Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP)
Not a member yet
284 research outputs found
Sort by
RETORIKA BAHASA SALES PRODUK BUMBU MASAK DI KOTA BANJARMASIN
AbstractRhetorical Language of The Sellers of Cooking Seasoning Products in Banjarmasin City. The purposesof this research are: 1) to identify the forms of rhetorical languages of the sellers of seasoning products inBanjarmasin, 2) to identify the functions of rhetorical languages of the sellers of seasoning products inBanjarmasin, and 3) to identify the rhetorical language strategies of the sellers of seasoning products inBanjarmasin. This research includes descriptive qualitative research type. The data collected in this studyare types, functions, and meanings of the sentences that are said in sales in marketing cooking seasonings.The data are obtained from interviews and literature study. Data collection is done through documentation,interviews and observations. Data collection is analyzed through four stages, namely classifying data, datareduction, data presentation, and data conclusion. From the results of this study, it is concluded that: (1)the forms of rhetorical language of the sellers of the cooking seasoning products in Banjarmasin areprioritizing simple and easy wording to understand and set the tone in speaking because these things canaffect consumer responses to the messages expressed by the sellers about the seasoning products, (3) therhetorical strategies used by the sellers in marketing cooking seasoning products are throughpersuasiveness by using first impressions, attracting empathy, and building credibility and empathy.It isexpected that the results of this study can help improve the language skills of the salesmen in marketingcooking seasoning products and the results of this study can be a reference for future researches related torhetorical languages.Key words: rhetorical language, sellers, forms, functions, strategyAbstrakRetorika Bahasa Sales Produk Bumbu Masak di Kota Banjarmasin.Tujuan dalam penelitian ini adalah:1) Untuk mengetahui bentuk retorika berbahasa sales produk bumbu masak di Banjarmasin. 2) Untukmengetahui fungsi retorika berbahasa sales produk bumbu masak di Banjarmasin, dan 3) Untukmengetahui strategi retorika berbahasa sales produk bumbu masak di Banjarmasin. Penelitian initermasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah jenis,fungsi, dan makna dari kalimat yang diucapkan sales dalam memasarkan bumbu masak. Data tersebutdiperoleh dari hasil wawancara dan studi pustaka. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi,wawancara dan observasi. Data yang terkumpul dianalisis melalui empat tahap, yakni mengklasifikasikandata, reduksi data, penyajian data dan penyimpulan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1)Bentuk retorika berbahasa sales produk bumbu masak di Banjarmasin adalah mengutamakan pemilihankata yang sederhana dan mudah dimengerti serta mengatur nada dalam berbicara karena hal-hal tersebutdapat mempengaruhi respon konsumen terhadap pesan yang disampaikan oleh sales mengenai bumbumasak, (2) Fungsi retorika berbahasa sales produk bumbu masak di Banjarmasin meliputi empat aspek,yaitu : menyampaikan informasi, pendidikan, menghibur, dan mempengaruhi orang lain, (3) Strategiretorika yang digunakan oleh sales dalam memasarkan produk bumbu masak adalah melalui persuasif47melalui kesan pertama, menarik empati, membangun kredibilitas dan empati. Diharapkan hasil penelitianini dapat membantu meningkatkan kemampuan berbahasa sales dalam memasarkan produk bumbu masakdan hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu acuan untuk penelitian yang berkaitan dengan retorikabahasa.Kata-kata kunci: retorika bahasa sales, bentuk, fungsi, strateg
STRUKTUR NARASI, FUNGSI DAN NILAI BUDAYA DALAM KUMPULAN LEGENDA DI KALIMANTAN TENGAH
