Jurnal Kesehatan Hesti Wira Sakti
Not a member yet
192 research outputs found
Sort by
STUDI LAMA PELEPASAN TALI PUSAT BAYI ANTARA UMBILICAL CORD CLAMP DAN BENANG KATUN STERIL (Di PMB Restu Ibu Dan Polindes Barokah Jatirogo Kabupaten Tuban)
Salah satu indikator penyebab Kematian bayi adalah infeksi neonatal. Infeksi neonatal mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman. Terkait pada tali pusat, tali pusat bisa menjadi jalan masuk untuk terjadinya suatu keadaan proses infeksi, penggunaan alat pengikat tali pusat ini juga dapat mempengaruhi lepasnya tali pusat. Bidan PMB Restu Ibu merupakan salah satu bidan yang menggunakan Umbilical Cord Clamp sebagai alat pengikat tali pusat sedangkan Bidan di Polindes Barokah menggunakan benang katun steril sebagai alat pengikat tali pusat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Perbedaan pengikatan tali pusat antara Umbilical Cord Clamp dan benang katun steril terhadap lama pelepasan tali pusat pada bayi di PMB Restu Ibu dan Polindes Barokah Jatirogo Kabupaten Tuban.
Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan penggunakan pendekatan Retrospektif. Populasi penelitian seluruh bayi usia 1-12 bulan di PMB Restu Ibu dan Polindes Barokah Kabupaten Tuban bulan Juli-Agustus sebanyak 72 bayi. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dengan jumlah sampel 60 bayi. Cara pengumpulan data menggunakan wawancara kemudian data diolah dengan menggunakan Uji Spearman , variabel dalam penelitian ini adalah alat pengikat tali pusat dan lama pelepasan tali pusat.
Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar lama pelepasan tali pusat yang diikat dengan Umbilical Cord Clamp dalam kategori normal sebanyak 21 bayi (70%). Sebagian besar lama pelepasan tali pusat yang diikat dengan benang katun steril dalam kategori normal sebanyak 16 bayi (53,3%). Walaupun sama dalam kategori normal namun terdapat perbedaan dalam rata-rata didapatkan rata-rata pada bayi yang menggunakan benangkatun steril lama lepasnya tali pusat 5,3 hari sedangkan bayi yang menggunakan Umbilical Cord Clamp rata-rata lama pelepasan tali pusat 6,9 hari.
Berdasarkan hasil penelitian Sehingga dapat disimpulkan bahwa bayi yang menggunakan benang katun steril lebih cepat dari pada yang menggunakan Umbilical Cord Clamp. maka disarankan untuk para petugas kesehatan diharapkan menggunakan benang katun steril sebagai alat pengikat tali pusat
PENURUNAN INTERDIALYTIC WEIGHT GAIN PASIEN HEMODIALISA DENGAN MENGGUNAKAN APLIKASI THEORY OF PLANNED BEHAVIOUR
Latar belakang : Untuk mengetahui jumlah cairan yang masuk selama periode interdialitik dapat dilakukan dengan mengukur Interdialytic Weight Gain (IDWG). Pengontrolan nilai IDWG selama periode hemodialisa dapat dipengaruhi oleh kepatuhan dalam pembatasan cairan. Pemberian edukasi terstruktur berlandaskan Theory of Planned Behaviour tentang asupan cairan dapat memberikan keyakinan pada pasien gagal ginjal kronik tahap akhir yang menjalani hemodialisa sehingga berdampak pada penurunan IDWG. Tujuan Penelitian : untuk menganalisis penurunan Interdialytic Weight Gain (IDWG) pasien hemodialisa melalui aplikasi Theory of Planned Behaviour. Metode Penelitian : Quasy experiment dengan menggunakan pretest postest with control group design. Sampel dalam penelitian adalah pasien yang menjalani