonesia tidak bisa maju dan rencana 100 hari; (c) pola pro-kontra berupa dampak perkembangan teknologi, serta (e) pola urutan bermotif berupa menarik dan memusatkan perhatian pemuda, serta pemuasan kebutuhan motivasional pemuda mengenai kesuksesan. Berdasarkan pola-pola pidato persuasif tersebut, pola persuasif yang banyak digunakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk meyakinkan masyarakat ketika menyampaikan program-programnya adalah pola pemecahan masalah dan pola urutan bermotif. Kata-kata kunci: bentuk tuturan, pola, persuasi

    BAHASA PERSUASIF DALAM TRANSAKSI JUAL BELI ONLINE (PERSUASIVE LANGUAGE IN ONLINE TRADING TRANSACTIONS)

    Get PDF
    Abstract Persuasive language in online trading transaction. The development of online shops via the internet has mushroomed in Indonesia, followed by the rapid advancement of buying and selling online which can be seen from the many online advertisements that appear for free on social media. The role of persuasion language in online advertisement impressions is very important to be used so that potential buyers are interested and more confident in buying the products offered.The method used in this study is the documentation of online ad writing. Research results (1) Motto or watchword taken from quotations adapted to the product offered, data or product facts offered to consumers and their uses, and product excellence includes product excellence and is presented should be in the form of persuasive sentences (2) Persuasion language used in transactions buying and selling online can be seen from the percentage of online advertising in the form of elements of persuasion language marked by the use of a motto or watchword, data or facts, the superiority of the advertised product, and the use of persuasive sentences in the online advertisement. (3) Persuasive techniques used in online transactions, namely rationalization, suggestion, conformity, compensation, replacement, and projections (4) The most dominant persuasive technique used in the persuasive language of online advertising is the suggestion technique.. Key words: persuasive language, persuasive techniques, trading transactions, online Abstrak Bahasa persuasif dalam transaksi jual beli online. Perkembangan toko online lewat internet sudah menjamur di Indonesia, diikuti dengan maju pesatnya jual beli online yang dapat dilihat dari banyaknya iklan online yang tayang gratis di media sosial. Peranan bahasa persuasi dalam tayangan iklan online sangat penting digunakan agar calon pembeli tertarik dan lebih yakin untuk membeli produk yang ditawarkan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi dari tulisan iklan online. Hasil penelitian (1) Moto atau semboyan diambil dari kutipan disesuaikan dengan produk yang ditawarkan, data atau fakta produk yang ditawarkan kepada konsumen beserta kegunaannya, dan keunggulan produk meliputi keunggulan produk serta disajikan sebaiknya dalam bentuk kalimat persuasif (2) Bahasa persuasi yang digunakan dalam transaki jual beli online dapat dilihat dari presentase pada iklan online berupa unsurunsur bahasa persuasi yang ditandai dengan penggunaan moto atau semboyan, data atau fakta, keunggulan produk yang diiklankan, dan penggunaan kalimat yang bersifat persuasif pada iklan online tersebut (3) Teknik persuasif yang digunakan dalam transaski online yaitu rasionalisasi, sugesti, konformitas, kompensasi, penggantian, dan proyeksi (4) Teknik persuasif yang paling dominan digunakan dalam bahasa persuasif iklan online adalah teknik sugesti.Kata-kata kunci: bahasa persuasi, teknik persuasi, transaksi jual beli, onlin

    DEIKSIS BAHASA BANJAR DALAM TUTURAN ANAK USIA DINI (BANJARESE LANGUANGE DEIXIS IN EARLY CHILDHOOD SPEECH)

