Jurnal Dampak
Not a member yet
193 research outputs found
Sort by
Pengaruh Kondisi Meteorologi Terhadap Kualitas Udara Di Kawasan Penambangan Batu Kapur
Particulate Matter 10 (PM10) adalah partikel kecil yang umumnya berdiameter kurang lebih 10 mikrometer. Kondisi meteorologi seperti arah angin, kecepatan angin, suhu dan kelembaban berpengaruh terhadap konsentrasi PM10 di udara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kondisi meteorologi terhdap konsentrasi PM10 di Kawasan Penambangan Batu Kapur. Penelitian ini menggunakan metode direct reading (real time sampling) dan analisis regresi linier berganda. Faktor meteorologi adalah suhu, kelembaban dan kecepatan angin. Pengambilan sampel dilakukan selama satu minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM10 pada umumnya sudah melebihi baku mutu udara ambien PM10 yaitu dengan rentang antara 83 mikrogram/m3 sampai dengan 114 mikrogram/m3. Nilai koefisien korelasi yang menunjukkan adanya hubungan antara suhu, kelembaban dan kecepatan angin dengan konsentrasi PM10 masing-masing adalah 0,804; -0,964; dan 0,695. Pengaruh kondisi meteorologi yaitu kecepatan angin dan kelembapan udara sangat nyata terhadap konsentrasi PM10 di udara dengan nilai 0,043 dan 0,005. Faktor suhu udara tidak mempengaruhi konsentrasi PM10 di udara, melainkan hanya memiliki hubungan simetris antara keduanya dengan nilai 0,308. Kesimpulannya, terdapat pengaruh antara kondisi meteorologi dengan konsentrasi PM10 di Kawasan Penambangan Batu Kapur.
Kata Kunci: Pengaruh, Meteorologi, PM10, Penambangan Batu Kapu
Characteristics of Fly Ash and Bottom Ash from Incinerators at Landfill Sites
Waste management in Indonesia, especially in big cities, faces a big challenge as the volume of waste continues to increase every year. One of the technologies used to address this problem is incineration, which is the process of burning waste to reduce its volume and generate energy. However, this process produces residues in the form of fly ash and bottom ash (FABA), which contain harmful heavy metals such as Zn, Cu, Cr, Ba, and Ni. If not managed properly, these residues can pollute the environment because they are difficult to decompose and are potentially harmful to human health and ecosystems. This study aims to analyze the physical and chemical properties of FABA to determine its potential utilization. The results showed that fly ash has a finer particle size with a higher density than bottom ash which has coarser and larger particles. Based on ASTM C618 standard, FABA belongs to class C category, which shows SiO2 + Al2O3 + Fe2O3 > 50% content > 50%, and CaO content > 15%. FABA has the potential to be utilized in construction, where fly ash can be used as a partial substitute for cement, while bottom ash can replace sand. The utilization of FABA enables the production of environmentally friendly construction materials, such as rosters, bricks, and paving blocks, which are the result of recycling residues. Thus, the utilization of FABA also reduces the amount of residue generated by the incineration process and reduces dependence on natural raw materials, supporting the creation of a more sustainable construction industry.
Keyword: fly ash, bottom ash, physical, chemical, recyclin
Tingkat Kesadaran Lingkungan Mahasiswa sebagai Kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
University students are key agents in promoting environmental sustainability, making it essential to assess their level of knowledge, attitudes, and actions regarding environmental awareness. This study aims to evaluate environmental awareness among university students through a structured questionnaire survey. The instrument was distributed to 71 students across different academic levels at a university in West Sumatra Province. The results indicate that while most students possess a basic understanding of environmental issues, their ability to analyze, synthesize, and evaluate such issues remains limited. In terms of attitudes, students generally demonstrate positive dispositions, although further development is needed to foster active participation and social responsibility. Regarding environmentally conscious actions, students have not yet consistently adopted sustainable behaviors, particularly at the level of habitual and innovative practices. Key behaviors that require improvement include waste separation, refusal to use plastic bags, the use of reusable food containers, and recycling practices. These findings highlight the need for more practical and reflective environmental education at the higher education level.
