Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP)
Not a member yet
284 research outputs found
Sort by
PENERAPAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 BANJARMASIN (THE APPLICATIONS OF COOPERATIVE PRINCIPLES ON THE TEACHING AND LEARNING OF INDONESIAN LANGUAGE AND LITERATURE AT SMA NEGERI 1 BANJARMASIN)
AbstractThe Applications of Cooperative Principles on the Teaching and Learning of IndonesianLanguage and Literature at SMA Negeri 1 Banjarmasin. A teaching and learningprocess needs a speech act. Speech act represents a psychological individual symptom,and the continuity of a speech act is determined by the speaker’s language ability infacing a language situation. Therefore, both the teacher and students need to payattention on the aspects of cooperative in holding a speech act. The aspects ofcooperative tend to give details about the attainment of effectiveness in a communicationprocess. This research is aimed to find out objectively the description about theapplication of the cooperative maxim and the contribution of the cooperative towardthe effectiveness of the teaching and learning process. The framework of this researchwas based on the theories which consist of cooperative maxim theory by Grice. Thisresearch was conducted at SMA Negeri 1 Banjarmasin by collecting the data in form ofthe language usage in teaching and learning interaction in the classroom. This researchuses qualitative approach, descriptive method, and observation technique. The dataanalysis was conducted after collecting the data. Even though there were any failuresin the performance, the research result showed that the optimum cooperative maximapplication was done effectively. The cooperative maxim was able to streamline theteaching and learning process.Keywords: speech acts, cooperative maxim, effectiveness of learningAbstrakPenerapan prinsip Kerja Sama dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia diSMA Negeri 1 Banjarmasin. Sebuah proses pengajaran dan pembelajaranmembutuhkan tindak tutur. Tindak tutur merupakan gejala individual psikologis, dankelangsungan suatu tindak tutur ditentukan oleh kemampuan bahasa pembicara dalammenghadapi situasi bahasa. Oleh karena itu, baik guru dan siswa perlu memperhatikanaspek kerja sama dalam memegang tindak tutur. Aspek kerja sama cenderungmemberikan rincian tentang pencapaian efektivitas dalam proses komunikasi. Penelitianini bertujuan untuk mengetahui gambaran objektif tentang penerapan maksim kerjasama dan kontribusi kerja sama terhadap efektivitas proses pengajaran danpembelajaran. Kerangka penelitian ini didasarkan pada teori-teori yang terdiri dariteori maksim kerja sama oleh Grice. Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1Banjarmasin dengan mengumpulkan data dalam bentuk penggunaan bahasa dalamproses belajar-mengajar interaksi di dalam kelas. Penelitian ini menggunakan124pendekatan kualitatif, metode deskriptif, dan teknik observasi. Analisis data dilakukansetelah mengumpulkan data. Meskipun ada kegagalan dalam kinerja, hasil penelitianmenunjukkan bahwa aplikasi maksim kerja sama optimal dilakukan secara efektif.Maksim kerja sama mampu merampingkan proses pengajaran dan pembelajaran.Kata-kata kunci: tindak tutur, maksim kerja sama, efektivitas pembelajaran
NILAI BUDAYA DALAM DONGENG BAKUMPAI (CULTURAL VALUES IN BAKUMPAI FOLKTALE)
AbstractCultural Values in Bakumpai Folktale. Folktale as one of oral literary which containeducative advice for the next generation. Folktale are imaginative or vicarious andfantasy stories in which the events do not really take place. The events which are notifiedin the story tend to be behavior/moral lessons. This research is aimed at obtainingobjective description about three cultural values and Bakumpai folktales: (1) culturalvalues about human life, (2) cultural values about human’s viewpoints to the nature, (3)cultural values about human relationship one another. The theory used as basic ofinstrument development is oral literary theory and narratives Aarne and Stith Thomson,James Danandjaja, and the theory about C. Klucklohn cultural values. Data of thisresearch is Bakumpai folktales which consist of 11 (eleven) folktales. The approachesused in this research are qualitative and sociology research, descriptive