hemodialisa rutin di RSUD Panembahan Senopati Bantul sebanyak 44 orang dengan consecutive sampling. Analisis menggunakan paired t test. Hasil : Terdapat penurunan nilai IDWG pada kelompok intervensi sebelum dan setelah diberikan edukasi Theory of Planned Behaviour dengan nilai p value 0,001. Kesimpulan : Edukasi berlandaskan Theory of Planned Behaviour dapat digunakan untuk menurunkan nilai Interdialytic Weight Gain (IDWG) pasien hemodialisa di Unit Hemodialisa RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Kata Kunci : hemodialisa, interdialytic weight gain, Theory of Planned Behaviou
PENGARUH AKUPUNKTUR TANAM BENANG PADA TITIK ZUSANLI, CHENGSAN DAN SANYINJIAO PADA LOMBA LARI KONTINGEN DAM II SRIWIJAYA DALAM TONTANGKAS 2017 DI PUSDIK ARMED CIMAHI JAWA BARAT
ABSTRAK
Background : Lomba Peleton Tangkas (Ton Tangkas) adalah lomba tahunan yang dilaksanakan oleh TNI AD yang dijadikan sebagai tolak ukur pembinaan fisik setiap prajurit dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi prajurit TNI. Lomba ini merupakan lomba yang bergengsi dikalangan TNI-AD karena membawa nama satuan dan Kodam masing-masing. Berbagai kesiapan dilakukan satuan, baik kesiapan fisik, mental dan moril maupun materi yang akan dihadapi, dengan materi lomba yang meliputi Kesegaran Jasmani, Menembak Pistol dan Senapan, Navigasi Darat, Lintas Medan, dan Peraturan Militer Dasar (Permildas). Selain untuk mengukur tingkat kesiapan, hal ini dilakukan juga untuk memperoleh data kemampuan yang dimiliki peleton-peleton tersebut. Kesemua materi tersebut harus dapat di kuasai oleh masing-masing prajurit.
Methods : Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif. Populasi penelitian adalah semua Kontingen Dam II Sriwijaya yang berjumlah 26 orang. Metode pengambilan sampel menggunakan total sampling.
Results : Hasil penelitian ini adalah terdapat peningkatan nilai lari kontingen dalam tontangkas periode I di Cimahi 2017 dengan menggunakan akupunktur tanam benang.
Conclusion : Manfaat penelitian ini memberikan alternatif bagi para atlit menambah stamina secara alami dengan akupunktur tanam benang untuk meningkatkan kekuatan otot tungkai, otot lengan dan pernapasan.
ABSTRACT
Background: the race Peloton Agile (Agile Tons) is an annual competition held by TNI AD which serve as a benchmark for physical coaching every soldier with the aim to improve the competence of INDONESIAN soldiers. This race is a prestigious competition among the TNI-AD because bringing the name of unit and Territorial each. Various units done, good readiness readiness of physical, mental and moral as well as material to be faced, with the material of the race which includes Physical Freshness, firing handguns and rifles, Land Navigation, cross terrain, Military Regulations and basic (Permildas) . In addition to measuring the level of preparedness, this is done also to obtain data capabilities platoon-the platoon. All such material must be mastered by each soldier.
Methods: design research using quantitative methods. The population of the research was all Contingent Dam II Sriwijaya totalling 26 people. Sampling method using total sampling.
Results: the results of the research there is an increase in the value of the contingent in the run tontangkas period I in Cimahi 2017 using acupuncture planting thread.
