Jurnal Dampak
Not a member yet
193 research outputs found
Sort by
EKSTRAKSI ALUMINIUM DARI TANAH LEMPUNG GAMBUT SEBAGAI KOAGULAN CAIR
ABSTRAK Aluminium adalah bahan utama yang terkandung dalam koagulan yang umum digunakan dalam proses koagulasi. Aluminium merupakan kandungan elemen ketiga terbesar yang terdapat pada lapisan kulit bumi, yang terdapat dalam mineral, bebatuan dan tanah liat, seperti tanah lempung gambut yang mengandung garam aluminium, telah dapat dijadikan koagulan bantu. Pada penelitian ini dilakukan pengembangan dengan mengekstraksi aluminium yang terkandung dalam tanah lempung gambut yang mengandung 18,78% Al2O3 dijadikan kogulan pengganti (PAC) untuk menurunkan zat organik alam pada air gambut. Hal yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah dihasilkannya koagulan cair dari tanah lempung gambut yang ada di Indonesia. Koagulan cair diekstraksi dari tanah lempung gambut dari Kalimantan Selatan dengan menggunakan pelarut asam sulfat (H2SO4). Untuk mendapatkan Al2O3 dari tanah lempung gambut tersebut, tanah dikalsinasi dan diekstraksi. Proses pengaktifan Aluminium dari tanah dipengaruhi oleh ukuran butiran tanah, temperatur kalsinasi dan waktu kalsinasi. Untuk proses leaching dipengaruhi konsentrasi dan jumlah H2SO4 dalam kondisi mendidih. Kata kunci: asam sulfat, ekstraksi, kalsinasi, koagulan cair, tanah lempung gambut. ABSTRACT Aluminum is the primary material contained in commonly used coagulant in the coagulation process. Aluminum is the third largest content of elements found in the earth's crust in the form of minerals, rocks and clay. Peat loam soil is one of the class that contains of aluminum salts and can be used as coagulant aids. In this research, further development by extracting aluminum contained in peat clay. In which the aluminum in the form of 18.78% Al2O3 on clay peat coagulant used as a substitute for the (PAC). The aim of this research was the production of liquid coagulant of clay peat in Indonesia. This liquid coagulant extracted from peat loam soil of South Kalimantan using sulfuric acid solvent (H2SO4) with a concentration of 40%. To obtain Al2O3 from the peat loam soil, the soil had to be calcinated and extracted. The aluminum activating processes of soil was influenced by soil particle size, temperature and duration of calcination. Meanwhile the leaching process was affected by the amount and concentration of H2SO4 in boiling conditions. Keywords: calcinations, extraction, liquid coagulant, sulfuric acid, the clay pea
EVALUASI PENGENDALIAN RISIKO PT. LEMBAH KARET BERDASARKAN RISK REDUCTION
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengendalian risiko pada PT. X berdasarkan nilai Risk Reductiondan memberikan saran pengendalian yang paling tepat untuk mengatasi risiko tersebut. Metoda penelitianberupa studi literatur, analisis data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data primer berupaobservasi dan kuesioner. Penelitian dilakukan pada 3 (tiga) unit operasi yaitu Unit Pencacahan, UnitPenggilingan, dan Unit Penimbangan & Penempaan. Diperoleh bahwa nilai Risk Reduction rata-rata PT. Xsebesar 56,94%. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pengendalian yang telah diterapkan mampu menurunkannilai risiko sampai dengan setengah dari kondisi awal tanpa adanya pengendalian. Upaya pengendalian yangdapat dilakukan agar risiko dapat dihilangkan atau nilai Risk Reduction mencapai 100% antara lainmelakukan pengendalian administratif, pengendalian engineering, dan penggunaan APD.Kata kunci: Risk Reduction, PT. X, Pengendalian Administratif, Pengendalian Engineering, AP
EFISIENSI DAN KAPASITAS PENYERAPAN FLY ASH SEBAGAI ADSORBEN DALAM PENYISIHAN LOGAM TIMBAL (Pb) LIMBAH CAIR INDUSTRI PERCETAKAN DI KOTA PADANG
oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum fly ash sebagai adsorben dalam menyisihan logam timbal (Pb). Penelitian adsorpsi dilakukan secara batch dengan menggunakan larutan artifisial Pb dengan variasi diameter adsorben, berat adsorben, waktu kontak dan kecepatan pengadukan. Hasil penelitian diperoleh kondisi optimum untuk setiap variasi parameter adalah diameter adsorben 0,075-0,14 mm, berat adsorben 1 gam, pH adsorbat 4, waktu kontak 60 menit, dan kecepatan pengadukan 120 rpm. Dapat disimpulkan makin kecil adsorben, maka semakin luas permukaan aktif pada adsorben serta kecepatan pengadukan yang rendah menyebabkan kurang efektifnya tumbukan yang terjadi antar adsorben dan adsorbat. Kata kunci: adsorpsi, fly ash, logam timbal (Pb), kondisi optimum. ABSTRACT The aim of this research is to determine optimum conditionof fly ash as the adsorbent in the removal of lead (Pb) in water. The research was conducted in a batch method by using artificial Pb with different adsorbent diameters, contact times and mixing rates. Result showed the optimum condition of adsorbent diameter was 0.075-0.14 mm with weight of 1 gram, adsorbate pH of 4, contact time of 60 minutes, and the mixing rate of 120 rpm. From this research, it can be concluded that the less of adsorbent size will lead to the larger active surface area and the slower mixing rate will cause to the less effectiveness of adsorbent and adsorbate collision in water. Keywords:adsorption, fly ash, lead (Pb), optimum conditio
PENYISIHAN KALIUM DARI LIMBAH CAIR PERSAWAHAN DENGAN METODE MULTI SOIL LAYERING (MSL)
Metode Multi Soil Layering (MSL) telah diujicobakan untuk menyisihkan kalium pada limbah cair persawahan.Lokasi pengambilan sampel berada di daerah Tunggang, Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Pauh, KotaPadang. Hasil analisis karakteristik limbah cair tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi melebihi standarkonsentrasi kalium pada air. Penelitian ini menggunakan 2 buah reaktor berbahan fiberglass, berbentuktrapesium untuk sisi tegaknya, dengan dimensi panjang dan lebar alas 37 cm, panjang dan lebar sisi atas 44 cmdan tinggi 60 cm, serta lapisan aerob berupa batuan kerikil berdiameter 3-5 mm. Kedua reaktor dibedakan atasmaterial organik dalam campuran tanah pada lapisan anaerob, dimana reaktor 1 terdiri dari campuran tanahandisol dan arang, sedangkan reaktor 2 terdiri dari campuran tanah andisol dengan serbuk gergaji. Limbahcair ini dialirkan pada variasi konsentrasi antara 1,048 – 6,237 mg/l, serta pada Hydraulic Loading Rate (HLR)dengan variasi 1.000, 2.000, dan 4.000 l/m2hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua reaktor mampumenyisihkan kalium mencapai 100% baik pada reaktor 1, maupun pada reaktor 2. Variasi material organikdalam campuran tanah pada lapisan anaerob, variasi konsentrasi influen, dan variasi HLR berpengaruh padapenyisihan kalium. Efisiensi penyisihan kalium didapatkan lebih tinggi pada reaktor 2 pada variasi konsentrasiinfluen terkecil, dengan pengaliran limbah cair pada HLR 1000 l/m2hari. Secara umum MSL dapatdiaplikasikan pada pengolahan limbah cair persawahan.Kata Kunci : Limbah cair persawahan, MSL, kaliu
ANALISIS SPASIAL BESARAN TINGKAT EROSI PADA TIAP SATUAN LAHAN DI SUB DAS BATANG KANDIS
Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus dan September 2013 di Sub-DAS Batang Kandis didistrik Koto Tangah Kota Padang dan juga di AMGIS (Sistem Informasi Manajemen PertanianGeographic) Laboratory. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung laju erosi dan menentukantingkat bahaya erosi dan mengatur arahan konservasi tanah dan konservasi tanah untolerateduntuk pengendalian erosi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah USLE (UniversalSoil Loss Equation) dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis. Berdasarkan hasil penelitianini menunjukkan bahwa dari seluruh areal sub-DAS Batang Kandis daerah, diketahui bahwakriteria tingkat bahaya erosi sangat tinggi adalah areal terkecil dengan luas 53,292 hektar , sekitar0,97 % . Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar sub-DAS Batang Kandis memiliki nilai erosiyang masih bisa ditoleransi. Tingkat erosi terbesar di Sub-DAS Batang Kandis terjadi pada satuanlahan KCB sama dengan 1368.246 ton/ha/tahun. Dari hasil identifikasi berdasarkan arahrehabilitasi lahan dan konservasi tanah, maka diperoleh bahwa satuan lahan KCB dan KCLadalah prioritas utama sebagai daerah yang memerlukan tindakan konservasi .Keyword: Erosi, USLE, Unit Tanah, Sistem Informasi Geografis, Rehabilitasi Lahan danKonservasi Tana
