128 research outputs found

    KORELASI ANTARA PENERIMAAN DIRI DAN DEPRESI PADA KOMUNITAS LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender)

    Full text link
    Background: Self-acceptance is the state of a person who understands his or her own weaknesses and strengths, has accepted all of their own characteristics, and is willing to live with them. Individuals who do not have good self-acceptance will find it difficult to control their emotions and can cause various emotional difficulties such as anger and depression. Depression is a prolonged emotional disorder characterized by sadness, moodiness, feelings of lack of enthusiasm in carrying out daily activities, and feelings of guilt. Depression is often associated with a state of low self-acceptance. Depression is usually experienced by deviant sexual orientation groups such as lesbians, gays, bisexuals, and transgender or transsexuals (LGBT). Aim: This study aims to determine the correlation between self-acceptance and depression in the LGBT community. Method: Observational-analytical research design with a cross-sectional approach and the snowball sampling method with up to 94 members of the LGBT community in one of West Kalimantan District as research subjects. The statistical test used is the Spearman correlation test. Results: There were 94 respondents, consisting of men (95.7%) and women (4.3%), with an age range of 18–52 years. Respondents had the sexual orientations of lesbian (4.3%), gay (42.6%), bisexual (6.4%), and transgender (46.8%). After being tested with Spearman correlation test, the p value = 0,567, which means that there is no correlation between self-acceptance and depression. The correlation coefficient value is 0,060 which indicates the correlation between the two variables is in the same direction because it is positive but there is almost no correlation

    Peran Anak dalam Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga pada Masyarakat Jawai Selatan, Sambas

    Full text link
    ABSTRACT Tulisan ini mendeskripsikan peran anak dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Peran anak yang dimaksud ialah bagaimana anak berperan tidak sebagai peran anak secara umum, yang mana anak menggantikan peran orang tua dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif terhadap peran anak dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sample yang digunakan ialah anak-anak di Kecamatan Jawai Selatan, Sambas yang memilih tidak melanjutkan pendidikan agar bisa bekerja ke negeri tetangga demi meningkatkan taraf kesejahteraan pada keluarga. Hasil penelitian menggambarkan bahwa 1). Anak lebih memilih berhenti sekolah karena tidak adanya biaya pendidikan 2). Orang tua mendukung, selama anak baik-baik saja di negeri Jiran 3). Sebagian orang tua dan anak berpendapat, meningkatkan kesejahteraan keluarga tidak hanya dengan cara mempunyai pendidikan tinggi. Keyword : Peran Anak, Kesejahteraan, Keluarga

    PEREMPUAN DALAM TRADISI LAMARAN BUDAYA MELAYU-BUGIS DI PUNGGUR KECIL, KUBU RAYA, KALIMANTAN BARAT

    Full text link
    ABSTRAK Perempuan selama ini sering dikaitkan dengan kasur, sumur dan dapur. Padahal, mereka juga berperan dalam kehidupan masyarakat dan budaya komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dari sisi budaya komunitas. Penelitian dilakukan terhadap budaya lamaran pada masyarakat Melayu-Bugis di Desa Punggur Kecil Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi, kemudian data diolah dan digambarkan sebagaimana adanya. Hasil penelitian menggambarkan bahwa: (1) Orang Melayu-Bugis memaknai lamaran sebagai suatu adat kebudayaan dalam menghormati perempuan dan keluarga. (2) Adapun proses dalam lamaran, yakni; (a) adat sekapur sirih sebagai pembuka kata dan penentuan penerimaan lamaran; (b) naek pengikat sebagai simbol perempuan telah memiliki ikatan pertunangan dengan laki-laki; (c) penentuan uang asap (uang dapur); (d) pembacaan doa selamat (3) hakikat perempuan dalam pandangan Melayu-Bugis di Desa Punggur Kecil, yakni; (a) perempuan beharga, (b) perempuan adalah pendamping laki-laki, (c) perempuan memiliki ruang untuk berpendidikan tinggi dan bekerja sebagaimana laki-laki. Kata kunci: Perempuan, Lamaran, Melayu-Bugis