Narrative Structure, Function, and Cultural Values in Legends of CentralKalimantan. Research entitled is motivated by the interest of researcher topreserve the legend of the area that is now almost extinct and forgotten by thecommunity. This study aims to describe (1) the structure of narrative in legends ofcentral kalimantan, (2) the function of legend in legendsof central kalimantan, (3)cultural values in legends of central kalimantan. This research used a descriptivemethod. the data source can be from fifteen legends in central kalimantan creationby Prof. Drs. Kumpiady Widen, MA, Ph. D then collected through severaltechniques, classified, analyzed, and concluded. Based on the results of dataanalysis, it can be concluded that of the fifteen legends that have been analyzed,there are ten local legends and five individual legends. Based on analysis of thenarrative structure, the five narrative stages are found from the fifteen legends.Based on analysis of legend’s function, the six functions of legend used as theory inthis study, only found four functions of legend, the function of legend to help theeducation of young people, increase feelings of solidarity of group, socialsanctions for people who behave well or punish, and last as a means of socialcriticism. based on analysis of the cultural values contained in these fifteen legendsfound five cultural values, namely: the cultural values of human life, the culturalvalues of human works, the cultural values of human perceptions of time, thecultural values of the human view of nature and the latter are cultural valueshuman relationships with others. Key words: naration structure, legendary function, culture values Abstrak Struktur Narasi, Fungsi, dan Nilai Budaya dalam Kumpulan Legenda diKalimantan Tengah. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penelitiuntuk melestarikan legenda daerah yang sekarang sudah hampir punah dandilupakan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) Strukturnarasi dalam kumpulan legenda di Kalimantan Tengah (2) Fungsi legenda dalamkumpulan legenda di Kalimantan Tengah (3) Nilai Budaya dalam kumpulanlegenda di Kalimantan Tengah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Sumber data didapat dari lima belas legenda yang ada di Kalimantan Tengahkarya Prof. Drs. Kumpiady Widen, MA, Ph. D. Berdasarkan analisis mengenaistruktur narasi, kelima tahap narasi ditemukan dari lima belas legenda tersebut.Berdasarkan analisis mengenai fungsi legenda, dari enam fungsi legenda yang dijadikan teori dalam penelitian ini hanya ditemukan empat fungsi legenda.Berdasarkan analisis mengenai nilai budaya yang terkandung dalam kelima belaslegenda tersebut ditemukan lima nilai budaya, yaitu nilai budaya tentang hidupmanusia, nilai budaya tentang karya manusia, nilai budaya persepsi manusiatentang waktu, nilai budaya pandangan manusia terhadap alam dan yang terakhirnilai budaya hubungan manusia dengan sesama. Kata-kata kunci: struktur narasi, fungsi legenda, nilai buday
TINDAK TUTUR EKSPRESIF PUJIAN DAN CELAAN TERHADAP PEJABAT NEGARA DI MEDIA SOSIAL
Abstract Speech Acts of Praise and Mockery Expressions towards State Officials throughSocial Media. This research was conducted with the aim of describing the formsand funcion of speech acts praise and mockery expressions in Twitter, Instagram,and Facebook. The design of this research used descriptive research withqualitatve approach. The sources oh the data of this research were from the resultof observation in a social media twitter, instagram, and facebook. The formscategorized into praises in terms of the most frequent speakers encountered arepraises with the forms of interjection, praise of God, comparing, appreciating,showing off objects, and joking. Mockery expressions are in terms of speakersfound through social media which are often found in praises with apophasis,unuendo, irony, and sarcasm. In addition to aspects in the field of government, theobject of praises and mockery are: physical, religious, moral, mental, popularity,and integrity conditions. Key words: speech acts, praise expressions, mockery expressions Abstrak Tindak Tutur Ekspresif Pujian dan Celaan terhadap Pejabat Negara di MediaSosial. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mendeskripsikan bentuk danfungsi tindak tutur ekspresif pujian dan celaan di media twitter, instagram danfacebook. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif denganpendekatan kualitatif. Sumber data penelitian ini berasal dari kumpulan data darimengobservasi media sosial twitter, instagram, dan facebook. Bentuk-bentukdikategorikan menjadi pujian dari segi penutur yang terdapat dalam media sosialyang banyak ditemui adalah pujian dengan bentuk interjeksi, pujian kepada tuhan,membandingkan, mengapresiasi, membanggakan objek, dan kelakar. Tindak tuturcelaan dari segi penutur yang terdapat dalam media sosial yang banyak ditemuiadalah pujian dengan bentuk apofasis, unuendo, ironi, dan sarkasme. Selain aspekdibidang pemerintahan, yang menjadi objek pujian dan celaan, yaitu kondisi fisik,religi, moral, mental, popularitas, dan integritas. Selain aspek dibidangpemerintahan, yang menjadi objek pujian dan celaan, yaitu kondisi fisik, religi,moral, mental, popularitas, dan integritas. Kata-kata kunci: tindak tutur, ekspresif pujian, ekspresif celaa