SATUAN TIMBULAN DAN KOMPOSISI SAMPAH INDUSTRI KOTA PADANG
ABSTRAKDalam perencanaan dan pengembangan sistem pengelolaan sampah suatu kota, diperlukan data timbulan dan komposisi sampah dari berbagai sumber sampah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan timbulan dan komposisi sampah industri Kota Padang berdasarkan SNI 19-3964-1994. Dari penelitian diperoleh rata-rata sampah industri Kota Padang sebesar 5,057 kg/orang/hari (0,164 kg/m2/hari) dalam satuan berat atau 6,569 liter/orang/hari (0,441 liter/m2/hari) dalam satuan volume. Berdasarkan kategori industri (jumlah karyawan), timbulan sampah industri besar 9,606 liter/orang/hari, timbulan sampah industri sedang 5,644 liter/orang/hari, dan timbulan sampah industri kecil 4,457 liter/orang/hari. Produksi sampah mengalami pengurangan pada akhir minggu yaitu hari Jum’at sampai hari Minggu karena waktu kerja lebih singkat dari hari biasanya. Komposisi sampah industri Kota Padang didominasi oleh sampah organik (79,31%) yang terdiri atas sampah makanan (9,90%), kertas (20,06%), plastik (18,86%), tekstil (8,69%), karet (1,62%), sampah halaman (0,54%), kayu (14,18%), dan kulit (5,47%), sedangkan sampah anorganik (20,69%) terdiri dari kaca (0,28%), kaleng (1,36%), logam (0,12%), dan lain-lain (serbuk gergaji, busa) sebesar 18,93%. Kajian awal pengolahan yang diusulkan untuk sampah industri berdasarkan data timbulan dan komposisi adalah daur ulang untuk sampah kertas dan plastik, dan reuse untuk sampah lain-lain (campuran tanah dan serbuk gergaji). Kata kunci: sampah industri, timbulan sampah, komposisi sampah ABSTRACTTo plan and develop a solid waste management system, some data are needed such as generation and composition of solid waste from several sources. The aim of this research was to determine the generated solid wastes and their composition from industrial wastes based on SNI 19-3964-1994. The research’s results shows that average waste generation for industrial solid waste in Padang city was 5,057 kg/person/day (0,164 kg/m2/day) in weight unit, or 6,569 liter/person/day (0,441 liter/m2/day) in volume unit. Based on industry category (number of employees), the generation of solid waste from large scale industries, medium scale industries, and small scale industries were 9,606 liter/person/day, 5,644 liter/person/day, and 4,457 liter/person/day consecutively. Waste productions were decreased at the end of the week (Friday to Sunday) due to shorter working time. The composition of the industrial solid waste was dominated by organic waste (79,31%) which consists of food waste 9,90%, paper waste 20,06%, plastics waste 18,86%, textiles waste 8,69%, rubber waste 1,62%, yard waste 0,54%, wood waste 14,18%, and leather waste 5,47%, while the 20,69% inorganic waste consists of glass waste 0,28%, tin 1,36%, metal 0,12%, and others (mixture of soil, sawdust) 18.93%. Preliminary assessment for the proposed processing industrial waste based on data of solid waste generation and composition were recycling for paper and plastic wastes, and reuse for other wastes (mixture of soil and sawdust). Keywords: industrial waste, waste generation, waste compositio
JATROPHA CURCAS PLANT AS A POTENTIAL BIODIESEL FEEDSTOCK IN INDONESIA
One of the alternatives for biodiesel feedstock is oil from Jatropha curcas plant. The advantages ofusing this plant are due to its ability to grow in poor soils, different parts of the plant can also be usedfor different purposes, the by products of biodiesel productions have economic values, and biodiesel ismore environmentally friendly when it is being produced and being used, compared to mineral derivedoils. Although Indonesia has another alternative raw material for biodiesel production, i.e. palm oil,however the use of palm oil will affect its supply for the other sectors that have already established,e.g. for producing cooking oils. This situation will not happen to Jatropha curcas oil, due to itsinedible characteristic.Keywords: Biodiesel, Jatropha curcas, Indonesi
