DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Not a member yet
    277 research outputs found

    Ḥeseḏ sebagai Permenungan Teologi Keringkihan dalam Perspektif Disabilitas Berdasarkan Narasi 2 Samuel 9:1-13

    No full text
    Abstract. The determination to make the earth an inclusive place for all groups requires comprehension, awareness, and ongoing collaboration. One of the impediments to realizing this dream is the stigma and discrimination against various types of weakness, vulnerability, deficiencies, and limitations, such as the disabilities, both physical and mental, that most people around us experience. The locus text from 2 Samuel 9:1-13 will be reread and reinterpreted in light of Jeremy Schipper's analysis of the term ḥeseḏ in the narratives of King David and Mephibosheth, in order to gain a new understanding of vulnerability in the context of disability in theological discourse. The reading resulted the invitation for everyone to experience the incarnation event as an effort by which the Almighty embraces the vulnerable, thus providing an array for discussion about how weakness and vulnerability should be accepted and celebrated in equal social relations.Abstrak. Perjuangan mewujudkan bumi menjadi tempat yang inklusif bagi semua golongan menuntut pemahaman, kesadaran, dan usaha bersama secara terus-menerus. Salah satu penghalang terwujudnya mimpi tersebut adalah stigma dan diskriminasi terhadap berbagai jenis kelemahan, keringkihan, kekurangan serta keterbatasan, misalnya disabilitas baik fisik maupun mental yang dialami oleh kebanyakan orang di sekeliling kita. Analisis Jeremy Schipper terhadap terma ḥeseḏ dalam narasi Raja Daud dan Mefiboset, akan dijadikan lokus dan basis teks untuk membaca dan menafsirkan ulang teks 2 Samuel 9:1-13, demi menemukan pemahaman baru diskursus teologi keringkihan dalam perspektif disabilitas. Pembacaan tersebut menghasilkan ajakan bagi setiap orang untuk menghayati peristiwa inkarnasi, yang merupakan upaya Sang Maha Kuat merengkuh sang ringkih, sehingga menyediakan ruang percakapan bagaimana seharusnya kelemahan dan keringkihan diterima serta dirayakan dalam relasi sosial yang setara

    Digital Ecclesia Sebagai Gereja Sinodal yang Mendengarkan

    No full text
    Abstract. The focus of this paper is to understand digital ecclesia as a form of pastoral care in this digital era. In this digital era, the Church also needs to revitalise itself to find new methods in its preaching. The Church should not only focus on the strict rules of liturgy but really think about contextual theology in this digital era. The Church as a community of faith has an important role in the task of preaching Christ's mission, namely salvation to all people. Preaching in this digital era certainly has its own challenges that need to be a common focus in Church life. This Study was conducted by the literature study method. This study was based on the message delivered by Pope Francis on the 56th Communication Day. The results of this study showed the need for awareness to do a new catechesis in the digital era, which is a Church that is willing to listen with the heart for the growth and development of the synodal church.Abstrak. Fokus penulisan ini adalah memahami digital ecclesia sebagai bentuk pastoral di era digital ini. Pada era digital ini, Gereja juga perlu merevitalisasi diri untuk mencari metode baru dalam pewartaanya. Gereja tidak hanya berfokus pada aturan-aturan ketat liturgi tetapi sungguh memikirkan teologi kontekstual pada era digital ini. Gereja sebagai komunitas beriman memiliki peran penting dalam tugas pewartaan misi Kristus, yakni keselamatan kepada semua orang. Pewartaan pada era digital ini tentunya memiliki tantangannya sendiri yang perlu menjadi fokus bersama dalam kehidupan menggereja. Kajian dalam tulisan ini menggunakan metode studi pustaka. Kajian ini akan difondasikan dari pesan yang disampaikan oleh Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi ke-56. Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya kesadaran untuk melakukan katekese baru di era digital, yaitu gereja yang mau mendengarkan dengan hati untuk pertumbuhan dan perkembangan gereja yang sinodal

