128 research outputs found

    Perempuan dalam Perspektif Raja Kubu VIII (Telaah atas Kandungan Kitab “Nasihat Zaman”)

    Full text link
    Artikel ini mendiskusikan tentang isi kitab klasik berjudul “Nasihat Zaman”, karya Raja Kubu VIII. Tujuan penulisan ini adalah untuk melihat sejauh mana pemerintah kerajaan Kubu memandang eksistensi kaum perempuan dalam sebuah kerajaan yang bersifat patriarkhi. Penelitian ini berangkat dari beberapa permasalahan berikut: 1) Siapakah Raja Kubu VIII?; 2) Apa yang melatarbelakangi Raja Kubu VIII menulis sebuah kitab berjudul Nasihat Zaman?; 3) Apa isi kandungan kitab Nasihat Zaman?; dan, Bagaimana kitab Nasihat Zaman memandang eksistensi kaum perempuan? Penelitian dilakukan secara kepustakaan (library research), dengan pendekatan filologi. Temuan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Raja Kubu VIII adalah seorang raja terakhir yang memimpin kerajaan Kubu, Kalimantan Barat; b) Ia menulis kitab Nasihat Zaman, dalam rangka memberikan warisan kepada anak- cucunya agar senantiasa dekat dengan Tuhan; c) Kitab ini memuat 5 (lima) pasal yang saling berhubungan, yaitu: Aqidah, Akhlak, Fiqih, Tasawuf, amal shaleh; d) Raja Kubu VIII memiliki perhatian yang tinggi terhadap eksistensi kaum perempuan, sehingga harus dimuliakan

    Pekerja Anak Perempuan di Wilayah Pedesaan Adat; Dilematika Keadilan Gender

    Full text link
    In the traditional society, children who work in domestic sector is obligations were able to be refuted. So that in a rural area which still exists in the customs, sometimes we can found many girls who work at home (domestic sector) and in the field as voluntarily. It is regarded as “children obligation” to help their parents. This research focuses on Desa Cowet, Balai Sub-District, District Sanggau West Kalimantan, in which methods used is the qualitative descriptive approach. The data used was primary data which obtained through technique interview and observation, and secondary data was sourced from the book, scientific journal, and relevant sources. The traditions of community assume that girls required to work in the domestic sector. It is regarded as an obligation to do as the female. Girls help their mother at home or in the fields and rubber. The division of labor based on gender, the female has work more within households. So, girls who work to help their mother will inherit the same work with undertaken by their mother. The construction that girls will inherit a capital work, their perception should be converted

    KONSTRUKSI ANAK MELALUI BAHASA PELABELAN (STEREOTIPE) DI KALANGAN KELUARGA DAN MASYARAKAT

    Full text link
    This article is motivated by the argument that in the family environment and plural communities occur calling or greeting children with labeling languages, such as children with bau kencur (Indonesian: smells like kaempferia galangal), bodoh (stupid kids), gemuk (fat children), anak ingusan (snot-nosed kids). Whereas the psychological study expresses that there are impacts on growth and development of children. Therefore, in this article it is concluded that, in the social life environment, labeling is something that is considered natural, because the community has already given a labeling to a person, by not considering and understanding the psychological and intellectual conditions of the person concerned. The use of labeling language for children in the family and community is considered normal, but behind that habit it is not denied that there is an adverse impact on the child's growth and psychological development. The effects of labeling include disturbing self-confidence, decreasing social skills in the community, loss of self-confidence, and weakening of the soft skills possessed by children. [Artikel ini dilatarbelakangi oleh argumentasi bahwa di lingkungan keluarga dan masyarakat jamak terjadi memanggil atau menyapa anak-anak dengan bahasa pelabelan, seperti, anak bau kencur, anak bodoh, anak gemuk, anak ingusan. Padahal secara kajian psikologis ungkapan-ungkpan tersebut berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak. Oleh sebab itu, dalam artikel ini disimpulkan bahwa, dalam lingkungan kehidupan sosial masyarat, labeling merupakan sesuatu yang dianggap wajar, karena masyarakat sudah jamak memberikan pelabelan pada seseorang, dengan tidak mempertimbangkan dan memahami keadaan psikologis dan intlektual orang yang bersangkutan. Penggunaan bahasa pelabelan bagi anak di kalangan keluarga dan masyarakat sudah dianggap biasa, namun dibalik keterbiasaan itu tidak dimungkiri terdapat dampak yang kurang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak. Dampak-dampak yang ditimbulkan dari pelabelan di antaranya, mengusik kepercayaan diri, menurunnya keterampilan bersosialisasi di lingkungan masyarakat, hilangnya kepercayaan diri, dan melemahnya sof skill yang dimiliki oleh anak]