Conclusion: this study provides an alternate Benefit for athletes increase stamina naturally with acupuncture planting threads to increase the strength of limb muscles, arm muscles and breathing
HUBUNGAN USIA REPRODUKSI DENGAN KEJADIAN MIOMA UTERI PADA PASIEN MIOMA UTERI DI RUANG TULIP RS TK. II dr. SOEPRAOEN KESDAM V BRAWIJAYA
ABSTRAK
Pendahuluan Masalah kesehatan reproduksi yang dialami wanita adalah terjadinya penyakit mioma uteri yang prevalensinya terus mengalami peningkatan yaitu lebih dari 70%. Jumlah kejadian penyakit ini di Indonesia menempati urutan kedua setelah kanker serviks. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan usia reproduksi dengan kejadian mioma uteri pada pasien mioma uteri di Ruang Tulip di RS dr.Soepraoen Kesdam V Brawijaya Malang. Metode penelitian yang akan digunakan adalah survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien mioma uteri yang pernah dirawat di ruang Tulip pada bulan Januari – Desember 2017. Pengambilan sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Total sampling. Pengambilan data menggunakan data sekunder berupa status pasien dan rekam medis. Hasil Penelitian Berdasarkan uji statistik yang dilakukan dengan menggunakan rumus Chi-Square dengan tingkat kesalahan 0.05 diperoleh nilai p value 0,000, maka H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara paritas dengan kejadian mioma uteri di Ruang Tulip RS dr. Soepraoen. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada pasien yang berusia 36-45 tahun ditemukan sebagian besar 55,6% mengalami mioma uteri sub mukosa. Saran diharapkan petugas kesehatan dapat meningkatkan promosi kesehatan tentang pencegahan dan penanganan dini pada kasus kebidanan khususnya penyakit mioma uteri yang lebih sering terjadi pada wanita.
Kata kunci : Usia Reproduksi, Mioma Uter
MENGURANGI NYERI ISCHIALGIA DENGAN AKUPUNKTUR METODE JIN’S 3 NEEDLES
Ischialgia merupakan salah satu nyeri muskulos keletal di daerah lumbosakralis yang menjalar ke pantat bahkan sampai lateral ujung kaki. Tata laksana Ischialgia secara konvensional dilakukan antara lain dengan pengobatan farmakologi, rehabilitasi medik dan operasi. Meskipun dengan efek samping yang menyertai, tindakan kuratif tersebut masih dilakukan. Sedangkan terapi akupunktur juga bermanfaat untuk berbagai kasus nyeri terutama pada ischialgia perlu dibuktikan kemanfaatannya melalui berbagai penelitian. Sampai saat ini pengobatan akupunktur yang secara resmi diakui oleh kedokteran konvensional adalah kemanfaatannya untuk berbagai kasus nyeri. Mengingat pengobatan akupunktur berawal dari pendekatan falsafah tradisional maka masih banyak yang belum terungkap secara ilmiah. Oleh karena itu penelitian ini merupakan penelitian pemula yang dilakukan untuk membuktikan pengaruh terapi akupunktur metode Jins 3 Needles terhadap intensitas nyeri penderita ischialgia. Diharapkan metode Jins 3 Needles yang menggunakan sedikit jarum ini menjadi alternatif terpilih untuk berbagai kasus nyeri, termasuk ischialgia sehingga responden lebih nyamandan aman memilih pengobatan alami yang relatif tanpa efek samping ini. Populasi dalam penelitian ini adalah semua penderita Ischialgia yang memanfaatkan pengobatan akupunktur di Laboratorium Klinik Akupunktur Politeknik Kesehatan RS dr. Soepraoen Kesdam V. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposiv Sampling dengan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti. Tindakan terapi akupunktur dilakukan berdasarkan standar prosedur operasional dan syarat tata laksana terapi. Dalam penelitian ini terapi dilakukan 3x/minggu dengan interval dua hari sekali selama 12 kali terapi. Untuk mengetahui perbedaan tingkat nyeri sebelum dan sesudah terapi maka data penelitian yang sudah terkumpul perlu diolah dan dianalisis. Uji hipotesis ditegakkan untuk membuktikan signifikansi pengaruh terapi akupunktur metode Jins 3 Needles terhadap intensitas nyeri penderita ischialgia menggunakan Uji Wilcoxon’s Signed Ranks Test. Hasilnya menyatakan bahwa t hitung lebih kecil dari pada t tabel. Karena H0 ditolak berati ada pengaruh perlakuan terapi Akupunktur metode Jin’s 3 Needles terhadap nyeri ischialgia
PERBEDAAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN ROBEKAN PERINEUM MENGGUNAKAN CHLORHEXITIDINE GLUCONATE DAN TRYCLOSAN PADA TINDAKAN VULVA HYGIENE DI BPM “S.A” KECAMATAN TUMPANG
ABSTRAK
Pendahuluan Robekan Perineum adalah robekan yang terjadi antara vagina dan rektum. Robekan
perineum akan cepat sembuh dengan tindakan vulva hygiene. Vulva hygiene bisa menggunakan
chlorhexitidine gluconate ataupun tryclosan. Kandungan chlorhexitidine gluconate yang berperan
sebagai dari bakteriocid dan bakteriostatik yang bersifat membunuh dan menghambat pertumbuhan
kuman sedangkan kandungan tryclosan berperan sebagai bakteriostatik bersifat menghambat
pertumbuhan kuman. Dari kedua antiseptik ini diharapkan bisa menurunkan resiko infeksi sehingga
penyembuhan luka cepat terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persepatan
penyembuhan robekan perineum menggunakan chlorhexitidine gluconate ataupun tryclosan pada
tindakan vulva hygiene. Desain penelitian ini menggunakan quasy eksperimental design. Populasi
semua ibu nifas yang memenuhi kriteria inklusi di BPM “S.A” dengan sampel berjumlah 20 orang
yaitu 10 orang yang diberikan intervensi vulva hygiene menggunakan chlorhexitidine gluconate dan
10 orang yang diberikan intervensi vulva hygiene menggunakan tryclosan dengan menggunakan
teknik kuota sampling. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan data dianalisis
menggunakan Mann Whitney U Test dengan signifikan α=0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan p
= 0,022 sehingga mempunyai nilai hitung p ≤ 0,05 yang menunjukkan Ho ditoalak artinya terdapat
perbedaan percepatan penyembuhan robekan perineum yang menggunakan chlorhexitidine
gluconate ataupun tryclosan. Vulva hygiene menggunkan chlorhexitidine gluconate, keadaan luka
lebih cepat sembuh daripada menggunakan tryclosan pada hari ke-7 post partum. Disarankan bagi
tenaga kesehatan khusunya bidan untuk selanjutnya melakukan tindakan vulva hygiene
menggunakan chlorhexitidine gluconate pada ibu post partum dengan robekan perineum.
Kata kunci : penyembuhan robekan perineum, vulva hygiene
ABSTRACT
The perineum laceration is a laceration that occurs between the vagina and rectum. Perineal
lacerations will quickly recover with vulvar hygiene. Vulva hygiene could use chlorhexitidine
gluconate or tryclosan. The content chlorhexitidine gluconate which as bacteriostatic and
bakteriocid, that is to kill and inhibit the growth of bacteria, while the content of tryclosan act as
bacteriostatic is inhibiting the growth of bacteria. From both an antiseptic is expected to decrease
the risk of infection and laceration healing occurs rapidly. This study aims to determine the
difference healing perineal lacerations using chlorhexitidine gluconate or tryclosan on vulva
hygiene. The Design of this study using an quasy experimental design. The population of all
postpartum who meet the criteria for inclusion in BPM “SA” with a sample of 20 people which 10
people were given hygiene interventions vulva using chlorhexitidine gluconate and 10 people were
given hygiene interventions vulva using tryclosan using accidental sampling technique. The
Collecting data using observation sheet and the data were analyzed using the Mann Whitney
significant U Test with α = 0.05. The results of this study showed p = 0.022 so as to have the
