Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP)
Not a member yet
284 research outputs found
Sort by
KESANTUNAN BERBAHASA DALAM KOMUNIKASI PERAWAT DI RUMAH SAKIT PERTAMINA TANJUNG (LANGUAGE POLITENESS OF NURSES AT PERTAMINA HOSPITAL TANJUNG IN COMMUNICATION)
Kesantunan Berbahasa dalam Komunikasi Perawat di Rumah Sakit Pertamina Tanjung. Kesantunan sangat penting dalam sebuah komunikasi untuk menjaga keharmonisan dan menghindari konflik, khususnya dalam komunikasi perawat kepada pasien dan keluarga pasien. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan wujud , strategi, dan fungsi kesantunan berbahasa dalam komunikasi perawat di Rumah Sakit Pertamina Tanjung. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data utama penelitian ini adalah tuturan perawat dalam percakapan dengan pasien15dan keluarga pasien di ruang pasien. Data itu diperoleh melalui perekaman, catatan lapangan, dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan wujud kesantunan berbahasa dalam komunikasi perawat melalui, 1) tindak tutur direktif meliputi perintah, permintaan, larangan, persilaan, saran, dan pertanyaan, dan 2) tindak tutur ekspresif meliputi ungkapan rasa senang dan ungkapan permintaan maaf. Wujud kesantunan tersebut dengan memperhatikan tiga skala kesantunan Brown dan Levinson yaitu 1) kekuasaan, 2) jarak, dan 3) peringkat budaya. Dalam tindak tutur direktif perintah, larangan, dan pertanyaan ditemukan tuturan yang memiliki kadar kesantunan yang rendah. Dalam tindak tutur ekspresif, ungkapan rasa tidak senang tidak ditemukan dalam tuturan. Ungkapan rasa tidak senang tersebut hanya diekspresikan melalui raut wajah. Ada empat strategi kesantunan Brown dan Levinson yang digunakan dalam kesantunan berbahasa dalam komunikasi perawat. Kesantunan berbahasa dalam komunikasi perawat memiliki fungsi sebagai tindakan untuk menyelamatkan muka, tindakan untuk menghindari konflik, tindakan untuk menghormati, tindakan untuk mengurangi beban, tindakan untuk menghibur, dan tindakan untuk memberi motivasi. Penggunaan bentuk dan strategi yang tepat cenderung menghasilkan sebuah tujuan tutur yang efektif bagi penutur dan meminimalisasi daya ancaman muka lawan tutur khususnya pasien dan keluarga pasien.Kata-kata kunci : kesantunan berbahasa, wujud, strategi, fungs
ANTROPOLINGUISTIK DALAM MANTRA DAYAK MAANYAN DI KALIMANTAN SELATAN (ANTROPOLINGUISTICS IN MAANYAN MANTRAS IN SOUTH KALIMANTAN)
Antropolinguistik dalam Mantra Dayak Maanyan di Kalimantan Selatan. Artikel ini menyajikanhasil penelitian tentang antropolinguistik dalam mantra Dayak Maanyan. Fokus penelitian iniadalah berbagai mantra dan unsur simbol budaya dari khazanah satuan lingual dalam mantra yangdigunakan oleh masyarakat Maanyan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknikpengumpulan data observasi, perekaman, dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwamasyarakat Dayak Maanyan menggunakan mantra untuk berbagai keperluan hidup, antara lainuntuk pelindung diri, penawar racun, menyembuhkan orang sakit, menangkap ikan, bercocok tanam,atau untuk keperluan hidup yang lain. Dalam mantra yang digunakan ditemukan sejumlah kosakata36yang merepresentasikan kepercayaan dan aspek sosial-budaya masyarakat Dayak Maanyan. Sejumlahkosakata itu antara lain minyak oles dipercaya memiliki sifat panas yang dapat digunakan sebagaipenghalau ruh jahat; kain hitam