DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
Tinjauan Teologis-Etis Terhadap Banalitas Kejahatan Korupsi
Abstract. It is an irony for Indonesia, which is well known as a very religious country but at the same time is ranked as the most corrupted country in the world. Law enforcement against perpetrators of corruption is deemed insufficient to eradicate corruption. A moral and ethical revolution is needed to prevent corruptive acts from its’ root because corruption can be categorized as a banality of crime, crime that is considered normal. This article aimed to explore the theological-ethical outlook to the banality of corruption by using a literature review approach. Through this study, it could be concluded that corruption is an act caused by the lost of the virtues that are sourced from the Bible and centered on Christ as the embodiment of divine character.Abstrak. Merupakan sebuah ironi bagi Indonesia yang dikenal sebagai negara yang sangat religius namun sekaligus berada pada peringkat negara yang sangat korup di dunia. Penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana korupsi dirasa tidak cukup untuk memberantas korupsi. Diperlukan revolusi moral dan etis untuk mencegah tindakan koruptif mulai dari akarnya oleh karena korupsi dapat dikategorikan sebagai banalitas kejahatan, yaitu sesuatu yang dianggap biasa dilakukan. Artikel ini bertujuan untuk menggali pendekatan teologis-etis terhadap banalitas kejahatan korupsi dengan menggunakan pendekatan kajian pustaka. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa korupsi adalah suatu tindakan yang diakibatkan oleh karena seseorang telah kehilangan nilai-nilai kebajikan yang bersumber dari Alkitab dan berpusat kepada Kristus sebagai perwujudan karakter ilahi
Relasi Akal Budi dan Iman dalam Apologetika dan Pewartaan Injil
Abstract. There are still Christians who contrast the relationship between apologetics and the proclamation of the Gospel and the role between common sense and faith in these two fields. This paper was intended to study the relationship between apologetics and evangelization, as well as to look up the significance of the role of common sense and faith in the effective task of apology and evangelization. This discussion used a literature study approach that was descriptive-analytic presented. In this discussion, it could be concluded that apologetics and evangelization are God’s mandates which are absolutely fulfilled by every believer whenever and wherever they are. Meanwhile, common sense and faith are two different but not contradictory things where both have their respective places and roles in the practice of apologetics and evangelization. Without common sense and faith, the practice of apologetics and evangelization cannot be carried out effectively.Abstrak. Dijumpai masih ada orang Kristen yang mempertentangkan apologetika dengan pewartaan Injil dan peran antara akal dan iman di dalam kedua bidang tersebut. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengkaji relasi apologetika dan pewartaan Injil, serta signifikansi peran akal budi dan iman di dalam tugas berapologia dan pewartaan Injil secara efektif. Kajian ini menggunakan metode studi literatur yang disajikan secara deskriptif-analitif. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa apologetika dan pewartaan Injil merupakan mandat Tuhan yang sifatnya mutlak ditunaikan bagi setiap orang percaya kapan pun dan di mana pun berada. Sedangkan akal budi dan iman adalah dua hal yang berbeda tetapi tidak saling bertentangan, di mana keduanya memiliki tempat dan perannya masing-masing dalam praktik berapologetika dan pewartaan Injil. Tanpa akal budi dan iman, maka praktik apologetika dan pewartaan Injil tidak dapat terlaksana dengan efektif
Human Trafficking Crime Networks and Pastoral Efforts for Prevention
Human trafficking is human exploitation, and it contradicts the biblical message which encourages equal and harmonious relationships between humans. Therefore, efforts needed for prevention. This study aimed to expose the criminal network of trafficking in persons specifically from Southwest Sumba Regency where Malaysia is a destination country. Data analysis based on Holland and Henriot model of the pastoral circle. The method used was descriptive qualitative. Data were obtained through observation, interviews, and literature studies, which were analyzed in depth. The result was that an effective pastoral action to prevent human trafficking is based on a deep understanding of trafficking in persons with adequate theological reflection