    Subjective Well Being Pada Mahasiswi Tunanetra

    Full text link
    Mahasiswi difabel tunanetra tidak hanya mengalami hambatan dalam proses penglihatan namun juga memiliki problematika dalam proses perkuliahan dan maupun kehidupan sosial diantaranya permasalahan aksesbilitas, hubungan sosial, komunikasi, kesulitan dalam proses perkuliahan dan pandangan masyarakat sekitar. Hal ini mempengaruhi kondisi psikologis pada individu terutama pada mahasiswi, hal ini terjadi karena perempuan memiliki kerentanan genetik, perubahan hormon yang signifikan, kecenderungan memikirkan sesuatu hal secara berlebihan, dan tekanan dari sisi sosiobudaya. Keselarasan antara proses studi dan penerimaan diri dengan keterbatasan penglihatan menjadi tujuan utama yang terus dipertahankan dan dicapai oleh mahasiswi tunanetra, ditambah dengan berbagai tekanan dan problematika dalam menyelesaikan pendidikan, akan menjadi tantangan dan tekanan tersendiri bagi mahasiswi difabel netra yang dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif diri individu (Subjective Well Being). Tujuan artikel ini ialah untuk mengetahui Subjective Well Being pada mahasiswi tunanetra dan faktor yang memepengaruhi Subjective Well Being pada mahasiswi tunanetra. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus. Partisipan dalam penelitian ini ialah tiga mahasiswi penyandang tunanetra dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswi tunanetra memiliki Subjective Well Being yang ditinjau dari dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, pertumbuhan diri, otonomi, penguasaan lingkungan, dan hubungan positif dengan orang lain. Kata Kunci : Subjective Well Being, Tunanetr

    BERPOLIGAMI DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN ULAMA

    Full text link
    Poligami adalah perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang istri dalam waktu yang bersamaan. Lawan dari poligami adalah monogami. Dalam perspektif hukum Islam, poligami dibatasi sampai maksimal empat orang isteri. Ada dua ayat pokok yang dapat dijadikan acuan dilakukannya poligami, yakni QS. al-Nisa’ (4): 3 dan QS. al-Nisa’ (4): 129. Poligami sudah berjalan seiring perjalanan sejarah umat manusia, sehingga poligami bukanlah suatu trend baru yang muncul tiba-tiba saja. Para ulama berbeda pendapat mengenai ketentuan dan hukum poligami. Di antara mereka ada yang menyetujui poligami dengan persyaratan yang agak longgar dan ada yang mempersyaratkannya dengan ketat. Di antara mereka juga ada yang melarang poligami, kecuali karena terpaksa (sebagai rukhshah) dalam kondisi-kondisi tertentu. Yang pasti hukum Islam tidak melarang poligami secara mutlak (haram) dan juga tidak menganjurkan secara mutlak (wajib). Hukum Islam mengatur masalah poligami bagi orang-orang yang memang memenuhi syarat untuk melakukannya. Pelaksanaan poligami, menurut hukum Islam, harus didasari oleh terpenuhinya keadilan dan kemaslahatan di antara pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Namun, kenyataannya banyak praktik poligami yang tidak mengindahkan ketentuan hukum Islam tersebut, sehingga masih jauh dari yang diharapkan

    Keaktifan Mahasiswi Selama Kuliah Daring

    Full text link
    The outbreak of Coronavirus throughout the earth has shaken up all aspects of life, including the world of Education. By quick and appropriate steps, the government finally made a policy to implement online learning. This article used a mixed-method with a phenomenological approach. The study objects were 240 students of IAIN Tulungagung. The results showed that there are significant differences between male and female students in running the online-class learning activities. This is proven by various indicators such as First, female students are more active in contributing to discussions; Second, female students are more creative and better in completing the assignments as well as mastering the materials; Third, female students are more explorative in finding references throughout the internet. The increasing number of women in the world of Education as well as their quality may provide positive energy toward the development of the nation