dipercaya dapat melindungi diri dari padangan bangsa jin; jarumdipercaya dapat melindungi diri dari rasa sakit; parang dapat digunakan sebagai penawar racun; dupadapat digunakan sebagai perantara mengundang ruh. Selain itu, dari kosakata dalam mantra yang adajuga tampak bahwa orang Maanyan percaya ada makhluk gaib penjaga danau, penjaga sungai, penjagahutan atau yang lain. Sementara itu, mereka percaya bahwa bagian tubuh manusia melambangkannasib atau sifat tertentu. Masyarakat Dayak Maanyan percaya menyucikan ujung jari, menyucikantelapak kaki, dan menyucikan mata kaki dengan menggunakan mantra bisa membawa kegeruntungan;menyucikan lutut dapat memperpanjang umur; menyucikan tenggorokan dapat mendatangkankemashuran; dan menyucikan bulu mata dapat membentuk perilaku jujur.Kata-kata kunci: sosial-budaya, mantra, tradisi lisa
NILAI-NILAI PERILAKU TERPUJI DALAM NOVEL KETIKA MAS GAGAH PERGI KARYA HELVY TIANA ROSA (VALUES COMMENDABLE BEHAVIOR IN KETIKA MAS GAGAH PERGI NOVEL BY HELVY TIANA ROSA)
Nilai-Nilai Perilaku Terpuji dalam Novel Ketika Mas Gagah Pergi Karya Helvy Tiana Rosa.Novel merupakan karya sastra yang ditulis oleh pengarang dengan berbagai tujuan. Umumnya tujuanpengarang adalah untuk menyampaikan informasi-informasi tertentu. Sebagai sebuah karya sastra,novel diciptakan untuk dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat (pembaca). Novel KetikaMas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa memiliki daya tarik bagi peminatnya. Novel yang akrab dengansuasana Islam membawa nilai tersendiri dibanding karya-karya lainnya. Novel tersebut menceritakantentang perjalanan seorang manusia yang mencari hakikat hidup.Oleh karena itu, penelitian ini akanmengkaji (a) Bagaimana nilai perilaku terpuji yang berhubungan dengan orang lain dalam novel KetikaMas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa? (b) Bagaimana nilai perilaku terpuji yang berhubungandengan diri sendiri dalam novel Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa? Pendekatan yang229digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan ini digunakan untukmemahami nilai-nilai perilaku terpuji yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Metode deskriptifmerupakan prosedur pemecaan masalah yang dilakukan dengan menggambarkan atau melukiskankeadaan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang ada. Tujuan yang digunakan dalam metodedeskriptif ini adalah untuk mendeskripsikan nilai perilaku terpuji dalam novel Ketika Mas GagahPergi karya Helvy Tiana Rosa. Data dalam penelitian ini adalah novel Ketika Mas Gagah Pergi. Hasilpenelitian ini menunjukkan bahwa (1) dalam nilai perilaku terpuji yang berhubungan dengan oranglain ditemukan perilaku terpuji yang terwujud dari (a) perbuatan baik, (b) kepedulian, (c) keadilan, (d)rasa syukur, dan (e) kasih sayang; dan (2) dalam nilai perilaku terpuji yang berhubungan dengan dirisendiri ditemukan perilaku terpuji yang terwujud dari (a) kerendahan hati, dan (b) kontrol diri. Sarankepada peneliti selanjutnya: diharapkan agar dapat lebih mendalami kajian terhadap novel Ketika MasGagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa, dari segi sastra dan kebahasaanya.Kata-kata kunci: nilai, perilaku terpuji, nove
SIMBOL DALAM UPACARA ADAT DAYAK NGAJU (SYMBOLS IN RITUAL TRIBE OF DAYAK NGAJU)
