Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP)
Not a member yet
    284 research outputs found

    NILAI PROFETIK PADA SYAIR-SYAIR KARANGAN GURU K.H. ABDUL HAKIM (PROPHETIC VALUE IN POEMS BY GURU K.H. ABDUL HAKIM)

    Full text link
    AbstractProphetic Value in Poems by Guru K.H Abdul Hakim. The purpose of this study is to describe the manifestation of the prophetic value of humanization, liberation and transcendence in the poems by guru K.H. Abdul Hakim. The method used in this study is a qualitative descriptive method with a hermeneutic approach. The hermeneutical approach used by the author is to interpret the meaning contained in the poems written by guru K.H. Abdul Hakim. The data collection technique used in this study was a literature study. Data analysis techniques used are library techniques, see, and record. The data sources in this study were poems written by guru K.H. Abdul Hakim, totaling 9 poems. The data of this research are words and sentences in the poetry written by teacher K.H. Abdul Hakim. The results of the research show the manifestation of prophetic values in 9 poems including; First, the value of humanization, invites to goodness, namely compassion and generosity. Second, the value of liberation, contains the value of liberation in ignorance, and forgiveness. Third, the value of transcendence, namely increasing faith and piety to Allah SWT.Keywords: prophetic value, poem, humanization, liberation, transcendenceAbstrakNilai Profetik pada Syair-Syair Karangan Guru K.H Abdul Hakim. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan wujud nilai profetik humanisasi, liberasi dan transendensi pada syair-syair karangan guru K.H. Abdul Hakim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermenutika. Pendekatan hermenutika digunakan penulis adalah untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam syair-syair karangan guru K.H. Abdul Hakim. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik pustaka, simak, dan catat. Sumber data dalam penelitian ini adalah syair-syair karangan guru K.H. Abdul Hakim yang berjumlah 9 syair. Data penelitian ini ialah kata dan kalimat dalam syair karangan guru K.H. Abdul Hakim. Hasil penelitian menunjukkan wujud nilai profetik pada 9 syair meliputi; Pertama, nilai humanisasi, mengajak pada kebaikan yaitu kasih sayang dan sifat dermawan. Kedua, nilai liberasi, mengandung nilai pembebasan dalam kebodohan, dan pemaaf. Ketiga, nilai transendensi yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.Kata-kata kunci: nilai profetik, syair, humanisasi, liberasi, transendens

    CAMP PROGRAM BAHASA MELAYU SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANKAN IDENTITAS BUDAYA ISLAM DI MA’HAD AL-IRSYAD LIL BANAT, YALA, THAILAND (MALAY LANGUAGE CAMP PROGRAM AS AN EFFORT TO MAINTAIN ISLAMIC CULTURAL IDENTITY AT MA'HAD AL-IRSYAD LIL BANAT, YALA, THAILAND)

