Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti
Not a member yet
192 research outputs found
Sort by
LITERATURE REVIEW EFEKTIFITAS TERAPI FIBRINOLITIK DAN PPCI (PRIMARY PERCUTANEUS CORORNARY INTERVENTION) SEBAGAI ALTERNATIVE TERAPI REVASKULERISASI PADA ACUTE CORONARY SYNDROME (ACS)
Abstrak
Latar belakang Sindrom koroner akut (ACS) merupakan suatu konstelasi gejala klinis yang mengindikasikan infark miokard akut (MI) (The American College of Cardiology and the American Heart Association, 2001). Acute Coronary Syndrome (ACS) berpotensi mengancam kehidupan. ACS merupakan penyebab utama dari perawatan medis darurat dan rawat inap di Amerika Serikat.Penyakit jantung koroner (ACS) menyebabkan 405 309 kematian pada tahun 2008 dan setiap tahun, diperkirakan muncul 785 000 kasus ACS baru di Amerika dan diperkirakan 470.000 diantaranya berpotensi mengalami serangan ulang (Véronique, et al., 2012). Penatalaksanaan segera pada kejadian Sindrom koroner akut (ACS) menjadi upaya krusial. Proses revaskularisasi segera merupakan tindakan awal yang harus dilakukan. Proses revaskularisasi segera dapat dilakukan antara lain dengan fibrinolitik dan PPCI (Primary
Percutaneous Coronary Intervention). Dalam kajian ini penulis akan mencoba memaparkan bagaimana prosedur PPCI (Primary Percutaneous Coronary Intervention) dilakukan dan analisis efektifitas antara du metode revaskularisasi tersebut. Metode Studi literature dipilih oleh penulis dalam penyajian kajian ini. Peneliti telah mengumpulkan, menyeleksi dan melakukan analisa terhadap sejumlah literature yang sesuai dengan topic kajian. Hasil Secara umum, PPCI merupakan modalitas utama dengan tingkat keberhasilan tinggi pada kasus ACS. Angioplasti koroner dengan
atau tanpa penempatan stent adalah pengobatan pilihan untuk pengelolaan STEMI yang dapat dilakukan secara efektif dengan door to ballon 90 menit oleh tenaga terampil (Robert, et al., 2010). Namun dalam keadaan dimana PPCI tidak tersedia, penanganan menggunakan fibrinolisis sangatlah dianjurkan.Fibrinolytic therapy adalah modalitas
pengobatan definitive untuk pasien dengan STEMI yang dapat dilakukan dalam waktu 12 jam dari onset gejala dan tidak memiliki kontraindikasi untuk penggunaannya. Fibrinolytic therapy direkomendasikan untuk STEMI jika onset gejala telah dalam waktu 12 jam presentasi dan PPCI tidak tersedia dalam waktu 90 menit pertama kontak medis (Class I, LOE A). Sebelum menerima Fibrinolytic therapy pasien terlebih dahulu harus menjalani penapisan resiko penggunaan fibrinolitik baik absolute maupun relative. (Robert, et al., 2010). PPCI terbukti lebih unggul untuk terapi
trombolitik dalam mengurangi tingkat kematian, reinfarction, iskemia berulang, reocclusion dari arteri yang sama, dan stroke (Hochman, et al., 1997). Kesimpulan Terapi reperfusi baik fibrinolitik dan PPCI merupakan solusi yang dapat mengatasi proses patologis yang terjadi. PPCI dapat dijadikan modalitas utama dalam usaha reperfusi arteri koroner namun proses ini harus dilakukan segera (< 90 menit setelah onset gejala) pada instalasi dengan peralatan memadai. Apabila PPCI tidak mungkin dilakuakan terapi fibrinolitik dapat segera dilakukan dalam waktu kurang dari 30 menit dengan mempertimbangkan contra indikasi pada pasien. Pemberian fibrinolitik pada seting prehospital harus memperhatikan resiko pendarahan yang mungkin terjadi.Mengingat haltersebut maka penggunaan Prehospital Fibrinolitic chectist harus dilakuakn sebagai sceening awal pemberian prehospital fibrinolitic.