Simbol dalam Upacara Adat Dayak Ngaju. Upacara adat adalah bentuk kebaktian masyarakat DayakNgaju terhadap Ranying Hatalla (Tuhan), dewa-dewa, roh nenek moyang atau mahluk halus lainnya,dan dalam usahanya untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan mahluk gaib lainnya untuk memperolehkehidupan yang sejahtera. Penelitian ini penting diteliti guna melestarikan budaya masyarakat DayakNgaju sebelum budaya itu sendiri mengalami kepunahan. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan180wujud, makna, dan fungsi simbol dalam upacara adat Dayak Ngaju. Pendekatan penelitian inimenggunakan pendekatan kualitatif.Metodepenelitian upacara-upacara adat Dayak Ngaju ini akanmenggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu suatu model penelitian yang akan berusaha membuatgambaran secara cermat dan mendalam tentang penggunaan simbol dalam pelaksanaan upacara adatyang berlangsung. Penelitian ini berpusat pada bahasa verbal dan nonverbal yang mengandung simboldalam upacara adat Dayak Ngaju. Objek penelitian dilakukan di Kabupaten Kapuas. Berdasarkan hasilpenelitian menunjukkan bahwa upacara adat masyarakat Dayak Ngaju adalah jalan yang dilakukanuntuk berkomunikasi dengan Ranying Hatalla (Tuhan). Dari sepuluh upacara adat Dayak Ngajuterdapat beberapa simbol, yaitu 1) upacara tiwah terdapat 18 simbol, yaitu 14 nonverbal, dan 4 simbolverbal; 2) upacara perkawinan terdapat 47 simbol, yaitu 44 simbol nonverbal, dan 3 simbol verbal; 3)upacara manajah antangterdapat 12 simbol, yaitu 10 simbol nonverbal, dan 2 simbol verbal; 4) upacarakematian terdapat 9 simbol, yaitu tujuh simbol nonverbal, dan2 simbol verbal; 5) upacara mapalasterdapat 11 simbol, yaitu 10 simbol nonverbal, dan satu simbol verbal; 6) upacara kehamilan terdapatlima simbol nonverbal; 7) upacara sangiang terdapat 11 simbol, yaitu 7 simbol verbal, dan 4 simbolnonverbal, 8) upacara manetek pantan terdapat 6 simbol, 5 nonverbal dan 1 simbol verbal; 9) upacaramamapas lewu terdapat 7 simbol yang terdiri dari 5 simbol nonverbal dan 2 simbol verbal; 10) upacaralaluhan terdapat 6 simbol yang terdiri dari 5 simbol nonverbal dan 1 simbol verbal. Dalam upacararitual masyarakat Dayak Ngaju, ekspresi malahap(o lo lo lo kiuuu),behas (beras), meto(hewan) dantelur, ada dalam upacara apapun baik dalam upacara tiwah,upacara perkawinan, upacara mapalas/pengobatan, upacara manajah antang, upacara kehamilan, upacara sangiang dan bentuk-bentukupacara lain berdasarkan adat Dayak Ngaju. Malahap merupakan simbol ekspresi yang diucapkansebagai penyemangat bagi suku Dayak Ngaju. Beras dan hewan ini tidak hanya sebagai pelengkapmakanan pokok namun mempunyai makna lain.Behas (beras) merupakan simbol media komunikasiyang sangat efektif antara manusia dengan Ranying Hatalla (Tuhan). Adapun darah hewan yangbiasanya digunakan, yaitu babi, kerbau, dan ayam. Darah binatang ini biasanya digunakan untukmamalas atau menetralisir hal-hal yang berbau tidak baik. Darah ini melambangkan hubungan antarmakhluk, antarmanusia dan fungsinya untuk mendinginkan atau menetralisir, sedangkan telur dalamsetiap upacara adat adalah lambang hubungan antarmakhluk juga sebagai simbol kedamaian danketentraman.Kata-kata kunci: simbol, upacara ada
MENGGAGAS PEMBELAJARAN SASTRA YANG HUMANIS (TO BRING THE IDEA OF HUMANISTIC LITERATURE LEARNING)