Keyword: university students, knowledge, attitude, action, environmen
Comparative analysis of Anaerobic Baffled Reactor ( ABR ) and Moving Bed Biofilm Reactor ( MBBR ) for Domestic and Laundry Wastewater Treatment : Technical, Economic, and Enviromental Performance Assessment in Lamongan, East Java, Indonesia
This study evaluates the treatment performance of Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) and Anaerobic Baffled Reactor (ABR) systems in treating domestic laundry wastewater in a tropical environment. Both reactors were operated for 90 days under optimized conditions, with MBBR achieving higher removal efficiencies for biochemical oxygen demand (BOD) and chemical oxygen demand (COD) at 94.6% and 95.2%, respectively, compared to ABR’s 92.6% and 91.7%. Nutrient removal was more effective in MBBR, particularly for ammonia (89%) and phosphate (96%). ABR demonstrated potential for biogas production, generating 126 m³/month, suggesting its viability as a sustainable energy source. However, both systems required post-treatment disinfection to reduce pathogenic bacteria to acceptable limits. Economic analysis indicated MBBR’s lower operational costs, while ABR offered advantages in energy recovery. This comparative study informs sustainable domestic wastewater management strategies in Lamongan, East Java, Indonesia.
Keyword: Wastewater Treatment, Moving Bed Biofilm Reactor, Anaerobic Baffled Reactor, Domestic Laundry Wastewater, Biogas
Uji Kinerja Membran Nanofilter dalam Menurunkan Kekeruhan dan TDS pada Pengolahan Air Minum
Kali Jagir merupakan salah satu anak Sungai Brantas, memiliki peran penting sebagai sumber air baku untuk PDAM Surya Sembada Kota Surabaya. Lokasi di hilir menjadikan Kali Jagir menjadi tempat akumulasi bahan pencemar yang berasal dari segmen hulu dan tengah. Aktivitas di sepanjang Sungai Jagir yang meliputi sektor domestik dan industri turut menyumbang bahan pencemar yang mengakibatkan parameter seperti Kekeruhan dan TDS memiliki konsentrasi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja membran nanofiltrasi dan menganalisis pengaruh operational time, penggunaan biofilter sebagai pretreatment, perbedaan recovery rate dan jenis membran pada rangkaian reaktor membran nanofiltrasi dalam menurunkan parameter Kekeruhan dan TDS pada pengolahan air minum. Air baku diolah terlebih dahulu diolah menggunakan koagulan Al2(SO4)3 yang kemudian diumpankan menuju biofilter (slow sand filter) dengan kecepatan filtrasi 0,4 m/jam sebagai pretreatment sebelum diolah menggunakan membran nanofiltrasi. Membran nanofiltrasi yang digunakan yaitu dengan recovery rate 30% dan 60%. Jenis membran yang digunakan adalah NF30-2514 dan NF90-2514. Rangkaian reaktor dioperasikan secara intermittent selama 10 hari dengan tekanan 60 psi. Analisis pengujian sampel pada parameter Kekeruhan dan TDS berdasarkan Permenkes RI No. 02 Tahun 2023. Kinerja Membran Nanofiltrasi dalam pada pengolahan air minum dengan rejection rate tertinggi pada unit B1R2M2 dengan nilai kekeruhan pada hari ke-4 yaitu 88,25% dan TDS sebesar 73,78% pada hari ke-10.
Kata Kunci: biofilter, kekeruhan, nanofiltrasi, recovery rate, TD
Fikoremediasi Pb Dengan Variasi C:N Oleh Mikroalga Dunaliella sp.
