Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti
Not a member yet
192 research outputs found
Sort by
PENGARUH KEMAMPUAN PERSONAL TERHADAP RESILIENSI
Orang tua merupakan unit dalam keluarga memiliki kontribusi dalam keberhasilan resiliensi . Resiliensi merupakan kemampuan alami orang tua untuk bertahan hidup, dan bahkan berkembang dalam menghadapi krisis. Orang tua akan mampu mengambil keputusan dalam kondisi yang sulit secara cepat. Resiliensi orang tua erat dipengaruhi oleh faktor individual atau kemampuan personal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kemampuan personal terhadap resiliensi. Metode dalam penelitian ini adalah korelatif observasional dengan pendekatan cross sectional jumlah sampel 36 yang diambil dengan total sampling. Penelitian dilakukan pada bulan Nopember 2016 di SLB-C Yayasan Bhakti Luhur Kota Malang. Instrumen faktor personal adalah kuisioner yang dibuat peneliti dan kuisioner baku resiliensi Resilience Quotient dan telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan Pearson Product Moment dan Alpha Chronbach. Setelah data terkumpul akan dilakukan pengolahan data dengan tahap editing, coding, tabulating dan analisis statistik. Uji analisis yang digunakan adalah Pearson dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan faktor personal berpengaruh terhadap resiliensi p-value < α 0,05 adalah individu ( p-value=0.000, r=0,616). Kesimpulan ada pengaruh signifikan antara kemampuan personal terhadap resiliensi. Dengan kekuatan hubungan yang kuat dan arah positif, artinya semakin tinggi kemampuan personal orang tua maka akan semakin tinggi resiliensinya.
Kata Kunci: Kemampuan Personal, Resiliensi, Orang Tua, Down Syndrome
PENERAPAN SISTEM PENILAIAN TRAUMA REVISED TRAUMA SCORE (RTS) UNTUK MENENTUKAN MORTALITAS PASIEN TRAUMA DI TRIAGE INSTALASI GAWAT DARURAT
ABSTRACTBackground : Trauma is a condition caused injury or injury, therefore Trauma is an event that is holistic, potentially disrupting activity for patients. The most practical assessment for value trauma to the emergency conditions and the simplest is the RTS, results of several studies indicate that the scale of this aid in the triage of trauma and predict mortality.Method : The method used in this study using a non-parametric correlation test (Chi-squre), which will prove that the judging of RTS has a relationship with a mortality rate as well as the prognosis and treatment.Result : Use RTS assessment indicates that there is a significant relationship between ratings RTS with mortality predictor in cases of trauma. RTS is very good so if used in the case of pre-hospital or emergency room triage services.Conclusion : RTS become one of the alternative assessment system in trauma cases. RTS help is effective against predictors of mortality, prognosis or treatment of trauma on trauma case
TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK SOSIALISASI (TAKS) SESI 1-4 MENURUNKAN TINGKAT DEPRESI PADA PENDERITA HIV POSITIF
ABSTRAK
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit yang dapat menyebabkan
masalah psikologis seperti depresi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa
perbedaan tingkat depresi sebelum dan sesudah diberikan Terapi Aktivitas Kelompok
Sosialisasi (TAKS) pada penderita HIV positif di Yayasan Bina Hati Surabaya.Desain
penelitian ini adalah One Group Pra-Post Test Design dengan menggunakan quota
sampling dan jumlah sampel sebanyak 32 responden.Instrumen yang digunakan adalah
kuesioner tingkat depresi berupa pertanyaan tertutup dengan 21 item pertanyaan. Hasil
uji statistik yang menggunakan uji Wilcoxon,
HUBUNGAN SIKAP DAN PERCEIVED BEHAVIOR CONTROL DENGAN INTENSI DALAM PENDOKUMENTASIAN ASUHAN KEPERAWATAN DI IGD MENGGUNAKAN THEORY OF PLANED BEHAVIOR