Menggagas Pembelajaran Sastra yang Humanis. Pembelajaran sastra mempunyai fungsi amat strategisuntuk melatih keterampilan berbahasa para siswa, menambah pengetahuan tentang pengalamanhidup, membantu pengembangan pribadi dan watak, dan menambah pengalaman-pengalaman baru.Fungsi-fungsi ini akan tercapai jika pembelajaran sastra di sekolah di lakukan secara humanis. Dalampembelajaran sastra yang humanis ditandai oleh tiga hal. Pertama, materi pembelajaran hendaknyadisesuaikan dengan kubutuhan siswa, bukan berdasarkan asumsi guru. Kedua, metode pembelajaranyang digunakan hendaknya mampu memfasilitasi siswa untuk menggauli sastra sebanyak mungkin.Membaca, mendengar, dan menghasilkan sastra merupakan fokus kegiatan siswa di kelas. Ketiga,evaluasi hendaknya ditekankan pada proses menikmati dan menghasilkan sastra, bukan produkpengetahuan sesaat yang diuji pada awal, tengah, dan akhir semester.Kata-kata kunci: sastra, pembelajaran, humani
SITUASI DIGLOSIA PADA PENUTUR BAHASA NGAJU DI KECAMATAN KATINGAN TENGAH KABUPATEN KATINGAN KALTENG (DIGLOSIA SITUATION ON THE NGAJU LANGUAGE SPEAKERS IN KATINGAN REGENCY CENTRAL KATINGAN SUBDISTRICT OF CENTRAL KALIMANTAN)
Situasi Diglosia pada Penutur Bahasa Ngaju di Kecamatan Katingan Tengah KabupatenKatingan Kalteng. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahasa yang digunakan dan untukmengetahui situasi diglosia pada penutur bahasa Ngaju di Kecamatan Katingan Tengah KabupatenKatingan Kalteng. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif,dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalahobservasi, wawancara, kepustakaan, teknik rekam/simak dan teknik catat. Data tentang diglosiadilihat dari tujuh ranah, yakni ranah keluarga, ranah pergaulan, ranah transaksi jual beli, ranahagama, ranah pemerintahan, ranah pendidikan, dan ranah profesi/pekerjaan. Selain itu juga, data204diperoleh dari pemilihan bahasa, seperti di editorial surat kabar, siaran berita, dan sastra rakyat.Berdasarkan temuan penelitian menunjukan bahwa penutur bahasa Ngaju merupakan bilingualdan multilingual. Hal ini terlihat dengan beragamnya bahasa yang digunakan dan penguasaandari masing-masing penutur bahasa Ngaju. Hasil penelitian berdasarkan ranah keluarga dan ranahpergaulan dengan teman sesuku, menunjukan bahwa masih dominannya penutur menggunakanbahasa Ngaju, dalam ranah transaksi jual beli, terlihat bahwa bahasa Banjar lebih dominan. Fungsibahasa Banjar sebagai bahasa transaksi jual beli di Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan.Dalam ranah agama, khususnya kebaktian di Gereja terbentuk situasi triglosik (penggunaan bahasaNgaju dan bahasa Indonesia seimbang), sedangkan khotbah di Masjid lebih dominan menggunakanbahasa Indonesia sebagai bahasa tinggi (T). Ranah pemerintahan, ranah pendidikan dan ranahprofesi, situasi diglosia yang terjadi adalah lebih dominan menggunakan bahasa Indonesia sebagairagam bahasa tinggi (T), walaupun terjadi diglosia yang kurang mantap pada ranah pendidikanyang dituturkan pelajar penutur Ngaju akibat penguasaan bahasa Indonesia yang masih kurangmantap. Pemilihan bahasa yang digunakan dalam editorial surat kabar dan siaran berita menggunakanbahasa Indonesia sebagai ragam bahasa tinggi (T), sedangkan sastra rakyat lebih dominanmenggunakan bahasa Ngaju (R) walaupun terdapat juga menggunakan bahasa Indonesia.Kata-kata kunci: diglosia, ranah, bahasa ngaj
PEMILIHAN BAHASA KELOMPOK TUTUR PENDATANG JAWA DI LANDASAN ULIN, BANJARBARU (THE LANGUAGE CHOICE BY SPEECH COMMUNITY OF JAVA NEWCOMERS AT LANDASAN ULIN, BANJARBARU)