Pada era global industri ini ditemukan air tercemar bersumber dari aktivitas pertanian,peternakan,industri,perhotelan yang memiliki nutrien tinggi dan kandungan logam berat Pb mencapai 1 mg/L. Hal ini akan berdampak pada makhluk hidup seperti gangguan saraf, gangguan fisiologis dan kematian. Penerapan teknologi remediasi oleh mikroalga sudah diterapkan dalam penyisihan Pb. Akan tetapi perlu dipertimbangkan keseimbangan rasio nutrisi C:N yang terkandung pada media air tersebut. Perbandingan nutrisi karbon dan nitrogen digunakan mikroalga dalam kebutuhan sumber energi dan sintetis protein. Penggunaan mikroalga hijau Dunaliella sp. adalah solusi yang dipilih dalam penerapan remediasi air tercemar Pb sebesar 76-80%. Uji rasio C:N sangat penting untuk memastikan bahwa kondisi pertumbuhan mikroorganisme optimal dan nutrisi terpenuhi. Variasi rasio C:N yang digunakan penyisihan Pb 1 mg/L adalah 100:7,100:13,100:32 dengan variasi intensitas cahaya 2000,4000,6000 lux. Variabel respon dari percobaan ini adalah penurunan kadar Pb,kepadatan sel mikroalga, pH, suhu,CO2, salinitas, dissolved oxygen, dan konsentrasi bikarbonat diamati selama 14 hari. Sebelum dilakukan percobaan 14 hari dilakukan propagasi. Kepadatan sel menggunakan hemositometer dan konsentrasi Pb menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom. Hasil dari pengujian variasi rasio nutrisi C:N didapatkan rasio C:N seimbang dan optimal dalam penyisihan Pb pada mikroalga Dunaliella sp. 77% pada rasio C:N 100:32 intensitas cahaya 6000 lux. Dunaliella sp. menghasilkan kepadatan sel pada rasio tersebut mencapai 535,43 x10.000 sel/mL dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,80 sel/mL/hari pada parameter kondisi lingkungan mendukung.
Kata Kunci: Dunaliella sp.,Fikoremediasi,Pb, Rasio C:
Studi Potensi Serapan Karbon dan Nilai Ekonomi dari Inisiatif Penghijauan di PT PLN Indonesia Power Pangkalan Susu PGU
Pemanasan global menjadi permasalahan krusial yang berdampak terhadap lingkungan, terutama disebabkanolehemisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor energi. PT PLN Indonesia Power Pangkalan Susu PGU, sebagai pembangkit listrik berbahan bakar batubara, bertanggung jawab mengurangi dampak lingkungan dari operasional PLTU. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi serapan karbon dari program penghijauan PT PLN Indonesia Power Pangkalan Susu PGU serta nilai ekonominya. Metode yang digunakan adalah persamaan allometrik untuk mengukur serapan karbon dan perhitungan nilai ekonomi dengan metode proxy good technique. Penelitian ini mengidentifikasi potensi serapan karbon dan nilai ekonomi dari program penghijauan di lokasi operasional (8,57 ha) dan lokasimangrove (2 ha) di Desa Pasar Rawa. Hasil penelitian menunjukkan total serapan karbon mencapai 1.231,06 tonCO2 per tahun dengan nilai ekonomi sebesar 12.310,68 USD dolar atau sekitar Rp201.895.152,00 per tahun, berdasarkanharga pasar karbon sebesar 10 dolar per ton CO2. Meskipun memberikan manfaat lingkungan dan nilai ekonomi, programini masih defisit dalam memenuhi persetujuan teknis batas atas emisi (PTBAE) yang ditetapkan oleh KementerianESDM. Untuk memenuhi target emisi pada tahun 2024, diperlukan pengurangan sebesar 353.744,58 ton CO2e yangmembutuhkan lebih luas lagi lahan penghijauan.
Kata Kunci: emisi gas rumah kaca, nilai ekonomi karbon, pemanasan global, penghijauan, serapan karbo
Adsorption of Low-Phosphate in Water Using Commercial Fe-based Adsorbents
Phosphate contamination in aquatic environments has become a serious issue due to its role in eutrophication, leading to excessive algal growth and degraded ecosystems. Anthropogenic activities such as agricultural runoff and wastewater discharge significantly increase phosphate concentrations. Among treatment technologies, adsorption using iron-based adsorbents has shown high efficiency, especially at low concentrations. However, performance is influenced by adsorbent type, particle size, and hydrodynamic conditions. This study evaluated the phosphate adsorption performance of Granular Ferric Hydroxide (GFH) and Bayoxide E33 with particle sizes of 74–149 µm, 37–74 µm, and <37 µm. Batch experiments were conducted with 0.3 mg P/L phosphate solution. The isotherm study was performed over 180 minutes, and the kinetics study extended to 240 minutes. Surface morphology was characterized by SEM, and specific surface area was analyzed using BET, which confirmed that smaller particles exhibited higher surface areas. Results showed that GFH <37 µm achieved the highest adsorption capacity of 7.5 mg/g, while Bayoxide <37 µm reached 6.18 mg/g. The Langmuir model best described the isotherm data, and the Pseudo Second-Order model indicated chemisorption as the dominant mechanism. These findings underscore the importance of optimizing particle size to enhance phosphate removal.