    BAHASA DAN GENDER DALAM MASYARAKAT MELAYU DI PEDALAMAN KALBAR

    Full text link
    Observers often consider that the Malay society lack of attention to aspects of gender. They use German, English, Francis, or Arabic, as comparisons. This article is presented to illustrate how gender aspects are considered in Malay language and society. The data are collected from Malay speakers in the rural area of Kapuas Hulu, West Kalimantan, shows that gender aspects are actually present in the language and culture of society. The community knows the concept or words of the pemali to maintain deviant behavior among women and men. Language-speaking communities also have vocabulary to show the division of tasks between women and men, and are reinforced by distinctive narratives found in folklore. These data show that gender aspects are actually felt and important in Malay language and society, especially Malay communities. [Para pemerhati sering menganggap masyarakat Melayu kurang memberikan perhatian pada aspek gender. Mereka menggunakan bahasa Jerman, Inggris, Francis, atau Arab, sebagai pembandingnya. Artikel ini disajikan untuk menggambarkan bagaimana aspek gender diperhatikan dalam bahasa dan masyarakat Melayu. Data yang dikumpulkan dari penutur bahasa Melayu di pedalaman Kapuas Hulu, Kalbar, menunjukkan bahwa aspek gender sebenarnya hadir dalam bahasa dan budaya masyarakat. Masyarakat mengenal konsep atau kata-kata pemali untuk menjaga prilaku menyimpang dari kalangan perempuan dan lelaki. Masyarakat penutur bahasa juga memiliki kosa kata untuk menunjukkan adanya pembagian tugas perempuan dan lelaki, serta diperkuat dengan narasi yang distingtif terdapat dalam cerita rakyat. Data ini menunjukkan bahwa aspek gender sebenarnya dirasakan dan penting dalam bahasa dan masyarakat Melayu, terutama masyarakat Melayu di pedalaman Kapuas Hulu, di Kalimantan Barat]

    Fenomena Pekerja Anak pada Perkebunan Kelapa Sawit di Wilayah Perbatasan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat

    Full text link
    A child has become a significant object to face many problems, especially social problems which often rise along with the development of this country. The children workers being a problem in Indonesia which is caused by the expanding of industrial markets such as palm oil industry. Moreover, a large number of palm oil plantation in some areas could reach the border is as well. In Sambas regency, for instance, there are so many palm oil industries that entangle children as workers. This research, furthermore, aims to explore and describe the children workers phenomenon in Sambas, West Kalimantan, through the qualitative and quantitative method of the literature study

