Jurnal Dampak
Not a member yet
193 research outputs found
Sort by
Model Konseptual Pengaruh Keberlanjutan terhadap Kinerja Industri Kecil dan Menengah
ABSTRACTSmall and Medium Enterprises (SMEs) are an industrial sector that greatly contribute to economic development in Indonesia. SMEs contributes positively to the increase in Gross Domestic Product (GDP) and absorption of productive labor. Therefore, SMEs are required to be able to achieve continuous performance improvement. Improving the performance of SMEs is also expected to be able to contribute to sustainable development. Sustainability then becomes a very important issue for the performance of SMEs. The performance evaluation of SMEs needs to be improved by considering the sustainability aspects. This study aims to design a conceptual model of the effect of sustainability to the performance of SMEs in West Sumatra. Indicators of sustainability and performance of SMEs were identified from literature study. Then, conducted the determination of indicators that are relevant to SMEs in West Sumatra and then sort the indicators based on terminology similarities. The results of the identification stage are 34 indicators of sustainability which are divided into three aspects and nine factors. Sustainability indicators consist of 16 indicators of social aspect, 11 indicators of environmental aspect, and 7 indicators of economic aspect. The next step is the validation of sustainability indicators by experts from practitioners, academics, and government. The validation results stated that all indicators are important and relevant to SMEs in West Sumatra. Then the conceptual model of the effect of sustainability to performance of SMEs is developed. This conceptual model is expected to be able to help SMEs in improving performance and competitiveness.Keywords: indicators, small and medium industry, sustainability, performance appraisal ABSTRAK Usaha Kecil dan Menengah (UKM) adalah sektor industri yang sangat berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi di Indonesia. UKM berkontribusi positif terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) dan penyerapan tenaga kerja produktif. Oleh karena itu, UKM dituntut untuk dapat mencapai peningkatan kinerja yang berkelanjutan. Peningkatan kinerja UKM juga diharapkan dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Keberlanjutan kemudian menjadi masalah yang sangat penting bagi kinerja UKM. Evaluasi kinerja UKM perlu ditingkatkan dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model konseptual pengaruh keberlanjutan terhadap kinerja UKM di Sumatera Barat. Indikator keberlanjutan dan kinerja UKM diidentifikasi dari studi literatur. Kemudian, dilakukan penentuan indikator yang relevan dengan UKM di Sumatera Barat dan kemudian mengurutkan indikator berdasarkan kesamaan terminologi. Hasil tahap identifikasi adalah 34 indikator keberlanjutan yang dibagi menjadi tiga aspek dan sembilan faktor. Indikator keberlanjutan terdiri dari 16 indikator aspek sosial, 11 indikator aspek lingkungan, dan 7 indikator aspek ekonomi. Langkah selanjutnya adalah validasi indikator keberlanjutan oleh para ahli dari praktisi, akademisi, dan pemerintah. Hasil validasi menyatakan bahwa semua indikator penting dan relevan bagi UKM di Sumatera Barat. Kemudian model konseptual efek keberlanjutan terhadap kinerja UKM dikembangkan. Model konseptual ini diharapkan dapat membantu UKM dalam meningkatkan kinerja dan daya saing.Kata Kunci: indikator, industri kecil dan menengah, keberlanjutan, penilaian kinerj
Studi Kandungan Logam Berat (As, Cd, Cr, Pb Dan Hg) dalam Particulate Matter 10 Mikron (PM10) di Beberapa Ruas Jalan Kota Medan