calculated value p ≤ 0.05, which indicates Ho rejected means that there are differences in
acceleration of healing perineal lacerations that uses chlorhexitidine gluconate or tryclosan. Vulva
hygiene using the chlorhexitidine gluconate, state cuts heal faster than using tryclosan on the 7th
day post partum. Suggested for health personnel especially midwives for further action vulvar
hygiene using chlorhexitidin gluconate in with post partum perineal laceration
Keyword : The healing perineum laceration, vulva hygien
Hubungan Tingkat Religiusitas dan Penghasilan Terhadap Kejadian Perilaku Seksual Beresiko Infeksi Menular Seksual (IMS) Pada Buruh Pabrik di Lokalisasi Suko
Salah satu kategori pria beresiko tinggi terhadap penularan IMS dan HIV/AIDS adalah status buruh pabrik pria yaitu bermigrasi dan bertempat tinggal jauh dari keluarga sehingga mencari kesenangan di luar. Lokasi Pabrik yang berdekatan dengan Lokalisasi di Malang yaitu PT. X dan PT. Y sehingga buruh dapat mengakses lokalisasi dengan mudah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat religiusitas dan penghasilan terhadap kejasian perilaku seksual beresiko IMS pada buruh pabrik. Penelitian ini merupakan penelitian explanatory research dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan Data dilakukan pada 235 buruh pabrik pria di Malang. Analisis Data menggunakan Analisis Univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat dengan chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan tingkat religiusitas (p= 0.01). dan penghasilan (p= 0.01). terhadap perilaku seksual beresiko IMS pada buruh pabrik. Disarankan kepada tenaga kesehatan agar dapat memberikan pendidikan kesehatan untuk menghindari terjadinya IMS karena IMS ini merupakan gerbang masuknya penyakit HIV AID
RANCANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN KONSEP DASAR KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN
RANCANGAN MEDIA PEMBELAJARAN DENGAN KONSEP DASAR
KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN
Didik Saudin, Heri Kristianto
Universitas Brawijaya Malang.
E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Pendahuluan : Konsep dasar keperawatan gawat darurat merupakan keilmuan yang melandasi dari
suatu pelayanan yang memerlukan reaksi yang cepat, cermat dan tepat dalam memberikan bantuan.
Tujuan dari penelitian ini adalah merancang media pembelajaran Konsep dasar keperawatan gawat
darurat berbasis video yang menarik dan mudah dipahami. Metode: Metode yang digunakan pada
perancangan media pembelajaran ini menggunakan pengembangan multimedia. Hal yang dilakukan
dalam pembuatan video adalah, perancangan, pengumpulan materi, pembuatan video, dan
distribusi. Media pembelajaran ini dibuat dengan menggunakan aplikasi Microsoft Power Point
2013, Windows Movie Maker 2.6, dan Camtasia Studio 8. Hasil yang diharapkan adalah seorang
penguna mampu mengaplikasikan apabila menemukan kegawatdaruratan disekitar. Hasil dan
Analisa : Keberhasilan media pembelaran tentang konsep keperawatan gawat darurat dalam karya
ilmiyah ini dibuktikan dengan jumlah kepuasan penguna media yang mencapai 70% berkomentar
menarik dan 30% tampa penjelasan. Diskusi dan kesimpulan : Hal ini sebagai salah satu motivasi
untuk perbaikan methode pembelajaran selanjutnya bagi pendidikan seorang perawat
Kata kunci : Media pembelajaran, keperawatan, gawat darurat
ABSTRACT
Background : The basic concept of emergency nursing an underlying science of a service that
requires quick reactions, careful and precise in providing assistance. The purpose of this study is to
design a basic concept of learning media video-based emergency nursing attractive and easy to
understand. Method: The method used in this study media design using multimedia development .