    Full text link
    AbstractMalay Language Camp Program as An Effort to Maintain Islamic Cultural Identity At Ma'had Al-Irsyad Lil Banat, Yala, Thailand. This study aims to examine the improvement of Malay language skills through the Malay Language Programme Camp at Ma'had Al-Irsyad Lil Banat in order to strengthen the Islamic cultural identity of the participants. The main problem is the lack of appreciation and understanding of the Malay language among the younger generation, which makes them prefer foreign languages. Therefore, the Malay language program camp was designed to increase the participants' interest and understanding of the language through an interactive and contextual learning approach. The research method used was a qualitative approach with a phenomenological design where data was collected through interviews and participant observation. The results showed that the program significantly improved participants' Malay language skills and cultural awareness. In addition, activities involving Malay cultural traditions successfully strengthened the participants' sense of identity as Muslims. This research is expected to contribute positively to the development of similar programs in the future to preserve Islamic cultural identity.Keywords: Malay language camp, Islamic education, language teaching.AbstrakCamp Program Bahasa Melayu sebagai Upaya Mempertahankan Identitas Budaya Islam Di Ma’had Al-Irsyad Lil Banat, Yala, Thailand. Penelitian ini bertujuan untuk melihat peningkatan keterampilan berbahasa Melayu melalui camp program bahasa Melayu di Ma’had Al-Irsyad Lil Banat terhadap penguatan identitas budaya Islam di kalangan santri. Permasalahan utama yang dihadapi adalah kurangnya apresiasi dan pemahaman terhadap bahasa Melayu di kalangan generasi muda, yang membuat mereka cenderung lebih memilih bahasa asing. Oleh karena itu, camp program bahasa Melayu dirancang untuk meningkatkan minat dan pemahaman santri terhadap bahasa tersebut dengan pendekatan belajar interaktif dan kontekstual. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi, dimana data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini secara signifikan meningkatkan keterampilan berbahasa Melayu santri dan kesadaran budaya mereka. Selain itu, kegiatan yang melibatkan tradisi budaya Melayu berhasil memperkuat rasa identitas santri sebagai umat Muslim. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan program serupa di masa depan dalam rangka pelestarian identitas budaya Islam.Kata-kata kunci: Camp Bahasa Melayu, Pendidikan Islam, Pengajaran Bahasa

    NILAI KEPEMIMPINAN DALAM BUKU PERIBAHASA BANJAR “BARUH URANG DIKARUNI, BARUH SAURANG TAUNG” KARYA Y.S. AGUS SUSENO (THE VALUE OF LEADERSHIP IN BANJAR'S BOOK OF PROVERBS “BARUH URANG DIKARUNI, BARUH SAURANG TAUNG” BY Y.S. AGUS SUSENO)

    Full text link
    AbstractThe Value of Leadership In Banjar's Book of Proverbs “Baruh Urang Dikaruni, Baruh Saurang Taung” By Y.S. Agus Suseno. The study's overarching goal is to protect indigenous languages and cultures from extinction, with a focus on the Banjar language. Rising levels of globalization and modernity impacting all aspect of life, including cultural customs and traditions, which contributes to the problem. Leadership teachings from Banjar proverbs such as Baruh Saurang Taung and Baruh Urang Dikaruni by Y.S. Agus Suseno are the focus of this research. This qualitative descriptive study examines the significance of leadership through the lens of Y.S. Agus Suseno's books Baruh Urang Dikaruni, Baruh Saurang Taung. The results indicate that Baruh Saurang Taung Y.S. Agus Suseno's goal in writing Baruh Urang Dikaruni was to prevent the Banjar language from fading into oblivion. "Baruh Urang Dikaruni, Baruh Saurang Taung" means that we should be able to keep what we have, which includes our culture and the environment. Preserving our cultural history is an investment in the future of our country and a tremendous boost to its economic prosperity, therefore everyone should do all they can to make it happen. Leaders must be able to teach their followers about culture, love their own culture without minimizing others, practice their culture daily, eliminate status, avoid ethnocentrism and primordialism, and preserve culture for the benefit of society if civilization is to continue.Keywords: Leadership Values, Banjar Proverbs, Banjar Language AbstrakNilai Kepemimpinan dalam Buku Peribahasa Banjar “Baruh Urang Dikaruni, Baruh Saurang Taung” Karya Y.S. Agus Suseno. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk melindungi bahasa dan budaya asli dari kepunahan, dengan fokus pada bahasa Banjar. Meningkatnya tingkat globalisasi dan modernitas berdampak pada seluruh aspek kehidupan, termasuk adat istiadat dan tradisi budaya, yang turut berkontribusi terhadap permasalahan tersebut. Ajaran kepemimpinan dari peribahasa Banjar seperti Baruh Saurang Taung dan Baruh Urang Dikaruni karya Y.S. Agus Suseno menjadi fokus penelitian ini. Penelitian deskriptif kualitatif ini mengkaji signifikansi kepemimpinan melalui kacamata Y.S. Buku Agus Suseno Baruh Urang Dikaruni, Baruh Saurang Taung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Baruh Saurang Taung Y.S. Tujuan Agus Suseno menulis Baruh Urang Dikaruni adalah agar bahasa Banjar tidak semakin terlupakan. “Baruh Urang Dikaruni, Baruh Saurang Taung” artinya kita harus bisa menjaga apa yang kita miliki, termasuk budaya dan lingkungan kita. Melestarikan sejarah budaya kita merupakan investasi masa depan negara kita dan merupakan dorongan besar bagi kemakmuran ekonomi negara kita, oleh karena itu setiap orang harus melakukan segala yang mereka bisa untuk mewujudkannya. Pemimpin harus mampu mendidik pengikutnya tentang budaya, mencintai budaya sendiri tanpa meremehkan orang lain, mengamalkan budayanya sehari-hari, menghilangkan status, menghindari etnosentrisme dan primordialisme, serta melestarikan budaya untuk kemaslahatan masyarakat jika peradaban ingin terus berlanjut.Kata-kata kunci: Nilai Kepemimpinan, Peribahasa Banjar, Bahasa Banja

