Jurnal POETIKA
Not a member yet
187 research outputs found
Sort by
ANTARA ZAINICHI DAN PACHINKO: REPRESENTASI ZAINICHI KOREA DALAM NOVEL PACHINKO KARYA MIN JIN LEE
Penelitian ini membahas representasi zainichi Korea dalam novel Pachinko karya Min Jin Lee. Terdapat beberapa kategori dari zainichi Korea dalam masyarakat Jepang, yaitu pluralis, nasionalis, individualis, dan asimilasionis. Generasi pertama dalam novel ini mendapatkan perlakuan tidak setara akibat etnis mereka yang menyebabkan mereka harus hidup di kawasan kumuh. Generasi kedua direpresentasikan oleh dua tokoh yang saling berkebalikan. Tokoh Noa memiliki keinginan untuk menjadi seorang “Jepang” yang pada akhirnya memilih jalan naturalisasi. Melalui jalan naturalisasi tokoh ini dapat dianggap sebagai seorang asimilasionis yang meninggalkan identitas etnisnya dan hidup sebagai seorang warga Jepang untuk mendapatkan status sosial yang setara. Tokoh Mozasu memiliki kecenderungan berkebalikan dengan Noa karena ia tidak memilih jalan naturalisasi dan tetap mempertahankan identitas aslinya sebagai orang Korea. Generasi ketiga masih mendapat ketidakpastian identitas meskipun mereka lahir dan besar di Jepang. Dengan pendidikan yang Solomon dapatkan, ia masih tetap dipandang sebelah mata dan masih dianggap tidak berada di posisi yang setara dengan orang Jepang. Bisnis pachinko yang selalu diasosiasikan dengan pendatang Korea adalah bisnis, yang ditekuni oleh masing-masing tokoh generasi kedua bahkan ketiga, menunjukkan bahwa status zainichi Korea tidak akan semudah itu berubah dan mereka akan tetap berada dalam posisi marjinal yang dipandang sebelah mata. Kata kunci: pachinko, zainichi, krisis identitas, Korea, Jepang This study discusses the representation of Korean zainichi in Pachinko novel by Min Jin Lee. There are several categories of Korean zainichi amongst Japanese society, which are pluralist, nationalist, individualist, and assimilationist. The first generation in this novel is treated unfairly because of their ethnicity which makes them live in slum area. The second generation is represented by two contradictive characters. The first character, Noa, wants to be Japanese, which leads him to choose the path of naturalization. Through naturalization, this character is regarded as an assimilationist who ignores his ethnic identity and lives as a Japanese citizen to obtain equal social status. Meanwhile, the second character, Mozasu has the opposite tendency of Noa’s. He does not choose the path of naturalization and tends to maintain his true identity as a Korean. The third generation is left uncertain about their identity, although they were born and grow up in Japan. With his background education, Solomon as a third-generation is still underestimated and considered unequal to Japanese people. The pachinko business, which is always being associated with Korean migrants, is a business occupied by each of the second and third generation characters, showing that the status of Korean zainichi will not change easily, and they will remain in marginal position and being underestimated. Keywords: pachinko, zainichi, identitiy crisis, Korea, Japan
JEJAK DIASPORA DAN NARASI KEHIDUPAN PICTURE BRIDES DALAM NOVEL THE BUDDHA IN THE ATTIC KARYA JULIE OTSUKA
Amerika Serikat yang dikenal sebagai negeri para imigran telah menarik jutaan imigran yang bermimpi untuk memiliki masa depan cerah ke pesisir negaranya. Sebagai negeri para imigran, pengalaman diaspora para imigran di Amerika sejatinya merupakan topik yang telah banyak dieksplorasi dalam dunia kesusastraan. Akan tetapi, sedikit sekali yang berbicara mengenai diaspora warga Jepang di Amerika. Sebagai sebuah awalan, studi ini menguraikan pengalaman diaspora para perempuan Jepang yang mengadu nasib di daratan Amerika sebagai picture brides dalam novel The Buddha in the Attic karya Julie Otsuka. Tidak hanya berbicara mengenai kehidupan picture brides di Amerika, The Buddha in the Attic juga menceritakan pengalaman imigran Jepang pada masa Perang Dunia II yang berujung pada kamp-kamp konsentrasi. Untuk menguraikan permasalahan tersebut, studi ini menerapkan teori Historical Poetics yang diprakarsai oleh Alan Swingewood untuk memperoleh hasil analisis yang rigid. Dikemas dengan subjek orang pertama jamak (first person plural), Julie Otsuka menciptakan sebuah narasi tentang kehidupan para picture brides dan imigran Jepang secara kolektif. Tindakan yang dilakukan sang penulis ini, disinyalir