Constructing Contributive Dialogue Between the Doctrine of God in John Owen Thought and First Principle of Pancasila
Abstract. The doctrine of God contains of unending discussion and special characterized by trinity, the main doctrine of Christianity, holds specific character, lays on soteriology and relates to the work of redemption. Furthermore, it plays significantly as an antithesis to other faiths, as the consequence, this Christian identity being a subject of dialogue in interreligious society, even within believers’ circle. However, this topic encompasses surround disciplines, including, specifically speaking, socio-politics. In the other side, Pancasila, a state ideology of Indonesia, occupies the faith of its citizens by accommodating the humanity-divinity relationship in a very sensitive way. This academic work intends to supply alternative perspectives to theology and socio-politics tension. Specifically speaking, evaluates any possibilities of dialogue between the doctrine of God in John Owen Thought and the first principle of Pancasila. The result of this research suggests numerical code as the possibility of conversation between them
Konsep Jalan Kehidupan dan Kematian Menurut Kitab Didakhe Pasal 1-6
Abstract. The book of Didache is a non-canonical book in the Bible, therefore, the teachings of the book are not widely known, discussed, and taught. However, the book contains deep morality teachings. This article aimed to explore the teachings in the book so that we can explain the concept of the path of life and death as it was taught in the Bible. The study was conducted by using a descriptive-analytical approach based on Alistair Stewart’s view in his book “On the Way Life and Death, Light or Darkness: Foundation Texts in The Tradition.” From this study, that the teachings of the Book of Didache help believers to have spirituality discipline and lead to holiness of life so that believers no longer live in sins that will lead to death.Abstrak. Kitab Didakhe bukanlah Kitab kanonikal dalam Alkitab, oleh sebab itu ajaran dalam Kitab tersebut tidak banyak diketahui, dibahas, dan diajarkan. Namun demikian, Kitab tersebut mengandung ajaran moral yang dalam. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menggali ajaran dalam kitab tersebut yang dapat menjelaskan konsep jalan kehidupan dan kematian sebagaimana yang diajarkan dalam Alkitab. Kajian dalam artikel ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan mendasarkan pada pandangan Alistair Stewart dalam bukunya“On The Way Life and Death, Light or Darkness: Foundation Texts In The Tradition.” Dari kajian tersebut diperoleh hasil bahwa ajaran Kitab Didakhe menolong orang percaya untuk mendisplinkan diri dalam spiritualitas serta menuntun kepada kekudusan hidup sehingga orang percaya tidak lagi hidup di dalam dosa yang akan mendatangkan kematian
Perbudakan dalam Perjanjian Lama: Sebuah Kajian Tekstual dan Intertekstual atas Teks-teks Perbudakan dalam Perjanjian Lama
Abstract. By not explicitly prohibiting slavery has created the impression that the Bible does accept slavery. This paper intended to examine the biblical texts that raise the idea of slavery. Its main focus was texts in the Old Testament. These texts would be examined by considering the ancient Middle Eastern cultural setting. This paper would also bring together the pro and anti-slavery texts in a tensional relationship. This way distinguishes this writing from other writings which tend to take only one position, either pro or anti-slavery. The idea of seeing texts in a tensional relationship implies a postmodern thinking. The benefit of this paper is to build awareness that slavery is a practice that needs to be opposed but at the same time difficult to abolish. Therefore, a struggle against slavery still needs to be launched even though slavery has been formally and legally abolished.Abstrak. Dengan tidak tegasnya larangan terhadap perbudakan dalam Alkitab telah menimbulkan pemahaman bahwa Alkitab memang menerima perbudakan. Tulisan ini bermaksud memeriksa teks-teks Alkitab yang mengangkat