    MEMAKSIMALKAN PERAN ORANG TUA DALAM PEMBELAJARAN JARAK JAUH (STUDI ANALISIS MENGATASI KEJENUHAN BELAJAR PADA ANAK JENJANG PENDIDIKAN DASAR)

    Full text link
    The purpose of this article is to describe and analyze the maximal role of parents in distance learning related to the learning saturation of elementary school children at SDN Tanggul Wetan 2, of which the implementation is due to the emergency period of Corona Virus disease (Covid-19) which hit Indonesia today that has an impact on all learning activities in the school is diverted with distance learning from their homes. The writing of this article is based on a mini-research on maximizing the role of parents in overcoming the saturation of learning the basic child education level at SDN Tanggul Wetan 2, Jember. related to the implementation of distance learning. The study used a qualitative approach using the type of analysis study design. This study uses interview data collection techniques and document studies. Validity of data using credibility. Then analyzed critically by using theories about parental roles and children learning saturation. Results of the study: first, the role of parents in distance learning is as ' a substitute for school teachers ', facilitators and motivators. Second, the learning saturation factors in the child of SDN Tanggul Wetan 2: Lack of communication with peers, methods, places and a monotonous learning atmosphere, lack of activity outdoors, mental tension while learning. Third, to overcome child learning saturation during distance learning, parents maximize their role as: (1) Educators, ' teacher substitutes ', by: accompanying the children while studying, guiding and directing to prepare for learning activities, praying together before and after learning, evaluating children's assignments before being sent to school teachers, playing together, acting as peers, (2) facilitators by: Providing mobile phones, books, computer/laptop for parents who are financially able to, change the physical study room, invite children to study in another room, home porch, occasionally invite children to wear school uniforms while studying, providing Internet access, providing a television-based learning media (TVRI), (3) motivator, by the way: encouraging the tasks of the school, giving praise to the children after successfully working on the tasks of the school teacher, giving the award, invite the child to always pray that the disaster is soon passed and can study in the school as usual

    PANDANGAN KIAI PESANTREN TERHADAP KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM ISLAM (Telaah Hermeneutis terhadap Pemikiran Tafsir Kiai Misbah Mustafa)