method andcontent analysis technique. The primary instrument is the researcher. The secondaryinstruments are the informants, Bakumpai folktales, tape recorder, cell phones andresearch notes. The data analysis is done during the collecting of data. The researchresults shows that there are three cultural values in Bakumpai folktales, those are culturalvalues of human life (55 items), cultural values about human’s viewpoints to the nature(24 items), cultural values about human relationship one another (31 items). The mostdominant values about human relationship one another, especially in making a livingto meet daily needs.Keywords: cultural value, bakumpai, folktaleAbstrakNilai budaya dalam Dongeng Bakumpai. Dongeng sebagai salah satu sastra lisanyang berisi saran edukatif untuk generasi berikutnya. Dongeng adalah cerita imajinatifatau perwakilan dan fantasi di mana peristiwa tidak benar-benar terjadi. Peristiwayang diberitahukan dalam cerita cenderung perilaku/pelajaran moral. Penelitian inibertujuan untuk mendapatkan gambaran obyektif tentang tiga nilai-nilai budaya dalamdongeng Bakumpai: (1) nilai-nilai budaya tentang kehidupan manusia, (2) nilai-nilaibudaya tentang sudut pandang manusia terhadap alam, (3) nilai-nilai budaya tentanghubungan manusia satu sama lain. Teori yang digunakan sebagai dasar pengembanganinstrumen adalah teori sastra lisan dan narasi Aarne dan Stith Thompson, JamesDanandjaja, dan teori tentang nilai-nilai C. Kluckholn budaya. Data dari penelitianini adalah dongeng Bakumpai yang terdiri atas 11 (sebelas) dongeng. Pendekatanyang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan penelitian sosiologi, metodedeskriptif dan teknik analisis isi. Instrumen utama adalah peneliti. Instrumen sekunderadalah informan, dongeng Bakumpai, tape recorder, ponsel dan catatan penelitian.Analisis data dilakukan selama pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwaada tiga nilai-nilai budaya dalam dongeng Bakumpai, yaitu nilai-nilai budaya dari62kehidupan manusia (55 item), nilai-nilai budaya tentang sudut pandang manusiaterhadap alam (24 item), nilai-nilai budaya tentang hubungan daya manusia satu samalain (31 item). Yang paling dominan nilai-nilai tentang hubungan manusia satu samalain, terutama dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Kata-kata kunci: nilai budaya, bakumpai, dongen
ARGUMENTASI DALAM WACANA SURAT GUGAT CERAI DI PENGADILAN AGAMA KOTA PALANGKA RAYA (THE ARGUMENTATION ON DISCOURSE OF DIVORCE ACCUSATION PAPER IN RELIGIOUS COURT AT PALANGKA RAYA)
AbstractThe Argumentation on Discourse of Divorce Accusation Paper in Religious Court at PalangkaRaya. Divorce paper or divorce accusation paper contains arguments that serve as an excuse to convincethe head of Religious Court in applying for or suing a divorce. Therefore, this study examines (1) theform of argumentation structure, (2) the argumentation method, and (3) the argumentation content ondiscourse of divorce accusation paper based on gender perspective. This study uses descriptive qualitativeapproach. The data source of this study is taken from 16 pieces of divorce accusation papers which consistof 8 divorce papers and 8 divorce accusation papers which are collected since May till December 2016.The results obtained are as follows. First, the argumentation structures on discourse of divorce accusationpaper consist of (1) statement, (2) reason, (3) justification, (4) supporter, and (5) modal. Secondly, theargumentation method on discourse of divorce accusation paper consist of two main parts, namely (1)the argumentation composition/component and (2) topic development method. The argumentationcomposition paper consists of three main parts, namely (a) introduction, (b) argumentation body and(c) conclusion. While the component of divorce accusation paper also consists of three main parts; theyare (a) the identity of the parties, (b) posita and (c) petitum. Third, the argumentation content based ongender perspective contains about (1) functional structural gender concerning in position and role thatcontrary to the state, and (2) argumentation style.Key words: argumentation, divorce accusation paperAbstrakArgumentasi dalam Wacana Surat Gugat Cerai di Pengadilan Agama Kota Palangka Raya. Suratcerai talak maupun surat cerai gugat mengandung argumentasi yang dijadikan alasan untuk meyakinkanketua Pengadilan Agama dalam mengajukan permohonan atau gugatan perceraian. Oleh karena itu,penelitian ini mengkaji tentang (1) wujud struktur argumentasi, (2) metode argumentasi, dan (3) isiargumentasi wacana surat gugat cerai berdasarkan perspektif gender. Penelitian ini menggunakanpendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini mengambil 16 buah surat gugat cerai yangterdiri dari 8 buah surat cerai talak dan 8 buah surat gugat cerai yang diambil dari bulan Mei sampai16bulan Desember 2016. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut. Pertama, strukturargumentasi dalam wacana surat gugat cerai terdiri atas (1) pernyataan, (2) alasan, (3) pembenaran,(4) pendukung dan (5) modal. Kedua, metode argumentasi dalam wacana surat gugat cerai terdiriatas dua bagian utama, yaitu (1) komposisi/komponen argumentasi dan (2) metode pengembangantopik. Komposisi argumentasi surat terdiri dari tiga bagian utama, yaitu (a) pendahuluan, (b) tubuhargumentasi dan (c) kesimpulan. Sementara itu, komponen surat gugatan juga terdiri dari tiga bagianutama, yaitu (a) identitas para pihak, (b) posita dan (c) petitum. Ketiga, isi argumentasi berdasarkanperspektif gender berisi tentang (1) gender struktural fungsional mengenai kedudukan dan peran yangbertolak belakang dengan keadaan, dan (2) gaya argumentasi.Kata-kata kunci: argumentasi, surat gugat cera
EKSOFORA DALAM BAHASA BANJAR (EXOPHORA IN BANJARESE LANGUAGE)
Eksofora dalam Bahasa Banjar. Penelitian ini membahas mengenai eksofora dalam bahasa Banjar.Eksofora adalah hal atau fungsi menunjuk kembali kepada sesuatu yang ada di luar bahasa atau padasituasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis eksfora dalam tuturan bahasa Banjar.Metode yang digunakan metode deskripsif dengan pendekatan kualitatif, yaitu prosedur penelitianyang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan. Data yang digunakan dalampenelitian ini dibagi menjadi menjadi dua bagian, yaitu data primer dan data sekunder. Data primerberupa tuturan lisan yang diperoleh dari informan yang menguasai bahasa Banjar. Data sekunderberupa informasi yang diperoleh dari buku-buku cerita berbahasa Banjar. Data yang diambil dalampenelitian ini berupa sejumlah ujaran yang berupa kata, frasa, dan kalimat yang menyangkut masalaheksofora. Pengumpulan data ini menggunakan metode simak. Istilah menyimak di sini tidak hanyaberkaitan dengan pengunaan bahasa secara lisan, tetapi juga penggunaan bahasa secara tertulis.Metode ini memiliki teknik dasar yang berwujud teknik sadap. Dalam teknik selanjutnya, teknik sadapini diikuti dengan teknik lanjutan yang berupa teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap,catat dan teknik rekam. Teknik libat cakap maksudnya si peneliti melakukan penyadapan itu dengancara berpartisipasi sambil menyimak, berpartisipasi dalam pembicaraan, dan menyimak pembicaraan.Selanjutnya teknik catat adalah teknik lanjutan yang dilakukan ketika menerapkan metode simakdengan teknik lanjutan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah modelinteraktif dilakukan melalui empat tahap kegiatan, yaitu (a) pengumpulan data, (b) reduksi data,(c) penyajian data, dan (d) penyimpulan/verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa 1)Wujud kata atau frasa yang tergolong deiksis persona dalam bahasa Banjar meliputi a) bentuk bebas, b)bentuk terikat, c) bentuk dasar, dan d) bentuk turunan. 2) Wujud kata atau frasa yang tergolong deiksiswaktu dalam bahasa Banjar meliputi a) pronomina penunjuk temporal, b) pronomina penunjukkandeskriptif, dan c) promonima penunjukkan dimensional. 3) Wujud kata dan frasa yang tergolong deiksistempat dalam bahasa Banjar meliputi a) pronomina penunjuk lokotif. 4) Kategori deiksis yang eksoforadalam tuturan bahasa Banjar meliputi a) pronomina persona pertama, b) pronomina persona kedua, c)pronomina persona ketiga, d) pronomina yang direduplikasikan, dan e) sifat khas leksem persona dalambahasa Banjar. 5) Ciri sintaksis yang memperlihatkan gejala eksofora dalam bahasa Banjar meliputia) fungsi sintaksis unsur-unsur kalimat (menduduki fungsi subjek, objek, dan keterangan) b) Peransemantik unsur-unsur kalimat (pelaku, pengalam, peruntung).Kata-kata kunci: eksofora, deiksis, bahasa banja