PENGGUNAAN UNSUR REFERENSI DALAM WACANA POLITIK PADA SURAT KABAR BANJARMASIN POST EDISI FEBRUARI 2017
Abstract The Use of Reference Elements in Political Discourse on the Newspaper ofBanjarmasin Post February 2017 Edition. The purpose of this study was todescribe the use of elements (1) persona references, (2) demonstrative references,and (3) comparative references contained in written discourse in the dailynewspaper of Banjarmasin Post February 2017 edition. This research is conductedby using qualitative approach with descriptive research method. Sources of data inthis study is the discourse in the newspaper. Data was extracted by usingdocumentation techniques. To analyze the data used qualitative analysistechniques. Based on the results of research on the Use of Reference Elements inPolitical Discourse on Newspaper of Banjarmasin Post Edition February 2017.The conclusion (1) there is the use of elements (a) references persona, (b)demonstrative reference, and (c) comparative reference in the political discourseof the letter news of Banjarmasin Post, February 2017 edition. (2) It is concludedthat of the twenty-four political discourses found it is stated that the more dominantpersona reference is used with 25 words, the demonstrative references with 24words, and comparative references with a single form. The first person referenceexample, that is me, and us, the third persona reference, that is, he, them, and theresearcher does not find a form that contains a second person reference, contains ademonstrative reference of time, ie today, yesterday, later, tomorrow, then, now.Demonstrative reference of place, that is, that, Peat, Batola, Amutai, Jakarta,comparative reference, that is the same thing. Key words: use of reference elements, political discourseAbstrak Penggunaan Unsur Referensi dalam Wacana Politik pada Surat KabarBanjarmasin Post Edisi Februari 2017. Tujuan penelitian ini adalah untukmendeskripsikan penggunaan unsur (1) referensi persona, (2) referensidemonstratif, dan (3) referensi komparatif yang terdapat dalam wacana tulis di surat kabar harian Banjarmasin Post edisi Februari Tahun 2017. Penelitian inidilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metodepenelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah wacana dalam suratkabar. Penggalian data ditempuh dengan menggunakan teknik dokumentasi. Untukmenganalisis data digunakan teknik analisis kualitatif. Berdasarkan hasilpenelitian tentang Penggunaan Unsur Referensi dalam Wacana Politik pada SuratKabar Banjarmasin Post Edisi Februari 2017. Diperoleh kesimpulan (1)terdapatnya penggunaan unsur (a) referensi persona, (b) referensi demonstratif,dan (c) referensi komparatif dalam pada wacana politik surat kabar BanjarmasinPost edisi Februari 2017. (2) Disimpulakan bahwa dari dua puluh empat wacanapolitik yang ditemukan dinyatakan bahwa referensi persona lebih dominandigunakan dengan 25 wujud kata, sedangkan referensi demonstratif dengan 24wujud kata, dan referensi komparatif dengan satu wujud kata. Contoh referensipersona pertama, yaitu saya, kami, dan kita, referensi persona ketiga, yaitu -nya,ia, dia, mereka, dan peneliti tidak menemukan wujud kata yang mengandungreferensi persona kedua, mengandung referensi demonstratif waktu, yaitu hari ini,sebelumnya, kemarin, nanti, besok, lalu, saat ini. Referensi demonstratif tempat,yaitu ini, itu, Gambut, Batola, Amutai, Jakarta, referensi komparatif, yaitu halyang sama. Kata-kata kunci: penggunaan unsur referensi, wacana politi
ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA PERISTIWA TUTUR KAMPANYE PEMILIHAN KEPALA DESA DI DESA AGUNG MULYA KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR
Abstract Code Switching and Code Mixing in The Village Chief Election CampaignAgung Mulya Village, East Kotawaringin Regency. This research describe codeswitching and code mixing along with its causal factors in the event of the villagechief election campaign in Agung Mulya Village, East Kotawaringin Regency andits implications. This study uses a qualitative approach. The subjects of this studywere prospective village heads and communities who held conversations inelection campaign activities. Data collection uses the refer, record and writingmethod. Data were analyzed by descriptive method with coding steps andclassification. The validity of the data is obtained through semantic validity test,and reliability using intra-rater and inter-rater. The results of this study can beconcluded related to the forms of code switching (internal) including, interlanguagecodeswitching,andcodeswitchingbetweenvariousandmixedcodeintoandmixed code out. Factors that cause code interference include; (a) limitedlanguage mastery, (b) speaker habits, and (c) facilitating speech intent andpurpose. Key words: code switching and code mixing, campaignAbstrakAlih Kode Dan Campur Kode Pada Peristiwa Tutur Kampanye PemilihanKepala Desa Di Desa Agung Mulya Kabupaten Kotawaringin Timur. Penelitianini bertujuan mendeskripsikan alih kode dan campur kode beserta faktor-faktorpenyebabnya pada peristiwa tutur kampanye pemilihan kepala desa di Desa AgungMulya Kabupaten Kotawaringin Timur serta implikasinya. Penelitian inimenggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah calon kepaladesa dan masyarakat yang melakukan percakapan dalam kegiatan kampanyepemilihan kepala desa. Pengumpulan data menggunakan metode simak, rekam dancatat. Data dianalisis dengan metode deskriptif dengan langkah pengkodean danpengklasifikasian. Keabsahan data diperoleh melalui uji validitas sematik, danreliabilitas menggunakan intra-rater dan inter-rater. Hasil penelitian ini dapatdisimpulkan terkait dengan bentuk-bentuk alih kode (internal) meliputi, alih kode antar bahasa, dan alih kode antar ragam dan Campur kode ke dalam dan campurkode ke luar. Faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode meliputi; (a)keterbatasan penguasaan bahasa, (b) kebiasaan penutur, dan (c) memudahkanmaksud dan tujuan tutur. Kata-kata kunci: campur kode, alih kode, kampany
TINDAK TUTUR DIREKTIF DAN EKSPRESIF ANAK USIA DINI 5-6 TAHUN DI TK SITI KHADIJAH BANJARMASIN
Abstract Directive and Expressive Speech Acts for Early Childhood 5-6 Years at SitiKhadijah Kindergarten in Banjarmasin. This study aims to describe the form andfunction of the children directive and expressive speech acts at Siti KhadijahKindergarten in Banjarmasin. This study uses a qualitative approach. Sources ofdata were obtained from children who attended Siti Khadijah Kindergarten inBanjarmasin and the data analyzed in this study were directive and expressivetypes of speech in early 5-6 years old children. The research results obtained inthis study can be summarized as follows: (1) directive speech acts forms that is (a)requestives, (b) questions, (c) requirement, (d) prohibitions, (e) advisories, whilepermissives is not found in the child's speech; (2) the forms of expressive speechacts that is (a) apologizing, (b) thanking, (c) congratulations and praise, (d)condoling, (e) deploring, (f) lamenting, (g) boasting , and the form of expressivespeech acts such as forgiving and welcoming are not found in the child's speech;(3) the functions of the directive and expressive speech acts are to declare, toorder, and to ask. Key words: directive speech act, expressive speech act, early childhood Abstrak Tindak Tutur Direktif dan Ekspresif Anak Usia Dini 5-6 Tahun di TK SitiKhadijah Banjarmasin. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud dan fungsi dari tindak tutur direktif dan ekspresif pada anak di TK Siti Khadijah Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber datadiperoleh dari anak-anak yang bersekolah di Taman Kanak-Kanak Siti KhadijahBanjarmasin dan data yang dianalisis dalam penelitian ini berupa tuturan-tuturanjenis direktif dan ekspresif pada anak usia dini 5-6 tahun. Hasil penelitian yangdiperoleh dalam penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Bentukbentuktindaktuturdirektifberupa(a)permintaan,(b)pertanyaan,(c)perintah,(d)larangan,(e) nasihat, dan bentuk tindak tutur direktif berupa persilaan tidakditemukan dalam tuturan anak; (2) Bentuk-bentuk tindak tutur ekspresif berupa (a)meminta maaf, (b) berterima kasih, (c) ucapan selamat dan memuji, (d)berbelasungkawa, (e) menyesalkan, (f) meratap, (g) membanggakan diri, danbentuk tindak tutur ekspresif berupa memberi maaf dan menyambut tidak ditemukan di dalam tuturan anak; (3) Tindak tutur direktif dan ekspresif inimemiliki fungsi untuk menyatakan, memerintah, dan menanyakan. Kata-kata kunci: tindak tutur direktif, tindak tutur ekspresif, anak usia dini