sebagai bentuk post-memory-nya sebagai generasi ketiga imigran Jepang (sansei) di Amerika. Kata kunci: diaspora, narasi, historical poetics, picture brides, post-memory United States of America which is acknowledged as the land of immigrants has lured millions of those who seek for a bright future to its coast. As the land of immigrants, diaporic phenomenon in America has been explored extensively in literary world. However, a very few number has yet to conduct a study on Japanese diasporic phenomenon in America. To begin with, this study attempts to describe the diaporic phenomenon of Japanese women who came to America as picture brides in Julie Otsuka’s The Buddha in the Attic. Not only narrating the the story of picture brides in America, The Buddha in the Attic also tells the story of Japanese migrants who ended up in concentracion camps during the Word War II period. To solve the problem aforementioned, this study applies Alan Swingewood’s Historical Poetics to get adequate results. As the novel is written in first person plural prounoun, Julie Otsuka is said to create narratives on Japanese picture brides and Japanese migrants collectively. What the author does is assumed as the post-memory of being the third generation of Japanese migrants (sansei) in America. Keywords: diaspora, narratives, historical poetics, picture brides, post-memory
REPRESENTASI NILAI RELIGI DAN KEPENGARANGAN PUISI-PUISI KARYA TAUFIK ISMAIL
Penelitian ini memaparkan representasi nilai religi dalam setiap bait-bait puisi karya Taufik Ismail. Puisi yang bernilai religius dapat digunakan untuk menyadarkan masyarakat (pembaca) untuk selalu bersyukur pada Tuhan Sang Penguasa. Kumpulan puisi Debu di Atas Debu: Kumpulan Puisi Dwi-Bahasa karya Taufik Ismail merupakan catatan-catatan emosional zaman dengan gejolak politik dan sikap bangsa Indonesia. Jenis penelitian ini berupa kualitatif dengan metode analisis isi (content analysis) serta pendekatan sosiologi sastra. Hal ini bertujuan untuk mendeskripsikan kepengarangan Taufik yang terdapat pada representasi nilai religi di setiap bait-bait puisi. Melalui seni pedalangan ketika Taufik bermukim di Yogyakarta dan seni bakaba ketika Taufik pindah ke Bukittinggi yang merupakan bentuk gaya kepengaranan seorang penyair yang dipengaruhi kebudayaan lokal, Taufik ingin menyentuh perasaan pembaca akan representasi nilai religius untuk membentuk karakter bangsa.Kata Kunci: representasi; nilai; religi; kepengarangan; puisi This study describes the representation of religious values in each poetic verse by Taufik Ismail. Religious poetry can be used to make people (readers) aware to always be grateful to God the Lord. A collection of Debu di Atas Debu: Kumpulan Puisi Dwi-Bahasa by Taufik Ismail is an emotional record of the times with political turmoil and the attitude of the Indonesian people. This type of research is qualitative with the method of content analysis and the sociological approach of literature. This is aimed at describing Taufik's authorship in the representation of religious values in each verse of poetry. Through the art of puppetry when Taufik settled in Yogyakarta and bakaba art when Taufik moved to Bukittinggi which was a form of the poet's sound style influenced by local culture, Taufik wanted to touch the readers' feelings about the representation of religious values to shape the nation's character.Keywords: representation; values; religion; authorship; poetry
ETNOSENTRISME DALAM TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK KARYA HAMKA DALAM PERSPEKTIF STRUKTURASI GIDDENS
Sebagai makhluk sosial, manusia saling berinteraksi dengan gugus pengetahuan dan pengalaman berbeda satu sama lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis etnosentrisme dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka dengan perspektif Strukturasi Giddens. Strukturasi menolak pandangan dualisme dengan menekankan dualitas agen dan struktur. Setiap agen bertindak berdasarkan skemata atau struktur dalam ruang dan waktu tertentu. Selanjutnya, aktivitas sosial para agen tersebut memengaruhi struktur itu kembali. Dalam konteks sastra, agen merujuk pada penulis dan tokoh-tokoh yang ada di dalam karya sastra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gejala etnosentrisme melalui tindakan para tokoh dalam novel merupakan manifestasi struktur penulis. Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan sarana komunikasi Hamka selaku agen yang dimotivasi oleh keinginan akan perbaikan dan perubahan terhadap struktur budaya Minangkabau. Karya ini juga mampu mengubah sistem sosial yang membentuk struktur etnosentrisme Hamka.Kata Kunci: Strukturasi; Agen; Struktur; Anthony Giddens; Tenggelamnya Kapal Van der Wijck As social beings, humans interact using a distinct set of knowledge and experiences. This research aims to analyze ethnocentrism in the novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck by Hamka through the perspective of Giddens’ structuration. The theory of structuration rejects the notion of dualism by highlighting the duality of agent and structure. Every agent acts on a schemata or structure in a certain space and time. Furthermore, the agents' social activities conversely affect the structure. In literary context, agents refer to both writer and characters in literary work. The result of this study indicates that the phenomenon of ethnocentrism showed through the actions of the characters in the novel isthe manifestation of the author's structure. The novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck is a media of communication for Hamka as an agent motivated by his desire for improvements and changes in the structure of Minangkabau culture. This work is also able to change social system that actually constructs Hamka ethnocentrism structure.Keywords: Structuration; Agent; Structure; Anthony Giddens; Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.
REVITALISASI IDE BANGSA DALAM CERPEN KǑNG YǏJǏ (孔乙己) (1919) KARYA LU XUN
Karya sastra Cina pada masa Gerakan Kebudayaan Baru tidak dapat dipisahkan dari realitas masyarakatnya. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan sejarah dan sosio-politik untuk memahami sastra Cina secara mendalam. Salah satu penulis yang merekam masa transisi dari pemerintahan Dinasti Qing ke Republik dan dianggap sebagai penggagas sastra Cina modern adalah Lu Xun. Dengan pendekatan sosiologi sastra, tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan revitalisasi gagasan berbangsa yang terdapat dalam cerpen “Kǒng Yǐjǐ” (孔乙己) (1919) karya Lu Xun. Tulisan ini akan melibatkan unsur ekstrinsik, yaitu konteks sosial ketika karya tersebut diproduksi. Namun, tulisan ini juga tetap akan menjelaskan analisis pembacaan dekat (close reading) cerpen tersebut untuk memperdalam analisis. Hasil temuan menunjukkan adanya komitmen pengarang untuk menghidupkan kembali ide bangsa yang lepas dari nilai-nilai lama melaui cerpennya. Pudarnya nilai-nilai lama tersebut direpresentasikan secara simbolis melalui tokoh Kong yang hidup di tengah masyarakat Cina.Kata kunci: Lu Xun; bangsa; revitalisasi Chinese literary works in the time of New Cultural Movement are interrelated with the reality of Chinese society at that time. Therefore, the knowledge upon historical aspect and socio-political circumstances are needed to gain deep understanding of a single literary work. One of distinguished author which represent the transition of Qing Dynasty to Republic Era of China and is regarded as the pioneer of modern Chinese literature is Lu Xun. By elaborating sociological approach, this article aims to observe the revitalization of nation’s idea in “Kǒng Yǐjǐ” (孔乙己) (1919) short story by Lu Xun. This article elaborates extrinsic elements that cover social context on which the work is produced. However, close reading analysis is also applied in order to preserve in-depth analysis. This article finds out that the author, through his work, builds a commitment to revitalize the idea of nation which step over traditional values. The degradation of those traditional values symbolically represented through Kong’s life among Chinese society.Keywords: Lu Xun; nation; revitalization
NASIONALISME DALAM BINGKAI KRITIK SOSIAL: KAJIAN SOSIO-PRAGMATIK TERHADAP PUISI INDONESIA MODERN