Lingkungan kerja IGD yang kompleks akan mempengaruhi kualitas perawatan, pelayanan kesehatan, termasuk dokumentasi yang dilakukan tidak tepat atau tidak lengkap. Dokumentasi keperawatan yang tidak lengkap menunjukkan proses asuhan keperawatan tidak berjalan dengan baik dan berkesinambungan. Theory of Planed Behavior (TPB) telah digunakan untuk menjelaskan perilaku seseorang dan mengidentifikasi faktor-faktor penting yang mempengaruhi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan sikap dan perceived behavior control dengan intensi dalam pendokumentasian asuhan keperawatan di Instalasi Gawat Darurat menggunakan Theory of Planed Behavior. Desain penelitian menggunakan analysis observational dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian perawat pelaksana di IGD RS dr Soepraoen, IGD RS Panti Waluya Sawahan dan IGD RS Islam Malang. Sampel berjumlah 45 perawat IGD dan 341 dokumen dipilih sesuai dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Hasil analisis uji statistik partial least square menunjukkan terdapat hubungan hubungan sikap dan perceived behavior control dengan intensi dibuktikan dengan masing-masing nilai T-Statistik sebesar >1,68. Rumah Sakit dan perawat IGD diharapkan mengembangkan sikap positif serta PBC yang baik sehingga menyebabkan intensi yang baik selanjutnya terbentuk perilaku pendokumentasian keperawatan yang baik pula
Hubungan Respiratory Rate (RR) dan Oxygen Saturation (SpO2) Pada Klien Cedera Kepala
Latar Belakang. Evaluasi fungsi respirasi pada pasien cedera kepala merupakan intervensi penting saat penatalaksanaan pasien cedera kepala. Evaluasi fungsi respirasi dilakukan melalui pengukuran RR dan SpO2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara RR dan SpO2 pada klien yang mengalami cedera kepala. Metode. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan desain cohort retrospektif ini dilaksanakan di Rumah Sakit dr. Iskak Tulungagung pada bagian Rekam Medis. Data diambil dari semua rekam medis pasien bulan Januari 2016 hingga Juli 2017 berjumlah 150 rekam medis. Variabel yang digunakan adalah jumlah RR dan Kadar SpO2 saat pasien masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit. Data yang didapatkan kemudian diolah dengan SPSS 20.0 menggunakan Uji Korelasi Spearman’s Rho. Hasil. Berdasarkan hasil analisis Uji Korelasi Spearman’s Rho didapatkan p= 0,002, r= -0,247. Kesimpulan. Pada pasien cedera kepala, komponen RR memiliki hubungan yang bermakna dengan kadar SpO2 dengan kekuatan lemah dan arah korelasi negatif
PENGARUH AKUPUNKTUR PADA TITIK PC 6, CV 12, DAN ST 36 PADA NYERI LAMBUNG DI LABORATORIUM KLINIK AKUPUNKTUR POLITEKNIK KESEHATAN RS DR. SOEPRAOEN MALANG
ABSTRAK
Nyeri lambung merupakan penyakit yang dapat menyerang semua orang dari berbagai usia dan golongan. Nyeri lambung dapat membahayakan bila tidak diobati karena dapat menyebabkan terjadinya infeksi pada lambung, bahkan kematian. Akupunktur merupakan pengobatan komplementer yang murah, aman, rasional, efektif, dan alami yang bisa digunakan dalam jangka waktu yang panjang, karena relatif tanpa efek samping, sehingga diharapkan dapat menggantikan obat kimia yang kadang membahayakan kesehatan karena efek sampingnya yang beragam. Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua orang yang menderita nyeri lambung yang memanfaatkan pengobatan Akupunktur dengan sample 30 orang. Metode pengambilan sample menggunakan teknik purposive sampling di Laboratorium Klinik Akupunktur Politeknik Kesehatan RS dr. Soepraoen Malang. Akupunktur dilakukan seminggu tiga kali dengan interval dua hari sekali selama 12 kali terapi. Data yang didapatkan diolah dan dilakukan analisis dengan Uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan hasil pengukuran nyeri sebelum terapi Akupunktur (pretest) dengan sesudah terapi Akupunktur (posttest). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara sebelum terapi Akupunktur (pretest) dengan sesudah terapi Akupunktur (posttest) sebanyak 100%. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa terapi Akupunktur dapat menurunkan nilai intensitas nyeri pada penderita nyeri lambung. Direkomendasikan bahwa Akupunktur digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk kasus nyeri lambung.