Kata Kunci: Sindrom Coroner Akut (ACS), revaskularisasi, PPCI, fibrinolitik
Abstract
Background Acute Coronary Syndrome (ACS) is a constellation of clinical symptoms indicating acute myocardial infarction (MI) (The American College of Cardiology and the American Heart Association, 2001). Acute Coronary Syndrome (ACS) is potentially life threatening. ACS is a major cause of emergency care and hospitalization in the United States. Coronary heart disease caused 405 309 death in 2008 and estimated 785
000 new cases of ACS occure every year in the United States with estimated 470,000 case potentially suffered repeated attacks (Véronique et al, 2012). An immediate treatment onacute coronary syndrome (ACS) becomes a crucial effort. Immediate revascularization process is the first action that must be done. Immediate revascularization process can be done for example by fibrinolytic And PPCI (Primary Percutaneous Coronary Intervention). In this study the authors will try to explain how the procedure PPCI (Primary Percutaneous Coronary Intervention) and
fibrinolisys theraphyconduct and analyzethe effectiveness between two revascularization methods. Methods The literature review method had chosen by the authors in this study. Researchers have been collecting, selecting and analyzing a number of literatures according to the topic of study. Results In general, PPCI is a major modality with a high success rate in the case of ACS. Coronary angioplasty with or without stent placement is the preferred treatment for the management of STEMI can be done effectively with door to balloon in 90 minutes by skilled opperator (Robert E et al, 2010). However, in circumstances where PPCI is not available, treatment with fibrinolysis is recommended. Fibrinolysis therapy is the definitive treatment modality for patients with STEMI can be done within 12 hours of onset of symptoms and had no contraindication. Fibrinolysis therapy is recommended for STEMI if the onset of symptoms was within 12 hours of presentation and PPCI is not available within 90 minutes of first medical contact (Class I, LOE A). Patient must be screened by several absolute or relative risk checklist of Fibrinolysis therapy before receiving treatment (Robert, et al., 2010). PPCI shown to be superior to thrombolytic therapy in reducing the rate of death, reinfarction, recurrent ischemia, arterial reocclusion and stroke (Hochman, et al., 1997). Conclusion Reperfusion therapy both fibrinolysis and PPCI is a solution that can applied in ACS. PPCI can be used as the primary modality in coronary artery reperfusion effort but this process must be done quickly
PENERAPAN TEKNIK MASSASE EFFLEURAGE PADA ABDOMEN TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI DISMENOREA PRIMER PADA REMAJA PUTRI (STUDI KASUS PADA Nn.”N” DAN Nn.”O” DI PRODI KEBIDANAN POLTEKKES RS dr. SOEPRAOEN MALANG)
ABSTRAK
Pendahuluan: Dismenorhea merupakan rasa sakit yang menyertai menstruasi sehingga dapat menimbulkan gangguan.Derajat rasa nyerinya bervariasi meliputi ringan, sedang dan berat.Beberapa pendekatan non farmasi dalam mengurangi dismenorea telah banyak dikembangkan.Salah satunya adalah penerapan teknik effleurage.Dengan melakukan pemijatan berupa usapan lembut, lambat, dan panjang atau tidak putus-putus.Teknik ini menimbulkan efek relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri, tidak memiliki efek samping dan dapat dilakukan secara mandiri. Tujuan penelitian untuk mengetahui penerapan teknik massase effleurage pada abdomen terhadap penurunan intensitas nyeri dismenorea primer pada remaja putri mahasiswa tingkat II prodi kebidanan Poltekkes RS dr Soepraoen Malang.Metode penelitian: yang digunakan adalah deskripsi observasional dengan pendekatan studi kasus.Subyek penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 2 subyek. Observasi dilakukan pada remaja putri usia 19-20 tahun yang mengalami dismenore primer. Penerapan teknik massase effleurage selama 2 hari.Pengumpulan data menggunakan lembar pengkajian, observasi, SOP, dokumentasi.Hasil:Penerapanmassase effleurage dapat mengurangi intensitas nyeri pada Nn “N” dan Nn “O” yang mengalami disminorea primer. Diskusi: hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi atau wacana bagi Nn. ”N” dan Nn “O” tentang efektifitas penerapan teknik massase effleurage untuk mengurangi nyeri pada dismenore primer.