    ANALISIS IMPLIKATUR METAFORA DAN ALIRAN FEMINISME MULTIKULTURAL PADA LIRIK LAGU “NALA” CIPTAAN TULUS (ANALYSIS OF METAPHOR IMPLICATURE AND MULTICULTURAL FEMINISM FLOWS ON THE LYRICS OF THE SONG "NALA" CREATED BY TULUS)

    Full text link
    AbstractAnalysis of Metaphor Implicature and Multicultural Feminism Flows on the Lyrics of the Song "Nala" Created by Tulus. The lyrics of the song entitled "Nala" by Tulus tell about the love life of a character named Nala. Nala is the main character in the song lyrics by Tulus. Nala is a woman who lives a simple life and is strong in finding her soul mate. The story is written in song lyrics wrapped in linguistic style. The language style used in Nala's song lyrics is metaphorical implicatures of the type of love (serenada) and sadness (elegy). Through the use of metaphorical implicature, a multicultural feminist value can be found in the lyrics of Nala's song. The lyrics of the song Nala contain the meaning that injustice or discrimination against women occurs from the perspective of multicultural feminism. This research has two problem formulations, the first is to analyze the metaphorical implicatures contained in the lyrics of Tulus's song entitled "Nala" and the second is to analyze the flow of multicultural feminism contained in the lyrics of Tulus's song entitled "Nala". To analyze the data in this research, the author used a qualitative descriptive method. This research aims to determine the metaphorical implicature of the lyrics of Tulus' song entitled "Nala". Then, with this research, readers can find out that injustice is not only a matter of sex or gender, namely for women, but is also influenced by age, ethnicity, religion, appearance, education and economic factors. Multicultural feminism really upholds the value of diversity and culture. All humans should be treated equally and receive the same respect.Keywords: multicultural feminism, metaphorical implicature, song lyricsAbstrakAnalisis Implikatur Metafora dan Aliran Feminisme Multikultural pada Lirik Lagu “Nala” Ciptaan Tulus. Lirik lagu yang berjudul “Nala” karya Tulus menceritakan tentang kehidupan percintaan seorang tokoh yang bernama Nala. Nala adalah tokoh utama yang ada dalam lirik lagu karya Tulus. Nala merupakan seorang perempuan yang hidup sederhana dan tangguh dalam menemukan tambatan hati. Kisah itu ditulis dalam lirik lagu yang dibungkus melalui gaya bahasa. Gaya bahasa yang digunakan dalam lirik lagu Nala adalah implikatur metafora yang berjenis percintaan (serenada) dan kesedihan (elegi). Melalui penggunaan gaya bahasa implikatur metafora ditemukan sebuah nilai aliran feminisme multikultural pada lirik lagu Nala. Lirik lagu Nala mengandung makna bahwa terjadinya ketidakadilan atau diskriminasi terhadap perempuan dalam perspektif feminisme multikultural. Penelitian ini memiliki dua rumusan masalah, yang pertama adalah menganalisis implikatur metafora yang terdapat pada lirik lagu Tulus yang berjudul “Nala” dan yang kedua adalah menganalisis aliran feminism multikultural yang terdapat pada lirik lagu Tulus yang berjudul “Nala”. Untuk menganalisis data pada penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya implikatur metafora lirik lagu Tulus yang berjudul “Nala”. Kemudian dengan adanya penelitian ini, pembaca dapat mengetahui bahwa ketidakadilan bukan hanya persoalan jenis kelamin atau gender yaitu pada perempuan saja tetapi juga dipengaruhi oleh faktor usia, suku, agama, penampilan, pendidikan, dan ekonomi. Aliran feminisme multikultural sangat menjunjung tinggi nilai keberagaman dan kebudayaan. Sudah semestinya semua manusia harus diperlakukan setara dan mendapatkan penghargaan yang sama.Kata-kata kunci: feminisme multikultural, implikatur metafora, lirik lag