Keyword: Adsorption, Bayoxide, GFH, Particle Size, Phosphat
Studi Kasus Pengolahan Air PLTU Y 1×660 MW dengan LCA
Water treatment plays a vital role in supporting coal fired power plant operations. This process influences the quality of demineralization water used as boiler feed water and cooling media. Furthermore, the post-treatment process before discharge into water bodies also determines the extent of environmental impact. This study presents a Life Cycle Assessment (LCA) of a coal-fired power plant’s water treatment. The study aims to evaluate the environmental impacts of the water treatment process, including chemical usage and waste management as a by-product from the treatment of water quality, and also determine the process point with the significant impact. These steps include defining the purpose and scope, inventorying and assessing life cycle impacts, and interpretation. Through an approach using the CML IA Baseline and ReCiPe 2016 Midpoint, the impact assessment focused on the effects that influence the sustainability of terrestrial and aquatic ecosystems such as marine aquatic ecotoxicity, human toxicity, and other impacts. The impact assessment indicates that the significant environmental impact is influenced by chemicals, especially the coagulant and hazardous waste such as used oil and used hazardous packaging. This influences the high environmental impacts such as marine aquatic ecotoxicity, terrestrial ecotoxicity, human carcinogenic toxicity, and global warming potential. The implementation strategy of environmental programs is carried out, such as the substitution of FeCl3 to Al2(SO4)3, reuse of used hazardous packaging, and processing used oil into vehicle oil. This study can provide an overview for similar industries in optimizing power plant water treatment processes towards sustainable operations.
Keyword: environmental program, life cycle assessment, risk management, water treatmen
Potensi Pengolahan Sampah Domestik Kota Sawahlunto Menjadi Refuse Derived Fuel (RDF)
Peningkatan timbulan sampah seiring dengan pertumbuhan populasi dan konsumsi masyarakat menimbulkan tantangan besar dalam pengelolaannya, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan energi. Upaya menghadapi tantangan tersebut dapat dilakukan dengan pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Sumber energi yang belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat adalah energi yang berasal dari biomassa seperti sampah (waste to energy). Refuse Derived Fuel (RDF) menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menanggulangi permasalahan peningkatan timbulan sampah dan peningkatan kebutuhan energi. Penelitian bertujuan untuk menganalisis potensi pengolahan sampah domestik Kota Sawahlunto menjadi RDF berdasarkan kelayakan aspek teknis dan nonteknis, serta memberikan rekomendasi strategi pengelolaannya. Data menunjukkan timbulan sampah domestic Kota Sawahlunto sebesar 1,24 kg/orang/hari dengan densitas 3,07 L/orang/hari. Komposisi dari sampah domestik yang dihasilkan berturut-turut adalah sampah sisa makanan sebesar 42,12%; sampah plastik 26,37%; sampah kertas 18,69%; sampah kayu/daun 6,93%; residu 3,11%; sampah tekstil 2,21%; dan sampah karet/kulit 0,57%. Analisis karakteristik sampah domestik sebagai bahan baku RDF mengungkapkan: kadar air (10,66%), zat mudah menguap (32,26%), kadar abu (4,98%), dan nilai kalor (16,74 MJ/kg). Hasil analisis ini memenuhi persyaratan teknis SNI 8966:2021 sebagai bahan baku RDF, kecuali pada beberapa komponen yang memerlukan pretreatment.
Kata Kunci: RDF, Kota Sawahlunto, sampah domestik, energ