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN PREFIKS BER- DALAM BAHASA INDONESIA DAN BA- DALAM BAHASA BANJAR
AbstractSimilarities and Differences in the Prefix ber- in Indonesian and ba- in Banjarese.Prefixes ber- and ba- in Indonesia and Banjarese have similarities and differences interms of forms, fungtions, and meanings. The similarities is due to the fact thatIndonesia and Banjarese have the same origin, wich comes from Malay. The prefikxber- in Indonesia has three allomorphs namely ber-, be-, and bel- while the Banjareseonly two, namely ba- and bal. Ber- and ba- functions are the same as formingintransitive verbs, but ba- in Banjar language can also function to form transitive verbs.The meaning of ber- and ba- has many similarities but there are also differences.Prefixes ba-, for example, can mean ‘more or intentionally doing a work’ as examplepanjang → bapanjang; kaina → bakaina, and gugur → bagugur.Key words: ber- prefix, ba- prefix, Indonesian language, Banjar languageAbstrakPersamaan dan Perbedaan Prefiks Ber- dalam Bahasa Indonesia dan Ba- dalambahasa Banjar. Prefiks ber- dalam bahasa Indonesia dan ba- dalam bahasa Banjarmemiliki persamaan dan perbedaan dalam hal bentuk, fungsi, dan makna. Persamaanitu disebabkan bahwa bahasa Indonesia dan bahasa Banjar memiliki asal yang samayakni berasal dari bahasa Melayu. Prefiks ber- dalam bahasa Indonesia memiliki tigaalomorf, yakni ber-, be-, dan bel-, sedangkan bahasa Banjar hanya memiliki duaalomorf, yakni ba- dan bal-. Fungsi ber- dan ba- sama-sama sebagai pembentuk katakerja intranstif, namun, ba- dalam bahasa Banjar dapat juga berfungsi untukmembentuk kata kerja transitif, seperti pada baunjun sapat ‘mengail ikan sepat’, danlain-lain. Makna ber- dan ba- memiliki banyak kesamaan, namun ada pulaperbedaannya. Prefiks ba-, misalnya, dalam bahasa Banjar dapat mengandung makna‘semakin, dengan sengaja melakukan suatu pekerjaan’ apabila ba- itu berhubungandengan kata adjektiva, seperti panjang → bapanjang, kaina → bakaina, gugur →bagugur, dan lain-lain.Kata-kata kunci: prefiks ber-, prefiks ba-, bahasa Indonesia, bahasa Banja
KAHAW VERSUS NGAHAW: SINONIMI KATA KERJA DALAM KALIMAT IMPERATIF BAHASA BAKUMPAI
Abstract Kahaw versus Ngahaw: Sinonimi Verbs In The Imperative Sentence ofBakumpai Language. This study aims to describe the imperative verbs used inBakumpai language command sentences. Command sentences are sentences thatintend to give orders or can also contain a prohibition for someone not to dosomething. The command sentence contains the verb element followed by theobject. For example, in the command sentence: Bring the book! The commandsentence spoken by the speaker contains the hope that the other person will reactor respond, both verbal and nonverbal responses. This study used descriptivequalitative method. The research data were obtained from oral data, namely theinformants and the researchers themselves as native speakers of Bakumpai. Thereare a number of verbs used in Bakumpai language command sentences which aredefinitely different from other language verbs. For example, verbs kahaw andngahaw which mean 'call'. The two verbs are used in Bakumpai languagecommand sentences and are interpreted the same even though the form isdifferent. Apart from the verbs of kahaw and ngahaw, there are other similarimperative verbs. A number of imperative verbs are used in two categories ofcommand sentences, namely (1) a command sentence asking someone to takeaction, and (2) a sentence of disobedience or prohibition. Command sentences inwritten language are marked with an exclamation point (!) At the end of thesentence, and there are auxiliary words that serve to refine utterances such as'pang' and 'my account'. Whereas in spoken language the most obvious marker ofintonation is rising at the beginning. Key words: kahaw versus ngahaw, sinonimi, imperatif, BakumpaiAbstrak Kahaw versus Ngahaw: Sinonimi Kata Kerja dalam Kalimat Imperatif BahasaBakumpai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kata kerja imperatifyang digunakan dalam kalimat perintah bahasa