Kata kunci : menstruasi, disminorhea, massase effleurag
PENGARUH SENAM OTAK TERHADAP TINGKAT KONSENTRASI BELAJAR MAHASISWA
Abstrak
Latarbelakang konsentrasi suatu proses pemusatan pemikiran kepada objek tertentu. Kesulitan berkonsentrasi banyak dialami mahasiswa, terutama dalam mempelajari pelajaran yang tingkat kesulitannya cukup tinggi. Usaha untuk mengatasi gangguan konsentrasi dapat dilakukan dengan senam otak (brain gym). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senam otak terhadap tingkat konsentrasi belajar pada mahasiswa Prodi Keperawatan Politeknik Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang. Metode desain penelitian adalah the one group sample pretest posttest design, populasinya adalah 35 orang mahasiswa yang sesuai kriteria populasi. Sampling menggunakan Simple Random Sampling, besar sampel 20 orang. Variable independen adalah senam otak dan variabel dependen adalah tingkat konsentrasi. Pengambilan data menggunakan instrumen SOP senam otak, lembnar observasi dan tabel acakan huruf dan angka. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon taraf kesalahan () 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebelum dilakukan senam otak sebagian besar (65%) responden tingkat konsentrasinya cukup, hampir setengah (35%) responden tingkat konsentrasinya baik, dan tidak satupun (0%) responden tingkat konsentrasinya kurang. Setelah dilakukan senam otak seluruhnya (100%) responden tingkat konsentrasinya baik. Hasilnya diketahui adanya pengaruh senam otak terhadap tingkat konsentrasi belajar pada mahasiswa Prodi Keperawatan Politeknik Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang dengan thitung (3) < ttabel 2,093 sehingga H1 diterima dan Ho ditolak. Kesimpulan hasil penelitian ini perlu dilakukan latihan senam otak secara teratur agar dapat meningkatkan tingkat konsentrasi belajar pada mahasiswa sehingga dapat meningkatkan prestasi akademik.
Kata Kunci: senam otak, tingkat konsentrasi, belajar, mahasiswa
Abstract
Introduction Concentration mean the focused awareness at one particular certain or subjek object without transferring little attention to something else. Difficulty have concentration of a lot of experiencing of by student,
especially in learning subject having high difficulty level enough. Effort to overcome the this concentration trouble earn doing with the brain gym. Methode, desain research is the one group sample pretest posttest design,
aim to to know the influence brain gym exercise to concentration level student of learn at Prodi Keperawatan Rs dr. Soepraoen Malang. Population is all student of Prodi Keperawatan Politeknik RS dr. Soepraoen Malang as much 35 one who is as according to population criteria. Sampling method which is using Simple Random Sampling with the amount sample 20 people. Independent Variable is brain gym, taking with practice brain gym and variable dependen is concentration level student of learn, it the tables random of letter and number. Data analysis by Wilcoxon test with the significant level (á) 0,05. Result of research show before practice brain gym most ( 65%) from respondent have concentration level enough, almost from half ( 35%) from respondent have
good concentration level, and (0%) respondent of have mount concentration less. And after brain gym exercise entirely ( 100%) from respondent have good concentration level. Result of research show that influence brain gym exercise to concentration level student of learn at prodi keperawatan Politeknik Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang show T calculate (3) < T tables 2,093) so H1 accepted, there is significant influence of brain gym exercise to concetration level student of learn at p keperawatan Politeknik kesehatan RS dr. Soepraoen Malang.