The increase in population is directly proportional to the increase in transportation facilities. Medan city as one of the metropolitan cities also experienced an increase in the number of vehicles ± 0.6% / year. Motorized vehicles are one source of emissions in reducing urban air quality. One parameter that has a direct impact on health is particulate matter of 10 microns (PM10). This study aims to analyze the content of heavy metals (As, Cd, Cr, Hg and Pb) in PM10 from direct measurements on SM Raja Street, Balai Kota Street and Pinang Baris Street. Analysis of heavy metal content in PM10 is carried out by Inductively Coupled Plasma (ICP). Based on the observation of traffic volume in these 3 (three) roads, the highest number of vehicles is on SM Raja Street which is 8,417 units/hour (morning) and 10,043 units/hour (afternoon). The high number of vehicles on SM Raja Street because this road is a cross-province road. PM10 measurement results are 271,505 μg/Nm3 on SM Raja Street, 92,75 μg/Nm3 at Pinang Baris Street and 85,035 μg/Nm3 at Balai Kota Street. When compared with the national ambient air quality standard (150 μg / Nm3) which exceeds the quality standard is SM Raja Street. The content of some heavy metals in PM10 on several roads in Medan City for As parameters (0.57 - 1.80 μg/Nm3), Cd (1.97 - 3.63 μg/Nm3), Cr (0.08 - 0, 15 μg/Nm3), Hg (0.57 - 0.99 μg/Nm3) and Pb (0.45 - 0.63 μg/Nm3). One way to reduce heavy metal content in PM10 is to increase the area of green open space in Medan City.Keywords: Heavy metals, PM10, area of green, transportation ABSTRAKPeningkatan populasi berbanding lurus dengan peningkatan fasilitas transportasi. Kota Medan sebagai salah satu kota metropolitan juga mengalami peningkatan jumlah kendaraan ± 0,6% / tahun. Kendaraan bermotor adalah salah satu sumber emisi dalam mengurangi kualitas udara perkotaan. Salah satu parameter yang memiliki dampak langsung terhadap kesehatan adalah partikel 10 mikron (PM10). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat (As, Cd, Cr, Hg dan Pb) di PM10 dari pengukuran langsung di Jalan SM Raja, Jalan Balai Kota dan Jalan Pinang Baris. Analisis kandungan logam berat dalam PM10 dilakukan oleh Inductively Coupled Plasma (ICP). Berdasarkan pengamatan volume lalu lintas di 3 (tiga) jalan ini, jumlah kendaraan tertinggi adalah di Jalan SM Raja yaitu 8.417 unit / jam (pagi) dan 10.043 unit / jam (sore). Tingginya jumlah kendaraan di Jalan SM Raja karena jalan ini merupakan jalan lintas provinsi. Hasil pengukuran PM10 adalah 271.505 μg / Nm3 di Jalan SM Raja, 92,75 μg / Nm3 di Jalan Pinang Baris dan 85.035 μg / Nm3 di Jalan Balai Kota. Jika dibandingkan dengan standar kualitas udara ambien nasional (150 μg / Nm3) yang melebihi standar kualitas adalah Jalan SM Raja. Kandungan beberapa logam berat dalam PM10 pada beberapa jalan di Kota Medan untuk parameter As (0,57 - 1,80 μg / Nm3), Cd (1,97 - 3,63 μg / Nm3), Cr (0,08 - 0, 15 μg / Nm3), Hg ( 0,57 - 0,99 μg / Nm3) dan Pb (0,45 - 0,63 μg / Nm3). Salah satu cara untuk mengurangi kandungan logam berat di PM10 adalah dengan meningkatkan area ruang terbuka hijau di Kota Medan.Kata Kunci: logam berat, PM10, terbuka hijau, transportas
Analisa Kerusakan Jalan dan Dampaknya Terhadap Lingkungan
ABSTRACTRoads are the infrastructure of arteries in supporting the pace of economic activity, good road conditions will affect the comfort and safety of road users. In order for the road to be able to accommodate the needs of movement with a certain level of service, it is necessary to make an effort to maintain the quality of road services, where one of the efforts is to improve road surface conditions (Ramli, 2017). One of the stages in improving road surface conditions is to conduct an assessment of existing road conditions. This study aims to identify the type of pavement damage, determine the type of treatment that can be done to improve the condition of the 7.22 Km Panti - Simpang Empat road section and identify the impact of road damage on the environment. The analysis was carried out using the PCI (Pavement Condition Index) method. The type of damage to the Panti - Simpang Empat road segment based on the Pavement Condition Index method is dominated by Edge Cracking by 35.7%, Pacthcing & Utill cut patches by 15.5%, Rutting by 10.9%, Cracks by 10.9%, Cracks Elongated / Transverse (Long & Trans Cracking) by 5.7%, and Alligator cracking by 5.4%. The average PCI value on the Jalan Panti - Simpang Empat segment is 68.55 with Fair condition. The type of treatment needed on the Panti - Simpang Empat road section in terms of evaluation of road damage is Preventive Maintenance.Keywords :  road;  