Video making processe include creating the design, collection of material, video creation, and
distribution. This instructional media created using Microsoft Power Point 2013 , Windows Movie
Maker 2.6, and Camtasia Studio 8. The expected result is a user is able to apply when finding
emergencies around. Result and analysis : Study media success of the concept of nursing in the
emergency department of scientific work is evidenced by the number of media user satisfaction
reached 70 % and 30 % interesting comment without explanation. Discussion and summary: It is
as one of the motivations for the further improvement of learning method for nurse education
Key word: Education Media, Nursing, Emergenc
AKURASI REVISED TRAUMA SCORE SEBAGAI PREDIKTOR MORTALITY PASIEN CEDERA KEPALA
ABSTRAK
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan akibat
trauma yang membutuhkan tindakan cepat dan efisien untuk mencegah perburukan
kondisi pasien. Pengukuran keparahan trauma adalah langkah yang sangat penting untuk
mendukung pengambilan keputusan klinis yang tepat, efektif dan efisien untuk mencegah
kecacatan dan kematian pasien cedera kepala. Revised Trauma Score (RTS) adalah
merupakan physiologycal scoring systems yang dapat digunakan sebagai prediktor
mortality pasien cedera kepala. Penilaian RTS dapat mengidentifikasi lebih dari 97%
orang yang akan meninggal jika tidak mendapat perawatan dan kemampuan RTS dalam
menentukan kondisi yang membahayakan jiwa adalah 76,9%. Namun, pada penelitian di
Belanda, RTS memiliki nilai prediktif yang lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil
penelitian RTS terdahulu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui akurasi penggunaan
Revised Trauma Score sebagai prediktor mortality pasien cedera kepala. Penelitian ini
adalah penelitian observasional dengan design cohort retrospektif. Sampel dalam
penelitian ini berjumlah 96 orang. Hasil analisis Uji Mann-Whitney penelitian
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara mortality pasien dalam 7
hari perawatan dengan score GCS, SBP, RR dan SpO2 dengan p value dari semua variabel
independen < 0.05. Hasil Uji regresi logistik menunjukkan bahwa persamaan RTS (GCS,
SBP, RR) memiliki nilai p value Uji Hosmer and Lamesho = 0.849, nilai sensitivity
sebesar 0.93, specificity 0.863, Positive Predictive Value (PPV) 0.95, Negative Predictive
Value (NPV) 0.79, dan dengan AUC 0.942 (CI95% 0.88-0.99). Maka persamaan RTS
(GCS, SBP, RR) memiliki kualitas diskriminasi, kalibrasi dan akurasi yang baik, sehingga
persamaan RTS (GCS, SBP, RR) dapat digunakan sebagai prediktor mortality pasien
cedera kepala. Penggunaan persamaan RTS (GCS, SBP, RR) masih layak sebagai alat
bantu dalam triage pasien cedera kepala.
Kata kunci : Mortality, Pasien Cedera Kepala, RTS.
Abstract
Head injury is one of the major causes of death and disability due to trauma
requiring fast and efficient action to prevent worsening of the patient's condition. Trauma
severity measurement is a very important step to support clinical decision making proper,
effective and efficient to prevent disability and death of head injury patients. Revised
Trauma Score (RTS) is a physiologycal scoring systems that can be used as a predictor of
mortality head injury patients. Rate RTS can identify more than 97% of people who will
die if not treated and RTS in determining the ability of life-threatening conditions is
76.9%. However, in a study in the Netherlands, RTS has a lower predictive value when
compared with the results of previous RTS. The purpose of this study to determine the
accuracy of the use of Revised Trauma Score as predictors of mortality head injury
patients. This study was an observational study with retrospective cohort design. The
sample in this study amounted to 96 people. The results of the Mann-Whitney test analysis
showed that there was significant relationship between patient mortality within 7 days of
Ristanto, Akurasi Revised Trauma Score Sebagai Prediktor Mortality 77
treatment with a score of GCS, SBP, RR and SpO2 with the p value of all the independent
variables o
SHOCK INDEX (SI) DAN MEAN ARTERIAL PRESSURE (MAP) SEBAGAI PREDIKTOR KEMATIAN PADA PASIEN SYOK HIPOVOLEMIK DI RSUD GUNUNG JATI CIREBON