ANALISIS KORELASI RADIATIVE FORCING METANA (CH4) DENGAN PERUBAHAN TEMPERATUR DI KOTOTABANG TAHUN 2004 – 2009
ABSTRAK Telah dilakukan perhitungan radiative forcing gas Metana (CH4) menggunakan konsentrasi (CH4) dari tahun 2004 – 2009 di Kototabang dengan menggunakan metode Intergovernmental on Panel Climate Change (IPCC). Hasil perhitungan kemudian dikorelasikan dengan selisih temperatur yang merupakan data bulanan temperatur permukaan Kototabang dikurangi dengan temperatur rata-rata selama 6 tahun pengukuran. Temperatur permukaan diukur dengan menggunakan instrumen Automatic Weather station (AWS) yang ada di stasiun GAW Kototabang. Dari hasil analisi diperoleh nilai radiatve forcing mengalami peningkatan dari 0,24338 Wm-2pada tahun 2004 menjadi 0,246221 Wm-2 pada tahun 2009. Hal ini menunjukkan lebih banyak energi radiasi matahari yang diserap daripada yang diemisikan (Positive feedback). Tetapi hasil korelasi radiative forcing CH4 dengan selisih temperatur memiliki koefisien determinasi yang rendah yaitu 0,0047. Hal ini karena perubahan temperatur di Kototabang yang tercatat di AWS bukan hanya dipengaruhi oleh nilai konsentrasi metana saja tapi juga oleh aerosol, awan, dan gas rumah kaca lainnya. Hal juga ini menunjukkan bahwa konsentrasi gas metana tidak signifikan mempengaruhi perubahan temperatur di Kototabang. Kata kunci: Kototabang, metana, radiative forcing, temperatur ABSTRACT Radiative forcing of methane (CH4) gas has been calculated based on its concentration in Kototabang from 2004 to 2009, by using Intergovernmental on Panel Climate Change (IPCC) method. The calculation results were further correlated to the temperature differences, i.e., monthly surface temperature subtracted by the average temperature data at Kototabang during the six year of measurement. The surface temperature was measured by using Automatic Weather Station (AWS) installed at the Global Atmospheric Watch (GAW) Kototabang. Based on the analysis, there was an increment of the radiative forcing from 0.24338Wm-2 in 2004 to 0.246221Wm-2 in 2009. This showed the solar energy was more absorbed than emitted (positive feedback). However, the result of correlation analysis between CH4 radiative forcing and the temperature difference shows a low determinant coefficient, i.e., 0.0047. This is due to the measured temperature change in Kototabang is not only affected by methane concentrations but also influenced by aerosol, clouds and other green house gases. This also shows that methane gas concentration did not significantly influence the temperature change in Kototabang. Keywords: Kototabang, methane, radiative forcing, temperatur
STUDI PENENTUAN KONDISI OPTIMUM FLY ASH SEBAGAI ADSORBEN DALAM MENYISIHKAN LOGAM BERAT KROMIUM (Cr)
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum fly ash sebagai adsorben dalam menyisihan logamkromium (Cr) dengan menggunakan larutan artifisial. Konsentrasi awal Cr yang digunakan adalah adalah1,6mg/l merupakan konsentrasi Cr tertinggi hasil sampling pada percetakan koran “X” di Kota Padang.Mekanisme adsorpsi dilakukan secara batch dengan variasi diameter adsorben, berat adsorben, waktu kontakdan kecepatan pengadukan. Hasil penelitian ini didapat kondisi optimum untuk diameter adsorben 0,14-0,075mm; berat adsorben 1 g; pH adsorbat 2; kecepatan pengadukan 120 rpm dan waktu kontak 60 menit. Variasikondisi optimum ini menunjukkan bahwa pengikatan ion logam Cr sangat efektif pada suasana asam,kecepatan pengadukan yang rendah menyebabkan kurang efektifnya tumbukan yang terjadi antara adsorbendengan adsorbat dan jika sebaliknya menyebabkan struktur adsorben cepat rusak, dan pada waktu kontakmenit ke-60 fly ash telah jenuh atau mencapai titik keseimbangan dalam mengadsorpsi ion logam Cr yangterdapat dalam larutanKata Kunci: Kromium (Cr), fly ash, kondisi optimum