gagasan perbudakan. Fokus utamanya adalah teks-teks dalam Perjanjian Lama. Teks-teks tersebut akan diperiksa dengan mempertimbangkan latar budaya Timur Tengah Kuno. Kemudian beberapa teks yang sering digunakan untuk mendukung dan menetang perbudakan akan dipahami kembali dalam sebuah ketegangan. Pilihan ini sekaligus membedakan tulisan ini dengan tulisan-tulisan lain yang cenderung mengambil salah satu posisi saja, entah pro atau anti perbudakan. Gagasan untuk melihat teks-teks dalam sebuah ketegangan ini secara implisit menyiratkan pemikiran posmodern. Manfaat tulisan ini adalah untuk membangun kesadaran bahwa perbudakan merupakan praktek yang perlu ditentang namun sekaligus sulit dihapuskan
Membangun Teologi Alteritas Heteronom: Upaya Mengentaskan Sisa-Sisa Stigma Anti-Tionghoa di Indonesia
Abstract. This study aims to build a theological construction that can help erase anti-Chinese stigma in Indonesia post-1998, so religious people, especially Christians, become more sensitive about ethnic discrimination. The discrimination against ethnic Chinese in Indonesia has occurred for a long time, usually because of their capability to control the market and business. Their success in business impacts hatred and racism and turns into an anti-Chinese stigma. The research uses qualitative study on the philosophy of heteronomous alterity, and builds a theological framework on the theory of heteronomous alterity in positivistic philosophy. The theological framework will remove the anti-Chinese stigma in Indonesia. This study concludes that the theology of heteronomous alterity can help decrease anti-Chinese stigma by appreciating trinitarian relations and accepting the other as they are.Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk membangun konstruksi teologi yang dapat membantu menghapus stigma anti-Tionghoa di Indonesia pasca 1998, sehingga umat beragama khususnya Kristen menjadi lebih peka mengenai diskrimasi etnis. Sudah sejak lama, masalah diskriminasi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia terjadi, yang biasanya karena kelihaian mereka menguasai pasar dan bisnis. Hal ini berdampak pada kebencian yang bersifat rasialis dan menubuh ke dalam stigma anti-Tionghoa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kualitatif yang berbasis pada analisis filosofi alteritas heteronom. Teori alteritas heteronom dalam filsafat positivistik dijadikan sebagai kerangka berpikir teologis untuk melepas stigma anti-Tionghoa di Indonesia. Melalui kajian ini dapat disimpulkan bahwa teologi alteritas heteronom dapat membantu menghapus stigma anti-Tionghoa melalui penghayatan relasi trinitarian dan penerimaan orang selain dirinya sebagaimana adanya
Persoalan Pengudusan Pasangan dalam Pernikahan Beda Agama: Kritik Sosio-Historis 1 Korintus 7:12-16
Abstract. This study describes the marriage legality between Christian and non-Christian in Corinth. The text that is used as a focus for interpretation is 1 Corinthians 7:12-16, by using the socio-historical criticism. The text was chosen because it talked about the marriage of different beliefs that took place in the City of Corinth. To interpret text by the socio-historical criticism, things to consider are: First, the background of the social and historical context and mixed marriage in Corinth. Second, the problem of holiness and divorce in marriage in Corinth. Based the study, it can be explained that Paul's understanding of the sanctity of Christian marriage is a way to make a border between holiness and unholiness in pluralistic Corinthian society.Abstrak. Tulisan ini menguraikan persoalan keabsahan pernikahan antara orang Kristen dan bukan Kristen di Kota Korintus. Fokus teks yang menjadi acuan penafsiran adalah 1 Korintus 7:12-16, dengan menggunakan pendekatan tafsir sosio-historis. Teks tersebut dipilih karena berbicara menyangkut pernikahan berbeda keyakinan yang terjadi di Kota Korintus. Untuk menafsirkan teks dengan sosio-historis, maka hal yang diperhatikan adalah latar belakang konteks sosial-historis dan pernikahan campuran di Korintus, serta masalah kekudusan dan perceraian dalam pernikahan di Korintus. Berdasarkan hasil studi, maka dapat dijelaskan bahwa pemahaman Paulus tentang kudusnya pernikahan Kristen adalah cara menarik batas antara kudus dan cemar dalam masyarakat Korintus yang majemuk