HUMOR DAN PESAN MORAL TEKS ANEKDOT PADA BUKU AJAR BAHASA INDONESIA KELAS X SMA KURIKULUM 2013 (HUMOR AND MORAL MESSAGE OF ANECDOTAL TEXTS IN INDONESIAN LANGUAGE TEACHING MATERIALS FOR THE TENTH GRADE OF 2013 CURRICULUM SENIOR HIGH SCHOOL)
Humor dan Pesan Moral Teks Anekdot pada Buku Ajar Bahasa Indonesia Kelas X SMA Kurikulum2013. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud humor dan pesan moral yang terdapatdalam teks anekdot pada buku ajar bahasa Indonesia kelas X SMA K13. Pendekatan dalam penelitianini menggunakan pendekatan pragmatis dan pendekatan moral. Untuk mengungkapkan humor padateks anekdot tersebut penulis menggunakan teknik analisis wacana berdasarkan teori konflik, teorikeganjilan, teori tak diharapkan/salah paham, dan teori konfigurasi. Data penelitian ini adalah teksanekdot, maka penulis menggunakan metode analisis isi. Berdasarkan hasil pembahasan wujud humoryang terdapat dalam teks anekdot tersebut, yaitu humor kritik, humor meringankan beban pesan, danhumor semata-mata pesan. Pesan moral yang terdapat dalam teks tersebut, yaitu jangan takut kehilangan246jabatan, selalu ada cara dan solusi dalam segala hal, jadilah orang jujur dan tidak korupsi; hasil bumikita tidak perlu diekspor harus hati-hati melaporkan suatu kejadian; lihatlah apa isi yang disampaikanseseorang; jangan melakukan penyuapan; jangan selalu menganggap orang lain salah, manfaatkankekayaaan dengan baik; jadilah orang yang teguh pendirian dan jangan tergoda hawa nafsu; janganasal menuduh seseorang tanpa ada bukti; berilah pertolongan kepada orang yang mengalami musibahatau kesulitan; memperlakukan orang tua dengan baik; jangan membedakan status sosial; akan adajalan keluar sebuah masalah; hati-hati dengan wujud penyuapan yang berupa kemewahan.Kata-kata kunci: humor, pesan moral, teks anekdo
ANALISIS ISI DAN KUALITAS BAHASA BUKU TEKS BAHASA INDONESIA KELAS X “EKSPRESI DIRI DAN AKADEMIK”
Content Analysis and Quality of Indonesian Languange Textbook of Class X “Self and AcademicExpressions”. This study aims to describe the suitability of the textbook content, and to reveal the qualityof the languange contained in the Indonesian textbook for Class X of Vocational Schools, entitled “Selfand Academic Expressions”. This research use qualitative approach with descriptive research type. Theresearch data are the quality of content and quality of languange in Indonesian textbooks. The data sourceof this research is the Indonesian textbook of SMK for class X entitled “Self and Academic Expressions”.The author uses the techniques of documentation and content analysis techniquesto obtain inormation inaccordance with the object which becomes the focus of the study in this research. The result of this studyshowed that the materials are in accordance with the current KI and KD, but there are also materialsthat are not in accordance with the current KI and KD. The author found eight parts of the materialswhich are incomplete from fifty-five analyzed materials, nine parts of the materials which scopes arenot in accordance with the current fifty-five analyzed material, and nine parts which depths are not inaccordance with the KD of the fifty-five materials analyzed.Key words: content analysis, languange quality, textbookAbstrakAnalisis Isi dan Kualitas Bahasa Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas X “Ekspresi Diri dan Akademik”.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kesesuaian isi buku teks dan mengungkapkan kualitas bahasayang ada dalam buku teks Bahasa Indonesia SMK kelas X yang berjudul “Ekspresi Diri dan Akademik”.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data penelitian iniadalah kualitas isi dan kualitas bahasa dalam buku teks Bahasa Indonesia. Sumber data penelitian iniadalah buku teks bahasa Indonesia SMK kelas X yang berjudul “Ekspresi Diri dan Akademik”. Penulismenggunakan teknik dokumentasi dan teknik analisis isi untuk memperoleh keterangan sesuai denganobjek yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini ditemukannya materi yangsudah sesuai dengan KI dan KD yang berlaku, tetapi ada juga materi yang tidak sesuai dengan KIdan KD yang berlaku. Penulis menemukan delapan bagian pelajaran yang materinya tidak lengkapdari lima puluh lima materi yang telah dianalisis, sembilan bagian pelajaran yang keluasan materiyang tidak sesuai dengan KD dari lima puluh lima materi yang telah dianalisis, dan sembilan bagianpelajaran yang kedalaman materi yang tidak sesuai dengan KD dari lima puluh lima materi yang telahdianalisis.Kata-kata kunci: analisis isi, kualitas bahasa, buku tek
PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH SEBAGAI WAHANA PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA (LEARNING REGIONAL LANGUAGE AND LITERATURE AS A MEANS OF EDUCATION OF NATIONAL CHARACTER)
AbstractLearning Regional Language and Literature as a Means of Education of NationalCharacter. Learning the language and literature to be a vehicle for cultural educationand the nation’s character is based on the view that language and literature has thepotential to become an institution that gives hope for people to talk about the ultimatereality of life. An imaginative literary works offer a rich selection of possibilities aboutthe structure of complex life. Michael Novak (Lickona, 1991: 50) states that the elementsforming the moral attitude can be traced to religious traditions, literature-based storiesof local culture (indegeneous), policy advice (sage), and a view of life that flows figureshereditary historically through discourse language and literature. More than that, themight of the local language as the medium of education has been proved empirically byIndia and Thailand who use writing as writing Hindi and Thai official. Even Singh(2010), an international seminar on retention native language, India explains that thestate establish a political idea, not a linguistically formulated Hindi language. Thisdesignation aims to make the “mother tongue Becomes a rallying point for groups ofpeople to unite and express their solidarity more as a political entity.” Therefore, theintention of the government to establish policies and conduct conservation programs inthe local language of each province, as well as through literature, is key to theimplementation of this idea.Keywords: literature as forming the moral stance, regional literature, governmentgoodwillAbstrakPembelajaran Bahasa dan Sastra Daerah sebagai Wahana Pendidikan KarakterBangsa. Pembelajaran bahasa dan sastra untuk menjadi wahana pendidikan budayadan karakter bangsa didasarkan pada pandangan bahwa bahasa dan sastra berpotensiuntuk menjadi institusi yang memberi harapan bagi manusia untuk berbicara tentangrealitas kehidupan yang hakiki. Karya sastra merupakan tawaran imajinatif yang kayadengan pilihan kemungkinan tentang struktur kehidupan yang kompleks. Michael Novak(Lickona, 1991: 50) menyatakan bahwa unsur pembentuk sikap moral bisa dilacakdari tradisi keagamaan, cerita sastra berbasis kebudayaan lokal (indegeneous), nasihatkebijakan (sage), dan pandangan hidup tokoh yang mengalir secara turun-temurunsecara historis melalui wacana bahasa dan sastra. Lebih dari itu, keperkasaan bahasadaerah sebagai medium pendidikan telah dibuktikan secara empirik oleh India danThailand yang menggunakan tulisan Hindi dan Thai sebagai tulisan resmi negara.Bahkan Singh (2010), dalam seminar internasional tentang pemertahanan bahasa ibu,menjelaskan bahwa negara India menetapkan gagasan politis, bukan merumuskanbahasa Hindi secara linguistik. Penetapan ini bertujuan untuk menjadikan “mother20tongue becomes a rallying point for group of people to unite and express their solidaritymore as a political entity”. Oleh karena itu, niat baik pemerintah untuk menetapkankebijakan dan melakukan program pelestarian bahasa daerah di wilayah propinsimasing-masing, juga melalui sastra, merupakan kunci bagi terlaksananya gagasanini.Kata-kata kunci: sastra sebagai pembentuk sikap moral, sastra daerah, niat baikpemerinta
REDUPLIKASI BAHASA MAANYAN WILAYAH KAMPUNG SEPULUH KECAMATAN AWANG DESA HAYAPING