    Get PDF
    Abstract Banjarese Languange Deixis in Early Childhood Speech. This research used a descriptive qualitative approach. Data of research were the speeches made the early childhood at TK Cipta Karya containing Banjarese language deixis. The data resources were the early age children. The researcher used the SLBC technique (see free involment) in this study. The research found five deixis of Banjar language in early childhood, namely deixis of person: aku, ulun, unda, kita, kami, ikam, pian, buhannya, buhan kam, inya, sidin, buhannya, and bagiannya; deixis of place: di sini, di sana, di situ, ka sini, ka sana, and ka situ; deixis of time: samalam, isuk, tahun kena, tadi, and kena; deixis of pointer: ini, nih, ni, itu, tu, and tuh; deixis of discourse, consisting of two types namely anaphoric deixis which refer to something mentioned before and deixis of words which refer to something that has not been mentioned at all before; and the social deixis, namely the different uses of the words ulun, unda, pian, nyawa and of answer, such as iih or heeh and inggih. Keywords: deixis, Banjar language, child Abstrak Deiksis Bahasa Banjar dalam Tuturan Anak Usia Dini. Penelitian ini bertujuan mengetahui wujud dan analisis deiksis bahasa Banjar dalam tuturan anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Data penelitian ini berupa tuturan anak usia dini di TK Cipta Karya yang tuturannya mengandung deiksis bahasa Banjar. Sumber data penelitian ini adalah anak-anak usia dini di TK Cipta Karya. Peneliti menggunakan teknik SBLC (Simak Bebas Libat Cakap) dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini ditemukannya enam deiksis bahasa Banjar pada anak usia dini, yaitu deiksis persona, yaitu aku, ulun, unda, kita, kami, ikam, pian, buhannya, buhan kam, inya, sidin, buhannya, dan bagiannya; deiksis tempat, yaitu di sini, di sana, di situ, ka sini, ka sana, dan ka situ; deiksis waktu, yaitu samalam, isuk, tahun kena, tadi, dan kena; deiksis penunjuk, yaitu ini, nih, ni, itu, tu, dan tuh; deiksis wacana, yaitu terbagi dua menjadi deiksis anafora nya yang merujuk pada sesuatu yang disebutkan sebelumnya dan deiksis katafora nya yang merujuk pada sesuatu yang belum disebutkan sama sekali sebelumnya; dan deiksis sosial, yaitu perbedaan penggunaan kata ulun, unda, pian, nyawa dan penggunaan kata jawaban, seperti iih atau heeh dan inggih. Kata-kata kunci: deiksis, bahasa Banjar, ana

    NILAI BUDAYA PALI DAYAK NGAJU (CULTURAL VALUE AS REPRESENTED IN THE PALI OF DAYAK NGAJU)

    Get PDF
    Abstract Cultural Values as Represented in the Pali of Dayak Ngaju Community. This research aims to (1) describe the cultural values as represented in the pemali belonging to the Dayak Ngaju community towards nature, (2) describe the cultural values as represented in the pemali belonging to the Dayak Ngaju community towards the human interaction, (3) describe the cultural values as represented in the pemali belonging to the Dayak Ngaju community towards the spiritual performance. This research uses (1) recording techniques, both audio and audiovisual, (2) recording, (3) in-depth interviews, (4) literature study and documentation analysis.The results of the study show that the representation of cultural values of the pemali of the Dayak Ngaju Community in relation to nature includes: (1) the prohibition of not asking for permission when going to farming; (2) prohibition to kill animals carelessly while hunting; (3) prohibition of burning forest carelessly; (4) mapas lewu 'cleaning the village'; (5) manyanggar (‘someone should excuse me from the forest rangers’ otherwise it can cause danger and take victims); (6) prohibition of making images (statues) of animals carelessly in a forest inhabited by supernatural beings. The representations of cultural values of the pemali of the Dayak Ngaju Community concerning the human interactions, including: (1) prohibitions against marrying in the wrong lineage or the same lineage; (2) prohibition to take or interfere with the rights of others; (3) prohibition of entering another's house without permission; (4) prohibition to pick up the fallen fruit without the owner's consent; and (5) prohibition to swear/curse children carelessly.The representations of cultural values of the pemali of the Dayak Ngaju Community to the spiritual performance, including (1) the obligation to provide food to village guards (Pakanan Patahu); (2) the duty to always remember the Almighty while earning a living; (3) prohibition to laugh at broomstick; (4) prohibition of picking sawang leaves in front of the sangar patahu. Key words: value, representation, multiplier, dayak ngajuAbstrak Nilai Budaya Pali Dayak Ngaju. Tujuan Penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju terhadap alam. (2) Mendeskripsikan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju terhadap interaksi sesama manusia. (3) Mendeskripsikan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju terhadap kemampuan spritual.Metode atau teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan: (1) teknik perekaman, baik audio maupun audiovisual, (2) pencatatan, (3) wawancara yang mendalam, (4) studi kepustakaan dan analisis dokumentasi.Hasil penelitian menunjukan representasi nilai budaya pemali masyarakat Dayak Ngaju yang berhubungan dengan alam meliputi: (1) larangan tidak permisi jika hendak berladang; (2) tidak boleh membunuh binatang sembarangan saat berburu; (3) tidak boleh membakar hutan sembarangan; (4) mapas lewu ‘membersihkan Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya Vol 11, No 2, Oktober 2021 ISSN 2089-0117 (Print) Page 286 - 300 ISSN 2580-5932 (Online) Sugara,/ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya 11 (2) 2021, 286 - 300 Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya ǀ 287 kampung’; (5) manyanggar ‘harus permisi dengan penjaga-penjaga hutan’ kalau tidak dapat menimbulkan bahaya dan memakan korban; (6) jangan membuat gambar (patung) hewan sembarangan di dalam hutan yang ada penunggunya.Representasi nilai budaya pemali Dayak Ngaju yang berhubungan dengan interaksi sesama manusia meliputi: (1) Tidak boleh menikah salah silsilah atau dalam satu garis keturunan yang sama; (2) tidak boleh mengambil atau mengganggu hak orang lain; (3) tidak boleh masuk rumah orang lain tanpa permisi; (4) tidak boleh mangambil buah yang jatuh tanpa izin pemiliknya; dan (5) tidak boleh menyumpahi/mengutuk anak sembarangan.Representasi nilai budaya pemali Dayak Ngaju yang berhubungan dengan kemampuan spritual adalah (1) tidak boleh tidak memberi makanan untuk penjaga kampung (Pakanan Patahu); (2) tidak boleh lupa dengan Sang Maha Kuasa saat mencari nafkah; (3) tidak boleh menertawakan sapundu; (4) tidak boleh memetik daun sawang di depan sangar patahu. Kata-kata kunci: nilai, representasi, pali, dayak ngaj