Kata kunci: akupunktur, nyeri lambung, intensitas nyer
HUBUNGAN ANTARA VARIASI BERMAIN DENGAN PERKEMBANGAN KOGNITIF PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH KELOMPOK A DI TK PGRI 01 KEDUNGKANDANG MALANG
ABSTRAK
Latar belakang: Perkembangan kognitif anak adalah perkembangan anak dalam menggunakan kekuatan berfikirnya, dalam hal ini otak mulai mengembangkan kemampuan untuk berfikir, belajar, dan mengingat. Alat permainan merupakan salah satu cara untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak. Variasi bermain diperlukan untuk kesehatan fisik, mental, dan perkembangan emosionalnya. Merangsang anak dengan variasi bermain diharapkan dapat membantu perkembangan kognitif anak. Namun pada kenyataannya meskipun anak sudah mendapatkan variasi bermain, banyak anak yang perkembangan kognitifnya dinilai kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara variasi bermain dengan perkembangan kognitif pada anak usia pra sekolah. Metode: Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasinya adalah seluruh murid TK PGRI 01 Kedungkandang Malang. Jumlah sampel 30 responden yang didapatkan dengan teknik total sampling. Variabel yang diteliti yaitu variasi bermain dan perkembangan kognitif. Pengambilan data variasi bermain dengan cara wawancara terstruktur dan observasi tidak langsung, sedangkan data perkembangan kognitif diambil dari dokumentasi. Analisa data menggunakan uji statistik Rank Spearman dengan tingkat kepercayaan 95%.Hasil: penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 20 responden (67%) permainannya bervariasi dan sebanyak 20 responden (67%) perkembangan kognitifnya baik. Dari uji statistik didapatkan xy hitung sebesar 0,512 sedangkan dari tabel sebesar 0,346 (rho tabel < rho hitung). Dengan demikian Ho ditolak dan Hi diterima, yang berarti bahwa ada hubungan antara variasi bermain dengan perkembangan kognitif anak usia prasekolah kelompok A TK PGRI 01 Desa Slorok Kecamatan Kromengan Kabupaten Malang.
Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini, maka variasi bermain pada usia pra sekolah diperlukan untuk menstimulasi perkembangan kognitif anak agar dapat tumbuh secara optimal.
Kata Kunci : Variasi Bermain, Perkembangan Kognitif, Pra Sekola
Gambaran Harga Diri Orang Tua Yang Mempunyai Anak Retardasi Mental
Abstrak
Latar belakang, Harga diri adalah Penilaian individu terhadap hasil yang di capai, dengan cara menganalisis seberapa jauh perilaku individu tersebut sesuai dengan ideal diri. Pada orang tua yang mempunyai anak retardasi
mental merupakan pengalaman yang menyedihkan karena perilaku anak retardasi mental berbeda dengan anak normal lainnya, sehingga dibutuhkan kesabaran yang lebih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran harga diri pada orang tua yang mempunyai anak retardasi mental di SDLB. Metode jenis penelitian adalah deskriptif ekploratif dengan populasi sebagian orang tua yang punya anak retardasi mental di kelas I s/d VI di SDLB sebanyak 53 orang dengan metode sampling yaitu Quota Sampling. Variabel penelitian adalah Harga diri orang tua yang mempunyai anak Retardasi. Analisis data, Metode dan instrumen pengumpulan data adalah kuisioner dan analisa data menggunakan analisa deskriptif. Hasil penelitian, secara umum harga diri orang tua yang mempunyai anak retardasi mental dapat dijelaskan bahwa pada aspek Perilaku, Prestasi, Hubungan Antar Pribadi dan aspek Kreatifitas bahwa sebagian besar 40 responden (85,1%) mempunyai harga diri tinggi dan sebagian kecil 7 responden (14,9%) mempunyai harga diri rendah. Harga diri orang tua pada aspek kreatifitas anak sebagian besar orang tua memiliki harga diri yang rendah. Kesimpulan mengurangi sikap rendah diri, perasaan kecewa dari orang tua sehingga dapat bersikap lebih realistik dan lebih dapat menerima anaknya serta dapat merencanakan program yang lebih baik bagi anaknya. Melalui kegiatan: 1) konseling, 2) terapi keluarga untuk merubah sikap orang tua yang kurang baik terhadap penderita, 3) terapi kelompok dengan orang tua anak retardasi mental lainnya.
Kata Kunci: harga diri, orang tua, retardasi mental
Abstract
Background, Self-esteem is an individual assessment of the results achieved, by analyzing how far the behavior of the individual in accordance with the ideal self. Parents who have children with mental retardation is a sad experience because mentally retarded child’s behavior is different from other normal children, so it takes more patience. The purpose of this study is to describe the self-esteem in parents who have children with mental retardation in SDLB. Methods of this type of research is descriptive explorative with a population of some parents who have children with mental retardation in class I s / d VI in SDLB as many as 53 people with sampling Quota sampling method. The research variables are the self-esteem of parents who have children Retardation. Data analysis, data collection methods and instruments are questionnaires and data analysis using descriptive analysis. Results of the study, in general self-esteem of parents who have children with mental retardation can be
explained that in the aspect of Conduct, Performance, Personal Relationships and Creativity aspect that most of the 40 respondents (85.1%) have high self esteem and a small portion 7 respondents
(14.9%) had low self esteem. Esteem of parents on children’s creativity aspect of mostly elderly people have low self-esteem. Conclusion reducing
the attitude of inferiority, a feeling of disappointment of the parents so as to be more realistic and more able to accept the child and can plan better programs for children. Through the following activities: 1) counseling, 2)
family therapy to change the attitude of parents were less well to the patient, 3) group therapy with parents of children with mental retardation Other.