Conclussion the effort for improve students had concentrating levels of student learning, student can choise brain gym exercise regularly
Keywords: brain gym, concentration level, student, learnin
PENGARUH TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT KECEMASAN REMAJA (13-18 TAHUN) YANG DIRAWAT INAP
Abstrak
Rawat inap adalah memasukkan seorang penderita ke dalam rumah sakit atau masa selama di rumah sakit dan merupakan stresor yang besar bagi setiap orang. Reaksi yang umum dari stres adalah kecemasan. Kecemasan yang biasanya dialami remaja saat dirawat inap biasanya disebabkan karena kehilangan teman sebaya, kehilangan kebebasan
dan takut tertinggal pelajaran di sekolah. Banyak metode yang digunakan untuk mengurangi tingkat kecemasan pada remaja yang dirawat inap, salah satunya adalah dengan terapi musik klasik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan terapi musik klasik serta mengidentifikasi perbedaan tingkat kecemasan pada remaja (13–18 tahun) yang dirawat inap sebelum dan sesudah diberikan terapi musik klasik. Penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperimental dengan desain penelitian menggunakan One Group Pretest-Posttest Design. Sampel terdiri dari 30 responden yang diambil secara purposive sampling. Variabel yang diukur adalah adalah tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan terapi musik klasik. Dari data uji statistik Wilcoxon Matched Paired didapatkan hasil nilai Z hitung -4,600 kurang dari nilai kritis Z tabel -1,645 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari alpha 0,05 (=5%), sehingga Ho ditolak. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa terapi musik klasik menurunkan tingkat kecemasan remaja (13–18 tahun) yang dirawat inap. Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan agar dilakukan terapi musik dengan jenis musik selain musik klasik pada pasien baik remaja, anak maupun dewasa yang dirawat inap dengan lebih memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi pasien terhadap sakit dan perawatan di rumah sakit.
Kata Kunci: rawat inap, tingkat kecemasan, terapi musik klasik, remaja
Abstract
Hospitalization is admitting a patient into hospital or period of time staying in hospital. It is a big stressor for every people. General reaction from stress is anxiety. Anxiety feeling from hospitalized adolescents happens due to lossing their peer group, lossing their freedom, being afraid that they can not go to school. A lot of methods are used to treat hospitalized adolescents, one of the methods is classical music therapy. The purpose of this research is to know the anxiety level before and after given classical music therapy and to identified the difference of anxiety level in hospitalized adolescents (13–18 years) before and after given classical music therapy. The type of this research is pre-experimental research by using one group pretest-posttest design. 30 respondents as samples
is selected using purposive sampling. The measured variable is anxiety level before and after given classical music therapy. From the Wilcoxon Matched Paired statistic test obtained that Z count - 4.600 less than Z table -1.645 with significancy level 0.000 less than alpha 0.05 (=5%) so the Ho is refused to conclude the classical music therapy can reduce the anxiety level of hospitalized adolescents (13–18 years). Based on this findings, the researcher suggests to do other research using music therapy with other music type except classical music for hospitalized adolescent, children, adult patients with more concern on factors that influence patient reaction to illness and treatment in hospital.
Keywords: hospitalization, anxiety level, classical music therapy, adolescent
GAMBARAN KENAIKAN BERAT BADAN IBU AKSEPTOR PIL ORAL KOMBINASI DI KLINIK BPS “K” DESA GLANGGANG KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG
ABSTRAK
Pendahuluan:Pil kombinasi atau COC saat ini adalah salah satu metode kontrasepsi yang paling luas digunakan, tetapi pil yang sekarang ini digunakan agak berbeda dari pil aslinya. Pil kontrasepsi oral kombinasi (combined oral contraceptive, COC) berisi hormon estrogen dan progesteron. Salah satu efek samping dari Pil Oral Kombinasi adalah peningkatan berat badan. Metode: desain penelitian menggunakan deskriptif. Populasi pada penelitian ini terdapat 23 Ibu Akseptor Pil Oral Kombinasi dengan jumlah sampel 14 responden Ibu Akseptor Pil Oral Kombinasi. Teknik accidental sampling, pengumpulan data menggunakan lembar wawancara. Hasil dan analisis: penelitian ini menunjukkan bahwa dari 14 responden, 6 responden (42,8%) mengalami kenaikan berat badan >5 kg dan 8 responden (57,2%) mengalami kenaikan ≤5-10 kg. Peneliti tidak menemukan adanya responden yang berat badannya tetap. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas peneliti berpendapat bahwa kenaikan berat badan akseptor pil oral kombinasi memang karena pemakaian pil oral kombinasi, selain disebabkan karena pemakaian pil oral kombinasi kenaikan berat badan juga disebabkan beberapa faktor antara lain pola makan dan aktivitas sehari-hari.
Diskusi: akseptor Pil Oral Kombinasi untuk menstabilkan berat badan dalam pemakaian Pil Oral Kombinasi harus diimbangi dengan olahraga dan pola makan yang sehat.