    Full text link
    Abstract The position of women is an interesting topic. In Islamic history, several perspectives view and place women differently. There are still many who state that women's roles are limited to the home, the main task of a woman is to look after her husband and children or take care of the household. In addition to the teachings of Islam, religion interprets women today by facing great challenges, especially in Indonesia. So far, women are looked down on according to Islamic law. Yet according to the Koran, humans as caliphs on earth (consisting of men and women) have an equal element of humanity. This study draws on the thoughts of Kiai Misbah Mustafa about the position of women who are a kiai in an al-Balagh boarding school, Tuban. Kiai Misbah Mustafa also wrote a book that discusses specifically women apart from interpretations of his work, both of which will be carefully examined here. The results that the authors get from this study are, first, the author focuses on several problems in examining the position of women according to the kiai of Misbah Mustafa, namely polygamy, divorce, and inheritance. The author finds that Kiai Misbah Mustafa's thought in polygamy does not indicate that women and men get the same rights. Where Kiai Misbah Mustafa always talks about her husband's rights that are not fulfilled because of being corrupted by his wife every month. It is different from the opinion of Kiai Misbah Mustafa in divorce and the distribution of inheritance. The author agrees that the rights and obligations between husband and wife are balanced. Secondly, the implications of the thought of Kiai Misbah Mustafa in his interpretation book, Tafīsr Tᾱj al-Muslimīn Min Kalᾱmi Rabb al-īlamīn, al-Iklīl Fī Ma'ᾱnī at-Tanzīl, and to some extent helped the community in understanding the religion of Islam. Keywords: Position of Women, Kiai Misbah Mustafa Abstrak Kedudukan perempuan merupakan salah satu topik yang menarik. Dalam sejarah Islam terdapat beberapa perspektif yang memandang dan menempatkan perempuan secara berbeda. Masih banyak yang menyatakan bahwa peranan perempuan dibatasi di rumah saja, tugas utama seorang perempuan yaitu menjaga suami dan anak-anaknya atau mengurusi rumah tangga. Selain ajaran Islam agama menafsirkan tentang perempuan yang ada sekarang ini dengan menghadapi tantangan besar, khususnya di Indonesia. Selama ini perempuan dipandang rendah menurut hukum Islam. Padahal menurut Alquran, manusia sebagai khalifah di bumi (terdiri dari laki-laki dan perempuan) mempunyai unsur kemanusiaan yang setara. Penelitian ini mengambil pemikiran dari Kiai Misbah Mustafa tentang kedudukan perempuan yang merupakan seorang kiai di sebuah pondok pesantren al-Balagh, Tuban. Kiai Misbah Mustafa juga menulis kitab yang membahas khusus mengeni perempuan selain dari tafsir karyanya sendiri yang keduanya akan penulis teliti disini. Hasil yang penulis dapatkan dari penelitian ini yaitu, pertama, penulis fokuskan pada beberapa masalah dalam mengkaji kedudukan perempuan menurut kiai Misbah Mustafa, yaitu poligami, talak dan pembagian waris. Penulis menemukan bahwa pemikiran Kiai Misbah Mustafa dalam pologami tidaklah menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki mendapatkan hak yang sama. Dimana Kiai Misbah Mustafa selalu membicrakan masalah hak suami yang tidak dipenuhi karena dikorupsi oleh istri setiap bulannya. Berbeda dengan pendapat Kiai Misbah Mustafa dalam talak dan pembagian harta waris. Penulis sepakat, bahwa hak dan kewajiban antara suami dan istri berimbang. Kedua, implikasi dari pemikiran Kiai Misbah Mustafa dalam kitab tafsirnya yaitu Tafīsr Tᾱj al-Muslimīn Min Kalᾱmi Rabb al-‘Ālamīn, al-Iklīl Fī Ma’ᾱnī at-Tanzīl, dan sedikit banyaknya telah membantu masyarakat dalam memahami agama Islam. Kata Kunci: Kedudukan Perempuan, Kiai Misbah Mustaf

    PERAN PEREMPUAN DALAM UPAYA BELA NEGARA MENGHADAPI PANDEMI COVID-19

    Full text link
    The Covid-19 pandemic is one of the threats to defending the life of the Indonesian nation and state. In facing all forms of disturbing threats, the Indonesian nation adheres to a universal people's defense and security system, so efforts to defend the nation to defend the nation from various existing threats are the obligation and responsibility of the entire Indonesian nation including women. This study aims to analyze the role of women in efforts to defend the country against the COVID-19 pandemic. This research uses qualitative methods with a literature study approach. The results of the study show that women's involvement in efforts to defend the state in Indonesia has existed since colonialism and the war against colonialism. The role of women in efforts to defend the country against the Covid-19 pandemic is realized through the five basic values of defending the country, namely: love for the motherland, awareness of nation and state, belief in Pancasila as the state ideology, willingness to sacrifice for the nation and state, and possessing the initial ability to defend the country

    Konstruksi Gender Dalam Tafsir Marah Labid Karya Imam Nawawi Al-Bantani

    Full text link
    This article discusses gender construction in the Marah Labid by Sheikh Nawawi al-Bantani al-Jawi. In addition, it also discusses how the correlation between culture and society in which Nawawi al-Bantani lives with the product of interpretation is produced, so that it can be seen clearly the logical reasons and historical influences of Nawawi in interpreting the Qur'an. Then at the end, the interpretation of gender bias - if any - that can lead to injustice and discrimination will be eliminated. This study is interesting to do, because no one has examined gender construction in this book which is actually produced by the Indonesian Scholar and used as one of the sources of learning of Islamic teachings in Indonesia

    122

    full texts

    128

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Raheema
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