Keywords: self-esteem, parents, mental retardatio
GAMBARAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN DIABETES MELITUS MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA ECONOMIC-PRIMARY HEALTH CARE (e-PHC) DI DESA TAWANGARGO, KECAMATAN KARANGPLOSO, KABUPATEN MALANG
Abstrak
Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakti kronis dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi di dunia. Angka kejadian DM Tipe II di Kabupaten Malang pada tahun 2010 mencapai 1412 jiwa dan Kecamatan Karangploso sebagai salah satu kecamatannya menyumbang angka kejadian 110 jiwa. Jumlah diabetisi di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso mengalami kenaikan dari 14 orang saat studi pendahuluan menjadi 30 orang dalam proses pelaksanakan penelitian. Tindakan promotif dan preventif (Primary Health Care/PHC) merupakan salah satu solusi kunci dalam menurunkan angka kejadian DM. e-PHC (economic-Primary Health Care) merupakan strategi teknologi tepat guna dalam meningkatkan peran serta masyarakat dalam penanggulangan DM dengan menggabungkan pendekatan ekonomi dalam PHC. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran peran serta masyarakat dalam penanggulangan Diabetes Melitus melalui penerapan teknologi tepat guna e-PHC di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah action research. Dari segi e (economic)
terdiri dari kegiatan edukasi khasiat mengkudu sebagai pencegah DM, pelatihan teknologi tepat guna olahan kering dan cair mengkudu, dan pelatihan distribusi mengkudu bagi kader kesehatan dan pemilik pohon mengkudu. Dari segi PHC (Primary Health Care) terdiri dari edukasi DM bagi diabetisi (pembentukan Self Help Group/kelompok swabantu DM dan pemberian buku pedoman), edukasi bagi masyarakat umum (penyuluhan dan pemberian media leaflet dan poster DM), edukasi bagi kader kesehatan (penyuluhan DM, pemberian buku panduan kader, pelatihan senam DM, dan pelatihan pemeriksaan kesehatan sederhana). Teknologi tepat guna e-PHC dapat meningkatkan peran serta masyarakat Desa Tawangargo dalam penanggulangan DM yaitu menginisiasi kader kesehatan yang mampu dan berperan aktif dalam penanggulangan DM, menginisiasi Posyandu Lansia sebagai wadah penemuan dini dan
tatalaksana DM, menginisiasi kegiatan aktivitas fisik (senam DM) yang dilaksanakan setiap minggu, meningkatkan pengetahuan warga umum mengenai DM, meningkatkan pengetahuan diabetisi dalam managemen DM, dan alokasi 5-10% hasil penjualan mengkudu untuk kas Posyandu Lansia sebagai subsidi biaya pemeriksaan gula darah bagi Diabetisi.
Kata Kunci: teknologi tepat guna, e-PHC, penanggulangan diabetes melitus, peran serta masyarakat
Abstract
Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease with the high morbidity and mortality in the world. The incidence of DM type II in Malang Regency (2010) reached 1412 people and one of that district is Karangploso with
110 diabetics. Tawangargo is one of village in Karangploso that diabetics number reached from 14 to 30 diabetics in the research process. Promotive and preventive action is a key model to solve this problem. The purpose of this research is to identify the description of community participation in the management of diabetes mellitus through the application of e-PHC (economic-Primary Health Care) appropriate technology in the Village of Tawangargo, District of Karangploso, Regency of Malang. This research uses action research methode. e-PHC is a method to improve public health by synergizing PHC concepts with economic approach. Economic approach consists of education of the noni (Morinda citrifolia) efficacy as a DM deterrent, appropriate technology training of noni producing, and noni distribution training for health cadres and the owner of the noni tree. PHC included education for diabetics (Self Help Group and diabetic guideline book provision), education for the general community (DM counseling and provision of diabetes leaflets and posters), education for health cadres (DM counseling, provision of cadres guideline book, diabetes exercise training, and simple medical examination
training). e-PHC appropriate technology can improve community participation in the management of DM in Village of Tawangargo. It capable of initiating health cadres to have active role in the prevention of diabetes mellitus, initiate Elderly IHC (Elderly Integrated Health Care) as a forum for early discovery and treatment of diabetes, initiate physical activity program, increasing community knowledge about diabetes, increasing knowledge of diabetics in the management of their diabetes, and intiate of 5-10% alocation of the noni sale for health financing in Elderly IHC.