AbstractReduplication of Maanyan Language Kampung Area Awang Village Hayaping. In this study theauthors examine reduplication especially reduplication language Maanyan. The use of reduplication inthe Indonesian language as one of the Austronesia clumps is very board and variegated types, it canbe said that research on reduplication ever done not yet completed. Reduplication is one way to formwords in Indonesian language in addition to the affixation of the reduplication process or the repetitionof words can take place if there is a word that becomes the basis of repeated. Based on the purpose ofresearch methods used in this study is descriptive method and data collected in the form of words and totell the solution of existing problems and this researcher is really based on existing facts or the empiricalphenomenon of life on the speaker to indicate the existence of morphological processes in the form ofrepetition or reduplication of words, in the form of whole repetition, partial repetition, repetition combined,affix affixing, repetition with phonme changes, or pseudo-repetition, in the language of Maanyan. Themethod of observation, while the technique is skillful technique, techniques refer, and techniques in cooperation with informants. A problem in researching what kind of function and reduplication mean inorder to describe the form, function, type and meaning of reduplication of language Maanyan. Havefunction, change the word class and there are two types of paradigmatic and derivational reduplication,the meaning contained in the reduplication of language there are relevan.Key words: reduplication, maanyan languageAbstrakReduplikasi Bahasa Maanyan Wilayah Kampung Sepuluh Kecamatan Awang Desa Hayaping.Pemakaian reduplikasi dalam bahasa Indonesia sebagai salah satu rumpun Austronesia sangat luasdan jenisnya beraneka ragam, dapat dikatakan bahwa penelitian mengenai reduplikasi yang pernahdilakukan belum tuntas. Reduplikasi adalah salah satu cara untuk membentuk kata dalam bahasaIndonesia di samping afiksasi komponisasi proses reduplikasi atau pengulangan kata bisa berlangsungapabila ada kata yang menjadi dasar ulangnya. Berdasarkan tujuan penelitian metode yang digunakandalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan untukmenuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang dan penelitian ini benar-benar berdasarkanfakta yang ada atau fenomena yang empiris hidup pada penuturnya. Untuk menunjukkan adanyaproses morfologi dalam bentuk pengulangan atau reduplikasi kata, yang berupa pengulangan seluruh,pengulangan sebagian, pengulangan yang berkombinasi, proses pembubuhan afiks, pengulangan denganperubahan fonem, atau pun pengulangan semu dalam bahasa Maanyan. Metode yang dipakai untukmenyediakan data adalah metode observasi, sedangkan tekniknya adalah teknik cakap, teknik simak,167dan teknik bekerja sama dengan informan. Masalah dalam penelitian bagaimana bentuk fungsi jenisdan makna reduplikasi dengan tujuan mendeskripsikan bentuk, fungsi, jenis dan makna reduplikasibahasa Maanyan. Penelitian didasarkan pendapat Keraf dan Kridalaksana. Berdasarkan hasilpenelitian ditemukan, tujuh bentuk reduplikasi bahasa Maanyan. Memiliki fungsi, mengubah kelaskata dan terdapat dua jenis, yaitu reduplikasi paradigmatis dan derevasional, makna yang terdapatdalam reduplikasi bahasa Maanyan ada sebelas.Kata-kata kunci: reduplikasi, bahasa maanya
MAHALABIU: MEDIA KRITIK SOSIAL MASYARAKAT BANJAR (MAHALABIU: THE MEDIA OF SOCIAL CRITICS OF BANJAR SOCIETY)
Mahalabiu: Media Kritik Sosial Masyarakat Banjar. Mahalabiu adalah tradisi lisan yang tumbuhdan berkembang di tengah-tengah masyarakat Banjar. Mahalabiu berasal dari nama sebuah kota kecildi Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan. Dari nama kota itu (Halabiu) dibentuksebuah ungkapan mahalabiu yang berarti teka-teki dan atau cerita ringkas yang bernada humor berisiolok-olok dan kritik sosial. Seseorang yang menuturkan cerita humor atau teka-teki humor yang berisikritik dan olok-olokan disebut mahalabiu (melakukan sesuatu perbuatan yang biasa dilakukan olehorang Halabiu). Dalam perjalanan waktu selanjutnya, siapapun yang mahalabiu, orang Halabiuatau bukan orang Halabiu, orang itu dikatakan mahalabiu. Beberapa informan mengatakan bahwamahalabiu memang berasal dari kebiasaan orang-orang Halabiu. Adalah satu kenyataan pula bahwaorang-orang Halabiu lebih piawai mahalabiu dibandingkan dengan orang Banjar yang bukan orang174Halabiu. Penyelidikan ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk mahalabiu sebagai mediamasyarakat Banjar dalam melakukan kritik sosial. Metode yang digunakan dalam penyelidikan iniadalah