Jurnal POETIKA
Not a member yet
187 research outputs found
Sort by
ISU-ISU KRISIS DALAM NOVEL-NOVEL DYSTOPIAN SCIENCE FICTION AMERIKA
This paper focuses on issues and discourses about the crisis that existed in the dystopian science fiction (dystopian sf) novels. In this case, Hunger Games Trilogy (2008-2010), Maze Runner Trilogy (2009-2011), Divergent Trilogy (2011-2013) are the main object to see how far the text of dystopian sf novels address issues and discourses about the crisis within. Dystopian sf novels that are the counter-discourse of utopian sf novels has no longer present the utopian elements of the future, but, contrastly present the worst possibilities of the future. It appears that the dystopian sf writers present narratives about crisis, poverty, darkness, and pessimism in their novels. It even reads as a form of criticism and warning that the writers are trying to convey to the reader through fictional texts. In the end, the conditions of crisis seen in the text of these dystopian sf novels open its relationship with the world's history outside the text.Keywords: crisis, dystopian science fiction, America, history
Kekuatan Memori dan (Ketidak)Mungkinan Pengampunan dalam Novel Hanauzumi Karya Jun’ichi Watanabe
This study analyzes memory formation along with its transmission and forgiveness as a tool used by Gin as the main character to form the discourse of truth within the scope of society's way of thinking that has not been touched by the modernization of the Meiji Restoration era. Hanauzumi's novel implies that a bitter and tragic past can not be forgotten just by Gin. And furthermore, there is a chance redemption done by Gin by striving to realize his goal of reaching the doctor's profession as a sense of solidarity among fellow women. The purpose of this study is to present memory and forgiveness as a tool used by Gin to form the discourse of truth, thus giving him the power to fight for justice for women's rights, rights for himself and for other women. The method used in this research is descriptive qualitative. This research tries to illustrate the traumatic events of the main character who became the forerunner of his struggle to become the first female doctor in Japan.Key Words: Memory, Power, Forgiveness, Trauma, Meiji Restoratio
Tubuh dan Relasi Gender: Wacana Pascakolonial Dalam Novel “The Scarlet Letter” Karya Nathaniel Hawthorne
This research analyzes postcolonial discourse about body and gender relation in Nathaniel Hawthorne’s The Scarlet Letter that tells about obsession toward morality, gender oppression, punishment for sinner, guilty feeling dan individual sin confession. The objective of this research is to reveal the resistance sides toward colonial construction that still exist in society’s social order and norm reflected in that novel. By applying postcolonialism approach and deconstruction method, it is proven that The Scarlet Letter depicts colonized (women) resistance behind its attitude and practice that seems submissive to the power of colonizer (society dan men’s domination).Key Words: Postcolonial Discourse, Body, Gender Relation, Deconstruction, Colonial Constructio
MENEROPONG GENDER MELALUI KACAMATA GENDERLES: SEBUAH PEMBACAAN BUTLERIAN TERHADAP ANCILLARY JUSTICE KARYA ANN LECKIE
Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan bagaimana kategorisasi gender yang terkesan kaku dipresentasikan sebagai performativitas sosial yang cair dan tidak stabil, juga bagaimana norma genderless yang diajukan pengarang dapat menunjukkan pandangannya akan norma gender. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teori gender milik Judith Butler. Melalui pemikirannya akan gender sebagai konstruksi sosial, Norma gender, terutama gender biner, dalam novel ini dideskripsikan bersama norma genderless untuk mendapatkan suatu perbandingan diantara mereka. Dengan kacamata genderless, norma gender dalam novel ini disajikan pengarang sebagai suatu konstruksi sosial yang menuntut subjeknya untuk terlibat dalam performativitas gender guna diakui keberadaannya. Namun, begitu pula dengan norma genderless. Norma genderless dalam novel ini ternyata juga merupakan bentuk lain dari praktek gender. dengan kata lain, norma genderless tidak bisa terlepas dari gender dan juga merupakan norma gender
HASRAT NANO RIANTIARNO DALAM CERMIN CINTA: KAJIAN PSIKOANALISIS LACANIAN