Kata kunci : Pil Oral Kombinasi, kenaikan berat bada
PENGARUH PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PROSES PERSALINAN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN IBU PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III
ABSTRAK
Persalinan merupakan proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang cukup
bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan
bantuan atau tanpa bantuan atau kekuatan sendiri. Penyulit atau penghambat kemajuan dalam
proses persalinan salah satunya adalah kecemasan. Kurang pengetahuan diduga menjadi
penyebab kecemasan.
Desain penelitian ini adalah pra eksperimen dengan model pendekatan One group pre-test
post test design. Populasinya adalah seluruh ibu hamil trimester III yang melakukan ANC di
Poli Hamil Rumkit Militer Kota Malang yang sesuai kriteria populasi. Teknik sampling
menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 12 responden. Data penelitian diambil
dengan menggunakan kuesioner skala kecemasan Zung (ZSAS). Setelah ditabulasi, data
dianalisis dengan menggunakan uji wilcoxon dengan taraf signifikansi 0,05.
Hasil penelitian menunjukan ibu primigravida trimester III sebelum di beri perlakuan tingkat
kecemasannya berat yaitu 5 orang (41,7%) dan 7 orang (58,3%) cemas ringan dan setelah
diberikan perlakuan tingkat kecemasan ibu primigravida trimester III menjadi 9 orang
(75%) cemas ringan dan 3 orang (25%) cemas sedang. Hasil pengujian statistik diperoleh
hasil 0,038 < nilai α (0,05) dapat di interpretasikan bahwa ada pengaruh pemberian
pendidikan kesehatan tentang proses persalinan terhadap tingkat kecemasan ibu primigravida
trimester III. Dengan adanya pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap tingkat
kecemasan ibu primigravida trimester III, maka di sarankan agar hasil penelitian ini dapat
digunakan sebagai pertimbangan bagi instansi pelayanan kesehatan dalam mengembangkan
dan meningkatkan pelayanan ANC di Poli Hamil Rumkit Militer Malang dalam upaya
menurunkan kecemasan pada ibu hamil.
Kata Kunci : Pendidikan kesehatan, tingkat kecemasan, Primigravida
PENGARUH APLIKASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (SIM) ASUHAN KEPERAWATAN ANAK BERBASIS TEKNOLOGI TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) KEPERAWATAN DI RUANG ANAK RUMAH SAKIT SAIFUL ANWAR MALANG
ABSTRAK
Latar belakang :SOP (standar operasional prosedur) adalah standar yang harus di jadikan acuan dalam memberikan setiap pelayanan. Kelalaian perawat dan pengetahuan yang kurang dalam melakukan tindakan tidak sesuai SOP akan membahayakan bagi perawat maupun klien. Pada saat ini kebanyakan SOP di rumah sakit masih paper baseddan tersimpan di folder yang merupakan hambatan untuk mendapatkan informasi tentang SOP itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi sistem informasi manajemen (SIM) terhadap pengetahuan tentang SOP. Metode: Penelitian ini menggunakan design quasy eksperimen dengan pre-post one group only, dengan menggunakan tehnik purposive sampling didapatkan 16 sampelserta analisis data dengan wilcoxon ranks. Hasil: Penelitian menunjukkan pengetahuan tentang SOP keperawatan sebelum aplikasi SIM keperawatan adalah kategori baik 43,7% (7 orang), kategori cukup 50% (8 orang), serta 6,25% (1 orang) dalam kategori kurang sedangkan pengetahuan SOP setelah aplikasi SIM kategori baik 62,5% (10 orang), kategori cukup 37,5% (6 orang). Pada analisis wilcoxon ranks test dengan SPSS 16 pada tarap signifikansi (α = 0,05) didapatkan nilai p valuenya = 0,001 (p valuenya< 0,05). Kesimpulan: Aplikasi SIM keperawatan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan tentang SOP di ruang anak Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Disarankan untuk diaplikasikannya SIM keperawatan untuk semua rumah sakit termasuk RSSA yang didalamnya memuat kontens SOP yang lebih praktis, efektif dan fleksibel