pavement damage type; PCI; handling ABSTRAK Jalan merupakan prasarana urat nadi dalam mendukung laju aktifitas perekonomian, Kondisi jalan yang baik akan berpengaruh terhadap kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan. Agar jalan dapat tetap mengakomodasi kebutuhan pergerakan dengan tingkat layanan tertentu maka perlu dilakukan suatu usaha untuk menjaga kualitas layanan jalan, dimana salah satu usaha tersebut adalah memperbaiki kondisi permukaan jalan (Ramli, 2017). Salah satu tahapan dalam memperbaiki kondisi permukaan jalan adalah dengan melakukan penilaian terhadap kondisi eksisting jalan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis kerusakan perkerasan, menentukan jenis penanganan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kondisi ruas jalan Panti – Simpang Empat sepanjang 7.22 Km dan mengidentifikasi dampak kerusakan jalan terhadap lingkungan. Analisis dilakukan dengan metode PCI (Pavement Condition Index). Jenis kerusakan pada ruas jalan Panti – Simpang Empat berdasarkan Metode PCI (Pavement Condition Index) didominasi oleh Retak Tepi (Edge Cracking) sebesar 35.7%, Tambalan (Pacthcing & Utill cut patch) sebesar 15.5%, Alur (Rutting) sebesar 10.9%, Retak memanjang/Melintang (Long & Trans Cracking) sebesar 5.7%, dan Retak Kulit Buaya (Alligator cracking) sebesar 5.4%. Nilai PCI rata-rata pada ruas Jalan Panti – Simpang Empat adalah 68,55 dengan kondisi Fair (Sedang). Jenis Penanganan yang diperlukan pada ruas jalan Panti – Simpang Empat ditinjau dari evaluasi kerusakan jalan adalah Pemeliharaan Berkala (Preventive Maintenance).Kata Kunci : jalan; jenis kerusakan perkerasan; PCI; Penangana
Evaluasi Pelaksanaan Kewajiban Dalam Izin Lingkungan di Kabupaten Limapuluh Kota
The research aims to evaluate the implementation of obligations in environmental permits for several businesses or activities in the Limapuluh Kota Regency. The analysis implemented the survey methods. The implementation of environmental management and monitoring in the UKL - UPL documents was highlighted in the evaluation. Interviews were used to assess the barriers to adopting environmental management, monitoring, and oversight by the Environmental Services Agency Lima Puluh Kota. A business having an environmental permit serves as the research sample. The samples were selected based on size and repetitiveness of complaints. Three samples were taken. Based on the results of this study, the research found that businesses and activities in the Limapuluh Kota Regency have not yet entirely carried out environmental management and monitoring as stipulated in the UKL / UPL documents they have. A lack of willingness to work brought about the findings. Furthermore, the business or activities do not feel compelled to meet their duties. Environmental Services Agency Lima Puluh Kota also maintains its preventive supervision responsibilities. Preventive supervision is carried out without innovation, only routine activities according to the existing budget in the office, and are still waiting for written complaints from the public regarding alleged pollution by businesses and activities. While repressive supervision, namely implementing strict sanctions for violating businesses or activities, has not been carried out. Therefore businesses and or activities do not feel the deterrent effect and are not afraid of breaking the obligations in the environmental permit.  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan kewajiban izin lingkungan pada beberapa usaha atau kegiatan di Kabupaten Limapuluh Kota. Analisis menggunakan metode survei. Pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dalam dokumen UKL – UPL menjadi sorotan dalam evaluasi tersebut. Wawancara digunakan untuk menilai hambatan penerapan pengelolaan, pemantauan, dan pengawasan lingkungan oleh Badan Lingkungan Hidup Lima Puluh Kota. Suatu perusahaan atau kegiatan yang memiliki izin lingkungan dijadikan sebagai sampel penelitian, yang ditentukan berdasarkan pengaduan yang kasusnya cukup besar dan atau pengaduan yang berulang, sebanyak tiga  sampel. Berdasarkan hasil penelitian ini, penelitian menemukan bahwa usaha dan kegiatan di Kabupaten