    REBT: KONSELING KELOMPOK BAGI NARAPIDANA REMAJA TINDAKAN PENCURIAN DI LPKA SUI. RAYA

    Full text link
    This research is motivated by the increasing number of adolescent inmates each year. Various types of juvenile crime. One of the criminal acts that is held by inmates in LPKA Sungai Raya is the crime of theft. There is no counseling assistance for theft inmates at LPKA Sui. Raya The purpose of this study was to determine the background of adolescent inmates committing theft and counseling assistance provided for adolescent inmates. The research method uses a descriptive qualitative approach and action research in guidance and counseling. This study concludes that the background of convicted persons committing theft is 1) lifestyle; 2) friend invitation; 3) the influence of drugs and alcoholic drinks; and 4) looking for parents' attention. REBT group counseling for juvenile inmates is carried out in 3 sessions with stages per session: 1) Establishment; 2) Transition; 3) Activities; 4) Enlightenment; 5) Closing; 6) Evaluation. The implementation of REBT group counseling can help prisoners slowly change their way of thinking and behavior. Each prisoner is asked to be free to share his problem, and asked to play a role as his role when they are later in the community. Appear enthusiastic and proactive from group counseling members. They are all determined to rearrange their lives for the better. Key words: Prisoners, teenager, theft Penelitian ini dilatar belakangi pada jumlah narapidana remaja yang tiap tahun meningkat. Tindakan kriminal remaja yang berneka ragam. Salah satu tindakan kriminal yang ada pada narapidana di LPKA Sungai Raya adalah tindak pidana pencurian. Belum adanya bantuan konseling bagi narapidana tindak pencurian di LPKA Sui. Raya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang narapidana remaja melakukan tindakan pencurian dan bantuan konseling yang diberikan untuk narapidana remaja. Metode peneltian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan penelitian tindakan dalam bimbingan dan konseling. Penelitian ini menyimpulkan bahwa latar belakang narapidana melakukan tindak pencurian adalah 1) gaya hidup; 2) ajakan teman; 3) pengaruh narkoba dan minuman berakohol; dan 4) mencari perhatian orang tua. Konseling kelompok REBT pada narapidana remaja dilakukan pada 3 sesi dengan tahapan per sesi:1) Pembentukan; 2) Peralihan; 3) Kegiatan; 4) Pencerahan; 5) Penutup; 6) Evaluasi. Pelaksanaan konseling kelompok REBT dapat membantu secara perlahan narapidana mengubah cara pikir dan tingkah laku. Tiap narapidana diminta bebas menyampaikan permasalahannya, dan diminta bermain peran sebagai perannya ketika mereka nanti berada di masyarakat. Tampak antusias dan proaktif dari anggota konseling kelompok. Mereka semua bertekad untuk menata ulang hidup mereka menjadi lebih baik. Kata kunci: Narapidana_remaja, Tindakan_pencuria

    Pekerja Anak dan Solusi dari Sudut Pandang Syariat

    Full text link
    The emergence of child labor for various reasons, such as economic, motivation and cultural influences. In addition, children choose, are asked, even to work with classical reasons such as addressing the problem of poverty, the encouragement of the family itself and the environmental influences that have made the children choose to work. The impact of working at an early age greatly endangers the development of children. Dangerous things that could arise and should be accepted children who work together with health, safety, moral and psychological development of children. Because working with long working hours, and low wages, and frequent exploitation because children do not have the opportunity to enjoy education, affection from parents, and playing to enjoy childhood. The concept of maqashid al-Shari'ah is handed down from five things: the strengthening of the religion (ad-din) of the child, the soul (an-naf), the child of reason (al-aql), the offspring (an-nas) malls) for children. If we are especially Muslims back on these five things, then pekeja children of course with many things will be reduced, even abolished. Although child labor can help the family, for the sake of survival, this must continue to remember madaratnya greater than maslahatnya

    KAJIAN SOSIOLOGIS TENTANG EKSISTENSI PEREMPUAN DI TEPI SUNGAI KAPUAS, PONTIANAK – KALIMANTAN BARAT

    Full text link
    The writing of this article aims to reveal the existence of women on the banks of the Kapuas River, in the Pontianak area and its surroundings. This article is used is a qualitative method with a sociological approach. Based on the results of a study conducted by researchers, some interesting findings were obtained, including: 1) from the economic aspects of the community on the banks of the Kapuas River they always rely their lives on the natural resources of the Kapuas river; 2) from the aspect of gender, previously women were not justified and considered taboo to play a role in the public domain, they only served in domicile regions, now women have played a role and acted more freely in the public domain; and, 3) the continuation of the public role, the facts show that not a few women on the edge of the Kapuas River have shown achievements in all aspects of life, both social, economic, political, etc. [Penulisan artikel ini bertujuan untuk mengungkap tentang eksistensi perempuan di tepi sungai Kapuas, di wilayah Pontianak dan sekitarnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan sosiologis. Berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh beberapa temuan menarik, antara lain: 1) dari aspek ekonomi masyarakat pinggir Sungai Kapuas selalu menyandarkan kehidupan mereka pada sumber daya alam sungai Kapuas; 2) dari aspek gender, dahulu perempuan tidak dibenarkan dan dianggap tabu berperan dalam domain publik, mereka hanya bertugas dalam wilayah domistik, saat ini perempuan telah berperan dan berkiprah lebih leluasa dalam wilayah publik; dan, 3) kelanjutan dari peran publik itu, fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit perempuan pinggir Sungai Kapuas yang telah menunjukkan prestasi dalam segala aspek kehidupan baik sosial, ekonomi, politik dan sebagainya]