Pemilihan Bahasa Kelompok Tutur Pendatang Jawa di Landasan Ulin, Banjarbaru. Penelitiantentang Pemilihan Bahasa Kelompok Tutur Pendatang Jawa di Landasan Ulin, Banjarbaru telahdilakukan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pengaruh bahasa yang digunakan. MasyarakatJawa pendatang menggunakan bahasa Indonesia yang terkadang campur dengan bahasa Banjar yang23sangat kuat pengaruhnya dengan menggunakan bahasa yang secara umum digunakan dalam ilmusosiolinguistik.Untuk itu perlunya kajian tentang pemilihan bahasa yang digunakan oleh masyarakatpendatang Jawa yang berada di wilayah Landasan Ulin Timur, Kota Banjarbaru. Penelitian bertujuanuntuk mendeskripsikan wujud pemilihan bahasa tuturan Pendatang Jawa di Kecamatan LandasanUlin Kota Banjarbaru. Metode yang digunakan adalah observasi menggunakan kuisener danwawancara terstruktur. Responden adalah masyarakat tutur pendatang yang berasal dari Pulau Jawadan menggunakan BJ (bahasa Jawa) sebagai B1 (bahasa pertama) mereka yang dapat diketahui melaluituturan yang digunakannya.Batasan usia penutur dalam penelitian ini adalah yang berusia antara 17-58 tahun danmerupakan penutur generasi pertama (G1). Pengambilan responden dilakukan secaraacak, sebagai berikut: Kelurahan Landasan Ulin Timur sebanyak 23 responden , Samsudin Noor 14responden, Guntung Payung sebanyak 15 responden dan Kelurahan Guntung Manggis sebanyak 21responden, sehingga total responden berjumlah 73. Hasil penelitian menunjukkkan bahwa pemilihanbahasa yang dipakai oleh pendatang jawa di kecamatan Landasan Ulin adalah : 1) bahasa yangdipakai sehari-hari adalah bahasa Indonesia, 2) bahasa yang dipakai di sekolah/tempat kerja adalahbahasa Indonesia, 3) bahasa komunikasi yang digunakan dengan orang dari tempat asal adalah bahasaJawa, 4) Bahasa yang digunakan ketika bertamu di tempat orang adalah bahasa Indonesia, 5) bahasayang dipakai pendatang dari Jawa di tempat asal adalah bahasa Indonesia, Jawa dan campuran bahasaIndonesia-Jawa, 6) bahasa yang dipakai dalam bergaul dengan orang lain saat ini adalah bahasaIndonesia, 7) bahasa yang dipakai dalam berkomunikasi dengan keluarga di rumah adalah bahasaJawa, dan 8) bahasa yang dipakai ketika ada acara hajatan di lingkungan tempat anda tinggal adalahbahasa Indonesia. Dari hasil penelitian disarankan agar para peneliti berikutnya, meneliti aspek sejenisatau meneliti pemakaian bahasa etnik lain di kota Banjarbaru.Kata-kata kunci : pemilihan bahasa, kelompok tutur, pendatang jaw
JENIS DAN FUNGSI TINDAK TUTUR GURU DAN SISWA DALAM PROSES BELAJAR-MENGAJAR DI TKIT UKHUWAH BANJARMASIN (THE TYPE AND FUNCTION OF SPEECH ACTS TEACHERS AND STUDENTS IN TEACHING AND LEARNING IN TKIT UKHUWAH BANJARMASIN)
Jenis dan Fungsi Tindak Tutur Guru dan Siswa dalam Proses Belajar-Mengajar di TKIT Ukhuwah Banjarmasin. Tindak tutur mempunyai fungsi, maksud, dan tujuan tertentu serta dapat menimbulkan pengaruh atau akibat pada mitra tutur. Bahasa yang digunakan guru dan siswa di taman kanak-kanak berbeda dengan yang digunakan di jenjang pendidikan lebih tinggi, seperti di SD, SMP, dan SMA.129Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tindak tutur guru dan siswa dalam proses belajar mengajar di TKIT Ukhuwah Banjarmasin. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian tindak tutur guru dan siswa di TKIT Ukhuwah ialah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini ialah dengan observasi serta teknik rekam dan teknik catat. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan ada lima jenis tindak tutur yang digunakan guru dan siswa TKIT Ukhuwah Banjarmasin, yakni: (1) tindak tutur asertif berupa pemberian pernyataan, pelaporan, dan penyebutan; (2) tindak tutur komisif berupa berjanji, ancaman, dan ikrar; (3) tindak tutur direktif berupa permintaan, pertanyaan, persyaratan, larangan, persilaan, dan nasihat; (4) tindak tutur ekspresif berupa memuji, menolak, berterima kasih, dan mengungkapkan rasa senang; dan (5) tindak tutur deklaratif berupa tindakan membenar-kan sesuatu dan memutuskan. Kemudian ditemukan pula enam fungsi tindak tutur, yakni (1) untuk tukar menukar informasi; (2) untuk mengungkapkan informasi intelektual; (3) untuk mengungkapkan sikap emosi; (4) untuk mengungkapkan sikap moral; (5) untuk meyakinkan dan mempengaruhi; dan (6) untuk sosialisasi.Kata-kata kunci: tindak tutur, tindak tutur guru, tindak tutur sisw
RAGAM BAHASA ALAY DALAM JEJARING SOSIAL (THE VARIETY OF ALAY LANGUAGE USED IN SOCIAL NETWORKS)
Ragam Bahasa Alay dalam Jejaring Sosial. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui wujudfonologi bahasa alay dalam jejaring sosial, (2) proses fonologi bahasa alay dalam jejaring sosial, (3)wujud morfologi bahasa alay dalam jejaring sosial, (4) proses morfologi bahasa alay dalam jejaringsosial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Adapun jenispenelitian ini adalah jenis penelitian sosiolinguistik dan linguistik umum. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa kalimat atau kata-katayang terdapat dalam jejaring sosial. Sumber data yang digunakan berasal dari macam-macam jejaringsosial, seperti facebook, twitter, path, dan instagram. Teknik analisis data yang digunakan adalahteknik analisis isi. Hasil penelitian bahasa alay dalam jejaring sosial menunjukkan bahwa dalam prosesfonologi terdapat perubahan fonem, apokop, aferesis, sinkop, monoftongisasi, diftongisasi, epentesis, danmetasis. Sementara itu, dalam proses morfologi terdapat perubahan reduplikasi, perubahan afiksasi,dan pemendekan.Kata-kata kunci: bahasa alay, jejaring sosia
PEMIKIRAN PRESIDEN JOKO WIDODO DALAM PIDATO SAMBUTAN (THOUGHT THE PRESIDENT JOKO WIDODO IN A GREETING SPEECH)
Pemikiran Presiden Joko Widodo dalam Pidato Sambutan. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan dan menjelaskan pikiran dan gagasan presiden Joko Widodo melalui pola penyampaianpidato sambutannya. Penelitian ini menggunakan teori Norman Fairclough tentang analisis tekstual,analisis praktik wacana, dan analisis praktik sosiokultural. Metode yang digunakan dalam penelitianini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis. Penelitian inimenggunakan teknik observasi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut. (1) Analisistekstual dalam pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo terdiri atas empat bagian, yaitu struktur teks,tata bahasa, koherensi, dan leksalisasi. (2) Analisis praktik wacana terdiri atas tiga tahap, yaitu prosespenghasilan wacana, proses penyebaran, dan penggunaan wacana. (3) Analisis praktik sosiokulturaldalam pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo terdiri atas tiga tingkatan, yaitu tingkat situasional,institusional, dan sosial.Kata-kata kunci: pemikiran, pidato, sambuta