Limapuluh Kota belum sepenuhnya melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sebagaimana diatur dalam dokumen UKL/UPL yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan tidak adanya kemauan untuk melaksanakannya karena lebih cendrung berorientasi meningkatkan pelayanan konsumen, meningkatkan produksi yang pada akhirnya akan meningkatkan keuntungan perusahaan. Selain itu, usaha dan/atau kegiatan belum merasakan manfaat dari melaksanakan kewajiban dalam izin lingkungan. Lebih jauh lagi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Limapuluh Kota melaksanakan tugas pengawasan masih bersifat preventif. Pengawasan preventif dilakukan tanpa ada inovasi, hanya rutinitas kegiatan sesuai anggaran yang ada di Dinas Lingkungan Hidup dan masih menunggu pengaduan tertulis dari masyarakat terkait dugaan pencemaran oleh usaha dan/atau kegiatan. Sementara pengawasan represif, yaitu menerapkan sanksi yang tegas bagi usaha dan/atau kegiatan yang melanggar belum dilakukan. Sehingga usaha dan/atau kegiatan tidak merasakan efek jera dan tidak takut melanggar kewajiban dalam izin lingkungan.        Â
Pemanfaatan Lumpur Sungai Ciliwung Dengan Metode Solidifikasi
 Sediment potentially leads to siltation of the river and overflow of river water during the rainy season. Existing management of the sediment is to collect, transport and dispose in a site without any proper handling procedure prior and it may cause environment burden. This study aims to utilize the sediment in Ciliwung river as a structural material through a set of solidification procedure. The mixing of cement and fine aggregate is necessary to produce 5x5x5 cm3 mortar to be tested. The sediment may be classified as non-hazardous waste and it can be used to substitute sand as the fine aggregate. The highest compressive strength of 216 kg/cm2 can be produced at ratio of cement and the fine aggregate of 1:3 with the sediment substitution of 50% and the product can be classified as class B of paving block or class I of brick. Through Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) test, it find that the metals substance in the sediment bounded properly in the solid matrix and it prevents the metals leaching out to the environment. The study reveals that the utilization of the sediment through the solidification become a prospective measure by producing a useful product with minimum impact on the environment. Keywords: Sediment, fine aggregate, solidification, compressive strength, Toxicity Characteristic Leaching Procedure  ABSTRAK  Lumpur berpotensi menyebabkan pendangkalan sungai dan meluapnya air sungai selama musim hujan. Manajemen lumpur yang ada adalah mengumpulkan, mengangkut, dan membuang di lokasi tanpa prosedur penanganan yang tepat sebelumnya dan dapat membebani lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan lumpur di sungai Ciliwung sebagai material struktural melalui serangkaian prosedur pemadatan. Pencampuran semen dan agregat halus diperlukan untuk menghasilkan mortar 5x5x5 cm3 untuk diuji. Lumpur dapat diklasifikasikan sebagai limbah tidak berbahaya dan dapat digunakan untuk menggantikan pasir sebagai agregat halus. Kuat tekan tertinggi 216 kg/cm2 didapat  pada rasio semen dan agregat halus 1: 3 dengan substitusi sedimen 50% dan produk dapat diklasifikasikan sebagai paving block kelas B atau bata kelas I. Melalui uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP), ditemukan bahwa zat logam dalam lumpur terikat dengan benar dalam matriks padat dan mencegah logam berpindah ke lingkungan. Dari penelitian ini, didapatkan bahwa pemanfaatan lumpur sungai dengan pemadatan berpotensi  menghasilkan produk yang bermanfaat dengan dampak minimal terhadap lingkungan. Kata kunci: Lumpur, Agregat halus, Solidifikasi, Kuat tekan, Toxicity Characteristic Leaching Procedure        Â
Pengendalian Kontaminasi Total Coliform pada Depot Air Minum Isi Ulang dengan Konsep Hazard Analysis Critical Control Point