    KONSEP POLA HIDUP MASYARAKAT DALAM PETATAH PETITIH MINANGKABAU DENGAN PENDEKATAN INDIGENIUS (THE CONCEPTION OF COMMUNITY LIFE IN PETATAH PETITIH MINANGKABAU WITH INDIGENEOUS APPROACH)

    Get PDF
    Abstract The Conception of Community Life in Petatah Petitih Minangkabau with The Indigeneous Approach. This study aims to identify the Minangkabau conceptions values as depicted in the petatah petitih Minang (proverb). This research examines Minang Proverb with the Indigenous Psychology approach. Qualitative research methods, describing, interpreting the concept of values in the Minangkabau community which is illustrated by the Minang proverb. The data collection technique used is desk research and interview. Sources of literature study are from the Minangkabau Adat textbook obtained from the Rumah Gadang Minangkabau pavilion in Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta; the results of previous studies / research, and relevant information from online mass media. Online Interview was conducted with the Chief Advisor of the Bundo Kanduang Council Organization Advisor Solok City, West Sumatra. The results show that there are ten values or Minangkabau life concept which are contained in the Minang proverb which is inherent in the Minang identity, namely; hiduik baraka, baukue jo bajangko; baso basi –malu jo sopan; tenggang raso; loyal; fair; thrifty; watchful; braveness; wise diligent and humble. Key words: Minangkabau conceptions, Minang proverb, Indigenous psychology Abstrak Konsep Pola Hidup Masyarakat dalam Petatah Petitih Minangkabau dengan Pendekatan Indigenius. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konsepsi nilai-nilai adat yang berkaitan dengan pola hidup masyarakat Minangkabau (Minang) yang tergambar dalam Petatah Petitih (pepatah) Minang. Penelitian ini mengkaji psikologi yang lekat pada budaya adat Minangkabau yang tertuang dalam Pepatah Minang dengan pendekatan Indigenous Psychology (Psikologi Indigenius). Metode penelitian kualitatif, yakni menggambarkan, menafsirkan konsepsi nilai-nilai adat pada masyarakat Minangkabau yang tergambar pepatah Minang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara studi kepustakaan (desk research) dan wawancara. Sumber studi kepustakaan adalah dari buku teks Adat Minangkabau yang diperolah dari anjungan Rumah Gadang Minangkabau di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta; hasil kajian/penelitian sebelumnya, dan informasi yang relevan dari media massa daring. Wawancara dilakukan kepada Ketua Penasehat Organisasi Bundo Kanduang Kota Solok Sumatera Barat secara daring. Hasil menunjukan terdapat sepuluh nilai atau konsep pola hidup masyarakat Minang yang tertuang dalam pepatah minang yang melekat pada jati diri orang Minang yakni; hiduik baraka, baukue jo bajangko; baso basi-malu jo sopan; tenggang raso; setia; adil; hemat cermat; waspada; berani karena benar; arif bijaksana; rajin dan rendah hati. Kata-kata kunci: nilai budaya Minangkabau, pepatah Minang, psikologi indigeniu