    Dasar Gagasan Pendidikan Kristiani Intergenerasional dalam Gereja

    No full text
    Abstract. Currently, it seems that the categorial approach dominates the ministry in the church. However, this categorial ministry also has several disadvantages, one of which is that the church will become compartmentalised based on age category groups. This shortcoming can be overcome by implementing an intergenerational ministry. For this reason, this paper aims to emphasise the basic idea of Intergenerational Christian Education in the church. This objective will be achieved using the literature study method. The results achieved include insights related to the basic idea of Intergenerational Christian Education that are useful as a foundation in its application and development. Through this study it can be concluded that Intergenerational Christian Education has a strong theological foundation so that it can be applied in education in the Church.Abstrak. Saat ini terlihat bahwa pendekatan kategorial mendominasi pelayanan dalam gereja. Namun pelayanan kategorial ini juga memiliki sejumlah kekurangan, salah satunya gereja akan menjadi terkotak-kotak berdasarkan kelompok kategori usia. Kekurangan ini dapat diatasi dengan menerapkan pelayanan yang bersifat intergenerasinal. Untuk itu tulisan ini bertujuan untuk menegaskan dasar gagasan Pendidikan Kristiani Intergenerasional dalam gereja. Tujuan ini akan dicapai menggunakan metode studi pustaka. Hasil yang dicapai mencakup wawasan terkait dasar gagasan Pendidikan Kristiani Intergenerasional yang bermanfaat sebagai fondasi dalam penerapan dan pengembangannya. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Kristiani Intergenerasional memiliki landasan teologis yang kuat sehingga dapat diterapkan dalam pendidikan di Gereja

    Eternal Livingness in Love: Refleksi Teologi Kristen terhadap Pemikiran David Benatar mengenai Kematian dan Kekekalan

    No full text
    Abstract. David Benatar's philosophical views on death and immortality seem to contradict Christian theology. However, Benatar argues that if theists take a closer look at his views, there is no significant contradiction between the two. Based on this argument, this article aimed to reflect Benatar's view of death and immortality from the point of view of Christian theology. Conducted by Jürgen Moltmann's theological views on death and immortality, this article attested that there is no significant contradiction between Benatar's philosophical views and Moltmann's Christian theology on death and immortality and can even contribute to one another. This conclusion also echoes that philosophy and theology can go hand in hand without contradicting each other.Abstrak. Pandangan filosofis David Benatar tentang kematian dan kekekalan tampaknya bertentangan dengan teologi Kristen. Namun, Benatar berpendapat bahwa jika para teis melihat lebih cermat, tidak ada kontradiksi yang signifikan di antara keduanya. Berdasarkan argumen Benatar tersebut, artikel ini bertujuan untuk merefleksikan pandangan Benatar tentang kematian dan kekekalan dari sudut pandang teologi Kristen. Dengan menggunakan pandangan teologis Jürgen Moltmann tentang kematian dan kekekalan, artikel ini membuktikan bahwa tidak ada pertentangan yang berarti antara pandangan filosofis Benatar dan teologi Kristen Moltmann mengenai kematian dan kekekalan, bahkan keduanya dapat berkontribusi satu sama lain. Kesimpulan ini juga menegaskan bahwa filsafat dan teologi dapat berjalan beriringan satu sama lain

    Antropologi Teologis: Dari Dogmatis Struktural Menuju Konstruktif-Relasional Kontekstual

    No full text
    Abstract. Theological anthropology is not a new theme in the discussion of Christian theology. The Christian theologians since the early period have given serious thought to the theme. However, many people do not know that the development of theological anthropological thought is not as simple as imagined. Aspects of anthropology associated with theology from early Christianity to the Middle Ages are very different from what is developed during the Enlightenment until todaywhen anthropology has become one of the established scientific disciplines. This study used a critical descriptive-analytical method to examine the development of Christian theological anthropological thought throughout the history of Christianity to this day. The results of the study indicated that the struggle of theological anthropological thought is present as an effort to answer challenges in a certain context and time.Abstrak. Antropologi Teologis bukanlah sebuah tema baru dalam diskusi teologi Kristen. Para pemikir Kristen sejak periode awal telah memberikan pemikiran yang serius terkait tema tersebut. Hanya saja, banyak pihak yang tidak mengetahui bahwa perkembangan pemikiran antropologi teologis tidak sesederhana seperti apa yang dibayangkan. Aspek antropologi yang dikaitkan dengan teologi pada periode Awal Kristianitas sampai Abad-abad Pertengahan sangat berbeda dengan apa yang ditemukan masa Pencerahan sampai hari ini, ketika antropologi telah menjadi salah satu bidang keilmuan yang mapan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analitis yang kritis untuk menelaah perkembangan pemikiran Antropologi Teologis Kristen di sepanjang sejarah Kristianitas sampai hari ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pergulatan pemikiran Antropologi Teologis hadir sebagai upaya untuk menjawab tantangan dalam konteks dan waktu tertentu