 Total Coliform as an indicator of food or beverage pollution can cause food-borne diseases. In the food and beverage production process, hygiene and sanitation are part of the Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) is one of the efforts to avoid pollution to the production process. This study aims to control Total Coliform contamination with the HACCP concept carried out in 10 drinking water depot in Pauh Subdistrict, Padang City through direct field observation and laboratory testing using the Most Probable Number (MPN) method. The test point in this study is the raw water contained in the reservoir, the production water that will be sold to consumers and the drinking water will be consumed for 3 days in gallon. The test results showed hygiene and sanitation of drinking water depot and Total Coliform content had a negative and strong relationship (r = -0.750) means that the higher the hygiene and sanitation of drinking water depot, so the lower the Total Coliform content in drinking water. Based on the results of the hazard analysis which is the CCP point are the filter tube, UV light and gallon washing. Therefore, control measures so that the CCP point that exceeds the quality standard can be accepted are controlling the drinking water process and tightening hygiene and sanitation of drinking water depot employees. Keywords: Total Coliform, Drinking Water Depot , HACCP, Pauh Sub-dDistrict, hygiene sanitation  ABSTRAK  Total Coliform sebagai indikator pencemaran makanan atau minuman dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan. Dalam proses produksi makanan dan minuman, kebersihan dan sanitasi yang menjadi bagian dari Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) adalah salah satu upaya untuk menghindari polusi pada proses produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengendalikan kontaminasi Total Coliform dengan konsep HACCP yang dilakukan di 10 depot air minum (DAMIU) di Kecamatan Pauh, Kota Padang melalui observasi lapangan langsung dan pengujian laboratorium menggunakan metode Most Probable Number (MPN). Titik uji dalam penelitian ini adalah air baku yang terkandung dalam reservoir, air produksi yang akan dijual kepada konsumen dan air minum akan dikonsumsi selama 3 hari dalam galon. Hasil tes menunjukkan kebersihan dan sanitasi depot air minum dan kandungan Total Coliform memiliki hubungan negatif dan kuat (r = -0,750) berarti semakin tinggi kebersihan dan sanitasi DAMIU, sehingga semakin rendah kandungan Total Coliform dalam air minum . Berdasarkan hasil analisis bahaya, yang merupakan titik CCP adalah tabung filter, sinar UV dan pencucian galon. Oleh karena itu, langkah-langkah pengendalian terhadap poin kritis yang menyebabkan tidak tercapainya standar kualitas, adalah dengan mengendalikan proses air minum dan memperketat kebersihan dan sanitasi karyawan DAMIU. Kata kunci: Total Coliform, DAMIU, HACCP, Kecamatan Pauh, sanitasi perorangan        Â
Timbulan dan Komposisi Sampah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3) Sarana Pelayanan Kota Di Kota Padang
Generation and composition data of solid waste was the initial data needed in solid waste management system planning. This research aims to measure and analyze the generation and composition of Hazardous Solid Waste (HSW) from the source of municipal service facilities in Padang City. Municipal service facilities studied include recreation facilities, beaches, parks, and roads. Determination of the number of samples based on SNI 19-3964-1994 with the total sample of 11 samples and confidence level of 99.77%. Results of the study showed that total HHW generation from municipal service facilities in Padang city was 394.67 kg/day (2,312.41 liters/day), with the generation average of 0.000220 kg/m2/day in weight basis or 0.001262 liters/m2/day in volume basis. The percentage of HHW generation to total solid waste of municipal service facilities in Padang City was 0.95% in weight basis or 0.61% in volume basis. The largest composition of HHW from municipal service sources based on the type of use was body care products by 84% and based on general characteristics is toxic by 87%.Keywords: Composition, Generation, Hazardous Solid Waste (HSW), Municipal service facilitiesABSTRAKData timbulan dan komposisi sampah merupakan data awal yang dibutuhkan dalam perencanaan sistem pengelolaan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis timbulan dan komposisi sampah B3 yang berasal dari sarana pelayanan di Kota Padang. Sarana pelayanan kota dalam penelitian ini meliputi sarana rekreasi, pantai, taman, dan penyapuan jalan. Penentuan jumlah sampel berdasarkan SNI 19-3964-1994, dengan jumlah sampel sebanyak 11 buah dan tingkat kepercayaan 99,77%. Dari hasil penelitian diperoleh timbulan sampah B3 dari sarana palayanan di Kota Padang sebesar 394.67 kg/hari (2,312.41 liter/hari) dengan satuan timbulan rata-rata 0,000220 kg/m2/hari dalam satuan berat atau 0,001262 liter/m2/hari dalam satuan volume. Persentase timbulan sampah B3 di dalam total sampah pelayanan kota di Kota Padang adalah 0,95% dalam satuan berat atau 0,61% dalam satuan volume. Komposisi sampah B3 terbesar dari sumber pelayanan kota berdasarkan jenis penggunaannya merupakan produk perawatan badan sebesar 84% dan berdasarkan karakteristiknya bersifat toksik sebesar 87%.Kata kunci: Komposisi, Timbulan, B3, Sumber pelayanan kota Â
Penyisihan Senyawa Organik pada Air Limbah Tahu Menggunakan Proses Elektrokoagulasi Pasangan Elektroda Aluminium
This study aims to determine the efficiency of organic removal in the form of Chemical Oxygen Demand (COD), Nitrate (NO3), and TSS of tofu wastewater with electrocoagulation process of aluminum electrode pairs with the monopolar arrangement. A two liters batch reactor and aluminum electrode (aluminum content of 95.7%) were used. Variations in current density (21 - 104 A / m2) and contact time (2 - 60 minutes). The optimum conditions were obtained at a current density of 104 A / m2 in 10, 15, and 2 minutes for COD, NO3, and TSS, respectively. The optimum removal efficiency for COD, NO3, and TSS were 95%, 69.64%, and 99.99%, respectively at a current density of 104 A/m2. Increases in current density and contact time were directly correlated with improvements in COD, NO3, and TSS removal effectiveness. The pH of wastewater has increased to 8.5. While the temperature of wastewater only increased in the 2nd minute to 27°C. Meanwhile, conductivity in wastewater decreases with increasing contact time. The decrease in conductivity is inversely proportional to the efficiency of pollutant reduction. The effluent of the results of this study has met the quality standards of Minister of Environment Regulation No. 5 of 2014 Attachment XVIII concerning Wastewater Quality Standards for Soybean Processing Businesses and/or Activities.Keywords: COD, electrocoagulation, aluminum electrodes, tofu wastewater, monopolar.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menentukan efisiensi penyisihan senyawa organik berupa Chemical Oxygen Demand (COD),Nitrat (NO3), dan Total Suspended Solid (TSS) air limbah pabrik tahu dengan proses elektrokoagulasi pasangan elektroda aluminium dengan susunan monopolar. Penelitian menggunakan reaktor batch dua liter dan elektroda aluminium (kandungan aluminium sebesar 95,7%). Variasi yang dilakukan adalah variasi rapat arus ( 21 - 104 A/m2) dan waktu kontak (2 – 60 menit). Kondisi optimum diperoleh pada kerapatan arus 104 A/m2 selama 10, 15, dan 2 menit untuk masing-masing COD, NO3, dan TSS. Efisiensi penyisihan optimum untuk COD, NO3 dan TSS masing-masing sebesar 95%, 69,64% dan 99,99 % pada rapat arus 104 A/m2. Peningkatan efisiensi penyisihan COD, NO3 dan TSS berbanding lurus dengan peningkatan rapat arus dan waktu kontak. pH air limbah mengalami peningkatan hingga 8,5. Temperatur air limbah hanya meningkat pada menit ke-2 menjadi 27°C. Sementara itu konduktivitas pada air limbah menurun seiring dengan bertambahnya waktu kontak. Penurunan konduktivitas berbanding terbalik dengan efiisiensi penyisihan polutan. Efluen hasil penelitian ini telah memenuhi baku mutu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 5 Tahun 2014 Lampiran XVIII tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/ atau Kegiatan Pengolahan Kedelai
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Akibat Pajanan Logam dalam PM 2,5 pada Masyarakat di Perumahan Blok D Ulu Gadut Kota Padang