Bakumpai. Kalimat perintahadalah kalimat yang bermaksud memberikan perintah atau dapat juga berisilarangan kepada seseorang untuk tidak melakukan sesuatu. Kalimat perintahmengandung unsur kata kerja yang diikuti objek. Misalnya, pada kalimat perintah:Ambilkan buku itu! Kalimat perintah yang dituturkan oleh pembicara berisiharapan agar lawan bicara memberikan reaksi atau tanggapan, baik berupatanggapan verbal maupun nonverbal. Penelitian ini menggunakan metodedeskriptif – kualitatif. Data penelitian diperoleh dari data lisan yaitu informan dan peneliti sendiri sebagai penutur asli bahasa Bakumpai. Ada sejumlah kata kerjayang digunakan dalam kalimat perintah Bahasa Bakumpai yang sudah pastiberbeda dengan kata kerja bahasa lain. Misalnya, kata kerja kahaw dan ngahawyang bermakna ‘panggil’. Kedua kata kerja itu dipakai dalam kalimat perintahbahasa Bakumpai dan dimaknai sama meskipun bentuknya berbeda. Selain katakerja kahaw dan ngahaw, masih ada kata kerja imperatif lain yang serupa.Sejumlah kata kerja imperatif ini dipakai dalam dua kategori kalimat perintah,yakni (1) kalimat perintah meminta seseorang untuk melakukan tindakan, dan (2)kalimat perintah ingkar atau larangan. Kalimat perintah dalam bahasa tulisditandai dengan tanda seru (!) pada akhir kalimat, dan ada kata bantu yangberfungsi memperhalus ucapan seperti ‘pang’ dan ‘akangku’. Sedangkan dalambahasa lisan penanda yang paling jelas adanya pola intonasi yakni naik padabagian awal. Kata-kata kunci: kahaw versus ngahaw, sinonimi, imperatif, Bakumpa
PENGGUNAAN BAHASA SLANG WARIA DI KOTA BARABAI
AbstractThe Use Transgender Slangs in Barabai City. This study aims to describe and explain theuse of transgender slangs in the city of Barabai as well as to the describe and explain thefrom of the word formations in the use of transgender slangs in the city of Barabai. Thisresearch uses descriptive qualitative research method with sociolinguistic approach. Thedata of this research is from the speeches of the transgender people, so the data source isthe transgender people. Data collection was done by observation technique, interviewtechnique, recording technique, and technique of renotetaking. The data then weretranscribed, classified, presented and concluded. The instrument of this research is a tablethat classifies data in accordance with the types of word forms, namely the forms of theword based and the word formations. The results of this study indicate that there are 201words of the transgender slangs used in 62 discourse fragments analyzed which arecreated from the transgender language itself or from the word formations which endingsconsist of 12 categories and the formations are from the English language. The meaningsof these words have various meanings depending on the conversations carried out bytransgender people, for example: one word has many meanings and it depends on thecontents of the conversations they have. From the 60 discourse conversations, there are270 uses of slang words in the form of affixation process,i.e. prefixes, infixes (insertion),suffixes or confixes (prefix and suffix) and reduplication process.Key words: slang, transvestite, wordAbstrakPenggunaan Bahasa Slang Waria di Kota Barabai. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan dan menjelaskan penggunaan kosakata bahasa slang waria di kotaBarabai serta mendeskripsikan dan menjelaskan wujud kata bentukan dalam penggunaanbahasa slang waria di kota Barabai. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian metodedeskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik. Data penelitian ini adalah darituturan para waria dan sumber datanya dari para waria. Pengumpulan data dilakukandengan cara teknik observasi, teknik wawancara, teknik rekaman, dan teknik catat. Dataitu lalu mentranskripsikan, mengklasifikasi, menyajikan serta menyimpulkan. Instrumenpenelitian ini berupa tabel yang mengklasifikasikan data sesuai dengan jenis wujud kata,yaitu wujud kata dasar dan kata bentukan. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwapenggunaan kosakata bahasa slang yang digunakan dari 62 penggalan wacana yang telahdianalisis terdapat 201 kosakata yang tercipta dari bahasa waria itu sendiri maupun daritata bentukan kata yang berakhiran yang terdiri dari 12 kategori dan tata bentukan daribahasa Inggris. Makna dari kata-kata tersebut mempunyai berbagai arti tergantung dari16percakapan yang dilakukan para waria, misalnya dari satu kata mempunyai banyak artidan itu tergantung pada isi pembicaraan atau percakapan yang mereka lakukan. Dan dari60 percakapan wacana terdapat 270 penggunaan kosakata bahasa slang dalam wujudkata bentukan berupa proses afiksasi yaitu prefiks (awalan), infiks (sisipan), sufiks(akhiran) maupun konfiks (awalan dan akhiran) dan proses reduplikasi.Kata-kata kunci: slang, waria, kat