Kajian ini bertujuan menemukan bentuk-bentuk kritik sosial yang mengekspresikan nasionalisme dan mengungkapkan relasi antara bentuk-bentuk kritik sosial dan nasionalisme. Puisi sebagai salah satu jenis sastra juga merefleksikan masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat. Puisi tidak dapat dipisahkan dari realitas sosial. Respons penyair terhadap realitas sosial yang mengandung ketimpangan, ketidakadilan, dan permasalahan sosial dalam masyarakat disampaikan dalam bentuk kritik sosial yang terefleksi melalui karya-karyanya. Puisi menyatakan kritik sosial yang mengandung nasio-nalisme secara tidak langsung. Dengan demikian, puisi dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi, khususnya sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme. Metode yang dipergunakan dalam kajian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosio-pragmatik. Hasil penelitian ini mengungkapkan adanya bentuk-bentuk kritik sosial yang mengekspresikan nasionalisme, antara lain nasionalisme dalam kritik terhadap masalah ekonomi, politik, pendidikan, moral, dan lingkungan. Relasi antara bentuk-bentuk kritik sosial dan nasionalisme menunjukkan bahwa kritik sosial, baik dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, moral, maupun lingkungan, dipergunakan sebagai media untuk menyampaikan nasionalisme.Kata Kunci: nasionalisme; kritik sosial; sosio-pragmatik; puisi This study discusses finding forms of social criticism that invite nationalism and reveal the relationship between forms of social criticism and nationalism. Poetry as a genre of literature also reflects the social problems. Poetry cannot be removed from social reality. The poet's response to the social reality that contains inequality, injustice, and social conflict is conveyed in the form of social criticism reflected through poetry. Poetry about social criticism contained a sense of nationalism. It gave rise to nationalism in the quotations implicitly. Thus, poetry can be used as an educational medium, specifically as a means to instill nationalism values. The method used in this study is descriptive qualitative using socio-pragmatics approach. The result of this study showed there are poetry contained a form of social criticism that reflect nationalism, including nationalism in criticizing problems of economic problems, politic, education, moral, and environmental. The relation between forms of social criticism and nationalism shows that social criticism, both in the fields of economics, politics, education, morals, and the environment, is used as a medium to convey nationalism. Keywords: nationalism; social critics; socio-pragmatics; poetry
CAPTURING ZEITGEIST ON CYBER LITERATURE: A CASE OF @NKCTHI ON INSTAGRAM
The advancement of technology, particularly the internet, has given cyber literature a prominent public recognition for its wide availability online and it has also acquired a place among the world of literature. Using the concept of zeitgeist proposed by Krause and relating it to the cyber literature on Instagram with the cultural phenomenon that is happening in Indonesia in 2018-2019, this research aims to address these questions: (1) why Instagram becomes the zeitgeist of cyber literature and (2) how Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI) reflects the zeitgeist of cyber literature on Instagram. Other than that, by considering Yongqing, Pignanolli, and Hayles’ works on digital media and cyber literature, this research found that the proliferation of cyber literature does not diminish printed literature. Instead, by investigating the phenomenon of the rising popularity of NKCTHI in Instagram, this research came to what Yongqing has suggested that cyber literature complements printed literature. Keywords: cyber literature, instagram, zeitgeist, NKCTHI Seiring dengan perkembangan teknologi internet, sastra siber yang dapat dengan mudah diakses khalayak ramai secara daring mulai mendapat tempat di dunia kesusastraan. Menggunakan konsep zeitgeist yang dibahas oleh Krause, penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena sastra siber di Instagram dengan mengaitkannya dengan fenomena kultural yang terjadi di Instagram di Indonesia pada periode tahun 2018-2019, untuk menjawab pertanyaan: (1) mengapa Instagram dapat menjadi zeitgeist dari sastra siber dan (2) bagaimana Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI) mewakili zeitgeist dari sastra siber yang ada di Instagram. Selain itu, merujuk pada penelitian yang sudah dilakukan oleh Yongqing, Pignanolli, dan Hayles, hasil penelitian ini menemukan bahwa adanya sastra siber tidak serta merta menghapus keberadaan sastra tradisional dalam bentuk cetak. Alih-alih, seperti yang Yongqing telah paparkan, dengan menyelidiki fenomena populernya NKCTHI di Instagram, penelitian ini berkesimpulan bahwa sastra siber melengkapi sastra tradisional yang telah ada. Kata Kunci: sastra siber, instagram, zeitgeist, NKCTHI
THE SCENT OF SAKE: A FAILURE IN THE EMBODIMENT OF JAPANESE WOMAN IDENTITY TO BE AN AUTHENTIC SUBJECT