    Konstruksi Misi Integral Menurut Matius 9:35-36

    No full text
    Abstract. This study aimed to articulate an integral mission for marginalized communities. So far, The Great Commission has mostly been understood as a command to preach the gospel verbally for the purpose of converting other believers. Meanwhile, marginalized communities need a Gospel message that liberates them from all kinds of oppression. Therefore, a new perspective on mission is needed that can answer these needs. This study used a qualitative approach by starting from the text analysis of Matthew 9:35-36. The result of the analysis of the text showed that Jesus' mission was an integral one. The mission originated from a compassioned hearth and intended to answer every aspect of human needs.Abstrak. Kajian ini bertujuan untuk mengartikulasikan misi integral bagi masyarakat marginal. Selama ini Amanat Agung lebih banyak dipahami sebagai perintah untuk melakukan pemberitaan Injil secara verbal demi tujuan konversi pengantut agama lainnya. Sementara itu, masyarakat marginal membutuhkan berita Injil yang membebaskan mereka dari segala macam penindasan. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara pandang baru tentang misi yang dapat menjawab kebutuhan tersebut. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan berangkat dari analisis teks Matius 9:35-36. Hasil dari analisis terhadap teks tersebut menunjukkan bahwa misi yang dilakukan Yesus adalah misi yang bersifat integral. Misi tersebut berangkat dari perasaan belas kasihan dan bermaksud untuk menjawab setiap aspek kebutuhan manusia

    Front-Matter

    No full text

    Sebuah Proposal bagi Konsep Tindakan Ilahi di dalam Mukjizat dan Hukum Alam

    No full text
    Abstract. For a long time, Hume's thesis that miracles are a violation of natural laws has had a great influence on the discussions of miracles and natural laws among philosophers and theologians. This article proposes the concept of miracles as divine acts that do not contradict the laws of nature, but rather go beyond the laws of nature and can even be compatible with the laws of nature. By drawing on the concept of miracles and natural laws in relation to the notion of Neo-Classical Special Divine Action (NCSDA) of Jeffrey Koperski, I argue that although miracles and natural law are two distinct forms of divine action, yet miracles can be reckoned as divine acts compatible with natural causes and share the same purpose as divine providence to humans. As a result, rather than contradicting miracles and natural laws, these two forms of divine action actually complement each other to witness the act of God’s power controlling His creation.Abstrak. Tesis Hume bahwa mukjizat adalah pelanggaran terhadap hukum alam sudah sekian lama memiliki pengaruh besar terhadap diskusi tentang mukjizat dan hukum alam di antara para filsuf dan teolog. Artikel ini menawarkan sebuah konsep mukjizat sebagai tindakan ilahi yang tidak bertentangan dengan hukum alam, tetapi melampaui hukum alam dan bahkan juga kompatibel dengan hukum alam. Dengan mendulang konsep mukjizat dan hukum alam dalam kaitannya dengan gagasan Neo-Classical Special Divine Action (NCSDA) dari Jeffrey Koperski, penulis berargumen bahwa sekalipun mukjizat dan hukum alam merupakan dua bentuk tindakan ilahi yang dapat dibedakan, tetapi mukjizat dapat diperhitungkan sebagai tindakan ilahi yang kompatibel dengan penyebab natural, serta berbagi tujuan yang sama dengan pemeliharaan ilahi kepada manusia. Sebagai hasilnya, daripada mempertentangkan mukjizat dan hukum alam, kedua bentuk tindakan ilahi ini justru saling melengkapi untuk menyaksikan tindakan kuasa Allah yang mengendalikan ciptaan-Nya sejarah

    Kontekstualisasi Injil dalam Praktik Rumengkom

    No full text
    Abstract. This paper intended to provide a critical analysis of the efforts to contextualise the Gospel through the practice of rumengkom by Minahasa Christians. Eating together or rumengkom for the Minahasa community has a special meaning and is indirectly interpreted as a form of theological expression typical of the Minahasa community. As time goes by, the church gives a different meaning to the practice by understanding it as a form of contextualisation of the Gospel. This research was conducted using a qualitative approach in Yobel Uluindano Church of Minahasa (GMIM). The results of the research were then analysed with the lens of the anthropological approach model of contextual theology. The results of this study showed that the effort to contextualise the gospel by the church has obscured the theological value that already exist in the practice of rumengkom.Abstrak. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan analisis kritis terhadap upaya kontekstualisasi Injil melalui praktik rumengkom oleh umat Kristiani Minahasa. Makan bersama atau rumengkom bagi masyarakat Minahasa memiliki makna yang sangat berharga dan secara tidak langsung dimaknai sebagai bentuk ungkapan teologis khas masyarakat Minahasa. Seiring berjalannya waktu gereja memberikan pemaknaan yang berbeda terhadap praktik rumengkom dengan memahaminya sebagai bentuk kontekstualisasi Injil. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif di Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Yobel Uluindano. Hasil penelitian selanjutnya dianalisis dengan lensa model pendekatan antropologis teologi kontekstual. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa upaya kontekstualisasi Injil yang dilakukan gereja telah mengaburkan nilai teologis yang sebenarnya sudah ada dalam praktik rumengkom

    [Resensi Buku] The Lost World of Genesis One: Ancient Cosmology and The Origins Debate (Suatu Kajian mengenai Penciptaan)

    No full text

    109

    full texts

    277

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