KEMAMPUAN PENGUCAPAN PIRANTI MORFOLOGI ANAK TUNAGRAHITA KELAS VII SMP LB BANJARMASIN
AbstractThe Ability to Pronounce Morphological Devices Mentally Retarded Children at TheSeventh Grade Students of SMP LB Banjarmasin. This study focuses on pronunciationof morphological devices, namely affixation, source reduplication in SMP LBBanjarmasin.This study used qualitative descriptive method. The data collected wasbased on the actual environment and in the situation as it was the ability to pronouncementally retarded children. Data collection started from observation, recording,interviewing, and library techniques. Sources of the data study were mild mentallyretarded children. Based on the result of the study, it can be concluded that topronounce affixtion of students of SMP LB Banjarmasin seen in using prefix me-, ber-,ter-, pe-, di-, sufix -an, -kan, and confix me-kan, ke-an. Mentally retarded children oftenadd phonemes when speaking, as in prefks men- became meng, prefix ber- becamebeng, and mentally retarded children often removed phonemes when speaking as prefixme(N)- became me-. The reduplication abilty found was reduplication in the form ofintact repetition, partial reduplication and basic affixed reduplication. The ability tocomposition mild mentally retarded chldren pronounces in using composition such asbahasa Indonesia, naik kelas, salat jumat, musim hujan, musim panas, and makansiang. But, there were some of mild mentally retarded children who did not usecomposition correctly such as pak gulu, lumah sakit, tanah ail, ail mata, kelas kepala,keleta api, melimpah luah, halta benda, jalan laya, olang tua, padang lumput, and halilibul. The ability to pronounce mild retarded children when they were affixed,duplicated, and composed by morphophonemic process including changes n phoneme/r/ became phoneme /l/ caused by mild retarded children experiencing obstacles whenreciting phoneme /r/.Key words: pronounce, morphological, tunagrahita2AbstrakKemampuan Pengucapan Piranti Morfologi Anak Tunagrahita Kelas VII SMP LBBanjarmasin. Penelitian ini memfokuskan kemampuan pengucapan piranti morfologi,yaitu afiksasi, reduplikasi komposisi pada siswa SMP LB Banjarmasin. Penelitian inimenggunakan metode kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan berdasarkan darilingkungan yang sebenarnya dan dalam situasi apa adanya, yaitu kemampuanpengucapan anak berketerbelakangan mental (tunagrahita). Pengambilan data dimulaidari teknik observasi, rekaman, wawancara, pencatatan dan teknik kepustakaan.Sumber data penelitian adalah anak tunagrahita ringan. Berdasarkan hasil penelitiandapat disimpulkan bahwa kemampuan pengucapan afikasasi siswa SMP LBBanjarmasin terlihat dalam menggunakan prefiks me-, ber-,ter-, pe-, di- sufiks -an, -kan, dan konfiks me-kan, ke-an. Anak tunagrahita sering melakukan penambahanfonem ketika berbicara, seperti pada prefiks men- menjadi meng, prefiks ber- menjadibeng, serta anak tunagrahita ringan sering melakukan penghilangan fonem ketikaberucap, seperti prefiks me(N)- menjadi me-. Kemampuan reduplikasi yang ditemukanadalah reduplikasi berupa pengulangan utuh, reduplikasi sebagian, dan reduplikasidasar berafiks. Kemampuan komposisi anak tunagrahita ringan tepat mengucapkandalam menggunakan komposisi, yaitu bahasa Indonesia, naik kelas, salat jumat, musimhujan, musim panas, dan makan siang. Namun, ada sebagian anak tunagrahita ringanyang tidak tepat menggunakan komposisi seperti pak gulu, lumah sakit, tanah ail, ailmata, kelas kepala, keleta api, melimpah luah, halta benda, jalan laya, olang tua,padang lumput, dan hali libul. Kemampuan pengucapan anak tunagrahita ringan ketikaberafiksasi, bereduplikasi, dan berkomposisi yang dilakukan dengan prosesmorfofonemik, meliputi perubahan fonem /r/ menjadi fonem /l/ yang disebabkan anaktunagrahita ringan mengalami hambatan ketika melafalkan fonem /r/.Kata-kata kunci: pengucapan, morfologi, tunagrahit