ABSTRACT This study aims to analyze the concentration of metals in PM2.5 and the environmental health risks due to metal exposure to residents. The PM2.5 measurement using Low Volume Air Sampler (LVAS) tool with a sampling time of 3; 6; 9 hours. Meteorological conditions were measured by using the PCE-FWS-20 Weather Station tool. Analysis of metal concentrations using the Inductively Coupled Plasma-MS (ICP-MS) tool. The Environmental Health Risk Analysis (ARKL) method was used to estimate the risk of exposure. Based on the measurement results, the concentration of PM2.5 in ambient air was 25.82 µg / Nm3 and in the house was 25.73 µg / m3. The results of PM2.5 concentration measurements did not exceed quality standards based on Republic of Indonesia Government Regulation No.41 of 1999 and Minister of Health Regulation No.1077 of 2011. Three metals (Cr, Ni and Mn) which have RfC and SF values followed by ARKL calculations. The average lifetime Excess Cancer Risk (ECR) value of carcinogenic Cr metal and Ni metal that was ECR> 10-4 means that the concentration of carcinogenic Cr metal and Ni metal in the house were inhaled unsafe for occupants of adult homes and children. The average lifetime RQ value of non-carcinogenic Cr metal and Mn metal shows an RQ value> 1 meaning that the concentrations of non-carcinogenic Cr metal and Mn metal in the house were inhaled insecure for adult respondents and children. Keywords: PM2,5, risk analysis, Cr, Mn, Ni, residential ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi logam dalam PM2,5 dan risiko kesehatan lingkungan akibat pajanan logam terhadap penghuni rumah. Pengukuran PM2,5 menggunakan alat Low Volume Air Sampler (LVAS) dengan waktu sampling 3; 6; 9 jam. Kondisi meteorologi diukur menggunakan alat Weather Station PCE-FWS-20. Analisis konsentrasi logam menggunakan alat Inductively Coupled Plasma-MS (ICP-MS). Metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) digunakan untuk memperkirakan besarnya risiko pajanan. Berdasarkan hasil pengukuran, konsentrasi PM2,5 di udara ambien yaitu 25,82 µg/Nm3 dan di dalam rumah sebesar 25,73 µg/m3. Hasil pengukuran konsentrasi PM2,5 tidak melebihi baku mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.41 Tahun 1999 dan Peraturan Menteri Kesehatan No.1077 tahun 2011. Tiga logam (Cr, Ni dan Mn) yang memiliki nilai RfC dan SF dilanjutkan penghitungan ARKL. Nilai Excess Cancer Risk (ECR) lifetime rata-rata logam Cr karsinogenik dan logam Ni yaitu ECR>10-4 artinya konsentrasi logam Cr karsinogenik dan logam Ni di dalam rumah secara inhalasi tidak aman bagi penghuni rumah dewasa dan anak-anak. Nilai RQ lifetime rata-rata logam Cr non-karsinogenik dan logam Mn menunjukkan nilai RQ>1 artinya konsentrasi logam Cr non-karsinogenik dan logam Mn didalam rumah secara inhalasi tidak aman bagi responden dewasa dan anak-anak. Kata kunci: PM2,5, analisis risiko, Cr, Mn, Ni, permukima
Studi Pemanfaatan Kotoran Sapi Sebagai Sumber Biogas di Nagari Aie Tajun Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman
Biogas adalah gas yang dihasilkan melalui proses anaerobik bahan organik dalam digester atau bak penampung menjadi energi. Energi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah atau gas elpiji untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti memasak. Nagari Aie Tajun merupakan daerah dengan mayoritas bermata pencaharian petani dan peternak. Para peternak memiliki sapi setidaknya 3-4 ekor sapi, tapi hampir tidak ada yang memanfaatkan kotoran sapi sebagai sumber energi melainkan hanya dibuang begitu saja. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk mengatasi masalah kotoran sapi yang belum digunakan oleh petani sebagai biogas. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahapan, meliputi pembuatan instalasi biogas, uji teknis terhadap biogas dan pendampingan terhadap masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa gas sudah mulai terbentuk pada hari ke 15 dan maksimum pada hari ke 21 dengan ditandai dengan menggelembungnya digester dan keluarnya bau khas kotoran sapi. Pengisian kotoran sapi ke dalam digester perlu dilakukan minimal setiap dua sampai tiga hari sekali dengan kotoran sapi sebanyak 20 - 30 liter. Biogas yang dihasilkan telah dapat dimanfaatkan untuk memasak sehari-hari oleh masyarakat setempat