    PERILAKU ALTRUISTIK TOKOH UTAMA DALAM NOVEL REFLEKSI SOSIAL BUDAYA SUKU TORAJA DALAM NOVEL PUYA KE PUYA KARYA FAISAL ODDANG (SOCIO-CULTURAL REFLECTION IN FAISAL ODDANG’S NOVEL PUYA KE PUYA)

    Get PDF
    Abstract Socio-cultural Reflection in Faisal Oddang’s Novel Puya ke Puya. This study describes the individual and socio-cultural aspects of the Toraja tribe, as reflected in the novel Puya ke Puya. This is qualitative research using the approach of the sociology of literature. This research's object is a novel entitled "Puya ke Puya," written by Faisal Odang. The focus of this research is the socio-cultural aspects of the Toraja tribe. This research's data are in the form of words, sentences, and discourses in the novel. This research combines the sociology of literature and anthropology of literature. Through these two approaches, the researcher describes the socio-cultural aspects of the community of Toraja. Data that have been collected were analyzed using a data analysis technique model developed by Talcott Parson.The social aspects of the Toraja tribe in the novel include economic systems such as livelihoods, government systems, and social community systems such as social strata. Meanwhile, the cultural aspects of the Toraja culture include belief systems, myths, and culture. Then the individual aspect consists of the individual aspect by reviewing the characters in the novel. The results of data analysis show that the social and cultural aspects of Toraja in Puya ke Puya related to the dominant livelihood system are agriculture and livestock; The two sectors have a major influence on the social and cultural life of the Toraja people. Then in terms of governance, the Toraja community has a customary community led by Pennuluan; and the last is the caste system in Toraja, which is composed of four castes, which are the basis of all the implementation of cultural life in Toraja. The next portrait concerning cultural aspects is a belief system called Aluk Todolo. The Aluk Tadolo belief system is the foundation of Toraja's culture, such as the two major rituals, namely the Rambu Tuka "or happiness ceremony and the Rambu Solo" as a mourning ceremony. The last one is that the novel shows the individual aspects of Toraja's community, which are generally still bound by culture and society. Key words: social aspects, cultural aspects, Toraja tribe, novels Abstrak Refleksi Sosial Budaya Suku Toraja dalam Novel Puya ke Puya Karya Faisal Oddang. Penelitian ini akan dipaparkan mengenai aspek sosial, aspek budaya dan aspek individu suku Toraja yang terdapat dalam novel Puya ke Puya. Penelitian ini berupa penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra, adapun objek penelitian ini adalah novel yang berjudul “Puya ke Puya” karya Faisal Odang dengan fokus penelitian ini adalah aspek sosial budaya suku Toraja. Data dan sumber data yang dijadikan sebagai Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya Vol 11, No 2, Oktober 2021 ISSN 2089-0117 (Print) Page 275 – 285 ISSN 2580-5932 (Online) 276 ǀ Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya objek penelitian ini adalah data yang berupa kata, kalimat, dan wacana yang ada di dalam novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang. Penelitian ini memadukan telaah sosiologi sastra dan antropologi sastra. Dengan penggabungan pendekatan tersebut diperoleh deskripsi data aspek sosial budaya masyarakat Toraja. Data-data yang diperoleh dianilisis dengan menggunkan model teknik analisis data yang dikembangkan oleh Tallcot Parson. Aspek sosial suku Toraja yang terdapat dalam novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang meliputi sistem ekonomi seperti mata pencarian, sistem pemerintahan dan sistem komunitas kemasyarakatan seperti strata sosial. sementara itu untuk Aspek budaya budaya suku Toraja meliputi sistem kepercayaan, mitos, kebudayaan. Kemudian aspek individu menguraikan aspek individu dengan meninjau tokoh dalam novel. Dari hasil analisis data, diperoleh hasil bahwa dalam aspek sosial budaya di Toraja dalam novel Puya ke Puya menunjukkan bahwa sistem mata pencarian yang dominan adalah dari sektor pertanian dan peternakan, sebab kedua sektor tersebut berpengaruh besar dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Toraja, kemudian dari segi pemerintahan masyarkat Toraja mempunyai komunitas adat yang dipimpin oleh Pennuluan, dan yang terakhir adalah sistem kasta di Toraja tersusun atas empat kasta yang menjadi dasar dari segala pelaksanaan kehidupan berbudaya di Toraja. Gambaran selajutnya adalah dari segi aspek budaya yang menunjukkan bahwa di Toraja terdapat sistem kepercayaan yang disebut Aluk Todolo yang merupakan landasan dari kebudayaan yang ada di Toraja, seperti dua ritual besar yakni Rambu Tuka’ atau upacara kegembiraan dan Rambu solo’ sebagai upacara duka cita. Dan yang terakhir bahwa dalam novel tersebut menujukkan mengenai aspek individu masyarakat suku Toraja yang pada umumnya masih terikat oleh budaya dan sosial. Kata-kata kunci: aspek sosial, aspek budaya, suku Toraja, nove