    NILAI SOSIAL ANTOLOGI PUISI “NGEPAK-NGEPAK” KARYA FAHRURRAJI ASMUNI: KAJIAN HERMENEUTIKA GADAMER (SOCIAL VALUES OF THE POETRY ANTHOLOGY "NGEPAK-NGEPAK" BY FAHRURRAJI ASMUNI: A STUDY OF GADAMER'S HERMENEUTICS)

    Full text link
    AbstractSocial Values of the Poetry Anthology "Ngepak-Ngepak" by Fahrurraji Asmuni: A Study of Gadamer's Hermeneutics. This research is motivated by the importance of gaining a better understanding of the social value contributions of the poetry anthology "Ngepak-Ngepak" in its social context. The study also has the potential to provide new insights into how poetry can convey socially relevant messages to society. The aim of this research is to interpret the social values contained in the poetry anthology titled "Ngepak-Ngepak" by Fahrurraji Asmuni through Gadamer's hermeneutics, focusing on understanding cultural context, symbolic meanings, and subjective individual experiences. The research method used is qualitative analysis of the poetry text. The data obtained is analyzed using Gadamer's hermeneutic approach, which involves a dialectic between the reader's horizon and the text's horizon in order to provide a more comprehensive interpretation of the social values contained in the poetry. The social values conveyed by the poet through the understanding of the dominant cultural context indicate vital values, while those based on their sources predominantly demonstrate values of affection. The social values derived from the interpretation of symbolic meanings indicate vital and spiritual values, while those based on their sources demonstrate values of affection, life harmony, and responsibility. The social values derived from the subjective experiences of the readers indicate vital and spiritual values, while those based on their sources demonstrate values of affection, life harmony, and responsibility. Fahrurraji Asmuni's work remains relevant to contemporary life and can serve as a guide for us in navigating life.Keywords: sociology of literature, social values, hermeneutics, poetry, horizonAbstrakNilai Sosial Antologi Puisi “Ngepak-Ngepak” Karya Fahrurraji Asmuni: Kajian Hermeneutika Gadamer. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kontribusi antologi puisi "Ngepak-Ngepak" dalam konteks nilai sosial. Penelitian ini juga berpotensi memberikan wawasan baru tentang cara puisi dapat menyampaikan pesan-pesan sosial yang relevan dengan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasi nilai sosial yang terkandung dalam antologi puisi berjudul "Ngepak-Ngepak" karya Fahrurraji Asmuni dengan  kajian hermeneutika Gadamer melalui pemahaman konteks budaya, makna simbolik, dan pengalaman subjektif individu. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif terhadap teks puisi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan pendekatan hermeneutika Gadamer yang melibatkan dialektika antara horizon pembaca dengan horizon teks agar dapat memberikan interpretasi yang lebih komprehensif dalam memahami nilai-nilai sosial yang terkandung dalam puisi. Nilai sosial yang disampaikan penyair melalui pemahaman konteks budaya dominan menunjukkan nilai vital sedangkan berdasarkan sumbernya dominan menunjukkan nilai kasih sayang. Nilai sosial dari pemahaman makna simbolik menunjukkan nilai vital dan nilai spritual sedangkan berdasarkan sumbernya menunjukkan nilai kasih sayang, keserasian hidup, dan nilai tanggung jawab. Nilai sosial dari pengalaman subjektif pembaca menunjukkan nilai vital dan spritual sedangkan berdasarkan sumbernya menunjukkan nilai kasih sayang, keserasian hidup, dan nilai tanggung jawab. Karya Fahrurraji Asmuni ini masih relevan dengan kehidupan masa kini dan dapat dijadikan pedoman bagi kita dalam menjalani kehidupan.Kata-kata kunci: sosiologi karya sastra, nilai sosial, hermeneutika, puisi, horizo