Kata Kunci : Sistem Informasi Manajemen, Pengetahuan Perawat, SOP (standar operasional prosedu
ANALYSIS OF FACTOR AFFECTING THE EMERGENCY OF DIABETIC KETOACIDOSIS IN PATIENT DIABETES MELLITUS
Abstrak
Latar Belakang Faktor-faktor yang berhubungan dengan kegawatan hiperglikemi antara lain faktor KAP (knowledge, attitude and practice) dan faktor stres. Pengetahuan merupakan domain penting yang menjadi titik tolak perubahan sikap dan perilaku seseorang termasuk stres. Stres merupakan gejala psikologis bisa menyebabkan perubahan fungsi normal tubuh sehingga seseorang yang mempunyai kerentanan genetik atau herediter akan dimanifestasikan sebagai penyakit. Tujuan menganalisis faktor yang mempengaruhi kegawatan ketoasidosis diabetik pada pasien diabetes melitus. Metode yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan purposive sampling. Jumlah sampel 20 responden. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dan
lembar cek list. Hasil penelitian menggunakan uji bivariat dengan uji Spearman’s rho p value 0,05 artinya bahwa model telah sesuai dan untuk nilai Cox dan Snel = 0,762 yang berarti bahwa keragaman data variabel independent (sikap, perilaku dan stres) dalam penelitian ini mampu menjelaskan keragaman data variabel dependentnya sebesar 76,2% sedangkan sisanya 23,8% dijelaskan oleh variabel bebas lain yang ada di luar model penelitian. Kesimpulan faktor yang mempengaruhi kegawatan ketoasidosis diabetik pada pasien diabetes melitus adalah sikap, perilaku dan stres. Dari keseluruhan faktor tersebut yang paling berpengaruh adalah faktor sikap.
Kata Kunci: diabetes melitus, kegawatan ketoasidosis diabetik, faktor KAP (knowledge, attitude and practice), faktor stres
Abstract
Background Factor relating to the emergency of diabetic ketoasidosis are KAP (knowledge, attitude and practice) and stress factor. Knowledge a important domain which became the starting point of attitude and
behavior change and stress as well. Stress is a psychology syndrome that cause changes of the body’s normal function, if a person has a genetic or hereditary susceptibility, it will be manifested as a diseases.The purpose
Analyze the factor affecting the emergency of diabetic ketoacidosis in diabetic mellitus patients. Method observational with cross sectional approach uses purposive sampling. The numbers of sample are 20 respondents, and data collected uses questionnaires and mailing checks. The results bivariat test with spearman’s rho p value < 0,05 and showed the factor that affect the emergency of ketoacidosis diabetic is attitude (spearman’s rho, p=0.005 r=-0.604), behavior (spearman’s rho, p=0.06 r=-0.595) and stres (spearman’s rho, p=0.019 r=0.518). The most
influential factor is attitude, while multivariate test with logistic regression test of multinomial factor is used to test the attitude, behavior and stress. When they are tested together, they can show simultan test p value=0,000 0,05 it means that accordance and the value of Cox and Snel 0.762 which means that the diversity of independent variable data (attitudes, behavior and stress) in this study is able to explain the diversity of its dependent variable data as big as 76.2%. The remaining 23.8% is explained by other independent variables outside the research model. Conclusion is that factor affecting the emergency of diabetic ketoacidosis in patients with diabetes mellitus are the attitude, behavior and stress. Of all these factor the most influential factor is attitude.