    POSKOLONIAL DALAM CANTIK ITU LUKA KARYA EKA KURNIAWAN (POSTCOLONIAL IN NOVEL CANTIK ITU LUKA BY EKA KURNIAWAN)

    Get PDF
    Abstract Postcolonial in novel Cantik itu Luka by Eka Kurniawan. This researchisto describe the meaning of the resistance of the natives was fighting the colonials in the novel Cantik Itu Luka by Eka Kurniawan. The results showed that the postcolonial form of indigenous resistance to the invaders in the novel Cantik was wounded by Eka Kurniawan. It was known that the characters in the novel did not want to defend the western tradition and the discrimination of the Dutch colonial government which gave the indigenous and Dutch limits in gaining freedom in their lives. The character in the novel believes that he has the same rights in obtaining equality in life as Westerners. People in the novel “Cinta Itu Luka” realizedby the natives should not be stupid and easily controlled by Western nations. Therefore, my character seeks to defend his right to obtain freedom in life and not be bound to others. The meaning of the resistance of the natives in resisting the colonials in the novel Cantik Ini Luka by Eka Kurniawan is the reaction of the indigenous people at that time was diverse. Some refused, but there were those who welcomed kindly even cooperated and not a few who did not approve of it. The resistance is not only in terms of the grille but also openly in order to get independence even though there must be self-sacrifice both material and life. Key words: postcolonial, resistensi, novelsAbstrak Poskolonial dalam novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan. Penelitian ini untuk mendeskripsikan bentuk poskolonial resistensi pribumi terhadap penjajah dalam.Untuk mendeskripsikan makna perlawanan kaum pribumi dalam melawan kaum kolonial dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bentuk poskolonial resistensi pribumi terhadap penjajah dalam novel Cantik itu luka karya Eka Kurniawan diketahui bahwa Tokoh dalam novel tidak ingin mempertahankan tradisi barat dan diskriminasi pemerintah kolonial Belanda yang memberi batas pribumi dan Belanda dalam memperoleh kebebasan dalam kehidupan mereka. Tokoh dalam novel tersebut berkeyakinan bahwa dia memiliki hak yang sama dalam memperoleh kesetaraan hidup seperti orang-orang Barat. Tokoh pada novel Cantik Itu Luka menyadari jika pribumi tidak seharusnya bodoh dan mudah dikuasai bangsa Barat. Oleh sebab itu, tokoh aku berusaha untuk mempertahankan haknya dalam memperoleh kebebasan dalam hidup dan tidak terikat pada orang lain. Makna dari perlawanan kaum pribumi dalam melawan kaum kolonial dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan yaitu Reaksirakyat pribumi saat itu beragam. Ada yang menolak, namun ada yang menyambut ramah bahkan bekerja sama dan tidak sedikit yang tidak menyetujuinya. Perlawanan tersebut tidak hanya dari segi gerilya namun juga secara terang-terangan agar bisa mendapatkan kemerdekaan walaupun harus ada pengorbanan diri baik materi maupun nyawanya. Kata-kata kunci: poskolonial, perlawanan, nove

    279

    full texts

    284

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