    PEMBELAJARAN ESTETIKA RESEPSI SASTRA LAHAN BASAH SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI (TEACHING AND LEARNING THE RECEPTION AESTHETIC OF WETLAND LITERATURE AS A DIFFERENTIATED LEARNING MODEL)

    Full text link
    AbstractTeaching and Learning the Reception Aesthetic of Wetland Literature as A Differentiated  Learning Model. This study aims to examine the aesthetics of students' reception of short stories set in wetlands. Achieving this goal is important to show that learning aesthetics of reception can be used as one of the differentiated learning models that is in line with one of the missions of the national curriculum. Wetland literary texts by South Kalimantan authors and students are the main data sources for this study. The data for this study are students' aesthetic responses to literary texts. These responses are studied phenomenologically to reveal students' understanding of wetland environmental issues in the text. This study will examine the aesthetic responses of 25-30 students at SMA Negeri 1 Batu Ampar in Tanah Laut Regency, South Kalimantan. The location of this study was chosen because this school has implemented the Merdeka Curriculum and research related to this national curriculum is still rarely conducted in that place. The responses of the data sources were analyzed to answer the following research problems: How do students respond to various types of wetland literary works presented to them? How does the learning model involve students in learning and how does this involvement impact their understanding of intrinsic elements in relation to understanding social and cultural backgrounds? What are the advantages and disadvantages of this learning model? The study found that contextual learning in the sense of learning that uses teaching materials that are close to the students' culture has the potential to increase student involvement in learning. This learning model succeeded in creating an in-depth discussion about the intrinsic elements of short stories. The elements of the short story were not only identified in terms of their types but also critically thought about the process of their creation. Second, this learning model made students aware of the differences in interpretation when the short story was read by different readers. In other words, this learning model not only fosters critical thinking but also teaches about the importance of democracy and empathy.Keywords: reception aesthetics, wetland literature, differentiated learning AbstrakPembelajaran Estetika Resepsi Sastra Lahan Basah sebagai Model Pembelajaran Berdiferensiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji estetika resepsi siswa terhadap cerita pendek berlatar lahan basah. Pencapaian tujuan tersebut penting untuk menunjukkan bahwa pembelajaran estetika resepsi dapat dijadikan salah satu model pembelajaran berdiferensiasi yang selaras dengan salah satu misi kurikulum nasional. Teks sastra lahan basah karya penulis Kalimantan Selatan dan siswa menjadi sumber data utama penelitian ini. Data penelitian ini berupa respons estetik siswa terhadap teks sastra. Respons tersebut dikaji secara fenomenologis untuk mengungkap pemahaman siswa terkait dengan isu lingkungan lahan basah yang ada dalam teks. Penelitian ini akan mengkaji respons estetik 25-30 siswa di SMA Negeri 1 Batu Ampar di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Lokasi penelitian ini dipilih karena sekolah ini telah menerapkan Kurikulum Merdeka dan penelitian yang terkait dengan kurikulum nasional ini masih jarang dilakukan di tempat tersebut. Respons sumber data dianalisis untuk menjawab masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimana siswa merespons berbagai jenis karya sastra lahan basah yang dipresentasikan kepada mereka? Bagaimana model pembelajaran melibatkan siswa dalam pembelajaran dan bagaimana dampak pelibatan tersebut bagi pemahaman mereka tentang unsur intrinsik dalam kaitannya dengan pemahaman latar sosial dan budaya?  Bagaimana kelebihan dan kekurangan model pembelajaran ini? Penelitian menemukan bahwa pembelajaran yang kontekstual dalam arti pembelajaran yang menggunakan bahan ajar yang dekat dengan budaya siswa berpotensi meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Model pembelajaran ini  berhasil membuat diskusi mendalam mengenai unsur intrinsik cerpen. Unsur-unsur cerpen bukan hanya diidentifikasi jenis-jenisnya tetapi juga dipikirkan secara kritis proses penciptaannya. Kedua, model pembelajaran ini menyadarkan siswa tentang perbedaan tafsir ketika cerpen dibaca oleh pembaca yang berbeda. Dengan kata lain, model pembelajaran ini bukan hanya menumbuhkan pemikiran kritis tetapi juga mengajarkan tentang pentingnya demokrasi dan empati.Kata-kata kunci: estetika resepsi, sastra lahan basah, pembelajaran berdiferensias