Identity is seen as something important to humans in society, as it shows the origin of the self. Sometimes, someone cannot accept the identity that is attached to them, which will lead to the process of forming a new identity. This case also happens to the main character of The Scent of Sake, a novel by Joyce Lebra published in 2009. Rie Omura is not allowed to interfere in the sake making business, so that she tries to change that identity. Thus, this study aims to examine the process of identity formation that occurs in the character of a Japanese woman, represented by Rie. To answer the research problem, this study uses a textual analysis as the research methods. The theory used to assist the analysis is a perspective proposed by Žižek regarding the formation of subject’s identity to achieve the stage of authentic subject. The results show that in her efforts to unbind herself from the symbolic order, she makes attempts to rule the brewer house. However, her action cannot be categorized as a radical action since it cannot bring her out of the Symbolic. It confirms that Rie is failed to be an authentic subject. Keywords: Japanese Woman, Authentic Subject, Žižek, The Scent of Sake Identitas dipandang sebagai sesuatu yang penting bagi manusia yang hidup bermasyarakat karena menunjukkan asal-usul. Terkadang, seseorang tidak dapat menerima identitas yang melekat padanya, yang akan memantik tindakannya menuju pembentukan identitas baru. Hal ini juga terjadi pada karakter utama dalam novel "The Scent of Sake" karya Joyce Lebra yang terbit pada tahun 2009. Rie Omura tidak diizinkan ikut campur dalam bisnis pembuatan sake, sehingga dia mencoba mengubah identitas dan pelabelan tersebut. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pembentukan identitas dalam karakter wanita Jepang, yang direpresentasikan oleh Rie. Untuk menjawab permasalahan penelitian, analisis tekstual digunakan sebagai metode penelitian. Teori yang digunakan untuk membantu analisis adalah perspektif Žižek mengenai pembentukan identitas subjek untuk mencapai tahap subjek autentik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam upayanya untuk melepaskan ikatan dari tatanan simbolis, Rie berupaya untuk berperan penting di perusahaan produksi sake milik keluarganya. Namun, tindakannya tidak dapat dikategorikan sebagai tindakan radikal karena tidak dapat membawanya keluar dari Yang Simbolik. Hal ini mengkonfirmasi bahwa Rie gagal menjadi subjek autentik. Kata Kunci: Perempuan Jepang, Subjek Autentik, Žižek, The Scent of Sake
DEGRADASI PUITIKA DALAM KONTESTASI LITERASI CERITA KKN DI DESA PENARI
Cerita KKN di Desa Penari merupakan sebuah sastra siber yang populer karya Simpleman dengan genre horor. Kepopuleran tersebut tidak terlepas dari strategi puitika dan pengaruh media yang digunakan. Dalam cerita horor KKN di Desa Penari, strategi puitika akan ditinjau dari kepenuhperistiwaan cerita yang membentuk sensitivitas-konteks di dalam teks, sedangkan pengaruh media akan dilihat dari transformasi sastra siber ke sastra cetak yang berimplikasi pada konsekuensi-konsekuensi teks dalam tatanan literasi. Melalui hal tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis strategi puitika sebagai pembangunan eventfulness dan melihat praktik transformasi media yang berimbas pada intensitas puitika. Adapun temuan penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, sebagai cerita horor, KKN di Desa Penari menawarkan beberapa strategi puitika dalam meleburkan paradigma fiksi dan fakta. Hal tersebut dicapai melalui evaluative device, berupa refleksi karakter, repetisi peristiwa, dan disnarasi yang menciptakan eventfulness sehingga terbentuk sensitivitas-konteks. Kedua, praktik transformasi media mengakibatkan perubahan bentuk teks dari nonliterasi menuju literasi. Melalui hal tersebut, cerita horor KKN di Desa Penari menerima konsekuensi berupa formalisasi bahasa karena standardisasi media. Selain itu, keterlibatan cerita horor KKN di Desa Penari ke dalam zona literasi merupakan kendali kekuasaan dari agenda kapitalisme dalam bentuk print-capitalism. Dengan demikian, dapat ditarik muara analisis bahwa cerita horor KKN di Desa Penari yang terlibat ke dalam zona literasi justru dihadapkan pada degradasi puitika. Kata Kunci: horor, literasi, puitika, transformasi media The story of KKN di Desa Penari is a popular cyber literacy by Simpleman which horror genre. It popularity can’t be separated from poetics and media that used. The story of KKN di Desa Penari's