Keywords: appropriate technology, e-PHC, management of DM, commnunity participatio
STUDI FENOMENOLOGI PENGALAMAN TENTARA YANG MENGALAMI CEDERA PANAS PADA KEGIATAN MILITER DI MALANG
Abstrak
Kegiatan militer baik di dalam maupun di luar batalyon sering melibatkan lingkungan yang panas, medan yang sulit, dan beban yang berat, serta menuntut kemampuan fisik yang bagus. Pelaksanaan kegiatan militer cukup berpotensi terjadinya cedera panas. Pengalaman tentara yang mengalami cedera panas penting mengingat minimnya penelitian tentang kasus ini di tentara. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi pengalaman tentara yang mengalami cedera panas pada kegiatan militer di Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode
fenomenologi dengan pendekatan interpretif. Didapatkan 5 orang partisipan, dengan wawancara semi terstruktur, data yang didapatkan dianalisa dengan Van Manen. Didapatkan 7 (tujuh) tema, yaitu beban pembinaan fisik yang berlebihan, kebutuhan fisiologis tidak terpenuhi, dilematis latihan persiapan, gangguan kesehatan tidak teridentifikasi,
motivasi tinggi untuk bisa IB (Ijin Bermalam), kondisi fisik dan psikologis yang tidak nyaman serta upaya pencegahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban fisik yang berlebihan pada siang hari bisa menyebabkan tentara mengalami cedera panas. Meskipun kebugaran fisik bagus, makan dan tidur cukup, dilakukan latihan persiapan kegiatan,
motivasi yang terlalu tinggi juga bisa menjadi penyebab cedera panas. Makna dari penelitian ini adalah minimnya peralatan pencegahan cedera panas dan kultur tentara yang memiliki integritas, loyalitas dan esprit de corps yang tinggi mampu menepis dan mengalahkan batas kemampuan fisiologis yang dimiliki tentara, meskipun hal ini bisa membahayakan bagi kesehatan dan keselamatannya. Penelitian ini memberikan masukan terhadap batalyon untuk mempersiapkan personil sebaik mungkin dalam suatu kegiatan, dan bagi tentara kegiatan pembinaan fisik mutlak
dilakukan secara kontinyu untuk mendapatkan kebugaran fisik yang prima, kebutuhan nutrisi dan kebutuhan tidur yang cukup sehingga menjadi kunci keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan.
Kata Kunci: pengalaman tentara, cedera panas, studi fenomenologi, lomba peleton beranting, cross country
Abstract
Military activities both inside and outside battalion often involves a hot environment, a difficult terrain, and heavy burdens that need a good physical ability.The implementation of activities of the military has a potential to provoke heat injury.The experience of soldiers who suffered a hot injury is important, considering that the lack of research on this case in the army.The purpose of this research is exploring the experience of heat injury among army soldier on military activities in Malang. A qualitative phenomenology research method with interpretiveapproach of are applied in this research. 5 participants are interviewed with semi-structured technique. Data were analysed with interpretive qualitative research method byVan Manen. There are 7 (seven) the theme were obtain, they are excessive Binsik (physical training) burden, inappropriate physiological need compliance (sleep, eating etc), intensity of preparational activities, an unidentified physical impairment condition (fever), high motivation (to get an overnight allowance out side batallion), uncomfortable psycal and psycological condition and also prevention efforts.The result showed that anexcessivephysical burden during the daytime could be the cause an army suffered heat injury. Although in good physicalcondition, physiological need compliance and preparation, the high motivation can also be the cause of heat injury. It coud be concluded this research that the lack of equipment in heat injury prevention and the culture soldier who has integrity, loyalty and esprit de corpsthat capable to defeated the limit of physiological capability in army soldier, although it could be dangerous forarmy health and safety. This study providean information for battalion to prepare personnel and activities well before military activities. In the other hand for the troops, continuous Binsik (physical training) was absolutely necessary in orer to maintain physical condition in top condition. Appropriate nutritional intake andand rest are alsoimportant key factor to successesactivities.
Keywords: experience of heat injury, phenomenology, the study platoon estaffete competition, cross countr