ABSTRAK
Pendahuluan: Hipovolemik syok yang diakibatkan trauma maupun non trauma dapat menyebabkan
kematian. Kematian disebabkan kehilangan sejumlah besar cairan tubuh atau darah yang terjadi pada
kurang dari 24 jam atau 48 jam pertama sejak masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD). Diperlukan
pengenalan tanda-tanda pada pasien yang berisiko terhadap kejadian syok untuk meningkatkan angka
harapan hidup. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Shock Index (SI) yang dihasilkan dari
perhitungan dari rasio denyut nadi (HR) dan tekanan darah sistolik (SBP) dan Mean Arterial Pressure
dari perhitungan 1/3 SBP + 2/3 DBP (tekanan darah diastolik) yang bermanfaat memprediksi kematian
pasien syok hipovolemik < 24 jam dan 48 jam pertama masuk ke IGD RSUD Gunung Jati Kota
Cirebon, Jawa Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif pada bulan
Januari 2015 – April 2016, terdiri atas variabel independen SI dan MAP dan variabel dependen yaitu
mortalitas yang dibagi < 24 jam dan 48 jam. Kelompok SI dan MAP dibagi masing-masing dalam dua
kelompok, yaitu SI ≤ 0,9 dan SI > 0,9 dan MAP ≥ 60 dan MAP < 60. Hasil penelitian didapatkan
sebanyak 29 data pasien, data SI dan MAP dicatat untuk dianalisa terhadap prediktor kematian < 24
jam dan 48 jam. Hasil dan Analisis: Analisis multivariat dengan regresi logistik menunjukkan MAP <
60 berpengaruh terhadap kematian pasien < 24 jam (Resiko Relatif (RR) 11,375, confidence interval
(CI) 1,172-110,419, p = 0,036) dan memiliki nilai RR lebih tinggi dibandingkan dengan prediksi
kematian 48 jam (RR 0,067 CI 0,007-0,653, p = 0,020). Area di bawah kurva (AUC) menunjukkan
MAP 0,9 dan merupakan parameter yang cepat, akurat dan mudah digunakan.
Kata kunci: syok hipovolemik, Shock Index, Mean Arterial Pressure, prediksi kematian.
ABSTRACT
Background: Hypovolemic shock resulting from traumatic injuries or nontraumatic continous to be
the leading cause of death. Body of fluids loss or hemorrhagic deaths usually occur within the first 24
h or 48 h of admission to emergency department. Therefore, early identification of patients who are at
risk for developing shock may improve survival. Objective the study was analyze whether the shock
index (SI), given by the formula SI = heart rate/systolic blood pressure (HR/SBP), and Mean Arterial
Pressure (MAP), given by the formula MAP = 1/3 SBP + 2/3 DBP (Diastolic Blood Pressure) are
useful for predicting mortality at < 24 h and 48 h in hypovolemic shock adult patients admitted to the
emergency department of Gunung Jati hospital at Cirebon City, West Java. Methods: A database of
trauma patients admitted between January 2015 and April 2016 were retrospectively reviewed; the
result according to the shock index and MAP were Independent variable determined, generating a
dichotomous variable mortality was dependent variable with two groups: mortality at less than 24 h
and mortality at 48 h, Both group SI and MAP divide into two groups for variable SI: (SI ≤ 0.9) and
(SI > 0.9) and for variable MAP: (MAP ≥ 60) and (MAP < 60). Statistical analysis was performed.
Results and Analysis: A total of 29 patients were analyzed, all had admission SI and admission MAP
were noted to analyze with predictors of hostpital mortality by less than 24 h and 48 h. Multivariat
regression analyses demonstrated that MAP < 60 correlate with predict hospital mortality less than
24 h (Risk Relative, RR 11,375, confidence interval (CI) 1,172-110,419, p = 0,036) and had higher RR
of predict hospital mortality as compared to 48 h (RR 0,067 CI 0,007-0,653, p = 0,020) respectively.
Study have used Receiver Operating Characteristic Curves to determine the accuracy of MAP in
predicting hospital mortality by less than 24 h ranged from 0,555 – 0,939 (p = 0,043, AUC = 74,7%)
that maintened higher sentivity (72,4%) specificity (68,9%) than 48 h (45% and 27,6%). Discussion
and Summary: An initial MAP < 60 were strongest mortality predictor by less than 24 h greater than
SI > 0,9 in hypovolemic shock adult patient in the emergency department and is also a quick,
applicable and more accurate.
Keyword: hypovolemic shock, Shock Index, Mean Arterial Pressure, mortality predicto