    REPRESENTASI KEKUASAAN DALAM NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER (REPRESENTATION OF POWER IN THE NOVEL BUMI MANUSIA BY PRAMOEDYA ANANTA TOER)

    Full text link
    AbstractRepresentation of Power in The Novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer. This research describes Norman Fairclough's critical discourse analysis. Descriptive-qualitative is the method utilized in this research. Data analysis uses critical discourse analysis based on text, discourse practice, and sociocultural practice to describe and interpret hidden meanings. This research utilizes note-taking and reading techniques. The data in this study are words in a collection of novels. The results of the research show that there are: 1) In the text part, researchers can find three basic elements, namely, elements of representation, relations and identity. 2) In the discourse practice section, it examines the process of production and consumption of novel texts that are biased by Pramoedya Ananta Toer's profession and life context as an author. 3) The sociocultural practice is divided into three parts, namely situational, institutional, and social.Keywords: Representation, power, novelAbstrakRepresentasi Kekuasaan dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer. Penelitian ini mendeskripsikan analisis wacana kritis Norman Fairclough. Deskriptif-kualitatif merupakan metode yang dimanfaatkan pada penelitian ini. Penganalisisan data menggunakan analisis wacana kritis berdasarkan teks, discourse practice, dan sociocultural practice untuk menguraikan dan menginterpretasikan makna yang tersembunyi. Penelitian ini memanfaatkan teknik catat dan baca. Data pada penelitian ini berupa kata dalam kumpulan novel. Hasil penelitian menunjukkan adanya: 1) Pada bagian teks peneliti dapat menemukan tiga elemen dasar yaitu, unsur representasi, relasi dan identitas. 2) Pada bagian discourse practice meneliti proses produksi dan konsumsi teks novel yang terbias dari profesi dan konteks kehidupan Pramoedya Ananta Toer sebagai pengarang. 3) pada bagian sociocultural practice terbagi menjadi tiga bagian, yaitu situasional, institusional, dan sosial.Kata-kata kunci: representasi, kekuasaan, nove

    REPRESENTASI BUDAYA MISTIS DALAM DIALOG FILM-FILM PENDEK KALIMANTAN SELATAN: KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK (REPRESENTATION OF MYSTICAL CULTURE IN DIALOGUES OF SOUTH KALIMANTAN SHORT FILMS: AN ANTROPOLINGUISTIC STUDY)