metode kualitatif. Dengan metode ini, data diperoleh secara langsung dari informan melaluiobservasi dan wawancara mendalam. Informan terdiri dari tiga orang budayawan Banjar dan tigaorang penggemar mahalabiu. Hasil penyelidikan ini adalah bahwa mahalabiu merupakan media yangsangat digemari masyarakat Banjar dalam menyampaikan kritik sosial. Ada sebelas macam kritiksosial yang dapat diketengahkan dalam mahalabiu, yakni kritik terhadap diri sendiri, kritik terhadaplembaga atau pemerintah, kritik terhadap sesama etnik Banjar, kritik terhadap orang asing, dan kritikterhadap ustaz, kritik terhadap sanak keluarga, kritik terhadap cara berpikir masyarakat, dan kritikterhadap perempuan.Kata-kata kunci: mahalabiu, kritik sosial, cucupatian (teka-teki
STRUKTUR WACANA, MAKNA, DAN FUNGSI MAHALABIU (DISCOURSE STRUCTURES, MEANINGS, AND FUNCTIONS OF MAHALABIU)
AbstractDiscourse Structures, Meanings, and Functions of Mahalabiu. Mahalabiu is a discoursethat implies multiple (ambiguous), meaning the spoken utterances, usually the listenerto interpret the meaning or intent behind the words is another. Behavior mahalabiuBanjar is a common language behavior of the use meaningful phrases in order tooutwit new speaker. The purpose of this study was to describe the Discourse Structure,Meaning and Function mahalabiu. This type of research used in this study DiscourseStructure, Meaning and Function mahalabiu is descriptive research that intends toprovide an overview of data characteristics in accordance with nature itself. The methodused is descriptive method with qualitative approach to the data source in this study isa collection mahalabiu from an internet site and a thesis of Noorbaity (2004). Datacollection techniques in this study is to use observation techniques of text, data collectionobtained by collecting, reading and classify mahalabiu the structure, meaning andfunction. From the research, it can be concluded Discourse Structure is divided intotwo parts, namely the introduction and description mahalabiu. Then there are fourtypes in the distribution of meaning, namely (1) homonym, (2) homophones, (3) reductionof the phrase, and (4) comments do not match with the topic. Function mahalabiu fivefunctions, namely (1) functions as a joke / joke material, (2) a function that tests aperson’s intelligence, (3) the function of a satirical one, (4) functions as a tool to tell astate or occupation, and (5 ) function is a tool to educate children.Keywords: discourse structure, meaning, function, mahalabiuAbstrakStruktur Wacana, Makna, dan Fungsi Mahalabiu. Mahalabiu adalah wacana yangmengandung pengertian ganda (mendua), memiliki makna ujaran yang diucapkannya,biasanya si pendengar menafsirkan makna atau maksud lain dibalik ucapan tersebut.Perilaku mahalabiu adalah perilaku berbahasa Banjar yang umum karena adanyapenggunaan ungkapan-ungkapan yang bermakna baru dengan tujuan mengecoh lawanbicara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Struktur Wacana, Maknadan Fungsi mahalabiu. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian StrukturWacana, Makna, dan Fungsi mahalabiu ialah jenis penelitian deskriptif yang bermaksudmemberikan gambaran ciri-ciri data sesuai dengan sifat alamiah itu sendiri. Metodeyang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif Sumber datadalam penelitian ini adalah kumpulan mahalabiu dari sebuah situs internet dan sebuahtesis dari Noorbaity (2004). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalahdengan menggunakan teknik observasi teks, pengumpulan data diperoleh denganmengumpulkan, membaca dan mengklasifikasikan mahalabiu dengan struktur, maknadan fungsinya. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan Struktur Wacana dibagi atasdua bagian, yaitu Pengantar dan deskripsi mahalabiu. Kemudian ada empat jenis dalam112pembagian Makna, yakni (1) homonim, (2) homofon, (3) pengurangan frasa, dan (4)komen tidak serasi dengan topik. Fungsi mahalabiu ada lima fungsi, yakni (1) fungsisebagai gurauan/bahan bercanda, (2) fungsi yang menguji kepandaian seseorang,(3) fungsi yang menyindir seseorang, (4) fungsi sebagai alat untuk memberitahu suatukeadaan atau pekerjaan, dan (5) fungsi alat untuk mendidik anak.Kata-kata kunci: struktur wacana, makna, fungsi, mahalabi