STUDI PEMANFAATAN SAMPAH DI KAMPUS UNIVERSITAS ANDALAS
Konsep pengelolaan sampah telah lama berubah dari pemusnahan atau pembuangan menjadi pemanfaatan. Namun konsep ini belum diikuti dengan langkah nyata oleh pemerintah. Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan telah mendorong beberapa kelompok masyarakat, lembaga atau institusi untuk bergerak aktif dalam pemanfaatan sampah. Universitas Andalas sebagai lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Pulau Sumatera sudah saatnya mengambil peran aktif dalam melakukan pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan. Timbulan sampah yang cukup besar yaitu 28 m3/hari pada tahun 2012, yang diproyeksikan akan menjadi 34 m3/hari atau 9 ton/hari pada tahun 2017, menawarkan potensi cukup besar untuk dimanfaatkan. Pada tahun proyeksi 2017 dari total timbulan sampah, 26,6 % (2,4 ton/h) adalah sampah makanan, 9,8 % (0,9 ton/h) adalah sampah penyapuan taman/jalan, 30,0 % (2,7 ton/h) adalah sampah plastik, 25,3 % (2,3 ton/h) adalah sampah kertas, 1,5 % (0,1 ton/h) adalah sampah kaleng, logam dan besi dan 6,9 % (0,6 ton/h) adalah sampah lain-lain (tekstil, karet, kayu, kaca dll). Dari total sampah makanan dan penyapuan halaman/jalan, 33,7 % berpotensi untuk menghasilkan kompos sekitar 1,2 ton/hari, 2,1 % (0,2 ton/h) dapat dimanfaatkan untuk proses biogas dan sisanya 0,5 % (0,05 ton/h) ditimbun di TPA. Sampah plastik dan kertas sebesar 55,3 % dapat dimanfaatkan kembali atau dijual ke PT. Semen Padang sebagai tambahan bahan bakar unit kiln. Dari 1,5 % sampah kaleng, logam dan besi, 1,3 % dapat dimanfaatkan kembali atau dijual ke pihak ketiga sedangkan sisanya yang hanya sebesar 0,02 ton/h dibuang ke TPA Air Dingin. Selanjutnya, sisa timbulan sampah sebesar 6,9 % yang berupa sampah tekstil, karet, kayu, kaca dan lain-lain dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pada kiln PT. Semen Padang. Jika konsep ini dapat dilaksanakan, maka Universitas Andalas dianggap mampu melakukan pemanfaatan sampah hingga 99,3 %. Kata kunci: Pemanfaatan sampah, kelestarian lingkungan, pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan ABSTRACT Management of solid waste has been changed from dumping to utilization. However, this concept is not fully applied yet by the government. Environmental sustainability awareness has been stimulating some community groups and institutions to actively involve in waste utilization. Andalas University as a leading higher education institution in Sumatera Island must give active contributions in solid waste management for environmental sustainability. Solid waste generation of 28 m3/day, which is projected to be 34 m3/day or 9 ton/day in 2017, offers huge enough potency for utilization. From the total solid waste generation in 2017, 26.6 % (2.4 ton/day) is food waste, 9.8 % (0.9 ton/day) is garden/road waste, 30.0 % (2.7 ton/day) is plastic waste, 25.3 % (2.3 ton/day) is paper waste, 1.5 % (0.1 ton/day) can, metal and iron waste and 6.9 % (0.6 ton/day) is micellaneous waste (textile, rubber, wood, glass etc). 33.7 % of food waste and garden/road waste may be recycled to compost around 1.2 ton/day, 2.1 % (0.2 ton/day) may be utilized for biogas and the rest 0.5 % (0.05 ton/day) is sent to TPA Air Dingin. Plastic waste and paper wich is 55.5 %, may be used for additional fuel for kiln unit of PT. Semen Padang. From 1.5 % can, metal and iron waste, 1.3 % may be reused or sold to third party while the reset (only 0.02 ton/day) must be disposed to TPA Air Dingin. Furthermore, the rest of waste generation account for 6.9 % composed of textile, rubber, kayu, kaca dll may be used as alternative fuel for kiln PT.Semen Padang. If this concept is practiced, then the Andalas University is considered capable of utilizing their waste up to 99.3 %. Keyword: Utilization solid waste, environmental sustainability, management of solid wast