Literary works known as authors’ desire manifestation. In its history, a desire comes from the feeling of the lack of subject. Writing a literary work becomes an effort to hide it. The effort can be seen through an author’s point of view on ego ideal in his works. Novel of Cermin Cinta is chosen as a sample in order to search what and how Nano Riantiarno’s desires are. The aim is to find out the reflecting of Nano’s ego ideal. This study uses Lacanian Psychoanalysis (PL). Metaphor and metonymy will be used through PL in looking deeply the signs of Nano’s desire in Cermin Cinta. This study finds out that a desire of becoming a writer and an artist has guided Nano unconsciously to other symbolic signs, such as being a ‘tough’, ‘consistent’, ‘determined’, ‘diligent’ writer, etc. His effort in setting up a theatre community where he becomes the characters writer and director which was reached from the images of Rendra, Putu Wijaya, Arifin C. Noor, and Teguh Karya becomes his desire about the ontological intactness for his identity. Besides, ‘Freedom’ becomes ‘object a’ of Nano to get jouissance for himself
POSMODERN DAN SASTRA INDIGENOUS AUSTRALIA
Karya sastra Indigenous Australia adalah karya masyarakat native yang tinggal di negara bentukan penjajah (settler state). Setelah opresi yang dialami selama beberapa dekade, perkembangan sastra mereka baru saja menapaki puncak di awal abad ke-21 bersama dengan adanya perubahan kebijakan politis serta didukung oleh perkembangan teknologi, serta bersamaan dengan kondisi posmodern atau logika kapitalisme lanjut. Tulisan ini hendak mengelaborasi perjalanan singkat dan resistensi yang muncul dalam sastra Indigenous Australia hingga kini menghadapi kapitalisme yang canggih. Di era global sekaramg ini, banyak sekali permasalahan yang muncul bahkan ketika karya sastra tersebut mulai merekah, mulai dari persoalan tentang identitas, sejarah, otentisitas, persaingan global, dan logika masyarakat posmodern
POSMODERNISME LINDA HUTCHEON: POETICS OF POSTMODERNISM (1989) DAN POLITIC OF POSTMODERNISM (2002)
Poetika posmodernisme Linda Hutcheon berusaha menjembatani poetika modernisme yang berfokus pada keotonoman dann keobjektifan karya sastra dengan poetika sosiologis yang berfokus pada aspek sosial, historis, dan politis karya sastra. Dalam hal ini, poetika posmodernisme Hutcheon mencoba melihat karya sastra dari dua sisi sekaligus, yaitu struktur dan isinya, serta sekaligus aspek konteksnya (aspek sosial, sejarah, dan politiknya). Sementara itu, politik posmodernisme Hutcheon menegaskan bahwa seni posmodern mau tidak mau harus bersifat politis meskipun sulit untuk bergerak lebih konkret yang berupa tindak politik (political act). Dalam hal ini, politik posmodernisme lebih bekerja dalam bidang ideologis, yaitu dengan cara mendenaturalisasi tatanan yang diterima begitu saja karena dianggap benar
Editorial
Pada edisi kali ini, Vol. IV No.1, Juli 2016, Jurnal Poetika secara spesifik mengangkat tema Gender sebagai bahan pembahasannya. Aspek penting dalam studi Gender tidak lepas sejarah pemikiran feminis abad ke-19 senantiasa berkutat pada relasi oposisi, yakni siapa yang berkuasa dan siapa yang mengalami opresi kekuasaan, juga pada relasi posisi—siapa subjek dan siapa objek. Perkembangan kehidupan sosial manusia memberikan pengaruh tersendiri pada perkembangan ideologi terkait gerakan feminisme itu sendiri. Feminisme radikal, liberal, sosial, agama, dll, menggambarkan adanya perbedaan dalam menanggapi kompleksitas perkembangan kehidupan. Perbedaan tersebut seakan mengembalikan satu keadaan dimana gerakan perempuan dipertanyakan ulang atas suara- suara perempuan yang diperjuangkan. Namun di sisi lain, hal tersebut juga menambah khazanah pengetahuan yang memunculkan gambaran-gambaran ketimpangan yang dialami oleh perempuan di berbagai aspek kehidupan. Melalui berbagai perspektif, enam tulisan dalam jurnal ini mencoba melihat secara mendalam wacana Gender dari banyak karya sastra
Editorial
Pada edisi ini, Vol. IV No. 2, Desember 2016, Jurnal Poetika mengangkat tema Posmodernisme
PRODUKSI, DISTRIBUSI, DAN KONTESTASI WACANA TRADISI DAN MODERNITAS DALAM CERPEN Leteh KARYA OKA RUSMINI
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana wacana mengenai tradisi kebudayaan masyarakat Bali diproduksi, dipertentangkan dan kemudian menjadi wacana tandingan terhadap wacana modernitas dalam cerita pendek Leteh karya Oka Rusmini. Penelitian ini mengaplikasikan teori dan metode analisis wacana Foucault, dengan menampilkan formasi diskursif melalui ekslusi eksternal maupun internal. Penelitian ini menemukan bahwa ada upaya-upaya memproduksi, mendistribusikan, kemudian memodifikasi wacana tradisi sebagai wacana tandingan terhadap modernitas.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana wacana mengenai tradisi kebudayaan masyarakat Bali diproduksi, dipertentangkan dan kemudian menjadi wacana tandingan terhadap wacana modernitas dalam cerita pendek Leteh karya Oka Rusmini. Penelitian ini mengaplikasikan teori dan metode analisis wacana Foucault, dengan menampilkan formasi diskursif melalui ekslusi eksternal maupun internal. Penelitian ini menemukan bahwa ada upaya-upaya memproduksi, mendistribusikan, kemudian memodifikasi wacana tradisi sebagai wacana tandingan terhadap modernitas