poetical strategy will be seen from eventfulness that shapes context-sensitivity on the text, at the same time, media will be seen as a transformation from cyber literacy into print-literacy that has implified the text consequences from the construction of literacy. Through that, this research aims to analyze the poetical strategy as an eventfulness development and see the practice of media transformation which has an impact on poetical intensity. The discovery of this research is as follows. First, as a horror story, KKN di Desa Penari offer a few poetical strategy to immersed fictional and factual paradigm. This was achieved through evaluative device, that is character reflection, repetition of events, and the disnarrative that creates eventfulness thus developing context-sensitivity. Second, the practice of media transformation inflict the transliteration of text from nonliteration to literacy. Through this, the horror story of KKN di Desa Penari received the consequence of formalization of language inflicted by media standardization. Moreover, the involvement the horror story of KKN di Desa Penari into the literacy zone was a power control over the capitalism agenda in the form of print-capitalism. Therefore, this analysis comes down the horror story of KKN di Desa Penari that was involved in the literacy zone was exposed to poetical degradation. Keywords: horror, literacy, poetics, media transformation
IDEOLOGI PERLAWANAN DALAM ANTOLOGI PUISI FĪ ṬARĪQI AL-FAJRI KARYA ABDULLAH AL-BARADDUNI
Artikel ini bertujuan untuk mengungkap ideologi perlawanan dalam antologi Puisi Ilā Ṭarīqi al-Fajri (Menyongsong Fajar) yang diciptakan pada tahun 1960-1979 oleh Abdullah al-Baraddūnī seorang penyair buta asal Yaman Utara. Untuk mengungkapkan Ideologi perlawanan dalam antologi tersebut digunakan kritik sastra materialistik yang disampaikan oleh Terry Eagleton. Adapun meteode yang digunakan adalah metode dialektik, yaitu pembacaan timbal balik antara elemen internal puisi tersebut dengan elemen-elemen eksternal. Puisi-puisi dalam antologi ini diciptakan saat Yaman Utara berada di bawah kekuasaan dengan ideologi Imamah Zaidiyyah yang bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan kekuasaannya. Puisi dipilih sebagai genre untuk mengungkapkan ideologi perlawanan karena kondisi pengarang yang buta, produksi sastra di Yaman Utara yang menjadikan puisi sebagai sastra rakyat, dan kondisi sosial Yaman yang sebagian besar penduduknya masih buta huruf. Perlawanan dalam puisi-puisi tersebut adalah perlawanan rakyat terhadap pemerintahan imamah yang telah berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat sehingga hak kebebasan, hak politik, dan hak ekonomi rakyat tidak terpenuhi. Sebagai puncaknya adalah revolusi yang menuntut digantinya ideologi imamah dengan ideologi republik yang memberikan ruang kepada rakyat untuk terlibat dalam persoalan negara dan kehidupan yang lebih baik.Kata kunci: ideologi perlawanan; kritik sastra materialistik; Imamah Zaidiyyah; Yaman Utara This article attempts to explore the ideology of resistance in the poetry anthology Ilā Ṭarīqi al-Fajri (On the Path of Dawn) was created in 1960-1979 by Abdullah al-Baraddūnī, a blind poet from North Yemen. The ideology of resistance in this anthology was analyzed by using materialist literary criticism, which was used by Terry Eagleton. The method used in this study is the dialectical method, namely reciprocal reading between the internal elements of the poem with external elements. The poems were created when Yemen was under control the Zaydi Imamate, who arbitrarily exercised his power. The poetry was chosen as a genre to express the ideology of resistance because of the conditions of blind poet, literary production in North Yemen which made poetry as a folk literature, and the social conditions of Yemen, where the majority of the population was illiterate. The ideology of resistance in this anthology is resistance to the arbitrariness of the ruling government, which did not recognize freedom rights, political rights and economic rights of the people of North Yemen. In addition, there was a resistance to the ideology of Imamate.The ideology of Imamate was replaced by an ideology of the republic which provided space for the people of North Yemen to participate in the management of the country and to pursue a more prosperous life.Keywords: ideology resistance; materialist literary criticism; Zaydi Imamate; North Yemen