Keywords: diabetes mellitus, emergency of diabetic ketoacidosis, KAP (knowledge, attitude and practice) factor, stress facto
PENURUNAN KECEMASAN DAN KOPING ORANG TUA DALAM MERAWAT ANAK YANG MENGALAMI HOSPITALISASI MELALUI PENERAPAN CARING SWANSON DI RS MARDI WALUYO BLITAR
ABSTRAK
Pendahuluan: Hospitalisasi pada anak dapat menimbulkan stress baik pada anak maupun orang tua. Kecemasan pada orang tua menimbulkan suatu mekanisme koping yang nantinya diperlukan dalam mengatasi suatu stress. Salah satu upaya untuk meminimalkan kecemasan dan koping orang tua tersebut dengan mengoptimalkan peran perawat dalam memberikan informasi dan dukungan kepada orang tua melalui penerapan caring. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Pre-experimental One Group Pret-Post test Design yang bertujuan untuk mengetahui adanya penurunan kecemasan dan peningkatan koping orang tua pasien anak dengan adanya perilaku caring Swanson. Sampel yang digunakan 14 orang perawat dengan teknik total sampling dan 47 orang tua pasien dengan teknik purposive sampling. Variabel independent penelitian ini adalah perilaku caring perawat sedangkan variable dependentnya kecemasan dan koping orang tua pasien. Responden perawat mendapat perlakuan intervensi berupa sosialisasi dan bimbingan perilaku caring Swanson sedangkan responden orang tua mendapatkan intervensi perilaku caring Swanson oleh perawat ruangan di IRNA Nusa Indah Mardi Waluyo Blitar. Data penelitian ini di olah menggunakan uji Paired t test. Hasil dan analisa: Hasil menunjukkan bahwa nilai p adalah 0,000
POLA MAKAN BATITA “Z” DENGAN STATUS GIZI BGM (BAWAH GARIS MERAH) DI PUSKESMAS KETAWANG KABUPATEN MALANG
ABSTRAK
Latarbelakang:BGM adalah anak dengan berat badan kurang menurut umur dibandingkan dengan standar yang diketahui secara visual dengan melihat plot dalam KMS berada dibawah garis merah. Batita BGM tidak selalu menderita gizi buruk tapi menjadi indikator awal mengalami masalah gizi. Karena pentingnya penilaian status gizi, maka perlu dilakukan identifikasi pola konsumsi. Penelitian ini betujuan mengidentifikasi jenis makan, jumlah makanan, dan frekuensi makanan batita BGM. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian studi kasus dengan melakukan pengamatan secara deskriptif observasional pada batita usia 1-3 tahun dengan BGM, dengan cara mengidentifikasi pola makan batita yang mengalami BGM. Subyek penilitian 1 orang yaitu batita “Z” dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Peneliti menilai pola makan batita “Z” selama 1 bulan. Setelah itu membandingkan dengan AKG. Hasil penelitian: Rata-rata dalam 1 hari kebutuhan kalori, protein, lemak dan karbohidrat batita “Z” adalah untuk kalori 571,727 kkal perhari, protein 21,932 gr perhari, lemak 19,291 gr perhari dan karbohidrat 72,903 gr perhari. Sedangkan kebutuhan menurut AKG batita umur 1 tahun membutuhkan kalori 1100 kkal per hari, protein 27,5 gr, lemak 24,4 gr per hari, dan karbohidrat 192,5 gr per hari. Maka batita “Z” dalam pola konsumsinya kurang memenuhi kebutuhan. Diskusi: disarankan bagi ibu selalu memantau keadaan status gizi batita secara rutin dan terjadwal.
Kata kunci: Pola Makan Batita BGM, Status Gizi, Food Record
ABSTRACT
Introduce: BGM is child underweight by age compared to the standard known to visually see the plot in KMS is below the red line. BGM toddlers are not always suffering from malnutrition but a preliminary indicator experiencing nutritional problems. Because of the importance of nutritional status assessment, it is necessary to identify consumption patterns.This study aims to identify the type of meal, the amount of food, and food frequency toddlers BGM. Methode: In this study, researchers used a case study research design by performing an observational descriptive in toddlers aged 1-3 years with BGM, by identifying the toddler suffered diet BGM. Subjects penilitian 1 ie toddlers "Z" are selected based on inclusion and exclusion criteria.Researchers assessed the toddler diet "Z" for 1 month. After that compares with AKG. Results: The study for an average of 1 day needs of calories, protein, fat and carbohydrates toddlers "Z" is for calorie 571.727 kcal per day, 21.932 grams of protein per day, 19.291 grams of fat per day and 72.903 grams of carbohydrates per day. Meanwhile, according to the needs of toddlers aged 1 year AKG requires calories 1100 kcal per day, 27.5 g protein, 24.4 g fat per day, and 192.5 grams of carbohydrates per day. Then the toddler "Z" in the pattern of consumption did not adequate. Discuss: mother must be constantly monitors the state of nutritional status and toddlers regularly scheduled.
Keywords: BGM Toddler Diet, Nutritional Status, Food Recor