    ADOPSI ANAK DALAM HUKUM ISLAM

    Full text link
    Adoption of children is one of the methods taken for husband and wife who have no offspring in their marriage. In its development, adoption must be carried out based on applicable legal provisions, in this case in accordance with the religion of prospective adoptive parents (Muslim is in the Religious Courts and other religions are in the District Court. Adoption, in principle is done as a provocation that can later be blessed with children. In Islamic law, adopted children are not prohibited as long as it involves maintaining, educating and nurturing them, but is not known if connected or associated with his legal position. [Pengangkatan anak (adopsi) merupakan salah satu cara yang ditempuh bagi suami isteri yang belum memiliki keturunan di dalam perkawinannya. Pengangkatan anak (adopsi) haruslah dilakukan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, dalam hal ini sesuai dengan agama calon orang tua angkat dalam hal ini bagi yang beragama Islam dilakukan di Pengadilan Agama dan bagi yang beragama selain Islam dilakukan di Pengadilan Negeri. Pada prinsipnya pengangkatan anak (adopsi) dilakukan sebagai pancingan agar kelak dapat dikaruniai anak. Dalam hukum Islam, anak angkat itu tidak dilarang sepanjang hal itu menyangkut memelihara, mendidik dan mengasuhnya, akan tetapi anak angkat itu tidak dikenal bila dihubungkan atau dikaitkan dengan kedudukan hukumnya

    AISYAH SEBAGAI FIGUR EMANSIPASI PEREMPUAN DUNIA

    Full text link
    Humans are naturally born with a unique identity difference between one self and another. This difference also includes differences in inner spirit and physical form attached to humans which are then classified into the sexes of men and women, as evidence of the greatness of the Creator in realizing His creation of the universe. This difference was not originally to dominate the roles and positions of one another, but rather to complement each other, to share love and so that they both felt at ease. However, the journey of humanity's life in conquering nature and fighting each other in seizing the glory, changing the dominance of roles and positions between men and women. The physical weaknesses of women then deprived them of their rights, so that in the future, women's emancipation is born, a movement to obtain gender justice and equality between men's and women's rights. Among women emancipation figures, Aisyah is a figure that can not only be seen from the religious and spiritual side, but also from various other sides such as politics, economics, and education. Aisha can be said to be the foundation of gender justice and women's emancipation in the world. It is a reflection that the ideal of women's success is not only due to their achievement of happiness in the world, but also the hereafter. Keywords: Aisha, Emancipation and Women Manusia secara kodrati lahir dengan perbedaan identitas yang unik antara diri yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini juga mencakup perbedaan atas spirit bathiniah dan bentuk fisik yang melekat pada manusia yang kemudian digolongkan atas jenis kelamin laki-laki dan perempuan, sebagai bukti kebesaran sang Pencipta dalam mewujudkan kreasi-Nya atas alam semesta. Perbedaan ini pada awalnya bukanlah untuk saling mendominasi peran dan kedudukan antara satu dengan yang lain, melainkan untuk saling melengkapi, saling berbagi kasih sayang dan agar keduanya cenderung merasa tentram. Namun, perjalanan hidup umat manusia dalam menaklukan alam serta saling brtempur dalam merebut kejayaan, merubah dominasi peran dan kedudukan antara laki-laki dan perempuan. Kelemahan perempuan secara fisik kemudian menjadikan hak-hak atas mereka dirampas, sehingga dikemudian hari melahirkan emansipasi perempuan yaitu suatu gerakan untuk memperoleh keadilan gender dan kesetaraan antara hak laki-laki dan perempuan. Diantara tokoh emansipasi perempuan, Aisyah merupakan figur yang tidak hanya dapat dilihat dari sisi religius dan spiritual, namun juga dari berbagai sisi lainnya seperti politik, ekonomi, dan pendidikan. Aisyah dapat dikatakan sebagai peletak dasar keadilan gender dan emansipasi perempuan di dunia. Ia merupakan cerminan bahwa kesuksesan perempuan yang ideal bukan hanya sekedar atas pencapaian mereka akan kebahagian di dunia, melainkan juga akhirat. Kata Kunci: Aisyah, Emansipasi dan Perempua

    122

    full texts

    128

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Raheema
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