    Full text link
    AbstractRepresentation of Mystical Culture in Dialogues of South Kalimantan Short Films: An Antropolinguistic Study. This research is intended to describe the form of objects, places, and times of mystical culture in the speeches of the characters in these short films and meaning of mystical culture in the dialogues of these short film. Anthopolinguistics was used in this research as a qualitative descriptive method. The data in this study are dialogues from figures relating to mystical culture of objects, places, and time. The data sources are document or archive data sources, in the form of 8 (eight) short films. The data collection technique was carried out by means of documentation using listening techniques, note-taking techniques, and data analysis techniques, namely content analysis techniques. Based on data analysis, it was found that there is a mystical culture related to objects, places, and times in the short film. The objects contained in the short film are offerings, tattoo (wafak), incense, mosquito nets, kuyang oil, perafen, and nyiru (rice winnowing). Places contained in the short film, rivers, forests, and rubber plantations. The time contained in the short film, namely night and dusk. Mystical culture related to objects, places, and time has been considered as a belief that has been believed for generations from generation to generation. Some people in South Kalimantan still believe in mystical culture. This happens because there is an inheritance from the family and the surrounding environment which makes this mystical culture still believed and implemented by some Banjar people.Keywords: representation, mystical culture, short film, antropolinguisticAbstrakRepresentasi Budaya Mistis dalam Dialog Film-Film Pendek Kalimantan Selatan: Kajian Antropolinguistik. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan wujud benda, tempat, dan waktu budaya mistis pada tuturan para tokoh dalam film-film pendek dan makna budaya mistis dalam dialog film-film pendek. Antopolinguistik digunakan dalam studi ini dengan metode deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini adalah dialog dari tokoh yang berkenaan dengan budaya mistis terhadap benda, tempat, dan waktu. Sumber datanya, yaitu sumber data dokumen atau arsip, berupa 8 (delapan) film pendek. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi yang menggunakan teknik simak, teknik catat, dan teknik analisis datanya yaitu teknik analisis konten (conten analysis). Berdasarkan analisis data, ditemukan budaya mistis yang berkaitan dengan benda, tempat, dan waktu dalam film pendek tersebut. Benda yang termuat dalam film pendek, yaitu sesaji, rajah (wafak), dupa, kelambu, minyak kuyang, perafen, dan nyiru (penampi beras). Tempat yang termuat dalam film pendek, yaitu sungai, hutan, dan kebun karet. Waktu yang termuat dalam film pendek, yaitu malam dan senja. Budaya mistis berkaitan dengan benda, tempat, dan waktu telah dianggap sebagai kepercayaan yang telah diyakini secara turun temurun setiap generasi. Hal tersebut terjadi karena adanya warisan dari keluarga dan lingkungan sekitar yang membuat budaya mistis tersebut masih dipercayai dan dilaksanakan oleh masyarakat Banjar.Kata-kata kunci: representasi, budaya mistis, film pendek, antropolinguisti

    PERAN TOKOH PEREMPUAN PADA FILM HATI SUHITA (THE ROLE OF FEMALE CHARACTERS IN THE MOVIE HATI SUHITA)

    Full text link
    AbstractThe Role of Female Characters in The Movie Hati Suhita. This research aims to describe the roles of women depicted in the film Hati Suhita using feminist analysis. The method used in this study is qualitative descriptive with a feminist approach. The analysis results indicate that in the study The Role of Women in the Film Hati Suhita, there are two roles assigned to the female character, namely domestic roles and public roles. In the domestic sphere, the character Suhita fulfills her roles as a daughter, daughter-in-law, and wife who adheres to rules and a culture that tends to be patriarchal. On the other hand, Suhita also holds a role in the public sphere as an educator and leader of a pesantren (Islamic boarding school). However, this public role can only be performed by Suhita as a result of her interactions with male characters. This indirectly leads to the conclusion that male dominance in the research of the role of female characters in the movie Hati Suhita remains quite strong as a result of patriarchal culture.Keywords: Role of women, female characters, patriarchal culture, feminism, film analysisAbstrakPeran Tokoh Perempuan pada Film Hati Suhita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran perempuan yang digambarkan dalam film Hati Suhita menggunakan kajian feminisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan feminis. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam penelitian Peran Tokoh Perempuan pada Film Hati Suhita, terdapat dua peran yang diarahkan pada tokoh perempuan, yaitu peran domestik dan peran publik. Dalam ranah domestik, tokoh Suhita menjalani peran sebagai anak, menantu, dan istri yang patuh terhadap aturan dan budaya yang cenderung patriarkis. Di sisi lain, tokoh Suhita juga memiliki peran di ranah publik sebagai pendidik dan pemimpin sebuah pondok pesantren. Meski demikian, peran publik ini dapat dijalankan oleh Suhita sebagai hasil dari interaksinya dengan tokoh laki-laki. Hal ini secara tidak langsung mengarahkan pada kesimpulan bahwa dominasi laki-laki di dalam penelitian peran tokoh perempuan pada film Hati Suhita masih terbilang kuat sebagai hasil dari budaya patriarki.Kata Kunci: Peran perempuan, tokoh perempuan, budaya patriarki, feminisme, analisis fil

    FENOMENA KEHIDUPAN MASYARAKAT TEGALURUNG-INDRAMAYU DALAM NOVEL AIB DAN NASIB KARYA MINANTO (THE PHENOMENON OF TEGALURUNG-INDRAMAYU COMMUNITY LIFE IN THE NOVEL AIB DAN NASIB BY MINANTO)

    Full text link
    AbstractThe Phenomenon of Tegalurung-Indramayu Community Life in The Novel Aib dan Nasib by Minanto. This research aims to describe the phenomenon of Tegalurung-Indramayu community life contained in the novel Aib and Nasib by Minanto. The formulation of the problem contained in this study is how the life of the villagers contained in the novel Aib and Nasib by Minanto and its implications for social life. The research method used in this research is descriptive qualitative method. The data source of this research is the novel Aib and Nasib by Minanto. Furthermore, the data contained in this novel is associated with Alan Swingewood's theory of literary sociology which states that literary works are born as social documents that record an era. The result of this study revealed that the novel Aib and Nasib by Minanto recorded the phenomena of family disorganisation, poverty, violence, young generation and early marriage in the life of Tegalurung community which implicated in a chaotic and problematic social life.Keywords: Aib dan Nasib, Alan Swingewood, Novel, Sociology of literatureAbstrakFenomena Kehidupan Masyarakat Tegalurung-Indramayu dalam Novel Aib dan Nasib karya Minanto. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena kehidupan masyarakat Tegalurung-Indramayu yang terdapat di dalam novel Aib dan Nasib karya Minanto. Rumusan masalah yang terdapat pada penelitian ini ialah bagaimana kehidupan orang-orang desa yang terdapat dalam novel Aib dan Nasib karya Minanto dan implikasinya pada kehidupan sosial. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini ialah novel Aib dan Nasib karya Minanto. Selanjutnya, data yang terdapat dalam novel ini dikaitkan dengan teori sosiologi sastra Alan Swingewood yang menyatakan bahwa karya sastra lahir sebagai dokumen sosial yang merekam suatu zaman. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa novel Aib dan Nasib karya Minanto merekam fenomena disorganisasi keluarga, kemiskinan, kekerasan, generasi muda dan pernikahan dini pada kehidupan masyarakat di Tegalurung yang berimplikasi pada kehidupan sosial yang kacau dan penuh dengan masalah.Kata-kata kunci: Aib dan Nasib, Alan Swingewood, Novel, Sosiologi sastr

    279

    full texts

    284

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya (JBSP)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